Sunday, August 17, 2014

Penderitaan adalah bukti tidak adanya Tuhan. Betulkah?

Orang ateis berpendapat bahwa adanya banyak penderitaan di dunia, terlebih lagi penderitaan yang tidak patut dialami anak-anak manusia, adalah sebuah bukti bahwa Tuhan tidak ada. Kalaupun Tuhan ada, fakta penderitaan menunjukkan Tuhan ini impotent, lemah dan tanpa daya, berhubung dia tidak bisa melenyapkan penderitaan. Kata mereka lagi, kalau Tuhan ada, dan Tuhan itu maha pengasih dan maha kuasa, mustinya semua penderitaan manusia telah dihapus dan dilenyapkan Tuhan sendiri. Karena Tuhan tidak menghapus penderitaan, niscaya dia adalah Tuhan yang bukan saja lemah dan tidak berdaya, tetapi juga kejam dan jahat. Kekejaman dan kejahatan, dengan demikian, ada pada diri Tuhan sendiri. Dus, para ateis bertanya: Jika Tuhan itu lemah dan tanpa daya, kejam dan jahat, mengapa manusia dengan sangat bodoh masih menyebut dan menyembahnya sebagai Tuhan, dan bahkan masih percaya dia ada?



Filsuf Yunani Epikurus (341-270 SM), yang mendirikan mazhab filsafat Epikurianisme,/1/ adalah orang yang mengajukan penalaran logis yang sudah saya bentangkan pada alinea di atas, yang dikenal sebagai “Trilemma of Epicurus./2/ Sayangnya, orang ateis yang selalu memanfaatkan trilemma ini dalam apologetika mereka tidak pernah berpikir bahwa trilemma ini lahir dari kesalahan dan kedangkalan berpikir, seperti saya akan perlihatkan di bawah ini. 

Sebelum ke situ, baiklah saya sajikan sepersis-persisnya kata-kata Epikurus yang membangun sebuah trilemma, sebagaimana dirumuskan David Hume (1711-1776) dalam karyanya Dialogues Concerning Natural Religion: Apakah Allah ingin mencegah kejahatan, tapi dia tidak mampu? Jika begitu, maka dia adalah Allah yang tidak mahakuasa. Jika dia mampu, tetapi tidak ingin, maka dia adalah Allah yang kejam. Apakah dia mampu sekaligus ingin? Jika demikian, dari mana kejahatan datang?/3/ Trilemma ini biasa disebut sebagai “problem kejahatan”, the problem of evil. Setelah mengajukan trilemma itu, Epikurus menutupnya dengan sebuah pertanyaan, Jika dia tidak mampu dan juga tidak ingin, maka mengapa masih memanggil dia Allah? Dalam penilaian David Hume di abad ke-18, trilemma Epikurus ini belum juga terjawab dan terpecahkan!

Perspektif orang ateis yang dibangun di atas Trilemma Epikurus sangat mengherankan. Sangat dangkal. Apakah mereka, pertama-tama, tidak berpikir bahwa seandainya ateisme sudah dianut semua orang di muka Bumi (jumlahnya sekarang 7 milyar kepala lebih), dan Tuhan sudah dihapus dari kesadaran dan memori manusia, penderitaan dan kejahatan masih akan terus ada dalam dunia ini? Artinya, ihwal ada atau tidak adanya kejahatan dan penderitaan, tidak bergantung pada ada atau tidak adanya Tuhan.

Apakah mereka juga tidak berpikir bahwa untuk ateisme bisa menang di muka Bumi sebagai satu-satunya kepercayaan di muka Bumi (kepercayaan bahwa Tuhan tidak ada), mereka perlu membantai dan melenyapkan semua agama dan ideologi tandingan, dus mereka harus menciptakan perang sejagat atas nama ateisme untuk memenangkan ateisme? Jika perang ini betul terjadi nanti, bukankah ini juga sebuah bukti kuat bahwa ateisme juga sebuah sumber ideologis kuat munculnya penderitaan dalam dunia? Banyak orang ateis yakin bahwa ateisme sebagai sebuah ideologi anti-Tuhan tidak akan menyulut perang di dalam dunia ini, tidak seperti agama-agama yang, kata mereka, sudah terbukti dalam sejarah dan dalam situasi masa kini kerap menimbulkan perpecahan, pertikaian, bahkan perang. Mereka rupanya tidak menyadari bahwa perang kultural yang kini sedang mereka kobarkan terhadap agama-agama akan dengan mudah, di masa depan, jika situasinya sudah matang, berubah menjadi bentrokan fisik, yang tidak mustahil akan berubah pula menjadi perang dunia. Kita tunggu dan lihat saja di depan! 

