Thursday, January 22, 2015

IMAGINE (John Lennon and Yoko Ono, May 1971)

John Lennon dan Yoko Ono
   
Acapkali saya mendengarkan kembali madah hebat ini, dan memandang wajah John Lennon pada monitor komputer, hati saya selalu dipenuhi keharuan yang dalam sekaligus rasa pedih yang menggigit. Entah kenapa. Mungkin karena saya melihat dan saya tahu, apa yang didambakan John Lennon dalam lagu ini memang masih jauh dari kenyataan dunia masa kini.

Saya ingat betul, Imagine John Lennon pertama kali saya kupas waktu saya duduk di semester tiga di STT Jakarta, Indonesia, akhir tahun delapanpuluhan, pada kesempatan latihan berkhotbah dari mimbar di hadapan banyak mahasiswa dan para dosen yang hadir di kapel sekolah ini. Pada waktu itu, saya memperdengarkan dulu lagu ini lewat sebuah tape recorder, lalu membentangkan visi-visi John Lennon dan memperlihatkannya sebagai visi-visi agung yang sejalan dengan visi-visi kekristenan yang setidaknya saya hayati. Selesai acara ibadah di kapel ini, Pak Dr. Fridolin Ukur (alm.), dosen sejarah gereja, mendatangi saya dan berkata, “Humanisme adalah filosofi madah Imagine!” Sampai sekarang, ucapan beliau ini tetap lengket di benak saya. Kadangkala, saya merindukan beliau lagi, juga kini.

Oleh Rolling Stone, madah Imagine disebut sebagai “hadiah terbesar untuk dunia.” Pada tahun 2006, ex-president USA, Jimmy Carter, menyatakan bahwa “di banyak negara di seluruh dunia... anda mendengar madah John Lennon Imagine digunakan setara dengan madah-madah kebangsaan. Jadi, John Lennon memang memberi dampak besar pada negara-negara yang sedang berkembang di dunia ini.”/1/

Banyak orang beragama, saya tahu, tidak suka dan sinis terhadap Imagine John Lennon. Tidak sedikit dari mereka malah takut menyebut madah ini. Padahal, perdamaian dunia dan persaudaraan semesta (dll) yang menjadi visi John Lennon dalam lagu ini, bukankah mustinya juga menjadi visi umat-umat beragama? Jenis agama apakah dan siapa penciptanya jika kepada para penganutnya diajarkan dan diperintahkan untuk membunuh sesama manusia, terus mengobarkan perang, dan mendorong permusuhan dan sengketa berdarah antarmanusia tak habis-habisnya?

John Lennon membayangkan suatu dunia di mana agama-agama tidak lagi memisah-misah dan memecahbelah umat manusia. Inilah yang dia maksudkan ketika dia menyatakan “And no religion too”. Dalam kekristenan visi ini disebut sebagai visi ekumenis: bukan agama-agama, tetapi fakta bahwa kita mendiami satu Bumi yang sama, itulah yang harus mempersatukan kita! Tapi herannya orang Kristen umumnya juga sinis pada Imagine John Lennon. Saya suka membayangkan, seandainya Yesus masih ada sekarang ini, dia pasti akan menjadi seorang sahabat kental John Lennon. Saya tidak bisa membayangkan agama apapun yang diklaim sebagai agama cinta akan menolak humanisme John Lennon, dan juga pacifisme (ajakan dan ajaran untuk menegakkan perdamaian) yang diyakininya.

John Lennon bukanlah seniman pertama yang menghendaki sorga dan neraka tidak ada, “No Heaven” dan “No Hell”. Menurut sebuah kisah, seorang sufi perempuan pertama, Rabiah Al-Adawiyyah (717-801 M), suka berlari-lari di jalan-jalan kota Basrah sambil di satu tangannya menjinjing seember air dan di satu tangannya yang lain menggenggam sebuah obor bernyala. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukannya, Rabiah menjawab, “Aku mau menyiram api neraka sampai padam, dan membakar sorga (sampai jadi debu), karena baik api neraka maupun pahala sorga menghalangi jalan orang ke Tuhan. Aku tidak ingin beribadah karena takut ancaman api neraka atau karena teriming-imingi hadiah sorga. Bagiku, orang beribadah kepada Tuhan haruslah hanya karena cinta pada Tuhan.”/2/ 

