Tuesday, August 21, 2012

Evaluasi atas Doktrin Yesus Satu-satunya Jalan: Keep Smiling, Please!

Bayangkan, apa yang akan terjadi, 
jika di seluruh muka Bumi terdapat hanya satu jalan raya saja?!



Begitu anda dikuasai bulat-bulat oleh agama anda, 
maka semua hal lain dalam dunia ini menjadi salah dan keliru.
ioanes rakhmat

Jika Yesus Kristus bukan satu-satunya jalan,
demikian juga semua orang suci lain.
Memaksa mereka untuk menjadi satu-satunya jalan, 
hanya membawa manusia ke jalan-jalan buntu.
Jika anda bertelinga, dengarlah!
ioanes rakhmat

Banyak orang beragama serius mau maju, tapi majunya ke belakang, 
atau ke atas, atau ke bawah, dan bukan ke depan tanpa akhir. 
ioanes rakhmat

Untuk kesekian kalinya, ada seorang teman saya di Facebook yang mengirim sebuah message ke inbox saya, berisi 4 pertanyaan yang semuanya tentang agama. Salah satu pertanyaannya memang tipikal, apakah benar Yesus Kristus itu satu-satunya juruselamat dunia untuk seluruh umat manusia, satu-satunya jalan keselamatan yang terjamin, yang akan membawa manusia masuk ke surga setelah kematian.

Saya sudah menjawab empat pertanyaannya itu dengan ringkas di Facebook saya; yang sekarang ingin saya share adalah jawaban saya terhadap pertanyaannya di atas, dengan lebih luas. Kali ini, saya tidak akan mengupas lagi teks-teks Alkitab, sebab saya sudah melakukannya dalam tulisan saya yang lainnya./1/ Kali ini, saya akan fokus pada segi-segi historis, sosiologis, antropologis dan kultural, untuk memperlihatkan bahwa klaim orang Kristen bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya sang penyelamat dunia ini sudah harus disimpan dalam sebuah museum fosil agama.

Pertama, adalah sebuah fakta keras bahwa ada banyak agama dalam dunia ini, yang lahir dan berkembang dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaan yang berlainan, dan di tempat-tempat dan di lingkungan alam yang berbeda pula. Jadi, sudah merupakan sebuah fakta yang tak bisa dielakkan bahwa dalam dunia ini ada sangat banyak agama, dan ke depannya akan semakin banyak agama baru bermunculan, sejauh otak manusia masih memerlukan input spiritual dan mengeluarkan output spiritual, sejauh agama-agama masih fungsional mempengaruhi dengan positif jalannya dan berkembangnya peradaban-peradaban insani yang bermacam-macam.

Tidak ada satupun agama yang isinya sama sepenuhnya dengan agama lain; bahkan ada lebih banyak perbedaan bahkan pertentangan di antara agama-agama, ketimbang titik-titik temu atau paralelisme antar agama-agama khususnya di sekitar tema-tema universal seperti kebijaksanaan dan sejumlah nilai moral (kebajikan, cinta, altruisme, kejujuran, kepedulian, solidaritas, pengendalian diri, ketahanan kehidupan, dan lain-lain). Dalam dunia kita ini, tidak hanya ada buah apel satu jenis, tapi ada banyak jenis buah apel, dan tidak hanya ada buah apel, tapi ada banyak buah lain: mangga, duren, kedondong, salak, pisang, anggur, kelapa, duku, rambutan, jambu, sirsak, manggis, pepaya, melon, dan seterusnya; meskipun semuanya termasuk buah-buahan, jenisnya berlainan dan tidak bisa disamakan atau dibandingkan atau, apalagi, dipertandingkan. Nah, dilihat dari sudut ini, tidak mungkin hanya satu agama di dunia ini yang benar, atau yang dipilih Allah dengan membuang semua agama lain. Jadi, klaim bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan atau bahwa agama Kristen (versi yang mana, juga sebuah problem besar!) adalah satu-satunya agama yang benar dan sempurna, seharusnya sudah sejak lama disimpan saja dalam Alkitab, tak perlu didiskusikan dan dikabarkan lagi, karena klaim ini absolutely naive and definitely uninformed

Kedua, mari kita bayangkan, jika di muka Bumi ini hanya ada satu jalan raya, atau hanya ada satu jalan tol, dan semua sisa bagian muka Bumi lainnya adalah hutan atau lautan atau bahkan kawah-kawah gunung berapi yang masih aktif, akan jalankah kehidupan di muka Bumi kita? Atau, mari kita bayangkan, jika di muka planet kita ini hanya ada satu sungai yang mengalir, dan bagian sisanya hanya berupa daratan yang kering dan gersang, atau gunung-gunung tinggi yang tak terdaki, atau lautan api dan belerang panas, akan jalankah kehidupan di muka Bumi? Nah, metafora-metafora ini tentu langsung menyadarkan kita betapa tidak mungkinnya kehidupan di muka Bumi ini, dalam semua seginya, akan berjalan jika Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan dan agama Kristen satu-satunya agama yang benar.

