Saturday, October 5, 2013

Agama butuh fiksi dan imajinasi yang bebas

Dalam imajinasi Yesus, sang gembala dengan happy memanggul satu ekor domba yang sebelumnya telah hilang dari kawanannya, kembali ke kampungnya



Yesus dengan efektif menyampaikan firman Allah lewat perumpamaan-perumpamaan yang dengan kreatif dan imajinatif disusunnya sendiri. Yesus sesungguhnya seorang pencerita yang menawan.

Begitu menawannya kisah-kisah fiktif yang Yesus susun dan sampaikan, sehingga kisah-kisah ini diingat terus dan diteruskan ke banyak tempat mula-mula secara lisan, dan diadaptasi dengan kreatif. Akhirnya lewat tangan-tangan orang lain, satu sampai tiga generasi setelah Yesus, kisah-kisah ini dituliskan sehingga bertahan, tapi juga terus mengalami aktualisasi dan kontekstualisasi untuk kebutuhan-kebutuhan di zaman-zaman dan lingkungan-lingkungan yang berbeda. 

Lewat fiksi-fiksi yang disusunnya sendiri dan dikisahkannya, Yesus membuat Allah dapat dimasuki banyak orang yang awam teologi. Yesus sendiri sebetulnya bukan seorang teolog terdidik, tapi seorang pencerita yang memiliki bakat alamiah yang besar. Yesus bukan seorang sarjana dan juga bukan seorang filsuf, tapi seorang pelipur lara yang menawan lewat fiksi-fiksi yang dikarangnya sendiri dan diceritakannya di hadapan rakyat jelata. 

Yesus biasa berkisah di hadapan banyak rakyat jelata yang tak terdidik, yang tiap hari harus menanggung banyak derita karena mereka hidup di bawah penjajahan bangsa Romawi dan kaki tangan Yahudi mereka. Kemarahan dan kebencian kepada kolonial Roma menumpuk dan membara dalam batin penduduk Galilea, kawasan tempat Yesus menghabiskan hari-harinya saat berada di tengah rakyat jelata.  

Fiksi-fiksi yang dikarang dan dikisahkan Yesus berkisah terutama tentang kerahiman Allah sebagai sang Raja bagi bangsanya yang setiap hari harus hidup berat dan susah karena kemiskinan yang parah. Azab mereka semakin bertambah berat karena mereka diwajibkan juga untuk membayar berbagai jenis pajak, baik pajak keagamaan maupun pajak yang dipungut kolonial Roma. 

Fiksi-fiksi yang disusun dan dikisahkan Yesus menyentuh kalbu rakyat jelata yang melihat di dalam fiksi-fiksi yang dikisahkan Yesus itu keadaan kehidupan mereka sendiri yang memang berat. Mereka menunggu-nunggu kedatangan pembebas-pembebas, yang akan mengubah kehidupan mereka. 

Lewat fiksi-fiksinya Yesus menghadirkan realitas-realitas kehidupan yang berubah jadi lain ketika ditempatkan di bawah kerahiman Allah.  

Lewat fiksi-fiksi yang disampaikannya ke hadapan rakyat jelata, Yesus tidak sedang menyebarkan sebuah agama baru untuk dianut mereka sebagai mualaf. Tujuan Yesus melantunkan kisah-kisah fiktifnya adalah untuk melipur lara rakyat jelata, menguatkan, memotivasi, membangun pengharapan, dan memberdayakan mereka.

Pada zamannya Yesus sesungguhnya tampil lebih sebagai seorang seniman sastra yang mahir menyusun dan mengisahkan kisah-kisah pelipur lara bagi rakyat jelata. Tak ada pemujaan Yesus sebagai Allah semasa Yesus sendiri aktif di kawasan-kawasan Galilea di negeri Yahudi yang menjunjung tinggi tawhid. Yesus dituhankan oleh gereja-gereja awal di kemudian hari setelah dia tiada, di banyak kawasan pagan Yunani-Romawi yang mengenal praktek religio-politik kompetitif untuk menjadikan orang-orang besar sebagai tuhan-tuhan dan allah-allah. Praktek religiopolitik ini dikenal sebagai deifikasi atau apotheosis.

