Thursday, June 26, 2014

Catatan-catatan kritis atas puisi esai “Konspirasi Suci” karya Burhan Shiddiq


Saya hadir dalam acara peluncuran enam buku puisi esai (semuanya ditulis tahun 2013) di Pisa Café Mahakam, Jl Mahakam no 11, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 24 Juni 2014, malam hari. Pidato kebudayaan dari Prof. Franz Magnis Suseno tidak jadi disampaikan pada kesempatan itu karena satu dan lain hal meskipun beliau sudah berada di tengah hadirin dan sudah menyiapkan sebuah makalah pidato yang berjudul “Tantangan bagi Pluralisme Indonesia.” Dengan memakai makalah beliau, sekian poin penting pandangan beliau telah sempat saya kicaukan di Twitter selama pembacaan beberapa puisi esai saat itu.

Dari jumlah mistik 888 puisi esai yang masuk selama 2013, pemenang pertama lomba puisi esai tahun 2013 yang diadakan oleh Yayasan Denny JA adalah cerpenis Burhan Shiddiq, dengan puisi esainya yang berjudul “Konspirasi Suci” (KS). Puisi esai KS mengangkat kasus kejahatan seksual di dalam lingkungan Gereja Roma Katolik (GRK) sedunia yang melibatkan banyak pastor dengan korban anak-anak. Ada sangat banyak kasus pedofili di GRK dalam konteks dunia Barat. Dalam puisi esai KS, kasus ini dibeberkan dalam bentuk tanya-jawab seorang anak altar saat si anak altar ini sedang mengaku dosa kepada sang pastor yang berada di bilik tertutup. Oleh si anak altar, sang pastor ini dipanggil “Bapa”, sedangkan sang Bapa ini menyapa si anak altar sebagai “Santu Petrus”. 

Saya sangat menghargai apa yang telah dicapai Yayasan Denny JA lewat perlombaan menulis puisi esai setiap tahunnya, sejak 2012. Gerakan menulis dan memperlombakan puisi esai adalah bagian dari gerakan besar YDJA untuk membangun NKRI yang bebas diskriminasi dalam bentuk apapun. Saya ikut serta dalam gerakan ini. Dalam semangat inilah saya ketengahkan beberapa catatan saya berikut ini tentang puisi esai KS. 

Pertama, Burhan Shiddiq sama sekali tidak memberi konteks sosiohistoris yang real bagi puisi esai KS.  Sejauh kita sudah ketahui, puisi esai (menurut Denny JA) adalah puisi sekaligus esai ilmiah yang mengharuskan adanya berbagai rujukan ke suatu konteks sosiohistoris yang menjadi latar kasus yang diangkat dan disorotnya. Satu-satunya referensi historis yang muncul adalah nama Vatikan, bersumber dari buku Yahya, Abu Salma Ibnu, Sex Crimes and Vatican (Yogyakarta: Alas, 2007). Dalam buku antologi puisi esai yang disunting Agus R. Sarjono, Konspirasi Suci: Antologi Puisi Esai (Depok: Jurnal Sajak Indonesia, April 2014), referensi ke buku Abu Salma Ibnu Yahya ini muncul di hlm. 33. Nama Vatikan juga muncul lagi di hlm. 46, fn. 5. Di luar rujukan ke Vatikan ini, sama sekali tidak ada rujukan latar lain yang menjadi landasan faktual kisah yang diangkat dalam KS. Referensi ke Vatikan ini sangat umum. Jadi sebetulnya puisi esai KS adalah sebuah generalisasi dari sangat banyak kasus pedofili dalam GRK sedunia, generalisasi yang dibayang-bayangkan saja oleh penulisnya. Sayangnya, generalisasi yang dibuat Burhan Shiddiq ini memuat keterangan-keterangan yang tidak tepat, berikut ini.

Kedua, mengejutkan sekali Burhan Shiddiq dalam puisi esai KS juga mencampuraduk kasus homoseksual antar lelaki dewasa dengan kasus pedofili yang dilakukan lelaki dewasa terhadap anak-anak. Dalam puisi esai KS, dia menyamakan keduanya begitu saja. Pada satu sisi, dia dengan jelas menyebut kasus pedofili dalam GRK sebagai kasus “pemerkosaan” (hlm. 47, 49 buku Konspirasi Suci), tapi di pihak lain dia menyamakannya dengan “cinta sesama pria” (hlm. 39, 43, 52, 53, 54, 55). Orang boleh terus berdebat pro dan kontra apakah perilaku homoseksual (antar gay) itu dapat dibenarkan. Tetapi hal yang sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan adalah bahwa pedofili itu kejahatan seksual yang para pelaku dewasanya harus dijatuhi hukuman, sama sekali bukan hubungan seksual antara dua lelaki dewasa. PBB bahkan menyatakan kejahatan pedofili dalam GRK sebagai penganiayaan terhadap anak-anak.

