Saturday, November 22, 2014

Fideisme, ada. Saintisme, tidak ada!

Tangga menuju sorga di langit atas, tentu hanya ada dalam iman, alias ada hanya dalam angan-angan!

Apa itu fideisme? Dari kata Latin “fides” (artinya: iman/kepercayaan) yang ditambah isme, fideisme adalah suatu sikap mental, sekaligus ide atau ideologi, yang menganggap iman keagamaan berada di atas segala-galanya, bahkan di atas semua fakta sains.

Orang yang bermental fideis, dalam setiap perbedaan pendapat, akan dengan kepala batu berkata, Pokoknya gue mau percaya begini apapun kata loe! Pokoknya gue percaya iman gue paling benar, tidak pernah bisa salah, persetan dengan fakta-fakta ilmiah! Pokoknya gue mau percaya begini, apapun kata semua orang, sampai dunia kiamat, dan gue akan pasti ketemu Tuhan yang akan bela gue nanti!  

Jangan harap anda bisa mengubah mental dan pikiran setiap orang fideis. Tentu kita harus bersyukur jika seorang fideis berubah, menjadi terbuka pada pandangan-pandangan saintifik, dan menjadi ramah dan mau berdialog. Berubah tidak lagi nyinyir dan nyolot kalau bercakap-cakap dengan orang lain yang berbeda. Tetapi, mustahil berharap mereka akan berubah drastis seperti ini. Allah sendiripun yang mahatahu dan mahabijaksana bisa jadi sudah kewalahan dengan setiap fideis.

Apa itu saintisme? Dari kata Latin scientia (Inggris: science; artinya: ilmu pengetahuan, atau sains) yang ditambah isme, saintisme (Inggris: scientism) diartikan para fideis sebagai suatu sikap mental dan ide atau ideologi yang dianut para saintis, yang membuat para saintis bermental sama dengan mental para fideis dan memiliki asumsi yang sama dengan yang dipegang para fideis tetapi berlaku dalam dunia sains. Itu kata para fideis. 

Thursday, November 20, 2014

Puisiku: Namamu Siapa?


My mystical poem


Aku ini bak seorang bocah tanpa ayah dan ibu
Bagaimana aku bisa ada dalam dunia ini?
Siapakah ayah dan ibuku?
Apakah engkau orangtuaku sejati?

Jawablah aku!
Jawablah aku!
Jangan engkau terus kelu membisu
Sudah berlaksa tahun terus kumenunggu

Apapun rupa dan wujudmu
Tak bernama sekalipun engkau
Entah di manapun tempat tinggalmu
Aku selalu dirundung rindu kasih sayangmu


Bak seorang remaja yang sedang kasmaran
Kugubah puisi-puisi cinta bagi sang perawan
Dalam akalku engkau terus ada tak tertahan
Waktu merambat begitu pelan

Hari itu kaulambaikan tangan-tanganmu
Memanggilku untuk mendekatmu rapat-rapat
Engkau bentangkan ribuan lenganmu untukku
Kitapun saling memeluk rapat dan erat

Kasih sayangmu tak terbendung tak tertahan
Pintu-pintu waduknya telah terbuka lebar-lebar
Membanjirlah cintamu tak tertahan
Kuberenang di dalamnya mondar-mandir

Terlebur aku menyatu dalam cinta yang teduh
Aku adalah engkau dan engkau adalah aku
Satu tubuh, satu akal, satu ruh
Waktu dan ruang berangkulan menyatu

Realitas ruang mewahyukan diri
Jagat raya memperanakkan jagat raya lain
Atom menjadi dawai yang bervibrasi
Materi dan kesadaran berdansa senada violin

Sang Ada dan Sang Tak-Ada menjadi satu
Mendentum dengan kekuatan mahadahsyat
Jagat raya ada dari ketiadaan segala sesuatu
Mengembang dahsyat dan terus melesat cepat

Oh, engkau yang dahsyat, siapakah namamu?
Berilah aku namamu tentu jika kau suka
Bukankah kita dalam cinta sudah menyatu?
Bukankah kita kini berdansa senada biola?

Dengan senyap engkau menyahut pendek:
“Namaku Sang Quantum!”
Bergetar seluruh planet Bumi kaget tersentak
Nama itu menyimpan misteri sangat dalam

Akupun menemukan diriku lagi
Sebagai sang bocah tak berayah dan tak beribu
Tapi kini aku tak sendiri lagi tak sunyi lagi
Oleh Sang Quantum segalanya satu denganku

Aku adalah engkau
Engkau adalah aku
Aku adalah dia
Dia adalah aku juga

Aku adalah atom
Engkau adalah molekul
Aku adalah partikel
Engkau adalah atom

Partikel dan gelombang dua sifatmu
Yang satu materi, yang lain kesadaran
Keduanya satu dalam cinta yang teduh syahdu
Berdansa dan bergetar seirama akordion

Cerahkan aku, cerahkan aku, terus!
Perahuku tanpa lelah terus kukayuh
Menuju langit tinggi tanpa batas terus terus
Sampai jagat raya kembali luruh

Dalam singularitas semua kembali bertemu
Menghimpun lagi kekuatan dari segala wujud
Siap mendentum kembali tak pernah ragu
Sang Quantum wujud dari segala wujud

Berenang-renanglah di dalam dia!
Dalam kolam-kolam lubang-lubang hitam
Aku tersedot melawan tak bisa tak berdaya
Saat itulah aku terbebaskan di malam hitam kelam


Tidak lagi mencari, tidak lagi dicari
Tidak lagi menjawab, tidak lagi bertanya 
Tidak lagi bergerak, tidak lagi berhenti
Semuanya ada, dan semuanya tidak ada 

Jakarta, 20 September 2014
Ioanes Rakhmat

Monday, November 17, 2014

Sciences and Values

by Ioanes Rakhmat **

(A version of this article has been published in the journal Kanz Philosophia, Volume 4, Number 1, June 2014, pp. 116-124.) 


“The split between facts and values―and, therefore, between science and morality― is an illusion.” ― Sam Harris

“Science has no methods for deciding what is ethical.” ― Richard Dawkins

There are many roads to arrive at the City of Virtue. Choose the best one and travel it thankfully! ― The Quiet


Introduction 

Human beings first appeared on Earth 300.000 to 400.000 years ago,/1/ much older than the birth of the oldest (natural) religion so far as science can show. According to the latest archaeological findings, the oldest religion was constructed 70.000 years ago among Basarwa people in Botswana, Ngamiland, South Africa. In this religion, a great python made present via its big and long statue or image or tablet is worshiped, and the worshipers regularly await its wise sayings uttered via a human channel to direct and rule their daily simple life./2/

If ancient humans could live for such a long time (230.000 to 330.000 years) without having any religions, we can reasonably assume that they had secular morality which gave them directions in controlling their life. Without morality that rules, any societies across space and time cannot live and survive for a long time.

But, what are the sources for the secular morality that ancient humans built, developed and applied? Ancient humans used, of course, their mind, knowledge, life experiences, and intuition, to produce secular ethics sufficient to regulate their simple life.

If ancient humans were able to live morally even though they had no religions, we in the modern era are able too even more. Using our modern sciences, mind, life experiences, and intuition, we too can construct secular moral views regarding everything to direct us in our complex lives.

Sciences help to construct secular ethics, i.e. ethics constructed not from religious texts but from scientific views of the good and the bad. But, can sciences give you moral views about everything in the world? Absolutely! 


An Illusion 

The separation of moral values and sciences is an illusion resulting from the incorrect view that only religions can produce morality. It is said wrongly that sciences concern only with facts and theories, not with values; only religions are able to deal with values. Stephen Jay Gould, in his book Rock of Ages, presents this view: 
“Science tries to document the factual character of the natural world, and to develop theories that coordinate and explain these facts. Religion, on the other hand, operates in the equally important, but utterly different, realm of human purposes, meanings, and values―subjects that the factual domain of science might illuminate, but can never resolve. Similarly, while scientists must operate with ethical principles, some specific to their practice, the validity of these principles can never be inferred from the factual discoveries of science.”/3/
In harmony with Gould, the evolutionary biologist Richard Dawkins, in his book A Devil’s Chaplain, states (in his memo to Tony Blair) that 
“Science has no methods for deciding what is ethical…. Science cannot tell you whether abortion is wrong…. Science cannot tell you whether it is wrong to clone a whole human being…. Science cannot tell you whether stem cloning for ‘spare parts’ is wrong…. Science cannot tell you whether it is right to kill ‘Mary’ to save her conjoined twin ‘Jodie’”./4/
Dawkins could be wrong if we consider the cases he presents circumstantially or contextually. Science can tell you, depending on the specific circumstances, whether abortion is right or wrong. Science can tell you, depending on the specific contexts, whether it is wrong or right to clone a whole human being. Science can tell you too, depending on the specific situations, whether stem cloning for ‘spare parts’ is right or wrong. Science can convince you too, depending on the specific circumstances, whether it is right or wrong to kill ‘Mary’ in order to save her conjoined twin ‘Jodie’.  I am going to argue for this positive or affirmative role of science in ethical realms. 

The view of, e.g., Gould and Dawkins, is illusory. This illusion is to be removed from our modern consciousness once for all. In his recent book The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values the neuroscientist Sam Harris states that “the split between facts and values―and, therefore, between science and morality― is an illusion.”/5/ In her book Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality, Patricia S. Churchland writes that “from the perspective of neuroscience and brain evolution, the routine rejection of scientific approaches to moral behavior based on David Hume’s warning against deriving ought from is seems unfortunate, especially as the warning is limited to deductive inferences.”/6/ Nevertheless, in a positive acceptance of Hume’s naturalism, she affirms that “naturalism… finds the root of morality in how we are, what we care about, and what matters to us―in our nature.”/7/

Overall, Churchland employs the interdisciplinary approach to discover the root of moral values in the human life. She writes, “By drawing on converging new data from neuroscience, evolutionary biology, experimental psychology, and genetics, and given a philosophical framework consilient with those data, we can now meaningfully approach the question of where values come from.”/8/ She concludes that “morality can be, and is, grounded in our biology, in our capacity for compassion and our ability to learn and figure things out.”/9/


Goddess Saraswati, the symbol of unity of sciences, arts, beauty, prosperity, and values in Hinduism


Let’s start with humans 

Does science really concern with moral values? Yes, it does. I can argue for it via real examples which I can think about so far myself.

To begin with, you should remember that moral values exist not in heaven that you are going to apply after death, but in this world, in the realities of our daily lives, and are therefore part of the natural realities explorable and analysable by sciences.  Let’s start with humans.