Dalam sebuah kisah fiktifnya yang sangat terkenal hingga saat ini, Yesus dengan sangat menyentuh menggambarkan rakyat jelata sebagai seekor domba yang hilang dari tengah kawanannya, terjatuh ke dalam jurang. Tutur Yesus dalam kisahnya itu, sang gembala meninggalkan 99 ekor domba yang aman, untuk pergi mencari satu ekor yang hilang dan ada dalam ancaman bahaya yang bisa melenyapkan kehidupannya. 

Sang gembala itu susah-payah mencari satu ekor domba yang hilang itu, keluar masuk ngarai, sampai akhirnya dia menemukannya terluka di dasar sebuah jurang. Dengan gembira sang gembala itu menggendong domba yang hilang tapi sudah ditemukan kembali itu, membawanya dan mempertemukannya kembali dengan kawanannya, lalu semuanya dibawa pulang ke kandang mereka di kampungnya. 

Rakyat jelata terhibur dengan kisah domba yang hilang itu, karena di dalamnya mereka menafsirkan domba yang hilang itu adalah diri mereka sendiri. Mereka melihat diri terhilang karena telah tidak dipedulikan para pemimpin mereka, dan hidup susah dan terluka setiap hari seolah mereka telah ditinggalkan Allah mereka.  

Tapi lewat fiksi tentang domba yang hilang, yang Yesus telah ceritakan berulang-ulang di banyak lokasi dengan menawan, mereka diyakinkan bahwa sekalipun mereka hidup sengsara dan tak bisa memenuhi standar-standar keagamaan yang dituntut agama, Allah tetap mempedulikan mereka. 

Lewat fiksi domba yang hilang, dalam kalbu rakyat, Allah yang semula dirasakan jauh dan hidup terasa sangat berat, tiba-tiba berubah jadi lain. Allah jadi berada di tengah mereka. Sorga jadi ada di Bumi. Hati yang patah diutuhkan kembali. Semangat yang lenyap, jadi bangkit kembali. Putus asa diganti pengharapan. Rasa terasing dan sendirian diubah menjadi rasa terinterkoneksi dengan Tuhan yang rahmani dan rahimi dan dengan sesama anggota komunitas.

Fiksi yang baik, menyentuh hati, edukatif dan membangun, memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan anda, menjadikan anda hidup lebih baik, lebih tegar dan lebih berdayatahan.

Kalau anda seorang pengusaha, tentu anda tak mau rugi lebih besar hanya untuk mencari satu domba yang hilang, yang tak ketahuan rimbanya, dengan meninggalkan yang 99 ekor sehingga jumlah yang jauh lebih besar ini tak terjaga dan tak terlindungi. 

Tapi tutur Yesus, Allah itu rahimi: Dia tinggalkan yang 99 ekor hanya untuk cari satu ekor yang terhilang. Bukan perhitungan bisnis yang dipakai Allah. Yang satu ekor ini rakyat jelata yang tak bisa memenuhi berbagai tuntutan keagamaan, yang dibebankan para pemuka keagamaan mereka sendiri yang mengklaim diri sebagai orang-orang saleh wakil-wakil Tuhan untuk bangsa Yahudi. 

Ada banyak kisah fiktif yang Yesus sendiri telah susun dan kisahkan dengan menawan di hadapan rakyat jelata, yang dapat anda baca di dalam Perjanjian Baru maupun di luarnya, tentu saja dalam bentuk-bentuk yang sudah mengalami banyak adaptasi di kemudian hari. Adaptasi adalah suatu langkah cerdas yang selalu diperlukan untuk membuat kisah-kisah fiktif Yesus kontekstual dan aktual di zaman-zaman dan tempat-tempat lain, yang berbeda dari zaman dan tempat kehidupan Yesus sendiri. 

Tanpa adaptasi, teks-teks suci kuno hanya akan menjerumuskan kita ke dalam kubangan-kubangan hitam anakronisme (alias salah zaman) dan etnosentrisme (alias salah budaya). Tanpa adaptasi teks-teks suci kuno, anda akan dipaksa hidup mundur ke zaman-zaman penulisan kitab-kitab suci kuno yang pra-modern dan pra-ilmiah. Tanpa adaptasi teks-teks suci kuno, anda akan dipaksa untuk dalam segala hal meniru sepenuh-penuhnya dan sebulat-bulatnya gaya hidup dan cara berbudaya orang-orang di zaman yang lampau yang sudah lama berlalu dan di tempat yang jauh dari negeri anda sendiri.