Tentu kita boleh saja membayangkan bahwa bisa saja hanya akan ada satu agama yang dianut di muka Bumi, misalnya agama Kristen, dan hanya akan ada satu manusia suci di muka Bumi, yakni Yesus Kristus, yang disembah oleh lebih dari tujuh milyar orang. Tetapi, mengingat bahwa sekarang ini ada sangat banyak agama (agama-agama besar maupun agama-agama kecil, agama-agama kuno maupun agama-agama baru), maka jika akhirnya di dunia ini hanya akan ada satu saja agama (agama Kristen) dan hanya akan ada satu manusia suci saja (Yesus Kristus), kondisi ini hanya bisa tercipta setelah dunia dilanda perang agama besar-besaran dan berlangsung sangat lama, dengan korban yang berjumlah fantastik dan dengan menenggelamkan sekian peradaban insani.

Tanpa lewat perang habis-habisan dan mengerikan, yang pasti akan melibatkan senjata-senjata pemusnah massal (nuklir, biologis dan kimiawi), tidak akan pernah muncul satu agama saja sebagai sang pemenang, tidak akan pernah muncul satu manusia suci saja sebagai sang victor. Tetapi ketahuilah juga, jika anda ingin nantinya di dunia ini hanya akan ada satu agama Kristen dan satu manusia suci yang dijadikan dan disembah sebagai Tuhan, yakni Yesus Kristus, sebelum ini terjadi semua kehidupan di muka Bumi akan sudah musnah lebih dulu, dan planet Bumi berubah tak bisa dihuni lagi, karena perang yang mengerikan itu. Jadi, klaim bahwa hanya ada satu agama yang benar dan hanya ada satu manusia suci juruselamat, sudah seharusnya disimpan saja dalam kitab suci, tak usah diberitakan dan diperjuangkan, karena klaim ini politically naive, uninformed and lethal.

Ketiga, jika anda ngotot mempertahankan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya agama yang benar, dan Yesus Kristus satu-satunya juruselamat dunia yang sanggup menebus tujuh milyar manusia lebih di abad keduapuluh satu ini, sesungguhnya anda juga mempertahankan sebuah konsep teologis tentang suatu Allah yang tak bisa melihat, yang berpandangan naif, dan yang tak bisa menerima fakta bahwa sejak dulu, jauh sebelum agama Kristen lahir, hingga kini, dan seterusnya, ada sangat banyak manusia yang memiliki watak dan moralitas yang bagus dan agung, ada banyak manusia yang memiliki kecerdasan yang cukup dan yang tinggi, yang semuanya sejak dulu, secara kumulatif dan progresif, telah membangun kehidupan manusia dan peradaban-peradaban.

Karena peran besar yang mereka pikul, secara bertahap dan bersama-sama, kita sekarang sudah memasuki zaman modern yang ditandai berbagai macam bentuk kemajuan di banyak bidang kehidupan, dan kita akan terus makin maju, dan akan terus makin memperluas peradaban, dari yang sekarang sebagai peradaban planetari sampai nanti yang akan berbentuk peradaban galaktik, tak pernah berakhir.

Nah, semua perkembangan ini, dengan berlandaskan prestasi-prestasi insani yang telah dicapai sebelumnya, tidak mungkin terjadi hanya oleh satu orang suci juruselamat dunia yang sama sekali tak pernah mengecap kehidupan modern dan sama sekali tak memahami sains modern, atau hanya lewat satu agama dunia yang disusun ratusan atau ribuan tahun lalu. Ke depannya, orang yang bermoral agung dan yang berotak jenius, bukan makin berkurang, tetapi justru akan makin bertambah banyak terus. Mengapa? Karena kita sekarang makin bisa hidup hiegenis dan makin mampu mencukupkan kebutuhan gizi tubuh kita dengan hasil organ otak kita tumbuh dengan lebih baik. Selain itu, karena metode-metode pembelajaran dan pendidikan yang kita pakai dan terus kembangkan dewasa ini makin menopang peningkatan kecerdasan dan pengetahuan manusia, dan juga karena kesadaran bahwa kita harus membangun peradaban dengan lebih maju lagi dan mengembangkan sains modern terus-menerus, makin meningkat dan mengglobal (kendatipun ada arus sebaliknya yang menghendaki peradaban modern dan sains modern dimusnahkan dari muka Bumi, yang bersumber dan memancar dari beranekaragam fanatisme religius yang sangat berbahaya yang diidap sangat banyak orang pada masa kini yang selalu histeris dan depresif).

Nah, dihadapkan pada fakta historis, sosiologis, kultural dan antropologis di atas, klaim bahwa agama Kristen adalah satu-satunya agama yang benar dan bahwa Yesus Kristus satu-satunya juruselamat dunia, adalah sebuah klaim yang shamefully naive and uninformed, theologically blind, historically, culturally and anthropologically unrealistic, dan karenanya sudah seharusnya disimpan saja dalam museum agama Kristen.  

Nah, ketimbang anda ngotot terus mempertahankan keyakinan anda bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan bahwa agama Kristen versi yang anda anut adalah agama yang benar satu-satunya (atau yang paling benar satu-satunya), renungkanlah dalam-dalam hal-hal yang telah saya kemukakan di atas, dengan hati yang tenang dan dengan pikiran yang terbuka. 

Saya menjamin bahwa ketika anda sudah melepaskan klaim-klaim keagamaan anda yang naif itu, agama anda masih bisa beperan positif dan fungsional dalam dunia ini, sebagai sumber-sumber inspiratif bagi suatu gerakan moral memerangi berbagai penyakit yang masih berjangkit dalam masyarakat anda dan masyarakat dunia: korupsi, kekerasan, terorisme, ketidakadilan dalam berbagai bidang kehidupan, perang, kemiskinan, sakit penyakit, kelaparan, kebodohan, fanatisme, kerusakan lingkungan kehidupan, penindasan, ketakutan, pelanggaran HAM, dan seterusnya.

