Friday, December 25, 2015

NATAL BAGI SANG BAYI



Sang bayi tersenyum ceria cerah
Anteng di pelukan Santa Klaus
Menanti kado Natal mahal meriah
Teguklah jus bawang hilangkan haus


Jutaan kanak-kanak bertubuh ceking
Busung lapar mata cekung dan juling
Kurang makan dan kurang gizi
Kaki dan lengan cuma sebesar lidi


Natal menjadi pesta extravaganza
Pengangon padang Efrata tak datang
Polisi ramai menjaga kawasan gereja
Malaikat pelindung tak lagi bertandang 


Kata sang pendeta gereja di hari Natal
"Damai telah datang ke dalam dunia!"
Kata-kata klise yang sudah dihapal
Sang bayi terkekeh dibuai sang Santa


Natal konon membebaskan sang bayi
Dari semua bentuk ketakutan jiwa
Air mata tak akan berlinang lagi
Karena Natal bergelimang tawa


Wahai kawan, sayang seribu kali sayang
Sang penyair terbangun dari mimpi
Sang bayi tetangga menangis kejang
Sudah tiga hari tak minum susu sapi


Sang ibu memanggil nama Yesus
Cepatlah datang wahai sang penebus
Jangan sampai saat ini terhembus
Napas terakhir sang bayi kudus  


Jakarta, 25 Desember 2015
ioanes rakhmat

Tuesday, December 15, 2015

Multikulturalisme di Kanada sebagai bom waktu Islam radikal


Artikel analitis investigatif tentang multikulturalisme di Kanada yang link-nya saya berikan di bawah ini merisaukan hati saya kendatipun saya bukan seorang penduduk Kanada. 

Betapa tidak! Dalam negara yang pernah terkenal karena multikulturalismenya ini, gerakan Islam radikal di sana dinilai sedang terus menjalar bagai kanker. Saya mengibaratkannya sebagai bom waktu ekstrimisme religius yang akan segera meledak dengan dahsyat. 

PM Kanada yang baru, Justin Trudeau, 43, sedang hangat dibicarakan sebagai seorang multikulturalis sejati yang baru saja dengan sangat hangat menerima keluarga Muslim pengungsi pertama yang datang dari Suriah. Mulai sekarang hingga Maret 2016, Kanada berencana akan menampung 25.000 pengungsi Suriah.

Artikel yang saya telah sebut di atas membeberkan bahwa sikap dan tindakan PM Trudeau yang sangat simpatik terhadap para Muslim pengungsi dari Suriah dan terhadap Muslim di Kanada adalah bagian dari politik balas jasanya atas kemenangan politiknya. Duuuhh.
Saya masih berharap, kenegarawanan Trudeau nantinya tetap unggul sehingga dia berhasil membuang pendekatan politik transaksionalnya, politik dagang untung rugi.  

Kini para Muslim sekular, moderat dan liberal Kanada sedang bangkit dan bersuara mengingatkan pemerintah Kanada bahwa kanker jihadis Islam radikal sedang menjalar di sana. Negara Arab Saudi ditunjuk sebagai penggerak dan pendana gerakan-gerakan Islamis radikal di sana yang menolak untuk setia kepada negara Kanada.  

Semoga Kanada mampu bermawasdiri dan mampu juga menjalankan operasi intelejen dan aksi preventif anti-terorisme, tidak tertidur lelap dalam selimut tebal multikulturalisme mereka yang dipersonifikasi dalam diri Justin Trudeau sekarang ini.

Tindakan belas kasih kemanusiaan terhadap semua pengungsi harus dijaga untuk tidak disusupi dan dikhianati oleh para teroris yang membenci apa yang dunia modern agungkan sebagai kemanusiaan dan multikulturalisme. Tetapi dalam realitas kehidupan ini di mana-mana, sejak dulu, selalu ada risiko ini: kebaikan dibalas dengan kejahatan. Air susu dibalas dengan air tuba. Bagaimana pun juga, hukum evolusi tetap bekerja: siapapun yang tidak bisa adaptif dengan dunia modern, pada akhirnya akan lenyap. Tetapi, hukum alamiah evolusi saja tidak cukup. Hukum positif domestik dan internasional buatan manusia harus ditegakkan sekokoh-kokohnya dan diberlakukan sepenuh-penuhnya demi menangkal dan mengalahkan aksi-aksi teror yang dilakukan atas nama agama atau ideologi apapun. 

 
Ini link ke artikel yang pasti akan merisaukan anda juga http://www.thedailybeast.com/articles/2015/12/14/canada-s-growing-jihadist-cancer.html.

Jakarta, 14.12.15