Wednesday, June 21, 2017

RRC: Gurita Raksasa Lima Tentakel

CHINA, SANG GURITA RAKSASA DENGAN LIMA TENTAKEL YANG SEDANG BERGERAK SENYAP, CERDAS DAN TEPAT SASARAN


Kolase enam foto di atas disusun dari enam screencapture dari sebuah video yang menayangkan gambaran tentang RCC sebagai seekor Gurita Raksasa yang memiliki lima tentakel yang sedang bergerak, mengayun ke sana sini, di kawasan global. Saya merasa kagum atas negeri besar China ini meski saya WNI, persisnya WNI Tionghoa.

Dengan mengisi ruang-ruang kosong di dunia yang tidak ditangani USA, China akan segera menjadi Gurita Raksasa Adidaya Dunia dengan lima tentakel yang memeluk dunia minimal dalam lima bidang besar:

1. Energi terbarukan yang dihasilkan dari panel-panel solar raksasa yang mengapung di lelautan, selain pemanfaatan tenaga angin. Bahan bakar fosil yang persediaannya makin menipis akan segera ditinggalkan; dus, mengurangi dengan signifikan level polusi udara lewat pemanfaatan sumber energi terbarukan yang murah yang akan dibangun besar-besaran untuk jangka panjang.

2. Memperluas pengaruh China di wilayah politik dan ekonomi global; membangun dan memperluas rute transportasi laut dan darat untuk memasok persediaan makanan, pertama-tama bagi negeri China sendiri, yang pada saatnya akan makin berkurang di seluruh dunia. Untuk keperluan itu, China akan membeli, bukan menjajah, tanah-tanah luas di Amerika Selatan, Afrika dll untuk dijadikan lahan pertanian global mereka.

3. Meraih prestasi tertinggi di dunia dalam olah raga sepak bola, dengan target pertama menjadi juara Piala Dunia sebelum 2050. Untuk tujuan ini, sumber daya manusia (seperti pelatih dan atlit) dibina dari warga China sendiri lewat pendidikan dan pelatihan berdisiplin di 50.000 akademi yang sedang disiapkan dan akan dibangun di dalam negeri; sekaligus menghentikan para pelatih asing bayaran.

4. Membangun kembali dan mengaktifkan Jalur Sutra, dan membangun dan menjalankan Ekonomi Sirkular: sumber-sumber daya alam dalam negeri atau yang dimiliki di luar negeri diberdayakan semaksimal mungkin sehingga berbagai produksi di semua sektor dihasilkan berlimpah lalu diekspor ke luar negeri untuk menghasilkan devisa yang akan digunakan kembali untuk meningkatkan berbagai produksi negeri sendiri untuk diekspor lagi. Ekonomi Sirkular ini makin terus melipatgandakan kemampuan ekonomi produktif China dan kemampuan ekspor mereka tanpa batas.

5. Menjadi pengawas dan penjaga dunia, perdagangan bebas, dan pemimpin terdepan dalam usaha global melawan perubahan iklim dan dampak-dampak buruknya bagi dunia.

Lima usaha besar ini yang akan mengangkat China menjadi Adidaya Dunia, pengganti USA, akan dan sedang dijalankan dengan cerdas, senyap dan tepat sasaran.

Reaksi murahan mengkafirkan China dan me-neraka-kan negeri Gurita Raksasa ini tidak akan menghentikan gerak enerjik lima tentakel Gurita Raksasa China sedikitpun. Sainstek modern tidak akan pernah bisa ditakut-takuti apalagi dikalahkan oleh ancaman-ancaman keagamaan apapun. Sainstek bisa dikalahkan hanya oleh sainstek yang lebih maju. 

Umat dari agama-agama apapun yang tidak mau masuk ke pertarungan global dalam pengembangan dan penguasaan sainstek akan pasti terbuang dari planet Bumi, karena umumnya mereka hanya berniat masuk ke kawasan sorga yang tak memiliki angka-angka koordinat dalam jagat raya yang empiris. Agama-agama mereka bisa jadi mematahkan daya juang dan daya tarung mereka di arena pertarungan sainstek modern, agama kaum pecundang. Agama yang mendorong umat penganutnya ke akhirat, dengan melupakan fakta bahwa kehidupan real di planet Bumi dan di planet-planet lain masih akan berlangsung milyaran tahun ke depan.

Lupakan reaksi murahan para pecundang itu. Jalan satu-satunya untuk menghadapi dan melawan China adalah: mendahului Gurita Raksasa China untuk masuk lebih dulu ke lima bidang yang mau dirangkul tentakel-tentakelnya.

Jika langkah itu tidak mungkin NKRI bisa lakukan dalam waktu dekat, ya jalan alternatif demi kepentingan NKRI jangka panjang adalah BELAJAR DULU DARI CHINA DENGAN CERDAS, TERPELAJAR, MAU SERBATAHU, CEKATAN, TAKTIS, SENYAP dan ULET sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan tangguh. 

CATAT INI: Para politikus dan pengpeng bunglon yang egoistik, haus kekuasaan abadi, dan korup, segera harus eling, sadar diri, lalu mundur teratur demi kepentingan dan kemenangan dan kebesaran bangsa dan negara Republik Indonesia di masa depan yang dekat ini.

Viva NKRI.
And love for the great and determined China.

☆ Ioanes Rakhmat
19 Juni 2017

N.B.
Konon (entah benar atau tidak, saya tak tahu) Pak Hasyim Muzadi pernah menulis topik tentang belajar dari gaya hidup bangsa China. Saya menemukan tulisan ini di sebuah Facebook, judulnya MARI BELAJAR DARI GAYA HIDUP BANGSA CHINA.

Ini link-nya. Bacalah.
https://m.facebook.com/notes/muhammad-a-s-hikam/mari-belajar-gaya-hidup-bangsa-china/10151325668226262/#_=_


Tuesday, June 6, 2017

Minggat ke Australia cari ketenangan

KOK ADA TEROR ISIS di AUSSIE?!

http://www.express.co.uk/news/world/813094/melbourne-explosion-australia-hostages-brighton-terror

https://m.tempo.co/read/news/2017/06/06/120881839/isis-akui-bertanggung-jawab-atas-penyanderaan-di-melbourne

Cina-cina kaya, termasuk beberapa orang famili saya, memutuskan untuk tinggal di Aussie supaya, kata mereka, aman, tenang dan tidak berbahaya, jauh dari para radikalis Islamis ISIS. Apa respons saya?

LOH, mana ada lagi tempat yang aman sepenuhnya sekarang ini di dunia ini? Paman Sam dkk, by system, hanya mau jaga keamanan hanya sejauh kepentingan ekonomi, politik dan militer mereka, di dalam dan di luar negeri, terlindungi. Bahkan untuk kepentingan yang sama, proxy war juga dijalankan sang paman ini, dengan membangunkan wayang-wayang mereka yang sudah ada di seluruh dunia, lalu politik dan strategi adudomba pun dijalankan.

Oh ya, tentu anda bisa memahami, kalau akhirnya ada juga sebagian wayang-wayang ini yang menjadi liar, terlalu liar. Mereka berbalik melawan dan menyerang sang dalang dalam gerakan-gerakan yang mereka bangun sendiri, yang tidak lagi tunduk pada kemauan semula sang dalang. Sebagai respons, ya sang dalang pun membasmi satu demi satu wayang-wayang yang sudah memberontak ini. Ini sejenis penyakit otoimun politik militeristik yang harus digempur sang dalang.

Selain itu, jika anda mau berada jauh di Aussie, anda harus bayar tiket pesawat, beli rumah dengan harga setinggi langit, bayar PBB di sana, biaya hidup yang mahal, biaya kesehatan yang juga tidak murah, bayar pajak lain-lain yang tinggi. Aman? Oh tidak. Tetap saja jantung anda akan kebat-kebit, takut ditembak mati atau disandera teroris di sana, entah di Melbourne atau di Perth atau di kota-kota lain di sono.


Mau tenang? Ya mulailah ketenangan itu dalam pikiran dan hati dulu. Melayani orang yang sedang tidak tenang dan sedang ketakutan, malah dapat membuat kita bebas dari ketakutan, dan menemukan makna agung kehidupan.

Kita bisa diam selamanya di Aussie karena punya uang sangat banyak. Tapi bagaimana dengan anak dan cucu yang kita tinggalkan di Indonesia, dan bagaimana dengan banyak generasi mendatang keluarga kita di NKRI? Apa kita tega dengan keadaan mereka yang terancam, sementara kita, ayah dan ibu atau opa dan oma mereka, asyik hidup plesiran dan tenang di Aussie? Tenang? Siapa yang bisa jamin?

Bagaimana kalau kita malah ditembak mati atau disandera teroris justru di Australia, lalu disiksa para teroris pelan-pelan di sana?


Kalau mau sedikit lebih aman, ya ada kota-kota dan pulau-pulau di Indonesia yang bisa kita jadikan tempat tinggal kedua kita. Kenapa harus mengungsi ke Australia? Kenapa tidak pilih diam misalnya di pulau Bali di kawasan yang biasa-biasa saja, hidup bersama dengan tetangga-tetangga Hindu yang baik?

Lalu di situ, di Bali, atau di pulau lain manapun di NKRI, uang kita gunakan untuk bangun sekolah-sekolah nonkomersial yang akan mendidik dengan cerdas dan berbudipekerti anak-anak dan remaja kita sendiri atau banyak keturunan kita sendiri untuk selamanya mereka dapat cinta tanah air dan mau membangun negeri ini. Berpikirlah seluas jagat raya, jangan hanya seluas tempurung kepala atau tempurung kelapa.

Tapi jangan lupa: Meski pun diam di Bali, bisa saja kita malah mati di pulau Dewata ini karena jatuh dari tangga loteng di rumah sendiri, atau mati karena ditabrak trailer yang remnya blong di sana, atau mati karena tenggelam di Kuta atau di Sanur.

Orang yang takut mati, ya jadi stres terus. Tapi, orang yang berani mati seketika, tapi takut hidup jangka panjang, juga sangat buruk dan durjana: membom diri mereka sendiri di tempat ramai. Kalau mau bunuh diri dengan bom bunuh diri, karena sudah bosan hidup dalam dunia ini dan ingin segera cicipi hidangan lezat sorgawi, ya lakukan saja di gurun pasir yang sunyi sendirian.

Para pelaku bom bunuh diri ini jelas menyerakahi kematian. Bukan diri mereka sendiri saja yang haus kematian; tapi kematian harus direguk juga oleh jauh lebih banyak orang lewat aksi bom bunuh diri mereka. Orang yang menyerakahi kematian, tentu saja tidak mempunyai lagi nurani dan akal sehat dan rasa cinta pada kehidupan di dunia ini.

Jadi, mulailah ketenangan itu dari dalam diri kita sendiri. Bukan kabur-kaburan ke sana-sini bikin lelah sendiri dan menambah beban keuangan dan beban stres. Makin anda menyerakahi kehidupan, makin mati jiwa, kalbu dan pikiran anda! Menyerakahi kehidupan akhirnya juga bermuara pada aksi menyerakahi kematian: kematian nurani, akal panjang dan rasa kesesamaan sebagai manusia.

Gitu loh.

6.6.17

The weeping silence


Saturday, April 8, 2017

Dua sumber simalakama jiplakan lagu "Kobarkan Semangat"

Konon oleh timses dari PKS, untuk paslon 3 AB dan SU telah diciptakan lagu perjuangan "KOBARKAN SEMANGAT" dalam putaran kedua Pilkada DKI 2017.

Tak lama, terbongkarlah fakta bahwa lagu "heroik" tersebut lagu jiplakan, hasil plagiarisme. Nah, setelah saya meneliti sedikit, kini tersedia 2 pilihan sumber jiplakan untuk PKS putuskan yang satu mana.

Ini lagu yang diklaim PKS ciptaan timses paslon 3 ternyata jiplakan dari lagu Israel Hashem Melech yang dinyanyikan musikus Gad Elbaz.

