Thursday, March 23, 2017

Mama, engkau tidak boleh menjadi tua!
Jangan sampai menangis ya!

Mama, aku tak mau kamu jadi tua!

Usia tambah, tubuh jadi jompo, degeneratif, menua, adalah hal lumrah dalam jagat raya, untuk segala hal, yang biologis dan yang nonbiologis. Karena bekerjanya ENTROPI atau The Arrow of Time dalam fisika. Akibat entropi, sistem biologis tubuh anda lambat-laun masuk ke kondisi chaotic, kehilangan harmoni dan sinkronisasi, lalu akhirnya collapse dan terdekomposisi, terurai berantakan.

Menjadi tua, lalu mati, bukan kutukan, kutukan dewa atau kutukan setan, tapi bagian dari hukum-hukum fisika. Tetapi akan tiba saatnya, proses penuaan tubuh dan mental manusia bisa dilawan dan dikalahkan lewat ilmu pengetahuan tentang hidup kekal. Tapi, hidup 2000 tahun atau hidup tak bisa mati, apakah bukan sebuah azab juga? Saya tak bisa menjawab pertanyaan berat ini sekarang.

Kanak-kanak, saya juga dulu di usia 6 tahun, kaget saat pertama kali tahu bahwa manusia bisa tua lalu mati. Pangeran Siddhartha Gautama, menurut legenda Buddhis, tersentak dengan soal ini malah ketika dia sudah dewasa, saat dia pertama kali, di luar istana ayahnya, melihat seorang kakek jompo yang sedang berjalan bungkuk dengan susah payah dan iringan orang-orang yang meratap yang sedang mengantar sebuah keranda jenazah yang diusung.


Jadi, bagi anak-anak dan bagi orang dewasa, bagi semua orang, hal menjadi tua lalu mati (atas diri sendiri dan juga atas orang yang dikasihi), adalah suatu pengetahuan tentang fakta yang menimbulkan rasa takut yang dahsyat. Mengerikan. Menimbulkan rasa duka yang sangat dalam. Ini baru pengetahuan, apalagi faktanya. Ini bagian dari "Big Questions", pertanyaan-pertanyaan besar, tentang kehidupan. Mengapa kita lahir, lalu masuk ke umur jompo, lalu akhirnya menjadi mayat, mati? Apa sebetulnya tujuan kita dilahirkan? Apakah memang ada tujuannya, ataukah kebetulan saja kita dilahirkan tanpa kita minta?

Pelan-pelan anak-anak akan juga bisa menerima fakta kematian kekasih-kekasih mereka. Tapi masih banyak Big Questions yang akan menerjang pikiran dan hati mereka sementara mereka bertumbuh dewasa. Orang-orang yang berilmu dan arif perlu membimbing mereka untuk mereka dapat menemukan sendiri jawaban-jawaban yang bermakna untuk mereka atas berbagai pertanyaan eksistensial besar yang bermunculan satu demi satu dalam perjalanan kehidupan mereka. Tanpa jawaban yang bermakna, kehidupan mereka akan kehilangan energi pendorong.

Nah, supaya anda dapat hidup bermakna, dan mumpung anda sekarang masih muda dan masih hidup, ya berbuat baiklah sebanyak-banyaknya untuk membuat duka dan azab berkurang dalam dunia ini. Supaya rasa takut hidup teratasi, apalagi rasa takut mati, dalam diri orang banyak, dan khususnya dalam diri anda sendiri. Makna hidup ada di situ, tidak di kegiatan lain yang hanya mempertontonkan ketamakan, kemewahan, dan kebrutalan anda.

Mati meregang nyawa itu cuma sekejap, paling lama 10 menit. Tapi hidup itu, dengan semua suka duka dan azab yang banyak, panjang loh. Bisa sampai 70 tahun atau 120 tahun, bergantung pada sekian hal: jam biologis kehidupan kita seluruhnya, cara kita hidup, cara kita memelihara kesehatan, keamanan atau ketidakamanan hidup kita sehari-hari, kondisi lingkungan hidup kita, dan peristiwa-peristiwa yang datang tak terduga.

