Monday, December 22, 2014

Tuhan itu mahatahu! Anda?



Tuhan itu mahatahu. Maka itu anda harus belajar dan mengembangkan sains terus-menerus, supaya anda makin dekat dengan kemahatahuan Tuhan.

Tuhan itu mahatahu. Karena itu, Tuhan menginginkan anda cerdas dan memiliki pengetahuan seluas-luasnya. Tuhan tidak menghendaki anda bodoh dan tidak berpengetahuan. 

Pengetahuan itu ibarat lautan luas dan dalam tanpa pantai. Anda terus saja berenang-renang ke sana ke sini hingga anda wafat. 

Pengetahuan itu bak angkasa luar tanpa awal, tanpa tepi dan tanpa ujung. Anda terus saja menjelajah ke sana dan ke sini, tidak pernah berhenti, hingga anda meninggal dunia. Lalu orang-orang lain meneruskan penjelajahan anda, sambung-menyambung, abadi.

Karena Tuhan itu mahatahu, tentu saja dia tidak takut pada hal-hal baru yang akan menimbulkan perdebatan panjang.

Jika ada agama yang membuat anda takut berpikir, takut belajar, takut menerima ilmu pengetahuan, takut berubah, takut ragu, takut menjelajah, agama itu jelas bertentangan dengan kemahatahuan Tuhan.


Jakarta, 22-12-2014 
Ioanes Rakhmat

Thursday, December 18, 2014

Tak ada Tuhan yang jahat!

Dalam nama Tuhan yang Al-rahman dan Al-rahim . . .

Banyak Muslim di berbagai media sosial Internet saat-saat ini menyatakan dengan yakin bahwa pembunuhan lebih dari 100 anak sekolah di Peshawar, Pakistan, oleh Taliban,/1/ adalah takdir Tuhan. Kata mereka, "Semua manusia pasti mati. Ini takdir Tuhan. Cara mati manusia lain-lain, tetapi semuanya takdir Tuhan. Jadi, pembunuhan 100 lebih anak sekolah di Peshawar, Pakistan, oleh Taliban, juga takdir ilahi. Jangan disesali, terima saja dengan syukur, dan teruslah memuji Tuhan!"

Saya tidak tahu, Muslim yang berpandangan semacam itu aliran apa. Setahu saya, tidak semua Muslim memegang keyakinan seperti itu. Ada banyak Muslim yang sangat marah pada Taliban atas tindakan biadab mereka. Setahu saya, dalam Islam, doktrin tentang takdir ilahi sangat kuat dipegang oleh nyaris semua Muslim. Tetapi ada juga yang meragukan doktrin ini bahkan tidak bisa mempercayainya lagi dan tidak mau memegangnya lagi.

Takdir ilahi adalah kehendak Tuhan yang sudah Tuhan gariskan sebelum terjadi. Dalam kosa kata teologi Kristen, doktrin takdir ilahi kurang lebih disebut doktrin pra-destinasi. Menurut doktrin ini, Tuhan berkuasa dan berdaulat menggariskan nasib setiap orang, mulai dari janin, bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, akhirnya para lansia, sampai saat setiap orang menemui kematian. Takdir ilahi tidak bisa dilawan atau ditolak oleh manusia. Bahkan sebelum seseorang dilahirkan ke dalam dunia, jalan kehidupannya sudah ditakdirkan Tuhan, sudah digariskan dulu oleh Tuhan, sudah dibuat petanya, sudah dirancang kisahnya dan plotnya, dan klimaksnya, dan ending-nya, semuanya oleh Tuhan sendiri, tanpa perlu meminta persetujuan orang yang belum dilahirkan itu.

Saya tidak bisa tahu pikiran Tuhan, apalagi pikiran Tuhan tentang saya dan jalan kehidupan saya ketika saya belum dilahirkan ke dalam dunia ini lewat rahim bunda saya. Saya juga tidak tahu apakah dalam dunia ini ada orang-orang khusus (yang dipilih Tuhan) yang bisa mengetahui dan memahami isi pikiran Tuhan, bahkan, kata mereka, sebelum Tuhan berpikir pun mereka sudah bisa tahu apa yang akan dipikirkan Tuhan. Jika orang semacam ini ada, tentu orang itu adalah orang yang hebat dengan otak yang sangat tajam dan powerful. Tetapi sehebat apapun otak orang ini, dia sama sekali tidak bisa memeriksa langsung ke Tuhan apakah yang dia pikirkan sebagai isi pikiran Tuhan memang sungguh-sungguh isi pikiran Tuhan sendiri. Dia hanya mempercayai saja bahwa dirinya tahu isi pikiran Tuhan. Dia hanya percaya saja kepada kepercayaannya bahwa dia tahu isi pikiran Tuhan.