How about a good man and a bad man? A good and kind man is not only a moral or ethical man, but also a real man, a factual man, in short a fact that is explorable, explainable, analysable and distinguishable by science. A bad and evil man is not only an immoral man, but also a real man, a factual man, in short a fact that is explorable, explainable, analysable and distinguishable by science too. Scientists, therefore, know what you exactly mean by a good and kind man and by a bad and evil man respectively. These two types of men are distinguishable by science, both social sciences and psychological and neurobiological sciences. Consequently, science does concern with moral values embedded in any facts it explores, explains, analyses, and distinguishes.

Another example will make it clearer. Suppose you have a tumor growing steadily in your brain. As scientists, your physicians know well not only about your growing tumor as a fact in your brain that makes you feel a terrible pain every day in your head; they too know well about the consequences that will arise from the tumor to your behavior and personality. Very likely, the tumor will change your mental, making you gradually either a temperamental people or, at last, a psychopath. This final condition of your mental health is not only a psychological or biological problem, but also a value problem of your remaining life. Knowing that this condition is bad not only for your biology but also for your meaning of life, your physicians of course will try hard to cure you by removing the tumor from your brain with great care. The surgery and the meaning and value of your remaining life interact. 

Don’t forget that sciences that you have make you an intelligent, smart and thoughtful human being. Being intelligent, smart and thoughtful is a value, a priceless value, that sciences give to you. 


The problem is not God 

It is clear then that science has many things to do with moral values. Yes, of course, religions give us moral values too; but these religious values were constructed long ago and become presently more and more irrelevant to the modern questions. Insofar as ancient religious moral values are still relevant to the modern era, they can be used with great cautions to rule and direct our lives. If ancient religious moral values are clearly irrelevant to the modern questions, we should not use them any longer to direct our lives. Whether God exists or not, is not the problem.

The real problem is not about God, but about ancient religious moral values our ancestors constructed that are not relevant any longer to the modern era. This problem should be solved intelligently, not foolishly. Modern questions, therefore, should be dealt with modern ways of thinking, living and behaving. Making our lives meaningful and creatively responsive to the modern challenges is much more important than maintaining old religious moral values that are clearly irrelevant. I like what Arthur C. Clarke has said that “the greatest tragedy in mankind’s entire history may be the hijacking of morality by religion.”/10/ In order to know about the good and the bad, you, then, firstly should use your mind, not religious texts, to weigh and evaluate all the ethical options at your disposal.

Religious texts, or religions in general, of course can still be useful and beneficial in guiding us to take moral decisions in our daily lives. Despite that fact, we, however, cannot judge that non-religious believers cannot live a moral life. Let me at this moment refer to a recent empirical research of morality that employs a method known as “ecological momentary assessment”. 

Through this method of analysis, 1,200 participants are asked to self-report honestly and accurately their responses to daily problems in taking moral or immoral decisions in their daily real contexts. This study’s use of smartphone technology allows for a more ecologically valid picture of what kinds of moral events and situations people actually encounter outside the lab. 

In this study the researchers discovered a surprising fact that religious people are no more moral—or immoral—than non-religious people. Whether or not we believe that divine precepts give us guidance, our behavior is remarkably similar. People who don’t fear that justice will be meted out in an afterlife are apparently no more vicious, cruel, or licentious than a believer. In short, religion doesn’t make our everyday lives more moral./11/ 

If we cannot live our lives in accord with God or with any noble moral values, we should question not our Gods, because the problem is not God(s). Instead, in this regard, we should check seriously the way we treat our brains, because our religious lives are hard-wired to the types of the workings of the neurons in our brains. The psychiatrist J. Anderson Thomson, Jr., in his book Why We Believe in God(s), elaborates the neurological nature of all religious life. He states: 
“Like religious ideas and beliefs, religious rituals are by-products of mental mechanisms originally designed for other purposes. Rituals maintain, transmit, and propagate belief across time and space. We have seen how vulnerable the individual mind is to generating, accepting, and believing religious ideas. If the process stopped there, religious belief might be loosely held. But, by mobilizing powerful brain chemicals that arouse intense emotional experiences and give rise to feelings as diverse as self-esteem, pleasure, fear, motivation, pain relief, and attachment, ritual creates a whole far stronger than the sum of its parts. The group nature of ritual takes individual minds already primed for belief and throws them into a continuous loop of mutual enrichment, creating a volatile congregation of conscious and unconscious forces…. With no knowledge of neurochemistry, somehow our ancestors stumbled upon combinations of activities that could stimulate and boost serotonin, dopamine, epinephrine, norepinephrine, oxytocin, and the endorphins, creating brain activity unique to those combinations. And that is the key to understanding the enduring place of rituals in all cultures because, literally, there is nothing else like them. …The religious rituals invented by our ancestors captured our chemistry in a singular uniquely human way that tied people together and facilitated social bonds.”/12/ 
God and the human brain are therefore interconnected: God can change our brains, and our brains can change God too. How God changes your brain, is as important as how your brain changes your God.


Humans and non-humans 

Genetically considered, we have a natural cognitive capacity to know about moral values. As science has shown, mammals and other primates nearest to our own species have natural capacities to behave morally when dealing with their internal (or in-group) and external (or out-group) fellows./13/ Humans received the neural capacity to think and behave morally partly from other primates preceding our own species in our evolutionary history./14/ In this regard, Churchland states that “that nonhuman mammals have social values is obvious; they care for juveniles, and sometimes mates, kin, and affiliates; they cooperate, they may punish, and they reconcile after conflict.” She agrees that the social behavior of baboon and bonobo is much closer to our own./15/

This human cognitive capacity for choosing moral values can be called, if you wish, conscience that should be trained and educated to grow gradually to maturity, from childhood to elderliness. Concerning conscience, Churchland opines that its neurobiological basis “takes form during brain-gene-environment interactions as the child begins to live its social life; it seems to be more like auditory imagination, aided by visual imagination of the consequences of a choice, generated by the brain as it exercises its problem-solving capacity, rather than like the pure pronouncements of brain-independent, metaphysically separate Platonic storehouse of moral knowledge.”/16/ 


Sciences and values 

If we define morality as the correct and responsible way of acting and behaving in a certain reality of life, science can show you this way clearly. All sciences are intelligent human enterprises to understand, explain, theorize, control and deal with the realities of our lives and nature as a whole.

Because sciences focus to life realities and nature, they can know about the multiplicity of situations and conditions of life and nature. Scientists, then, using their sciences, five senses, critical mind, and technological instruments, can weigh everything to arrive at morality, at values, at knowledge about the good and the bad for our real lives.

From life experiences, past and present, we can learn a lot of things about moral values as these experiences are evaluated critically. Critical histories are the good teachers for us to know about the good and the bad for human lives, the Earth, and the future of our civilizations. We have the science of history as part of our college curriculum. This science offers us extremely valuable values of living and acting prudently in the present and for the better future.

Evolutionary science, starting with Charles Darwin (as well as Herbert Spencer), is one of the natural and biological sciences that very clearly shows the biological interconnectedness and relatedness of all the organisms living on Earth due to the gradual and accumulative long biological evolution by “natural selection.” If this “biological interconnectedness” is translated into the realm of values, it is correct to say that evolutionary science tells us that we humans and all the other organisms are siblings, though we humans and other primates have clearly different physiological and anatomical structures in comparison to other non-primate and non-animal organisms. Concerning humans, evolutionary science tells us that we humans are brothers and sisters irrespective of our different racial, ethnic, tribal, social and cultural backgrounds.

This “message of relationship” among all the organisms that evolutionary science offers us is one of the noble values that sciences can give us, especially in our currently divided and broken world. This message of relationship is therefore the message of reconciliation too. We should respond to this message of peace and brotherhood among all the organisms by loving all the animals, all the plants, and all the human beings, even the Earth as well. This message as one of life values, in turn, has given birth to environmental science which studies our global and local environments for the goodness of all organisms, especially humans, living on this planet. 

I should nevertheless emphasize that the evolutionary science gives us the message of relationship―and thereby the message of reconciliation among all the organisms―only upon my personal “deep” reflection, given the fact that biological evolution by natural selection as such has no moral values altogether, even sometimes takes place in many cruel and harsh ways. Only at the “deep structure” of evolutionary languages can we find these moral messages. A deep structure is a structure that is freed from its actual and historical context, a structure that conveys deep philosophical meanings of any surface languages.

Seen from that deep-structure point of view, I cannot agree fully with Jerry A. Coyne when he, in his book Why Evolution Is True?, writes this: 
“How can you derive meaning, purpose, or ethics from evolution? You can’t. Evolution is simply a theory about a process and patterns of life’s diversification, not a grand philosophical scheme about the meaning of life. It can’t tell us what to do, or how we should behave…. Most of us do need meaning, purpose, and moral guidance in our lives. How do we find them if we accept that evolution is the real story of our origin? That question is outside the domain of science.” 
Coyne underlines that “evolution is neither moral nor immoral.” However he can still say this, “But evolution can still shed some light on whether our morality is constrained by our genetics. If our bodies are the product of evolution, what about our behavior? Do we carry the psychological baggage of our millions of years on the African savanna? If so, how far can we overcome it?” But most importantly, Coyne can find two values evolutionary science clearly offers us, that is, firstly, it liberates our mind so that we can realize that human beings may be only one small twig on the vast branching tree of evolution, nevertheless we are a special animal. And, secondly, it makes us proud of our nature as the only species that has figured out how we came to be, that has a brain complex enough given by natural selection to comprehend the laws that govern the universe./17/ 

In addition, if we consider the genetic region of all living beings, we find another unifying value that evolutionary science gives us. It has been known by scientists that in the chromosomal region of all living organisms, the regulatory gene called ALX1 unites all of life on Earth even though this gene is subject to natural selection. This gene encodes a peptide that switches other genes on and off by binding them to their regulatory sequences. This knowledge of the genetic foundation of evolution, including of how genes can flow from one species to another, and of how different versions of a gene within a species can contribute to the formation of entirely new species, has been reported in the journal Nature by researchers from Princeton University and Uppsala University in Sweden./18/
This gene encodes a peptide that switches other genes on and off by binding to their regulatory sequences.

Read more at: http://phys.org/news/2015-04-darwin-finches-highlight-unity-life.html#jCp
This gene encodes a peptide that switches other genes on and off by binding to their regulatory sequences.

Read more at: http://phys.org/news/2015-04-darwin-finches-highlight-unity-life.html#jCp
This gene encodes a peptide that switches other genes on and off by binding to their regulatory sequences.

