Saturday, March 26, 2016

Ferdinand Magellan bikin geger gereja di zamannya!

“Gereja berkata bahwa Bumi ceper, tetapi saya tahu bahwa Bumi bulat, sebab saya sudah melihat bayangannya pada Bulan, dan saya lebih percaya kepada sebuah bayangan ketimbang kepada gereja.”

“The church says the earth is flat, but I know that it is round, for I have seen the shadow on the moon, and I have more faith in a shadow than in the church.”

Di atas adalah sebuah pernyataan penjelajah laut terkenal Ferdinand Magellan tentang Bumi yang membuat geger gereja pada zamannya (abad 16 M). Kemudian, dia membuktikan sendiri bahwa pernyataannya benar, dan gereja salah! Ungkapan di luar gereja tidak ada kebenaran (extra ecclesiam nulla veritas) pastilah sebuah dongeng! Ya, dongeng-dongeng sangat kita sukai ketika kita masih kanak-kanak, tentu saja.


Tidak seperti pada foto planet Bumi di atas, seandainya planet ini datar, maka seluruh darat dan lelautan di muka Bumi akan tampak pada foto ini yang diambil dari angkasa luar! Nyatanya tokh tidak demikian!

Ferdinand Magellan dilahirkan di Sabrosa, Portugal utara (tahun 1480), tetapi kemudian mendapatkan kewarganegaraan Spanyol karena mau bekerja di bawah perintah Raja Charles I dari Spanyol untuk menyelidiki suatu rute pelayaran ke arah barat (Hindia Timur) menuju “kepulauan rempah-rempah” (kepulauan Maluku di Indonesia sekarang).

Ekspedisi Magellan (yang dikenal sebagai Ekspedisi Kastilian) yang berlangsung dari 1519 sampai 1522 adalah ekspedisi pertama yang mengarungi Samudera Atlantik masuk ke Samudera Pasifik (yang waktu itu dinamakan “laut damai” oleh Magellan karena airnya yang tenang) melewati Selat Magellan, lalu menyeberangi untuk pertama kalinya Samudera Pasifik.

Ekspedisi ini adalah ekspedisi pertama lewat laut yang berhasil mengelilingi bola Bumi (pelayaran sirkumnavigasi), meskipun Magellan sendiri tidak sempat menyelesaikan seluruh perjalanan laut ini karena dia terbunuh dalam Perang Maktan di Filipina (27 April 1521). Namun, Magellan dalam suatu pelayaran sebelumnya ke arah timur berhasil sampai ke Semenanjung Melayu, sehingga dialah penjelajah laut pertama yang berhasil melintasi semua garis bujur bola bumi. 

Catat, pembuktian pertama bahwa Bumi ini bulat justru dilangsungkan di muka Bumi sendiri, lewat pelayaran mengelilingi bola Bumi! Kini, di era angkasa luar, kita sudah punya banyak sekali potret bola Bumi, sudah punya banyak sekali video tentang Bumi yang dibuat dari angkasa luar, juga dalam citra 3 dimensi. Bukan hanya itu: kini kita pun punya potret bahkan peta permukaan planet-planet lain dalam sistem Matahari kita sendiri (ada yang sudah lengkap seperti peta planet Mars, dan ada yang belum lengkap), yang semuanya berbentuk bola (tentu bukan bola sempurna)./1/


Peta sirkumnavigasi Magellan

Kembali ke ekspedisi Magellan. Dari 237 orang yang berlayar dengan menggunakan 5 kapal laut, hanya 18 yang berhasil menyelesaikan sirkumnavigasi dan balik kembali ke Spanyol pada 1522 dipimpin navigator Basque yang bernama Juan Sebastián Elcano, yang mengambil alih komando ekspedisi setelah kematian Magellan. Tujuh belas orang tiba di Spanyol belakangan: 12 orang ditangkap oleh Portugis di Kape Verde beberapa minggu sebelumnya dan di antara kurun 1525 dan 1527, dan lima orang berhasil selamat di kapal Trinidad.

Ferdinand Magellan pada masanya membuktikan kepada dunia dan kepada semua yang menolak gagasannya bahwa orang dapat berlayar mengelilingi Bumi karena planet biru ini bulat seperti bola. Pelayarannya memberikan bukti positif pertama bagi sains bahwa Bumi ini bulat.