Jelas, berani mati itu gampang, cuma butuh waktu sekejap. Tapi berani hidup itu, sangat sulit, perlu waktu puluhan tahun untuk bisa menang dalam kehidupan yang penuh azab dan pergumulan. Jadi, dalam kehidupan normal sehari-hari, beranilah hidup, bukan berani mati. Hanya orang pengecut yang berani mati, tapi tidak berani hidup.

Apapun juga, karena setiap orang bisa mati detik ini juga atau mati mendadak tanpa persiapan, ya selagi nafas dan energi tubuh masih ada, berbuat baik dan sebarkanlah kasih sayang ke sebanyak mungkin orang. Itulah makna kehidupan kita. That is the meaning of our lives! Jalani hidup yang bermakna semacam ini dengan berani!

Bagikanlah dengan berani apapun yang baik dan bermanfaat yang anda punya ke orang lain yang memerlukan, mulai ke orang yang terdekat hingga ke orang yang terjauh. Di depan mata anda, atau jauh di belahan lain dunia. Di era Internet, mata anda bisa ada di seluruh dunia.

Saatnya kita mati akan tiba juga. Saatnya kita ditangisi dengan penuh duka pasti akan terjadi. Saatnya kita tidak bisa tertawa dan tidak bisa menangis lagi, akan pasti datang. Saatnya kita tidak bisa lagi hidup gemerlap, tidak bisa lagi makan enak di resto-resto besar, dan tidak bisa lagi keliling dunia dengan biaya ratusan juta hingga milyaran rupiah, AKAN JUGA DATANG, bisa detik ini, bisa juga besok atau lusa. Yakni ketika kita sudah menjadi mayat. Datangnya bisa senyap, bisa juga dengan keriuhan kata, hiruk-pikuk, dan banjir air mata. Hidup memang begitu. Begitulah hidup.

Saat kematian tiba, dan tubuh anda sudah terbujur kaku dan dingin, madah dan ritual keagamaan tidak bisa anda dengar dan rasakan atau pahami lagi. Mati adalah "the point of no return". Madah hanya menghibur orang yang hidup, dan ritual cuma menjadi kesibukan agama. Mayat tidak memerlukan penghiburan, juga tidak butuh ritual. Supaya anda yakin, tanyailah setiap mayat, jangan tanyai orang yang sedang sekarat.

Ya, orang lain sibuk dan repot dan bikin ribet di sekitar mayat kaku anda. Tapi semuanya itu tidak ada lagi gunanya buat anda, tak lagi berpengaruh pada mayat anda. Dan "anda" sendiri sudah bukan "anda" lagi. You don't exist anymore. Ke mana "anda" pergi, no one knows! Or else, most people know, you go to nowhere. You have finished.

Ketika ajal datang, tubuh kita yang sexy, rambut kita yang indah, tas tangan kita yang berharga ratusan juta rupiah, atau tubuh anda yang kokoh dan kekar, tidak akan dibawa. Begitu juga semua harta, termasuk rumah-rumah mewah dan tanah-tanah anda yang luas di banyak lokasi di dalam dan di luar negeri, dan bergunung-gunung uang simpanan anda, tidak bisa anda pakai lagi.

Kita cuma butuh tanah paling luas 3m x 3m, sebagai lahan rumah masa depan, yang dinamakan KUBURAN atau MAKAM.

Kalau tubuh anda berakhir sebagai setumpuk kecil debu halus hasil kremasi, lewat pelarungan sisa-sisa tubuh anda sebagian tertebar di permukaan air laut dan sebagian lain terhembus angin entah ke mana, mungkin terbang ke dunia bintang-bintang, entah bagaimana caranya. Atau jika ongggokan debu halus sisa jasad anda dimasukkan ke dalam sebuah guci yang sesudahnya ditutup rapat, rumah masa depan anda ya guci itu yang dibiarkan tenggelam sampai di dasar laut dangkal. Atau bisa juga rumah idaman masa depan anda cuma sebuah kotak tempat orang menitipkan guci-guci debu mayat dengan kewajiban membayar.

