Monday, June 9, 2014

Apakah aliens cerdas ada di angkasa luar, dan dari mana manusia berasal?

“Kita harus menyadari bahwa ada dunia-dunia lain di bagian-bagian lain jagat raya, yang dihuni oleh ras-ras manusia yang berbeda dan binatang-binatang yang juga berbeda.(Titus Lukretius, 99-55 SM)

“Kita tidak pernah dikunjungi para alien mungkin karena mereka pernah dulu memantau Bumi lalu berkesimpulan bahwa di planet ini tidak ada tanda-tanda kehidupan organisme cerdas.” (Neil deGrasse Tyson)

Apakah ada alien cerdas di angkasa luar yang sudah memiliki peradaban-peradaban sangat maju? David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein menyatakan bahwa “Jelaslah, pertanyaan apakah ada peradaban-peradaban lain dalam jagat raya adalah salah satu pertanyaan terpenting dari sains modern. Dan suatu penemuan kehidupan yang semacam ini, katakanlah lewat analisis data gelombang mikro, tentu termasuk peringkat semua perkembangan keilmuwan yang paling signifikan dan berdampak sangat jauh.”/1/  

Pujangga dan filsuf Romawi Titus Lukretius di abad pertama SM dengan mengherankan telah menjawab pertanyaan itu dengan positif (juga sebelumnya di abad ke-5 dan ke-4 SM oleh Leusippus, Demokritus, dan Epikurus). Yang tidak bisa diberi oleh para filsuf ini adalah bukti-bukti empiris. Di zaman kita, mari kita bersama-sama pikirkan jawaban-jawaban yang mungkin, dengan berani dan kreatif, namun tetap terkendali oleh ilmu pengetahuan. Harap dicatat ada sangat banyak jawaban telah dan akan terus diberikan terhadap pertanyaan ini. Yang saya akan beberkan di bawah ini hanyalah salah satu perspektif saja.

Dalam batas tata surya kita, alien ada, tapi mungkin sekali bukan dalam bentuk organisme cerdas, melainkan hanya dalam bentuk berbagai mikroorganisme. Saintis terkemuka NASA, Ellen Stofan, dalam minggu pertama April 2015 memprediksi bahwa pada 2025 kita akan sudah bisa menemukan mikroba-mikroba di luar Bumi dalam tata surya kita, dan dalam kurun 20 sampai 30 tahun ke depan bukti-bukti definitifnya akan kita sudah bisa temukan. Dia menyatakan, “Kita tahu di mana dan bagaimana kita harus mencarinya. Dalam kebanyakan kasus, kita sudah punya teknologinya, dan kita sudah berada pada jalan untuk menerapkannya. Jadi, menurut saya, kita dengan pasti sedang menuju ke sana.”/2/   

Pada pertengahan September 2014, NASA dan Library of Congress menyelenggarakan sebuah simposium selama dua hari yang bertema “Preparing for the Discovery”. Subjek yang dibicarakan adalah usaha-usaha untuk mengeksplorasi ihwal bagaimana kita perlu mempersiapkan diri bagi penemuan yang niscaya terhadap kehidupan di luar Bumi, baik yang berupa mikroba-mikroba yang sederhana maupun yang berupa organisme-organisme cerdas. Terkait dengan hal itu, astronom dan mantan sejarawan utama NASA yang mengorganisir simposium itu menyatakan hal berikut ini:/3/ 
“Kita sedang mempertimbangkan semua skenario tentang menemukan kehidupan. Jika anda menemukan mikroba, itu adalah satu hal. Jika anda menemukan kecerdasan, itu adalah suatu hal lain. Dan jika mereka berkomunikasi, ini adalah sesuatu yang lain lagi, dan bahwa respons kita akan bergantung pada apa yang mereka akan katakan, adalah sesuatu yang lain lagi. Idenya bukanlah kita menunggu sampai kita membuat sebuah penemuan, tetapi kita mencoba banyak hal dan mempersiapkan masyarakat umum untuk dapat memahami akibat-akibat yang akan dapat muncul jika suatu penemuan semacam itu telah diperoleh. Menurutku, alasan mengapa NASA mendukung hal ini adalah berkaitan dengan semua aktivitas belakangan ini yang berhasil menemukan eksoplanet-eksoplanet dan dengan perkembangan pesat dalam astrobiologi pada umumnya. Orang sesungguhnya memandang adalah jauh lebih mungkin sekarang ini untuk kita akan menemukan sesuatu, mungkin sekali pertama-tama mikroba-mikroba lalu mungkin belakangan organisme-organisme cerdas. Kekuatan pendorong di balik ini semua datang dari sudut pandang ilmu pengetahuan bahwa kini tampaknya jauh lebih mungkin kita akan menemukan kehidupan pada suatu saat di masa depan.”    
NASA mempunyai program jangka panjang dan jangka pendek untuk mencari kehidupan di antariksa, bukan terutama berupa alien-alien hijau bertubuh besar dan cerdas, tetapi berupa DNA lewat sebuah proyek yang dinamakan The Search for Extra-terrestrial Genomes (SETG) yang sekarang ini difokuskan dulu pada planet Mars./4/ Proyek SETG ini dikhususkan untuk menguji hipotesis bahwa kehidupan di planet Mars, jika ada, memiliki nenek moyang yang sama dengan kehidupan di planet Bumi. Bukti-bukti makin bertambah yang menunjukkan bahwa mikroba-mikroba yang dapat bertahan hidup, dapat ditransfer di antara dua planet ini, suatu kemungkinan yang sebagian didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi lintasan-lintasan meteor dan kajian-kajian magnetisasi yang mendukung hanya pemanasan yang moderat pada inti-inti meteor. Logis, jika kita berharap, proyek ini akan nantinya diperluas oleh NASA ke planet-planet lain manapun yang terjangkau, yang diduga berisi bentuk-bentuk kehidupan jenis apapun, misalnya bulan Europa dari planet Jupiter, yang kawasannya sangat asam.