Konon sang penyanyi Yahudi Gad Elbaz ini telah memberi kritik pedas atas plagiarisme lagunya oleh timses paslon 3 pilkada DKI 2017 putaran dua, dalam lagu mereka "Kobarkan Semangat". Ini link ke kritik tajam tersebut:

http://www.beraninews.com/2017/04/jawaban-telak-penyanyi-israel-gad-elbaz-anies-sandi-kobarkan-semamgat.html?m=1

Tapi dalam bantahannya, PKS menyatakan bahwa lagu "Kobarkan Semangat" paslon 3 itu bukan dijiplak dari lagu Yahudi "Hashem Melech", tapi dijiplak dari lagu penyanyi Arab (Aljazair) yang bernama Khaled, yang berjudul C'est Le Vie. Pertanyaan krusialnya adalah tahukah mereka ini lagu jenis apa? Dan apa konten liriknya?

Ok, perkenankan saya memberitahu. Aslinya lirik lagu Khaled ini ditulis dalam dua bahasa: Prancis dan Arab. Berikut ini link ke lirik Inggrisnya. Saya lampirkan screencapture-nya di bawah link-nya.

http://lyricstranslate.com/en/cest-la-vie-life.html



Apa konten lagu ini?

C'EST LA VIE artinya "Beginilah hidup"; "Begitulah yang terjadi"; "Terima saja, niscaya".

Maaf ya, sesungguhnya itu lagu percintaan, lagu mabuk asmara, dansa, musik, cinta satu malam, antara dua orang yang bukan suami-istri, yang menjadi subjek gossip. Dus lagu rohanikah ini? Lagu agamakah ini? Atau sebuah lagu mesum dan perselingkuhan? Terang sekali, ini lagu kobarkan semangat birahi. Lagu perangsang syahwat. Baru tahu? Baru nyaho? Katanya PKS itu partai anti-maksiat.

Jadi, PKS sekarang mau pilih mengakui sumber jiplakan yang mana? Hayo, berilah respons. Ini pilihan sebuah simalakama.

Lagipula, dari manapun sumber jiplakan mereka, plagiarisme itu bagi orang yang beradab dan terpelajar bukan hal remeh, tetapi sesuatu yang sangat serius bukan saja menyangkut legalitas hak cipta, tetapi juga rasa malu dan martabat dan integritas.

Setahu saya Bung AB itu bergelar Ph.D. Jadi, seharusnya baginya plagiarisme ini hal yang sangat sangat sangat serius cacatnya. Tapi saya telah mendengar bahwa AB menganggap kasus plagiarisme lagu "Kobarkan Semangat" cuma soal sepele yang tak perlu dipersoalkan. Nah loh! Lah No!

Setelah menyelidiki sedikit lebih jauh lagi, saya perlu menambahkan 5 poin berikut, memperpanjang versi awal tulisan saya ini yang berakhir pada satu alinea persis di atas.

1. Kalau orang membajak atau menjiplak lagu--bukan menyadur liriknya ke bahasa lain dengan tetap mempertahankan melodinya-- nah yang dijiplak itu melodinya, bukan liriknya.

2. Lagu "Hashem Melech" itu disusun liriknya berdasarkan teks kitab suci Yahudi Mazmur 10:16, bukan berdasarkan teks asmara dan percintaan yang mesum. "Hashem Melech" itu dua kata dalam bahasa Ibrani (Hebrew), bahasa bangsa Yahudi. Artinya "Tuhan itu Raja".

3. Melodi dan lirik otentik lagu "Hashem Melech" pertama kali dipublikasi tahun 1962 oleh Shlomo Carlebach, seorang rabbi. Ada di Youtube. Ini link-nya (publikasi 9 Juli 2012) https://www.youtube.com/watch?v=USb0ZryDoOc.


Lagu Shlomo Carlebach ini sama sekali bukan lagu mesum, perselingkuhan dan zinah. Tapi pujian kepada Tuhan sang Raja bangsa Yahudi. Lirik Ibrani dan Inggrisnya saya sudah buat screencapture-nya.  Saya pasang di bawah ini.


4. Melodi otentik "Hashem Melech" tahun 1962 ini kemudian, langsung atau tak langsung, diambil musikus Khaled orang Arab Aljazair itu, dan liriknya diganti dengan lirik asmara, perselingkuhan, dansa dan cinta satu malam. Jadi Khaled bukan pencipta melodinya.

5. Begitu saja dulu. Kalau nanti saya dapat pengetahuan lebih lanjut, akan pasti saya edit lagi tulisan ini.

Silakan share.
Bebas saja. Tak perlu minta izin dulu.

Salam, 
ioanes rakhmat
08 April 2017


Monday, April 3, 2017

Para ateis itu hamba setan! Aaaah anda!

Ilustrasi Cloud Computing. Mungkin ini sorga data dan informasi langit yang real...

Seorang pegiat di suatu gereja berkeberatan atas pernyataan saya dalam sebuah tulisan saya bahwa para ilmuwan adalah HAMBA TUHAN. Dia protes. Ini prinsip, katanya, serupa dengan gaya para Kristen evangelikal.

Alasan dia, karena banyak saintis yang ateis. Anti-Tuhan. Lalu dia sebut dua nama besar: Albert Einstein dan Stephen Hawking. Katanya yakin: mana mungkin dua saintis ateis anti-Tuhan ini Hamba Tuhan.

Ini tanggapan saya kepadanya (lewat WA):

Ya sudah, saya gak maksa anda atau orang lain kok untuk terima tulisan dan pikiran saya. Tapi, hemat saya, anda perlu baca tulisan saya itu kembali berkali-kali karena ketahuan anda belum memahaminya dengan benar. Terpasang di sini.

Pahami lagi ya. Saya ini pemikir. Pemikir pejuang. Bukan pemikir letoi pecundang. Saya gak mau ulang-ulang advis lama. Saya bosan dengan klise-klise agama. Agama lebih banyak bikin ribut dewasa ini di seluruh dunia. Bising. BIkin puSING. BIkin SintING.

Tak ada Tuhan dalam kebisingan. Dalam kebisingan, orang jadi tuli dan stres, dus gak bisa lagi mendengar suara orang lain yang mungkin juga keras dan menambah bising; apalagi mendengar "suara Tuhan" yang sunyi, senyap, silent, tak terdengar, tak tersadap, tak bisa direkam dalam pita kaset jadul atau dalam disk atau flashdisk modern atau di dalam "awan kemuliaan ilahi" Cloud Computing.

Tapi saya menyukai banyak metafora keagamaan yang terbuka untuk dipahami dari sudut-sudut pandang baru.

Metafora itu bagian dunia senibudaya, dipakai dapat dalam bentuk wahana sastra untuk berbicara tentang dunia-dunia yang tidak dikenal atau yang imajiner, atau sebagai ibarat atau kiasan atau perumpamaan. Bisa juga dalam bentuk wahana seni lukis, seni pahat, seni drama, seni suara, seni gerak, atau seni sinematografis, dll.

Kalau anda sudah cukup jauh menjelajahi kehidupan dan pemikiran para saintis, anda akan menemukan fakta bahwa mereka pun tidak jarang memakai metafora-metafora ketika berusaha menerangkan hal-hal yang rumit dan belum terpahami dalam dunia sains.

Selain itu, saya tetap mendekatkan diri kepada Tuhan yang sunyi, yang senyap, the Silent God. 

Listen to the silent God. The noisy God doesn't exist. Noisy religious believers never know the Silent God, while the noisy God never exists. Actually, they believe in God-of-nowhere, in nothing.

Tuhan dalam dunia iptek tentu saja bukan "Bapak yang bertakhta di sorga". Tapi kemahatahuan tanpa batas. Infinitas. Lebih luas dari Tuhan-tuhan agama-agama.

Einstein mengembangkan sendiri konsepnya tentang Tuhan dalam jalur yang sudah dibuka Baruch Spinoza. Di antara para fisikawan, ungkapan "the Einsteinian God", tidaklah asing atau mengejutkan.

Bagi Albert Einstein, hukum-hukum sains dalam jagat raya yang tanpa batas, yang belum seluruhnya para ilmuwan pahami dan temukan, dan yang menjadi landasan struktur alam semesta dan memberi orde harmonis pada jagat raya, dipenuhi misteri dan tak akan pernah habis dipahami manusia. Hukum-hukum sains ini juga, paradoksalnya, menuntun kita kepada infinitas, ketidakberhinggaan, yang tidak akan pernah dapat dirumuskan untuk menjadi sebuah hukum besi sains lainnya.

Jika diungkap dalam satu kata sebagai sebuah metafora, misteri dan ketidakberhinggaan inilah "God", "the Einsteinian God". Tuhan yang mahatakterbatas, yang manusia dapat pahami selangkah demi selangkah, tanpa akhir. Pikiran dan imajinasi kita itu ibarat ikan-ikan kecil warna-warni yang, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, sedang berenang-renang dengan ceria ke segala arah di kedalaman lelautan yang tidak memiliki tepi atau pantai atau pelabuhan.

Einstein memang dengan terang telah menyatakan bahwa dia tak bisa terima Tuhan yang dibuat serupa manusia, "sang Bapak Yang Lanjut Usia dengan jenggot yang putih lebat yang ada di langit" (ini gambaran dalam kitab Daniel; bukan karangan saya). Ini namanya ANTROPOMORFISME TEOLOGIS, artinya Allah (Yunani: theos) digambarkan dalam rupa (Yunani: morfee) manusia (Yunani: anthropos), dan juga otomatis diberi sifat-sifat manusia.

Albert Einstein menolak teologi anthropomorfis ini meski sang saintis besar ini berlatarbelakang agama Yahudi yang kitab sucinya (Tanakh) penuh dengan metafora teologis anthropomorfis.

TUHAN Albert Einstein terlalu besar untuk dijejalkan ke dalam kitab suci bangsanya. Sebaliknya, kitab suci itu kekecilan untuk menyimpan Allah menurut konsep Einstein.

Bagi saya, baik Einstein maupun Hawking lebih tinggi statusnya sebagai Hamba Tuhan meskipun keduanya menolak konsep tradisional tentang Tuhan yang disusun manusia-manusia kuno dan dapat dibaca dalam kitab-kitab suci.

Sumbangan Einstein dan Hawking luar biasa besar dan bernilai kepada dunia, umat manusia dan peradaban yang dibangun di atas iptek modern. Billy Graham, Bunda Teresa (!), Martin Luther, maaf, gak ada apa-apanya jika dibandingkan dua saintis besar ini, sejauh terkait kemajuan peradaban modern yang dibangun di atas sainstek modern. Dari buahnya kau kenal pohonnya, bukan dari doktrinnya.

Doktrin-doktrin religius yang diklaim paling benar dan paling mulia silakan dipropagandakan ke mana-mana, tapi apa hebatnya jika ternyata (anda tentu tak buta fakta) banyak juru propaganda itu (tentu tidak semua) jadi megalomaniak dan psikopat, haus duit, haus kekuasaan, haus seks, serakah terhadap kehidupan. Hati-hatilah terhadap bujuk rayu WEIN, WEIB, GESANG, GELD und MACHT!

Silakan sebut Einstein dan Hawking hamba Setan, kalau itu memang yang anda inginkan./*/ Saya yakin, dua ilmuwan besar ini gak akan ngamuk, paling cuma tersenyum. Bagi sangat banyak orang, juga bagi saya, mereka jauh lebih dekat ke diri Tuhan YMTahu ketimbang Ratzinger dan John Calvin.

Begitu saja. Stay calm.

/*/ Menyetankan orang lain yang berbeda atau lawan yang lebih tangguh adalah bagian dari strategi "name-calling" ritualisme religius. Jika lawan sudah diberi label negatif setan atau babi ngepet atau jejadian, atau serigala, atau vampir, maka setiap anggota grup yang memberi label itu wajib melakukan ritual pengusiran setan atau eksorsisme. 

Ritual ini ditujukan kepada lawan-lawan yang sudah sepihak dikategorikan jahat atau najis, ya setan atau babi ngepet atau apapun yang dipandang buas dan anti-Tuhan.

Karena manusia lain itu sudah diubah sepihak sebagai setan atau babi ngepet atau jejadian atau vampir atau kampret, atau tukang sihir, maka orang lain yang sudah diberi "name-calling" itu harus ditengking, setannya diusir, atau orangnya dirantai, disiksa dan digempur sampai mati. 

Itulah salah satu strategi tempur melawan musuh yang terlalu kuat, dengan musuh itu dihina dan direndahkan dulu habis-habisan secara sepihak. 

