Wednesday, June 21, 2017

RRC: Gurita Raksasa Lima Tentakel

CHINA, SANG GURITA RAKSASA DENGAN LIMA TENTAKEL YANG SEDANG BERGERAK SENYAP, CERDAS DAN TEPAT SASARAN


Kolase enam foto di atas disusun dari enam screencapture dari sebuah video yang menayangkan gambaran tentang RCC sebagai seekor Gurita Raksasa yang memiliki lima tentakel yang sedang bergerak, mengayun ke sana sini, di kawasan global. Saya merasa kagum atas negeri besar China ini meski saya WNI, persisnya WNI Tionghoa.

Dengan mengisi ruang-ruang kosong di dunia yang tidak ditangani USA, China akan segera menjadi Gurita Raksasa Adidaya Dunia dengan lima tentakel yang memeluk dunia minimal dalam lima bidang besar:

1. Energi terbarukan yang dihasilkan dari panel-panel solar raksasa yang mengapung di lelautan, selain pemanfaatan tenaga angin. Bahan bakar fosil yang persediaannya makin menipis akan segera ditinggalkan; dus, mengurangi dengan signifikan level polusi udara lewat pemanfaatan sumber energi terbarukan yang murah yang akan dibangun besar-besaran untuk jangka panjang.

2. Memperluas pengaruh China di wilayah politik dan ekonomi global; membangun dan memperluas rute transportasi laut dan darat untuk memasok persediaan makanan, pertama-tama bagi negeri China sendiri, yang pada saatnya akan makin berkurang di seluruh dunia. Untuk keperluan itu, China akan membeli, bukan menjajah, tanah-tanah luas di Amerika Selatan, Afrika dll untuk dijadikan lahan pertanian global mereka.

3. Meraih prestasi tertinggi di dunia dalam olah raga sepak bola, dengan target pertama menjadi juara Piala Dunia sebelum 2050. Untuk tujuan ini, sumber daya manusia (seperti pelatih dan atlit) dibina dari warga China sendiri lewat pendidikan dan pelatihan berdisiplin di 50.000 akademi yang sedang disiapkan dan akan dibangun di dalam negeri; sekaligus menghentikan para pelatih asing bayaran.

4. Membangun kembali dan mengaktifkan Jalur Sutra, dan membangun dan menjalankan Ekonomi Sirkular: sumber-sumber daya alam dalam negeri atau yang dimiliki di luar negeri diberdayakan semaksimal mungkin sehingga berbagai produksi di semua sektor dihasilkan berlimpah lalu diekspor ke luar negeri untuk menghasilkan devisa yang akan digunakan kembali untuk meningkatkan berbagai produksi negeri sendiri untuk diekspor lagi. Ekonomi Sirkular ini makin terus melipatgandakan kemampuan ekonomi produktif China dan kemampuan ekspor mereka tanpa batas.

5. Menjadi pengawas dan penjaga dunia, perdagangan bebas, dan pemimpin terdepan dalam usaha global melawan perubahan iklim dan dampak-dampak buruknya bagi dunia.

Lima usaha besar ini yang akan mengangkat China menjadi Adidaya Dunia, pengganti USA, akan dan sedang dijalankan dengan cerdas, senyap dan tepat sasaran.

Reaksi murahan mengkafirkan China dan me-neraka-kan negeri Gurita Raksasa ini tidak akan menghentikan gerak enerjik lima tentakel Gurita Raksasa China sedikitpun. Sainstek modern tidak akan pernah bisa ditakut-takuti apalagi dikalahkan oleh ancaman-ancaman keagamaan apapun. Sainstek bisa dikalahkan hanya oleh sainstek yang lebih maju. 

Umat dari agama-agama apapun yang tidak mau masuk ke pertarungan global dalam pengembangan dan penguasaan sainstek akan pasti terbuang dari planet Bumi, karena umumnya mereka hanya berniat masuk ke kawasan sorga yang tak memiliki angka-angka koordinat dalam jagat raya yang empiris. Agama-agama mereka bisa jadi mematahkan daya juang dan daya tarung mereka di arena pertarungan sainstek modern, agama kaum pecundang. Agama yang mendorong umat penganutnya ke akhirat, dengan melupakan fakta bahwa kehidupan real di planet Bumi dan di planet-planet lain masih akan berlangsung milyaran tahun ke depan.

Lupakan reaksi murahan para pecundang itu. Jalan satu-satunya untuk menghadapi dan melawan China adalah: mendahului Gurita Raksasa China untuk masuk lebih dulu ke lima bidang yang mau dirangkul tentakel-tentakelnya.

Jika langkah itu tidak mungkin NKRI bisa lakukan dalam waktu dekat, ya jalan alternatif demi kepentingan NKRI jangka panjang adalah BELAJAR DULU DARI CHINA DENGAN CERDAS, TERPELAJAR, MAU SERBATAHU, CEKATAN, TAKTIS, SENYAP dan ULET sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan tangguh. 

CATAT INI: Para politikus dan pengpeng bunglon yang egoistik, haus kekuasaan abadi, dan korup, segera harus eling, sadar diri, lalu mundur teratur demi kepentingan dan kemenangan dan kebesaran bangsa dan negara Republik Indonesia di masa depan yang dekat ini.

Viva NKRI.
And love for the great and determined China.

☆ Ioanes Rakhmat
19 Juni 2017

N.B.
Konon (entah benar atau tidak, saya tak tahu) Pak Hasyim Muzadi pernah menulis topik tentang belajar dari gaya hidup bangsa China. Saya menemukan tulisan ini di sebuah Facebook, judulnya MARI BELAJAR DARI GAYA HIDUP BANGSA CHINA.

