Monday, April 14, 2014

Apakah Yesus kawin? Jika ya, apa masalahnya?

Apakah Yesus kawin? Pertanyaan ini bukan baru, tapi sudah lama diajukan orang, bahkan sudah di abad-abad pertama masa kehidupan berbagai bentuk kekristenan, mulai dari yang diklaim ortodoks sampai yang didakwa heterodoks atau tidak ortodoks. Kenapa pertanyaan ini muncul? Karena berbagai sebab, berikut ini.

Perjanjian Baru tidak berbicara apapun tentang kehidupan seksual Yesus dan tentang apakah dia berkeluarga, sementara ada teks-teks tua di luar Perjanjian Baru misalnya Injil Filipus (teks Koptiknya berasal dari abad ke-4 M; teks Yunaninya dari abad ke-3 M)/1/ yang memuat sebuah cuplikan kisah tentang keintiman erotik Yesus dengan Maria Magdalena. Selain itu, ada juga teks-teks tua ekstra-Perjanjian Baru yang menunjukkan Yesus memperlakukan Maria Magdalena dengan sangat istimewa, melebihi perlakuannya kepada para rasul pria, misalnya Injil Maria Magdalena (dari akhir abad ke-2 M)/2/ dan dokumen Pistis Sofia (dari paruhan kedua abad ke-3 M)./3/ Keadaan ini tentu saja menimbulkan pertanyaan tentang apakah sebetulnya Maria Magdalena kekasih Yesus atau lebih tepat lagi istri Yesus. Teks-teks tua di luar Perjanjian Baru condong mengakui status perkawinan Yesus, sedangkan Perjanjian Baru tidak membicarakannya. Jika Perjanjian Baru sebagai kitab yang dipandang suci oleh kekristenan ortodoks bungkam atau tidak memberi petunjuk apapun bahwa Yesus kawin, itu tidaklah berarti Yesus tidak kawin. Argumentum e silentio atau “an argument from silence” selalu lemah untuk dipakai dalam memastikan atau menolak sebuah fakta.