Untuk menyampaikan teologi, yaitu pemahaman manusia tentang siapa dan bagaimana Allah itu, tak perlu orang menyusun teologi-teologi sistematik yang berat-berat yang biasa dilakukan para ahli agama, tapi cukup dengan mengarang kisah-kisah fiktif imajinatif yang mampu menggerakkan hati dan kalbu orang-orang yang mendengarnya. Yesus tahu, rakyat jelata zamannya membutuhkan kisah-kisah, bukan debat agama, untuk dapat mengenal kerahiman Allah yang akan mengubah diri mereka dan pandangan-pandangan mereka tentang diri Allah dan kehidupan mereka dan sesama mereka.

Setiap penggerak masyarakat umumnya tahu, rakyat jelata jauh lebih mudah disapa lewat kisah-kisah menawan, bukan lewat ceramah-ceramah agama yang berat yang disusun dan disampaikan para ahli agama yang harus dibayar mahal. Para nabi dan pendiri agama zaman kuno hampir semuanya memakai juga fiksi-fiksi teologis dalam usaha mereka menjelaskan siapa dan bagaimana Allah itu. 

Herannya, orang pada zaman modern ini bisa sangat berkeberatan jika dinyatakan bahwa firman Allah juga menyapa kita lewat fiksi-fiksi, atau lewat kisah-kisah rakyat. Di lain pihak, mereka sebenarnya tahu bahwa kitab suci mereka sebetulnya juga banyak memuat fiksi-fiksi teologis, fakta yang herannya disangkal mereka. 

Orang beragama tradisional umumnya tak suka ilmu pengetahuan, karena mereka telah terindoktrinasi untuk hidup hanya beriman, bukan bertanya dan mencari tahu. Tapi anehnya, mereka mengharuskan Allah berfirman hanya lewat fakta-fakta objektif empiris dan kisah-kisah nyata yang ada landasan sejarahnya dalam dunia real. 

Hanya ilmu pengetahuan yang mengharuskan setiap pandangan ilmiah dilandaskan pada bukti-bukti objektif empiris dan fakta-fakta nyata. Tak ada ilmu pengetahuan fiktif. 

Apakah akan ada orang yang akan menyatakan bahwa agama adalah sains? Setahu saya, jika seseorang itu memiliki ilmu pengetahuan, dia tidak akan pernah menyatakan begitu.

Jadi, ketika kaum agamawan tradisional mengharuskan setiap firman Allah harus berpijak pada fakta, mereka telah mengambil sikap keilmuan. Padahal, pada pihak lain, kaum agamawan tradisional umumnya tak bersahabat dengan ilmu pengetahuan yang dipandang mereka bisa merontokkan iman mereka yang kuat. 

Kalau betul mereka memang memandang agama mereka sebagai sebuah bangunan ilmu pengetahuan, maka, sejalan dengan sifat ilmu pengetahuan, mereka juga harus menerapkan metode-metode keilmuan untuk melakukan verifikasi atau falsifikasi elemen-elemen dalam bangunan agama mereka. Faktanya, hal ini nyaris tidak pernah dilakukan para agamawan konservatif.

Saya ingin ingatkan, banyak pendiri agama zaman kuno sangat piawai menyusun kisah-kisah fiktif yang mereka pakai untuk menyampaikan kalam Allah. Di tangan Yesus, fiksi-fiksi adalah media sastra yang dipakainya untuk menyampaikan kalam Allah dengan efektif dan menawan kepada rakyat jelata. 

Untuk bisa menyusun kisah-kisah fiktif yang menawan dan menggerakkan perasaan dan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia, orang harus memiliki daya imajinasi yang kuat dan kreatif, yang dibiarkan bebas muncul dan berkelana jauh dan tinggi. 

Agama itu bergerak dalam dunia nilai-nilai, bukan dalam dunia teori-teori dan fakta-fakta ilmiah. Karena itu agama juga butuh fiksi, metafora dan imajinasi, sebagai media untuk membuat nilai-nilai yang ditawarkan dan disebarkannya tampak real, kongkret dan menggerakkan hati. 