Ketiga, berkaitan dengan semua kasus kejahatan seksual yang berbentuk pedofili dalam GRK sedunia, semua orang sepakat bahwa anak-anak yang terlibat di dalamnya adalah para korban, dan sama sekali bukan pelaku aktif pedofili. Sebagai para korban, dalam semua kasus kejahatan seks pedofili, anak-anak harus dibela dan dilindungi. Hubungan anak-anak korban pedofili dan lelaki dewasa pelaku pedofili adalah hubungan korban dan penjahat, bukan hubungan antara dua orang pria dewasa yang saling jatuh cinta seperti dalam kasus-kasus pasangan homoseksual dewasa.

Nah, mengagetkan sekali, dalam puisi esai KS, penulisnya menggambarkan “anak altar” (yang berulangkali disebutnya sebagai “bocah-bocah”) juga sebagai para pelaku aktif dalam kasus pedofili di lingkungan GRK. Dalam bayangan Burhan Shiddiq, “bocah-bocah altar” ini, meskipun masih bocah, sama perannya dengan lelaki dewasa yang mensodomi mereka, yakni sama-sama dikuasai syahwat yang bergelora satu sama lain. Dia menulis di sana-sini tentang sang bocah altar yang dilanda syahwat yang bergelora terhadap lelaki dewasa. Antara lain:  

“Kami punya sepasang ular kencana
Yang saling jatuh cinta
Dan senang bersenggama”

“Sungguh, ya Bapa,
Di tubuhku ada seekor ular kencana
Yang selalu menjadi raksasa
Saat melihat pria-pria dewasa”

“Aku hanyalah bocah dungu
Yang mengharapkan cinta
Dari pendeta serupamu”

“Aku ingin menjadi kekasih
Yang senantiasa menemani kesepianmu”

“Atas kesanggupanku menjadi kekasih rahasiamu
Atas kesanggupanku menjadi kuda tungganganmu”

“Apakah cinta kita selalu menjadi dosa?” 

Nah, siapakah di dunia ini yang sanggup membayangkan bahwa anak-anak korban pedofili justru dibuat menjadi pelaku aktif yang rela dalam kasus-kasus pedofili? Ini pemutarbalikan kenyataan. Kasusnya serupa dengan kasus yang sudah terjadi di Jakarta International School (JIS) yang kini sedang diselidiki pihak berwajib: anak-anak di sana adalah korban pedofili, bukan pelaku aktif yang bersama lelaki dewasa berpacu melampiaskan syahwat masing-masing! Ngeri saya membayangkan apa yang dibayangkan dalam puisi esai KS. Anak-anak dibuat ikut menjadi para penjahat pedofili.

Keempat, dalam beberapa hal lain menurut saya Burhan Shiddiq kelihatan berlebihan dan juga menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui pemahaman gereja. Pada hlm 38 Konspirasi Suci, dia menyebut pedofili itu sebagai “bercinta di bawah mimbar gereja”, sesuatu yang sangat mustahil bisa terjadi dalam realitas, dan hanya ada dalam fantasinya sendiri.

Dia juga dengan keliru bertanya, mengapa umat pria boleh mencintai Yesus Kristus (yang disebutnya sebagai “lelaki penebus dosa”) sementara cinta manusia pria dengan manusia pria dipandang sebagai dosa (Konspirasi Suci, hlm. 37). Pertanyaan ini sangat keliru, sebab cinta umat kepada Yesus Kristus sama sekali bukanlah cinta berahi kepada seorang pria, melainkan cinta seorang manusia kepada Tuhan yang mereka sembah, cinta dengan aura ilahi. Selain itu, menyebut sang anak altar sebagai “Santu Petrus” saat terjadi tanya-jawab (dalam rangka ritual pengakuan dosa pribadi) antara sang anak altar ini dengan sang pastor pelaku pedofili, membuat pedofili diperluas ke atas, melibatkan para paus sendiri (sebagai pewaris jabatan rasuli dari Rasul Petrus) sebagai pelaku pedofili. Ini, bisa jadi, sebuah langkah yang kejauhan yang sudah diayunkan Burhan Shiddiq. Lepas dari ihwal apakah nantinya akan efektif atau tidak, satu hal sudah pasti: Paus Francis kini sedang melakukan hal-hal yang diperlukan dalam menangani kasus-kasus pedofili dalam GRK.    