Ya, jauh sebelum John Lennon, sufi terkenal Rabiah sudah memperkenalkan sebuah konsep ibadah tanpa ancaman neraka dan tanpa pahala sorga. Sebuah agama tanpa neraka dan tanpa sorga, sebuah agama cinta. Kita tahu, konsep tentang sorga dan tentang neraka berandil besar dalam menciptakan ketegangan-ketegangan antaragama, karena masing-masing agama menawarkan hadiah sorga masing-masing dan mengancamkan api neraka masing-masing demi mendapatkan para pengikut baru di tengah lahan persaingan yang makin sempit. John Lennon dengan tepat telah melihat kondisi ini, dan menolaknya.

Youtube http://youtu.be/DVg2EJvvlF8
by John Lennon


Youtube http://youtu.be/GPeB6kGxWY0  
by Connie Talbot (then a little girl)
* Touching. Recommended!


Youtube http://youtu.be/4sXPkLfCzUQ 
by Connie Talbot with Kipper Eldridge

Lirik Inggris: 

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace... uhuu


You may say I’m a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one


Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world... uhuu


You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one
 


=============
/1/ Lihat Debbie Elliott, “Carter Helps Monitor Nicaragua Presidential Election”, NPR 5 November 2006, pada http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=6439233

/2/ Dikisahkan oleh Farid ad-Din Attar (c. 1230), Memorial of the Friends of God: Lives and Sayings of Sufis (penerjemah Paul Losensky, ed., pengantar Th. Emil Homerin) (Paulist Press, 2009). Lihat juga Widad El Sakkakini, First Among Sufis: The Life and Thought of Rabia al-Adawiyya (penerjemah Nabil F. Safwat; pengantar Doris Lessing; editor Daphne Vanrenen (London: Octagon Press, 1982; reprint 1985), hlm. 3. 



Monday, January 19, 2015

Patung Siwa Nataraja di halaman gedung CERN


CERN (Prancis: “Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire) adalah organisasi pusat riset nuklir di Eropa, yang didirikan 29 September 1954, dan kini beralamat di Route de Meyrin 385, 1217 Meyrin, Switzerland. Di halaman depan gedung CERN pada 18 Juni 2004 dipasang patung indah dewa Hindu Siwa yang sedang berdansa, atau biasa dikenal dengan nama Siwa Nataraja, artinya Siwa sang Raja Pedansa. Patung ini disumbangkan ke CERN oleh pemerintah India.

Dalam mitologi kuno India, Siwa Nataraja, atau sang dewa Siwa Pedansa, menyimbolkan dansa atau gerak-gerik alam semesta saat terjadi penciptaan dan kebinasaan kembali. Dengan dipasangnya Siwa Nataraja di CERN, patung ini menjadi sebuah representasi simbolik dansa atau tari-tarian partikel-partikel subatomik yang diamati dan dianalisis oleh para fisikawan CERN.

Paralelisme antara dansa Siwa dan dansa partikel-partikel subatomik didiskusikan pertama kali oleh Fritjof Capra dalam sebuah artikel yang berjudul “The Dance of Shiva: The Hindu View of Matter in the Light of Modern Physics, yang terbit di Main Currents in Modern Thought edisi tahun 1972. Dansa Siwa kemudian menjadi sebuah metafora esensial dalam buku Capra yang berjudul The Tao of Physics, yang terbit tahun 1975. Lewat metafora Siwa Pedansa ini, Capra menggabung mitologi kuno India, seni patung keagamaan, dan fisika modern.



Tentu saja siapapun bisa melihat ada usaha mencocok-cocokkan (cocokologi) mitologi kuno India Siwa Pedansa dan fisika partikel modern. Sudah jelas juga, mitologi Siwa Nataraja tidak memberi sumbangan keilmuan baru apapun dalam fisika partikel. Sudah jelas juga bahwa tanpa lahirnya fisika partikel dalam dunia modern, Siwa sang Raja Pedansa tidak akan pernah terpikirkan untuk dipakai sebagai sebuah metafora tari-tarian partikel-partikel. Dengan kata lain, yang terjadi adalah fisika partikel oleh Capra dibawa masuk ke dalam mitologi kuno India, dan bukan mitologi kuno ini yang melahirkan atau meramalkan fisika partikel. Tentang masalah-masalah serius yang muncul dalam cocokologi, saya sudah pernah membeberkannya. Bacalah di sini.