Para pecinta Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, kerap berkeras bahwa orang pada zaman Perjanjian Lama ditulis sudah berpandangan bahwa Bumi ini bulat seperti bola. Para pecinta Alkitab ini mau menjadikan semua penulis Alkitab manusia modern, padahal mereka, pada sisi lain, adalah para konservatif, kalau tidak mau disebut fundamentalis

Sebagai sebuah teks bukti, mereka biasanya mengacu ke Yesaya 40:22, yang dalam Alkitab (PL) Terjemahan Baru LAI memuat frasa “bulatan bumi”. Kata Ibrani dalam teks Yesaya ini, yang diterjemahkan dengan “bulatan”, adalah חוּג (chug), dan kata ini tidak tepat jika diterjemahkan dengan “bulatan”, melainkan harus “disk” atau “cakram” atau “piringan”. Bandingkan kata Ibrani yang sama dalam Terjemahan Baru LAI dalam Ayub 22:14 (“lingkaran langit”) dan Amsal 8:27 (“kaki langit”). Yang dimaksud dengan chug dalam Yesaya 40:22 adalah suatu bentuk lingkaran cakram atau disk yang tipis, bukan suatu bentuk bola padat.

Juga harus diingat bahwa ketika orang yang hidup pada zaman Alkitab ditulis memandang Bulan dan Matahari di angkasa, mereka belum mampu berpikir bahwa kedua benda langit ini berbentuk bola, sebab yang langsung tampak kelihatan oleh mereka (dan juga oleh kita sekarang) dari Bumi adalah baik Bulan maupun Matahari berbentuk sebagai sebuah piringan atau sebuah disk atau sebuah cakram tipis yang bercahaya, bukan sebuah bola bulat padat penuh yang gemerlap. Dulu, saya pernah bertanya ke oma saya, “Oma, bulan itu apa sih?” Sang oma menjawab begitu sederhana, Kamu kan bisa lihat sendiri. Bulan itu sebuah tampah yang terang-benderang! 

Selain itu, kita perlu sadar, bahwa semua orang di zaman pramodern dan prailmiah, semua orang di zaman kuno, termasuk para penulis Alkitab, juga belum mampu berpikir bahwa kalau Bumi berbentuk bulat seperti bola, air laut di belahan belakang atau di belahan bawah bola Bumi tidak akan tumpah atau jatuh ke bawah. Kita yang hidup pada zaman modern saja, yang sudah mengenal forsa gravitasi Bumi, mampu berpikir bahwa air laut di belahan bawah bumi tidak akan tumpah.

Begitu juga, kalaupun Aristoteles melihat bayangan Bumi pada Bulan ketika terjadi gerhana, mungkin sekali dia tidak membayangkan Bumi ini berbentuk bola, tetapi, paling jauh, berbentuk sebuah piringan atau sebuah lingkaran cakram atau disk tipis.

Beberapa abad sebelum Masehi, astrologi sudah berkembang luas di Babilonia, dan sistem penangggalan yang membagi satu minggu dalam tujuh hari sudah dikenal, dan sistim penanggalan inilah yang diambil alih oleh para penulis Kejadian 1:1-2:4a (Mazhab Imamat/Priester) ketika mereka mengasalkan sistem penanggalan ini pada penciptaan yang Allah mereka telah lakukan selama enam hari dengan hari ketujuh sebagai hari istirahat buat Tuhan Allah ini. Tidak jelas juga apakah dalam astrologi yang sudah berkembang ini, orang Babilonia sudah mampu memandang atau mengimajinasikan Bumi, Bulan dan Matahari serta semua planet lain yang sudah dikenal pada masa itu berbentuk bulat seperti bola.

Begitu juga, kalaupun Aristoteles melihat bayangan Bumi pada Bulan ketika terjadi gerhana, mungkin sekali dia tidak membayangkan Bumi ini berbentuk bola, tetapi, paling jauh, berbentuk sebuah piring atau sebuah lingkaran cakram atau disk tipis. Sebelum Aristoteles, seorang filsuf besar yang bernama Sokrates pada abad 4 SM sudah berpendapat bahwa Bulan itu terdiri atas bebatuan dan karang, sementara Ortodoksi Athena berpandangan bahwa Bulan adalah Dewa yang harus disembah. Kita tahu, pada 399 SM Sokrates menerima penghukuman mati dengan meminum racun di sebuah penjara negara di Athena dengan salah satu tuduhannya adalah bahwa dia mengajarkan ajaran-ajaran baru yang bertentangan dengan Ortodoksi Athena.