Konon Ibrahim diperintah Tuhan untuk membunuh putranya sendiri. Tapi benarkah? Malaikat mencegah Ibrahim, tokh!

Yang saya tahu dan saya kenali adalah pikiran saya sendiri, karena saya selalu memantaunya saat pikiran saya ini muncul, bergerak, berubah, berkembang dengan dinamis dari waktu ke waktu, hingga usia saya sekarang ini. Memantau dan mengenali pikiran saya sendiri selalu saya lakukan supaya saya bisa kritis atas semua isi pikiran saya sendiri, alhasil saya bisa menemukan di mana saya salah berpikir dan di mana saya benar berpikir.  

Nah, menurut pikiran saya sendiri: kematian 100 lebih anak sekolah di Peshawar itu/2/ bukan kehendak Tuhan, bukan takdir Tuhan, bukan nasib yang sudah digariskan Tuhan untuk semua anak sekolah itu sebelum mereka dilahirkan.

Menurut pikiran saya, kematian mereka adalah akibat tindakan biadab Taliban, bukan akibat kehendak dan tindakan Tuhan Yang Mahakasih dan Mahapenyayang, Tuhan yang Al-rahman dan Al-rahim. Tuhan tidak pernah jahat, Tuhan selalu baik. Tidak ada Tuhan yang jahat. Jika tidak ada Tuhan yang jahat, maka sudah seharusnya setiap orang yang bertuhan tidak akan pernah jahat. Jika mereka tetap jahat, mereka tidak atau belum bertuhan. Mereka yang jahat ini bisa saja beragama, tetapi belum atau tidak bertuhan. Agama tidak sama dengan Tuhan. Dalam setiap agama, ada doktrin-doktrin tertentu yang bisa membuat orang jadi jahat, tetapi tidak ada Tuhan yang akan membuat orang jadi jahat.

Menurut pikiran saya juga, demi kepentingan-kepentingan mereka sendiri, manusialah yang bisa membuat kisah-kisah tentang Tuhan yang jahat. Manusia jugalah yang memberi validasi atas kisah-kisah ini sebagai kisah-kisah yang ditulis Tuhan sendiri. Padahal Tuhan sendiri tidak bisa membenarkan kisah-kisah tersebut. Tuhan yang baik dibuat menjadi Tuhan yang jahat ya tidak lain oleh orang-orang jahat yang mencari pembenaran ilahi atas perbuatan-perbuatan jahat mereka. Psikologi manusia yang jahat itulah yang melahirkan teologi tentang Allah yang jahat. Pada dirinya sendiri, menurut pikiran saya, Tuhan itu, sesuai namanya, tidak jahat.

Ini pikiran saya juga: Kita saja, manusia, yang punya kecerdasan terbatas, ingin selalu bisa berbuat baik dan berhasil mengalahkan semua pikiran jahat yang muncul dalam pikiran kita. Apalagi Tuhan, yang kita percaya mahatahu dan mahacerdas: pasti dalam dirinya tidak ada kejahatan apapun! 

Di tangan kanak-kanak Pakistan, masa depan negeri ini terletak!

Karena itu, Tuhan, kapanpun juga, tidak pernah menginginkan anak-anak sekolah itu dibantai oleh Taliban. Tuhan melawan Taliban, Tuhan membela anak-anak yang sudah dibunuh itu, Tuhan membenci Taliban. Karena itu juga Tuhan sedang menuntut pertanggungjawaban Taliban sepenuh-penuhnya, lewat dunia internasional yang beradab.