Bagaimanapun juga, patung Siwa Nataraja atau Siwa Raja Pedansa sudah ditafsir sebagai sebuah metafora dansa atau gerak-gerik partikel-partikel subatomik, yang dulu tentu saja belum teramati oleh para pujangga, para pemahat patung, dan ahli keagamaan India kuno. Tentu saja Capra kreatif ketika dia berimajinasi bahwa dansa sang Siwa paralel dengan tari-tarian partikel-partikel dalam dunia mekanika quantum. Kreativitasnya ini minimal telah membuat Siwa Nataraja dikenal para fisikawan dunia, meskipun tentu saja sang patung ini tidak memberi sumbangan ilmiah apapun bagi fisika modern. Selain itu, tentu saja Capra telah menambah satu lagi metafora ke dalam dunia ilmu pengetahuan.

Jangan sepelekan patung-patung, sebab benda-benda mati ini, dan juga semua hasil kesenian lainnya, sanggup menghidupkan imajinasi yang dalam dan luas dalam otak manusia. Mentalitas antipatung tidak membantu otak berkembang, malah membuat mesin otak panas terus. Friedrich Nietzsche berkata, “Tanpa musik, kehidupan menjadi suatu kesalahan, suatu kerjaberat, suatu pembuangan. Pablo Picasso melihat “tujuan seni adalah mencuci bersih debu-debu dari kehidupan jiwa kita sehari-hari. Dus, bayangkanlah, dunia tanpa seni akan menjadi apa? Mungkin akan bisa menjadi sebuah padang gurun luas yang sangat gersang. 

Tetapi saya sangat mengharapkan, seni muncul dari mana-mana, termasuk dari gurun-gurun yang gersang, bahkan dari lubang-lubang kepundan gunung-gunung tinggi berapi. Alam semesta sebetulnya adalah puisi yang dipancarkan lewat big bang, 13,8 milyar tahun lalu, yang dilantunkan lewat butir-butir atom yang bergetar dan menari-nari sebagai dawai-dawai.

Friday, January 16, 2015

Pembelaan cerdas terhadap Nabi Muhammad...


Make peace! Do not make war!

HARIS EL MAHDI, sosiolog dari Universitas Brawijaya, menulis dengan terang tentang keagungan Nabi Muhammad, di tengah kegarangan radikalisme Islam masa kini. Tulisannya ini (terbit, Selasa, 13 Januari 2015) sangat menyentuh hati saya. Meskipun saya sama sekali tidak kenal pribadi Mr. Haris, dan tulisannya (persisnya, link ke tulisan ini) juga kebetulan saja saya lihat tercantum dalam sebuah ruang komentar seseorang di Facebook saya, saya bersyukur bisa membaca tulisannya ini. Terus terang, saya tergugah.

Mr. Haris jelas salah seorang Muslim Indonesia yang cerdas dan mampu berpikir jernih dan memandang dunia dengan jeli dan objektif. Di tangannya dan di tangan kawan-kawannya yang satu visi, Islam masih bisa punya harapan untuk bertahan sebagai agama yang agung di masa depan dunia. Kekerasan sistematik dalam agama apapun menyumbang negatif pada ketahanan agama ini di masa depan. Semakin maju sebuah peradaban, kekerasan makin berkurang― fakta ini, berkaitan dengan peradaban manusia, telah diperlihatkan dengan terang oleh Steven Pinker dalam bukunya The Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined (2012). Dari sains evolusi, kita juga tahu, organisme apapun (bersama komunitasnya) yang tidak bisa adaptif terhadap ekologi mereka yang terus berubah, akan kalah, binasa dan lenyap; sedangkan organisme yang bisa adaptif atau yang paling mampu beradaptasi, akan bertahan langgeng atau bertahan jauh lebih lama, untuk siap masuk ke tahap-tahap evolusi selanjutnya. Hukum evolusi ini berlaku juga bagi agama apapun sebagai “social body”. Sejarah juga sudah dengan terang memperlihatkan bahwa tahan atau tidaknya suatu agama untuk tetap ada dalam dunia, tidak ditentukan oleh langit, tetapi oleh manajemen yang dilakukan umat terhadap agama mereka sendiri. Manajemen diri yang buruk membuat organisme dan lembaga atau pranata apapun akhirnya binasa dan punah. 

