Tuesday, July 31, 2012

Denial: Apa Penyebabnya?

Dalam psikologi, terma “denial” (kata Inggris; artinya “penyangkalan”) dikenakan pada seseorang yang dengan kuat menyangkal dan menolak serta tak mau melihat fakta-fakta yang menyakitkan dirinya atau yang tak sejalan dengan keyakinan-keyakinan, pengharapan-pengharapan, dan pandangan-pandangannya. Orang ini dikatakan sedang berada dalam sikon “in denial”, terkurung dalam denialisme.



Denialisme membuat seseorang hidup dalam dunia ilusifnya sendiri, terpangkas dari realitas kehidupan, dan orang ini nyaris tidak lagi mampu keluar dari cengkeramannya. Inilah hidup “in denial of reality”! 

Ketika seseorang hidup dalam denial, “backfire effect” atau “efek bumerang” sangat mungkin terjadi pada dirinya: Alih-alih membenahi dan mengoreksi diri, dia berbalik makin ekstrim dan ngotot mempertahankan pandangan dan keyakinannya semula walaupun pandangan dan keyakinannya ini sudah diargumentasikan dan dibuktikan salah! Semua argumen anda dan bukti-bukti yang anda ajukan untuk menolak pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya seolah berbalik menyerang anda! 



Saat terbenam dalam denial, orang hidup dalam ilusi dan delusi. Hidup “in denial”. Orang ini lebih suka memilih mempersalahkan dan menyerang orang lain dengan membabi-buta, alih-alih memeriksa diri sendiri dan kelompoknya. Hidup dalam denial adalah hidup dengan menanggung beban batin dan beban pikiran yang sangat berat. Orang yang hidup dalam denial tentu saja sangat tidak berbahagia. Dirinya sendiri tidak berbahagia, dan juga membuat banyak orang lain tidak berbahagia.

Selain itu, setiap orang yang makin dalam terserang efek bumerang, makin mustahil baginya untuk menemukan kebenaran dan fakta; hidup mereka makin penuh dengan kebohongan, tipu daya, ilusi, delusi, dan makin banyak gangguan mental menyerangnya. Ingatlah, hidup semacam ini bisa sangat pendek dengan anda mati muda tanpa makna; tetapi anda juga bisa berumur panjang tapi nanti ketika anda wafat, anda wafat tanpa makna.


Model Kübler-Ross 

Menurut model psikiater Swiss, Elisabeth Kübler-Ross, ada empat tahap yang menyusul dan harus dilalui seseorang yang sedang terpenjara denialisme jika ingin akhirnya keluar dari penjara ini, atau sampai kehidupannya berakhir dengan kepasrahan dan kedamaian.

Pertama, tahap marah atau ngamuk karena menemukan fakta-fakta yang tidak sejalan dengan keinginan-keinginan, pengharapan-pengharapan dan keyakinan-keyakinannya. Dalam tahap ini, akal dan kesadarannya atas fakta-fakta tidak bekerja. Dia hidup dalam bahaya dan sekaligus membahayakan orang lain. Tahap ini bisa berlangsung sangat lama. 

Kedua, tahap tawar-menawar, dengan keinginan dan harapan semua hal yang didambakannya akan akhirnya diperolehnya hanya dengan sedikit ongkos dan pengorbanan. Tahap ini pun dapat berlangsung lama, diisi dengan pertarungan antara realitas, keinginan diri sendiri, dan kesediaan memberi sedikit untuk meraih kemenangan. 

Ketiga, tahap depresi. Setelah tahap tawar-menawar gagal, si individu masuk ke dalam tahap tekanan jiwa yang besar. Tahap ini adalah tahap paling sulit baginya untuk keluar dari penyangkalannya atas fakta-fakta. Depresi yang tak teratasi bisa bermuara pada tindakan bunuh diri atau berbagai tindakan yang merusak lainnya.

Tetapi jika tahap ketiga ini dengan susah-payah berhasil dilewati, si penderita masuk ke tahap terakhir, menuju kesembuhan, jika dia mau sembuh, atau dengan ikhlas menerima fakta bahwa dia akan mati.

Keempat, si individu akhirnya pasrah, menerima kenyataan yang pahit dan berat, kendatipun kenyataan ini tidak sejalan dengan semua keinginan dan harapannya. Lama kelamaan, dia mulai bisa hidup dalam kenyataan lagi, mula-mula tertatih-tatih. Atau, dia akhirnya rela menerima fakta bahwa penyakitnya akan segera merenggut nyawanya, dan tak lama kemudian dia mati dengan tenang dan ikhlas. 

Elisabeth Kübler-Ross menyusun model tersebut dari pengalaman-pengalaman realnya di sekolah kedokteran Universitas Chicago, ketika sedang menangani pasien-pasien yang sedang menderita suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan sedang menanti ajal atau sedang sekarat. Temuan-temuannya dituangkan dalam bukunya On Death and Dying: What the Dying Have to Teach Doctors, Nurses, Clergy and Their Own Families./1/ 

Pada kesempatan ini, saya mau menelusuri penyebab-penyebab yang lebih luas dari denialisme yang memenjara orang bukan hanya karena mereka sedang menderita penyakit-penyakit yang tidak tersembuhkan. Ada banyak faktor yang dapat mendorong seseorang atau sekelompok orang jatuh ke dalam denial, mulai dari persoalan pribadinya sendiri (misalnya dia menemukan dirinya menderita suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan; atau seorang istri tidak bisa menerima fakta bahwa suaminya telah meninggalkannya) hingga ke persoalan-persoalan sosial yang melibatkan lebih banyak orang dan variabel sosial lain (misalnya agama, ideologi, kekuasaan, ketamakan, atau persoalan ekonomi, dll).

Denialisme dalam intensitas keparahan yang berbeda khususnya sangat kuat menguasai orang yang beragama dalam zaman modern ini, ketika banyak klaim keagamaan tak sejalan lagi dengan fakta-fakta objektif dalam masyarakat atau fakta-fakta sains, yakni fakta-fakta apapun yang diungkap dan dibeberkan lewat metodologi saintifik; dan juga ketika agama-agama banyak dipakai sebagai ideologi-ideologi sektarian separatis pelegitimasi pendapat dan aksi politik yang tidak sedikit di antaranya menghalalkan jalan kekerasan dan pembunuhan sebagai sebuah metode pergerakan.

Ketimbang dengan terbuka menerima fakta-fakta objektif dalam masyarakat dan fakta-fakta sains, dan meninjau kembali keyakinan-keyakinan keagamaan mereka, orang yang beragama memilih denial, termasuk para pemimpin mereka yang mengklaim diri atau diklaim sebagai orang-orang yang terpelajar dan saleh. 


Pertanyaannya: Mengapa banyak sekali para penganut agama-agama memilih denial dengan sadar, ketimbang menerima fakta-fakta dengan terbuka? Berikut ini sejumlah jawabannya. 


Indoktrinasi intensif

Indoktrinasi kuat doktrin-doktrin keagamaan yang sudah dialami sejak kecil adalah salah satu penyebab denial pada orang beragama yang sudah dewasa. Sejak kecil, orang beragama apapun sudah diindoktrinasi dengan kepercayaan-kepercayaan bahwa agama mereka adalah agama yang paling sempurna dan tak bisa salah selamanya. Agama-agama lain bercacat dan salah semua. Indoktrinasi ini menyebabkan mereka tidak bisa menerima fakta-fakta bahwa setiap agama apapun selalu punya kekurangan dan keterbatasan, bahkan bisa tidak relevan lagi dalam dunia modern.

Tidak banyak orang beragama yang sudah dewasa yang bisa keluar dari penjara doktrin yang sudah ditanamkan kuat-kuat dalam pikiran mereka sejak kecil. Hanya segelintir! Dari yang segelintir ini, sebagian kecil mungkin pindah agama, dan sebagian terbesar memilih jadi ateis diam-diam yang lembut dan sebagian lagi menjalani kehidupan sebagai para ateis terang-terangan yang kerap vokal dan agresif.