Tetapi, berkaitan dengan alien-alien cerdas, bagaimana halnya di dunia-dunia lain di luar tata surya kita, dalam galaksi Bima Sakti, dan dalam galaksi-galaksi lain di seluruh jagat raya kita?

Wantariksa Voyager 1 setelah 35 tahun melanglang tata surya akhirnya pada Nov 2012 dipastikan telah keluar tata surya dan masuk ke dunia antarbintang. Jika ada organisme cerdas lain yang sudah maju di kawasan tata surya kita, mustinya berbagai wantariksa buatan manusia akan mengalami gangguan, berhubung mungkin saja ada semangat berperang antar berbagai organisme cerdas yang menghuni satu tata surya yang sama. Nyatanya, Voyager 1 aman-aman saja setelah selama 35 tahun menjelajahi seluruh kawasan tata surya.


 Wantariksa Voyager 1

Sudah ada tiga rover yang didaratkan Amerika Serikat di planet Mars: Spirit, Opportunity, dan yang mutakhir rover Curiosity. Misi utama tiga rover ini adalah menemukan mikroba di planet ini. Lebih dari itu, Amerika Serikat kini sudah menetapkan sebuah kebijakan antariksa resmi untuk paling lambat di pertengahan tahun 2030-an akan sudah ada wantariksa berawak manusia yang akan diterbangkan ke planet Mars. Sebetulnya, sesudah Amerika Serikat berhasil mendaratkan 12 astronot di Bulan (seluruhnya ada 6 misi yang sukses, dari 1969 hingga 1972), saat itu oleh NASA dan para pengambil kebijakan antariksa Amerika diantisipasi bahwa di tahun1980-an sudah akan ada astronot-astronot yang akan didaratkan di planet Mars. Tetapi karena sejak waktu itu terjadi perubahan kebijakan politik Amerika, dan karena kini ada anggapan-anggapan yang salah tentang anggaran keuangan NASA, misi mengirim astronot-astronot ke planet Mars masih tertunda. 

Sebetulnya di tahun 2015 ini sudah diperhitungkan bahwa misi mengirim manusia ke planet Mars akan jauh lebih murah biayanya dan lebih mudah dilaksanakan secara teknis jika kita sudah berhasil membangun koloni-koloni di Bulan kita. Selain itu, sudah dihitung bahwa kini untuk mengkolonisasi Bulan biayanya 90 persen lebih murah ketimbang yang dipikirkan sebelumnya. Bukan tanpa alasan jika Tom Moser, insinyur kepala dan manajer program Apollo dan International Space Station, menyatakan bahwa Kembali ke Bulan itu mudah, masuk akal dan anggarannya dapat dipikul, dan dapat menjadi jalan menuju planet Mars.... Tetapi, untuk ke situ, harus ada kemauan untuk melakukannya. Hoyt Davidson, yang bekerja di Near Earth LCC, berpendapat bahwa “Jika Bulan sudah dapat kita huni dengan permanen, kemajuan ini menjadi bagian paling mendasar bagi usaha-usaha selanjutnya untuk menghuni tempat-tempat lain di dalam sistem Matahari kita.”/5/

