Tuesday, February 10, 2015

Anda akan stres dan depresi jika. . . .

Saya menemukan di banyak media sosial ateis, baik yang di Facebook maupun yang di Twitter, orang-orang yang mengaku ateis nyaris setiap hari memaki-maki dan menjelek-jelekkan agama-agama dan juga orang beragama, dan akhirnya juga mengekspresikan kebencian dan kemarahan mereka tanpa akhir kepada Tuhan yang sebetulnya mereka percaya tidak ada. Mereka jelas sekali adalah para ateis fanatik buta, para bigot yang mengaku intelektual. Saya memahami fakta ini sebagai sebuah fenomena yang kompleks. Tidak sederhana. Keadaannya makin kompleks karena orang ateis sendiri umumnya dengan berang menyangkali fakta ini. Tetapi saya mau menyoroti satu aspeknya saja pada kesempatan ini, yakni dampak psikologis kemarahan, kegeraman, kebencian dan rasa sakit hati mereka kepada dunia agama-agama bagi diri mereka sendiri. 

Sebelum ke situ, saya ingin klarifikasi dulu di mana posisi saya. Saya sama sekali tidak mempersoalkan jika seseorang mau menjadi ateis, apapun motif dan latarbelakangnya. Malah saya ingin menegaskan bahwa sama seperti teisme dapat menjadikan orang baik atau malah jahat, begitu juga halnya dengan ateisme: ateisme bisa menjadikan orang baik atau malah jahat. Menjadi baik dan bermoral, tidak bergantung absolut pada ihwal beragama atau ihwal tidak beragama, tetapi pada komitmen penuh setiap individu untuk menjadi hanya orang baik. Tanpa komitmen yang sepenuhnya ini, teisme dan ateisme tidak akan membuat siapapun menjadi baik, bajik dan bermoral. Ateisme dan teisme bukanlah magic, tidak bisa bekerja dengan mantra simsalabim!