Ritual eksorsisme, sebagai ritual, memberi legitimasi terhadap anggota grup pemberi label untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap lawan atau anggota grup lain yang berbeda. Bagi mereka yang melakukan ritual ini, menyiksa dan menewaskan lawan adalah hal yang patut. Dalam situasi ini, ritual dan penyiksaan dan pembunuhan menjadi satu. Penyiksaan dan pembunuhan menjadi ritual.

Jika ritual ini sudah berhasil dijalankan dengan sang setan atau sang vampir atau sang jejadian atau sang babi ngepet-nya sudah ditengking, dipasung, dibekuk, atau dihancurkan, maka grup pemberi label-label ini melihat disharmoni sosioreligius sudah ditiadakan, dan harmoni sudah ditegakkan kembali. Tentu saja, harmoni dan disharmoni ini didefinisikan sepihak oleh grup pemberi "name-calling".

Strategi ritual "name-calling" dan eksorsisme dipakai banyak kalangan sejak zaman kuno hingga kini dalam berbagai bentuk. Label-labelnya juga beda-beda, bergantung lingkungan sosiobudaya dan sosioreligius. 

Di negeri kita kini, banyak "name-calling" yang sedang bermunculan di tengah persaingan dan pertikaian memperebutkan banyak hal antargrup-grup yang berbeda. Silakan daftarkan sendiri.

Jahatkah ritual "name-calling" eksorsisme? Sangat jahat. Banyak orang benar dan tak bersalah, mati dibunuh lewat strategi ini.

Jakarta, 03 April 2017

Salam
ioanes rakhmat


Saturday, April 1, 2017

Meng-AGAMA-kan sains, dan men-SAINS-kan agama. Loh, itu oxymoronik!


"Kebencian terhadap Barat, jika ada umumnya karena 'victim-mentality' yang subjektif, tidak perlu membuat siapapun membuang sainstek modern. Jika dibuang, ya kita akan cepat mati. Jika anda tidak percaya, buktikanlah sendiri. Tapi saya tahu pasti, anda atau siapapun, bahkan orang yang sangat anti-Barat, tidak akan pernah mau membuktikannya sendiri."

"Ketahuilah, ada agama Barat, dan juga ada agama Timur. Tetapi jika anda menyatakan sainstek modern yang antara lain telah mengirim banyak wahana antariksa ke luar Bumi, ke planet-planet lain dalam tata surya, bahkan ada yang sudah meninggalkan tata surya lalu memasuki dunia antarbintang, sebagai sains Barat, maka anda sudah terjatuh ke dalam sebuah parit hitam kerancuan berpikir."

Seorang teman Muslim menyatakan bahwa dia berniat untuk membangun sebuah kerangka pemikiran yang akan bisa memperdamaikan sains dengan agama, dan agama dengan sains. Dalam bingkai pemikirannya ini, katanya, dia mau memperlihatkan bahwa AGAMA ITU ILMIAH dan SAINS ITU AGAMAWI.

Niatnya ini bukan hal baru, datang pergi bergantian. Berikut ini tanggapan saya kepadanya lewat WA. Cukup panjang. Bacalah dengan cermat, anyway. Pasti obor pencerahan memberikan cahaya dan terangnya kepada anda.

1. Dengan memakai sebuah ungkapan dalam agama anda, mengagamakan sains itu ya syirik. Sains jadi absolut, mutlak, tak bisa salah, sama seperti Tuhan dalam teisme. Dalam agama monoteis yang berusia jauh lebih tua dari agama anda, Yudaisme, ada sebuah perintah tegas untuk manusia (umat) tak boleh mempertuhan sesuatu apapun yang bukan Tuhan.

2. Faktanya, sains itu tak absolut, relatif, bisa salah, selalu diuji dan diuji lagi berdasarkan bukti-bukti baru, dan dikoreksi atau ditinggalkan sama sekali. Sebagai seorang yang saleh, apakah anda mau atau berani memperlakukan Tuhan anda seperti itu? Pasti tidak. Jadi sains tidak sama dengan Tuhan dalam teisme. Jika kosa kata Arabik dipakai, Tuhan itu "LAISA KAMITHLIHI SYAIUN", artinya, "tak ada yang menyamainya".

3. Realitanya, tak ada satupun ilmuwan di dunia ini, sejak awal era modern hingga kini, yang mempertuhan dan menyembah sains atau berdoa memanggil sains.

4. Jadi, salah jika sains dijadikan agama. "Sains agama" adalah sebuah oxymoron: Dua hal yang berbenturan disatukan. "ES goreng" atau "segi tiga lingkaran" atau "garis lurus yang melengkung" atau "kebohongan yang jujur" atau "agamawan ateis" atau "ilmuwan yang bodoh" adalah ungkapan-ungkapan oxymoronik.

5. Sebaliknya, men-sains-kan agama juga sebuah oxymoron, dan hanya melahirkan suatu agama baru yang berparas ganjil, sama sekali bukan sains baru.

6. Misalnya, jika agama dijadikan sains, lahirlah bukan sains, tapi AGAMA-BUMI-DATAR-USIA-6.000 TAHUN.

7. Satu contoh lagi dari "agama sains": AGAMA-DINOSAURUS-SUDAH-HIDUP-BERSAMA-MANUSIA-KURUN-6.000 TAHUN LALU.

Mau lagi? Ini: AGAMA-MENGUKUR-ENERGI-KINETIK-KECEPATAN-GERAK-MALAIKAT.

8. Jelaslah: "mengagamakan sains" dan "mensainskan agama" hasilnya cuma oxymoron. Hanya melahirkan agama lagi yang berwajah aneh. Tidak pernah satu kalipun melahirkan sains terobosan yang para penemunya patut diberi Anugerah Nobel fisika, misalnya.

Tentu, ilmuwan yang saleh beragama penerima Anugerah Nobel ada banyak. Tetapi yang diberi Anugerah Nobel tentu bukan teks-teks kitab-kitab suci mereka atau agama-agama mereka, melainkan buah-buah kreativitas pemikiran dan eksperimen mereka yang luar biasa, yang menghasilkan temuan-temuan keilmuan terobosan yang luar biasa.

Setahu saya, TAK PERNAH ADA seseorang yang seumur kehidupannya hanya membaca dan menghafal teks-teks Alkitab atau teks-teks kitab-kitab suci lain tiba-tiba mampu menghasilkan temuan ilmiah terobosan baru, sehebat apapun dia diklaim sebagai pakar kajian kitab suci atau pakar penghafal seluruh isi kitab suci.

Temuan-temuan baru ilmiah yang absah tidak pernah berwatak partisan atau berlaku hanya untuk lingkungan sendiri yang esoterik. Tapi berlaku universal, lintasruang, lintaswaktu, lintasbudaya, lintasagama, dan akan bertahan untuk waktu yang sangat panjang atau malah bertahan abadi.

Jika anda sudah memahami seluk-beluk ilmu pengetahuan, tentu anda akan langsung sepakat bahwa tidak ada apa yang dinamakan ilmu pengetahuan Yahudi atau ilmu pengetahuan Kristen atau ilmu pengetahuan Islam atau ilmu pengetahuan Buddhis atau ilmu pengetahuan Hindu atau ilmu pengetahuan Kejawen dst. Kalau NGELMU Kejawen, ya ada. Tapi ilmu pengetahuan dan ngelmu adalah dua hal yang berbeda.

Oh ya, ada satu hal lagi. Jika menurut anda ilmu pengetahuan Kristen itu ada, maka tentu ilmu pengetahuan itu hanya absah bagi orang Kristen. Selama anda masih Kristen, maka absahlah ilmu pengetahuan Kristen anda itu.

Nah, bagaimana jika kemudian anda pindah agama atau katakanlah anda menjadi ateis? Apakah status anda yang baru ini, sebagai orang bukan-Kristen, atau ateis, membuat ilmu pengetahuan Kristen yang sebelumnya anda yakini betul, masih tetap betul? Tentu anda akan menjawab, ilmu pengetahuan Kristen itu kini sudah tidak betul lagi. Jika itu jawaban anda, ya itu artinya ilmu pengetahuan Kristen yang sebelumnya anda yakini betul atau sahih, bukanlah ilmu pengetahuan, tetapi agama Kristen atau dogma Kristen. Jelas, bukan?

9. Dus, apakah ada jalan lain yang bukan jalan buntu oxymoron yang dinamakan "sains agama" atau "agama sains"? ADA.

10. Berikut ini jalan pikiran saya yang belum ditempuh orang lain, setahu saya, khususnya dalam teisme.

11. Saya mulai dengan teologi: Tuhan itu dipercaya mahatahu. Kemahatahuan Tuhan ini tanpa batas. Tak pernah habis. Tak pernah kering. Tak ada puncaknya. Tak ada dasarnya. Tak ada ujungnya. Tak ada bilangannya. Yang ada ketakberhinggaan. Infinitas.

12. Semakin kita dekat dengan sifat-sifat Tuhan, semakin mulia diri kita, menuju status Insan Kamil, Bodhisattva, Buddha, Krishna, Wishnu, Mahatma, Kristus, Rupa Allah.

13. Nah, jika Tuhan mahatahu, dan pengetahuan kita makin banyak, maka kita masuk ke sifat Tuhan, yakni mahatahu, yang kita raih sebagian demi sebagian. Tahap demi tahap. Tak pernah selesai. Makin dekat Tuhan, malah makin jauh harus berziarah. Ke pelabuhan yang selalu samar, tak pernah terkunjungi untuk berlabuh.

14. Hanya lewat ilmu pengetahuan tentang jagat raya yang terus dikembangkan, kita makin banyak tahu, tanpa batas. Otak manusia memang bekerja terbatas, tapi batas ini sulit ditentukan. Ini pengalaman semua pemikir pejuang.

Tapi, pemikir yang tidak tangguh dan bukan pejuang, pemikir yang sudah letoi dan kelelahan, memilih untuk menyerah saat diperhadapkan pada hal-ihwal yang sulit, yang sebetulnya menantang. Hal-ihwal ini bisa dipecahkan hanya lewat keberanian berpikir berbeda, berpikir "out of the box", yang bukan asal berpikir, atau asal-asalan ngoceh bak orang yang sedang sakit jiwa. Juga lewat imajinasi yang berani dengan memakai landasan-landasan keilmuan yang sudah ada untuk terbang tinggal landas, jauh menuju angkasa.

Selain itu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan maju tanpa batas karena dihasilkan lewat kerjasama antarpara ilmuwan lintaszaman dan lintasgeografis, bahkan nanti mungkin lintasgalaksi dan lintasjagat-jagat raya. Sifatnya yang akumulatif dan progresif ini membuat jalan buntu abadi tak ada dalam dunia ilmu pengetahuan.

Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, manusia makin tahu banyak terus-menerus ya hanya lewat ilmu pengetahuan. Lewat pengkajian-pengkajian ilmiah, dengan yang mutakhir membarui yang lama, manusia punya potensi menjadi serba tahu. Serba tahu yang tak pernah akan selesai sebagai titik, full stop. Tapi serba tahu yang selalu sebagai koma atau sebagai titik-titik. Serba tahu yang serba tidak tahu. Ini real, bukan oxymoronik.

15. Dus, ilmu pengetahuan adalah Jalan Mulia menuju pencapaian sifat kemahatahuan Tuhan. Sungguh-sungguh Jalan Mulia yang harus tidak dinodai oleh kenajisan, ketamakan, pelacuran, dan aib.

16. Lebih tegas: ilmu pengetahuan yang terus berkembang akumulatif progresif tanpa akhir adalah JALAN MULIA MENUJU TUHAN.

17. Karena itu, para ilmuwan yang mengabdikan diri dengan bermarwah pada ilmu pengetahuan adalah juga PARA HAMBA TUHAN.

18. Para ilmuwan itu hamba-hamba Tuhan bukan karena mereka taat dan saleh beragama dan rajin beribadah dan menyembah Tuhan lewat berbagai kegiatan keagamaan.

Itu bukan sebuah oxymoron. Tuhan tidak dikenal hanya lewat jalur-jalur agama-agama. Tuhan YMTahu jauh melampaui, dan tidak bisa dikerangkeng, dalam agama-agama apapun. Para ilmuwan mengabdi pada Tuhan YMTahu tak lewat jalur agama-agama, tapi lewat JALAN ILMU PENGETAHUAN sebagai jalan memasuki kemahatahuan Tuhan yang tak terbatas, tahap demi tahap, bahu-membahu, lintasruang dan lintaszaman, dengan tekun dan berkomitmen penuh.