Jika anda berhasil mengubah agama anda menjadi sebuah sumber spiritual dan moral bagi gerakan moral yang agung ini, dan tidak lagi mengangkat wacana-wacana yang saya sudah perlihatkan di atas sebagai wacana-wacana yang naif, agama anda masih akan tetap fungsional dan berpengaruh. Untuk hal ini bisa anda capai, tentu anda juga harus melakukan evaluasi dan kritik yang pantas terhadap agama anda, sebab di dalam setiap agama, selain kebajikan dan kedamaian diberitakan dan dianjurkan, ada juga ajaran-ajaran dan kisah-kisah tertentu di dalamnya yang bisa menjadi sumber inspiratif untuk orang melakukan berbagai macam tindak kekerasan dan kekejaman, atau untuk mempertahankan kebodohan dan keterbelakangan.  

Fokuskanlah diri anda pada perjuangan moral itu, lewat komunitas keagamaan anda, sementara anda masih hidup sekarang ini dalam dunia ini, mungkin sampai usia 70 atau 80 tahun saja. Jadikanlah dunia yang sekarang ini surga bagi semua orang dan semua makhluk, dan padamkan api neraka real yang kini sedang bernyala dalam dunia ini. Tidak perlu lagi anda terpincut oleh iming-iming permen sorgawi setelah kematian, atau ketakutan pada ancaman rotan api neraka setelah anda wafat. Hanya kanak-kanak saja yang baru mau belajar kalau kepadanya dijanjikan hadiah permen atau boneka, atau kalau kepadanya diancamkan sebatang rotan yang akan dipukulkan ke pantatnya kalau dia tidak mau belajar atau tidak mau menurut.

Dengan rendah hati, jadikanlah diri anda sendiri juruselamat pertama-tama bagi diri anda sendiri, dan jika anda bisa, juga bagi masyarakat anda, bersama sangat banyak orang lain, lewat kehidupan anda, lewat karya-karya anda, lewat ilmu pengetahuan anda, dan lewat cinta kasih anda, dan lewat pengendalian diri yang kokoh. Tugas anda ini masih sangat panjang, dan akan terus dilanjutkan oleh banyak orang lain di generasi-generasi yang akan datang, dan planet Bumi kita dan jagat raya kita, dan kehidupan, masih akan ada milyaran tahun ke depan....

Jakarta, 21-8-2012
ioanes rakhmat

Catatan-catatan:

/1/ Lihat tulisan saya, Fundamentalisme dan Teks-teks Skriptural Eksklusif Kristen


Monday, August 6, 2012

Album buku-buku saya
My books album



Buku terbaru saya, 
Judul: Beragama dalam Era Sains Modern
Penulis: Ioanes Rakhmat
Penerbit: Pustaka Surya Daun (2013)
Tebal: 520 halaman
Ukuran: 15 cm x 21 cm 
ISBN: 978-602-19983-1-1

Harga (dari penulis): Rp. 90.000,- per eks.

Sekarang tersedia hanya di toko Gramedia, dengan harga Rp. 115.000,- per eks. Bergegaslah untuk membeli buku langka ini.

Pesan lewat sms ke HP saya no 082 1220 15570. Kirim nama lengkap dan alamat lengkap anda ke HP saya. Ongkos kirim ekonomis ditanggung pembeli.

Buku BDESM ini terdiri atas 14 bab, 3 lampiran, bibliografi 31 halaman, indeks 13 halaman. Hemat saya, ini adalah karya terbaik saya dari antara sekian karya saya sebelumnya. Dalam buku tebal ini, yang saya kerjakan selama 1 tahun, setelah memberi gambaran luas mengenai konteks dunia masa kini yang di dalamnya agama-agama berjumpa dengan sains, saya memaparkan banyak temuan sains modern di berbagai bidang yang saya perhadapkan dengan klaim-klaim doktrinal keagamaan, dan saya memperlihatkan konflik-konflik yang timbul di antara keduanya; lalu dari situ saya merambah mencari bentuk-bentuk spiritualitas alternatif, yang dihayati dan dirayakan dengan melibatkan sains. Dalam bab terakhir buku ini (bab 14), saya mengajukan sebuah spiritualitas yang saya namakan spiritualitas saintifik. 


Dua Testimoni untuk buku BDESM

Manusia memerlukan “meaning of life”, makna hidup, yang selama ini dibawa oleh agama. Manusia juga memerlukan penjelasan rasional tentang segala sesuatu dalam jagat raya ini yang selama ini dibawa oleh riset ilmu pengetahuan. Apa daya, acapkali doktrin-doktrin agama tidak sejalan dengan kesimpulan-kesimpulan ilmiah. Namun dalam buku ini, penulisnya mensinergikan religiositas, atau lebih tepat: spiritualitas, dengan empirisisme ilmu pengetahuan ke dalam apa yang dinamakannya “spiritualitas saintifik”. Ini adalah jenis penghayatan spiritual  yang telah membersihkan diri dari berbagai mitologi agama tapi tetap membuka diri dengan luas terhadap keindahan dan misteri semesta yang puitis, yang tahap demi tahap sedang dikuak oleh ilmu pengetahuan tanpa akhir. Buku ini enak dibaca dan mencerahkan. 