Dalam dua alinea terakhir tulisannya itu, Mr. Haris menyatakan sesuatu yang sangat mengusik hati dan pikiran, demikian (kedua alinea saya gabung):
Muhammad saja, nabi yang menjadi panutan umat Islam, tidak pernah marah meski ia dicaci, dilempari batu, diludahi, dan bahkan dilempari tahi. Andai saja Muhammad hari ini masih hidup niscaya tidak ada secuilpun kemarahan yang akan ia tumpahkan untuk Koran Charlie Hebdo. Terlalu mulia laki-laki arab ini melakukan hal itu. Lantas pertanyaannya, nabi mana yang diteladani oleh Kouachi bersaudara itu..? Kepada siapa dua orang itu mengucap sholawt saat duduk tahiyyat dalam sholat..?? Betapa dungunya Kouachi bersaudara itu, yang menjauh dari nilai-nilai etik yang diajarkan Muhammad. Bibir mereka memuja-muji Muhammad, tetapi perilaku mereka justru menjauh dari apa yang diteladankan oleh Muhammad. Sebab utama umat Islam hari ini terbelakang begitu rupa karena mereka tidak lagi meneladani akhlak Muhammad, menjadi muslim yang rajin membaca al-quran tetapi dungu, tidak mau meneladani Muhammad. Bahasa kasarnya “muslim goblok…!”
Tulisan Mr. Haris tersebut, yang berjudul Charlie Hebdo dan Kedunguan Muslim, SIPerubahan, 13 Januari 2015, terpasang di http://www.siperubahan.com/read/1891/Charlie-Hebdo-dan-Kedunguan-Muslim. Anda wajib membaca selengkapnya.

Artikel bernas Haris El Mahdi tersebut memiliki semangat yang serupa dengan artikel Ro Waseem, “Why Prophet Mohammad Would Be Deep Troubled By The Charlie Hebdo Attacks”, Patheos: A Reformation of Muslim Thought, 8 January 2015, pada http://www.patheos.com/blogs/quranalyzeit/2015/01/08/why-prophet-mohammad-would-be-deeply-troubled-by-the-charlie-hebdo-attacks/. Pada bagian akhir tulisannya, Waseem menyatakan bahwa seandainya Nabi Muhammad muncul kembali di antara kita sekarang ini, maka dia akan dipersekusi juga oleh para radikal Muslim! Terus terang, ada rasa sedih yang dalam muncul di hati saya saat membaca alinea terakhir tulisan Waseem ini.

Jika anda sudah habis membaca kedua artikel yang saya rujuk di atas, mungkin sekali anda akan berubah menjadi Muslim yang lain, yang berbeda dari sebelumnya. Beranilah berubah. Perubahan adalah tanda kita masih hidup.

Berubahlah, menjadi Muslim yang cinta damai dan anti-kekerasan. Berubahlah, supaya agama Islam kembali menemukan jatidirinya yang sejati, sebagai agama cinta, sebagai agama rakhmat bagi seluruh alam, sebagai agama yang menolak kekerasan dalam bentuk apapun, sebagai agama yang menyembah Tuhan yang Al-Rahman dan Al-Rahim.

Sebagai Muslim, anda carilah teks-teks inspiratif dari Alquran yang mendorong kuat diri anda untuk berperang di Indonesia, yakni berperang melawan kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kejahatan, sakit-penyakit, keserakahan, kelaparan, korupsi yang menjalar seperti kanker, kerusakan lingkungan hidup, radikalisme keagamaan, lewat program-program pembangunan bangsa seutuhnya, jangka panjang dan jangka pendek. Jadikan agama anda sebagai agama pembangunan bangsa supaya kita semua, bersama-sama, menjadi bangsa yang besar dan disegani di dunia internasional karena prestasi-prestasi cemerlang kita di berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang-bidang ekonomi, kebudayaan dan sains-tek.   