Terakhir, kelima. Saya menemukan dalam puisi esai KS kata “pendeta” (ada sebanyak 13 kata) dicampuraduk dengan kata “pastor” (ada sebanyak 8 kata), dan dipakai dalam arti yang sama, yakni mengacu ke rohaniwan dalam GRK. Ini menunjukkan penulis KS tidak mengenal gereja dengan benar. Dia sebaiknya tahu, “pendeta” adalah sebutan untuk rohaniwan dalam gereja Protestan, sedangkan “pastor” dalam GRK. Kalaupun dia tahu dua kata ini berbeda secara semantik dan fungsional dalam masing-masing gereja, saya sukar menduga apa motif Burhan Shiddiq mencampuraduk dua jabatan yang berbeda ini dalam puisi esai KS yang menyoroti GRK. Apakah mungkin dia ingin menyamakan begitu saja gereja Protestan dengan GRK? 

Itulah catatan-catatan saya tentang puisi esai KS yang menjadi juara pertama. Tentu tim juri telah bekerja maksimal, karena bisa mendapatkan puisi esai KS dari antara dedaunan hutan rimba 888 puisi esai yang telah diseleksi. Mereka tentu telah berpengalaman. Tetapi mungkin saja peribahasa “sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali jatuh juga” berlaku buat mereka kali ini. Apa penyebab jatuhnya mereka, adalah sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih jauh.

Saya juga percaya bahwa Denny JA sendiri, setelah memahami catatan-catatan saya ini, tidak akan sependapat dalam segala segi dengan Burhan Shiddiq. KS potensial sekali menimbulkan sikap diskriminatif masyarakat terhadap GRK di Indonesia yang jelas tidak bisa disamakan begitu saja dengan GRK sedunia, khususnya menyangkut kejahatan pedofili.    

Supaya jelas di mana posisi saya, ingin saya tegaskan bahwa saya hingga saat ini adalah seorang pengkritik gereja yang tajam. Tetapi semua kritik saya terhadap gereja-gereja selama ini adalah kritik-kritik yang dibangun dengan landasan kajian-kajian saintifik. Tidak asal tulis atau asal ucap. Saya sangat berharap Burhan Shiddiq juga dapat melakukan hal yang serupa. Semangatnya untuk mengkritik, saya hargai. Puisi esainya KS kurang atau malah saya tidak hargai. Dia menulis puisi ini dari ketidaktahuan, dan kebanyakan dari fantasi-fantasinya yang liar.

Baca juga:


Monday, June 23, 2014

Teori psikologi Dissonansi Kognitif dan kegalauan kubu Prabowo

BREAKING NEWS!
Mungkin sekali dissonansi kognitif Prabowo sudah mulai berakhir pagi ini, Jumat, 17 Oktober 2014, di saat hari ulang tahunnya, berhubung pada kesempatan perayaan HUT-nya ini dia mengundang Pak Jokowi dan dengan hangat menyambutnya, tanda keduanya telah berdamai. Pada kesempatan HUT-nya ini, Prabowo menyatakan akan mendukung pemerintahan Jokowi yang akan mulai berlangsung 20 Oktober 2014, tapi juga akan terus mengkritiknya jika terlihat Pak Jokowi tidak berkomitmen lagi pada Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, ekonomi kerakyatan, dan NKRI. Semoga Prabowo dan segenap parpol koalisi Gerindra tidak lagi plintat-plintut di depan ini. Besok-besok, kita mungkin akan juga mendengar Amien Rais bertobat, mengakui dosa-dosanya kepada NKRI dan rakyat Indonesia, setelah sekian lama dia oleh masyarakat dipandang sebagai titisan tritunggal jahat Sengkuni-Banaspati-Tarkasur. Entah Pak Amien ini akan jadi titisan siapa lagi. Yang pasti, saya masih percaya dalam diri Pak Amien Rais masih bisa ditemukan nur ilahi yang akan kembali membuatnya hidup sebagai seorang ksatria dengan watak yang agung. Tunggu dan lihat saja.