Bahkan pada abad pertama M, penulis teks Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru masih berpikir bahwa Bumi ini memiliki “ujung” sehingga ditulislah olehnya sebuah perintah (yang ditempatkan pada mulut Yesus) untuk mengabarkan Injil “sampai ke ujung Bumi” (KPR 1:8). Jika Bumi sudah dipandang berbentuk bola pada abad 1 M, kok masih disebut ada ujungnya? Di manakah ujung bola Bumi? Jangan memaksakan pendapat anda bahwa si penulis KPR memaknai frasa ujung Bumi sebagai sebuah kiasan. Pun pada masa Ferdinand Magellan hidup (abad 15-16), Gereja Katolik Roma masih berpandangan bahwa Bumi ini ceper, sebuah pandangan yang justru dilawan olehnya. Ferdinand Magellan jelas adalah sebuah bukti bahwa gereja hingga abad ke-16 masih salah! 

Seandainya pun pada beberapa abad SM sudah ada suatu keyakinan (entah keyakinan siapa) bahwa Bumi, Bulan dan Matahari berbentuk bulat seperti bola (tentu bukan bentuk bola yang sempurna), keyakinan ini tentu baru sebagai sebuah hipotesis yang belum terbukti secara empiris. Belum menjadi fakta sains.  

Jadi, berterimakasihlah kepada Magellan, karena dialah orang pertama yang, lewat penjelajahan laut, membuktikan bahwa Bumi ini berbentuk sebuah bola, yang di permukaannya darat dan samudera tertata dalam suatu keseimbangan alamiah (yang tidak selalu stabil) karena forsa-forsa alam yang bekerja, antara lain forsa gravitasi.

Jika di abad XVI masih ada orang yang menyangkali fakta bahwa Bumi itu bulat seperti bola, hal itu bisa dimaklumi. Tapi jika di abad XXI masih ada orang yang semacam itu (pasti karena alasan ajaran kitab suci), jalan keluarnya saya kira hanya satu, yakni: dia musti buktikan sendiri bahwa Bumi ini bulat. 

Caranya ya gampang. Suruh orang itu berjalan kaki lurus ke depan, tanpa berubah atau berbalik arah, dari kota Jakarta (atau kota tempat tinggalnya), terus saja berjalan kaki dengan tekun, dan dengan menerobos semua rintangan. Maka setelah mungkin 20 abad lamanya (dan dia tetap muda terus), dia pasti akan tiba di kota yang sama yang semula dia tinggalkan (seandainya kota ini dan semua penduduknya juga tidak berubah sedikitpun). Nah, jika ini dia sudah lakukan, dia pasti akan baru percaya bahwa Bumi ini bulat karena dia sudah membuktikannya sendiri lewat eksperimennya sendiri yang luar biasa hebat! Pembuktian lewat sebuah eksperimen adalah sebuah metode ilmiah. 

Jika dia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri bahwa dia bisa melakukan eksperimen pembuktian yang spektakuler ini, maka pertanyaaan yang timbul adalah: Mengapa dia harus percaya pada sesuatu yang sudah tidak relevan lagi, yang ada di luar dirinya?


Jakarta, 27 Agustus 2010
by ioanes rakhmat


/1/ Minimal ada 10 cara untuk membuktikan bahwa Bumi ini bulat, sebagaimana dengan jelas dan sederhana dibeberkan oleh Moriel Schottlender, Top 10 Ways to Know the Earth Is Not Flat, SmarterThanThat, 19 August 2008, pada http://www.smarterthanthat.com/astronomy/top-10-ways-to-know-the-earth-is-not-flat/.

Saturday, March 19, 2016

TAK WAJIB PILIH!

Sang Sunyi!

Kata Mr. A kepada banyak orang:

Saya Kristen yang setia. Saya tak wajib pilih Ahok untuk jadi gubernur DKI dalam Pilkada 2017 meskipun beliau Kristen. Namun saya tetap mau memilih beliau lantaran prestasi kerjanya yang cemerlang dan pengabdiannya kepada rakyat, sudah dibuktikannya dengan nyata!

Reaksi saya: Ya Mr. A bersikap sangat benar! Kalau agama saya jadikan patokan pemilihan dan dukungan, waktu Pilpres kemarin ya pasti saya tak akan pilih Pak Jokowi karena beliau Muslim. Mustinya saya golput saja waktu Pilpres lalu itu, berhubung tak ada capres yang Kristen.

Tapi saya tak pilih jadi golput. Saya gak hiraukan apa agama Pak Jokowi. Saya memilih beliau karena saya melihat angin perubahan akan berhembus di NKRI jika beliau jadi presiden. Saya percaya, dari semula berhembus semilir sepoi-sepoi, Pak Jokowi selanjutnya akan bertahap menghembuskan angin perubahan yang jauh lebih kuat dan berdampak besar.