MAKE PEACE!
DON’T MAKE WAR!

Jakarta, 16 Januari 2015
ioanes rakhmat

Thursday, January 15, 2015

Islamofilia versus Islamofobia

Dear Dade Sobarna,

Saya punya agama, namanya agama Kebaikan Hati. Dengan menghayati agama saya ini, saya tertantang terus-menerus untuk selalu berbuat baik hati, tidak boleh membenci, tidak boleh memaki, tidak boleh menghina, dan, apalagi, tidak boleh kejam kepada sesama makhluk, manusia, tetumbuhan dan hewan-hewan. Bahkan orang yang memusuhi dan membenci saya pun sebisa mungkin harus saya balas dengan cinta kasih, dengan empati, bukan dengan permusuhan dan kebencian lagi. Agama saya ini sangat sulit dijalani, tetapi saya percaya agama saya ini agama yang benar. Penjahatpun akan tunduk kepada kita, jika kita perlihatkan kebaikan hati kepadanya.

Sebelum saya masuk ke persoalan utama tulisan saya ini, baiklah, Dear Dade, saya perkenalkan dulu ke anda agama saya, agama Kebaikan Hati, yang sudah saya beberkan dalam wujud sebuah puisi yang saya beri judul Inilah Agamaku . Berikut ini. Hayatilah sepenuh hati.

Agamaku sungguh sangat sederhana
Tidak rumit, tidak ribet, namun sakti
Namanya pun sangat melapangkan dada:
Agama kebaikan hati

Tanpa doktrin, akidah atau dogma
Tidak ada hierarki dari kepala hingga kaki
Hati nurani jadi pemandu utama
Ilmu pengetahuan menerangi setiap hati

Rumah ibadahku dunia luas terbentang
Tanpa atap, dinding dan tiang-tiang
Ke dalamnya siapapun boleh bertandang
Bahkan boleh tinggal sampai ajal datang

Kitab suciku langit malam luas terbentang
Penuh bintang bercahaya gilang-gemilang
Dikagumi dan dibaca semua insan rupawan
Penuh misteri yang membuat hati tertawan

Ritualku membaca dan menulis buku-buku
Untuk mencerahkan dunia dengan ilmu pengetahuan
Manusia menjadi cerdas dan tinggi berilmu
Serangga, rumput dan burung pun ikut tercerahkan

Syahadatku, “Aku cinta umat manusia dan kehidupan.”
Sederhana, pendek, tidak ribet dan tidak rumit
Namun sangatlah sulit kalau mau dilaksanakan
Tak cukup diikrarkan lewat mulut komat-kamit

Tuhanku sang Cinta Kasih Tanpa Batas
Bukan sebuah nama yang indah-indah dirancang
Atau yang diperebutkan insan-insan terbatas
Tapi sebuah kata kerja yang memacu kerja cemerlang

Nabiku diriku sendiri untuk diriku sendiri
Berdiam tenang dan agung dalam sanubari
Dia perintahkanku, “Kenalilah dirimu sendiri!”
Mengenal diri tanda keagungan diri sendiri

Doaku seluruh gerak kehidupanku hingga mati
Tidak diucapkan keras-keras ke angkasa raya
Tapi dilakoni diam-diam setiap hari dalam sunyi
Menghidupkan diriku sendiri dan seluruh semesta

Nyanyian rohaniku “Imagine” karya John Lennon
Tidak dilantunkan riuh dengan musik bergempita
Tapi ampuh menggerakkan hadirin dan penonton
Untuk menjadikan kedamaian isi jagat semesta

Komunitas keimananku umat manusia sejagat
Tanpa segregasi, alienasi, separasi dan diskriminasi
Hidup bersaudara dan saling mengasihi kuat-kuat
Tidak ada ideologi yang memecah dan menguasai

Ikrarku: mengabdi demi kebaikan dan kasih sayang
Demi kemanusiaan dan persaudaraan
Demi kesehatan dan umur panjang
Demi kecerdasan dan ilmu pengetahuan