Tentang misi ke Mars, Chris Carberry dan Rick Zucker (keduanya dari Explore Mars Inc.) menyatakan bahwa kebanyakan oposisi terhadap eksplorasi planet Mars didasarkan pada informasi-informasi yang salah dan pada taktik-taktik pengalih perhatian, yang secara tersirat menyatakan atau bahkan mengklaim terang-terangan bahwa planet Mars akan membengkakkan anggaran keuangan NASA atau membahayakan anggaran Jaminan Sosial secara gila-gilaan jika fakta-fakta dan berbagai konteks anggaran yang sebenarnya diperhitungkan. Tetapi, Carberry dan Zucker juga, di lain pihak, menegaskan bahwa banyak pakar penerbangan antariksa percaya bahwa penerbangan manusia ke planet Mars dapat dicapai tanpa meningkatkan secara besar-besaran anggaran NASA; malah sebetulnya peningkatan anggaran Amerika dapat terjadi berkaitan dengan usaha-usaha menurunkan tingkat inflasi. Dengan demikian, orang dapat berpendapat bahwa secara fiskal NASA bertanggungjawab untuk mengirim manusia ke Mars alih-alih menghabiskan anggaran dalam jumlah yang sama untuk membiayai tujuan-tujuan yang kurang ambisius atau yang terus berubah. Mereka berdua pada akhirnya menegaskan bahwa “manusia tidak akan mengunjungi sebuah bintang terdekat atau bahkan bulan-bulan planet Jupiter kapanpun dalam waktu dekat; tetapi akhirnya kita akan dapat memiliki sebuah kesempatan untuk bergerak ke luar Bumi lalu memasuki angkasa luar dan mendarat di planet Mars, untuk mengeksplorasi, untuk menemukan sesuatu, dan untuk berkembang.”/6/   

Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk sebuah wisata ke planet Mars? Woow, besar sekali! Menurut perhitungan astronom National Institute of Aerospace, Sten Odenwald, sudah pasti akan diperlukan biaya lebih dari 100 milyar USD untuk mengirim sebuah wantariksa berawak pertama ke planet Mars. Odenwald juga menegaskan bahwa “menanam investasi sebesar 100 milyar USD untuk berwisata ke planet Mars― sebuah planet yang memberi risiko kecil, yang sudah kita kenal betul dengan menyeluruh semua detailnya ―masih dipandang sebagai sebuah angan-angan politis sekalipun dengan menggunakan teknologi yang ada.”/7/ 

Sangat banyak orang bertanya, mengapa para saintis harus mengeksplorasi planet-planet lain, Mars khususnya, sementara dana besar yang digunakan sebetulnya dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan penderitaan yang dialami masih banyak manusia di planet Bumi. Penelitian terhadap planet-planet lain dilakukan bukanlah terutama karena para saintis umumnya memang berjiwa peneliti dan penjelajah, dan juga bukan karena orang-orang miskin diabaikan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, tetapi karena masa depan umat manusia dan ketahanan kehidupan spesies ini seribu tahun ke muka memang sangat bergantung pada kolonisasi planet-planet lain oleh manusia sebagai rumah kedua, ketiga, dan seterusnya, di masa depan. Manusia sangat rentan musnah jika hanya mendiami planet Bumi, baik karena ancaman kemusnahan sebagai akibat terjangan sebuah meteor besar ke planet Bumi, maupun karena ancaman perang nuklir dan bencana-bencana yang dibuat manusia sendiri. Kondisi-kondisi semacam ini sudah kerap diingatkan oleh sejumlah saintis, antara lain untuk kesekian kalinya oleh Stephen Hawking baru-baru ini, 26 April 2015, dalam kuliahnya di Opera House, Sydney, Australia, lewat tubuh hologramnya./8/   

Selain planet Mars, ada enam tempat lain dalam tata surya yang diyakini memiliki kehidupan mikrobial. Enam tempat itu: 3 bulan planet Jupiter (Europa, Callisto, Ganymede); 2 bulan planet Saturnus (Enceladus, Titan); dan atmosfir planet Venus. Dari tujuh tempat ini, yang sekarang banyak diperhatikan manusia adalah planet Mars dan tentu saja bulan terbesar dan berkabut paling tebal planet Saturnus yang diberi nama Titan. Selain Bumi, bulan Titan adalah satu-satunya tempat di dalam tata surya yang memiliki sungai-sungai, hujan, lelautan, dan permukaannya juga dipenuhi bebatuan karang. Lewat pemantauan oleh wantariksa NASA yang mengorbit planet Saturnus, yang diberi nama CAPS (Cassini Plasma Spectrometer), kini diketahui Titan juga, seperti Bumi, mempunyai angin-angin kutub yang terus-menerus mendesak gas keluar dari atmosfir Titan lalu masuk ke angkasa luar. Juga sudah diketahui bahwa atmosfir Titan terdiri terutama atas nitrogen dan methana, dan tekanan pada permukaannya 50 persen lebih tinggi dibandingkan tekanan pada permukaan atmosfir Bumi./9/ Oleh Robert Zubrin, bulan Titan disebut sebagai “dunia di luar Bumi yang paling ramah di dalam sistem Matahari kita untuk dijadikan tempat tinggal baru manusia”. Arthur C. Clarke melihat Titan akan menjadi “pusat industrial masa depan sistem Matahari”. Adrian Berry dari The Telegraph menyebut Titan sebagai “rumah masa depan umat manusia.”/10/