Ada juga yang tidak mau menjadi ateis, tetapi juga tidak mau diam abadi dalam satu rumah teis, tetapi memilih menjadi sosok-sosok pemikir bebas yang mencari dan menggali nilai-nilai positif yang bisa masih ada dalam agama-agama, dan juga dalam ateisme, lalu mengembangkan nilai-nilai positif ini bagi 4 milyar orang dewasa yang kini masih beragama. Para pemikir bebas ini hanya bebas dalam berpikir dan mencari kebenaran dan fakta, tetapi mereka dengan sadar dan ikhlas mengikatkan diri pada kebajikan-kebajikan universal dan cinta kasih kepada segenap makhluk hidup.


Cuci otak

Indoktrinasi yang masif dan intensif, yang dilakukan dengan segala cara yang tidak membuka peluang apapun untuk orang bertanya, meragukan dan menolak, akan mengubah total isi dan cara kerja otak para korban. Inilah yang dinamakan cuci otak atau brainwashing. Para neurosaintis dan psikolog sosial sudah lama mempelajari cuci otak sebagai sebuah kegiatan propaganda yang berbahaya dan keji, yang merampas dan mematikan kebebasan dan hak setiap orang untuk menentukan jalan kehidupan dan isi pikiran mereka sendiri. Mari kita perhatikan hal berikut ini yang ditulis oleh neurosaintis Kathleen Taylor tentang cuci otak./2/ 
“Pada intinya cuci otak adalah suatu ide yang sangat jahat, yang didasarkan pada impian untuk sepenuh-penuhnya mengontrol pikiran manusia, yang mempengaruhi kita semua dengan cara-cara tertentu. Cuci otak pada dasarnya adalah penyerbuan terhadap privasi, yang berusaha mengendalikan bukan hanya bagaimana orang bertindak, tetapi juga apa yang mereka pikirkan. Cuci otak menimbulkan ketakutan-ketakutan kita yang terdalam karena mengancam akan menghilangkan kebebasan dan bahkan identitas manusia. Kami menemukan bahwa cuci otak adalah suatu bentuk ekstrim pengaruh sosial yang menggunakan mekanisme-mekanisme yang makin banyak dikaji dan dipahami para psikolog sosial. Pengaruh sosial tersebut dapat sangat bervariasi dalam intensitasnya. Dan kami mengeksplorasi sejumlah situasi yang melibatkan individu-individu, kelompok-kelompok kecil, dan keseluruhan masyarakat-masyarakat. Dalam semua segmen ini, tipe-tipe pengaruh yang kami sebut cuci otak dicirikan oleh penggunaan kekuatan pemaksa atau tipu daya atau keduanya sekaligus.” 

Identitas individual dan komunal

Agama dengan kuat juga membentuk identitas seseorang, khususnya dalam masyarakat tradisional. Keluar dari agama, berarti kehilangan identitas, dan kehilangan identitas sama artinya dengan dicabutnya kemanusiaan seseorang. Agama sebagai identitas yang harus dipertahankan, juga salah satu penyebab denial dalam diri orang beragama. 

Ada orang yang secara personal cukup mudah mengubah identitas keagamaan mereka; ada juga yang sangat sulit. Tetapi sampai wafat banyak orang kokoh mempertahankan identitas keagamaan mereka apapun juga yang sudah dan sedang terjadi pada agama anutan mereka sejak kecil. Neuroplastisitas otak kalangan yang terakhir ini mengalami kendala untuk berfungsi dengan baik, bisa karena bentuk pendidikan, pembelajaran, pengasuhan, kegiatan bermain, dan pergaulan yang sudah diterima dan dialami mereka sejak kecil memang telah mematikan kelenturan dan kreativitas kerja sel-sel saraf dalam otak mereka. 



Jangan ganggu aku dengan kenyataan! Aku sudah senang hidup dalam duniaku sendiri! Sana, sana, pergi, jangan ganggu kenikmatanku! Fakta-fakta menggigit aku! 

Agama bukan saja membentuk identitas pribadi seseorang, tapi juga identitas komunal, yang harus dijaga dan dipertahankan, apapun juga taruhannya, termasuk menindas kelompok-kelompok lain yang tidak sejalan atau yang berbeda keyakinan. 

Demi tetap setia pada identitas komunal ini, atau demi solidaritas komunal, seorang beragama yang sudah dewasa dapat terpaksa melakukan denial atas fakta-fakta nyata yang sebagian besar orang ketahui dan akui, misalnya fakta bahwa kelompok-kelompok lain yang berbeda adalah juga sesama warganegara dan sesama manusia, yang juga berhak hidup dengan bebas.  

Denial dilakukan bukan saja karena seseorang mau tetap setia pada identitas komunal, tapi juga karena komunitasnya mengontrolnya dengan kuat. Ketimbang menolak dan melawan kontrol kuat komunitasnya atas dirinya, yang akan berakibat fatal bagi kehidupannya dalam banyak segi, juga segi ekonomi, seorang beragama lebih memilih hidup aman dengan melakukan denial. Dalam konteks ini, memilih hidup aman dan melakukan denial, dan takluk total pada komunitas pengontrol, ketimbang membuka diri pada fakta dan berani berbeda dari komunitas, adalah suatu keputusan politis individual seorang beragama, yang dengan sadar diambilnya, meskipun hati nuraninya mungkin menentang keputusannya ini.

Kondisi dikucilkan atau dibuang dari suatu komunitas sosial tempat seseorang dilahirkan, dibesarkan dan hidup, dengan akibat kehilangan semua status, hak dan kewajibannya, dinamakan ostrasisme (Inggris: ostracism; kata kerja Yunani ostrakizein bermakna membuangmengucilkan). Benarlah pernyataan psikolog dari Universitas Purdue, Prof. Kip Williams, bahwa Ostrasisme bukan semata-mata suatu bentuk kematian sosial, tapi juga berakibat kematian. Sang organisme tidak bisa melindungi dirinya sendiri lagi dari para predator, tidak dapat memperoleh makanan yang cukup, dan lazimnya mati dalam waktu singkat.” Tidak heran, cuma para pemberani yang tegar, tangguh dan siap menderita yang bisa menjadi para pelintas batas-batas komunitas-komunitas sosialreligius asali mereka, lalu masuk ke dunia-dunia lain yang berbeda dalam sangat banyak hal.


Janji-janji agama

Selain memberi identitas dan manfaat ekonomi, agama juga, umumnya dalam batas-batas tertentu, tetapi bisa juga sangat kuat, memberi rasa aman dan rasa tenteram lewat janji-janji tertentu yang diberikannya, misalnya janji hidup akan diberkati dan berkelimpahan dan selalu sukses, atau janji akan masuk surga dan menerima pahala besar setelah kematian, apalagi mati sebagai martir. Mereka yakin sekali bahwa “there is a pie in the sky if we die!” 

Meskipun rasa aman dan tenteram ini seringkali terbukti palsu dan meninabobokan orang, dan hujan duit dari langit tidak kunjung turun, seorang beragama lebih memilih melakukan denial atas fakta-fakta, ketimbang kehilangan rasa aman dan rasa tenteram yang diberikan janji-janji keagamaan ini. Setuju atau tidak setuju, benarlah apa yang pernah dikatakan bahwa agama adalah sejenis narkotik yang mampu mencandu dan membius orang. Ketika kita terbius, kita kehilangan kontrol atas diri kita sendiri.

Tidaklah salah jika ada sebuah ucapan yang sangat menyentak, ini: Pakailah agama sebagai pemoles wajah dan kedok bagus anda jika anda ingin menggiring sekumpulan besar manusia yang tidak terpelajar dan yang terpelajar, khususnya manusia-manusia yang bodoh, ke tujuan-tujuan politik sektarian anda dan ke pemuasan habis-habisan kerakusan anda terhadap uang! 

Yuup, agama-agama bisa menjadikan anda manusia-manusia besar, para mahatma, seperti Martin Luther King, Jr., Desmond Tutu, atau Mahatma Gandhi, atau Dalai Lama XIV, atau Abdurrahman Wahid. Tetapi sebaliknya juga betul: agama-agama bisa menjadikan anda manusia-manusia kerdil sekerdil-kerdilnya, bahkan semut-semut dan kunang-kunang jauh lebih besar jika dikomparasi dengan anda yang kerdil ini. Tetapi, tentu saja, anda, rekan-rekan saya, tidaklah kerdil semacam ini.