Tulis di kolom agama KTP-mu
Agama: Kebaikan Hati
Tak ada yang bisa menolak kebaikan hatimu
Penjahat pun tunduk pada kebaikan hati

Marilah bersamaku bersatu ramai-ramai
Mengubah diri sendiri dan dunia luas tanpa tepi
Lewat agamaku yang sederhana namun membuai:
Agama kebaikan hati

Mari kita lanjutkan. Di banyak media sosial, di banyak kesempatan dan tempat, saya menemukan sangat banyak orang, dari berbagai agama, makin benci pada Islam. Ini fakta yang jauh lebih keras dan lebih mengerikan dibandingkan terorisme yang di mana-mana dilakukan dengan keliru atas nama Islam. Masa depan Islam sangat ditentukan oleh seberapa dalam tingkat kebencian dunia terhadap Islam. Saya risau memikirkan fakta ini. Akankah Islam nanti lenyap dari panggung dunia? Saya sangat berharap, tidak. Islam adalah sebuah agama besar yang, hemat saya, harus juga menjadi salah satu kekayaan kultural dunia! Kita bersama harus berjuang untuk membuat Islam tetap jaya sebagai salah satu kekayaan kultural dunia.

Jika dunia tetap membenci Islam, mungkin nanti Islam masih bisa bertahan, tetapi hanya segelintir, itupun bertahan di pinggiran-pinggiran dunia modern, disfungsional, irelevan dan tanpa peran. Sains evolusi membuat kita paham, organisme apapun yang tidak bisa adaptif dengan ekologi mereka yang terus berubah, akan menjadi organisme yang kalah, binasa dan punah. Sebaliknya, jika suatu organisme mampu beradaptasi, organisme inilah yang akan bertahan hidup, menang dan menjadi berlipat ganda, untuk siap memasuki tahap-tahap evolusi selanjutnya. Fakta sejarah sudah berbicara, bahwa bertahan atau tidaknya sebuah agama dalam pentas dunia tidak ditentukan oleh langit, tetapi oleh manajemen terhadap agama itu di Bumi oleh umat yang menganutnya. Manajemen diri yang buruk menghancurkan semua organisme, dan juga perusahaan-perusahaan besar sekalipun, termasuk agama sebagai tubuh sosial. Bagaimanapun juga, kita bersama harus berjuang supaya Islam tetap bertahan dan jaya sepanjang zaman sebagai sebuah agama yang agung.

Orang ateis di berbagai media sosial bahkan sudah sangat kuat dirasuk Islamofobia, kebencian kuat pada segala sesuatu yang terkait dengan Islam. Kata-kata mereka, tutur sapa mereka, tulisan-tulisan mereka, sarat dengan kebencian pada dunia Islam. Di suatu group Facebook, ada sebuah permintaan dari admin group Facebook itu untuk setiap anggota menulis hanya dua kata tentang Islam. Banyak sekali yang sudah menjawab. Mengerikan. Anda tentu sudah bisa duga, semua dua kata itu cacian keras kepada dunia Islam. Saya kebetulan membaca permintaan si admin itu. Saya merasa, saya harus ikut juga isi di kolom komentar dua kata yang diminta. Anda tahu, apa yang saya telah tulis dalam dua kata? Saya tulis pendek saja: Gus Dur.


Saya percaya, selain para radikal Muslim yang jumlahnya banyak, dunia Muslim masih memiliki juga sosok-sosok besar seperti Gus Dur, dan kini juga KH Ahmad Mustofa Bisri yang lebih dikenal sebagai Gus Mus. Sudah lama saya memutuskan untuk tidak mengikuti orang ateis dan semua pembenci Islam lainnya. Sebagai ganti Islamofobia, saya mencoba mengintrodusir lawan katanya, Islamofile, orang yang mencintai Islam, sahabat Islam. Dus, saya sedang membuat sebuah “cultural war” baru, Islamofilia melawan Islamofobia; tentu perlawanannya memakai cara-cara yang cerdas, agung, bermartabat dan terhormat. Sudah banyak kali saya melibatkan diri dalam debat cerdas dan santun dengan banyak pengikut Richard Dawkins. Mereka rata-rata Islamofobia; dan saya tandingi dengan Islamofilia, apapun risikonya (misalnya saya pernah dicap pengecut, dikata-katai bullshit, dan sebagainya).