Read more at: http://phys.org/news/2015-04-darwin-finches-highlight-unity-life.html#jCp


Artistic and aesthetic values 

We live not only in the realm of moral values. In life, we need various forms of art too, e.g., painting, drawing, sculpture, photography, architecture, music, poetry, theater, performance, play, literature, symbolism, metaphor, dance, etc. They give us artistic and aesthetic values: beauty, charm, grandiosity, a sense of transcendence, gratitude, consolation, amusement, pleasure, happiness, excitement, serenity, peace, tranquility, creative imagination, cognitive and affective drive, etc. 

These values are very important for our lives; they make our lives more meaningful, our happiness fulfilled, our motivation strengthened, our purpose in life broadened, our search of meaning completed, our feeling and emotion satisfied, our soul stimulated, our feeling of loneliness disappear, our sense of transcendence realized, our feeling of unity with all deepened. Of course arts should appeal to us first through our five senses; but that doesn’t mean that an artwork, a painting for example, has to be gorgeous to be good and entertaining, but it must grab our eyes in an impressive way.  

As we all already know, our universities have the faculty of arts and humanities or the faculty of arts and culture that runs artistic and aesthetic academic education for students to enable them to disseminate artistic and aesthetic values to our societies. Talent (1 %) and academic education (99 %) will eventually make them brilliant artists. It is no exaggeration to say that everyone in our societies is interested in some artistic and aesthetic works in various manners. 

Art is very important to Albert Einstein. He expresses his own feeling beautifully, “If I were not a physicist, I would probably be a musician. I often think in music. I live my daydreams in music. I see my life in terms of music…. I cannot tell if I would have done any creative work of importance in music, but I do know that I get most joy in life out of my violin.”/19/ Friedrich Nietzsche says, “Without music, life would be an error, a hardship, an exile.”/20/ Pablo Picasso sees “the purpose of art is washing the dust of daily life off our souls./21/ 

It is clear then that artistic and aesthetic sciences developed in our universities give us values of paramount importance for our lives generally. Ally Leung correctly states that “art can be a great source of pleasure in our lives,… even a passing acquaintance with art can enrich and deepen our understanding of the world around us.”/22/ It should however be noted, as Dustin Wax has reminded us, that some artists could go out of their way to inspire strong reactions ranging from awe and lust to anger and disgust./23/ I nevertheless do hesitate to consider this as the bad side of the world of art, due to the fact that the value of any form of arts is partly dependent on our subjective perceptions. 


Intuition 

Yes, we too could know about the good and the bad for our lives intuitively, that is, via instinctive knowledge appearing suddenly in our mind. Intuitive knowledge is not a magical knowledge, because it arises from certain workings of the neurons in our brains in response to our physical activities and experiences. About intuition, Albert Einstein writes, “A new idea comes suddenly and in a rather intuitive way, but intuition is nothing but the outcome of earlier intellectual experience.”/24/

Nevertheless, our intuitive knowledge should be critically evaluated by our critical mind and sciences to make it positively usable for our lives and correctly lead our lives to the good. Why? Richard Carrier says that “intuition is very handy, but also quite fallible”, and he sees reason is superior to intuition because “while intuition can learn from its mistakes, reason can avoid them before they are ever made. And while intuition cannot tell if it is correct, reason almost always can.”/25/ 

Given the fact that many ancient religious moral values are not relevant any longer to the modern era, we presently need to construct secular morality via several ways: our mind, sciences, life experiences past and present, and intuition. 


Goodness and compassion 

Some people maintain that all moral decisions must be based on goodness alone to become good moral decisions. They would say that goodness is desirable in and of itself, and that they do good because they want to be good persons, or they want to create and embody the moral values and ideals they believe to be good./26/

We however cannot use goodness as the only criterion to be applied when we should take moral decisions, because goodness is actually a cultural idea whose definition is broadly dependent on our religious and cultural assumptions. I am sure not everyone will agree with Nietzsche’s definition of the good; he writes, “What is good? Whatever augments the feeling of power, the will to power, power itself, in man.”/27/ 

So, do you still think that “goodness” is a neutral moral quality? No! Goodness according to an American New Yorker is different from goodness according to an American Indian. Goodness for an Aborigine differs from goodness for a white Australian. Goodness for an atheist is not the same as goodness for a Christian or for a Muslim or for a Jewish man. You can refer to other cases in relation to morality to show that all moral options are bound to certain sociocultural and anthropological and historical contexts. No moral options are neutral or do exist in vacuum. No moral options are souls without bodies, or bodies without souls.  

Metaphorically speaking, to enable you to live morally, you require both the H2 of your historical and cultural context and the O of a value option, and then smartly combine and interconnect both of them to make fresh living water H2O. To be sure, even though moral values are particular cultural ideas, we still can construct global moral values via global consensus, global moral values that are dynamic and change in the course of time. 

Other people contend that moral decisions should be grounded solely on compassion to become responsible moral decisions. Arthur Schopenhauer, for example, maintains that “it is this Compassion alone which is the real basis of all voluntary justice and all genuine loving-kindness. Only insofar as an action springs therefrom, has it moral value; and all conduct that proceeds from any other motive whatever has none.”/28/ His Holiness the Dalai Lama agrees with this when he states that “from our common experience of being born from a mother and basking in her care and attention, we learn the value of affection for others. This gives rise to peace of mind. Similarly, we can teach people how to be happy on the basis of secular ethics, that a compassionate mind is useful and beneficial and entirely secular in nature.”/29/ 

Even though compassion is a precious human psychological capacity that generally makes our courses of action great and noble, it is nevertheless a cultural idea too whose definition is broadly determined by our cultural and religious assumptions and life contexts. Consequently, we cannot entirely rely only on compassion when we should make moral decisions. 


Conclusion 

Life values you hold essentially determine your life meaning and purpose; we should say that life values and life meaning and purpose interact. Prof. Gleb Tsipursky at Ohio State University on the one hand acknowledges that religion can be one among many channels to help someone gain a sense of life meaning; but, on the other hand, he advises us by saying, So use science to find your purpose!”/30/ 

However, we should acknowledge that the combination of great life values offered by religions and the scientific understanding of the natural world will help us a great deal in obtaining and defining the meaning and purpose of our lives. And remember too that the natural world itself contains so many priceless lessons that certainly can make us wiser and wiser in carrying out our daily life insofar as we want to learn from it.     

Please note, that I consider atheism as neither an ethical system nor that all atheists are people of great morality given the fact that atheism currently has given birth to so many militant and fundamentalist atheists, especially in the New Atheism movement.    

It is obviously not easy for us presently, living in the multidimensional modern world, to take responsible moral decisions and to opt for virtuous values that together will make our lives and courses of action noble, as well as beneficial, purposeful, meaningful and constructive for our fellow beings, other organisms, the Earth, and the universe as a whole. 

In the final analysis, to arrive at sound and accountable moral decisions, we consequently should apply critical interdisciplinary approaches, involving so many realms of life, abundant knowledge, social and cultural heritages, plentiful wisdom and philosophies of life, the wonders of the natural world, as well as our rich collective experiences in becoming humans past and present. 


Notes 

/**/ The author of this writing is the researcher mostly of the issues of the relationship between sciences and religions. Presently he focuses his attention on reforming and deconstructing a lot of religious doctrines to make religions still relevant and significant in the modern era shaped mostly entirely by modern sciences and technology. He has written a number of critical books concerning this field of research.

/1/ The dating is determined on the basis of the archaeological findings of the mitochondrial DNA extracted from the fossil of a 400.000 year-old femur discovered in Spain in the cave called Sima de los Huesos (meaning, “Hole of Skeletons”). See the report of this discovery by Matthias Meyer, Qiaomei Fu, et al., “A Mitochondrial genome sequence of hominin from Sima de los Huesos”, Nature (2013) doi:10.1038/nature 12788, published online 04 December 2013 on http://www. nature.com/nature/ journal/vaop/ncurrent/full/nature12788.html. The review of this findings by Carl Zimmer is available online: “Baffling 400.000-Year-Old Clue to Human Origins”, The New York Times Science, 04 December 2013, http://www.nytimes.com/2013/12/05/science/at-400000-years-oldest-human-dna-yet-found-raises-new-mysteries.html?_r=0. See also L. Vigilant, M. Stoneking, H. Harpending, K. Hawkes, AC. Wilson, “African populations and the evolution of human mitochondrial DNA”, Science Vol. 253 no. 5027 (27 September 1991), pp. 1503-1507, doi:10.1126/science.1840702. The age of the common ancestor of the human mtDNA is placed by L. Vigilant et al. between 166.000 to 249.000 years. See also Max Ingman, Henrik Kaessmann, Svante Paabo, dan Ulf Gyllensten, “Mitochondrial genome variation and the origin of modern humans”, Nature 408 (7 December 2000), pp. 708-713, doi:10.1038/35047064, pada http://www.nature.com/nature/journal/v408/n6813/full/408708a0.html. 

/2/ See the report of Yngve Vogt (translated by Alan Louis Belardinelli), “World’s oldest ritual discovered. Worshipped the python 70,000 years ago”, Apollon (University of Oslo research magazine), 30 November 2006. Latest editing 1 Februari 2012, at  http://www.apollon.uio.no/english/articles/2006/python-english.html. See also the report entitled “World’s oldest religion discovered in Botswana”, Afrol News, 1 December 2006, at http://www.afrol.com/articles/23093.  

/3/ Stephen Jay Gould, Rock of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life (New York: Ballantine Publishing Group, 1999, reprint edition 2002), pp. 4-5.

/4/ Richard Dawkins, A Devil’s Chaplain: Reflections on Hope, Lies, Science, and Love (Wilmington, MA: Houghton Mifflin Harcourt/Mariner Books, reprint ed. 2004), p. 34.

/5/ Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values (New York, etc.: Free Press, 2010), p. 179.

/6/ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton, NJ: Princeton University Press, 2011), p. 8.

/7/ Patricia S. Churchland, Braintrust, p. 6.

/8/ Patricia S. Churchland, Braintrust, p. 3.

/9/ Patricia S. Churchland, Braintrust, p. 200.

/10/See “Sir Arthur C. Clarke Quotes”, Arthurcclark.net, at http://www.arthurcclarke.net/?scifi=12.

/11/ See the report of It’s Official: Religion Doesn’t Make You More Moral”, The Daily Beast, 23 September 2014, pada http://www.thedailybeast.com/articles/2014/09/23/it-s-official-religion-doesn-t-make-you-more-moral.html. 

/12/ J. Anderson Thomson, Jr., and Clare Aukofer, Why We Believe in God(s): A Concise Guide to the Science of Faith (Foreword by Richard Dawkins) (Charlottesville, Virginia: Pitchstone Publishing, 2011), pp. 37, 39. 