Denny JA, pakar ilmu politik bidang kajian demokrasi dan demokratisasi, lulusan Ohio State University, USA, entrepreneur intelektual, direktur eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, aktivis gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi

Pertanyaan tentang asal-usul kehidupan dan bagaimana kelanjutannya setelah kehidupan satu individu berakhir hingga kini tetap penting dan jawabannya terus berkembang dari waktu ke waktu. Ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan keyakinan keagamaan yang cenderung statis tak pelak lagi menghasilkan kesenjangan yang makin lebar dalam memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial manusia. Di sisi lain, agama haruslah memerlukan argumentasi rasional supaya penegasan atas keyakinan-keyakinannya memiliki dasar yang kokoh, alhasil menimbulkan rasa nyaman bagi individu yang meyakini. Tapi pada pihak lain, pendekatan yang rasional terhadap agama ini potensial menimbulkan konflik dalam jiwa orang yang tidak biasa berpikir saintifik. Dalam buku ini, penulisnya menawarkan berbagai alternatif bagaimana kita perlu menyikapi kesenjangan yang ada antara sains dan keyakinan keagamaan, dan memberikan ruang gerak yang lebar dalam mencari bentuk-bentuk spiritualitas baru.  Sebuah terobosan pemikiran baru yang menyegarkan.

Ryu Hasan, pakar bedah saraf lulusan Universitas Tokyo, dosen di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, bekerja di rumah sakit Mayapada dan Sahid Sahirman Memorial Hospital Neuroscience Centre

==================================



Judul: Memandang Wajah Yesus: 
Sebuah Eksplorasi Kritis
Penulis: Ioanes Rakhmat

Penerbit: Pustaka Surya Daun
Waktu terbit: Maret 2012; cetakan pertama
ISBN: 978-602-19983-0-4
Tebal: xxiv + 260 hlm; ukuran: 14,8 cm x 21 cm

Harga: Rp. 70.000,- per eks.
Tempat pemesanan:
Ioanes Rakhmat (HP 082 1220 155 70) 

Kirimlah dengan SMS nama lengkap dan alamat lengkap anda ke HP saya.

Sekarang tersedia hanya di toko Gramedia se-Indonesia.

Pengiriman: dengan jasa pengiriman tiki JNE ekonomis; ongkos kirim ditanggung pembeli (dalam kota Jakarta, ongkir ekonomis hanya Rp 7.000 per kg).

Dengan membeli buku ini, anda ikut menopang penyebaran gagasan-gagasan progresif dalam dunia agama-agama; dus itu berarti anda ikut juga membangun masa depan masyarakat yang lebih baik dan lebih tercerahkan.

Meskipun buku ini fokus pada pengkajian akademik atas berbagai segi sosok Yesus dari Nazareth, pendekatan metodologis yang diajukan buku ini dapat diterapkan dalam pengkajian historis figur-figur besar lainnya dalam dunia agama-agama. Pengkajian atas sosok Yesus dalam tiga bab buku ini (bab 9, bab 10 dan bab 11) memberi sumbangan berharga bagi dunia Muslim dalam memahami siapa dan bagaimana Isa al-Masih itu. Orang-orang yang selama ini hanya membutuhkan makna rohani diri Yesus dari Nazareth perlu membaca dan memahami buku ini karena lewat buku ini mereka akan mengalami perluasan perspektif tentang siapa Yesus itu jika dia dikaji dari sudut ilmu sejarah dan dari sudut kritik sastra serta kajian-kajian sosiologis.

4 endorsements untuk buku ini:

Tentu saja, kata “wajah” pada judul buku ini harus diartikan sebagai kiasan, karena kini tak seorangpun tahu wajah Yesus yang sebenarnya. Jelas, yang dimaksud adalah “pengetahuan” tentang apa yang Yesus sungguh-sungguh katakan dan lakukan semasa kehidupannya, pengetahuan mengenai “Yesus sejarah”. Usaha mendapatkan pengetahuan semacam ini bukan hal baru, tapi sudah muncul sejak lebih dari tiga ratus tahun lalu. Sejauh saya tahu, belum ada buku lain dalam bahasa Indonesia yang menyodorkan begitu banyak informasi mengenai upaya ini serta hasilnya seperti buku ini, yang ditulis oleh seorang pakar yang sudah lama mengasyikkan diri di bidang ini.
Richard W. Haskin, Ph.D., mahaguru emeritus bidang kajian Perjanjian Baru 

Di samping dialog antar-agama, kita juga memerlukan dialog intra-agama yang dapat memperkaya kita dengan berbagai pandangan dari sesama umat yang berbeda visi dan penghayatan. Karena itu buku ini penting dibaca oleh setiap orang yang ingin dengan kritis mengembangkan pandangannya tentang Yesus. Kendatipun ada hal-hal yang mungkin tak dapat diterima sepenuhnya, namun dalam buku seperti ini kita justru menemukan juga data, interpretasi, dan visi baru yang jarang diungkap dalam buku-buku kajian teologi yang sehaluan, padahal usaha membantu memperluas horizon kita sangat penting dilakukan pada masa kini.
Martin Harun OFM, mahaguru ilmu tafsir Alkitab di STF Driyarkara, Jakarta 