--------------------------------------------

Kalau kita pakai teori “dissonansi kognitif”, people movement JKW yang dahsyat dan semakin meluas dapat diprediksi akan membuat berbagai kampanye hitam kubu Prabowo menggila! Wait and see! Dissonansi Kognitif sedang melanda kubu Prabowo, karena itu kampanye hitam makin menggila. Apa itu dissonansi kognitif?

Dissonansi Kognitif (DK) itu teori psikologi yang menjelaskan akibat dari kenyataan yang tidak diharapkan pada mental seseorang dan komunitasnya. Menurut teori DK, setiap orang atau setiap komunitas punya kepercayaan yang sangat kuat dipegang, dan tidak diragukan sedikitpun, dan memotivasi semua aktivitas kehidupan mereka. Kepercayaan ini sangat kuat dipegang, dan tidak pernah terpikirkan akan tidak terpenuhi atau gagal. Kepercayaan ini menjadi elan vital, daya kehidupan, life force. Kita semua hidup dalam suatu belief system tertentu, juga kaum ateis, bukan hanya kaum religius.

Friday, June 20, 2014

Para perempuan PSK Dolly, siapakah mereka?
Sebuah Pesan untuk Bu Risma!


Jelas, mereka sebetulnya tidak mau jadi PSK! Mereka merasa malu!


Apa titik tolak pemberantasan prostitusi, supaya efektif? Saya kira penyediaan lapangan pekerjaan pengganti dulu, bukan deklarasi yang menggaung dan tindakan represif. 

Supaya efektif, kita juga tetap harus eling bahwa yang kita hadapi adalah manusia perempuan yang real, yang punya pikiran dan perasaan, bukan benda mati yang tidak bergerak. Serendah apapun masyarakat yang mengaku beradab memandang para PSK, mereka tetap para perempuan yang punya pendapat sendiri tentang kehidupan dan masa depan. Dengarkanlah mereka dengan serius!  

Menyangkut kompleks prostitusi terbesar di Asia Tenggara, Gang Dolly di Surabaya, tidak bisa ujuk-ujuk kompleks ini ditutup ketika kepala daerahnya seorang pejabat baru. Adakanlah dulu riset di Dolly, dan temukan pekerjaan pengganti yang wajar apakah yang mereka masing-masing inginkan. Dengarkan mereka. Di antara kita pasti banyak orang yang sudah lama mengkaji seluk-beluk kehidupan dan “mind-set” para PSK. Libatkanlah mereka! Dan bekerjalah dengan sabar! 

Sunday, June 15, 2014

Saat para elit gereja menatap Rupiah! Oh my God!




Saya telah mendengar berita-berita yang membuat saya sangat prihatin. Ada berita yang ditunjang dengan sehelai fotokopi dokumen. Ada berita yang disampaikan beberapa orang yang jujur dan sangat dapat dipercaya lewat beberapa SMS dan BBM. Apapun juga, saya tetap realistik bahwa hal ini tentu bisa terjadi di dalam kehidupan orang beragama apapun. Kita semua adalah insan-insan yang punya dua sisi watak: watak baik dan watak jahat. Kita sendiri, bukan orang lain, yang harus memutuskan, mau mengembangkan sisi watak yang mana dan kenapa. Dengan harapan bahwa kita semua mau memilih untuk mengembangkan watak baik kita, tulisan ini saya tulis.  

Ada elit beberapa denominasi gereja di Indonesia yang telah dengan rasa senang menerima sogokan bermilyar-milyar Rupiah, lalu mengarahkan umat mereka untuk memilih pasangan capres-cawapres tertentu. Mereka adalah para koruptor walau mereka mengklaim darah Yesus telah menyucikan dosa-dosa mereka. Bukan hanya menilep uang negara, menerima sogokan dan uang pelicin juga termasuk kategori korupsi. Korupsi adalah tindak pidana! Mereka perlu diperkarakan secara hukum!

Saturday, June 14, 2014

Malam hitam kelam, Pak Jokowi!