/13/ So many studies have been carried out in this field, see among others: “Frans de Waal: Moral behavior in animals”, November 2011, on http://www.ted.com/talks/frans_de_waal_do_animals_have_morals?language=en; http://www.youtube.com/watch?v=GcJxRqTs5nk; http://www.telegraph.co.uk/earth/wildlife/5373379/Animals-can-tell-right-from-wrong.html. See also: Marc Bekoff and Jessica Pierce, Wild Justice: The Moral Lives of Animals (Chicago: the University of Chicago Press, 2009); Jingzhi Tan and Brian Hare, “Bonobos Share with Strangers”, PloS ONE 8 (1): e51922, 2 January 2013, http://www.plosone.org/article/ info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0051922;jsessionid= 675BD441F61D3DA70 8A66D117B0F6D8E. See also the report by Sophie Bushwick, “Bonobos Share with Strangers First”, Scientific American, 3 January 2013, http://www.scientificamerican.com/podcast/episode.cfm?id= bonobos-share-with-strangers-first-13-01-03. See further Darby Proctor, Rebecca A. Williamson, et al., “Chimpanzees play the ultimatum game”, Psychology and Cognitive Science, Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), 14 January 2013, http://www.pnas.org/content/early/2013/01/ 09/1220806110.full.pdf.

/14/ See Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), chapter 7 (“Dari Manakah Moralitas Berasal?”), pp. 219-256.

/15/ Patricia S. Churchland, Braintrust, p. 26.

/16/ Patricia S. Churchland, Braintrust, pp. 192-193.

/17/ Jerry A. Coyne, Why Evolution Is True? (New York, etc.: Penguin Books, 2009), pp. 225, 233.

/18/ See Frank Nicholas, “Darwin’s finches highlight the unity of all life”, Phys.Org., April 03, 2015, at http://phys.org/news/2015-04-darwin-finches-highlight-unity-life.html. See also “A Gene That Shaped the Evolution of Darwin’s Finches”, Phys.Org., 11 February 2015, at http://phys.org/news/2015-02-evolution-darwin-finches-beaks.html; Sangeet Lamichhaney, Jonas Berglund, Leif Andersson, et al., “Evolution of Darwin’s finches and their beaks revealed by genome sequencing, Nature 518 (19 February 2015), pp. 371-375. Doi: 10.1038/nature14181, at http://www.nature.com/nature/journal/v518/n7539/full/nature14181.html. 

/19/ This saying of Albert Einstein is cited from Viereck interview 1929, available at http://izquotes.com/quote/226560.

/20/ The source of this saying is Friedrich Nietszsche, Twilight of the Idols, Or, How to Philosophize With the Hammer (1st publication 1889; Indianapolis, Indiana: Hackett Publishing Company, 1997), p. vii (“Letter to Koselitz, 1/15/88”).  

/21/ Cited from http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_art.html.

/22/ Ally Leung, “What is the Purpose of Art?” at http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/what-the-purpose-art-pablo-picasso.html.

/23/ Dustin Wax, “How to Read a Painting” at http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/how-to-read-a-painting.html.

/24/ Albert Einstein, “Letter to Dr. H. L. Gordon (May 3, 1949, AEA 58-217)” as quoted in Walter Isaacson, Einstein: His Life and Universe (New York, N.Y.: Simon and Schuster, 2007, 2008), p. 113.

/25/ See Richard Carrier, Sense and Goodness Without God: A Defense of Metaphysical Naturalism (Bloomington, Indiana: AuthorHouse, 2005), pp. 179-180. 

/26/ Richard Carrier, Sense and Goodness Without God, p. 297. 

/27/ Friedrich Nietzsche, The Antichrist (Introduction and E.T. by H. L. Mencken; New York, N.Y.: Alfred A. Knopf, 1918; 2nd printing 1924), p. 25.

/28/ Arthur Schopenhauer, On The Basis of Morality (Introduction, notes, and E.T., by Arthur B. Bullock) (Swan Sonnenschein and Co., 1903), Part III, Chapter V, p. 97. 

/29/ Dalai Lama, “Speaking to Young Activists as Step by Step School”, January 31, 2014, at http://www.dalailama.com/news/post/1074-speaking-to-young-activists-at-step-by-step-school.  

/30/ Gleb Tsipursky, “What Is the Meaning of Life for You?”, Richard Dawkins Foundation for Reason and Science, 21 April 2015, at https://richarddawkins.net/2015/04/using-science-not-religion-to-find-your-purpose/.



Bibliography 

Bushwick, Sophie, “Bonobos Share with Strangers First”, Scientific American, 3 January 2013, http://www.scientificamerican.com/podcast/episode.cfm?id= bonobos-share-with-strangers-first-13-01-03.

Carrier, Richard, Sense and Goodness Without God: A Defense of Metaphysical Naturalism (Bloomington, Indiana: AuthorHouse, 2005).

Churchland, Patricia S., Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton, NJ: Princeton University Press, 2011).

Clarke, Arthur C., “Sir Arthur C. Clarke Quotes”, Arthurcclark.net, at http://www.arthurcclarke.net/?scifi=12.

Coulson, Sheila, and her team, “World’s oldest religion discovered in Botswana” on http://www.afrol.com/articles/23093.

Coyne, Jerry A., Why Evolution Is True? (New York, etc.: Penguin Books, 2009).

Dawkins, Richard, A Devil’s Chaplain: Reflections on Hope, Lies, Science, and Love (Wilmington, MA: Houghton Mifflin Harcourt/Mariner Books, reprint ed. 2004).

De Wall, Frans, “Frans de Waal: Moral behavior in animals”, November 2011, on http://www.ted.com/talks/frans_de_waal_do_animals_have_morals?language=en.

Bekoff, Marc, and Jessica Pierce, Wild Justice: The Moral Lives of Animals (Chicago: the University of Chicago Press, 2009).

Einstein, Albert, “Viereck interview 1929”, on http://izquotes.com/quote/226560

Einstein, Albert, “Letter to Dr. H. L. Gordon (May 3, 1949, AEA 58-217)” as quoted in Walter Isaacson, Einstein: His Life and Universe (New York, N.Y.: Simon and Schuster, 2007, 2008).

Gould, Stephen Jay, Rock of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life (New York: Ballantine Publishing Group, 1999, reprint edition 2002).

Harris, Sam, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values (New York, etc.: Free Press, 2010).

Lama, Dalai, “Speaking to Young Activists as Step by Step School”, January 31, 2014, at  http://www.dalailama.com/news/post/1074-speaking-to-young-activists-at-step-by-step-school.

Leung, Ally, “What is the Purpose of Art?” at http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/what-the-purpose-art-pablo-picasso.html.

Meyer, Matthias, Qiaomei Fu, et al., “A Mitochondrial genome sequence of hominin from Sima de los Huesos”, Nature (2013) doi:10.1038/nature 12788, published online 04 December 2013 on http://www.nature.com/nature/journal/vaop/ncurrent/full/nature12788.html.

Nietszsche, Friedrich, Twilight of the Idols, Or, How to Philosophize With the Hammer (1st publication 1889; Indianapolis, Indiana: Hackett Publishing Company, 1997).

Nietzsche, Friedrich, The Antichrist (Introduction and E.T. by H. L. Mencken; New York, N.Y.: Alfred A. Knopf, 1918; 2nd printing 1924).

It’s Official: Religion Doesn’t Make You More Moral”, The Daily Beast, 23 September 2014, pada http://www.thedailybeast.com/articles/2014/09/23/it-s-official-religion-doesn-t-make-you-more-moral.html.

Proctor, Darby, Rebecca A. Williamson, et al., “Chimpanzees play the ultimatum game”, Psychology and Cognitive Science, Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), 14 January 2013, http://www.pnas.org/content/early/2013/01/09/1220806110.full.pdf.

Rakhmat, Ioanes, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013). 

Schopenhauer, Arthur, On The Basis of Morality (Introduction, notes, and E.T., by Arthur B. Bullock) (Swan Sonnenschein and Co., 1903). 

Tan, Jingzhi and Brian Hare, “Bonobos Share with Strangers”, PloS ONE 8 (1): e51922, 2 January 2013, http://www.plosone.org/article/ info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0051922;jsessionid=675BD441F61D3DA70 8A66D117B0F6D8E.

Tsipursky, Gleb, “What Is the Meaning of Life for You?”, Richard Dawkins Foundation for Reason and Science, 21 April 2015, at https://richarddawkins.net/2015/04/using-science-not-religion-to-find-your-purpose/.

Vigilant, L., et al., “African Populations and the Evolution of Human Mitochondrial DNA”, Science 253, no. 5027 [1991], pp. 1503-1507.

Wax, Dustin, “How to Read a Painting” at http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/how-to-read-a-painting.html.

Zimmer, Carl, “Baffling 400.000-Year-Old Clue to Human Origins”, The New York Times Science, 04 December 2013, http://www.nytimes.com/2013/12/05/science/at-400000-years-oldest-human-dna-yet-found-raises-new-mysteries.html?_r=0.



Tuesday, November 11, 2014

Cocokologi merugikan agama anda sendiri!

Pemberitahuan!
 
Tulisan ini sudah diperluas dan dimutakhirkan dalam tulisan saya yang berjudul Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Agama-agama di Era Sains Modern. 

Baca dan pahami dan sebarkanlah tulisan yang lebih mutakhir ini. Link ke tulisan tersebut ini http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2015/02/bagaimana-seharusnya-memperlakukan.html.

Friday, November 7, 2014

Mari kita renungi kembali apa penyebab big bang!

Mari kita merenung kembali tentang big bang, dentuman besar, yang terjadi 13,8 milyar tahun lalu yang memulai ruang dan waktu dan segala hal lainnya dalam jagat raya kita. Lebih spesifik, mari kita renungi lagi apa penyebab big bang, atau ada apa sebelum big bang. Renungan kita ini tentu saja bukan sebuah renungan rohani, tetapi sebuah renungan yang dibangun berdasarkan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan. Berikut ini betul-betul sebuah renungan ilmiah, bukan sebuah khotbah keagamaan. 
 


Kita dan segala hal lainnya dalam jagat raya kini ada di dalam dimensi ruang-waktu (spacetime dimension). Sebelum big bang, ruang-waktu tidak ada. Begitu juga, sebelum big bang tidak ada materi-energi. Segala sesuatu tidak ada. Dengan demikian, big bang diawali dengan ketiadaan, atau big bang muncul dari ketiadaan. Before the big bang there was nothing in the absolute sense of the word! 

Kalau ruang-waktu belum ada, maka “di luar ruang-waktu” otomatis juga tidak ada, sebab kata “di luar” mengasumsikan ada ruang-waktu juga. Begitu juga, kalau materi-energi tidak ada, maka “di luar materi-energi” juga tidak ada, sebab kata “di luar” mengasumsikan ada materi-energi juga. Jika sebelum big bang ruang-waktu dan materi-energi belum ada, berarti sebelum big bang yang ada adalah ketiadaan segala sesuatu, ketiadaan absolut, nothingness.