19. Jalan agama dan jalan ilmu pengetahuan adalah DUA JALAN BERBEDA MENUJU TUHAN YMTahu. Keduanya tak bisa ditumpuk.

Kenapa tidak bisa ditumpuk? Karena Tuhan dalam ilmu pengetahuan adalah Tuhan YMTahu tanpa batas, tak berhingga, infinitas. Sebagai infinitas, Tuhan dalam ilmu pengetahuan tidak bisa dipaksa masuk habis, dijejali, ke dalam kitab-kitab suci apapun, atau ke dalam doktrin-doktrin keagamaan apapun. Tuhan dalam ilmu pengetahuan didekati, diakrabi, lewat berbagai aktivitas keilmuan yang tak pernah selesai.


Sebaliknya, Tuhan yang sebetulnya tak terbatas, infinite, oleh agama-agama telah dikurung dalam institusi-institusi agama, dalam dogma dan akidah, dalam kitab-kitab suci, dalam ritual-ritual yang beku dan kaku. Cobalah rombak dan angkat kurungan-kurungan ini dan jebol pintu-pintunya, maka adu jotos dan pertikaian adalah muaranya.

20. Faktanya, sumbangan signifikan bagi peradaban dan kehidupan yang lebih baik DATANG UMUMNYA DARI ILMU PENGETAHUAN.

21. Obor penerang jalan kehidupan dan peradaban dan pencerah akal budi JUSTRU DINYALAKAN JAUH LEBIH BANYAK OLEH PARA ILMUWAN. Ini fakta, lepas dari ihwal apakah si ilmuwannya teis, agnostik, nonteis, atau ateis. Dari buah kehidupan seseorang, bukan dari filsafat atau ideologi keyakinannya atau dari doktrin-doktrin keagamaannya, kita tahu pohonnya hingga akarnya. Banyak orang yang mengaku cerdas, berilmu, dan fasih berkhotbah tentang akhlak dan etika dan kebesaran Tuhan, eh akhirnya masuk penjara karena kasus KKN.

22. Fakta juga: AGAMA-AGAMA lebih banyak menyulut api peperangan dan perpecahan dunia dan umat manusia dewasa ini.

23. Kenapa bisa begitu? Karena agama-agama menjadikan institusi mereka sendiri sebagai tujuan, dan Tuhan YMTahu dilupakan

24. Ketika agama apapun dijadikan tujuan, dan bahkan disetarakan dengan Tuhan, sehingga Tuhan de facto tersingkir, maka hasilnya adalah pertikaian, korosi, ilusi dan pendangkalan dalam kehidupan beragama.

25. Apakah ilmu pengetahuan tak punya masalah? Apakah cuma agama sumber berbagai problem dunia yang kronis dan yang akut?

26. Oh tidak. Ilmu pengetahuan pun punya sangat banyak problem yang tak ringan. Ada yang sudah teratasi dan terpecahkan, dan ada juga yang terus bertahan membandel.

27. Tapi segala problem dalam dunia ilmu pengetahuan TAK DISELESAIKAN LEWAT PERANG dan PERTUMPAHAN DARAH dan HUJATAN.

28. Jika sedang menghadapi suatu problem teoretis keilmuan, problem ini diatasi lewat pengkajian lebih lanjut, tukar pikiran, evaluasi kritis, dan debat bermartabat. Di ruang debat ilmiah, para ilmuwan tak akan adu jotos.

29. Jika diperkirakan akan muncul sekian problem etika terkait berbagai ujicoba di lab, para ilmuwan mendiskusikan soal ini dengan terbuka. Banyak pihak pengambil kebijakan dalam banyak segmen masyarakat dan dunia dilibatkan. Sikap inilah salah satu etika dunia keilmuan.

30. Lewat pengkajian lintasilmu dan lintasbidang atas suatu fenomena, hasil yang dicapai akan jauh lebih solid, lebih kaya dan lebih handal. Jika suatu prediksi ilmiah yang semula diyakini akan terbukti atau terkonfirmasi ternyata akhirnya gagal dibuktikan atau gagal ditemukan secara empiris, kegagalan ini biasanya menjadi titik tolak baru untuk memulai pengkajian-pengkajian baru dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda.

31. Karena tak ada klaim mutlak-mutlakan dalam dunia sains, setiap perbedaan pendapat memacu penelitian lebih jauh. Dalam dunia sains, perbedaan pendapat malah dicari dan sangat diperlukan. Tak ada ketakutan terhadap pendapat-pendapat ilmiah yang berbeda.

32. Problem teoretis apapun dalam dunia sains adalah peluang untuk meneliti lebih jauh, mencari pendekatan-pendekatan alternatif, dan menarik kesimpulan lebih mendasar dan lebih kokoh.

33. Tapi ada juga PROBLEM MORAL INSANI dalam dunia ilmu pengetahuan, yang terkait dengan "vested interests" kalangan-kalangan tertentu dalam dunia politik, militer, dan ekonomi.

34. Dari antara para ilmuwan, ada banyak juga yang tergoda untuk menjadi para pelacur di dunia sains karena iming-iming.

35. Mereka disebut "junk scientists", yakni orang yang membangun pendapat-pendapat yang diklaim ilmiah karena dibayar mahal, tidak muncul dari kajian-kajian ilmiah yang cermat, objektif dan absah.

36. Bayaran untuk "junk scientists" dapat berupa uang, jabatan politik atau berbagai fasilitas lain. Germo mereka ya para politikus dan para konglomerat yang sedang mengejar target-target politik, militer dan ekonomi tertentu. Di era Donald Trump sekarang di USA mereka banyak bermunculan dengan memutarbalik fakta-fakta perubahan iklim, keamanan Genetically Modified Foods, Plants, Crops and Organisms, dll.

37. Tapi dalam komunitas global para ilmuwan, "junk scientists" cepat ketahuan, lalu terkucil sendiri meski mereka, misalnya, sudah kuat di politik atau sudah kaya.

38. "Junk scientists" tak bisa merusak sains sebab sains punya hukum-hukum sains sendiri yang universal dan berlaku lintaszaman untuk waktu yang panjang.

39. Sifat universal dan lintaszaman suatu posisi ilmiah terlihat dari hasil yang sama jika posisi ini diuji lagi di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.

40. Lewat verifikasi universal dan lintas zaman inilah sains selalu terbuka untuk mengoreksi dirinya sendiri. Sains itu akbar karena mampu memeriksa dan mengoreksi diri lewat usaha para ilmuwan.

41. Verifikasi dan koreksi diri ini dua karakter utama sains yang tak memungkinkan sains menjadi IDEOLOGI TUNGGANGAN para "junk scientists" dan germo-germo mereka.

42. Banyak orang yang berpendapat keliru bahwa sainstek yang terus berkembang dan kini sedang memasuki tahap-tahap kemajuan yang mengherankan sekaligus mendebarkan hati berakar pada dosa manusia. Kisah mitologis tentang Adam dan Hawa di Taman Eden umumnya dipakai sebagai landasan skriptural bagi pendapat yang keliru itu.

43. Ini tanggapan saya: Kok sainstek berakar dari dosa? Ya salah. Sang perempuan Hawa dalam metafora Taman Eden bukan pembawa masuk dosa ke dalam dunia lewat keinginannya untuk memiliki pengetahuan moral etis tentang hal yang baik dan hal yang buruk, hal yang benar dan hal yang salah, hal yang mulia dan hal yang aib.

44. Sesungguhnya, sang Hawa adalah simbolik insan primordial perempuan pencari dan pencerah kesadaran moral etik. Kesadaran ini juga menjadi bagian kesadaran para ilmuwan ketika mereka tak putus-putusnya mencari pengetahuan-pengetahuan baru, menjalankan eksperimen-eksperimen, dan menerangi peradaban dengan obor terang ilmu pengetahuan mereka.

45. Satu poin sangat penting yang tidak boleh dilepaskan: Sainstek lahir dari kemahatahuan Tuhan yang dibagi bertahap dan terakumulasi ke manusia dari segala latarbelakang, segala zaman dan segala tempat. Tujuannya ya supaya kehidupan manusia makin baik, peradaban makin maju, rasa kesesamamanusiaan makin kuat, planet Bumi, alam dan semua bentuk kehidupan terpelihara dan lestari.

46. Jika dosa itu termanifestasi dalam berbagai sakit penyakit, azab dan kematian (seperti diajarkan gereja Kristen selama ini), tokh kita semua tahu dan banyak mengalami fakta yang menunjukkan bahwa sainstek medikal dan farmakologi menyembuhkan banyak sakit penyakit, mengatasi penderitaan, menyehatkan kehidupan kita, dan memperpanjang umur rata-rata manusia sedunia.

47. Sekarang ini sedang diusahakan sainstek hidup kekal. Ini bukan agama, tapi sainstek yang sangat menantang. Para sainstis dan teknolog bidang ini memandang penuaan dan kematian sebagai suatu penyakit yang nanti akan bisa disembuhkan lewat berbagai metode teknis dan pengobatan.

Jadi ketimbang muncul dari dosa, sainstek malah mengalahkan dosa.

48. Akhirulkalam, saya ingin menegaskan sesuatu yang penting. Jika Tuhan itu mahatahu dan mahatakterbatas, jadilah Tuhan selalu sebagai misteri besar yang tidak akan pernah terhampiri tuntas dan habis. Siapakah yang bisa sampai di ujung infinitas, ketakberhinggaan?

Kalau anda beriman kepada Allah, anda sesungguhnya beriman kepada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih terbuka, sesuatu yang misterius. Misteri apapun selalu penuh teka-teki. Selama sebuah teka-teki belum terpecahkan, teka-teki ini belum selesai.

49. Karena anda beriman kepada sesuatu yang masih berupa misteri, teka-teki, iman anda seharusnya tak pernah bisa absolut, selalu relatif, masih dalam perjalanan, masih belum selesai bahkan tak pernah selesai, masih terus mencari jawab, masih terus bertanya, masih terus menyelidiki.

Beriman itu ibarat berlayar atau berenang di lelautan luas dan dalam tanpa tepi, tanpa pantai dan tanpa pelabuhan. Sementara berlayar dan berenang, kawasan-kawasan baru yang asing dan tidak dikenal terus-menerus ditemukan dan menunggu dieksplorasi dengan cermat dan terfokus.

50. Semakin beriman seseorang kepada Allah, semakin orang ini terbuka kepada berbagai kemungkinan baru dan menakjubkan di masa depan yang tak pernah berakhir. Dia akan memandang dirinya dan perjalanan kehidupannya selalu dinamis, belum selesai, tak pernah selesai, tak kunjung tamat, sekalipun suatu saat dia akan wafat.

Secara ragawi dan mental dia memang suatu saat wafat, tetapi perjalanan kehidupan dan pencariannya akan terus dilanjutkan orang-orang lain, tak pernah selesai, tak pernah berhenti. Albert Einstein sudah wafat, tapi pikiran dan pencariannya hidup terus dalam diri para fisikawan generasi-generasi setelahnya yang tak akan habis.

Jadi, seharusnya dalam hidup bertuhan dan beragama apapun, ya tak ada sikap dan perilaku mutlak-mutlakan dan menang-menangan atau dengki-dengkian. Ya, karena semua orang yang bertuhan dan beragama selalu ada dalam ziarah, dalam pelayaran di lelautan yang dalam, tak berpantai, tak memiliki pelabuhan final apapun. Ada yang berenang sendirian; ada juga yang berenang ramai-ramai, bahkan bersama lumba-lumba, anjing-anjing laut, dan ikan-ikan warna-warni.

END.

Silakan share.

Jakarta, 01 April 2017
Ioanes Rakhmat


Monday, March 27, 2017

Occam's Razor atau Lex Parsimoniae


Rahib Fransiskan, filsuf skolastik Inggris, William dari Ockham, lahir di dusun Ockham, Surrey, Inggris, 1285; wafat 1347 di Munich, Bavaria, Kekaisaran Romawi Kudus.