Salah satu persoalan krusial dalam kajian agama Kristen adalah biografi Yesus. Tentu saja, yang dimaksud dengan kajian di sini bukan sekadar ulasan saleh tentang siapa Yesus seperti lazim kini ditemukan dalam berbagai komunitas Kristen, tapi suatu disiplin akademis ketat yang menyoroti kehidupan Yesus sebagai manusia yang lahir, tumbuh, dan mati, tanpa melibatkan hal-hal supernatural. Buku ini merupakan sebuah karya penting yang mengulas tema krusial ini dari berbagai sudut, dan menunjukkan jalan bagi kita untuk memasuki wilayah yang menantang iman Kristen dan juga iman siapa pun terhadap Yesus.
Luthfi Assyaukanie, pengajar filsafat agama di Universitas Paramadina, Jakarta 

Dalam setiap agama, selalu kita jumpai hubungan yang kerap penuh ketegangan antara ortodoksi yang diikuti sebagian besar umat dan heterodoksi yang membangkang. Pihak ortodoksi biasanya berusaha keras untuk membatasi pengaruh pandangan yang membangkang itu. Bagi saya, hubungan yang tegang semacam ini selalu menarik, sebab di sanalah biasanya suasana dinamis dan kreatif akan lahir dalam masyarakat agama apapun. Jika agama hanya diisi dan dikuasai oleh pandangan ortodoks saja, jelas agama apapun akan sangat membosankan. Dalam buku ini, anda akan menemukan pandangan dan interpretasi yang berbeda dari pandangan ortodoks Kristen mengenai figur Yesus. Karena alasan itulah, buku ini betul-betul menarik untuk dibaca.
Ulil Abshar-Abdalla, cendekiawan Muslim Indonesia *****
=============================


Judul: 
Sokrates dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks

Penulis: Ioanes Rakhmat
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2009)
ISBN: 978-979-22-4500-4
Tebal: xix+322

Harga: Rp. 60.000,- per eks
SUDAH HABIS!

Inilah buku pertama dalam bahasa Indonesia yang menghadirkan seutuhnya empat dialog Plato (yang dikenal sebagai Tetralogi Plato) yang di dalamnya Sokrates mengambil peran penting dan utama.

Lewat tetralogi Plato ini, kita dapat menjumpai sosok Sokrates, sang filsuf cerdas dan pembangkang, yang harus mengakhiri hidupnya pada tahun 399 SM dengan meminum racun di sebuah penjara negara di kota Athena. Sokrates meminum larutan maut ini dengan penuh keceriaan, sementara semua muridnya yang menyaksikannya menangis dan meratap. Kisah tentang saat-saat terakhir kehidupan Sokrates ini sangat menyentuh hati, dan tak akan bisa dilupakan oleh orang yang pernah membacanya. 

Tetralogi Plato dalam bahasa Indonesia ini disajikan dengan memakai teks-teks aslinya, yang ditulis dalam bahasa Yunani klasik, sebagai sumber utama. Ini betul-betul sebuah karya akademik, yang pantas dijadikan rujukan dalam setiap usaha ilmiah untuk mengenal sosok Sokrates, antara lain lewat tetralogi Plato ini.

Meskipun bercorak akademik, buku ini juga dapat dengan mudah dibaca dan diikuti oleh para pembaca biasa yang tak terlalu mengenal filsafat. Dengan membaca tetralogi Plato ini, kita dibawa masuk ke dalam kisah-kisah menawan yang ditulis Plato mengenai sang gurunya, Sokrates. (Lihat juga http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/sekilas-tentang-sokrates-sang-filsuf.html)

Jika teman-teman berminat, dapat pesan pada saya, dengan harga Rp 60.000,- per eksemplar. Ongkos kirim (dengan jasa tiki JNE, jenis pengiriman ekonomis) ditanggung pembeli.

Pemesanan dilakukan dengan mengirim SMS ke HP saya, no +62 82 1220 15570. Kirim nama lengkap dan alamat lengkap anda ke HP ini dengan SMS. *****
==========================


Judul:
Menguak Kekristenan Yahudi Perdana

Penulis: Ioanes Rakhmat
Penerbit: JRC (2009)
ISBN: 978-602-95981-0-0
Tebal: xxvi+173

Harga: Rp. 60.000,- per eks
SUDAH HABIS!

Hampir semua orang Kristen mengenal kekristenan dan doktrin-doktrin penting agama Kristen lewat tulisan-tulisan Rasul Paulus dan murid-muridnya setelahnya. 

Karena kondisi-kondisi sosial-politik yang menguntungkan dirinya, dan menguntungkan juga para bapak gereja yang berpikir dalam jalur pemikiran Paulinian, maka ajaran-ajaran Paulus ditahbiskan menjadi ajaran-ajaran ortodoks kekristenan, dan karenanya dipandang sebagai ajaran satu-satunya yang benar dan lurus buat gereja Kristen di Eropa (kekristenan Barat) masa abad-abad pertama Masehi, bahkan buat gereja-gereja pada abad ke-21 ini, khususnya gereja-gereja aliran Reformed.