Itu pikiran saya. Apakah Tuhan sendiri sepakat dengan isi pikiran saya ini, saya sama sekali tidak tahu. Tapi saya boleh berharap, mudah-mudahan Tuhan sepakat. Bangkitlah Tuhan. Gerakanlah dunia internasional untuk mengadili Taliban. Darah anak-anak itu yang tertumpah sia-sia bahkan tidak bisa diterima oleh Bunda Bumi, apalagi olehmu, Tuhan. Darah mereka itu, ya Tuhan, terus-menerus menjerit memanggilmu dan memanggil dunia internasional yang beradab. Marilah semua mendengar jeritan ini.

Jakarta, 18-12-2014


Notes

/1/ Baca beritanya dan lihat foto-fotonya di reportase James Rush, "Peshawar attack: Taliban release images of gunmen who killed 132 children as they claim massacre was justified", The Independent, 19-12-2014, pada http://www.independent.co.uk/news/world/asia/peshawar-school-attack-taliban-release-images-of-gunmen-who-killed-148-as-they-claim-massacre-was-justified-and-warn-of-further-violence-9930805.html.

/2/ Jika anda mau lihat foto-foto wajah-wajah anak-anak yang menjadi korban pembantaian dan beberapa guru yang juga ikut tewas, lihat reportase Simon Tomlinson dkk., "Faces of the innocents: Heartbreaking images show children massacred by Taliban in school horror attack", Mailonline, 17 December 2014, pada http://www.dailymail.co.uk/news/article-2877360/Innocents-massacred-studied-Utterly-heartbreaking-pictures-children-cut-Taliban-madmen-slaughtered-132-pupils-military-school.html.



Tuesday, December 16, 2014

Artificial Intelligence dan Moralitas

“Sejauh ini, bahaya terbesar Artificial Intelligence adalah bahwa manusia menyimpulkan terlalu dini bahwa mereka sudah memahaminya.” (Eliezer Yudkowsky)

“Pertanyaan apakah sebuah komputer dapat berpikir tidaklah lebih menarik dibandingkan pertanyaaan apakah sebuah kapal selam dapat berenang.” (Edsger W. Dijkstra)


Perkembangan dan kemajuan di masa depan dalam sains dan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan akan sangat mempesona, mengejutkan sekaligus juga menakutkan manusia. Menakutkan? Kenapa?

Jika AI dalam bentuk dan kemampuan super sudah bisa dihasilkan manusia, yang disebut Super-AI, maka Super-AI ini pada dirinya sendiri akan punya kesadaran-diri dan kemampuan untuk menyempurnakan dirinya sendiri setiap saat, berulang-ulang tanpa batas, secara eksponensial bergulung-gulung terus makin sempurna (kemampuan “recursive self-improvement” atau “recursive self-redesigning”), tanpa keterlibatan manusia lagi yang semula menciptakannya. Super-AI ini, yang memiliki kecerdasan jauh di atas kecerdasan manusia, akan menjadi Super-organism yang pada hakikatnya adalah organisme alien, dan memiliki kehendak bebas dan kemampuan tanpa batas dalam segala hal, termasuk menciptakan sendiri Super-AI lainnya tanpa batas. Era AI dan Super-AI disebut sebagai era singularitas oleh sejumlah pemikir (John von Neumann, Stanislaw Ulam, Vernor Vinge, Ray Kurzweil, dll).

Friday, December 12, 2014

Doraemon, dan blunder orang ateis!

“Sejauh ini, bahaya terbesar Artificial Intelligence adalah bahwa manusia menyimpulkan terlalu dini bahwa mereka sudah memahaminya.” (Eliezer Yudkowsky)

“Pertanyaan apakah sebuah komputer dapat berpikir tidaklah lebih menarik dibandingkan pertanyaaan apakah sebuah kapal selam dapat berenang.” (Edsger W. Dijkstra)


Adakah sosok Doraemon? Jelas ada, sebagai buah kegiatan-kegiatan seni kreatif dan fiktif yang dijalankan manusia. Pembuat gambarnya siapa, kita tahu, ya seorang manusia seperti kita. Pembuat kisah-kisahnya yang mitologis, sekaligus fictionally scientific, kita juga tahu. Siapa yang menampilkannya pada layar lebar, juga kita kenal. Doraemon ada sebagai sosok fiktif dalam dunia seni, seni menggambar, seni bercerita dan seni sinematografi. Lewat kerja kreatif tim Fujiko Fujio, sosok Doraemon kini dikenal dunia dengan sangat luas, bukan hanya milik bangsa Jepang. Dalam kehidupan banyak kanak-kanak sedunia, sosok Doraemon ada dan dialami dengan sangat real, bahkan menjadi pribadi kedua mereka. 