Ketiadaan berarti segala hal tidak ada, ruang-waktu tidak ada, materi-energi tidak ada, bahkan ketiadaan itu sendiri tidak ada. Ketiadaan absolut. Dari ketiadaan absolut inilah big bang terjadi, mendentum, tanpa ada penyebab eksternal apapun, sebab di dalam ketiadaan pastilah penyebab apapun tidak ada.

Jika anda bertanya, ada apa di dalam ketiadaan absolut, pertanyaan anda ini tanpa makna, sebab di dalam ketiadaan absolut segala hal memang tidak ada. Yang ada adalah emptiness. Yang ada adalah kekosongan, kehampaan. 

Pertanyaan, ada apa di dalam ketiadaan absolut, ada apa sebelum big bang, serupa dengan bertanya di mana pinggir Bumi terletak. Kita semua tahu, planet Bumi kita berbentuk bola, bulatan. Pada bulatan, tidak ada pinggir apapun. Mencari pinggir Bumi pasti sia-sia.

Tapi kaum agamawan teistik dengan yakin diri menyatakan bahwa sebelum big bang, yang ada hanyalah Tuhan. Tuhan inilah yang menciptakan big bang. Kata mereka juga dengan sangat yakin, meskipun Tuhan adalah sang pencipta big bang, Tuhan ada tanpa penyebab apapun; dia ada dengan sendirinya, tanpa asal-usul. Tentu saja keyakinan kaum agamawan teistik itu patut dihormati.

Tetapi, sekarang kita sedang mengulas sains, bukan sedang membahas etika pergaulan sosial. Bagaimana sains menanggapi keyakinan kaum agamawan ini? Karena dalam alam ini bekerja hukum-hukum sebab-akibat, causal laws, sah jika orang bertanya, jika Tuhan itu sang pencipta, siapa atau apa yang telah menciptakan Tuhan. Kaum agamawan akan pasti menjawab, Tuhan sebagai sang pencipta big bang tidak punya asal-usul, tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tapi ada dengan sendirinya. Memakai terminologi Aristoteles dan Thomas Aquinas, Tuhan itulah prima causa, sang penyebab awal yang tidak disebabkan penyebab sebelumnya, sang Mahatakbersebab, sang Mahapenyebab.

Jika Tuhan tidak punya asal-usul, tidak ada penyebab keberadaan-Nya, ini, dalam sains, sama dengan menyatakan bahwa Tuhan itu ketiadaan, Tuhan itu nothingness. Hanya ketiadaan yang tidak punya asal-usul. Adalah sesuatu yang meaningless, tidak bermakna, jika anda bertanya, dari mana ketiadaan berasal. Jadi, dengan jawaban para agamawan itu, Tuhan yang mereka yakini ada, sebagai being, ternyata adalah non-being.

Jadi, jika dinyatakan big bang berasal dari Tuhan, ini sama dengan menyatakan big bang berasal dari ketiadaan. Dus, kita dibawa kembali ke isu semula! Jadi, mengasalkan big bang dari Tuhan, tidak membuat kita maju dalam mencari jawab ada apa sebelum big bang atau apa penyebab big bang. Kita hanya jalan di tempat, terpatok mati pada soal yang sudah jelas: sebelum big bang, segala sesuatu tidak ada.

Jawaban lain berupa pandangan evolusioner siklikal mengenai asal-usul jagat raya atau asal-usul big bang. Terkait dengan pandangan bahwa jagat raya ini berevolusi siklikal, adalah Hukum Kedua Thermodinamik tentang entropi dalam semua sistem.

Jika dikenakan pada jagat raya, menurut Hukum Kedua Thermodinamik, semakin tua usia jagat raya kita ini, semakin besar entropi-nya sehingga akhirnya jagat raya akan chaotic, masuk ke keadaan kehilangan energi yang mengakibatkannya tidak tertata apik lagi.

Apa itu entropi dalam Hukum Kedua Thermodinamik? Istilah “entropi” diciptakan oleh fisikawan Jerman Rudolph Clausius tahun 1865. Entropi adalah potensi chaotic, potensi disorder, yang lambat laun makin besar dalam semua sistem sampai akhirnya sistem ini berantakan dan berhenti bekerja. 

Semua sistem, juga sistem biologis tubuh kita, juga jagat raya, tunduk pada Hukum Kedua Thermodinamik: potensi entropi makin meningkat seiring dengan perjalanan waktu. Waktu membuat segala sesuatu menjadi tua, lalu berantakan, dan akhirnya binasa, tidak lain karena bekerjanya entropi. Karena itu, entropi juga disebut sebagai the Arrow of Time

Entropi membuat persediaan energi panas (thermodinamik) yang membuat sebuah sistem bekerja lambat laun menyusut sampai akhirnya habis, berubah menjadi sesuatu yang lain. Pada titik entropi mencapai level maksimal, setiap sistem ambruk dan terperosok ke dalam kondisi kacau. Menyangkut diri kita semua, semakin usia kita bertambah, entropi dalam sistem biologis kita meningkat, sampai akhirnya sistem ini tidak jalan lagi lalu kita semua mati. Begitu juga dengan jagat raya. Mengingat kepunahan bintang-bintang, planet-planet dan galaksi-galaksi adalah fakta-fakta kosmik, maka peringkat entropi nol jelas tidak dimungkinkan untuk jagat raya.

Big bang telah melahirkan jagat raya, lalu jagat ini mengembang makin cepat dan entropinya makin meningkat. Salah satu penyebab jagat raya kita mengembang makin cepat adalah bekerjanya energi gelap atau dark energy (ada sebesar 68,3 % dari totalitas isi jagat raya) sebagai forsa antigravitasi. Akhirnya jagat raya kita akan mencapai titik jenuh pengembangannya, dan entropinya juga makin kuat lalu mencapai jumlah maksimum. 

Ketika itu terjadi, jagat raya berhenti mengembang, lalu collapse, tereduksi menjadi suatu kondisi lain, susut atau ciut lagi, masuk ke kondisi chaotic, semua unsurnya saling menabrak dalam suatu peristiwa kosmik mahadahsyat yang akan terjadi milyaran tahun yang akan datang. 

Dengan demikian, Hukum Kedua Thermodinamik mengharuskan energi gelap untuk akhirnya tidak ada lagi, berubah menjadi sesuatu yang lain yang kita kini masih belum dapat mengetahuinya, tapi mungkin sekali berubah menjadi materi (sesuai dengan persamaan Einstein E=mc2, dan hukum kekekalan materi-energi).

Jagat raya yang berantakan sementara tereduksi dan mengerucut kembali, akhirnya akan bermuara pada suatu singularitas baru. Metaforanya adalah sebuah balon yang sudah mengembang besar ciut atau kempes kembali, sampai akhirnya kembali menjadi segumpal karet kecil saja. 

Jadi, sebetulnya mengembangnya jagat raya hingga saat ini dan akan terus begitu ke depan untuk waktu yang sangat panjang, menjadi suatu bukti bahwa big bang itu sebuah fakta kosmik, yang berawal dari sebuah singularitas. 

Stephen Hawking menyatakan bahwa “jika anda mundur cukup jauh dalam waktu, jagat raya awalnya sangat kecil, sebesar Ukuran Planck, yakni satu per milyar-trilyun-trilyun centimeter, suatu ukuran yang mengharuskan pemakaian teori quantum.”/1/ Tentang ini, fisikawan teoretis kebangsaan Amerika yang memiliki keahlian dalam teori dawai (string theory), Brian Greene, dalam bukunya The Elegant Universe, menyatakan hal berikut ini:
Di dalam inti sebuah lubang hitam, suatu massa yang sangat besar menyusut sampai ke ukuran mikroskopis. Pada saat big bang, keseluruhan jagat raya muncul dari sebuah titik kecil mikroskopis yang ukurannya membuat sebutir pasir kelihatan luar biasa besar. Inilah kawasan-kawasan yang sangat kecil namun bermassa luar biasa besar; dengan demikian, mekanika quantum dan relativitas umum sekaligus diperlukan untuk bisa menjelaskannya.”/2/  
Proses tereduksi atau kempes kembalinya jagat raya sampai menjadi sebuah singularitas tentu saja memakan waktu milyaran tahun. Tapi apa itu singularitas? Singularitas adalah suatu titik sangat kecil tanpa batas sekaligus memiliki densitas yang juga tidak terbatas, dan berenergi luar biasa besar dan sangat panas. Singularitas berukuran tidak lebih besar dari sebuah proton, tapi sangat massif dan berenergi sangat besar, berada dalam kawasan mekanika quantum. Singularitas inilah yang menjadi partikel inti dalam dunia subatomik yang akan mendentum kembali sebagai sebuah big bang baru. Tanpa singularitas yang mendentum ini, jagat raya tidak akan ada, kehidupan juga tidak akan tercipta, anda dan saya juga tidak akan pernah ada. Dentuman ini muncul tentu saja lewat reaksi fusi nuklir, yang prosesnya belum kita pahami penuh sekarang ini, tapi pasti melibatkan gabungan relativitas umum dan mekanika quantum. 

Saat singularitas yang ukurannya tidak lebih besar dari proton ini mendentum, energi dentumannya luar biasa besar. Mau tahu berapa besar? Besarnya energi big bang biasa disebut sebagai Energi Planck, yakni sebesar 10 pangkat 19 milyar elektron volt (= 1019 milyar e.v.). Michio Kaku menulis, “Energi yang luar biasa besar ini terlepas hanya pada momen penciptaan jagat raya itu sendiri.”/3/ Susah membayangkan besarnya, bukan? 

Baiklah kita berpaling ke Stephen Hawking. Kata Hawking, kekuatan dentuman big bang setara dengan sebuah koin berdiameter 1 cm yang meledak sampai mencapai sepuluh juta kali diameter galaksi Bima Sakti./4/ Dalam hitungan serpihan kecil dari satu per milyar detik (= satu per nano-detik) pertama setelah big bang, dentuman ini meluas sampai mencapai kawasan 10 juta kali diameter Bima Sakti.

Berapa lebar garis tengah Bima Sakti? Lebar banget: 100.000 tahun cahaya. Artinya: jarak yang dicapai cahaya setelah bergerak merambat selama 100.000 tahun. Jadi, dalam serpihan kecil nano-detik pertama, big bang membentuk kawasan seluas 10.000.000 x 100.000 tahun cahaya = 1 trilyun tahun cahaya. Jarak 1 trilyun tahun cahaya = 1 trilyun x 365 x 24 x 3600 x 300 juta meter. Itulah panjang jagat raya dalam serpihan kecil nano-detik pertama setelah big bang. Pada kurun ini, jagat raya masih homogen dan belum terstruktur dan terdiversifikasi.