Hingga kini William dari Ockham terkenal, antara lain, dalam filsafat epistemologis dan prinsip metodologi keilmuan, yang diungkapnya ringkas, begini: "Entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem." Artinya, "Tidak perlu memperumit hal-hal yang sebetulnya tidak rumit."

Pernyataan Ockham itu dikenal sebagai "Occam’s Razor" (atau "Ockham’s Razor"). Dalam ungkapan Latinnya dinamakan "lex parsimoniae", artinya “kaidah yang paling hemat kata”. Kaidah ini bersifat epistemologis, artinya: ikut menentukan KEABSAHAN atau KETIDAKABSAHAN suatu posisi PENGETAHUAN (Yunani: epistemee).

Jika anda perlu tahu dulu epistemologi itu apa, baiklah saya usahakan sebuah definisi yang saya rumuskan sendiri. Epistemologi adalah "the logical procedure one utilizes to legitimize a scientific proposition or a scientific theory or a scientific hypothesis which should ever be verified."

Jadi, untuk mempertahankan bahwa suatu teori ilmiah anda atau sebuah posisi ilmiah anda itu sah, "legititmate", dan benar, anda harus uraikan dan beberkan apa alasan logis anda ("the logic you employ") atau prosedur pengujian logis atau metode yang anda pakai untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran atau keabsahan posisi ilmiah anda. Pendek kata, epistemologi adalah "logos" atau "logika" tentang keabsahan sebuah "epistemee", sebuah "pengetahuan".

Biasanya, dalam dunia ilmu pengetahuan empiris, epistemologi yang dipakai adalah EPISTEMOLOGI EVIDENSIALIS (Latin: evidentia, "bukti"): keabsahan atau kebenaran suatu posisi keilmuwan ditentukan oleh, atau berdasarkan, bukti-bukti EMPIRIS, artinya: bukti-bukti yang dapat ditangkap atau dicerap lima indra, atau lewat bantuan instrumen-instrumen teknologis seperti mikroskop, teleskop, kamera, spektroskop, atau instrumen sains terbesar di dunia sekarang ini yang dinamakan Large Hadron Collider, dll, atau lewat model-model matematis atau model-model statistik, dst.

Jika tidak berpijak pada bukti, maka suatu pendirian yang diklaim ilmiah kehilangan legitimasinya sebagai suatu posisi ilmu pengetahuan, lalu dibuang ke dalam keranjang sampah. Jika si perancangnya tetap ngotot terus menyebarkan dan mempropagandakan apa yang diklaimnya sebagai "temuan ilmiah", maka dia masuk ke dalam kawanan pseudosaintis.

Atau mereka masuk ke dalam gerombolan pelacur dunia ilmu pengetahuan yang dijuluki "junk scientists", yaitu orang-orang yang mengonstruksi suatu posisi yang diklaim posisi ilmiah berdasarkan pesanan dari penguasa politik dan/atau dari kalangan berduit untuk menggolkan tujuan-tujuan politik dan ekonomi mereka.

Nah, sekarang fokus kembali pada Occam's Razor. Kaidah Occam ini mencakup tiga unsur elementer dalam dunia sains.

● Pertama: Jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit.
● Kedua: Teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit dan rumit.
● Ketiga: Jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan-lompatan iman yang tidak memerlukan bukti-bukti dan teori-teori besar saintifik, tetapi penuh dengan asumsi-asumsi.

Makin banyak asumsi yang dibangun, makin rumit dan ribet jalannya dalam orang mencari kebenaran. Makin sedikit asumsi dipakai dalam sebuah penjelasan atas suatu fenomena, penjelasan yang hemat kata dan sederhana ini makin diperlukan untuk menjadi sebuah pilihan ilmiah yang didahulukan. Saya sebut ini "preferential option for the simple".

Itulah Occam’s Razor yang perlu diingat terus jika anda masuk ke dunia sains empiris. Sebagaimana pisau cukur ("razor") dipakai untuk memangkas, Occam's Razor menyadarkan kita untuk memangkas hal-hal yang ribet dan rumit, alhasil hal-hal yang simpel akan kita peroleh.

Pikiran yang kusut dan penuh asumsi dan prasangka tidak pernah bermuara pada kebenaran dan ilmu pengetahuan, tapi menjadi sebuah sumber kerumitan dan kesesatan. Ilmu pengetahuan justru ada untuk membawa manusia keluar dari kerumitan, dan membuat kehidupan jadi lebih mudah dan lebih simpel dijalani.

Teman-teman yang Muslim tentu tahu sebuah kaidah fikih yang menyatakan: “Yassiru walaa tu ‘assiru.” Maksudnya: Permudahlah, jangan dipersulit. Tidak usah dibuat ribet dan rumit, kalau sesuatu itu sudah simpel. Jika diperlukan, malah buat lebih simpel lagi. Ini kurang lebih serupa dengan ucapan mendiang Gus Dur yang kita semua sudah tahu, “Gitu aja kok repot!” Kalau dicocok-cocokkan, ya mirip Occam’s Razor.

Nah, menjelang hari pencoblosan dalam Pilkada DKI 2017 putaran kedua, saya merasakan dan melihat hal bagaimana orang musti beragama itu, khususnya di DKI Jakarta, sedang menjadi sesuatu yang pelik, rumit, ribet dan kehilangan kesimpelannya.


Saking rumitnya beragama di Jakarta, ada pihak-pihak yang membuat sebuah mem yang bergambar pocong-pocong berkafan kain putih yang sedang berjalan dalam sebuah barisan di jalan raya. Tentu anda tahu maksud dan latarbelakang mem ini dibuat dan disebarkan.

Memang sejak dulu, ihwal beragama itu, hal "being religious", senantiasa menjadi sesuatu yang rumit, menjelimet, sangat bikin ribet dan rikuh. Sudah pasti, oleh para pemuka agama-agama, hal beragama itu dibuat pelik, rumit, kusut, berbelit dan ngelibet di sana-sini, hanya untuk menggolkan kepentingan-kepentingan mereka sendiri.

Timbul pertanyaan: Apakah Tuhan YMBaik, Al-Rahman dan Al-Rahim, YMTahu, adalah Tuhan yang rumit, ribet, dan berbelit, dus juga Tuhan yang membuat segala hal menjadi sulit, rumit, berbelit dan membelit, serta senang bikin rikuh dan bikin ribut?

Hemat saya, Tuhan itu tidak demikian. Tuhan itu simpel, dan ingin segala sesuatu dalam kehidupan manusia juga simpel, tidak rumit, tidak ribet, dan tidak berbelit. Keributan umumnya buah kerumitan dan keribetan. Syukurlah, God is simple.

Kita semua tahu, apalagi Tuhan, bahwa kehidupan yang rumit dan berbelit-belit membuat siapapun, termasuk para penguasa dan para konglomerat, apalagi rakyat kecil yang miskin dan kumuh, terperosok ke dalam parit stres dan depresi. Sudah pasti, dalam parit ini tubuh dan jiwa terus mengkeret lalu koit.


Tahukah anda dua pernyataan berikut ini? Yang satu diucapkan Albert Einstein bahwa "Saat solusinya simpel, itulah jawaban Tuhan." Lalu yang kedua dikatakan oleh Leo Tolstoy bahwa "Hal yang dibutuhkan, dibuat Tuhan simpel. Hal yang rumit, dibuat Tuhan tidak dibutuhkan." Ya, Tuhan YMBaik itu sepemikiran dengan William dari Ockham.

Karena mencari penjelasan-penjelasan yang simpel dengan berdasar bukti-bukti atas berbagai fenomena alam raya, ilmu pengetahuan mudah sekali maju dan berkembang. Saya kira, jika agama-agama mau juga maju, tidak ketinggalan zaman, Occam's Razor juga perlu dibawa masuk ke dalam dunia agama-agama.

Kalau seorang petarung renang memakai baju renang yang gombrong dan terus bikin ribet dan membelit-belit anggota-anggota tubuh, pasti dia akan kalah telak saat bertarung dengan seorang perenang lain yang berpakaian renang yang sangat ringkes dan menempel ketat pada tubuh.

Beragama itu ya berenang dengan gesit dan tangkas, melaju cepat, di lelautan cinta kasih Tuhan, untuk membawa dan meneruskan cinta kasih Tuhan Yang Maha Baik. Simpel gitu. Bak makan sepiring nasi dengan lauk sambel dan pecel doang.

Jakarta, 27 Maret 2017

Salam,
ioanes rakhmat

Thursday, March 23, 2017

Mama, engkau tidak boleh menjadi tua!
Jangan sampai menangis ya!

Mama, aku tak mau kamu jadi tua!

Usia tambah, tubuh jadi jompo, degeneratif, menua, adalah hal lumrah dalam jagat raya, untuk segala hal, yang biologis dan yang nonbiologis. Karena bekerjanya ENTROPI atau The Arrow of Time dalam fisika. Akibat entropi, sistem biologis tubuh anda lambat-laun masuk ke kondisi chaotic, kehilangan harmoni dan sinkronisasi, lalu akhirnya collapse dan terdekomposisi, terurai berantakan.

Menjadi tua, lalu mati, bukan kutukan, kutukan dewa atau kutukan setan, tapi bagian dari hukum-hukum fisika. Tetapi akan tiba saatnya, proses penuaan tubuh dan mental manusia bisa dilawan dan dikalahkan lewat ilmu pengetahuan tentang hidup kekal. Tapi, hidup 2000 tahun atau hidup tak bisa mati, apakah bukan sebuah azab juga? Saya tak bisa menjawab pertanyaan berat ini sekarang.

Kanak-kanak, saya juga dulu di usia 6 tahun, kaget saat pertama kali tahu bahwa manusia bisa tua lalu mati. Pangeran Siddhartha Gautama, menurut legenda Buddhis, tersentak dengan soal ini malah ketika dia sudah dewasa, saat dia pertama kali, di luar istana ayahnya, melihat seorang kakek jompo yang sedang berjalan bungkuk dengan susah payah dan iringan orang-orang yang meratap yang sedang mengantar sebuah keranda jenazah yang diusung.


Jadi, bagi anak-anak dan bagi orang dewasa, bagi semua orang, hal menjadi tua lalu mati (atas diri sendiri dan juga atas orang yang dikasihi), adalah suatu pengetahuan tentang fakta yang menimbulkan rasa takut yang dahsyat. Mengerikan. Menimbulkan rasa duka yang sangat dalam. Ini baru pengetahuan, apalagi faktanya. Ini bagian dari "Big Questions", pertanyaan-pertanyaan besar, tentang kehidupan. Mengapa kita lahir, lalu masuk ke umur jompo, lalu akhirnya menjadi mayat, mati? Apa sebetulnya tujuan kita dilahirkan? Apakah memang ada tujuannya, ataukah kebetulan saja kita dilahirkan tanpa kita minta?

Pelan-pelan anak-anak akan juga bisa menerima fakta kematian kekasih-kekasih mereka. Tapi masih banyak Big Questions yang akan menerjang pikiran dan hati mereka sementara mereka bertumbuh dewasa. Orang-orang yang berilmu dan arif perlu membimbing mereka untuk mereka dapat menemukan sendiri jawaban-jawaban yang bermakna untuk mereka atas berbagai pertanyaan eksistensial besar yang bermunculan satu demi satu dalam perjalanan kehidupan mereka. Tanpa jawaban yang bermakna, kehidupan mereka akan kehilangan energi pendorong.

Nah, supaya anda dapat hidup bermakna, dan mumpung anda sekarang masih muda dan masih hidup, ya berbuat baiklah sebanyak-banyaknya untuk membuat duka dan azab berkurang dalam dunia ini. Supaya rasa takut hidup teratasi, apalagi rasa takut mati, dalam diri orang banyak, dan khususnya dalam diri anda sendiri. Makna hidup ada di situ, tidak di kegiatan lain yang hanya mempertontonkan ketamakan, kemewahan, dan kebrutalan anda.

Mati meregang nyawa itu cuma sekejap, paling lama 10 menit. Tapi hidup itu, dengan semua suka duka dan azab yang banyak, panjang loh. Bisa sampai 70 tahun atau 120 tahun, bergantung pada sekian hal: jam biologis kehidupan kita seluruhnya, cara kita hidup, cara kita memelihara kesehatan, keamanan atau ketidakamanan hidup kita sehari-hari, kondisi lingkungan hidup kita, dan peristiwa-peristiwa yang datang tak terduga.