Fanatisme

Fanatisme yang terbangun dalam mental si agamawan lewat indoktrinasi sejak kecil, juga harus ditunjuk sebagai penyebab denial dalam dirinya. Semakin seseorang “committed and fanatic” pada agamanya, semakin banyak denial yang dilakukannya, alhasil semakin menjauhkannya dari realitas objektif. 

Fanatisme terhadap apapun selalu merusak mental seorang manusia; membuatnya tidak bisa belajar kearifan dan pengetahuan dari pihak-pihak lain yang berbeda. Fanatisme apapun membuat seseorang hanya mau memakai sebuah kacamata kuda hitam tebal dalam memandang realitas dunia yang sebetulnya dipenuhi warna-warni bak setengah lingkaran pelangi yang muncul sehabis hujan dan langit cerah.

Sumber besar denialisme adalah fanatisme buta yang dibangun secara bertahap lewat kegiatan cuci otak. Fanatisme buta ini menutup orang dari pengetahuan objektif mengenai berbagai realitas kehidupan, dari hati nurani yang tulus dan cerdas, dan dari martabat diri yang semustinya dijaga setiap orang yang sadar. 


Kepentingan duit

Jangan dilupakan, agama juga adalah bisnis, yang darinya orang menerima manfaat-manfaat dan keuntungan-keuntungan ekonomi, besar atau kecil. Meragukan agama sendiri, apalagi meninggalkannya, akan dapat berdampak fatal pada kehidupan ekonomi seorang beragama. Dapat terjadi, alih-alih menjadi tuan atas uang, para agamawan lebih cenderung memilih untuk menjadi hamba uang. Demi mendapatkan dan mempertahankan keuntungan-keuntungan ekonomi, apalagi keuntungan ekonomi yang besar yang diberikan agamanya, seorang beragama jelas akan memilih denial ketimbang bersikap kritis pada ketamakan dirinya sendiri, pada agamanya, atau terbuka pada fakta-fakta sosial dalam masyarakatnya. 

Tidak salah jika banyak orang bijak yang menyatakan bahwa Tuhan sebenarnya bagi manusia pada umumnya adalah ketamakan pribadi. Ketika ketamakan pribadi ini mengendalikan seseorang, maka bukan lagi agamanya yang mengendalikan dirinya, tetapi sebaliknya: dirinyalah yang mengendalikan agamanya. Ini memang luar biasa: agama cuma jadi alat kamuflase, dan kebanyakan umat tidak bisa melihat kamuflase ini. Di tangan orang-orang semacam inilah yang ada di seluruh dunia, agama-agama terus tergerus dan mengalami pendangkalan substansi, makna, fungsi dan tujuan. 

Dalam zaman modern ini, orang yang sangat kaya tetapi juga sangat dermawan bagi dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg tentu saja sangat langka. Bagi mereka, yang sekarang ini dijuluki para kapitalis filantropis, orang itu baru betul-betul kaya raya kalau mereka rela menyumbangkan nyaris seluruh kekayaan besar mereka untuk pencerdasan manusia sedunia dan pembangunan peradaban dan kehidupan yang makin baik bagi sebanyak mungkin orang. Orang yang sudah sangat kaya tetapi masih terus tamak mencari dan menghimpun kekayaan buat kepentingan diri mereka sendiri lewat segala cara, adalah orang yang masih sangat kekurangan, masih sangat miskin, tidak pernah sungguh-sungguh kaya raya. 


Mungkin sosok besar ini seekor organisme alien, atau seekor rayap raksasa, pemakan kertas! Aliens semacam ini banyak loh.

Orang kaya yang semacam ini tidak berbeda pada hakikat dasarnya dari orang yang makan sangat banyak tetapi bertubuh tetap kurus karena mengalami gangguan parah pada organ pencernaan dan sistem metabolisme tubuh mereka. Merekalah para kapitalis rakus, serakus-rakusnya; dan mereka memenuhi dunia kita dewasa ini. Mereka menutup mati hati dan mata akal mereka sehingga mereka tidak bisa atau tidak mau melihat dan menerima fakta bahwa kapitalisme rakus sedang memperlebar jurang pendapatan per kepala antara kaum kaya dan kaum miskin. Mereka sungguh-sungguh hidup dalam denial, yang mereka nikmati saja dengan asyik seperti asyiknya orang mengunyah permen karet yang baru dimasukkan ke dalam mulut. 


Kepentingan politik

Agama adalah politik, karena setiap agama, baik agama kaum minoritas maupun agama kaum mayoritas, adalah sebuah pranata sosial yang ingin mengatur dan mengendalikan masyarakat ke arah tujuan-tujuan yang diatur dalam kitab suci ataupun yang digariskan para pemimpin umat. Orang yang mengklaim bahwa agamanya hanya bergerak di bidang kerohanian saja dan disiarkan untuk membawa orang ke surga after death, sangat tidak jujur, atau mungkin naif, sebab dia tidak menyadari bahwa di ujung setiap kegiatan siar agama yang sukses menunggu persoalan politik yang besar: bagaimana mengatur masyarakat yang telah dikuasai suatu agama, dengan menenggelamkan agama-agama lain yang sudah ada sebelumnya. 

Nah, telah banyak terjadi, demi mempertahankan dan menggolkan tujuan dan kepentingan politik agama mereka, kaum agamawan lebih memilih melakukan denial, ketimbang menerima fakta-fakta yang tak sejalan dengan kepentingan politik mereka. 

Denialisme karena fanatisme sempit dan picik tumbuh bukan saja dalam dunia agama-agama, tapi juga dalam dunia ideologi-ideologi besar. Seseorang memilih untuk melakukan denialisme bukan hanya karena dia mau membela dengan membuta agamanya sendiri, tetapi juga karena mau membela habis-habisan partai politiknya sendiri, aliran ideologisnya, atau sistem ekonominya sendiri (entah kapitalisme atau sosialisme, dll), atau apapun yang berhubungan dengan ide-ide lain yang diabsolutkannya sehingga menjadi ide-ide yang bantut dan tertutup dan dapat mengancam perdamaian global.

Dalam dunia politik, apalagi jika orang mencari duit di dunia ini, denialisme akan membuat siapapun membutakan diri terhadap fakta-fakta objektif yang dikuak oleh ilmu pengetahuan mengenai banyak hal: rekam jejak sejarah kehidupan sang tokoh pemimpin yang diidolakan, ideologi politis separatis yang dibela, partai-partai dan kelompok-kelompok yang menjadi mitra koalisinya, kampanye-kampanye hitam yang mempermainkan berbagai isu SARA, serangan politik uang, keutuhan negara sendiri, perilaku anti-toleransi, kasus-kasus KKN, dan banyak lagi.

Sekarang ini, misalnya, sangat banyak para ideolog yang menolak fakta real bahwa perubahan iklim sedang terjadi di planet Bumi kita, yang berdampingan dengan pemanasan global, sebagai efek gas rumah kaca. Kondisi buruk ini akan berakibat sangat mengerikan bagi umat manusia dan semua spesies lain dalam beberapa dekade mendatang jika gas COdan gas-gas lain yang masuk ke atmosfir Bumi tidak berhasil dikurangi dalam jumlah yang signifikan. Gas CO2 khususnya yang makin menumpuk dan tersebar di atmosfir Bumi kini sedang membentuk semacam selimut tebal yang menghalangi pembuangan sebagian panas dari muka Bumi (yang berasal dari cahaya Matahari, banyak produk teknologi, atau berbagai kegiatan banyak pabrik, dll) yang seharusnya mengalir keluar, masuk ke angkasa luar. Akibatnya, panas itu memantul balik ke permukaan Bumi; alhasil, menaikkan suhu global yang selanjutnya sedang mencairkan es-es di kutub-kutub Bumi.

Dalam beberapa dekade mendatang, jika pemanasan global yang makin meningkat ini tidak dapat diatasi dengan efektif, banyak bagian benua-benua akan tenggelam. Perpindahan penduduk dunia besar-besaran dan kerusakan berbagai ekosistem akan terjadi dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan dalam nyaris semua bidang kehidupan.