Ini link-nya. Bacalah.
https://m.facebook.com/notes/muhammad-a-s-hikam/mari-belajar-gaya-hidup-bangsa-china/10151325668226262/#_=_


Tuesday, June 6, 2017

Minggat ke Australia cari ketenangan

KOK ADA TEROR ISIS di AUSSIE?!

http://www.express.co.uk/news/world/813094/melbourne-explosion-australia-hostages-brighton-terror

https://m.tempo.co/read/news/2017/06/06/120881839/isis-akui-bertanggung-jawab-atas-penyanderaan-di-melbourne

Cina-cina kaya, termasuk beberapa orang famili saya, memutuskan untuk tinggal di Aussie supaya, kata mereka, aman, tenang dan tidak berbahaya, jauh dari para radikalis Islamis ISIS. Apa respons saya?

LOH, mana ada lagi tempat yang aman sepenuhnya sekarang ini di dunia ini? Paman Sam dkk, by system, hanya mau jaga keamanan hanya sejauh kepentingan ekonomi, politik dan militer mereka, di dalam dan di luar negeri, terlindungi. Bahkan untuk kepentingan yang sama, proxy war juga dijalankan sang paman ini, dengan membangunkan wayang-wayang mereka yang sudah ada di seluruh dunia, lalu politik dan strategi adudomba pun dijalankan.

Oh ya, tentu anda bisa memahami, kalau akhirnya ada juga sebagian wayang-wayang ini yang menjadi liar, terlalu liar. Mereka berbalik melawan dan menyerang sang dalang dalam gerakan-gerakan yang mereka bangun sendiri, yang tidak lagi tunduk pada kemauan semula sang dalang. Sebagai respons, ya sang dalang pun membasmi satu demi satu wayang-wayang yang sudah memberontak ini. Ini sejenis penyakit otoimun politik militeristik yang harus digempur sang dalang.

Selain itu, jika anda mau berada jauh di Aussie, anda harus bayar tiket pesawat, beli rumah dengan harga setinggi langit, bayar PBB di sana, biaya hidup yang mahal, biaya kesehatan yang juga tidak murah, bayar pajak lain-lain yang tinggi. Aman? Oh tidak. Tetap saja jantung anda akan kebat-kebit, takut ditembak mati atau disandera teroris di sana, entah di Melbourne atau di Perth atau di kota-kota lain di sono.


Mau tenang? Ya mulailah ketenangan itu dalam pikiran dan hati dulu. Melayani orang yang sedang tidak tenang dan sedang ketakutan, malah dapat membuat kita bebas dari ketakutan, dan menemukan makna agung kehidupan.

Kita bisa diam selamanya di Aussie karena punya uang sangat banyak. Tapi bagaimana dengan anak dan cucu yang kita tinggalkan di Indonesia, dan bagaimana dengan banyak generasi mendatang keluarga kita di NKRI? Apa kita tega dengan keadaan mereka yang terancam, sementara kita, ayah dan ibu atau opa dan oma mereka, asyik hidup plesiran dan tenang di Aussie? Tenang? Siapa yang bisa jamin?

Bagaimana kalau kita malah ditembak mati atau disandera teroris justru di Australia, lalu disiksa para teroris pelan-pelan di sana?


Kalau mau sedikit lebih aman, ya ada kota-kota dan pulau-pulau di Indonesia yang bisa kita jadikan tempat tinggal kedua kita. Kenapa harus mengungsi ke Australia? Kenapa tidak pilih diam misalnya di pulau Bali di kawasan yang biasa-biasa saja, hidup bersama dengan tetangga-tetangga Hindu yang baik?

Lalu di situ, di Bali, atau di pulau lain manapun di NKRI, uang kita gunakan untuk bangun sekolah-sekolah nonkomersial yang akan mendidik dengan cerdas dan berbudipekerti anak-anak dan remaja kita sendiri atau banyak keturunan kita sendiri untuk selamanya mereka dapat cinta tanah air dan mau membangun negeri ini. Berpikirlah seluas jagat raya, jangan hanya seluas tempurung kepala atau tempurung kelapa.

Tapi jangan lupa: Meski pun diam di Bali, bisa saja kita malah mati di pulau Dewata ini karena jatuh dari tangga loteng di rumah sendiri, atau mati karena ditabrak trailer yang remnya blong di sana, atau mati karena tenggelam di Kuta atau di Sanur.

Orang yang takut mati, ya jadi stres terus. Tapi, orang yang berani mati seketika, tapi takut hidup jangka panjang, juga sangat buruk dan durjana: membom diri mereka sendiri di tempat ramai. Kalau mau bunuh diri dengan bom bunuh diri, karena sudah bosan hidup dalam dunia ini dan ingin segera cicipi hidangan lezat sorgawi, ya lakukan saja di gurun pasir yang sunyi sendirian.

Para pelaku bom bunuh diri ini jelas menyerakahi kematian. Bukan diri mereka sendiri saja yang haus kematian; tapi kematian harus direguk juga oleh jauh lebih banyak orang lewat aksi bom bunuh diri mereka. Orang yang menyerakahi kematian, tentu saja tidak mempunyai lagi nurani dan akal sehat dan rasa cinta pada kehidupan di dunia ini.

Jadi, mulailah ketenangan itu dari dalam diri kita sendiri. Bukan kabur-kaburan ke sana-sini bikin lelah sendiri dan menambah beban keuangan dan beban stres. Makin anda menyerakahi kehidupan, makin mati jiwa, kalbu dan pikiran anda! Menyerakahi kehidupan akhirnya juga bermuara pada aksi menyerakahi kematian: kematian nurani, akal panjang dan rasa kesesamaan sebagai manusia.

Gitu loh.

6.6.17

The weeping silence