Tanpa kisah-kisah fiktif dan imajinasi yang bebas dan kreatif, setiap agama akan kering bak gurun-gurun pasir dan tak bisa menggerakkan perasaan dan kalbu manusia, hanya tertinggal sebagai fosil-fosil ideologis yang hanya patut disimpan dalam museum-museum.  

Tuhan itu begitu luas, multidimensional, ada di dalam tapi juga melampau dunia sehari-hari biasa. Karena itu untuk bisa masuk ke dunia-Nya, kita juga butuh kisah-kisah fiktif dan imajinasi, untuk membuka pintu-pintu gerbang dunia-dunia transenden. 

Yesus, yang hidup di abad pertama di negeri Yahudi, tahu betul kalau Tuhan itu ada dalam dunia nilai-nilai, dus dapat dimasuki dan dihayati dengan sangat kaya lewat fiksi dan imajinasi yang kreatif dan mempesona. Itulah medium sastrawi yang di namakan metafora.

Metafora (berasal dari dua kata Yunani meta dan ferein) adalah sarana dan wahana linguistik dan nonlinguistik yang membawa anda masuk atau pindah atau menyeberang (Yunani: ferein) ke kawasan lain yang berada di luar atau melampaui atau melintasi (Yunani: meta; Inggris: "beyond") dunia kodrati sehari-hari, yakni kawasan nilai-nilai yang lebih tinggi, kawasan adi-nilai, kawasan adikodrati. 

Lewat perumpamaan-perumpamaan yang disusun dan digubahnya sendiri dengan kreatif dan imajinatif, yang dikisahkan Yesus di hadapan himpunan rakyat jelata di banyak lokasi di Galilea, Yesus memindahkan mereka dari dunia penderitaan mereka sehari-hari di kawasan kodrati ke kawasan nilai-nilai yang lebih tinggi, kawasan adikodrati, kawasan Allah sang Bapa yang rahmani dan rahimi.

Kisah-kisah atau metafora-metafora yang menawan, baik faktual maupun fiktif, dan imajinasi, adalah unsur-unsur penting dalam setiap adonan agama yang membuatnya memuai dan mengembang, menjadi roti kehidupan untuk manusia. 

Tanpa metafora, agama akan kehilangan daya pikat, daya dorong dan daya gugahnya, yang membuat manusia termotivasi untuk menyusun ulang dan membarui pola pikir, suasana mental, sikap dan kelakuan, prioritas nilai-nilai, dan etika kehidupan mereka.

Kalau anda mau membangun sebuah agama hanya berlandaskan teori dan fakta ilmiah, yang anda akan hasilkan bukan agama, tetapi ilmu pengetahuan. Jika anda seorang yang konservatif dalam beragama, ya akui saja bahwa anda sebetulnya membenci dan memusuhi sains karena pandangan dan pendapat anda yang keliru total tentang sains dan teknologi.

Jadi, jika anda tidak mau melihat dan mengakui fakta bahwa setiap agama berisi fiksi-fiksi kreatif imajinatif, atau metafora-metafora, maka anda berkontradiksi dengan diri anda sendiri. Anda split, terpecah dan terbelah.

Beragamalah dengan menghayati fiksi-fiksinya dengan kreatif dan cerdas, sehingga kepribadian anda tumbuh seutuhnya. Keterbukaan pada fiksi bukan hal baru bagi setiap orang, sebab, jangan lupa, sejak di TK dan SD kita tahu, fiksi-fiksi dan imajinasi juga membentuk dan membangun kepribadian kita, tak hanya fakta-fakta. 

Kalaupun saya menekankan sains dibangun dengan landasan fakta-fakta, para saintis juga tahu sains juga melahirkan dan membutuhkan nilai-nilai. Sains yang berpijak pada fakta-fakta juga menggerakkan perasaan dan pikiran kita, dan setiap peradaban bergerak maju tak sedikit juga karena sains dan nilai-nilai yang dihasilkannya. 

Mungkin anda bertanya, nilai-nilai apa yang bisa diberikan sains sementara sains, dalam anggapan anda yang keliru selama ini, bergerak hanya dalam teori-teori dan fakta-fakta. Oh banyak. 