Kata teman ateis, ini Tuhan Doraemon!  

Tetapi sebagai organisme hidup seperti manusia, jelas Doraemon tidak ada sekarang ini. Tetapi nanti bisa ada dengan real dan hidup. Jika robot android yang berwajah dan bertubuh baja Doraemon sudah dibuat, lalu diberi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang serupa dan lebih tinggi dari kecerdasan manusia, maka sosok Doraemon akan ada secara empiris, hidup, berpikir, merasa, berkehendak, bertindak dan berjiwa seperti manusia, di samping memiliki sifat-sifat khas seorang Doraemon.

Apakah Doraemon sama dengan sosok Allah? Orang ateis bilang, ya Doraemon sama dengan sosok Allah, keduanya tidak ada secara empiris. Kata mereka, meminta orang ateis membuktikan ketidakberadaan Tuhan, sama dengan meminta orang membuktikan bahwa Doraemon tidak ada. Pendapat orang ateis ini, yang mereka ajukan untuk menutupi ketidakmampuan mereka untuk membuktikan Tuhan tidak ada, sesungguhnya tidak cerdas, sempit dan keliru. Kenapa? Dua alinea pertama di atas sudah menjawab; jawaban-jawaban lainnya berikut ini.

Friday, December 5, 2014

Remukkan sangkarmu!



Burung-burung ingin terbang bebas dan liar
Tapi manusia jahat menangkapi mereka
Lalu mengurung mereka dalam sangkar
Akhirnya matilah mereka karena tekanan jiwa

Angkasa luas membuat jiwa lapang
Sangkar-sangkar sempit menekan sukma
Mereka ingin keluar dari sangkar pengekang
Tapi mereka tak punya daya dan tenaga

Makanan dan air disediakan si empunya
Tapi kebebasan mereka telah direnggut
Selera makan mereka tak punya
Selera minum pun telah dibawa air hanyut

Jiwa dan tubuh makin lemah tersayat
Mata terus terkatup makin sipit dan rapat
Berdiri dan berjalan pun tak lagi kuat
Akhirnya mati teronggok sebagai mayat

Thursday, December 4, 2014

Burung dalam sangkar!


Apakah sekarang ini anda hidup bak seekor burung dalam sangkar, terkerangkeng oleh berbagai hal yang menghalangi anda untuk terbang bebas di angkasa? Banyak hal yang kerap memenjara manusia, batin dan akal manusia khususnya, misalnya doktrin-doktrin agama yang sudah beku, ideologi-ideologi, pemujaan kekayaan, ketamakan, rasa haus kekuasaan, kebebasan yang tak bermoral, keakuan tanpa batas, dan masih banyak lagi. Tetapi, sangkar terkuat yang sering mengurung seseorang adalah pikirannya sendiri yang dianggapnya sudah final.

Tuesday, December 2, 2014

Bagaimana rupa wajah Yesus yang sebenarnya?
Bule atau berkulit coklat hitam?

Menurut anda bagaimana rupa wajah Yesus yang sebenarnya? Berkulit putih, berambut panjang pirang dan berombak serta berbiji mata biru, seperti yang mungkin dipajang pada dinding kamar belajar anda? Aah, itu adalah wajah Yesus dari para pelukis Zaman Barok (Renaissance) di Eropa (abad 14 sampai abad 16), yang mula-mula merupakan salah satu dari sekian lukisan wajah Ceasare Borgia, seorang putera berkepribadian buruk dari Paus Aleksander VI (dikenal juga sebagai Rodrigo Borgia) (1431-1503). 

Ceasare Borgia yang wajahnya dijadikan model wajah Yesus Zaman Barok

Wajah Ceasare Borgia ini dilukis oleh Michelangelo Buonarroti dan Leonardo da Vinci atas permintaan ayahnya pada tahun 1492 (menurut sebuah catatan Aleksandre Dumes, Celebrated Crimes, jilid I). Loh, jika memang begitu, lantas wajah Yesus yang sebenarnya bagaimana? Ya, tentu anda penasaran, dan juga saya.  