Saat dentuman big bang melesat dan mencapai kawasan yang sangat luas itu dalam serpihan kecil nano-detik pertama, oleh para fisikawan dinamakan inflasi. Belum lama ini lewat teleskop Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization (BICEP2) di Kutub Selatan, para astronom menemukan bukti berupa riak gelombang gravitasional yang dipancarkan big bang saat inflasi./5/ 

Sementara menunggu kajian gabungan antara data BICEP2 ini dengan data langit yang diperoleh dari wahana antariksa Planck (yang diluncurkan 14 Mei 2009) untuk mencapai suatu kesimpulan yang kokoh, kita dapat katakan inflasi pada saatnya tidak akan tersangkali sebagai fakta sains! Yang masih kita perlukan adalah sebuah instrumen yang sepenuhnya dapat diandalkan untuk dapat memindai gelombang gravitasional ini. Astrofisikawan dari Universitas Sussex, Inggris, Peter Coles, misalnya, menyatakan bahwa  
“Suatu analisis gabungan antara BICEP2 dan data Planck akan bermanfaat untuk melengkapi penelitian dengan liputan frekuensi yang jauh lebih baik yang ada pada wahana Planck dan dengan kemampuan Planck memetakan seluruh langit versus sensitivitas yang lebih tinggi dari BICEP2. Tapi tetaplah mungkin bahwa sebuah sinyal gelombang gravitasional primordial [dari inflasi setelah big bang] dapat diekstrasi dari data gabungan keduanya. Tentu ini akan sulit. Jika saya boleh tebak, mungkin akhirnya gelombang ini tidak akan terdeteksi. Diperlukan suatu misi satelit yang terfokus hanya pada penyelidikan gelombang gravitasional ini jika kita ingin mendapatkan sensitivitas yang dibutuhkan dalam memindai langit dan kisaran gelombang yang bervariasi.”/6/ 
Tetapi, rupanya dunia sains masih harus menunggu lagi untuk pembuktian ini betul-betul kokoh dan solid. Baru saja, 30 Januari 2015, berdasarkan data baru yang merupakan gabungan data dari wahana Planck dan data BICEP2, diumumkan dengan resmi bahwa sinyal gelombang gravitasional yang terdeteksi ini ternyata bukan berasal dari inflasi pada era jagat raya sangat dini melainkan berasal dari debu-debu galaktik dalam Bima Sakti yang juga memancarkan cahaya yang terpolarisasi. 

Kosmolog dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, USA, Marc Kamionkowski, menyatakan, “Ke depan ini, ada jalur yang jelas yang harus diambil. Jika kita melakukan lebih banyak pengukuran dalam beranekaragam frekuensi terhadap sinyal-sinyal yang datang, kita akan dapat memisahkan dengan persis sinyal-sinyal primordial dari sinyal-sinyal yang berasal dari debu-debu galaktik.”/7/

Sudah pasti anda perlu tahu bahwa kalaupun inflasi nanti sudah terkonfirmasi dengan meyakinkan, forsa-forsa apa yang bekerja sehingga inflasi terjadi, masih akan merupakan misteri bagi para saintis.

Setelah inflasi, masih diperlukan waktu cukup panjang (dalam hitungan manusia), yakni 380.000 tahun setelah big bang, untuk jagat raya mulai terdiversifikasi dan terstruktur. Pada kurun inilah radiasi cahaya pertama dipancarkan jagat raya, dan radiasi ini sudah tertangkap dan terkonfirmasi lewat instrumen-instrumen oleh para saintis./8/ Radiasi inilah yang dinamakan Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) yang juga membuktikan bahwa big bang itu suatu fakta ilmiah. 

Ketika elektron-elektron yang semula bebas sudah cukup dingin, elektron-elektron ini dapat bergabung dengan proton-proton, alhasil jagat raya menjadi transparan terhadap cahaya, dan CMBR pun mulai bercahaya. Stephen Hawking berseloroh cukup lucu, katanya: “Radiasi yang ditinggalkan big bang sama dengan radiasi di dalam oven microwave anda, tapi dengan kekuatan yang jauh lebih lemah. Radiasi ini dapat memanaskan pizza anda hanya sampai minus 271,3 derajat Celcius, tapi tidak terlalu baik untuk melunakkan pizza anda yang membeku, apalagi untuk memasaknya.

Jauh setelah CMBR, 400 juta tahun sesudah big bang, ketika awan-awan gas mulai mendingin lalu menyatu, barulah bintang-bintang pertama terbentuk, selanjutnya galaksi-galaksi pertama dan gugus-gugus galaksi juga tercipta. Seterusnya jagat raya mengembang. Setelah mengembang dengan kekuatan fantastis dalam inflasi yang terjadi dalam serpihan kecil nano-detik pertama big bang, jagat raya kini sudah diketahui terus mengembang dengan makin cepat, tapi dengan kekuatan dan kecepatan pengembangan yang berada jauh di bawah inflasi.

Energi dentuman big bang tentu akan makin melemah, tapi jagat raya kini terus terpantau mengembang makin cepat. Ini fakta. Kenapa? Bukankah karena forsa gravitasi dari semua materi yang telah tercipta sejak big bang, termasuk forsa gravitasi materi gelap atau dark matter (26,8 % dari total isi jagat raya), kecepatan pengembangan jagat raya mustinya akan makin melambat? Sudah ditulis di atas, salah satu penyebab akselerasi pengembangan jagat raya adalah bekerjanya energi gelap.

Nah, karena entropi dan jagat raya yang tereduksi, menciut dan luruh kembali dalam suatu situasi yang chaotic, singularitas baru akan terbentuk, yang kemudian, ketika saatnya tiba, mendentum kembali dengan sangat dahsyat. Kejadian ini akan terus berulang, membentuk evolusi jagat raya secara siklikal, tanpa akhir dan tanpa awal. Dari sebuah singularitas partikel quantum, kembali menjadi sebuah singularitas partikel quantum.


Ouroboros (Yunani: οὐροβόρος ὄφις, “ouroboros ofis”, artinya: ular/naga yang memakan ekornya sendiri) adalah simbol segala sesuatu yang berevolusi siklikal, seperti halnya dengan evolusi siklikal jagat raya. Simbol ini berasal dari Mesir kuno.

Apakah jagat raya yang berevolusi siklikal mengakhiri pertanyaan ada apa sebelum big bang atau apa yang menyebabkan big bang? Tidak juga. 

Pada satu segi, evolusi siklikal jagat raya bisa menjawab pertanyaan apa yang menyebabkan big bang: setiap big bang berasal dari big bang sebelumnya. Saat jagat raya yang terbentuk lewat big bang kembali lagi menjadi singularitas, singularitas ini menyimpan info dari big bang sebelumnya. Evolusi siklikal jagat raya melibatkan destruksi (dus, diskontinuitas) tapi sekaligus juga kontinuitas. Jadi, saat singularitas mendentum sebagai big bang, kemudian memunculkan jagat raya, info dari jagat raya sebelumnya tetap terpelihara. Tanpa kontinuitas, kita tidak menyebutnya jagat raya yang berevolusi siklikal. 


Dalam kontinuitas jagat raya yang berevolusi siklikal, secara teoretis kita harus menyatakan tidak ada sesuatupun yang hilang, semuanya terpelihara dalam apa yang dapat disebut “info quantum”. Hukum kekekalan materi-energi hanya berlaku setelah big bang, dan hanya jika ada kontinuitas dari big bang yang satu ke big bang yang lain. Hukum kekekalan energi sendiri mengharuskan jagat-jagat raya yang berevolusi siklikal, tanpa akhir.

Tapi jagat yang berevolusi siklikal tetap menghadapi sebuah pertanyaan yang harus dijawab: big bang yang pertama dalam siklus itu datangnya dari mana? Apa penyebabnya? Suatu kontinuum linier atau kontinuum siklikal, tetap berhadapan dengan hukum sebab-akibat: Apa yang memulainya? Di mana dimulai? Untuk membuat sebuah garis lurus atau sebuah lingkaran, anda harus mulai dengan sebuah titik awal. Tidak bisa garis lurus atau lingkaran itu ada begitu saja./9/

Jagat raya yang siklikal juga harus dimulai oleh sebuah big bang, meskipun big bang ini nanti akan disusul big bang lain tidak putus-putusnya. Jadi kita balik lagi ke posisi semula: karena ruang-waktu baru ada lewat big bang, maka sebelum big bang tidak ada ruang-waktu. Karena sebelum big bang tidak ada ruang-waktu, maka tidak ada pula “di luar” ruang waktu. Karena sebelum big bang tidak ada materi-energi, maka tidak ada pula “di luar” materi-energi. Karena dunia natural tidak ada, maka “di luar” dunia natural juga tidak ada. Jika ruang-waktu tidak ada, materi-energi tidak ada, dan dunia natural tidak ada, maka yang ada adalah ketiadaan absolut, kekosongan mutlak.

Jika sebelum big bang yang ada adalah kekosongan absolut, ketiadaan mutlak, bagaimana big bang bisa terjadi? Apa yang memulai big bang? Sudah diargumentasikan di atas, teologi tidak membantu menjawab pertanyaan kenapa dari kekosongan atau ketiadaan, big bang bisa terjadi.

Ternyata jawabannya disediakan oleh fisika quantum: mekanika quantum adalah asal-usul big bang. Tentang ini, perhatikan apa yang dinyatakan oleh orang tercerdas (setelah Albert Einstein) dalam zaman kita, Stephen Hawking, berikut ini.  
“Anda memasuki suatu dunia di mana adalah mungkin untuk menjelaskan sesuatu itu bisa ada dari ketiadaan, setidaknya untuk waktu yang pendek, karena mekanika quantum…. Jagat raya semula dulu sangat kecil, kurang dari besarnya sebuah proton. Ini berarti jagat raya dapat begitu saja ada tanpa melanggar hukum-hukum fisika yang sudah diketahui.”/10/ 
Dalam dunia mekanika quantum, dikenal apa yang dinamakan “vacuum state”, atau ditulis pendek saja “vacuum”. Vakum adalah “suatu keadaan di mana semua properti fisikal sebetulnya sama dengan zero.”/11/ Dalam kondisi vakum, energi bisa ada dalam jumlah yang terendah sejauh dimungkinkan (“a zero-point energy”). 

Secara figuratif para fisikawan menyatakan bahwa dalam ruang vakum 1 cm3, masih bisa ada energi dalam jumlah 1 per trilyun erg. Karena energi dalam vakum ini sangat kecil (apalagi dalam kevakuman dalam atom-atom), kita dapat menyatakan energinya nyaris nol. 