Lihatlah, Pak Jokowi!
Malam semakin hitam, hitam, hitam, kelam, kelam, kelam
Kampanye hitam, hitam, hitam, makin kalap tak terkendali
Sehitam dan sekelam pikiran para pelaku dan pendana geram
Sekali hitam, semakin hitam, selamanya hitam sampai mati


Dari hulu ke hilir mengalir deras air hitam
Bermuara di lautan kebalauan yang hitam legam 
Meracuni banyak organisme di laut-laut dalam 
Hari-hari pun tampak beranjak menuju gelap temaram seram 

Thursday, June 12, 2014

Mitos tentang Joko Widodo (2)

Aku cinta ibu, dus aku perduli dia!


Tak ada yang salah jika Joko Widodo petugas partai!

by ioanes rakhmat 

Jangan terpojok jika ada pihak sana yang menyindir Joko Widodo itu petugas partai, seolah dengan menjadi petugas partai hancurlah reputasi dirinya. Ini sebetulnya sindiran yang sangat bodoh. Jika bukan penugasan partai, justru JW tidak akan menjadi capres.

Sistem politik dan persepsi rakyat pada masa kini belum memungkinkan ada capres independen, terlepas sama sekali dari parpol. Justru karena penugasan partai, capres JW berada dalam bingkai politik yang sekarang berlaku di RI, dus melegitimasinya secara hukum. Karena UU tidak memungkinkan ada capres independen, ketahuilah banyak petualang politik membangun partai hanya dengan satu tujuan, yakni untuk mengorbitkan dirinya sendiri jadi presiden, dengan mula-mula sebagai batu loncatan menjadi ketua umum partainya. JW tidak termasuk politikus tipe ini! Bukankah ini hal yang hebat?

Monday, June 9, 2014

Apakah aliens cerdas ada di angkasa luar, dan dari mana manusia berasal?

“Kita harus menyadari bahwa ada dunia-dunia lain di bagian-bagian lain jagat raya, yang dihuni oleh ras-ras manusia yang berbeda dan binatang-binatang yang juga berbeda.(Titus Lukretius, 99-55 SM)

“Kita tidak pernah dikunjungi para alien mungkin karena mereka pernah dulu memantau Bumi lalu berkesimpulan bahwa di planet ini tidak ada tanda-tanda kehidupan organisme cerdas.” (Neil deGrasse Tyson)

Apakah ada alien cerdas di angkasa luar yang sudah memiliki peradaban-peradaban sangat maju? David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein menyatakan bahwa “Jelaslah, pertanyaan apakah ada peradaban-peradaban lain dalam jagat raya adalah salah satu pertanyaan terpenting dari sains modern. Dan suatu penemuan kehidupan yang semacam ini, katakanlah lewat analisis data gelombang mikro, tentu termasuk peringkat semua perkembangan keilmuwan yang paling signifikan dan berdampak sangat jauh.”/1/  

Pujangga dan filsuf Romawi Titus Lukretius di abad pertama SM dengan mengherankan telah menjawab pertanyaan itu dengan positif (juga sebelumnya di abad ke-5 dan ke-4 SM oleh Leusippus, Demokritus, dan Epikurus). Yang tidak bisa diberi oleh para filsuf ini adalah bukti-bukti empiris. Di zaman kita, mari kita bersama-sama pikirkan jawaban-jawaban yang mungkin, dengan berani dan kreatif, namun tetap terkendali oleh ilmu pengetahuan. Harap dicatat ada sangat banyak jawaban telah dan akan terus diberikan terhadap pertanyaan ini. Yang saya akan beberkan di bawah ini hanyalah salah satu perspektif saja.

Dalam batas tata surya kita, alien ada, tapi mungkin sekali bukan dalam bentuk organisme cerdas, melainkan hanya dalam bentuk berbagai mikroorganisme. Saintis terkemuka NASA, Ellen Stofan, dalam minggu pertama April 2015 memprediksi bahwa pada 2025 kita akan sudah bisa menemukan mikroba-mikroba di luar Bumi dalam tata surya kita, dan dalam kurun 20 sampai 30 tahun ke depan bukti-bukti definitifnya akan kita sudah bisa temukan. Dia menyatakan, “Kita tahu di mana dan bagaimana kita harus mencarinya. Dalam kebanyakan kasus, kita sudah punya teknologinya, dan kita sudah berada pada jalan untuk menerapkannya. Jadi, menurut saya, kita dengan pasti sedang menuju ke sana.”/2/   

