Tuesday, March 25, 2014

Constructing secular morality


You must listen to the voices of the white angel!



N.B.: The much broader writing of mine that discusses the sources of morality, entitled Sciences and Values, is available here. Read it through carefully! 


Human beings first appeared on Earth 400.000 years ago,/1/ much older than the birth of the oldest religion so far as science can show. According to the latest archaeological findings, the oldest religion was constructed 70.000 years ago among Basarwa people in Botswana, Ngamiland, South Africa./2/

If ancient humans could live for such a long time (330.000 years) without having any religions, we can reasonably assume that they had secular morality which gave them directions in controlling their life. Without morality that rules, any societies across space and time cannot live and survive for a long time.

But, what are the sources for the secular morality that ancient humans built and developed? Ancient humans used, of course, their mind, knowledge, life experiences, and intuition, to produce secular ethics sufficient to regulate their simple life.

If ancient humans were able to live morally even though they had no religions, we in the modern era are able too even more. Using our modern sciences, mind, life experiences, and intuition, we too can construct secular moral views regarding everything to direct us in our complex lives. Science helps to construct secular ethics, i.e. ethics constructed not from religious texts but from scientific views of the good and the bad. But, can science give you moral views about everything in the world? Absolutely! The separation of moral values and sciences is an illusion resulting from the incorrect view that only religions can produce morality. It is said wrongly that sciences concern only with facts and theories, not with values; only religions are able to deal with values. This view is illusory. This illusion is to be removed from our modern consciousness once for all. In his recent book The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values Sam Harris states that “the split between facts and values-- and, therefore, between science and morality-- is an illusion.”/3/

Does science really concern with moral values? Yes, it does. I can argue for it via real examples which I myself can think about so far. 


Monday, March 17, 2014

Sebuah Tafsiran Baru atas Ateisme


“Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja. Dia lebih besar dari apapun rumusan manusia tentang hakikat-Nya yang Mahasempurna.”
(Abdurrahman Wahid) 

“Pengalaman yang paling indah yang kita dapat miliki adalah pengalaman dengan sang misterius. Sang misterius pada dasarnya kita rasakan berada di palungan seni yang sejati dan sains yang sejati.” (Albert Einstein) 

“Saat aku mengagumi pesona sang Matahari yang sedang terbenam atau keindahan sang Rembulan di malam hari, maka jiwaku melambung menyembah sang Pencipta. (Mahatma Gandhi)


Tulisan penting ini saya awali dengan mengacu ke sebuah acara yang di dalamnya saya terlibat aktif, kira-kira satu setengah tahun lalu. Di pagi hari, pkl 10.30-pk. 12.00, tgl 9 April 2012, saya bersama dua kawan lain tampil rekaman di Tempo TV, Jakarta, berbincang soal ateisme di Indonesia.

Fokus talkshow ini tentu Sdr. Alexander Aan, yang sedang diadili mula-mula karena soal ateisme yang dianutnya. Tapi menurut seorang teman dalam perbincangan itu, fokus kasus Aan sudah bergeser ke soal pelecehan figur besar Nabi junjungan kaum Muslim./1/ Jadi, sangat disayangkan! Mustinya Sdr. Aan tak melakukan tindakan tak terpuji ini. 

Thursday, March 13, 2014

Film The Last Temptation of Christ dan Konteks Sosial Gerakan Yesus

Pada hari Jumat, 14 Maret 2014, di Pisa Cafe Mahakam, Jln Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai pukul 16.00 sampai pukul 21.00, dilangsungkan pemutaran film panjang produksi tahun 1988 yang berjudul The Last Temptation of Christ. Film yang disutradarai Martin Scorsese ini dibuat berdasarkan novel fiktif dengan judul yang sama yang ditulis novelis Nikos Kazantzakis, dan dilayarlebarkan oleh Paul Schrader. Saya pada acara ini, yang dihadiri 60 orang, tampil sebagai pembahas film ini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Berikut ini bahan yang sudah saya siapkan.  

Kekaisaran Romawi menjajah Palestina sejak tahun 63 SM, terus sampai ke masa kehidupan Yesus dan masih berlanjut berabad-abad sesudahnya. Pada era SM, tercatat ada beberapa perlawanan kecil terhadap pemerintah Roma, misalnya yang terjadi di tahun 4 SM. Pemberontakan besar terjadi tahun 66-70 M, disebut sebagai Perang Yahudi I, yang berakhir dengan pembumihangusan kota Yerusalem dan penghancuran Bait Allah. Sisa-sisa pemberontak Yahudi bertahan di benteng Masada dekat Laut Mati; lalu benteng ini dikepung dan berakhir dengan bunuh diri massal para pemberontak bersama keluarga mereka masing-masing (tahun 74 M). Di pertengahan atau menjelang akhir pemberontakan ini golongan Zelotes tampil di garis depan, melawan dengan senjata; sebelumnya mereka memang sudah lama menolak pajak yang dibebankan Roma dan sensus penduduk.