Tidak sedikit peneliti yang menarik suatu kesimpulan bahwa wajah Yesus model Zaman Barok sebetulnya diambil dari wajah suatu dewa Mesir, yang bernama Serapis, yang dipandang mempunyai fitur-fitur gabungan dewa-dewa Mesir dan dewa-dewa Yunani. Pemodelan wajah Serapis sebagai wajah Yesus Kristus sudah terjadi jauh sebelum Zaman Barok, yakni ketika Kaisar Konstantinus Agung berkuasa (abad ke-4 M) dan menetapkan wajah Dewa Serapis sebagai wajah Yesus sang Kristus. Tentu, dalam hal ini, motif sang Kaisar adalah gabungan motif politik dan motif keagamaan lewat sinkretisme simbol-simbol religiopolitik.

 Wajah Dewa Serapis yang menjadi model wajah Yesus Kristus sejak abad ke-4 M

Sekarang kita masuk ke suatu usaha merekonstruksi wajah Yesus dengan memakai sains dan teknologi modern. Patung 3-Dimensi kepala dan wajah seorang laki-laki di bawah ini tentu tidak anda kenal, bukan? Perhatikanlah: dia berkulit gelap sawo matang dan sedikit hitam, berambut tebal, lurus, pendek, berkeriting kusut dan berwarna hitam, serta kedua biji matanya berwarna coklat. 

Anda perlu tahu, patung ini adalah sebuah patung kepala Yesus dari Nazareth yang dirancangbangun dengan suatu metode ilmiah oleh sebuah tim yang ditugaskan oleh TV BBC London dengan memakai bukti-bukti medis forensik, arkeologis, geografis dan artistik yang diperoleh dari abad pertama Masehi, masa kehidupan Yesus sendiri. Potret patung ini dipublikasi pertama kali secara khusus pada suatu acara tayangan TV BBC selama musim Paskah 2001, tayangan yang diberi judul Son of God. 

Gambar 1: Wajah Yesus menurut tim ilmuwan BBC. Ganteng!

Bentuk dan volume tengkorak patung ini dirancang dengan memakai sebuah model dari sebuah tengkorak laki-laki yang ditemukan di Israel, yang berasal dari abad pertama. Hal ini harus dilakukan sebab, seperti dijelaskan oleh tim BBC itu, “Kepala orang-orang Yahudi pada masa kini berbeda dari kepala mereka pada 2000 tahun lalu; karena itulah tim kami mencari sebuah tengkorak seorang laki-laki Yahudi dari masa kehidupan Yesus.”

Pengonstruksian patung kepala Yesus dari Nazareth ini sendiri ditangani oleh seorang seniman medis forensik Richard Neave dari Universitas Manchester. Salah seorang anggota tim BBC itu, Joe Zias, seorang arkeolog Israel, menyatakan, “Dalam merekonstruksi kepala ini, kami tidak mengklaim bahwa inilah persisnya wajah Yesus; tetapi kami mencoba untuk menyingkirkan semua citra buruk sekian banyak figur Yesus yang bukan-bukan, yang dilukiskan berambut pirang, bermata biru, yang menjadi ciri produk-produk Hollywood.” Jeremy Brown, presenter tayangan Son of God ini, berkomentar, “Yesus bukanlah seorang yang berambut pirang dan bermata biru, seperti yang sangat sering digambarkan dalam kartu-kartu Paskah. Citra yang kami telah bangun jauh lebih realistik.”

Kalau ditelusuri ke belakang, ternyata gambar-gambar wajah Yesus yang bukan gambar-gambar dari Zaman Barok cukup banyak tersedia, yang memperlihatkan Yesus bukan seorang kulit putih, berambut pirang dan bermata biru. Perhatikanlah beberapa gambar dan patung di bawah ini, yang lebih mirip dengan gambar patung Yesus dari Nazareth yang dihasilkan tim BBC di atas.

Gambar 2

Wajah Yesus berkulit gelap kehitaman dengan sepasang mata hitam di atas ini berasal dari sebuah gereja di Roma, dari kurun tahun 530 M. Gambar ini sama sekali tidak mirip dengan gambar wajah Yesus Zaman Barok manapun yang dilukis jauh lebih kemudian.