Pada pertengahan September 2014, NASA dan Library of Congress menyelenggarakan sebuah simposium selama dua hari yang bertema “Preparing for the Discovery”. Subjek yang dibicarakan adalah usaha-usaha untuk mengeksplorasi ihwal bagaimana kita perlu mempersiapkan diri bagi penemuan yang niscaya terhadap kehidupan di luar Bumi, baik yang berupa mikroba-mikroba yang sederhana maupun yang berupa organisme-organisme cerdas. Terkait dengan hal itu, astronom dan mantan sejarawan utama NASA yang mengorganisir simposium itu menyatakan hal berikut ini:/3/ 
“Kita sedang mempertimbangkan semua skenario tentang menemukan kehidupan. Jika anda menemukan mikroba, itu adalah satu hal. Jika anda menemukan kecerdasan, itu adalah suatu hal lain. Dan jika mereka berkomunikasi, ini adalah sesuatu yang lain lagi, dan bahwa respons kita akan bergantung pada apa yang mereka akan katakan, adalah sesuatu yang lain lagi. Idenya bukanlah kita menunggu sampai kita membuat sebuah penemuan, tetapi kita mencoba banyak hal dan mempersiapkan masyarakat umum untuk dapat memahami akibat-akibat yang akan dapat muncul jika suatu penemuan semacam itu telah diperoleh. Menurutku, alasan mengapa NASA mendukung hal ini adalah berkaitan dengan semua aktivitas belakangan ini yang berhasil menemukan eksoplanet-eksoplanet dan dengan perkembangan pesat dalam astrobiologi pada umumnya. Orang sesungguhnya memandang adalah jauh lebih mungkin sekarang ini untuk kita akan menemukan sesuatu, mungkin sekali pertama-tama mikroba-mikroba lalu mungkin belakangan organisme-organisme cerdas. Kekuatan pendorong di balik ini semua datang dari sudut pandang ilmu pengetahuan bahwa kini tampaknya jauh lebih mungkin kita akan menemukan kehidupan pada suatu saat di masa depan.”    
NASA mempunyai program jangka panjang dan jangka pendek untuk mencari kehidupan di antariksa, bukan terutama berupa alien-alien hijau bertubuh besar dan cerdas, tetapi berupa DNA lewat sebuah proyek yang dinamakan The Search for Extra-terrestrial Genomes (SETG) yang sekarang ini difokuskan dulu pada planet Mars./4/ Proyek SETG ini dikhususkan untuk menguji hipotesis bahwa kehidupan di planet Mars, jika ada, memiliki nenek moyang yang sama dengan kehidupan di planet Bumi. Bukti-bukti makin bertambah yang menunjukkan bahwa mikroba-mikroba yang dapat bertahan hidup, dapat ditransfer di antara dua planet ini, suatu kemungkinan yang sebagian didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi lintasan-lintasan meteor dan kajian-kajian magnetisasi yang mendukung hanya pemanasan yang moderat pada inti-inti meteor. Logis, jika kita berharap, proyek ini akan nantinya diperluas oleh NASA ke planet-planet lain manapun yang terjangkau, yang diduga berisi bentuk-bentuk kehidupan jenis apapun, misalnya bulan Europa dari planet Jupiter, yang kawasannya sangat asam.

Tetapi, berkaitan dengan alien-alien cerdas, bagaimana halnya di dunia-dunia lain di luar tata surya kita, dalam galaksi Bima Sakti, dan dalam galaksi-galaksi lain di seluruh jagat raya kita?

Wantariksa Voyager 1 setelah 35 tahun melanglang tata surya akhirnya pada Nov 2012 dipastikan telah keluar tata surya dan masuk ke dunia antarbintang. Jika ada organisme cerdas lain yang sudah maju di kawasan tata surya kita, mustinya berbagai wantariksa buatan manusia akan mengalami gangguan, berhubung mungkin saja ada semangat berperang antar berbagai organisme cerdas yang menghuni satu tata surya yang sama. Nyatanya, Voyager 1 aman-aman saja setelah selama 35 tahun menjelajahi seluruh kawasan tata surya.