Itulah yang saya sedang coba lakukan, membangun rasa cinta kepada Islam, meskipun Islam sekarang ini, very sadly, nyaris identik sepenuhnya dengan kekerasan. Mengapa saya mau bersikap lain, tidak Islamofobik, tetapi Islamofilik? Terus-terang, saya sedang melanjutkan semangat Yesus dari Nazareth, meskipun sudah lama saya, very sadly, memutuskan diri dari komunitas gereja. Yesus dari Nazareth pastilah akan membuat orang anti-kekerasan. Yesus dari Nazareth bukan sosok pembela kekerasan; malah dia telah menjadi korban kekerasan imperium Romawi yang mendikte para pemuka negeri Israel yang sedang mereka jajah. Penyaliban Yesus, adalah fakta yang mengharuskan setiap pengikut Yesus dari Nazareth menolak dan melawan kekerasan, lewat cara-cara non-kekerasan. Tidak heran, jika Mahatma Gandhi, menerima sebagian ilhamnya dari Yesus dari Nazareth. Sebagai seorang pendeta gereja yang memperjuangkan kesamaan hak bagi orang kulit hitam Amerika, Martin Luther King Jr. menegaskan bahwa non-kekerasan berarti bukan hanya menghindari kekerasan lahiriah, tapi juga kekerasan batiniah. Anda bukan saja menolak untuk menembak seseorang, tetapi juga menolak untuk membencinya.

 Domba yang hilang. Mari, bersama saya, kita cari dan temukan kembali!

Kata Yesus, jika dari antara 100 ekor dombamu, satu ekor tersesat, jatuh ke dalam jurang, berdarah, hampir binasa, apa yang akan kamu lakukan? Semua orang Kristen sudah tahu jawabannya: si gembala domba itu meninggalkan 99 ekor domba yang sehat, aman, terjaga, untuk berlelah-lelah mencari satu ekor domba yang tersesat dan terjatuh ke dalam jurang itu. Si gembala turun dan naik jurang, lembah dan semua tempat berbahaya, dalam rangka mencari dan menemukan satu ekor domba yang hilang itu, sampai akhirnya sang gembala itu menemukan lagi satu ekor yang terhilang dan terluka itu. Si gembala tidak pakai hitung-hitungan bisnis, tetapi memakai bela rasa, compassion, yang menyebabkannya mau ambil risiko kehilangan 99 ekor dombanya yang sehat hanya demi mencari satu ekor yang telah hilang.

Nah, taruh kata, Islam sekarang ibarat sang domba yang terhilang itu, saya tidak boleh ikut membencinya; saya tidak boleh ikut meninggalkannya. Meninggalkan Islam, berarti saya meninggalkan sangat banyak teman saya yang Muslim, meninggalkan negeri saya sendiri, Indonesia, yang penduduknya 85 % Muslim. Jadi, bersama teman-teman Muslim saya lainnya saya harus mau mencari dan menemukan Islam kembali, menemukan kembali Islam sebagai agama rakhmat bagi seluruh alam. Saya merasa, ini tugas titipan dari Yang Mahatinggi, Tuhan yang Al-Rahman dan Al-Rahim. Mungkin anda akan berubah pikiran, mau bergabung dengan saya.

Mari kita gencarkan gerakan Islamofilia, gerakan mencintai Islam, gerakan menjadi sahabat Islam, ke dalam dan ke luar. Ke dalam, berarti mengupayakan sungguh-sungguh berbagai perubahan penting dan mendasar dalam dunia Muslim internal sendiri. Ke luar, berarti memperlihatkan dan membuktikan bahwa Islam betul-betul agama rakhmat bagi seluruh alam. Rakhmat ilahi adalah kasih sayang ilahi, kemurahan ilahi, cinta ilahi, kebaikan ilahi, kelembutan ilahi. Jadikan rakhmat ini fakta, SEKARANG! Keluar, juga berarti kita dengan rendah hati, jujur dan bermartabat perlu memperlihatkan ada sangat banyak hal yang agung dalam dunia Islam, kepada para Islamofobik.


Jakarta, 15 Januari 2015
by ioanes rakhmat