Secara keseluruhan, keadaan vakum disebut sebagai “a zero-point quantum field”. Kendatipun demikian, dari medan quantum yang “zero-point” ini terjadi apa yang dinamakan fluktuasi vakum (= “quantum fluctuations”), yakni muncul dan lenyapnya partikel-partikel (dinamakan partikel-partikel virtual) dalam waktu sangat pendek dan secara spontan, tanpa asal-usul, tanpa sebab-musabab sebelumnya, tidak deterministik, tidak terprediksi./12/  

Dalam bab 5 buku mereka The Grand Design, Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow menggambarkan fluktuasi vakum sebagai pasangan-pasangan partikel yang muncul bersamaan pada suatu waktu, bergerak terpisah, lalu menyatu lagi dan saling melenyapkan. Partikel-partikel ini dinamakan partikel-partikel virtual. Tidak seperti partikel nyata, partikel virtual tidak dapat diobservasi langsung dengan sebuah detektor partikel. Namun, efek-efek tidak langsung dari partikel virtual, seperti perubahan kecil di dalam energi orbit elektron, dapat diukur, dan sejalan dengan prediksi-prediksi teoretis dengan tingkat akurasi yang luar biasa. 

Masalahnya adalah bahwa partikel-partikel virtual memiliki energi, dan karena pasangan partikel-partikel virtual ini ada dalam jumlah tidak terbatas, partikel-partikel ini memiliki jumlah energi tanpa batas. Menurut teori relativitas umum, ini berarti partikel-partikel virtual dapat melengkungkan jagat raya sampai ke suatu ukuran kecil tidak terbatas, yang jelas tampak oleh kita hal ini tidak terjadi./13/ 

Jadi, dalam mekanika quantum, ihwal munculnya something from nothing adalah suatu fakta yang dapat diamati sekalipun lewat efek-efeknya yang tidak langsung. Something-from-nothing dalam arti partikel-partikel virtual dalam dunia vakum quantum muncul begitu saja dari ketiadaan, lalu menghilang kembali ke dalam ketiadaan, lalu muncul lagi, tidak terprediksi dan tanpa asal-usul. Tentu saja fakta sains ini weird, mengherankan, tidak masuk akal sehat. 

Ya memang, dalam sains yang sudah sangat maju kita temukan banyak hal yang tidak masuk akal sehat, tetapi tetap konsisten dengan hukum-hukum sains yang sudah diketahui. Dalam dunia sains, bukan akal sehat yang harus diperhatikan, tetapi akal ilmiah.

Jadi, jika anda berbicara tentang kekosongan atau ketiadaan, atau lebih persis dalam konteks fisika quantum: kevakuman, anda sebetulnya masuk ke dunia mekanika quantum. Karena mekanika quantum jadi objek kajian fisika, maka tentu saja dunia quantum ada, real ada, bisa diamati dan dipelajari. Tapi ketika dunia mekanika quantum dipelajari dan diamati, para fisikawan sekaligus menemukan dunia yang tidak ada, kosong, kondisi vakum. 

Kalau ada partikel-partikel virtual yang muncul dari ketiadaan meskipun berada dalam dunia quantum, maka kita dapat menyatakan bahwa dalam dunia quantum ketiadaan itu ada. Jadi, dunia quantum itu ada sekaligus tidak ada. Dunia quantum memang weird, mengherankan dan sukar dipahami: suatu dunia yang ada sekaligus tidak ada. Dalam dunia ini, partikel-partikel virtual ada, tapi datang dari, dan pergi ke, ketiadaan.

Dalam dunia quantum, partikel-partikel menampakkan properti sebagai materi dan sebagai gelombang. Aspek gelombang ini dapat dilihat sebagai aspek non-matter, aspek bukan-materi. Karena ada aspek non-matter ini, gerak-gerik partikel-partikel nyaris tidak terprediksi, khususnya partikel-partikel virtual, sepertinya partikel-partikel ini memiliki “kehendak bebas” dan “(proto-) kesadaran” sendiri sehingga semua perilaku mereka tidak tunduk pada determinisme saintifik yang muncul dari hukum-hukum sebab-akibat. Tentang ini, perhatikan apa yang dikatakan dua orang saintis besar berikut ini. 

Fisikawan Jerman yang memenangkan Hadiah Nobel fisika tahun 1918, Max (Karl Ernst Ludwig) Planck (1858-1947), sebagai salah seorang pendiri teori quantum, di tahun 1944 menyatakan bahwa 
“segala materi berasal-usul dan ada hanya karena suatu daya.... Kita harus menganggap di belakang daya ini ada Pikiran (Mind) yang sadar dan cerdas. Pikiran adalah matriks segala materi”./14/  
Sebelumnya, di tahun 1931, Planck menulis, 
“Aku memandang kesadaran sebagai sesuatu yang mendasar. Aku memandang materi berasal dari kesadaran. Kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di balik kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita pandang ada, memerlukan dalil adanya kesadaran.”/15/  
Begitu juga, fisikawan teoretis Amerika David J. Bohm (1917-1992) dalam artikelnya “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter” menyatakan bahwa  
“Hal-hal mental dan hal-hal material adalah dua sisi dari satu proses yang menyeluruh yang (seperti bentuk dan isi) terpisah hanya di dalam pikiran dan bukan di dalam realitas yang sebenarnya. Sesungguhnya, ada satu energi yang menjadi basis dari semua realitas.... Tak pernah ada pemisahan real apapun antara sisi mental dan sisi material pada tahap apapun dari keseluruhan prosesnya.”/16/  
Tentu saja Planck dan Bohm tidak berpendapat bahwa daya, pikiran, kesadaran, kecerdasan, sisi mental, yang mereka sebut itu berada dalam suatu dunia supernatural; mereka fisikawan, bukan agamawan. 

Mereka dan banyak lagi jelas adalah para ilmuwan yang mengetahui betul betapa weird-nya dunia quantum; mereka jelas bukan para pegiat keagamaan dalam gerakan New Age masa kini, Deepak Chopra salah satunya. 

Nah, tempat yang tepat untuk hal-hal kognitif atau hal-hal mental yang mereka sebut itu hanyalah dunia subatomik, persisnya aspek gelombang dari partikel-partikel quantum. Perlu bagi anda untuk juga mengetahui apa pendapat seorang saintis besar lainnya, yang pada masanya masih meragukan fisika quantum. 

Albert Einstein yang dengan kokoh memegang determinisme saintifik (bahwa tidak ada kehendak bebas, sebab segala sesuatu sudah diatur menurut hukum sebab-akibat, causal laws), luar biasanya masih menyatakan ada roh yang bebas yang bekerja dalam jaga raya dan menyatakan diri di dalam hukum-hukum alam. 

Bagi Einstein, jika semua agama dan semua bentuk mistisisme dibuang, sains empiris seperti fisika masih akan melahirkan perasaan keagamaan yang lebih tinggi, yang more advanced, yang sublimer. Dalam jawabannya (24 Januari 1936) terhadap pertanyaan seorang anak perempuan kelas enam sekolah Minggu Gereja Riverside, Amerika, yang bernama Phyllis, apakah sebagai seorang saintis Einstein berdoa (19 Januari 1936), sang saintis ini menulis demikian:
“Para saintis percaya bahwa setiap peristiwa, termasuk berbagai urusan manusia, terjadi karena hukum-hukum alam. Karena itu, seorang saintis tidak dapat cenderung percaya bahwa jalannya peristiwa-peristiwa dapat dipengaruhi oleh doa, yakni oleh suatu permintaan yang ditujukan ke suatu Oknum Supernatural. Tapi kita harus akui bahwa pengetahuan kita yang sebenarnya mengenai daya-daya kekuatan alam ini tidak sempurna, sehingga pada akhirnya kepercayaan pada keberadaan suatu roh fundamental yang paling menentukan berpijak pada semacam iman. Kepercayaan ini dipegang banyak orang di mana-mana, bahkan ketika ilmu pengetahuan sudah maju seperti sekarang ini. Tetapi juga, setiap orang yang terlibat dengan serius dalam usaha-usaha mencari ilmu pengetahuan menjadi yakin bahwa suatu roh menyatakan diri di dalam hukum-hukum alam semesta. Roh ini jauh lebih tinggi dibandingkan roh manusia. Dengan demikian, pengejaran ilmu pengetahuan juga membawa orang ke suatu perasaan religius yang istimewa, yang tentu saja sangat berbeda dari religiositas seseorang yang tidak berpengetahuan.”/17/
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg (the Uncertainty Principle of Heisenberg) perlu juga pada kesempatan ini dirujuk. Prinsip ini menyatakan bahwa karena posisi (= aspek partikel sebuah elektron) dan momentum (= aspek gelombang sebuah elektron) dari sebuah partikel tidak dapat diukur serentak pada waktu yang sama dengan tingkat presisi yang tanpa batas, maka gerak suatu partikel pada dasarnya tidak dapat ditentukan atau diprediksi atau diidentifikasi dengan persis. 

Sementara sedang menyusun fondasi-fondasi matematis bagi mekanika quantum di Niels Bohr Institute di Kopenhagen pada 1927, Werner Heisenberg sendiri menyatakan bahwa semakin persis posisi suatu partikel diukur, semakin kurang persis momentumnya yang dapat kita ketahui, begitu juga sebaliknya.”/18/ 

Menurut Alok Jha, “Prinsip Ketidakpastian adalah salah satu ide dalam fisika yang paling terkenal (dan mungkin yang paling sering disalahpahami). Prinsip ini menyatakan kepada kita bahwa ada suatu kekaburan atau ketidakjelasan di dalam alam, suatu batas fundamental terhadap apa yang dapat kita ketahui mengenai kelakuan partikel-partikel quantum dan, karena itu, mengenai skala-skala terkecil dari alam.”/19/  

Nah, sebelumnya sudah saya katakan, singularitas yang mendentum sebagai big bang tidak lebih besar dari sebuah proton. Singularitas yang mendentum sebagai big bang adalah sebuah peristiwa mekanika quantum, yang terjadi dari ketiadaan, dari kevakuman quantum, tanpa penyebab sebelumnya. Lewat fluktuasi quantum, big bang menciptakan jagat raya dalam serpihan kecil nano-detik pertama setelah big bang, yang selanjutnya memunculkan inflasi. 