Yang sangat memprihatinkan adalah kenyataan bahwa masih ada sangat banyak orang yang menyangkal fakta perubahan iklim dan pemanasan global ini. Mereka yang disebut sebagai “climate change deniers” sering menggunakan data tidak lengkap atau data yang setengah benar atau dipalsukan dalam banyak perdebatan politik tentang fakta perubahan iklim dunia ini.  



Perubahan iklim itu real, dan sedang mengancam banyak spesies!

Saya pernah mendengar suatu alasan keagamaan dipakai para penyangkal ini, yakni kepercayaan keagamaan pada janji Allah bahwa air bah tidak akan pernah lagi melanda permukaan Bumi sebagaimana diucapkan Allah sehabis air bah melanda dunia konon pada zaman Nabi Nuh seperti dituturkan dalam kitab Kejadian (9:8-17). Mereka memilih untuk jauh lebih percaya pada janji Allah dalam kitab suci Yahudi ini ketimbang pada para saintis masa kini yang menyimpulkan sesuatu berdasarkan bukti-bukti. 

Pada 13 November 2014 sekitar 400 pendemo membenamkan kepala mereka masing-masing ke dalam pasir di Pantai Bondi, Sydney, Australia, sebagai aksi protes simbolik kepada para penyangkal perubahan iklim, sebelum pertemuan para pemimpin negara-negara G-20 yang tahun itu akan berlangsung di Brisbane. Empat ratus orang ini bersujud hingga kepala terbenam dalam pasir tentu bukan untuk menyembah Nyai Loro Kidul di Pantai Bondi itu!

Mereka tidak sedang menyembah sang Dewi Laut loh! Mereka sedang berdemo!


Dangkal atau salah pengetahuan

Jangan juga dilupakan, denial dilakukan orang beragama karena si agamawan ini tidak atau kurang memiliki ilmu pengetahuan, sehingga buta pada fakta-fakta, atau terus-menerus dicekoki banyak pengetahuan yang salah atau pseudosains. 

Ketimbang berlelah-lelah mempelajari sains terus-menerus yang membuat orang dapat berpandangan makin jauh dan luas dan mengenal fakta-fakta dengan objektif, seorang agamawan umumnya lebih suka melakukan denial atas semua fakta sains. Denial ini dilakukannya dengan berlindung pada teks-teks suci yang olehnya tidak pernah dengan kritis dipertanyakan kebenarannya, relevansinya, manfaatnya buat dunia dan umat manusia, dan nilai-nilai kebajikannya. 

Dalam sikon ini, agama yang mustinya membawa setiap penganutnya ke dalam dunia yang terang dan ke dalam kecerdasan, malah menjerumuskan mereka ke dalam dunia gelap kebodohan dan kedangkalan. Banyak organisasi dengan basis keagamaan (terang-terangan atau tersamar) didirikan dan bergerak untuk tujuan ini: memperbodoh manusia dengan data dan info-info palsu tentang fakta-fakta. 

Misalnya organisasi keagamaan yang sangat aktif mempropagandakan doktrin keagamaan Bumi Datar, Flat Earth, yang jelas-jelas melawan sangat banyak fakta sains yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Begitu juga, sains evolusi biologis, evolusi kosmik, dan evolusi sosialbudaya, yang sudah teruji oleh banyak bukti lintasilmu, dilecehkan dan dibuang begitu saja oleh sangat banyak penganut agama-agama karena mereka telah menjadi korban cekokan pseudosains yang dinamakan kreasionisme, Intelligent Design”, dan Bumi Usia Muda” (Young Earth), maksudnya: umur planet Bumi kita, bagi mereka, baru 6.000 tahun, paling banter 10.000 tahun, padahal lewat kajian ilmiah kita ketahui bahwa usia sistem Matahari kita, termasuk planet Bumi, 4,6 milyar tahun./3/ 



Bagaimana kalangan Bumi Bulat dan kalangan Bumi Datar bisa berdamai? Akar persoalannya bukan pada fakta sains bahwa Bumi itu bulat, tapi pada rasa terancam dalam diri kalangan pembela Bumi Datar bahwa ideologi religiopolitik mereka akan lenyap!

Sesungguhnya, pseudoscience atau junk science sedang mengancam generasi muda banyak agama di dunia dewasa ini, yang lebih memilih denial ketimbang menerima fakta-fakta ilmiah.

Pseudoscience atau sains gadungan, sesuai namanya, adalah sekumpulan kepercayaan atau tindakan-tindakan yang dengan keliru dipandang ilmiah, padahal tidak dibangun berdasarkan fakta-fakta ilmiah dan metode-metode riset ilmiah. Cara paling mudah untuk mencirikan suatu sains itu sains gadungan adalah dengan memperhatikan sikap dan perilaku si penyusunnya: jika dia merasa selalu terancam dengan teori-teorinya dan tidak bersedia ditantang oleh para saintis lain untuk dengan terbuka membuktikan kebenaran atau kesalahan teori-teorinya, dan kegunaannya untuk dunia keilmuwan yang lebih luas dan terus berkembang lewat debat tesis versus antitesis, maka dia adalah seorang saintis gadungan./4/

Jika anda belum tahu apa itu junk science, baiklah saya jelaskan. Sulit mencari terjemahan yang pas untuk junk science. Perbolehkan saya menyebutnya sains rongsokan”, yaitu hal-hal yang diklaim ilmiah tetapi sesungguhnya tidak pernah terbukti, atau telah terbukti salah total, tidak memiliki basis keilmuwan yang akurat, dan, ini yang terpenting, digunakan untuk menggolkan tujuan-tujuan sosioekonomi dan sosiopolitik seseorang atau sekelompok orang. Yang mereka perjuangkan dan kedepankan bukan ilmu pengetahuan, tetapi ideologi atau worldview mereka; dan sains digunakan sekenanya hanya sebagai pupur kosmetik saja.

Pada intinya, junk science adalah kepentingan sosiopolitik dan ekonomi yang dibungkus tidak rapi dengan dalih-dalih rongsokan yang diklaim ilmiah dengan memakai landasan bukti-bukti, data serta info palsu, reka-rekaan atau periferial. Para pembela junk science ya bukan saintis, tetapi orang-orang yang mencari dan mengejar keuntungan ekonomi dan politik lewat proposisi-proposisi teoretis yang mereka bangun sendiri yang diklaim ilmiah oleh mereka sendiri. Para junk scientists adalah para pelacur dalam dunia sains, sama sekali bukan para saintis. Tetapi, pengaruh mereka bisa luas khususnya di kalangan yang buta ilmu pengetahuan, tetapi sangat fanatik mempertahankan pandangan dunia atau ideologi mereka, entah ideologi sekular atau ideologi keagamaan. 


Amygdala yang tidak aktif

Kita semua sudah tahu bahwa sesuatu yang kita lakukan terus berulang-ulang, akan menjadi bagian dari kebiasaan kita yang akhirnya mendarahdaging, lalu menjadi watak yang menetap sebagai bagian dari jati diri kita. Begitulah yang akan terjadi pada anda jika anda tidak henti-hentinya menyangkal fakta-fakta. Hidup “in denial of reality” akan menjadi watak anda. 

Jika sesuatu itu A, tetapi anda terus menyangkalinya dan anda terus ngotot menyatakan itu B, maka denialisme sudah menjadi kebiasaan anda. Mengatakan B tentang sesuatu yang sebenarnya A, sama artinya dengan berdusta, berbohong, dalam tingkat patologi mental yang sudah parah. 


Satu kali bohong, amygdala sangat aktif memperingatkan anda. Sering bohong, amygdala akhirnya tidak aktif lagi. BOHONG atau SANGKAL FAKTA pun menjadi WATAK anda! OTAK anda menyesuaikan diri pada kemauan dan kelakuan anda loh!

Para neurosaintis sudah menemukan bukti-bukti bahwa ketika anda pertama kali berdusta atau menyangkal fakta, emosi anda terusik dan memperingatkan anda bahwa kelakuan anda itu tidak benar dan tidak sesuai dengan citra diri dan martabat anda. Pada saat kondisi ini terjadi dalam mental anda, pusat emosi dalam organ otak anda yang dinamakan amygdala terpindai sangat aktif.