Gambar 3

Patung seorang perempuan di atas ini terkenal sebagai Black Madonna, Bunda Maria Hitam, yang sedang memangku kanak-kanak Yesus yang tentu saja juga berkulit hitam. Patung ini bukanlah patung-patung yang dibangun di zaman modern untuk mempropagandakan Teologi Hitam sebagaimana dihayati banyak orang Kristen kulit hitam di Afrika maupun di Amerika Utara oleh orang-orang Amerika kulit hitam modern. Patung-patung Madonna Hitam semacam ini, ada yang dibuat dari kayu dan ada juga yang dari batu, jumlahnya sampai lima atau enam ratusan lebih dan dibuat pra-zaman Barok, pada zaman Abad Pertengahan (abad ke-11 sampai abad ke-15), dan sekarang ini tersebar di banyak gereja, kuil, tempat suci dan museum di banyak kota di Eropa Barat, mula-mula dibuat di Italia pada abad ke-13 atau abad ke-14. Mengapa keduanya berkulit hitam? Salah satu penjelasan yang paling masuk akal, sebagaimana dipertahankan banyak peneliti, adalah bahwa Black Madonna menampilkan warna kulit yang sebenarnya dari Bunda Maria dan puteranya, Yesus.

Gambar 4

Perhatikan raut wajah Yesus dari Ethiopia abad ke-17 atau abad ke-18 pada gambar di atas ini. Kulit wajahnya berwarna sawo matang, dengan rambutnya hitam kelam tebal dan sepasang biji matanya berwarna hitam. Wajah Yesus Ethiopia abad ke-17 ini sama sekali tidak mirip dengan wajah bule Yesus Zaman Barok.

Gambar 5

Di atas ini adalah sebuah lukisan wajah Yesus berkulit gelap, berambut hitam tebal kusut dan bermata hitam, dari tahun 1960. Wajahnya hampir serupa dengan wajah Yesus yang dibangun oleh tim BBC di atas. 

Apa kesimpulan yang bisa ditarik? Ya, tidak lain, bahwa wajah Yesus berkulit putih, berambut pirang panjang dan bermata biru, Yesus Zaman Barok, bukanlah wajah asli Yesus dari Nazareth. Dan, tentu saja, orang Kristen yang sudah terbiasa berpaling ke Eropa untuk mencari sumber-sumber kekayaan dogmatis dan spiritual mereka akan sangat tidak menyukai sang Yesus yang berkulit gelap sawo matang, berambut hitam pekat, pendek dan agak kusut, serta berbijimata coklat, seperti yang telah berhasil direkonstruksi oleh tim BBC. 

Bagi orang-orang Kristen ortodoks Eropa, termasuk orang-orang Kristen ortodoks Indonesia, Yesus dari tim BBC ini sungguh tidak membahagiakan, sungguh suatu ajaran yang heterodoks dan karenanya patut ditolak. Yesus heterodoks dari tim BBC ini sangat membuat mereka merasa diserang dan dilukai, persis sama dengan perasaan orang-orang Farisi ketika mereka melihat Yesus dari Nazareth sedang duduk dan makan semeja dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, padahal sang rabi informal ini boleh dikata sama pekerjaannya dengan mereka sebagai guru-guru masyarakat. Tetapi, orang harus tidak boleh lupa, di dalam heterodoksi kebenaran malah sering lebih kentara ada, ketimbang di dalam ortodoksi. 

Pujangga yang juga dikenal sebagai penulis dan filsuf kebangsaan Inggris, G. K. Chesterton (1874-1936), berkata, “Filsuf modern mengatakan kepadaku berulang-ulang bahwa aku berada di tempat yang benar, namun aku tetap merasa sangat tertekan sekalipun diam-diam aku setuju. Tapi ketika sebelumnya aku mendengar bahwa aku berada di tempat yang salah, malah jiwaku bernyanyi gembira bak seekor burung di musim semi.” Jadi, berbahagialah dan bergembiralah mereka yang berani heterodoks dengan terpelajar!