Tak banyak orang tahu, apalagi warga gereja biasa yang telah menerima indoktrinasi ajaran-ajaran kekristenan ortodoks (Barat), bahwa sebetulnya Rasul Paulus sangat ditentang dan dilawan dengan sengit dan tajam oleh suatu bentuk kekristenan lain yang dibangun oleh Rasul Yakobus si Adil, saudara Yesus, bersama dua atau tiga orang sekutunya.

Kekristenan alternatif yang melawan kekristenan Rasul Paulus ini adalah kekristenan Yahudi, atau yang biasa disebut Jewish Christianity, yang memiliki fundamen-fundamen doktrinal yang sangat berbeda dari fundamen-fundamen doktrinal yang dibangun dan disebarluaskan oleh Rasul Paulus dan para bapak gereja sesudahnya.

Sebagai contoh, kalau Rasul Paulus menentang dan menolak Taurat Yahudi (disebut anti-nomian), maka kekristenan yang dibangun oleh Yakobus si Adil, adalah kekristenan yang berfondasi pada Taurat sepenuh-penuhnya (disebut kekristenan nomian).

Kalau Rasul Paulus membangun doktrin pendamaian dosa lewat penebusan Yesus di kayu salib dengan berpijak pada ritual pendamaian dosa Yahudi (yang dilaksanakan pada Yom Kippur, Hari Pendamaian), Rasul Yakobus si Adil menolak sama sekali ritual Yahudi ini.

Rasul Paulus tak pernah berjumpa tatap muka dengan Yesus dari Nazareth; dia tak kenal pribadi siapa pemuda Yahudi yang bernama Yesus dari Nazareth. Tetapi, Yakobus si Adil adalah saudara Yesus. Mana yang lebih dekat ke jantung Yesus, kekristenan Paulus atau kekristenan Yakobus? Kita tentu bisa menyimpulkannya sendiri.

Nah, dalam buku ini saya memperlihatkan ada banyak segi doktrinal lain dari kekristenan Yakobus, yang bertentangan dengan doktrin-doktrin ortodoks Paulinian. Sejumlah besar dokumen kekristenan Yahudi ini, yang nyaris semuanya tidak masuk ke dalam kanon Perjanjian Baru (kanon milik kekristenan proto-ortodoks pemenang!), dikupas dan dikuak dalam buku ini.

Jika teman-teman ingin lebih jauh mengenal beranekaragam corak kekristenan pada tahap-tahap formatifnya, buku ini memberi sebuah pintu masuk yang sangat berharga.

Jika teman-teman berminat membeli buku ini, pesan langsung pada saya, dengan harga Rp 60.000,- per eksemplar, lewat SMS ke HP saya no +62 82 1220 15570. Kirim via SMS nama lengkap dan alamat lengkap anda ke HP ini. Ongkos kirim dengan jasa tiki JNE (jenis pengiriman ekonomis) ditanggung pembeli. Buku ini nyaris tak ditemukan lagi di toko buku manapun.***** 
==================================


Judul buku: Ancaman Kolektivisme  
Judul Asli (Inggris): The Road to Serfdom

Penerjemah: Ioanes Rakhmat
Penulis: Friedrich A. Hayek
(1899-1992; penerima Hadiah Nobel Ekonomi 1974)

Penerbit buku terjemahan: Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung, Jakarta (terbit 28 Okt 2011).

ISBN 978-602-99571-0-5
Tebal: 316 hlm

Harga per eks Rp. 75.000,-
(Dijual hanya di toko buku OBOR)

TAPI, dapat dipesan pada saya (penerjemah: Ioanes Rakhmat) dengan harga yang sama.

** Jika mau pesan, kirim lewat SMS nama lengkap dan alamat lengkap anda ke HP saya 082 1220 15570. Ongkir ditanggung pembeli.

Sekilas tentang buku ini:

Dalam buku klasik politik dan filsafat ekonomi ini, Hayek (ekonom Austria, menulis tahun 1944, cetakan ke-2 tahun 2001) memperlihatkan bahaya-bahaya sistem ekonomi sosialis (atau sistem ekonomi kolektivis) yang pada masanya sedang mulai diadopsi di banyak negara Eropa, termasuk negerinya sendiri Austria, ketika rezim Nazi berkuasa di Jerman. Sistem ini mengharuskan kehidupan ekonomi diatur dan direncanakan secara terpusat oleh negara, dengan menghilangkan kebebasan pasar dan kebebasan individual yang diperjuangkan sistem ekonomi pasar bebas atau sistem ekonomi liberal.

Bahayanya, tulis Hayek, adalah sistem ekonomi sosialis hanya akan menghasilkan Negara Budak, di mana segelintir orang (yang disebut para perencana ekonomi) atas nama negara mengendalikan, bahkan memperbudak, seluruh warganegara dengan memaksa mereka melakukan semua kehendak dan perencanaan terpusat ekonomi negara.

Untuk situasi Indonesia masa kini, ketika sedang berlangsung benturan ideologis antara pembela sosialisme yang anti-neoliberalisme dan pembela sistem ekonomi liberal (yang pernah disebut sebagai Mafia Berkeley), buku Hayek ini memberi sumbangan pemikiran yang tajam dan relevan.

Endorsements untuk buku ini:

“... Pandangan Hayek terhadap kebebasan dan kaitannya dengan sistem ekonomi dan sistem politik masih terus relevan dan perlu kita pelajari. Hayek tidak melihat sistem ekonomi, politik, hukum dan perilaku alamiah manusia sebagai kotak-kotak yang terpisah. Dia merangkai semua itu dalam sebuah pandangan yang menyeluruh dan mengaitkannya dengan satu hal yang menjadi titik tolak pemikirannya, yaitu kebebasan manusia.” (Rizal Mallarangeng, Direktur Eksekutif Freedom Institute).