Tetapi ketika anda selalu melawan peringatan mental yang muncul lewat aktivitas kuat amygdala, dan mengabaikan peringatan ini berkali-kali, maka aktivitas amygdala makin lemah, dan akhirnya menjadi kurang atau tidak aktif pada saat-saat selanjutnya ketika anda berdusta atau menyangkali fakta-fakta. Saat amygdala sudah tidak aktif lagi, maka berbohong dan menyangkal fakta-fakta sudah menjadi kebiasaan anda, dan lebih buruk lagi: sudah menjadi bagian dari watak anda. Tentang kajian ini, lihat Neil Garrett, Stephanie C. Lazzaro, et al., The Brain Adapts to Dishonesty”./5/ 

Dusta, kebohongan, dan hidup dalam penyangkalan atas fakta, tidak melukai akal dan batin anda lagi. Gerigi tajam cakram nurani anda semua sudah tumpul, tidak menusuk, dan tidak menimbulkan rasa sakit lagi saat berputar; dan yang menumpulkannya adalah anda sendiri dan kelompok anda. Anda bayangkanlah, masyarakat jenis apa yang terbentuk jika semua warganya sudah terperosok ke dalam kondisi mental semacam ini! Inilah yang saya sudah sebut di awal tulisan ini sebagai efek bumerang sebagai muara dari terus-menerus hidup in denial of reality. Tentu saja menyedihkan, dan menyeramkan.

Ingatlah, penyangkalan atas fakta atau dusta dan kebohongan itu bak sebuah bola salju yang sedang menggelinding di atas hamparan luas salju: semula bolanya kecil, makin lama niscaya makin besar, makin besar, dan terlihat mengerikan! Inilah A SNOWBALL EFFECT.

Ini juga ibarat anda tergelincir dari puncak sebuah lereng luas yang licin. Makin lama, makin ke bawah, tubuh anda menggelinding dengan makin cepat, dan bisa berakhir dengan benturan keras tubuh anda dengan sebuah batu besar atau sebuah pohon besar, yang akan merenggut nyawa anda. Inilah yang disebut A SLIPPERY SLOPE. 


“Playing the victim  

Dalam kondisi yang sudah sangat parah, hidup in denial pada akhirnya bermuara bukan saja pada sindrom efek bumerang, tetapi juga pada apa yang para psikolog dan psikiater namakan sindrom self-victimization atau playing the victim atau victim playing. Prosesnya umumnya berlangsung begini: Si A yang keji, jahat dan tidak bermoral, yang nuraninya sudah mati, sudah berulangkali mau mengorbankan si B, si C, si D hingga si Z, dan komunitas-komunitas mereka masing-masing, lewat cara-cara yang keji, bejad, tak masuk akal, dan melawan hukum. 



Self-victimization alias pura-pura menjadi korban atau mangsa, padahal predator!

Si A semula sangat yakin segala cara yang dia telah dan sedang jalankan akan berhasil membuat lawan-lawannya menjadi korban-korban yang jatuh bergelimpangan dan sekarat. Tetapi ketika waktu berjalan, calon-calon korban si A malah terlihat bertahan kokoh dan akhirnya malah berada di atas si A. Melihat situasi dan kondisi yang berbalik arah ini, dan mengetahui dirinya bisa terancam bahaya dan pembalasan, si A yang mulai stres berat segera memainkan peran sebagai korban atau mangsa lawan-lawannya semula, tidak lagi sebagai predator atau pemangsa atau orang yang akan mengorbankanIbaratnya, anak-anak panah yang semula dia lepaskan dengan kencang ke lawan-lawannya kini dia lesatkan kepada dirinya sendiri. Self-victimization. Caranya? 

Ya, si A dengan licik mulai menyusun dan menyebarkan narasi-narasi fiktif lewat berbagai saluran yang menggambarkan dirinya seolah-olah sedang menjadi bidikan lawan-lawannya itu untuk dikorbankan dan dibinasakan. Korban sekarang diarahkannya sendiri kepada dirinya sendiri, bukan kepada lawan-lawannya. Dalam ketidakberdayaan dan bayangan jelas akan mengalami kekalahan yang besar, tujuan si A menebar narasi-narasi rekaannya itu tidak lain adalah untuk, lewat kamuflase, menarik perhatian orang, simpati, belas kasihan dan pembelaan masyarakat atau orang lain kepada dirinya sendiri. Jika si A makin piawai memainkan peran sebagai korban, maka si A lazimnya dijuluki sebagai korban profesional

Untungnya, dalam kebanyakan kasus, strategi self-victimization atau playing the victim tidak efektif, alias gagal total. Ya namanya juga playing alias pretending. Tidak ada orang yang cerdas dan tahu sikon yang real yang mau masuk perangkap strategi orang yang telah kalah ini. Ketika ini terjadi, denial dalam dirinya makin kuat dan makin kuat terus. Perlu ada pertolongan terulur kepadanya dari para pakar kesehatan.      


Mental pecundang  

Ketahuilah juga, siapapun yang mati-matian hidup “in denial” dan membela taklid buta ideologi apapun (yang religius dan yang non-religius), pada akhirnya akan menjadi para pecundang, kalah, dan mau tak mau akan berakhir dalam kematian dan kepunahan, secara individual dan secara kolektif. Mengapa?

Ini jawabannya: Adaptasi, fleksibilitas, keterbukaan terus-menerus pada pembaruan, penyesuaian dan perubahan, dan dinamika, akan membuat siapapun dan ideologi apapun bertahan, berkembang dan makin bermanfaat buat pembangunan kemanusiaan dan peradaban. Inilah hukum evolusi yang berlaku di seantero jagat raya. Evolusi alamiah membutuhkan waktu sangat panjang. Kini, dengan bantuan sains-tek modern, kita dapat mempercepat jalannya evolusi dalam bidang apapun, menjadi superevolusi, termasuk mempercepat evolusi fisik dan mental Homo sapiens lewat teknik rekayasa genetik yang dinamakan DNA-editing (CRISPR-Cas9) yang kini tekniknya sudah makin bervariasi dan makin cermat.

Sesuatu yang hidup itu pasti berubah; hanya sesuatu yang sudah mati tidak berubah lagi. Hanya sesuatu yang berubah, akan punya masa depan, karena dimensi ruangwaktu dalam jagat raya ini tidak statis, tetapi dinamis, terus mengembang, tanpa garis akhir.


Jalan keluar

Apakah ada jalan keluar untuk kita bisa terbebas dari kekuatan denialisme dalam segala bidang kehidupan kita? Menurut saya, ada. 

Hanya orang yang melihat hidup beragama sebagai hidup dalam suatu ziarah yang belum selesai, dan yang terus-menerus membuka diri pada berbagai kemungkinan baru di masa depan, kemungkinan-kemungkinan baru yang juga ditawarkan sains modern, dan menempatkan kejujuran, kebaikan hati dan kemanusiaan jauh di atas agama atau ideologinya, akan bisa luput dari kekuatan denialisme, yang setiap saat bisa mendatangi dan mengancamnya. 

Hanya jika orang sudah bisa berpindah dari kesadaran naif dan picik, masuk ke kesadaran kritis dan membebaskan, dalam hubungan dirinya dengan dunia ide-ide apapun atau dengan kondisi-kondisi apapun, akan dapat lepas dari denialisme lalu akan dapat hidup dengan autentik dan bermarwah. Di tangan orang-orang semacam inilah agama, politik dan ide-ide besar dan kehidupan akan memberi manfaat besar bagi umat manusia.

Supaya dalam segala hal anda tidak terjatuh ke dalam denialisme, ujilah setiap fenomena lewat tiga sarana berikut ini dengan seksama. 

Pertama, pakailah sarana ilmu pengetahuan saat anda mau mengetahui mana fakta dan mana fiksi, mana sejarah dan mana mitos, dan dengan landasan ilmu pengetahuan ambillah fakta dan buanglah fiksi, raihlah sejarah dan singkirkan mitos.

Kedua, pakailah sarana hati nurani yang jujur dan cerdas dalam anda menjatuhkan pilihan saat anda berhadapan dengan kebenaran atau kebohongan, kebaikan atau keburukan. Hati nurani dapat diandalkan sejauh menerima masukan tentang berbagai hal dari ilmu pengetahuan.