Apakah mereka juga tidak tahu, bahwa sebelum agama-agama muncul penderitaan sudah dialami manusia sebagai keadaan yang alamiah? Sejauh sudah ditemukan sains, agama tertua di planet Bumi ini baru muncul 70.000 tahun lalu di antara orang Basarwa, di Ngamiland, Bostwana, Afrika Selatan,/4/ sementara spesies homo dengan anatomi tubuh modern (homo sapiens sapiens) sudah muncul, juga di Afrika Selatan, jauh sebelumnya, yakni sekitar 300.000 tahun lalu./5/ Temuan mutakhir mtDNA hominin di Spanyol bahkan menempatkan kurun asal-usul moyang manusia lebih jauh lagi, yakni 400.000 tahun lalu./6/
Pada sekitar 45.000 hingga 60.000 tahun lalu barulah homo sapiens dengan cepat bergerak, menyebar, keluar dari Afrika, lalu masuk ke segala penjuru benua-benua Eurasia, dan akhirnya memenuhi seluruh dunia./7/ Tetapi menurut kajian-kajian mutakhir, moyang manusia sudah bermigrasi keluar Afrika jauh lebih awal lagi,130.000 tahun lalu, lewat rute utara, yakni lewat Mesir dan Sinai, lalu masuk ke segala penjuru Eurasia./8/  


Kini para saintis dapat dengan mudah memperoleh genom populasi manusia kuno berhubung sekarang kita punya teknik sekuensing DNA yang murah dan teknik-teknik lab butik yang dapat dengan cermat memisahkan DNA kuno yang sudah berkondisi sangat buruk dari kontaminan-kontaminannya yang berasal dari zaman kita. Dengan kemajuan pesat semacam itu, studi-studi mutakhir atas DNA-DNA manusia-manusia Eropa kuno yang diekstrasi dari 170 kerangka manusia yang ditemukan di negara-negara mulai dari Spanyol hingga Russia, melahirkan sebuah kesimpulan bahwa orang-orang Eropa masa kini adalah keturunan-keturunan dari tiga kelompok manusia yang berbeda yang bergerak masuk ke Eropa dalam kurun-kurun sejarah yang berbeda. Tiga kelompok itu mencakup: Pertama, kelompok para pemburu yang hidup dengan memakan hasil buruan mereka (kelompok hunter-gatherers), yang tiba kurang lebih 45.000 tahun lalu di Eropa. Kedua, kelompok para petani yang tiba dari Timur Dekat kira-kira 8.000 tahun lalu. Akhirnya, ketiga, kelompok para penggembala nomadik dari Russia barat dan Ukraine, kawasan yang dinamakan Yamnaya, yang tiba kira-kira 4.500 tahun lalu. Diduga juga bahwa bahasa orang Yamnaya adalah bahasa induk dari semua bahasa percakapan yang dipakai orang-orang Eropa masa kini./9/  

Ketika dulu sekali moyang manusia berbicara dalam hati atau secara lisan kepada sosok-sosok yang tidak kasat mata, baik yang dibayangkan hidup di antara mereka, atau yang dibayangkan berada di atas langit, dan ritual-ritual keagamaan dijalankan dengan teratur sebagai cara untuk mengikat sosok-sosok ini dengan mereka, yang mereka pertama-tama pinta pastiah kelepasan dan pembebasan dari berbagai penyakit dan aneka ragam bentuk penderitaan lain. Dalam kehidupan sederhana moyang manusia, yang paling mereka butuhkan adalah hal-hal eksistensial yang paling mendasar. Menurut Abraham Maslow, dari lima (atau delapan) jenjang kebutuhan manusia, kebutuhan fisiologis-biologis (makan dan minum, udara, tidur, seks, tempat berteduh, kehangatan) dan kebutuhan keselamatan pribadi (perlindungan, keamanan, ketahanan, keteraturan, hukum, stabilitas, kebebasan dari ketakutan) berada pada dua peringkat yang paling dasar./10/ Dus, orang ateis hendaklah tahu bahwa Tuhan kemudian dikonsep justru untuk antara lain menyatakan bahwa manusia tidak perlu merasa terbuang dan disendirikan dalam mereka menanggung penderitaan, berhubung ada Allah yang setia kepada mereka dan yang memahami betul penderitaan mereka dan yang mau menolong dan menyelamatkan mereka.