Sebut beberapa contoh saja: sains memberi anda nilai kecerdasan dan dorongan untuk makin tahu lebih banyak dan lebih banyak lagi. Sains juga memacu anda untuk berusaha keras dan cerdas untuk mengalahkan berbagai penyakit dan penderitaan, alhasil berbagai instrumen medik dan obat-obatan dibuat, diperbaiki, ditingkatkan dan disempurnakan, dan peringkat harapan hidup manusia meningkat. Sains yang makin berkembang, menghasilkan peradaban yang makin tinggi dan makin maju, yang disertai dengan rasa tanggungjawab untuk hidup dengan moralitas yang makin agung. Dan masih banyak lagi.

Siapapun yang mengenal dunia sains, dia akan tahu bahwa sains itu juga menggerakkan dan menawan perasaan kita, bukan hanya pikiran kita. Hanya sains yang bisa membawa kita ke dalam relung-relung dunia sub-atomik, yang dalam istilah sains-nya dinamakan dunia mekanika quantum; agama tidak bisa. Hanya sains yang bisa membawa kita ke relung-relung lebih dalam dari jagat raya tanpa batas, bahkan memandangnya lewat berbagai instrumen teknologis; agama tidak bisa. 

Jadi, dalam sangat banyak hal, sains sebetulnya jauh lebih menawan dan menggerakkan perasaan ketimbang agama.

Fisikawan Brian Cox bersama rekannya Jeff Forshaw dalam buku mereka yang berjudul Why Does E=mc^2? menyatakan bahwa sains itu memberi kita pelajaran “yang sederhana dan menyehatkan, yang membuat para saintis dipenuhi perasaan takjub, terpesona dan terpana: jagat raya ini jauh lebih kaya ketimbang yang dapat kita percayai dari pengalaman sehari-hari kita.” 

Resapi juga apa yang dikatakan Albert Einstein ini, “Pengalaman yang paling indah yang dapat kita miliki adalah pengalaman mengenai sang misterius, yakni perasaan yang mendasar yang ada dalam buaian seni yang sejati dan sains yang sejati.”

Kalau halnya demikian dengan sains yang bukan fiksi, apalagi dengan science fiction yang anda seringkali tonton. Tapi anda perlu ingat, ada dari antara fiksi sains yang pernah ada dan yang akan diciptakan yang memang bisa terwujud sebagai sains betulan, tetapi ada banyak juga yang selamanya tertinggal hanya sebagai fiksi, tak pernah dapat diwujudkan dalam realitas real. 

Juga anda perlu tahu, film-film fiksi sains tidak asal dibuat menurut selera produsernya, tetapi disusun umumnya setelah produsernya menerima banyak masukan dari para saintis yang berpikir futuristik. Sains tak membutuhkan fiksi sains, meski fiksi sains mampu merangsang pikiran para ilmuwan; tapi fiksi sains membutuhkan sains, minimal sains-sains dasariah atau basic sciences.

Tentu saja, agama bukan ilmu pengetahuan yang dibangun berdasarkan bukti-bukti objektif empiris, meski kitab-kitab keagamaan dan pranata-pranata agama-agama juga dapat menjadi sebagian objek-objek kajian ilmiah, misalnya kajian-kajian antropologis, arkeologis, studi-studi sosialbudaya dan studi-studi sejarah perkembangan pemikiran religius. Begitu juga, kitab-kitab keagamaan pastilah bukan tergolong jenis sastra fiksi sains. 

Ada lebih dari satu literary genre atau jenis sastra dalam kitab-kitab keagamaan, metafora salah satunya. Secara kolektif semua jenis sastra dalam kitab-kitab keagamaan pada hakikatnya dapat dipandang sebagai sastra-sastra yang mengungkapkan kasih sayang Tuhan kepada umat manusia dan cinta kasih manusia kepada Tuhan dan kepada sesamanya.

Bagaimanapun juga, dalam segala segi kehidupan, kita semua, sejak kanak-kanak hingga lanjut usia, membutuhkan nilai-nilai, baik nilai-nilai moral, maupun nilai-nilai estetis, artistik, eksistensial, dan saintifik. Agama yang sangat luas bergerak dalam dunia nilai-nilai, jelas jauh lebih banyak membutuhkan metafora-metafora, fiksi dan imajinasi yang kreatif dan menggugah, dalam menggambarkan nilai-nilai yang ditawarkan dan disampaikannya.