Ketiga, jadikanlah martabat diri anda sebagai fondasi moral saat anda harus memilih apapun, alhasil anda tidak akan menjual diri anda berapapun harga yang ditawarkan. Dengan mempertahankan martabat atau marwah diri anda, anda akan selalu bisa menjadi seorang mahatma. 

Selain itu, kita bisa melakukan sesuatu yang akan menolong teman-teman atau anggota keluarga kita yang sedang hidup dalam penyangkalan atas fakta-fakta dan kebohongan yang terus-menerus. Yaitu, kita perlu membangun komunitas-komunitas alternatif yang berbeda ideologi, pilihan pengetahuan, nilai-nilai dan cara hidup, yang menolak denialisme dan menerima fakta-fakta dengan terbuka. Orang-orang yang sedang terpenjara dalam denial perlu kita bawa dan libatkan dalam pergaulan yang menetap dan percakapan yang ramah dan bersahabat dengan anggota-anggota komunitas-komunitas alternatif ini, untuk mereka akhirnya dapat memandang dunia ini dengan lebih luas dan tidak melarikan diri dari fakta-fakta, lalu mengalami perubahan dan kesembuhan mental.   


Penutup

Jika ada orang yang ngotot bertahan terus dalam denial, ini nasihat saya: Jika anda punya mata, janganlah melihat. Jika anda punya telinga, janganlah mendengar. Sebab anda mau lihat dan dengar hanya hal-hal yang anda mau lihat dan dengar saja, padahal realitas yang ada berbeda sama sekali. Hiduplah terus di luar masyarakat umum, di luar realitas objektif, sampai anda wafat tanpa makna sama sekali. Anda pernah hidup tapi seolah anda tak pernah hidup. Anda pernah ada, tapi seolah anda tidak pernah lahir. Kesia-siaan.

Tetapi jika anda terbuka menerima fakta-fakta, sekalipun fakta-fakta ini tidak sejalan dengan kemauan dan keyakinan anda semula, atau semula menyiksa anda, dan anda seterusnya berubah, dan mau hidup realistik, anda adalah seorang besar.

Akhirulkalam, mari kita keluar dari denialisme, jangan biarkan diri kita terus dipenjara olehnya, supaya kita bisa menyumbang sesuatu yang bermakna dan agung buat dunia ini, buat ilmu pengetahuan, buat agama-agama, buat ide-ide besar, dan buat kemanusiaan global.


31 Juli 2012

Salam,
ioanes rakhmat 

Note:
Editing mutakhir 25 Januari 2017


Catatan-catatan

/1/ Lihat Kübler-Ross, On Death and Dying: What the Dying Have to Teach Doctors, Nurses, Clergy and Their Own Families (New York, etc.: Scribner, 1969; edisi tahun 2014 dilengkapi kata pengantar oleh Ira Byock. Edisi paperback Agustus 2014). Lebih jauh, lihat juga Kübler-Ross dan David Kessler, On Grief and Grieving: Finding the Meaning of Grief Through the Five Stages of Loss (kata pengantar oleh Maria Shriver; New York, NY.: Scribner, 2005. Edisi paperback Agustus 2014), khususnya bab 1 (hlm. 7-28).  

/2/ Kathleen Taylor, Brainwashing: The Science of Thought Control (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2004; edisi paperback 2006), hlm. ix-x. 

/3/ Keyakinan bahwa planet Bumi baru berusia 6.000 tahun sudah dimunculkan berabad-abad lampau, persisnya pada abad ke-17, oleh literalis Katolik yang menjadi uskup agung Almargh yang bernama James Usher. Menurutnya, persis di hari Minggu, 23 Oktober 4004 SM, Tuhan Allah menciptakan langit dan Bumi. Pada sisi lain, dengan mengkaji terutama meteor-meteor, dengan menggunakan teknik radioactive dating, yang khususnya terfokus pada isotop-isotop yang tertinggal dari peluruhan radioaktif, para ilmuwan tiba pada kesimpulan bahwa sistem Matahari kita berusia 4,6 milyar tahun.  

/4/ Lebih jauh, lihat Michael Shermer, What Is Pseudoscience?, Scientific American, September 1, 2011, pada https://www.scientificamerican.com/article/what-is-pseudoscience/.

/5/ Neil Garrett, Stephanie C. Lazzaro, Dan Ariely, Tali Sharot, The Brain Adapts to DishonestyNature Neuroscience 19 [1727-1732] 24 October 2016. Ini link ke file Pdf-nya http://www.nature.com/neuro/journal/v19/n12/pdf/nn.4426.pdf.



Friday, July 27, 2012

Misi Muslim SAVE MARYAM!

Update terbaru: 

Telah disusun sebuah surat (elektronik) yang Senin depan ini (27 Agustus 2012) akan diserahkan kepada duta besar Indonesia di London, yang isinya pada intinya mendorong kedubes RI di Inggris bertindak dan menyatakan sikap sehubungan dengan kampanye #SaveMaryam. Surat ini perlu anda tandatangani, bersama dengan banyak orang lain. Ini link ke surat bersama itu http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/17-surat-bersama-warga-indonesia-kepada-duta-besar-ri-di-london/10151198709757238?comment_id=25520220&notif_t=like.

Telah dibangun sebuah blog yang melawan proyek #SaveMaryam, yakni blog #SaveUdin, beralamat di www.saveudin.org. Tengoklah blog ini, saksikan tayangan video tandingan di dalamnya, dan baca semua tulisan yang sudah dipasang di situ.

Maulana M. Syuhada telah menyusun sejumlah pertanyaan yang kerap diajukan tentang kampanye #SaveMaryam untuk menggalang dana USD 2 juta, kampanye yang dilandaskan pada data palsu bahwa di Indonesia ada 2 juta Muslim setiap tahunnya yang pindah agama, masuk Kristen. Untuk setiap pertanyaan, langsung diberi jawabannya. Penting untuk orang Indonesia, Muslim dan Kristen, membaca FAQ ini. Masuklah ke http://www.saveudin.org/11-faq-about-savemaryam-controversies/


Bagian 1

Seseorang memberi link ini http://www.youtube.com/watch?v=C5VgcYlFcF8 kepada saya, supaya saya mengevaluasinya. Ini link ke video yang mengampanyekan misi Muslim di Indonesia yang diberi nama SAVE MARYAM. Website proyek SAVE MARYAM beralamat di www.savemaryam.com. Lembaga karitas yang mengorganisir proyek SAVE MARYAM ini bernama Mercy Mission World (MMW), dan beralamat di sebuah negeri Barat, P.O. Box 18776, London, E6 3AE, United Kingdom. Uraian di bawah ini adalah evaluasi saya atas misi Muslim ini, yang akan terus di-update jika ditemukan data baru.



Logo proyek SAVE MARYAM, 
selamatkan Maryam, supaya dia tidak ganti nama menjadi Mary!

Menurut SAVE MARYAM, setiap tahun ada 2 juta Muslim di Indonesia pindah agama, masuk Kristen. Jelas, orang akan otomatis bertanya, Adakah data statistik autentiknya?

Menurut SAVE MARYAM, di tahun 2035, Indonesia akan tidak lagi menjadi negara berpopulasi Muslim terbesar dunia, jika kristenisasi yang massif sukses tak terbendung.

Sekian tayangan di video itu menampilkan kegiatan-kegiatan gereja-gereja tertentu, yang SAVE MARYAM pandang sebagai kegiatan kristenisasi, padahal sebetulnya lebih merupakan acara internal kebaktian kebangunan rohani (KKR) gaya gereja-gereja pentakostal, dan umumnya dihadiri oleh orang-orang Kristen dari berbagai aliran, dan mungkin sekali tidak dihadiri orang Islam sendiri. Bahwa gereja-gereja pentakostal sangat aktif mengadakan KKR yang seringkali bertema bombastis, adalah fakta. Dus, saya merasa kasihan juga pada gereja HKBP, sebuah gereja suku, ketika bangunan sebuah gerejanya dimunculkan dalam video itu, seolah menuduh HKBP juga giat mengkristenkan Indonesia.