Begitulah cara berpikir saya waktu itu. Tidak primordialis. Tidak SARA-is. Saya berharap Pak Jokowi yang telah menang Pilpres itu (yang telah berlangsung sangat keras!) selanjutnya akan dapat dengan tenang dan mantap memimpin pembangunan bangsa dan NKRI. Beliau Muslim (nusantara). Karena itu saya mengira (bahkan meyakini) bahwa beliau akan diterima semua rakyat NKRI seusai Pilpres.

Eeeeh.... ternyata, meskipun beliau Presiden RI yang beragama Islam, beliau hingga kini masih saja sering dijadikan bulan-bulanan oleh sesama Muslim, bahkan masih saja sering difitnah dan dibenci terus. Muslim menyerang Muslim! Duuuuh pilunya hati saya!

Mau apa sih sebenarnya sebagian dari rakyat RI ini, yang setiap hari hidup dalam kebencian dan kemarahan? Apakah enak hidup seperti itu?

Jika anda hidup (sebentar saja, paling panjang ya 70 atau 80 tahun, itupun kalau sehat) terus-menerus dalam kebencian dan kemarahan, pasti ada yang tidak beres dalam sel-sel saraf otak anda. Kondisi ini akan membuat anda rentan terhadap serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dementia, diabetes, serangan gagal ginjal, dan penuaan dini. Anda mau hidup dalam kondisi azab seperti ini? Kalau anda sudah punya banyak anak, tak kasihankah anda pada mereka yang telah lahir tanpa mereka minta?

Lalu, kapan kita akan bisa mengirim para astronot kita sendiri dengan wahana antariksa buatan kita sendiri ke planet-planet lain? Kapan?

India yang konon berada di bawah Indonesia, tahukah anda, telah berhasil meluncurkan sebuah wahana antariksa tanpa awak ke planet Mars dan kini sudah mengorbit planet ini untuk mengeksplorasinya demi manfaat besar buat negara dan bangsa India sendiri di masa depan.

Apa prestasi bangsa Indonesia selain hanya ribut soal SARA terus tak habis-habisnya? Sadarkah anda bahwa yang sedang menjalankan politik adudomba (devide et impera) sekarang ini bukan penjajah Belanda, tetapi sejumlah kalangan WNI terhadap sesama WNI?

Tahukah anda apa tujuan kalangan WNI pengadudomba itu selain untuk mendapatkan kekuasaan, kedudukan tingggi, harta, uang dan kekayaan berlimpah untuk diri mereka sendiri dengan tamak, sementara anda dijadikan hanya sebagai bidak-bidak catur dan tumbal mereka?

Maka menangislah Tuhan Allah dengan pilu yang dalam!

Sang Sunyi mahasunyi meratap sangat dalam. Yang terdengar hanya kesunyian.

Jakarta, 19 Maret 2016
ioanes rakhmat

Tuesday, March 15, 2016

Wahai Kristen, jangan kalian ikuti langkah HTI atau FPI!

Sila pertama Pancasila RI: Ketuhanan YME. Jelas, ketuhanan bukan agama apapun. Ketuhanan adalah diri atau zat Tuhan sendiri. Atau jatidiri Tuhan sendiri. Apa itu? Definisi paling padat dan ringkas adalah: ketuhanan itu cinta. Ketuhanan YME dus berarti cinta yang unik, cinta yang tiada taranya; cinta dari segala cinta. NKRI berdiri pada cinta. Itulah filsafat paling mendasar negara dan bangsa Indonesia. (Ioanes Rakhmat)


Saya menemukan ada sejumlah teman di dua akun FB saya yang memahami Pilkada DKI 2017 sebagai suatu ajang politik untuk memenangkan agama Kristen berhubung Pak Ahok beragama Kristen. Saya tegaskan, ITU SALAH BESAR!  

Lebih ekstrim lagi, ada juga beberapa teman, yang mengaku para pengikut opa Stephen Tong dari Gereja Reformed Injili Indonesia, menyatakan bahwa langkah-langkah politis Pak Ahok diarahkan oleh buku-buku Yohannes Kalvin (teolog Protestan kelahiran Prancis) yang hidup di Eropa abad XVI (1509-1564) antara lain di kota Jenewa (dia sering pindah kota, sebagai seorang pelarian). Orang yang menelaah ajaran-ajaran Kalvin (atau Kalvinisme) pasti tahu bahwa Kalvin bercita-cita membangun teokrasi Kalvinis di Jenewa tapi akhirnya gagal, lalu diujicoba lagi. 


