Saturday, March 4, 2017

Agama-agama akan pasti berakhir, jika...!

Klik atau ketuk gambarnya untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan muncul lengkap

Kalau dilihat dari prestasi agama-agama sepanjang era sejarah insani, maksud dan tujuan bagus adanya agama bagi kehidupan kini makin kelihatan TIDAK AKAN PERNAH TERCAPAI. 

Tentu, ada juga tujuan-tujuan lain yang bisa jahat di saat suatu agama dibangun, misalnya tujuan memberi legitimasi ilahi bagi suatu kekuasaan religiopolitik absolut yang terlalu besar pada satu atau dua sosok insan di zaman kuno. Tujuan-tujuan lain semacam ini lazim ada di era pramodern ketika dunia kuno belum mengenal dan mempraktekkan ide sekularisme, yakni pemisahan politik dari agama, dan agama dari politik.

Harap jangan ngobral bicara tentang sorga di “alam lain” yang akan dimasuki setelah orang baik mati dan penguburan mayat mereka diupacarakan dengan aneka ritual keagamaan. Ya, jangan ngobral, jika ketika sedang hidup DALAM DUNIA SEKARANG INI anda tidak sedikitpun berhasil tahap demi tahap mendirikan sorga kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian di muka planet Bumi di alam real.

Malah sainstek kini dan seterusnya sedang memperlihatkan prestasi-prestasi real yang sebelumnya menjadi bagian penting cita-cita agama, yang kini makin tampak telah gagal dicapai agama-agama. Jika agama-agama menginginkan manusia dapat hidup sehat, dan penyakit-penyakit disembuhkan, keinginan ini justru telah dan terus sedang diwujudkan oleh sainstek modern dengan real lewat ilmu kedokteran dan berbagai teknologi medis modern. Makin maju dan makin berkembang sainstek kita, makin dalam kita dibawa ke dalam suatu dunia yang kita rasakan sebagai dunia fiksi, dunia magis, dunia sihir, walau dunia sainstek modern itu dunia yang real, bukan dunia agama dan juga bukan alam sihir.


Bagaimana pun juga, jika agama-agama tak mau berbenah diri sekarang, agama-agama pada akhirnya akan lenyap, tiba di garis finish, lalu ditinggalkan, jika semua tujuan adanya agama-agama (misalnya kehidupan yang sehat, kebahagiaan, umur panjang, kemakmuran, dan persaudaraan insani global) telah dengan empiris, real, konkret dan objektif, dicapai sainstek modern dengan cepat. Kalau sainstek sudah mencapai prestasi-prestasi yang makin besar semacam itu, maka agama-agama seperti yang kita kenal sekarang, yang telah gagal total mewujudkan cita-cita keagamaan, sudah tidak diperlukan lagi, alias sudah kalah, jadi pecundang.

Juga jangan lagi dengan angkuh anda mengklaim bahwa tanpa agama-agama manusia tidak bisa hidup bermoral (dengan akibat: masyarakat akan hancur) sebab, kata anda dengan yakin tapi naif, hanya agama-agama (tentu khususnya agama anda sendiri) yang bisa menjadi sumber nilai-nilai kehidupan yang baik, benar, agung dan sehat. Nilai-nilai moral. Oh, anda salah besar!

Justru sainstek kaya raya dengan nilai-nilai kehidupan yang baik, benar, agung dan sehat. Saya beri satu atau dua contoh saja. Yang lain-lainnya anda pikirkan dan temukan sendiri. Jika anda, sebagaimana umumnya, tidak ingin berlelah-lelah memikirkan dan menemukan sendiri banyak nilai yang diberikan sainstek modern, saya telah menulis tentang itu untuk anda. Silakan klik atau ketuk di sini untuk membacanya.

Justru sainstek, bukan agama, yang mendorong rasa ingin tahu atau kuriositas orang tumbuh dan berkembang terus-menerus, yang membuat pengetahuan kita makin berkembang dan makin maju tentang makin banyak fenomena alam, mulai dari dunia alam mekanika quantum hingga dunia mahaluas yang kini dinamakan multiverse atau jagat-jagat raya yang jumlahnya tanpa batas.

Justru sainsteklah yang berhasil menyadarkan kita dengan real dan terarah untuk mencintai, merawat, mempertahankan dan mengembangkan serta makin menyempurnakan kehidupan kita sekarang dan dunia alam real yang multidimensional.

Itu contoh dua nilai agung yang diberikan sainstek modern kepada kita. Pada sisi lain, kita tahu bahwa agama-agama umumnya selalu menekan, menghambat dan ingin mematikan rasa ingin tahu manusia atas segala misteri dunia dan kehidupan. Kata para juru kampanye agama-agama yang sudah malas belajar, HANYA TUHAN YANG BOLEH TAHU MISTERI-MISTERI ALAM. Bagi manusia, pintu-pintu masuk ke ruang-ruang misteri itu, kata mereka, telah dikunci oleh Tuhan selamanya dengan gembok-gembok yang sangat besar.

Sosok Adam dan Hawa mitologis dalam agama-agama yang berpangkal pada agama Yahudi umumnya dipakai sebagai acuan skriptural tentang larangan keras Tuhan untuk manusia mengikuti dorongan ingin tahu dalam hati dan pikiran mereka tentang segala hal, padahal dorongan kuriositas ini, logisnya, ya diciptakan Tuhan sendiri ketika Tuhan, bukan setan, menciptakan sepasang manusia istimewa ini. Ya, mereka istimewa, karena keduanya tidak punya pusar, tidak pernah jadi bayi, tapi langsung gede, langsung bisa berdiri, berjalan, berlari, dan langsung bisa bicara dan bekerja.

Kita juga tahu, justru agama-agamalah yang memandang kepentingan “dunia gaib” dan kehidupan di “alam lain” lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan kepentingan dunia real masa kini dan kehidupan kita sekarang ini di Bumi dalam tata surya dan dalam jagat raya. Kata para agamawan, keselamatan jiwa anda di sorga setelah anda mati itulah tujuan esensial agama; hal-hal lainnya di muka Bumi hanya sampingan, cuma embel-embel. Bagi saya, sesungguhnya tidak demikian halnya. Saya pernah mengungkapkannya begini:
Salvation of the soul hereafter, without salvation of the body and mind and the globe here and now, is escapism, useless, brutal, and a nightmare.
Nah, jika anda ingin agama anda bisa tetap punya peran penting di masa depan yang dekat, ya jalan utamanya adalah anda harus merumuskan dan membangun ulang agama anda dalam wadah matriks sainstek modern. Jika anda tidak mau, ya willy-nilly, mau tak mau, agama anda akan terseleksi sendiri, naturally, dan secara kultural, culturally, untuk mendiami museum fosil dogma purba. Dan pekerjaan anda ya hanya sebagai para penjaga museum-museum itu. Tentu anda tidak mau, bukan?

Begitulah hal yang saya bisa pahami dan ungkap lewat akal yang bekerja dalam otak saya yang kecil ini. Kalau otak teman-teman lebih besar, kritiklah tulisan pendek ini dengan cerdas.

Jakarta, 4 Feb 2017
ioanes rakhmat