Jelas, berani mati itu gampang, cuma butuh waktu sekejap. Tapi berani hidup itu, sangat sulit, perlu waktu puluhan tahun untuk bisa menang dalam kehidupan yang penuh azab dan pergumulan. Jadi, dalam kehidupan normal sehari-hari, beranilah hidup, bukan berani mati. Hanya orang pengecut yang berani mati, tapi tidak berani hidup.

Apapun juga, karena setiap orang bisa mati detik ini juga atau mati mendadak tanpa persiapan, ya selagi nafas dan energi tubuh masih ada, berbuat baik dan sebarkanlah kasih sayang ke sebanyak mungkin orang. Itulah makna kehidupan kita. That is the meaning of our lives! Jalani hidup yang bermakna semacam ini dengan berani!

Bagikanlah dengan berani apapun yang baik dan bermanfaat yang anda punya ke orang lain yang memerlukan, mulai ke orang yang terdekat hingga ke orang yang terjauh. Di depan mata anda, atau jauh di belahan lain dunia. Di era Internet, mata anda bisa ada di seluruh dunia.

Saatnya kita mati akan tiba juga. Saatnya kita ditangisi dengan penuh duka pasti akan terjadi. Saatnya kita tidak bisa tertawa dan tidak bisa menangis lagi, akan pasti datang. Saatnya kita tidak bisa lagi hidup gemerlap, tidak bisa lagi makan enak di resto-resto besar, dan tidak bisa lagi keliling dunia dengan biaya ratusan juta hingga milyaran rupiah, AKAN JUGA DATANG, bisa detik ini, bisa juga besok atau lusa. Yakni ketika kita sudah menjadi mayat. Datangnya bisa senyap, bisa juga dengan keriuhan kata, hiruk-pikuk, dan banjir air mata. Hidup memang begitu. Begitulah hidup.

Saat kematian tiba, dan tubuh anda sudah terbujur kaku dan dingin, madah dan ritual keagamaan tidak bisa anda dengar dan rasakan atau pahami lagi. Mati adalah "the point of no return". Madah hanya menghibur orang yang hidup, dan ritual cuma menjadi kesibukan agama. Mayat tidak memerlukan penghiburan, juga tidak butuh ritual. Supaya anda yakin, tanyailah setiap mayat, jangan tanyai orang yang sedang sekarat.

Ya, orang lain sibuk dan repot dan bikin ribet di sekitar mayat kaku anda. Tapi semuanya itu tidak ada lagi gunanya buat anda, tak lagi berpengaruh pada mayat anda. Dan "anda" sendiri sudah bukan "anda" lagi. You don't exist anymore. Ke mana "anda" pergi, no one knows! Or else, most people know, you go to nowhere. You have finished.

Ketika ajal datang, tubuh kita yang sexy, rambut kita yang indah, tas tangan kita yang berharga ratusan juta rupiah, atau tubuh anda yang kokoh dan kekar, tidak akan dibawa. Begitu juga semua harta, termasuk rumah-rumah mewah dan tanah-tanah anda yang luas di banyak lokasi di dalam dan di luar negeri, dan bergunung-gunung uang simpanan anda, tidak bisa anda pakai lagi.

Kita cuma butuh tanah paling luas 3m x 3m, sebagai lahan rumah masa depan, yang dinamakan KUBURAN atau MAKAM.

Kalau tubuh anda berakhir sebagai setumpuk kecil debu halus hasil kremasi, lewat pelarungan sisa-sisa tubuh anda sebagian tertebar di permukaan air laut dan sebagian lain terhembus angin entah ke mana, mungkin terbang ke dunia bintang-bintang, entah bagaimana caranya. Atau jika ongggokan debu halus sisa jasad anda dimasukkan ke dalam sebuah guci yang sesudahnya ditutup rapat, rumah masa depan anda ya guci itu yang dibiarkan tenggelam sampai di dasar laut dangkal. Atau bisa juga rumah idaman masa depan anda cuma sebuah kotak tempat orang menitipkan guci-guci debu mayat dengan kewajiban membayar.

Sedihkah anda saat membaca apa yang baru saya ungkap di atas? Kalau sedih, ya tidak apa-apa. Di dunia ini sangat banyak kok orang yang bersedih lantaran sangat banyak hal. Sedih, pedih dan ringkih tertatih itu bersaudara. Bagaimana dengan orang-orang yang punya kekuasaan besar dan harta yang sangat banyak jumlahnya?

Kekuasaan politik, kekuatan militer dan paramiliter, kedudukan tinggi hingga ke langit, nama yang bergelar panjang berlerot, harta simpanan setinggi Gunung Everest, dan para dayang sexy, atau para pria muda nan jantan mitra seksual anda, yang sebelumnya anda kejar dengan ambisius dan dengan mengorbankan marwah diri, lalu anda peroleh dan pertahankan lewat perbuatan keji kepada banyak orang lain dan lewat pembunuhan, AKHIRNYA HARUS ANDA LEPASKAN DAN TINGGALKAN TOTALLLLL! Kalau semua itu anda mau angkut ke alam kubur, ya tidak akan muat. Jika mau anda bawa lewat jasa kirim FedEx, ya alamat tujuannya di alam baka tidak ada yang tahu.

Fakta ini juga akan membuat anda lebih sedih lagi: Kalau hari ini kita masih hidup, besok belum tentu. Kita hanya percaya saja bahwa besok atau di tahun 2018 kita masih akan hidup. Kepercayaan kita ini BISA TIDAK TERPENUHI. Boleh percaya, tapi jangan sekali-kali mengabsolutkan kepercayaan anda itu.

Anyway, tariklah nafas dalam-dalam sekarang, bernyanyilah dalam hati, pujilah Tuhan anda, gembirakan hati anda, berpikirlah positif dan optimis.

Lalu berjalanlah ke luar. Masuk ke tempat yang lebih ramai di luar rumah anda atau di luar ruang kantor megah anda. Keluarlah dari zona aman dan mewah anda.

Ada sekian orang yang sedang menunggu uluran tangan anda di sana, di luar. Wajah mereka kuyu. Mata mereka sembab. Tangan dan kaki mereka gemetar karena kelaparan. Baju mereka lusuh dan apek. Atau mereka sedang meratap pilu karena negeri mereka telah luluh lantak lantaran pertikaian agama. Wujudkan kebajikan di sana. Buat kebaikan hati anda dialami real oleh mereka. Love your fellow human beings intelligently. Cintai sesamamu manusia dengan cinta yang cerdas.

Orang jahat terlalu lihai dan licik untuk dicintai oleh anda dengan lugu. Ada banyak orang jahat jenis ini, yang tidak luluh oleh cinta. Jika anda dengan lugu mencintai orang jenis ini, cinta anda yang tidak cerdas, meski ikhlas dan tulus, malah akan mereka permainkan untuk membuat diri mereka makin sadis dan brutal.

Meski begitu, jangan melihat sesamamu yang sedang menanggung azab, yang sedang susah, sebagai gangguan, sebagai ingus, sebagai kutil, sebagai sebungkus sampah kulit udang, sebagai beban berbau busuk yang membuat anda mual lalu bersumpah serapah dan mencaci dalam hati. Sekali lagi, cintai mereka dengan cinta yang cerdas, cinta yang melek, tidak buta, tapi tulus dan ikhlas.

Kata para sesepuh, Tuhan anda kerap datang lewat diri mereka. Menyamar. Menitis. Mengambil wujud fisik. Jadi, jika anda mencintai Tuhan anda, usahakan untuk mencintai mereka dengan cinta yang tulus, ikhlas, melek, dan cerdas.

Salam,
ioanes rakhmat
23 Maret 2017


Thursday, March 9, 2017

Sudah tahukah anda Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)? Semoga sudah!

PTSD singkatan dari “post-traumatic stress disorder”, artinya “gangguan stres pasca-trauma”. Trauma artinya “luka ragawi”, atau “pengalaman mental yang sangat menghancurkan jiwa”.

PTSD adalah suatu gangguan mental yang serius, yang timbul karena pengalaman-pengalaman traumatik di masa sebelumnya. Baik pengalaman kejiwaan maupun pengalaman fisik. Sebagai suatu gangguan psikiatrik, PTSD timbul berkepanjangan, terus-menerus datang setelah si penderita mengalami “kejut dan kesakitan mental dan raga” atau “trauma” yang berat.


PTSD penting untuk kita ketahui, sebab pengetahuan ini mungkin bisa membantu kita untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih teduh. Masyarakat yang tidak anarkhis, tidak chaotic. Dan kelompok-kelompok yang sukanya memecahbelah dan mengadudomba sesama WNI yang berasal dari anekaragam latarbelakang SARA, tidak lagi bisa berbuat semau mereka. Tidak sedikit dari antara mereka juga terkena PTSD.

Trauma akar yang memicu PTSD adalah kejadian-kejadian yang berat di masa sebelumnya, atau yang nyaris merenggut nyawa si penderita. Misalnya: menyaksikan pembunuhan, atau nyaris terbunuh, mengalami kecelakaan berat, berada dalam situasi perang, penganiayaan, kekejaman luar biasa, atau mengalami pelecehan seksual di masa kecil atau ketika dewasa, atau berada dalam situasi teror, kerusuhan besar, pertumpahan darah, bencana alam yang dahsyat, dll.

Semua peristiwa buruk ini membekas kuat dalam pikiran dan batin. Ditekan dan dipendam ke alam bawah sadar, tapi selalu muncul lagi ke permukaan, entah berupa mimpi buruk kilas-balik, kegelisahan luar biasa di saat tidur, gangguan tidur yang serius, atau berupa halusinasi dan visi-visi yang menyeramkan, atau ketakutan dan kepanikan, kehilangan kontrol diri, dan kondisi gampang kaget dan ingin lari.

Ingatan tentang semua peristiwa traumatik itu tak bisa dihapus, tapi muncul terus sebagai kilas-balik yang mengakibatkan sejumlah gangguan mental berkepanjangan: rasa gelisah, cemas, takut, stres, kenangan yang muncul membandel atas masa lalu yang mengerikan, keinginan lari dari realitas, isolasi diri, sensitivitas perasaan mati, tak bisa percaya orang, ketaktahuan sedang merasakan apa dan harus berbuat apa, kondisi tak bisa bekerja, tak dapat berkonsentrasi, tercekam perasaan dan pikiran harus terus siaga dan waspada, akhirnya putus asa, depresi, yang mendorong pasien untuk lari dari realitas atau mencoba bunuh diri. In short, PTSD tampak dalam empat simtom yang berkaitan satu sama lain, tapi muncul tidak linier. 1. Re-experiencing symptoms Peristiwa mengerikan di masa lalu yang tetap membekas selalu dirasakan dialami kembali, bisa muncul begitu saja, dan bisa juga karena ada pemicunya. Bisa sebentar, bisa juga berlarut-larut. Kedamaian jiwa sirna. Dunia terasa mencekam, tidak bersahabat. Seolah dibawa sebuah mesin waktu, mengalami kilas-balik, kembali masuk ke masa lampau saat peristiwa-peristiwa traumatik semula betulan dialami. 2. Avoidance and “numbing” symptoms Si penderita ingin selalu menghindar dari orang atau hal-hal yang dapat memicu ingatan kembali trauma masa lalunya. Menjauhkan diri dari relasi sosial. Memilih hidup terisolasi. Menyendiri. Tertekan. Depresi. Pasif total. Saat diminta untuk menjelaskan apa yg sedang dirasakan dan dipikirkan ketika PTSD datang, si penderita merasa mati rasa, dan pikirannya dirasakan sudah tak bekerja lagi. Mati rasa dan mati pikiran. Tak tahu dan tak berdaya harus berkata apa, atau harus berpikir apa, atau berbuat apa atau merasakan apa. Seolah semua indra, kehendak, dan kemampuan kognitif dan emosi telah lumpuh, tidak hidup lagi, mati. “Numbing” ini bagian dari “avoidance”. 3. Hyperarousal, or increased emotional arousal, or increased feeling on guard and alert symptoms Orang yang terkena PTSD selalu membangun sikap waspada dan siaga yang sangat tinggi terhadap segala sesuatu yang dilihat, dialami atau yang sedang mendatangi dirinya. Selalu curiga dan was-was. Dia sangat khawatir kejadian traumatik di masa lalunya terjadi lagi yang dibayangkannya akan menyiksanya kembali.