 Wantariksa Voyager 1

Sudah ada tiga rover yang didaratkan Amerika Serikat di planet Mars: Spirit, Opportunity, dan yang mutakhir rover Curiosity. Misi utama tiga rover ini adalah menemukan mikroba di planet ini. Lebih dari itu, Amerika Serikat kini sudah menetapkan sebuah kebijakan antariksa resmi untuk paling lambat di pertengahan tahun 2030-an akan sudah ada wantariksa berawak manusia yang akan diterbangkan ke planet Mars. Sebetulnya, sesudah Amerika Serikat berhasil mendaratkan 12 astronot di Bulan (seluruhnya ada 6 misi yang sukses, dari 1969 hingga 1972), saat itu oleh NASA dan para pengambil kebijakan antariksa Amerika diantisipasi bahwa di tahun1980-an sudah akan ada astronot-astronot yang akan didaratkan di planet Mars. Tetapi karena sejak waktu itu terjadi perubahan kebijakan politik Amerika, dan karena kini ada anggapan-anggapan yang salah tentang anggaran keuangan NASA, misi mengirim astronot-astronot ke planet Mars masih tertunda. 

Sebetulnya di tahun 2015 ini sudah diperhitungkan bahwa misi mengirim manusia ke planet Mars akan jauh lebih murah biayanya dan lebih mudah dilaksanakan secara teknis jika kita sudah berhasil membangun koloni-koloni di Bulan kita. Selain itu, sudah dihitung bahwa kini untuk mengkolonisasi Bulan biayanya 90 persen lebih murah ketimbang yang dipikirkan sebelumnya. Bukan tanpa alasan jika Tom Moser, insinyur kepala dan manajer program Apollo dan International Space Station, menyatakan bahwa Kembali ke Bulan itu mudah, masuk akal dan anggarannya dapat dipikul, dan dapat menjadi jalan menuju planet Mars.... Tetapi, untuk ke situ, harus ada kemauan untuk melakukannya. Hoyt Davidson, yang bekerja di Near Earth LCC, berpendapat bahwa “Jika Bulan sudah dapat kita huni dengan permanen, kemajuan ini menjadi bagian paling mendasar bagi usaha-usaha selanjutnya untuk menghuni tempat-tempat lain di dalam sistem Matahari kita.”/5/

Tentang misi ke Mars, Chris Carberry dan Rick Zucker (keduanya dari Explore Mars Inc.) menyatakan bahwa kebanyakan oposisi terhadap eksplorasi planet Mars didasarkan pada informasi-informasi yang salah dan pada taktik-taktik pengalih perhatian, yang secara tersirat menyatakan atau bahkan mengklaim terang-terangan bahwa planet Mars akan membengkakkan anggaran keuangan NASA atau membahayakan anggaran Jaminan Sosial secara gila-gilaan jika fakta-fakta dan berbagai konteks anggaran yang sebenarnya diperhitungkan. Tetapi, Carberry dan Zucker juga, di lain pihak, menegaskan bahwa banyak pakar penerbangan antariksa percaya bahwa penerbangan manusia ke planet Mars dapat dicapai tanpa meningkatkan secara besar-besaran anggaran NASA; malah sebetulnya peningkatan anggaran Amerika dapat terjadi berkaitan dengan usaha-usaha menurunkan tingkat inflasi. Dengan demikian, orang dapat berpendapat bahwa secara fiskal NASA bertanggungjawab untuk mengirim manusia ke Mars alih-alih menghabiskan anggaran dalam jumlah yang sama untuk membiayai tujuan-tujuan yang kurang ambisius atau yang terus berubah. Mereka berdua pada akhirnya menegaskan bahwa “manusia tidak akan mengunjungi sebuah bintang terdekat atau bahkan bulan-bulan planet Jupiter kapanpun dalam waktu dekat; tetapi akhirnya kita akan dapat memiliki sebuah kesempatan untuk bergerak ke luar Bumi lalu memasuki angkasa luar dan mendarat di planet Mars, untuk mengeksplorasi, untuk menemukan sesuatu, dan untuk berkembang.”/6/   

Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk sebuah wisata ke planet Mars? Woow, besar sekali! Menurut perhitungan astronom National Institute of Aerospace, Sten Odenwald, sudah pasti akan diperlukan biaya lebih dari 100 milyar USD untuk mengirim sebuah wantariksa berawak pertama ke planet Mars. Odenwald juga menegaskan bahwa “menanam investasi sebesar 100 milyar USD untuk berwisata ke planet Mars― sebuah planet yang memberi risiko kecil, yang sudah kita kenal betul dengan menyeluruh semua detailnya ―masih dipandang sebagai sebuah angan-angan politis sekalipun dengan menggunakan teknologi yang ada.”/7/ 