Acara-acara pembinaan rohani yang digelar di TV-TV tertentu di Indonesia, misalnya acara yang diberi nama SOLUSI, yang bertujuan untuk membantu para pemirsa yang sedang bermasalah mendapatkan jalan keluar dan penguatan oleh Yesus Kristus, dibayangkan oleh SAVE MARYAM sebagai kegiatan kristenisasi. Ya, ada benarnya bahwa acara-acara ini juga sebuah bentuk kristenisasi; tapi sebetulnya lebih tepat jika dipandang sebagai acara konsultasi psikologis. Tapi karena nama Yesus dibawa-bawa, ya acara konsultasi psikologis ini berubah dengan mudah menjadi acara kristenisasi atas orang-orang yang sedang bermasalah. Jika acara ini mengganggu kaum Muslim, dan mereka takut menjadi korban kristenisasi, ya solusi paling cepat dan praktis adalah ganti saja channel TV-nya, atau sekalian matikan saja TV-nya. :))

Selain itu, SAVE MARYAM juga melihat usaha-usaha mempribumikan kekristenan ke dalam konteks Indonesia dan dunia Muslim, serta pemakaian kata-kata, sebagai contoh, "salah", "iman" dan "Allah" dalam perbendaharaan kosa kata gereja (yang dipandang sebagai pembajakan istilah-istilah khas Muslim), bertujuan untuk memikat kaum Muslim Indonesia supaya mereka mau pindah agama, masuk Kristen. Dalam hal ini, saya sependapat dengan SAVE MARYAM. Salah satu bentuk penyebaran agama Kristen adalah lewat kontekstualisasi. Tetapi bukankah konteks Indonesia adalah konteks kita semua, dan kita merasa perlu hidup sejalan dengan konteks kita, hidup kontekstual? Bukankah kata-kata salah, iman dan Allah adalah kata-kata resmi bahasa Indonesia, dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan kita semua bisa memakai kata-kata ini dengan bebas? Jika anda ingin tahu lebih jauh berbagai metode penyebaran agama Kristen yang dijalankan gereja-gereja di Indonesia, baca tulisan saya yang sangat bernas dan seimbang, terpasang online di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/06/mengenal-metode-penyebaran-agama.html.

Gerakan SAVE MARYAM membutuhkan donasi dana USD 2 juta, untuk menyelamatkan Muslim Indonesia dari gerakan kristenisasi, lewat berbagai program pemberdayaan dan penyadaran Muslim.

Karena alasan-alasan tertentu, saya menolak kristenisasi dalam bentuk apapun. Saya ingin Indonesia tetap menjadi negara berpopulasi Muslim terbesar dunia. Islam adalah bagian dari kekayaan spiritual dunia, jadi harus dipelihara oleh semua orang yang cinta peradaban insani. Hanya dengan menempatkan Islam sebagai bagian dari kekayaan spiritual dunia, Islam bisa dievaluasi dengan objektif.

Saya tahu dengan pasti bahwa kristenisasi memang dijalankan di Indonesia, sama seperti umat Muslim juga menjalankan Islamisasi, atau Arabisasi, atau Wahabisasi atau liberalisasi, di Indonesia. Kaum agamawan umumnya di mana-mana berpendapat bahwa sama seperti surat-surat kabar dan berbagai media sosial, dalam suatu negara demokratis yang terbuka, bebas menyebarkan berbagai berita dan info ke masyarakat, menyiarkan agama apapun adalah kegiatan yang tak dapat dilarang, dan semua penganut agama telah melakukannya sejak dulu. Baiklah jika kaum agamawan mau berpendapat demikian! Saya paham betul, jika mereka tidak dengan gigih mempertahankan pendapat mereka itu, mereka akan kehilangan pekerjaan dan income mereka dan... pahala mereka nanti di surga. :)) Tapi, hemat saya, siar agama tak dapat dilarang hanya
sejauh kegiatan siar agama apapun dijalankan tanpa memakai pemaksaan, tipu-daya, intimidasi, kekerasan dan penghinaan, dan tidak mengganggu keharmonisan hubungan antar golongan-golongan keagamaan yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.


Bagaimanapun juga, saya sangat ragu terhadap data statistik yang diajukan SAVE MARYAM yang bisa ditafsirkan telah dikemas dengan tendensius untuk memberi pesan politis bahwa kristenisasi sedang berjalan sangat massif, ekstensif dan berbahaya di Indonesia sampai  menghasilkan para muallaf dalam jumlah fantastik per tahun, dan bahwa di tahun 2035 Negara Kesatuan Republik Indonesia akan lenyap dari muka Bumi dan akan diganti dengan Negara Kristen Indonesia. Dan saya juga ragu dana USD 2 juta sedang dihimpun untuk kepentingan apa/siapa. Dengan dana sebesar ini, para pelaksana proyek SAVE MARYAM bisa leluasa melakukan apa saja di Indonesia, atau malah tidak melakukan hal apapun setelah mengantongi dana besar itu.

Mari teman-teman, kita evaluasi SAVE MARYAM, yang sedang aktif dikampanyekan dalam bulan puasa 2012 ini. Silakan sumbang saran lewat berbagai media sosial.

Satu catatan pendahuluan saya, SAVE MARYAM melihat hanya kristenisasi sebagai ancaman buat Islam masa kini di Indonesia, tapi mereka tak melihat bahwa ancaman lebih besar lagi bagi Islam di Indonesia adalah kemunduran dalam Islam sendiri.
Kita patut bertanya, Apakah Islam masa kini di Indonesia mengalami kemunduran? Jika ya, kemunduran dalam arti apa? Dan apa penyebabnya? Kalau Islam Indonesia makin mundur, sudah sepatutnya kaum Muslim mawas diri dan memperbaikinya.

Bagian 2

Mungkin karena proyek SAVE MARYAM sudah mulai disorot (antara lain oleh kita) di berbagai media sosial, pada 25 Juli 2012 MMW telah mengeluarkan sebuah press release yang memuat data statistik tentang jumlah rata-rata Muslim Indonesia per tahun yang pindah agama masuk Kristen, yakni (persisnya) 2.014.837 orang (berdasarkan himpunan data dari 2000 sampai 2009). MMW memakai data tentang pertambahan jumlah umat Kristen di Indonesia karena perpindahan agama (Muslim ke Kristen), dari 4 sumber: World Harvest, Secretbelievers, Secretbelievers/ICG, dan Departemen Agama RI. Press release ini terpasang online di http://savemaryam.com/downloads/SaveMaryamPressRelease.pdf.

Angka 2.014.837 adalah angka yang fantastik; angka yang bisa mendorong orang yang memakai akal sehat untuk menyatakan bahwa angka ini adalah hoax. Sejauh yang saya berhasil pantau, sanggahan yang menyatakan bahwa angka ini adalah hoax sudah bermunculan di beberapa media sosial.

Tapi untuk menyatakan bahwa angka itu hoax, kita harus memakai data real tandingan, tak bisa hanya sekadar menolak angka yang fantastik itu. Marilah kita mencari data tandingan yang bisa membantah angka yang diajukan MMW itu. Sudah kita ketahui, di Indonesia ini orang sukar sekali mendapatkan data statistik apapun yang akurat dan kredibel. Hal ini pun membuat MMW mengeluarkan pernyataan, bahwa "sesungguhnya hanya Allah yang tahu angka-angka real yang sebenarnya dan absolut, yang mengungkapkan berapa besar umat Muslim yang telah pindah agama, masuk Kristen. Tapi tanggungjawab kami adalah memberikan sebuah tebakan cerdas, seperti yang kami telah lakukan di atas." Di sini poinnya: tebakan, secerdas apapun, tetap sebuah tebakan! Saya mau bertanya pada para pemimpin MMW: Apakah kalian, dari Inggris, mau mengatur umat Muslim Indonesia berdasarkan sebuah tebakan?

Atau kita menunjukkan bahwa data pendukung, sumber-sumber data dan kesimpulan yang ditarik MMW memiliki cacat dalam berbagai bentuk. Nah, untuk keperluan ini, teman-teman yang memiliki keahlian dalam analisis statistik perlu turun tangan.