Karena itu dia selalu supersiaga, superwas-was, superwaspada, paranoid, seolah sikon buruk yang dulu dialami akan segera terjadi lagi. Jiwa para veteran perang banyak yang terganggu dan mereka merasa seolah perang belum selesai. Suasana pertempuran yang mencekam seolah akan dialami lagi. Kecelakaan seolah akan terjadi lagi. Darah seolah akan membanjir lagi. Seolah si penderita akan dianiaya lagi, atau akan diperkosa lagi. Seolah gempa bumi dan tsunami segera terjadi lagi. Seolah penganiayaan dan pembunuhan akan ada lagi. Seolah para teroris, penjarah dan pemerkosa akan segera menyerang dan merusak semuanya lagi.

Padahal mereka adalah para penyintas, “survivors”. Mereka sudah dibebaskan dan sudah diselamatkan, sudah kembali aman di rumah mereka. Tapi mereka merasa masih sedang disandera, ditawan, disekap, dianiaya, atau akan diperkosa lagi, atau masih berada di daerah bencana, atau di zona perang. 4. Substance-abuse and aggressive behavior Pada sisi lain, lantaran beban mental sangat berat dan ingin lari dari dunia, si penderita berubah menjadi pecandu miras dan NAPZA. Mereka mudah murka, agresif, kasar, asosial, pembuat keributan dalam rumah atau dengan tetangga dan dalam masyarakat, gagal kerja, introvert, hidup eskapis. Semua ini akhirnya akan membinasakan diri mereka.

Hingga kini PTSD masih terus dipelajari. Banyak seginya yang belum dipahami betul. Yang pasti, para penderitanya perlu empati, mendapatkan terapi medik yang profesional dengan melibatkan para seniman dan budayawan. Pendampingan jangka panjang jelas dibutuhkan mereka. Juga cek, jangan-jangan kita sendiri menderita PTSD dalam tahap-tahap awal. Menurut data yang tersedia, banyak sekali orang di dunia ini yang sudah terkena PTSD, tapi mereka mengganggap gangguan mental ini enteng saja seolah cuma stres ringan yang bisa reda sendiri. Padahal trauma psikiatrik PTSD tidak bisa hilang sendiri, tapi membutuhkan penanganan medik.


Sepuluh langkah praktis Saya bukan seorang psikiater. Tapi saya punya pengalaman sendiri untuk mengatasi gejala-gejala awal stres. Berikut ini beberapa poin yang sudah teruji.
  • Hiduplah dengan santai. Relaxed. Banyak rekreasi, melihat alam terbuka, olah raga ringan, dan bermain, akan memulihkan dan membangun kesehatan mental kita.
  • Libatkan diri dalam berbagai bentuk pelayanan sosial. Seringlah berkumpul bersama dengan teman-teman. Kepikunan dini dan depresi umumnya tidak datang cepat-cepat ke orang yang giat di banyak kelompok sosialkeagamaan dan sosialbudaya.
  • Latihan meditasi vipassana dengan teratur akan sangat membantu. Bisa berlatih sendiri, atau dengan bimbingan seorang pemandu yang sudah berpengalaman. Tidak ada hal yang klenis dalam meditasi vipassana.
  • Jika suka dengan hewan-hewan peliharaan dalam rumah, pelihara dan bergaullah akrab dengan mereka. Liur anjing yang masuk ke dalam tubuh lewat jilatan anjing peliharaan ikut membantu meredakan stres dan memperkuat imunitas tubuh. Jalan berkeliling dengan ditemani anjing peliharaan yang setia sangat membantu mengurangi rasa stres sekaligus sendi, otot dan tulang tetap terpelihara bugar, tidak cepat regeneratif.
  • Seringlah bernyanyi dengan riang. Nyanyikan madah-madah yang mengagungkan Tuhan dengan penuh penghayatan. Bernyanyi seperti ini akan merangsang aliran hormon keteduhan dan kedamaian yang dikeluarkan kelenjar-kelenjar dalam tubuh, yang akan membuat kita merasa tenteram dan damai. Jika tidak bernyanyi, dengarkan lagu-lagu teduh dan resapi semua unsurnya. Jika anda ateis, ya carilah dan nyanyikan lagu-lagu sekuler yang bisa menimbulkan efek yang sama pada mental anda.
  • Jika suka melukis, isilah waktu dengan kegiatan melukis, walaupun masih di tingkat pemula. Ungkap suasana batin dan pikiran anda lewat lukisan-lukisan anda sendiri. Atau mulai biasakan menuangkan semua isi hati dan pikiran anda ke dalam buku harian elektronik anda, setahap demi setahap, hari demi hari.
  • Jika bisa sendiri, atau dengan bantuan orang lain, dapatkan teman-teman yang betul-betul bisa merasakan isi hati dan pikiran anda, mampu berempati, dapat dipercaya, dan sanggup mendengarkan semua curhat anda, bahkan ikhlas menerima kemarahan anda dengan penuh pengertian.
  • Jika anda pernah percaya pada satu sosok agung yang disucikan dalam agama anda, misalnya Gautama, atau Yesus, atau Krishna, dll, sering-sering visualisasikan diri mereka dalam batin dan pikiran anda sebagai sosok-sosok cahaya agung yang tetap mencintai anda dan memahami sikon kehidupan anda, dan akan mampu menolong dan menyembuhkan anda. Berdoalah.
  • Lawan, jika muncul keinginan untuk merusak diri sendiri. Lawan, jika muncul keinginan untuk mencoba NAPZA atau miras sebagai tempat dan kegiatan pelarian anda. Bangkitkan optimisme anda. Bangkitkan.
  • Sebisa mungkin, jangan rutin meminum obat-obat antidepresi. Datangi psikiater jika dirasa memang perlu untuk berkonsultasi.
Itulah uraian sederhana yang bisa saya berikan tentang PTSD. Semoga berguna. Sudah banyak artikel dan buku kajian ilmiah tentang PTSD ditulis. Selanjutnya, teman-teman perlu mendalami sendiri.

Silahkan share. Tak perlu minta izin dulu. Thank you. Jakarta, 9.03.2017 ioanes rakhmat Sumber: http://www.ptsd.ne.gov/what-is-ptsd.html. https://healingfromcomplextraumaandptsd.wordpress.com/tag/trust-2/.


Saturday, March 4, 2017

Agama-agama akan pasti berakhir, jika...!

Klik atau ketuk gambarnya untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan muncul lengkap

Kalau dilihat dari prestasi agama-agama sepanjang era sejarah insani, maksud dan tujuan bagus adanya agama bagi kehidupan kini makin kelihatan TIDAK AKAN PERNAH TERCAPAI. 

Tentu, ada juga tujuan-tujuan lain yang bisa jahat di saat suatu agama dibangun, misalnya tujuan memberi legitimasi ilahi bagi suatu kekuasaan religiopolitik absolut yang terlalu besar pada satu atau dua sosok insan di zaman kuno. Tujuan-tujuan lain semacam ini lazim ada di era pramodern ketika dunia kuno belum mengenal dan mempraktekkan ide sekularisme, yakni pemisahan politik dari agama, dan agama dari politik.

Harap jangan ngobral bicara tentang sorga di “alam lain” yang akan dimasuki setelah orang baik mati dan penguburan mayat mereka diupacarakan dengan aneka ritual keagamaan. Ya, jangan ngobral, jika ketika sedang hidup DALAM DUNIA SEKARANG INI anda tidak sedikitpun berhasil tahap demi tahap mendirikan sorga kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian di muka planet Bumi di alam real.

Malah sainstek kini dan seterusnya sedang memperlihatkan prestasi-prestasi real yang sebelumnya menjadi bagian penting cita-cita agama, yang kini makin tampak telah gagal dicapai agama-agama. Jika agama-agama menginginkan manusia dapat hidup sehat, dan penyakit-penyakit disembuhkan, keinginan ini justru telah dan terus sedang diwujudkan oleh sainstek modern dengan real lewat ilmu kedokteran dan berbagai teknologi medis modern. Makin maju dan makin berkembang sainstek kita, makin dalam kita dibawa ke dalam suatu dunia yang kita rasakan sebagai dunia fiksi, dunia magis, dunia sihir, walau dunia sainstek modern itu dunia yang real, bukan dunia agama dan juga bukan alam sihir.


Bagaimana pun juga, jika agama-agama tak mau berbenah diri sekarang, agama-agama pada akhirnya akan lenyap, tiba di garis finish, lalu ditinggalkan, jika semua tujuan adanya agama-agama (misalnya kehidupan yang sehat, kebahagiaan, umur panjang, kemakmuran, dan persaudaraan insani global) telah dengan empiris, real, konkret dan objektif, dicapai sainstek modern dengan cepat. Kalau sainstek sudah mencapai prestasi-prestasi yang makin besar semacam itu, maka agama-agama seperti yang kita kenal sekarang, yang telah gagal total mewujudkan cita-cita keagamaan, sudah tidak diperlukan lagi, alias sudah kalah, jadi pecundang.

Juga jangan lagi dengan angkuh anda mengklaim bahwa tanpa agama-agama manusia tidak bisa hidup bermoral (dengan akibat: masyarakat akan hancur) sebab, kata anda dengan yakin tapi naif, hanya agama-agama (tentu khususnya agama anda sendiri) yang bisa menjadi sumber nilai-nilai kehidupan yang baik, benar, agung dan sehat. Nilai-nilai moral. Oh, anda salah besar!

Justru sainstek kaya raya dengan nilai-nilai kehidupan yang baik, benar, agung dan sehat. Saya beri satu atau dua contoh saja. Yang lain-lainnya anda pikirkan dan temukan sendiri. Jika anda, sebagaimana umumnya, tidak ingin berlelah-lelah memikirkan dan menemukan sendiri banyak nilai yang diberikan sainstek modern, saya telah menulis tentang itu untuk anda. Silakan klik atau ketuk di sini untuk membacanya.

Justru sainstek, bukan agama, yang mendorong rasa ingin tahu atau kuriositas orang tumbuh dan berkembang terus-menerus, yang membuat pengetahuan kita makin berkembang dan makin maju tentang makin banyak fenomena alam, mulai dari dunia alam mekanika quantum hingga dunia mahaluas yang kini dinamakan multiverse atau jagat-jagat raya yang jumlahnya tanpa batas.

Justru sainsteklah yang berhasil menyadarkan kita dengan real dan terarah untuk mencintai, merawat, mempertahankan dan mengembangkan serta makin menyempurnakan kehidupan kita sekarang dan dunia alam real yang multidimensional.

Itu contoh dua nilai agung yang diberikan sainstek modern kepada kita. Pada sisi lain, kita tahu bahwa agama-agama umumnya selalu menekan, menghambat dan ingin mematikan rasa ingin tahu manusia atas segala misteri dunia dan kehidupan. Kata para juru kampanye agama-agama yang sudah malas belajar, HANYA TUHAN YANG BOLEH TAHU MISTERI-MISTERI ALAM. Bagi manusia, pintu-pintu masuk ke ruang-ruang misteri itu, kata mereka, telah dikunci oleh Tuhan selamanya dengan gembok-gembok yang sangat besar.

Sosok Adam dan Hawa mitologis dalam agama-agama yang berpangkal pada agama Yahudi umumnya dipakai sebagai acuan skriptural tentang larangan keras Tuhan untuk manusia mengikuti dorongan ingin tahu dalam hati dan pikiran mereka tentang segala hal, padahal dorongan kuriositas ini, logisnya, ya diciptakan Tuhan sendiri ketika Tuhan, bukan setan, menciptakan sepasang manusia istimewa ini. Ya, mereka istimewa, karena keduanya tidak punya pusar, tidak pernah jadi bayi, tapi langsung gede, langsung bisa berdiri, berjalan, berlari, dan langsung bisa bicara dan bekerja.

