Sunday, February 15, 2015

Mana yang lebih mungkin bunuh diri, ateis atau teis?

Mari, kali ini kita tinggalkan data statistik. Kita telaah saja kemungkinan bunuh diri dalam kehidupan normal sehari-hari di antara kalangan ateis dan kalangan teis dari sudut pandang worldview masing-masing. Ini namanya telaah ideologi, bukan telaah statistik./1/ Fokusnya kehidupan sehari-hari di antara orang teis dan orang ateis, bukan kasus-kasus ekstrim terorisme yang dilakukan baik atas nama teisme maupun atas nama ateisme.

Bagi orang ateis, organisme manusia itu ibarat sebuah mesin diesel saja! Jika sudah tua lalu rusak, tinggal dibuang saja, tanpa makna transendental! 

Orang beragama umumnya melihat hidup ini bukan sekadar hidupnya sebuah mesin biologis yang dinamakan manusia, tetapi hidupnya suatu organisme mulia ciptaan Allah yang punya makna, maksud dan tujuan besar―makna, maksud dan tujuan yang juga transendental, bukan cuma natural. Hidup bagi mereka tidak hanya di Bumi ini sekarang, tetapi juga nanti di alam lain yang abadi, alam transenden, bersama Tuhan Allah mereka. Sejalan dengan makna, maksud dan tujuan kehidupan mereka yang mulia dan transendental ini, mereka juga harus berbuat baik sebanyak-banyaknya sementara masih hidup dalam dunia ini, berbuat baik terhadap diri mereka sendiri dan terhadap sesama mereka, bahkan terhadap seisi dunia ini. Mereka melihat diri sebagai wakil-wakil Allah yang tangguh untuk merawat dunia ini, sebagai para penatalayan ilahi. Pahala besar sedang menunggu mereka di akhirat. Mereka, dengan demikian, memandang tindakan bunuh diri adalah dosa, karena melawan Allah yang telah memberi kehidupan dan maknanya yang agung, dan melawan kodrat mereka sendiri sebagai insan-insan ciptaan Allah yang mulia dan sebagai wakil-wakil Tuhan di muka Bumi. Bagi mereka, bunuh diri bukanlah pahala, tetapi kutuk dan laknat.