Sangat banyak orang bertanya, mengapa para saintis harus mengeksplorasi planet-planet lain, Mars khususnya, sementara dana besar yang digunakan sebetulnya dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan penderitaan yang dialami masih banyak manusia di planet Bumi. Penelitian terhadap planet-planet lain dilakukan bukanlah terutama karena para saintis umumnya memang berjiwa peneliti dan penjelajah, dan juga bukan karena orang-orang miskin diabaikan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, tetapi karena masa depan umat manusia dan ketahanan kehidupan spesies ini seribu tahun ke muka memang sangat bergantung pada kolonisasi planet-planet lain oleh manusia sebagai rumah kedua, ketiga, dan seterusnya, di masa depan. Manusia sangat rentan musnah jika hanya mendiami planet Bumi, baik karena ancaman kemusnahan sebagai akibat terjangan sebuah meteor besar ke planet Bumi, maupun karena ancaman perang nuklir dan bencana-bencana yang dibuat manusia sendiri. Kondisi-kondisi semacam ini sudah kerap diingatkan oleh sejumlah saintis, antara lain untuk kesekian kalinya oleh Stephen Hawking baru-baru ini, 26 April 2015, dalam kuliahnya di Opera House, Sydney, Australia, lewat tubuh hologramnya./8/   

Selain planet Mars, ada enam tempat lain dalam tata surya yang diyakini memiliki kehidupan mikrobial. Enam tempat itu: 3 bulan planet Jupiter (Europa, Callisto, Ganymede); 2 bulan planet Saturnus (Enceladus, Titan); dan atmosfir planet Venus. Dari tujuh tempat ini, yang sekarang banyak diperhatikan manusia adalah planet Mars dan tentu saja bulan terbesar dan berkabut paling tebal planet Saturnus yang diberi nama Titan. Selain Bumi, bulan Titan adalah satu-satunya tempat di dalam tata surya yang memiliki sungai-sungai, hujan, lelautan, dan permukaannya juga dipenuhi bebatuan karang. Lewat pemantauan oleh wantariksa NASA yang mengorbit planet Saturnus, yang diberi nama CAPS (Cassini Plasma Spectrometer), kini diketahui Titan juga, seperti Bumi, mempunyai angin-angin kutub yang terus-menerus mendesak gas keluar dari atmosfir Titan lalu masuk ke angkasa luar. Juga sudah diketahui bahwa atmosfir Titan terdiri terutama atas nitrogen dan methana, dan tekanan pada permukaannya 50 persen lebih tinggi dibandingkan tekanan pada permukaan atmosfir Bumi./9/ Oleh Robert Zubrin, bulan Titan disebut sebagai “dunia di luar Bumi yang paling ramah di dalam sistem Matahari kita untuk dijadikan tempat tinggal baru manusia”. Arthur C. Clarke melihat Titan akan menjadi “pusat industrial masa depan sistem Matahari”. Adrian Berry dari The Telegraph menyebut Titan sebagai “rumah masa depan umat manusia.”/10/

Wednesday, June 4, 2014

Daud melawan Goliath !!!

Daud versus Goliath!


Dengan resminya Partai Demokrat memihak ke Koalisi Merah-Putih (diumumkan 30 Juni 2014) yang dipimpin Partai Gerindra dan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, langsung saja kelihatan bahwa sekarang ini kompetisi politis pasangan JKW-JK versus pasangan Prabhara adalah bak kompetisi Daud melawan Goliath. Daud si penggembala domba bertubuh sangat kecil, memiliki hanya sebuah katapel, dan dia maju dengan gagah berani untuk bertempur dengan Goliath si raksasa yang dilengkapi dengan baju besi perang. 


Anda tahu kisahnya ya, dan bagaimana si kecil Daud mampu mengalahkan si raksasa Goliath. Tetapi itu kisah, yang faktanya kini sudah mustahil diverifikasi atau difalsifikasi. Bagaimanapun juga, kisah ini, entah faktual atau fiktif, telah memberi banyak tenaga, kekuatan, motivasi dan keberanian bagi banyak orang yang sedang berjuang. Kisah heroisme Daud ini, setelah disekularisasi radikal, mampu membangun kepercayaan diri yang besar di kalangan orang kecil saat mereka harus menghadapi hal-hal besar dan berat.