Lalu, apa makna rekonstruksi ilmiah wajah asli Yesus itu bagi saya, dan bagi anda juga? Bagi saya, temuan ini membuat saya berbahagia sebab telah ditunjukkan kepada kita bahwa Yesus dari Nazareth ternyata adalah bagian dari umat manusia yang memiliki kulit berwarna, seperti kulit saya, bukan bagian dari mereka yang berkulit putih. Kenyataan ini bisa meningkatkan penghayatan persekutuan kita masing-masing dengan sang Tuhan gereja ini. Yesus ternyata bukan orang Barat, tapi orang berkulit sawo matang, dengan wajah non-Barat. 

Anda yang menjadi kecewa dengan wajah sebenarnya Yesus (keluh anda, Kok wajah Yesus begitu ya!) mungkin sekali akan menghibur diri; kata anda, Wajah tidak penting. Yang penting adalah ajaran-ajaran Yesus! 

OK, ajaran-ajaran Yesus tentu penting. Tapi bagi saya, mengetahui wajah Yesus dan ajaran-ajaran Yesus, sama-sama menarik dan signifikan. Ini hanya bisa dialami dalam gereja-gereja Kristen, yang sama sekali tidak melarang warga mereka untuk menggambar wajah-wajah Yesus yang beranekaragam, sejalan dengan kemajemukan watak, ciri dan sistem sosiokultural and sosioantropologis yang di dalamnya perenungan-perenungan tentang siapa dan bagaimana sosok Yesus itu dilakukan dengan serius

Wajah Yesus yang sebenarnya kini, lewat rekonstruksi ilmiah, berhasil diketahui, sampai kita nanti mendapatkan sebuah rekonstruksi lain hasil kajian tim-tim yang lain. Mengenal dan menjumpai Yesus, sesungguhnya tidak pernah selesai. Dia tidak bisa dikuasai siapapun.  

Tapi, hemat saya, sejauh yang dipakai adalah ilmu pengetahuan dan metode ilmiah, hasil-hasil rekonstruksi wajah asli Yesus oleh siapapun tidak akan berbeda jauh satu sama lain. Hanya ada satu wajah asli sosok Yesus dari Nazareth, tetapi ada banyak dan beranekaragam perenungan tentang siapa dan bagaimana sosok Yesus sang Kristus, yang dengan dinamis terus dilakukan dari zaman ke zaman, dan dari tempat ke tempat

Hanya ada satu sosok Yesus sejarah, tetapi ada banyak perenungan dan kepercayaan tentang siapa dan bagaimana Yesus itu bagi orang yang hidup di zaman-zaman lain dan di tempat-tempat yang berbeda. Perenungan dan kepercayaan ini kita namakan kristologi atau doktrin atau ajaran atau dogma tentang siapa dan bagaimana Yesus ketika sosok historis ini sudah tidak ada dalam dunia, tetapi tetap disembah dalam gereja-gereja sebagai sang Kristus dan Tuhan. Fakta ini biasa diungkap begini: There is only one historical Jesus, but there are so many Christs of faith!

Kristologi-kristologi tidak akan berakhir dicari dan diartikulasikan, lewat banyak tulisan, banyak syahadat, dan lewat gambar-gambar dan patung-patung yang terus diciptakan! Ingatlah, kristologi bukan sejarah meskipun berfondasi pada sosok faktual Yesus dari Nazareth yang pernah hidup dalam sejarah, di abad pertama Masehi di Tanah Yahudi yang sedang dijajah Imperium Romawi.  

Semua orang Kristen diberi kebebasan untuk merumuskan sendiri kristologi masing-masing. Dalam hal ini, kekristenan sudah dewasa. Supaya kristologi yang dihasilkan sehat dan bertanggungjawab, tidak serampangan dan hanya untuk melayani kepentingan dan ketamakan diri sendiri, tentu ada sejumlah kriteria yang perlu dipenuhi. Tentang kriteria kristologis ini, sudah pernah saya tulis juga. Saya mendaftarkan dua belas poin kriteria yang perlu dijadikan pemandu dalam usaha-usaha merumuskan kristologi-kristologi yang setia pada sosok Yesus dari Nazareth sekaligus relevan dengan zaman dan dunia yang terus berubah. Bacalah di sini. 

by Ioanes Rakhmat
02 Desember 2014