Gubernur Basuki milik umat semua agama!

Saya mau ingatkan, jika kalian yang Kristen berpikir dan melangkah seperti yang saya gambarkan dalam dua paragraf di atas, kalian pada dasarnya tidak berbeda dari HTI dan FPI dll yang bercita-cita untuk membangun teokrasi Islami atau yang disebut Khilafah di NKRI. Dalam NKRI yang demokratis, bukan kedaulatan Allah, tetapi kedaulatan rakyat itulah yang dijalankan pemerintah.

Poin pentingnya ini: teokrasi apapun pada dasarnya berbenturan tajam dengan demokrasi! Satu contoh saja: Atas kehendak dan wewenang Yohannes Kalvin yang membangun teokrasi Kalvinis di kota Jenewa, maka Michael Servetus, lantaran dia mengkritik dengan tajam seluruh isi buku Kalvin (yang berjudul Institutio), dihukum mati dengan membakarnya hidup-hidup pada 27 Oktober 1553 di pinggiran kota Jenewa. Yohannes Kalvin sangat anti-demokrasi! Bagi Kalvin, bukan rakyat, tetapi hukum-hukum Allah versinya yang berdaulat mutlak!

Pak Ahok pasti tidak bodoh. Tidak seperti yang kalian pikirkan. Tentu iman Kristen Pak Ahok (aliran apapun) dapat menjadi sumber pikiran, isi hati dan tindakannya untuk dia jujur, adil, transparan dan membela rakyat kecil.

Nah dalam situasi ini tentu akan ada para pemuka gereja-gereja oportunis yang akan mengundang Pak Ahok ke gereja-gereja mereka untuk ceramah dan bangun hubungan, lalu mereka berfoto bersama. Sesudah itu mereka akan mengklaim dengan bangga: Lihat, kamilah yang telah menghasilkan sosok berkarakter hebat yang bernama Gubernur Basuki!

Tetapi, penting untuk dipahami bahwa sebagai seorang pejabat NKRI, Pak Ahok sebagai Gubernur DKI hanya tunduk pada Konstitusi, UUD RI, Pancasila, dan mendapat mandat untuk memerintah dari RAKYAT atau PENDUDUK DKI JAYA. Dalam NKRI yang demokratis, bukan kedaulatan Allah, tetapi kedaulatan rakyat itulah yang dijalankan pemerintah. Dan pada dasarnya, demokrasi itu, saya ulangi sekali lagi, bertentangan tajam dengan teokrasi apapun.

Saya mau mengutip sebuah pernyataan penting Pak Ahok yang diucapkannya dalam acara Kanisius Education Fair di SMA Kolese Kanisius, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 21 September 2013. Beliau menegaskan bahwa
Dalam kehidupan bernegara, Konstitusi harus tetap dikedepankan ketimbang kitab suci. Menaati Konstitusi adalah adalah cara paling tepat dalam kehidupan bangsa. Jika kitab suci yang dikedepankan dibandingkan Konstitusi, maka sulit untuk menyatukan satu sama lain. 
Nah Pilkada 2017 di DKI mendatang diadakan untuk memilih gubernur dan wakil gubernur DKI Jaya yang memegang teguh prinsip, semangat dan posisi yang sudah saya tulis pada paragraf persis di atas ini.

 Siapa bilang Pak Ahok keras dan kasar? Tanyalah kepada anak-anak itu.

Ingat, penduduk DKI mencari dan mau mendukung cagub dan cawagub yang berkwalitas prima (dalam etika, akhlak, pikiran, visi, nurani, karya dan tindakan), apapun agama dan etnisitas mereka.

Teman-teman Muslim telah menegaskan bahwa mereka mau mendukung dan memilih Pak Ahok bukan karena agamanya, tapi karena beliau amanah, maksudnya: karena Pak Ahok sudah terbukti memenuhi kehendak dan kepercayaan rakyat yang diberikan mereka kepadanya. Harap hal penting ini anda ingat terus! 

Juga jangan pernah lupa bahwa NKRI merdeka bukan sebagai sebuah negara agama, dan kemerdekaannya dicapai lewat pengorbanan dan perjuangan gigih semua golongan ideologis dan keagamaan.

Salam,

Jakarta, 15 Maret 2016
ioanes rakhmat