Tentu ada fiksi dan imajinasi bebas yang membangun kehidupan, dan ada juga yang merusak dan bisa memunahkan kehidupan. Tentu ada fiksi dan imajinasi yang membuat anda makin cerdas dan makin bermoral agung, dan ada juga yang bisa memperbodoh dan mengerdilkan jiwa.  

Metafora-metafora teologis tentang Allah sebagai panglima perang yang membela suatu umat dan memusnahkan umat lain dan melakukan genosida, atau yang membunuh seluruh anak sulung orang Mesir demi kepentingan bani Israel, tentu adalah fiksi-fiksi teologis yang buruk, brutal dan destruktif bagi moral manusia. 

Begitu juga, metafora imajinatif tentang suatu Allah yang memusnahkan kehidupan global lewat air bah tanpa belas kasihan, adalah fiksi teologis yang buruk, keras dan menghancurkan moralitas dan potensi keagungan kepribadian manusia. 

Psikologi pendidikan modern telah menghasilkan sangat banyak guru dalam dunia ini yang arif dan manusiawi dalam mendidik murid-murid mereka yang nakal atau yang telah melakukan kesalahan. Pendekatan mereka yang empatetis terhadap siswa dan siswi yang sedang dalam masalah bertabrakan dengan pendekatan Allah yang membasmi umat manusia, yang disembah sosok mitologis yang bernama Nuh. 

Selain itu, fiksi tentang seorang perempuan, bersama suaminya, yang karena memenuhi keingintahuannya untuk mendapatkan pengetahuan dan pengertian dijatuhi hukuman sangat berat oleh Allah, adalah fiksi teologis yang buruk dan memperbodoh manusia karena membuat manusia takut untuk mengikuti dorongan rasa ingin tahu (kuriositas) yang sebenarnya menjadi salah satu pendorong kuat lahirnya ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban.

Supaya fiksi ini masih bisa bermanfaat buat anda, pandanglah perempuan Hawa sebagai sang pembebas manusia dari ketidaktahuan, bukan sebagai sang insan penyebar dosa turunan. 

Selanjutnya, anda perlu menemukan dan mengalami kalau fiksi-fiksi teologis yang Yesus susun dan kisahkan dengan menawan untuk memberdayakan rakyat jelata Yahudi adalah fiksi-fiksi yang membangun kehidupan. Banyak orang menemukan Yesus itu menawan dan menggugah kalbu justru karena mereka tersentuh oleh perumpamaan-perumpamaan yang Yesus susun sendiri dengan kreatif, imajinatif dan kaya makna dan pesan.

Jadi, pandai-pandailah memanfaatkan fiksi-fiksi kreatif imajinatif yang ada dalam bangunan agama anda. Seleksilah dengan bijak mana yang anda akan ambil dan hayati, dan mana yang anda harus tidak pakai lagi. Pilihlah yang satu, dan singkirkan yang lain. 

Akal sehat, penalaran logis, ilmu pengetahuan, nurani serta pengalaman hidup individual, komunal dan global, dan hukum-hukum alam yang tetap dan abadi, tentu akan membantu anda untuk tahu mana fakta dan mana fiksi, dan mana fiksi yang membangun dan menghidupkan, dan mana fiksi yang merusak, mengotori, menghancurkan dan membinasakan kehidupan dan peradaban. 

Mari kita jalani dan arungi kehidupan kita dengan perahu-perahu metafora yang agung. Perahu-perahu jenis ini mampu membawa dan memasukkan kita ke kawasan-kawasan nilai-nilai kehidupan yang makin tinggi dan makin agung, melampaui kawasan kodrati keseharian kita. 

Setiap hari kita melihat, mendengar dan mengalami hingar-bingar, kegaduhan, hiruk-pikuk, polusi mental, kompetisi keras, kedengkian, iri hati, fitnah, kejahatan, brutalitas, kekerasan dan teror dalam berbagai bentuk. Kayulah perahu metafora anda untuk pindah dan masuk ke dunia yang lebih tinggi dan agung.

Stay blessed.