“Buku ini telah menjadi sebuah karya klasik sejati: sebuah bacaan penting bagi setiap orang yang dengan serius tertarik pada politik dalam pengertian yang terluas dan paling kurang partisan.” (Milton Friedman)

“Buku ini harus dibaca setiap orang. Tidak ada gunanya berkata bahwa ada sangat banyak orang yang tidak tertarik pada politik; isu politik yang didiskusikan Dr. Hayek melibatkan setiap anggota individual komunitas.” (The Listener)

Keterangan di sampul belakang buku asli (tak muncul dalam buku terjemahan Indonesianya): 

The Road to Serfdom tetap merupakan salah satu karya klasik yang tiada taranya, yang mengungkapkan pemikiran intelektual abad keduapuluh. Lebih dari setengah abad, karya ini telah menginspirasi para politikus dan pemikir di seluruh dunia, dan telah menimbulkan suatu dampak penting dan menentukan pada sejarah politik dan kebudayaan kita. Dengan kebrilianan yang distingtif, Hayek dengan meyakinkan mengargumentasikan bahwa, sementara ideal-ideal sosialis bisa menarik dan menggoda, ideal-ideal ini tidak dapat diwujudkan kecuali melalui peranti-peranti yang sedikit orang dapat setujui. Melalui pembahasan atas ekonomi, fasisme, sejarah, sosialisme dan Holokaus, Hayek membongkar jebakan-jebakan ideologi sosialis. Dia menyingkapkan kepada dunia bahwa hanya sedikit dapat dihasilkan dari ide-ide semacam itu, kecuali penindasan dan tirani. Kini, setelah lebih dari lima puluh tahun, peringatan-peringatan Hayek sama validnya seperti ketika The Road to Serfdom pertama kali diterbitkan.*****
==========================


Judul:
The Trial of Jesus in John Dominic Crossan's Theory: A Critical and Comprehensive Evaluation

Penulis: Ioanes Rakhmat
Penerbit: IPU-JTS (2005)

ISBN: 979-99815-1-4
Tebal: xvii+371

Harga: Rp. 70.000,- per eks

Ini adalah disertasi saya dalam studi purnasarjana yang saya jalani di Eropa selama kurang lebih 5 tahun. Ditulis dalam bahasa Inggris, dengan tebal 371 pages. Karena buku ini sebuah disertasi apa adanya, yang ditulis dalam bahasa Inggris, tentu isinya akan terasa berat buat para pembaca kebanyakan yang tak pernah mengikuti studi formal pengkajian Yesus sejarah. Tetapi jika serius dibaca, pembaca pada umumnya akan dapat menangkap isinya.

Dalam buku ini, saya memerinci teori yang dipertahankan John Dominic Crossan (salah seorang pakar kajian Yesus sejarah dan salah seorang pendiri dan Fellow the Jesus Seminar di Amerika Serikat) bahwa Yesus dari Nazareth tak pernah dalam sejarah sampai diadili oleh Imam Besar Kayafas, lalu oleh gubernur Roma penguasa provinsi Yudea, Pontius Pilatus, yang menjatuhinya hukuman mati atas dasar tuduhan bahwa dia mengklaim dirinya raja orang Yahudi di suatu negeri yang sedang dijajah kekaisaran Romawi.

Menurut Crossan (dan banyak pakar lain) kisah-kisah Yesus diadili yang dapat dibaca dalam kitab-kitab injil Perjanjian Baru bukanlah kisah-kisah sejarah faktual, melainkan kisah-kisah fiktif yang dibuat berdasarkan model-model yang diambil dari teks-teks Perjanjian Lama (dan kisah-kisah paralel di luar kanon Alkitab), lalu disejarahkan, dihistorisasi.

Crossan menegaskan bahwa kisah-kisah pengadilan Yesus dalam injil-injil bukanlah “history remembered” (sejarah yang diingat), melainkan “prophecy historicised”, yakni nubuat-nubuat dalam PL yang diberi bingkai sejarah artifisial, sebuah fabrikasi sejarah dengan berpola pada model-model yang ditemukan dalam teks-teks profetis Perjanjian Lama dan teks-teks lain.

Pemalsuan (fabrikasi) sejarah ini dilakukan para penulis kitab-kitab injil Perjanjian Baru terutama karena mereka ingin menyalahkan orang Yahudi, para pemuka keagamaan dan massa Yahudi, sebagai aktor-aktor sesungguhnya yang menyebabkan Yesus dihukum mati melalui penyaliban, dan mereka makin cenderung mau membela dan membenarkan bahkan menguduskan Pontius Pilatus dan membebaskannya dari segala kesalahan yang menyebabkan Yesus dihukum mati.

Tegasnya, kisah-kisah Injil tentang pengadilan Yesus memuat ideologi politik pro-Romawi, dan anti-Yahudi, dari umat Kristen Perjanjian Baru.