Kita juga tahu, justru agama-agamalah yang memandang kepentingan “dunia gaib” dan kehidupan di “alam lain” lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan kepentingan dunia real masa kini dan kehidupan kita sekarang ini di Bumi dalam tata surya dan dalam jagat raya. Kata para agamawan, keselamatan jiwa anda di sorga setelah anda mati itulah tujuan esensial agama; hal-hal lainnya di muka Bumi hanya sampingan, cuma embel-embel. Bagi saya, sesungguhnya tidak demikian halnya. Saya pernah mengungkapkannya begini:
Salvation of the soul hereafter, without salvation of the body and mind and the globe here and now, is escapism, useless, brutal, and a nightmare.
Nah, jika anda ingin agama anda bisa tetap punya peran penting di masa depan yang dekat, ya jalan utamanya adalah anda harus merumuskan dan membangun ulang agama anda dalam wadah matriks sainstek modern. Jika anda tidak mau, ya willy-nilly, mau tak mau, agama anda akan terseleksi sendiri, naturally, dan secara kultural, culturally, untuk mendiami museum fosil dogma purba. Dan pekerjaan anda ya hanya sebagai para penjaga museum-museum itu. Tentu anda tidak mau, bukan?

Begitulah hal yang saya bisa pahami dan ungkap lewat akal yang bekerja dalam otak saya yang kecil ini. Kalau otak teman-teman lebih besar, kritiklah tulisan pendek ini dengan cerdas.

Jakarta, 4 Feb 2017
ioanes rakhmat

Wednesday, February 1, 2017

Era organisme hibrid manusia-babi sudah di ambang pintu!

Dalam mitologi Yunani, khimera adalah makhluk betina yang sangat menakutkan, bertubuh gabungan dari bagian-bagian tubuh dua atau lebih makhluk lain, hidup di Lykia, Asia Kecil, anak dari pasangan Typhoeus dan Ekhidna, bersaudara dengan Kerberus dan Hydra Lernaen. Kepala dan tubuhnya berbentuk seekor singa yang dari mulutnya dapat menyemburkan api. Pada punggungnya muncul kepala seekor kambing. Ujung ekornya berupa kepala seekor ular. Deskripsi keseluruhan tubuh khimera terdapat dalam karya Hesiod yang berjudul Theogony (abad ketujuh SM).




Tentu anda dapat berimajinasi sendiri untuk bentuk-bentuk khimera yang lain. Misalnya, makhluk berkepala sapi atau banteng dengan tubuh manusia dan berekor leher naga yang dari mulutnya sewaktu-waktu terhembus angin puting beliung. Tentu sosok-sosok hibrid ini adalah monster-monster yang sangat menakutkan dan mengerikan. Kalau anda betulan berjumpa dengan organisme khimera, anda pasti akan lari ngibrit panik dan ketakutan, mungkin juga ngompol. Ha ha. 

Entah ini GOODNEWS atau BADNEWS: Dalam era sains modern sekarang ini, makhluk khimera tidak lagi berada dalam wilayah mitologi, tapi sudah dicoba diciptakan di laboratorium-laboratorium sains-tek di sejumlah negara maju.

Setelah lewat ujicoba dengan hewan-hewan pengerat seperti tikus rumah (mouse) yang digabung dengan tikus got (rat), juga dengan ternak potong seperti sapi, akhirnya para ilmuwan sekarang ini fokus pada khimera MANUSIA-BABI.



Embrio khimera Rat-Mouse (atas) dan Khimera Rat-Mouse usia 1 tahun (bawah)

Ini tentu reaksi anda: Hah? Manusia-babi? Kepala babi dengan tubuh manusia? Atau kepala (dus juga otak) manusia dengan tubuh babi? Etis gak tuh? Merendahkan martabat manusia gak tuh? Tuhan pasti akan mengutuk para ilmuwan jika khimera manusia-babi diciptakan. 

Eeiiitt, nanti dulu. Jangan panik begitu. Juga jangan ngompol. Ini saya jelaskan lebih jauh. 

Bukan khimera Manusia-Babi pada foto di bawah ini yang sedang diupayakan untuk diciptakan para ilmuwan loh!




Khimera manusia-babi sedang dikaji terus dan diujicoba di lab bukan untuk tujuan menciptakan makhluk manusia-babi ragawi betulan yang terlihat berjalan-jalan di dalam sebuah mall atau di taman-taman kota atau di hotel-hotel. Tentu manusia-babi jenis ini akan bisa diciptakan oleh para saintis nanti, jika mereka mau. Tapi saya yakin, bioetika akan mencegah mereka bergerak ke situ. 

Jadi? Ya, sederhana saja, tujuan para ilmuwan adalah menghasilkan organ-organ hibrid manusia-babi dalam tubuh babi yang berisi sekaligus sel-sel individual dan jaringan sel-sel yang lebih kompleks. 

Setelah menginjeksikan stem sel pluripoten manusia (human Pluripotent Stem Cells, hPSC) ke dalam EMBRIO babi lewat teknik yang rumit (yang melibatkan sinar laser untuk membuat lubang sangat kecil pada sel-sel babi sebagai sebuah pintu masuk bagi sel-sel manusia), sel-sel manusia dan sel-sel babi yang tergabung itu kemudian berkembang menjadi jejaring sel-sel yang lebih besar dan kompleks, lalu membentuk organ-organ hibrid manusia-babi. 

Tentu untuk embrio babi terbentuk yang kemudian ke dalamnya diinjeksikan sel-sel manusia, dan sel-sel hibrid manusia-babi ini bertumbuh dan berkembang lalu membentuk organ-organ, proses alamiah dan intervensi teknologi harus dilewati. Garis besarnya kita semua sudah tahu: fertilisasi IVF, zygote, embrio, penempatan embrio ke dalam rahim seekor babi betina, masa fetus atau janin, masa kehamilan hingga kelahiran. 

Ada satu hal yang saya belum tahu pasti, ini: Apakah untuk suatu organ khimera manusia-babi dapat ditransplantasi ke dalam tubuh manusia, organ khimera ini harus sudah dewasa dan matang betul di dalam tubuh seekor khimera manusia-babi, ataukah bisa juga yang ditransplantasi itu organ khimera yang setengah matang dan selanjutnya akan tumbuh menjadi dewasa dan matang betul dengan daya dan kemampuan kerja yang penuh di dalam tubuh manusia penerima transplantasi organ itu sendiri. 

Bagaimanapun juga, jalan untuk menghasilkan organ-organ hibrid manusia-babi masih panjang, tetapi langkah yang diambil sudah betul. Era khimera manusia-babi sudah di ambang pintu. Tak lama lagi, para ilmuwan sudah akan berada di dalam era ini. Di saat itu, transplantasi organ khimera manusia-babi akan menjadi praktek yang rutin. Aspek ekonominya adalah: peternakan khimera manusia-babi akan menjadi satu bidang usaha baru yang akan sangat menguntungkan. 

Organ hibrid apa yang mau diproduksi, bergantung organ apa yang dibutuhkan, misalnya hati, ginjal, paru, atau berbagai kelenjar, pankreas, limpa, empedu, atau bahkan jantung. Dalam hal ini, teknik yang sangat cermat dibutuhkan, yang melibatkan teknik pengeditan DNA yang dinamakan CRISPR-Cas9 yang kini sudah semakin halus dan bervariasi. Lebih bagus jika semua organ internal dalam tubuh khimera manusia-babi dapat ditransplantasi dengan aman ke dalam tubuh manusia. 

Lalu? Ya setelah embrio manusia-babi hibrid itu berkembang dan organ-organ yang dibutuhkan sudah terbentuk besar dan sempurna (atau yang masih setengah matang?), organ-organ hibrid ini diambil, diangkat dan dikeluarkan dari tubuh si babi.  

Lalu? Ya... organ hibrid itu selanjutnya ditransplantasi ke dalam tubuh seorang pasien manusia yang membutuhkan organ tertentu karena organ aslinya (ginjal atau hati atau paru dll) sudah rusak. 

Oh begitu? Jadi, khimera yang dimaksud para ilmuwan itu khimera ORGAN-ORGAN INTERNAL hibrid manusia-babi? 

Yuup, persis! Tujuannya ya menyediakan organ-organ hibrid manusia-babi yang ketika sudah ditransplantasi ke dalam tubuh manusia, organ asing ini TIDAK DITOLAK oleh sistem kekebalan tubuh manusia karena organ tersebut juga terdiri dari sel-sel dan jejaring sel manusia (katakanlah si A) yang dikenali sistem imunitas tubuh manusia (si A). Tentu saja, masih diperlukan sejumlah langkah medik yang akan sepenuhnya mengamankan baik organ hibrid yang sudah ditransplantasi maupun diri si pasien penerima organ hibrid itu. 

Oh begitu. Tapi, nanti dulu. Kenapa hewan babi yang dipilih? Kenapa tidak tikus, marmut, kelinci, kambing, sapi atau hewan mamalia lain? 

Loh di atas kan sudah saya tulis, ujicoba sudah dilakukan banyak kali dalam beberapa dasawarsa terakhir, mulai dengan tikus hingga ke ternak potong. Hewan-hewan pengerat tidak bisa dipakai, karena tubuh mereka kecil. Babi dipilih karena sel-sel, jejaring fisiologis sel-sel yang membentuk organ, anatomi dan ukuran organ-organ babi, semuanya paling dekat atau paling menyerupai dan paling klop dengan organ-organ manusia. Jadi, demi keandalan, efisiensi dan efektivitas keilmuwan, hewan babi yang dipakai. Belum ada pilihan lain. 

Uppss, ada satu pertanyaan lagi. Kenapa organ yang ditransplantasi tidak diambil dari sesama manusia saja? Kenapa harus dari babi? 

Nah, itulah soalnya. Pasien yang menunggu transplantasi organ di seluruh dunia sangat banyak dan mereka harus antri dan menunggu berbulan-bulan bahkan bisa lebih dari satu tahun atau malah keburu mati duluan sebelum donor organ insani yang pas didapat. Selain itu, biaya transplantasi organ insani dari manusia ke manusia sangat tinggi. Nah, setelah banyak pertimbangan, para ilmuwan memutuskan untuk memakai hewan babi untuk memproduksi organ-organ hibrid manusia-babi. Prosesnya dimulai sangat dini, pada kurun embrio. Langkah ini diambil untuk mengatasi persoalan etis yang akan muncul jika yang dipakai bukan embrio, tetapi bayi babi yang baru lahir, misalnya. Bayi babi juga harus kena perlindungan bioetis. 

Selain itu, para ilmuwan juga sangat mewaspadai kemungkinan sel-sel manusia yang digabung dengan sel-sel embrionik babi akan juga menyusup ke sel-sel babi yang akan membentuk otak hibrid manusia-babi. Ini bisa terjadi sewaktu-waktu. Jika terjadi, anda akan hidup bersama babi yang memiliki otak cerdas manusia, yang, bayangkanlah, bisa memahami matematika, fisika bahkan teknologi kecerdasan buatan, dan aktif di medsos. Ngeri ya? Ya. Tapi para ilmuwan tahu, ke arah mana mereka harus bergerak maju. Don't worry, dear

Eh, maaf, maaf ya, masih ada satu pertanyaan lagi. Apa boleh orang yang menganut agama-agama yang mengharamkan hewan babi memanfaatkan organ khimera manusia-babi untuk ditransplantasi ke dalam tubuh mereka

Waah, maaf juga, saya tidak bisa mewakili mereka untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka bebas menentukan sikap sendiri. Yang saya uraikan dengan sederhana di atas, dalam bahasa yang non-teknis, adalah sains-tek, bukan doktrin keagamaan apapun. 

Saya selalu mendisiplinkan diri untuk tidak mencampuraduk ilmu pengetahuan dengan agama-agama. Pencampuradukan ini hanya menimbulkan kebodohan dan kekacauan kognitif. 

Oh ya, jika anda mau membaca reportase populer tentang penelitian khimera manusia-babi, ini saya berikan dua sumber di sini dan di sini.  

Jika anda membutuhkan uraian teknis akademik tentang khimera manusia-babi, uraiannya tersedia di jurnal CELL vol. 168, Issue 3, pp. 473-486. Edisi 15, Januari 26, 2017. Teks penuhnya tersedia di sini

Begitu saja ya. 

Silakan share tanpa perlu minta izin dulu. Terima kasih. 

Selamat bermimpi jumpa khimera! 
Khimera yang jelita atau tampan, tentunya. 

Salam, 
ioanes rakhmat 

IMLEK 2017|2568 
28 Januari 2017