Sampai inflasi ini, jagat raya yang terbentuk masih homogen dan tidak berstruktur. Fluktuasi quantum yang terus-menerus terjadi mendahului inflasi memungkinkan jagat raya bayi yang homogen dan belum terstruktur ini terbentuk. Bahkan dimungkinkan juga, fluktuasi quantum primordial tidak melahirkan hanya satu jagat raya (konsep universe), melainkan banyak jagat raya (konsep multiverse), tidak hanya dimensi ruangwaktu yang kita kenal, tetapi juga dimensi-dimensi lain yang keseluruhannya dapat mencapai 26 dimensi sebagaimana diprediksi oleh teori dawai (string theory). 

Para fisikawan menciptakan istilah Dinding Planck” (“Planck Wall”) atau “Waktu Planck” (Planck Time) untuk menunjuk ke kurun 10 pangkat minus 43 (= 10-43) detik setelah big bang. Kurun pembatas yang disebut “Dinding/Waktu Planck” ini menurut mereka sulit ditembus untuk tiba ke kurun T=Zero, yakni kurun persis big bang sendiri. Inflasi yang sudah digambarkan di atas terjadi sebelum kurun “Dinding/Waktu Planck”, yang terjadi dalam serpihan sangat kecil nanodetik pertama setelah T=Zero. Pada saat Waktu Planck ini, temperatur dalam dentuman big bang besarnya 1032 Kelvin, yakni kurang lebih 10 trilyun trilyun kali lebih panas dibandingkan temperatur inti bintang Matahari kita.  

Sudah saya tulis di atas, kendatipun hingga saat ini para fisikawan dan astronom belum  berhasil menemukan riak gelombang gravitasional dari inflasi, penelitian-penelitian yang lebih komprehensif di masa depan akan dapat menemukannya. Jadi sebetulnya Dinding Planck suatu saat akan berhasil ditembus dan kita akan sudah bisa masuk ke kurun inflasi yang lebih awal lagi after the big bang.

Kalau nanti inflasi sudah berhasil dibuktikan ada meskipun forsa-forsa yang menimbulkannya masih misterius bagi kita, saya optimis tak lama lagi di masa depan kita akan juga mendapat tambahan banyak data sains tentang big bang, khususnya tentang kurun T=Zero. Kurun “Dinding/Waktu Planck” yang harus ditembus itu kurun satu per 10 pangkat 43 detik. Kurun ini ada, walau terlalu singkat. Bagi bayangan kita, kurun ini sangat unimaginable. Tapi, ajaibnya, kurun T=Zero terasa lebih mudah dibayangkan.

Jika inflasi yang terjadi sebelum Dinding Planck sudah bisa dibuktikan ada, tidak lama lagi, semoga, kita akan bisa juga tiba di T=Zero sendiri, waktu persis big bang sendiri. Kita akan bisa memandang big bang sendiri, dan akan terlihat lebih menakjubkan lagi bagaimana mekanika quantum bekerja di awal paling awal dunia.

Apakah bisa Tuhan apapun menyundut sumbu bom big bang?

Yang sudah kita ketahui adalah big bang terjadi dalam ketiadaan ruangwaktu, ketiadaan materi-energi, ketiadaan dunia natural. Dari mekanika quantum, kita tahu big bang terjadi dari kevakuman quantum, yang disusul fluktuasi quantum di mana partikel-partikel virtual terus bermunculan secara spontan dari ketiadaan, tanpa penyebab eksternal adikodrati apapun.

Kata Hawking, jika waktu dan ruang belum ada, maka Tuhan apapun tidak akan menemukan lokasi dan waktu untuk dia memulai penciptaan dunia. Alhasil, kata Hawking, Tuhan tidak merupakan faktor sama sekali dalam terciptanya jagat raya lewat big bang. Tuhan yang tidak punya lokasi dan waktu, kata Hawking, sama dengan Tuhan yang tidak ada. Kreasionisme gagal total.

Saya sudah argumentasikan di atas, memasukkan sosok Tuhan sebagai penyundut sumbu bom big bang tidak menyelesaikan masalah apapun. Tuhan yang tidak punya asal-usul, dalam sains, ya sama dengan ketiadaan, sebab hanya ketiadaan yang tidak punya asal-usul. Tapi Tuhan sebagai ketiadaan pasti tidak akan mau disamakan oleh para agamawan, apalagi oleh para fisikawan dan kosmolog, dengan dunia mekanika quantum. Fisika ya fisika. Agama ya agama. 

Tetapi, bisa jadi bagi Baruch de Spinoza dan Albert Einstein yang memandang Tuhan sebagai hukum-hukum kosmologis yang telah menciptakan jaga raya yang strukturnya sangat mempesona, menyamakan Tuhan dengan mekanika quantum sama sekali bukan persoalan. Tetapi Einstein mungkin juga masih berkeberatan, sebab bagi sang saintis ini determinisme saintifik berlaku mutlak, sementara dalam fisika quantum determinisme ini kelihatan tidak berlaku. 

Kata Einstein, Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam ini; maksudnya: segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini bersifat deterministik, tidak random, tidak bebas. Tapi menurut Hawking, Einstein salah, sebab sudah terobservasi Tuhan ternyata sedang bermain dadu di dalam seluruh jagat raya, bahkan kerap kali sang Tuhan malah menyembunyikan dadunya. Dalam hal ini, Hawking mengacu ke fisika quantum.


Jakarta, 7 November 2014
by Ioanes Rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010), hlm. 131.  

/2/ Brian Greene, The Elegant Universe: Superstrings, Hidden Dimensions, and the Quest for Ultimate Theory (New York: W.W. Norton and Company, 1999, 2003, edisi pertama), hlm. 4. 

/3/ Michio Kaku, Hyperspace: A Scientific Odyssey Through Parallel Universes, Time Warps, and The Tenth Dimension (New York: Anchor Books, 1994), hlm. 190.

/4/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design, hlm. 129. 

/5/ Lihat reportase Clara Moskowitz, “Gravitational Waves from Big Bang Detected”, Scientific American, 17 March 2014, pada http://www.scientificamerican.com/article/gravity-waves-cmb-b-mode-polarization/. Lihat laporan lengkapnya “Cosmic Inflation and Big Bang Ripples”, Scientific American, 17 March 2014, pada http://www.scientificamerican.com/report/cosmic-inflation-and-big-bang-ripples1/.

/6/ Lihat Tushna Commissariat, “BICEP2 gravitational wave result bites the dust thanks to new Planck data”, Physicsworld.com, 22 September 2014, pada http://physicsworld.com/cws/article/news/2014/sep/22/bicep2-gravitational-wave-result-bites-the-dust-thanks-to-new-planck-data

/7/ Lihat Ron Cowen, “Gravitational waves discovery now officially dead”, Nature News, 30 January 2015, pada http://www.nature.com/news/gravitational-waves-discovery-now-officially-dead-1.16830?WT.mc_id=TWT_NatureNews.  

/8/ Pertama kali CMBR ditemukan secara kebetulan di tahun 1965 oleh dua orang saintis dari Bell Labs. Kemudian, variasi-variasi temperatur CMBR yang sangat kecil itu dapat ditemukan tahun 1992 oleh satelit COBE milik NASA. Selanjutnya pengukuran diadakan lagi oleh satelit pengganti yang dinamakan satelit WMAP yang diluncurkan tahun 2001.

/9/ Teori Dawai (String Theory) memberi penjelasan lain tentang asal-usul jagat raya kita. Menurut teori ini, mungkin dua jagat raya bertabrakan, dan dari tabrakan ini terciptalah jagat raya kita. Atau mungkin jagat raya kita asalnya adalah sebuah tali pusat yang menempel pada sebuah jagat raya lain, yang terpotong lalu potongan tali pusat ini (sebuah worm hole) membentuk jagat raya kita. Tetapi, hemat saya, penjelasan teori dawai ini tetap meninggalkan sebuah pertanyaan yang masih harus dijawab: Dari mana datangnya jagat-jagat raya lain, yang menjadi asal-usul jagat raya kita sendiri? Pertanyaan ini tetap sah sekalipun, misalnya, hukum-hukum fisika yang berlaku di jagat-jagat raya lain itu berbeda dari hukum-hukum fisika yang bekerja dalam jagat raya kita.

/10/ Lihat pemaparan Stephen Hawking dalam video Discovery Channel Curiosity SO1EO1, Did God Create the Universe? Compelling Explanations, tayangan perdana 7 Agustus 2011, pada http://youtu.be/fmYlbqtAYOQ.

/11/ Lihat P. W. Milonni, The Quantum Vacuum: An Introduction to Quantum Electrodynamics (Boston: Academic Press, 1994), hlm. 239.

/12/ Lihat Milton K. Munitz, Cosmic Understanding: Philosophy and Science of the Universe (Princeton: Princeton University Press, 1990), hlm. 132. Lihat juga “Focus: The Force of Empty Space” , Physical Review Focus 2, 28 (1998) DOI: 10.1103/PhysRevFocus.2.28 (3 December 1998), pada http://physics.aps.org/story/v2/st28.  

/13/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design, hlm. 113-114.

/14/ Max Planck menyatakan hal ini dalam pidatonya yang disampaikan di Florence, Italia, 1944, yang berjudul Das Wessen der Materie (“Hakikat Materi”). Lihat Archiv zur Geschichte der Max-Planck-Gesselschaft, Abt. Va, Rep. 11 Planck, Nr. 1797

/15/ Pernyataan Planck ini dikutip dalam The Observer, 25 Januari 1931. 

/16/ David Bohm, “A New Theory of the Relationship of Mind and Matter”, The Journal of the American Society for Psychical Research, Vol. 80, No. 2 (April 1986), hlm. 129 [113-135].

/17/ Lihat reportase ‘Dear Einstein, Do Scientists Pray?’ Asks Sixth Grader―See His Amazing Response”, HuffingtonPost 30 January 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/01/30/einstein-scientists-pray_n_4697814.html. Kata-kata penting saya buat berhuruf miring. Mengenai surat-menyurat antara Einstein dan anak-anak, lihat Alice Calaprice, ed., Dear Professor Einstein: Albert Einstein’s Letters to and from Children. Pengantar oleh Evelyn Einstein (Amherst, N.Y.: Prometheus Books, 2002).

/18/ Werner Heisenberg, Über den anschaulichen Inhalt der quantentheorietischen Kinematik und Mechanik”, Zeitschrift für Physik 43 (3-4) 1927, hlm. 172-178. Terjemahan Inggris artikel ini (“On the Perceptual Content of Quantum Theoretical Kinematics and Mechanics.”) tersedia di John A. Wheeler and Wojciech Zurek, eds. Quantum Theory and Measurement (Princeton: Princeton University Press, 1983), hlm. 62-84.

/19/ Alok Jha, “What is Heisenberg’s Uncertainty Principle?”, The Guardian/The Observer, 10 November 2013, pada http://www.theguardian.com/science/2013/nov/10/what-is-heisenbergs-uncertainty-principle.