Alasan Crossan bahwa kisah-kisah ini berisi pemalsuan sejarah seratus persen antara lain adalah: 
  • Yesus dari Nazareth terlalu hina dina dan tak berarti untuk sampai bisa bertemu berhadapan muka dalam suatu pengadilan Yahudi ataupun dalam suatu pengadilan Romawi dengan figur-figur politik penting tertinggi Yahudi dan Romawi;
  • Kalau dari kisah-kisah Injil tentang pengadilan Yesus ini dipreteli unsur-unsur profetisnya (yang ditarik dari Perjanjian Lama) dan unsur-unsur sastrawinya yang memuat tema “orang benar yang dihina lalu dihukum mati kemudian dibenarkan Allah” (tema umum dalam kisah-kisah Perjanjian Lama mengenai orang-orang benar), maka yang tersisa dalam kisah-kisah ini hampir tak ada sesuatu pun yang dapat dikategorikan sebagai sejarah.
Ada banyak poin yang pembaca akan temukan, yang dipertahankan Crossan untuk menopang teorinya bahwa kisah-kisah injil tentang pengadilan Yesus adalah fabrikasi atau pemalsuan sejarah.

Melalui berbagai pendekatan dan sudut pandang analitis lintas-ilmu, saya memperlihatkan kelemahan-kelemahan teori Crossan, dan akhirnya menyimpulkan bahwa Yesus dari Nazaret mungkin sekali pernah diadili oleh suatu pengadilan Romawi, meskipun ihwal bagaimana persisnya pengadilan itu berlangsung kita tak pernah akan tahu lagi.

Hemat saya, ada “historical core” (inti sejarah) di dalam kisah-kisah injil Perjanjian Baru mengenai Yesus yang diadili, yang telah dibumbu-bumbui oleh berbagai unsur naratif lainnya demi melayani kebutuhan-kebutuhan politis kekristenan Perjanjian Baru ketika mereka, sebagai minoritas, harus berjuang untuk mendapatkan dukungan Roma dalam melawan orang-orang Yahudi yang telah menolak mereka.

Buku ini sangat informatif dan instruktif bagi siapa saja yang mau mengetahui aspek-aspek tertentu kehidupan suatu figur penting Yesus dari Nazaret sebagai sosok historis, bukan sosok mitologis doktrinal. 

Kematian Yesus, jika ditelaah dari sudut sejarah, bukanlah suatu kematian yang direncanakan Allah untuk menebus dosa seisi dunia, melainkan terjadi karena permainan berbagai faktor sosial-politik dan militer pada zamannya, yang kurang dimengerti oleh Yesus sendiri sebagai seorang tak terpelajar dan tak berarti dari provinsi Galilea.

Kalau Yesus tahu bagaimana kekuasaan-kekuasaan politik, militer dan agama berinteraksi dalam zamannya, mungkin sekali dia tidak akan berdemonstrasi di Bait Allah pada perayaan Paskah Yahudi tahunan, suatu tindakan yang menentukan akhir kehidupannya.

Mau tahu lebih jauh? Bacalah buku ini.

Pesanlah pada saya, dengan harga @ Rp. 70.000,-, dengan ongkos kirim ekonomis (lewat jasa tiki JNE) ditanggung pembeli. Kirimkanlah nama lengkap dan alamat lengkap anda lewat SMS ke HP saya no 082 1220 155 70. *****
=============================


Judul: 
Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam

Penulis: Ioanes Rakhmat
Penerbit: Borobudur Indonesia Publishing (2010, cetakan kedua diperluas)

ISBN: 979252707-9
Tebal: 193 hlm
Harga: Rp. 50.000,- per eks
SUDAH HABIS!

Buku Membedah Soteriologi Salib cetakan 2 (Maret 2010) SUDAH HABIS TERJUAL hari ini, 08 Juni 2011, dibeli semuanya (80 eksemplar sisa stok terakhir) selama 3 minggu lewat penawaran di Facebook.

Selain buku MSS ini, tak pernah ada sebuah buku pun dalam bahasa Indonesia yang menganalisis doktrin Kristen tentang penyelamatan manusia dari hukuman Allah lewat pengurbanan Yesus di kayu salib, yang saya sebut soteriologi salib, dengan sangat kritis dan komprehensif. 

Sekian kelemahan doktrin ini dibeberkan dalam buku ini, antara lain: 
  • bahwa pada intinya doktrin ini menguduskan kekerasaan sebagai jalan keselamatan;
  • bahwa doktrin ini pada hakikatnya hanya bisa berjalan kalau kepada manusia ditanamkan pandangan negatif tentang kemampuan dirinya sendiri untuk hidup bermoral, dengan kata lain doktrin ini mendemoralisasi manusia;
  • bahwa pada dasarnya doktrin ini bersifat magis karena memandang kematian Yesus mempunyai efek penyelamatan manusia begitu saja jika dipercaya sebagai jalan keselamatan ilahi; 
  • bahwa doktrin yang magis ini dalam kenyataannya tidak efektif mengubah orang yang mempercayainya menjadi orang bermoral;
  • bahwa doktrin ini dilandasi pandangan kosmologis yang sudah tidak relevan lagi jika dibandingkan dengan kosmologi modern.
Tetapi buku MSS bukan hanya secara negatif menolak soteriologi salib, tapi juga memiliki suatu tujuan positif karena di dalamnya penulisnya juga menawarkan jalan-jalan keselamatan alternatif yang dapat dirangkul umat Kristen setelah soteriologi salib dinyatakan tidak valid.