Sedihkah anda saat membaca apa yang baru saya ungkap di atas? Kalau sedih, ya tidak apa-apa. Di dunia ini sangat banyak kok orang yang bersedih lantaran sangat banyak hal. Sedih, pedih dan ringkih tertatih itu bersaudara. Bagaimana dengan orang-orang yang punya kekuasaan besar dan harta yang sangat banyak jumlahnya?

Kekuasaan politik, kekuatan militer dan paramiliter, kedudukan tinggi hingga ke langit, nama yang bergelar panjang berlerot, harta simpanan setinggi Gunung Everest, dan para dayang sexy, atau para pria muda nan jantan mitra seksual anda, yang sebelumnya anda kejar dengan ambisius dan dengan mengorbankan marwah diri, lalu anda peroleh dan pertahankan lewat perbuatan keji kepada banyak orang lain dan lewat pembunuhan, AKHIRNYA HARUS ANDA LEPASKAN DAN TINGGALKAN TOTALLLLL! Kalau semua itu anda mau angkut ke alam kubur, ya tidak akan muat. Jika mau anda bawa lewat jasa kirim FedEx, ya alamat tujuannya di alam baka tidak ada yang tahu.

Fakta ini juga akan membuat anda lebih sedih lagi: Kalau hari ini kita masih hidup, besok belum tentu. Kita hanya percaya saja bahwa besok atau di tahun 2018 kita masih akan hidup. Kepercayaan kita ini BISA TIDAK TERPENUHI. Boleh percaya, tapi jangan sekali-kali mengabsolutkan kepercayaan anda itu.

Anyway, tariklah nafas dalam-dalam sekarang, bernyanyilah dalam hati, pujilah Tuhan anda, gembirakan hati anda, berpikirlah positif dan optimis.

Lalu berjalanlah ke luar. Masuk ke tempat yang lebih ramai di luar rumah anda atau di luar ruang kantor megah anda. Keluarlah dari zona aman dan mewah anda.

Ada sekian orang yang sedang menunggu uluran tangan anda di sana, di luar. Wajah mereka kuyu. Mata mereka sembab. Tangan dan kaki mereka gemetar karena kelaparan. Baju mereka lusuh dan apek. Atau mereka sedang meratap pilu karena negeri mereka telah luluh lantak lantaran pertikaian agama. Wujudkan kebajikan di sana. Buat kebaikan hati anda dialami real oleh mereka. Love your fellow human beings intelligently. Cintai sesamamu manusia dengan cinta yang cerdas.

Orang jahat terlalu lihai dan licik untuk dicintai oleh anda dengan lugu. Ada banyak orang jahat jenis ini, yang tidak luluh oleh cinta. Jika anda dengan lugu mencintai orang jenis ini, cinta anda yang tidak cerdas, meski ikhlas dan tulus, malah akan mereka permainkan untuk membuat diri mereka makin sadis dan brutal.

Meski begitu, jangan melihat sesamamu yang sedang menanggung azab, yang sedang susah, sebagai gangguan, sebagai ingus, sebagai kutil, sebagai sebungkus sampah kulit udang, sebagai beban berbau busuk yang membuat anda mual lalu bersumpah serapah dan mencaci dalam hati. Sekali lagi, cintai mereka dengan cinta yang cerdas, cinta yang melek, tidak buta, tapi tulus dan ikhlas.

Kata para sesepuh, Tuhan anda kerap datang lewat diri mereka. Menyamar. Menitis. Mengambil wujud fisik. Jadi, jika anda mencintai Tuhan anda, usahakan untuk mencintai mereka dengan cinta yang tulus, ikhlas, melek, dan cerdas.

Salam,
ioanes rakhmat
23 Maret 2017