Well, kita bisa mengambil sikap tidak perduli pada apapun yang sedang dan akan dilakukan SAVE MARYAM. Karena kita merasa telah dibuat lelah oleh mereka. :)) Kita juga bisa tak perduli, dengan alasan, kalau kita mempersoalkan proyek ini, justru info tentang proyek ini makin tersebar dan maksud dan tujuan si pemilik proyek ini kita jadi bantu wujudkan. Saya melihat persoalannya tidak demikian. Hemat saya, kita perlu mengevaluasi proyek ini dengan kritis, justru supaya kelemahan-kelemahan proyek ini tersingkap dan publik jadi mengetahuinya.

Saya melihat, ketimbang bisa membantu Muslim Indonesia, proyek SAVE MARYAM ini potensial memecahbelah bangsa kita, memecah belah sesama Muslim Indonesia, dan membenturkan umat Islam dan umat Kristen. Inilah bahaya potensialnya!

Saya sendiri bertanya, mengapa lembaga MMW itu, sebagai lembaga asing (Barat), mau ikut campur mengurusi kehidupan umat Muslim Indonesia. Tentu siapapun boleh perduli pada umat Muslim Indonesia, sama seperti Barat juga boleh perduli pada umat Kristen di Indonesia. Tapi, yang saya lihat sebagai persoalannya adalah, proyek SAVE MARYAM mungkin terlalu jauh mencampuri kehidupan umat Muslim Indonesia. Dengan dana 2 juta US Dollar yang sedang dikumpulkan, mereka bisa melakukan apa saja dengan leluasa di Indonesia, termasuk memperkuat Wahabisme di negeri ini.

Dalam press release MMW itu ditulis bahwa gerakan mereka sudah didahului riset yang intensif dan ekstensif dengan melibatkan banyak pihak di Indonesia, yakni alim ulama, profesor Muslim, wartawan, aktivis Muslim, anggota komite masjid, usahawan, ummah. Mereka semua, kata MMW, melihat bahwa memang sedang terjadi pemurtadan umat Muslim di Indonesia dalam jumlah besar. Sayangnya, MMW tak menyebutkan dengan eksplisit nama orang-orang dan lembaga-lembaga yang mereka sebut ini. Selain itu, mereka juga menyatakan bahwa gerakan mereka untuk MENYELAMATKAN MARYAM dijalankan dengan kerja sama dengan Muhammadiyah. Klaim yang terakhir ini jelas halus diklarifikasi langsung pada organisasi Muslim Indonesia yang besar ini.

Secara khusus MMW menyebut-nyebut kegiatan-kegiatan pemurtadan yang telah dan sedang dilakukan oleh gereja-gereja (pentakostal, khususnya) di Indonesia, terhadap umat Muslim Indonesia. Mereka menunjuk pada dua acara kebaktian kebangunan rohani (KKR) besar yang memang pernah diadakan di Jakarta (Jakarta for Jesus) dan di Surabaya (Surabaya for Jesus), yang juga pernah saya soroti dengan tajam dalam sebuah tulisan saya. 


Penyebutan acara-acara KKR tersebut sebagai KKR Jakarta for Jesus dan KKR Surabaya for Jesus jelas penyebutan yang bombastis; dan celakanya dan bodohnya orang-orang Kristen pentakostal adalah mereka tak sadar sama sekali bahwa penyebutan-penyebutan hiperbolik demikian telah memberi pesan dan sinyal yang salah ke dunia luar bahwa dua kota besar itu akan menjadi kota-kota Kristen hanya lewat dua acara KKR tersebut. Maka  bisa dipahami jika MMW juga mengumumkan bahwa menyusul KKR-KKR besar ini, kolam-kolam renang skala Olimpiade telah disewa untuk membaptis para muallaf. Jelas,  dalam pandangan MMW dua acara KKR itu telah sukses besar menghasilkan muallaf dalam jumlah besar. Really? Kalau MMW menyatakan bahwa dua acara KKR itu telah berhasil menghimpun uang dalam jumlah besar yang masuk ke kocek-kocek para rohaniwan penyelenggaranya, saya masih bisa sependapat. Selain itu, mereka juga mengacu ke Mega Churches (gereja-gereja superbesar) yang banyak dibangun di kota-kota besar di Indonesia, yang bisa menyerap 4.000 sampai 10.000 orang pengunjung. Dalam pandangan mereka, keberadaan Mega Churches di Indonesia masa kini adalah suatu bukti keberhasilan besar kristenisasi di negeri ini.

Hal-hal yang diungkap MMW ini sebagian adalah fakta-fakta, tetapi yang masih perlu mereka ungkap adalah adakah orang Islam Indonesia yang ikut hadir dalam acara-acara KKR tersebut lalu masuk Kristen, atau yang ikut beribadah dalam gedung-gedung gereja superbesar itu. Jika ada, berapa banyak (tunjukkan dengan statistik), dan apa penyebab mereka mau hadir (lakukan evaluasi). 

Dalam pandangan saya, Mega Churches yang akan makin banyak dibangun (dengan mudah) di kota-kota besar Indonesia lebih mengungkapkan kolaborasi kekristenan di Indonesia dengan kapitalisme, ketimbang membuktikan keberhasilan kristenisasi di Indonesia itu sendiri. Yang mengisi ruang-ruang dalam Mega Churches adalah orang-orang Kristen lama yang suka pindah-pindah gereja, dan yang mengidentifikasi diri sebagai orang-orang Kristen terhormat yang telah sukses secara material. Orang-orang Kristen kapitalis semacam ini mustahil mau ikut kebaktian Minggu di gereja-gereja reot, pengap dan panas. Sebaliknya, orang-orang Kristen yang ke mana-mana naik Bajaj, berpakaian murahan dengan warna yang sudah kabur, dan hanya bisa memberi persembahan ke kantung persembahan maksimal Rp. 2.000 sekali beri, akan sangat merasa minder jika ikut kebaktian Minggu dalam Mega Churches. Mega Churches by definition adalah gereja Kristen kapitalis, bukan gereja orang miskin. Problemnya bagi orang Kristen kapitalis (mereka berhak loh menjadi orang Kristen kapitalis, kendatipun Yesus sangat terang mengajarkan hal yang bertolakbelakang!) adalah umat Muslim di Indonesia umumnya antipati pada kapitalisme, dan mereka sudah punya sistem ekonomi sendiri yang dilandaskan pada syariah. Anti-kapitalisme dan anti-Mega Churches adalah saudara kembar. MMW tampak sangat piawai memainkan sentimen-sentimen sosio-ekonomis dan religius ini.

Sekali lagi, sekian hal yang diungkap dalam press release MMW itu memang fakta, tapi sekian hal lainnya jelas dibesar-besarkan, atau dibiarkan tanpa penjelasan sehingga orang bisa bebas memakai bayangan-bayangan dan khayalan-khayalan mereka sendiri. Jadi, pada satu pihak, sudah seharusnya proyek 2 juta USD  SAVE MARYAM yang sudah digelindingkan ini memicu umat Kristen evangelikal revivalistik di Indonesia untuk memeriksa diri, tahu diri, bertafakur, dan mengembangkan kepekaan sosial mereka. Dan, pada pihak lainnya, adalah juga kewajiban kita semua, Muslim dan Kristen, untuk mencari dan menemukan fakta-fakta, dan menolak asumsi, pemalsuan data, fiksi, mitos, prasangka, kebencian dan kemarahan.

Yang saya puji dari MMW adalah sikap mental mereka: kendatipun mereka sudah menyatakan bahwa pemurtadan besar sedang dilakukan orang Kristen terhadap umat Muslim Indonesia, mereka tidak melihat problemnya terletak pada orang Kristen, tapi pada umat Muslim sendiri, yang umumnya, kata mereka (dengan nada merendahkan), tidak memahami situasi dan kondisi real kehidupan mereka sendiri di Indonesia, dan tidak memiliki basis kuat untuk hidup sebagai Muslim sejati sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi untuk pindah agama. Dus, proyek SAVE MARYAM dirancang, dibangun  dan dijalankan untuk memberdayakan dan menyadarkan Muslim Indonesia serta untuk memperkuat jati diri mereka dan memproteksi, bukan untuk menyerang orang Kristen. So far so good.

Tapi, itu adalah sikap mental orang Barat pada umumnya: proporsional. Tapi pujian saya ini akan gugur dengan sendirinya jika nanti terbukti bahwa MMW telah tidak objektif dalam menampilkan data statistik yang sudah disebut di atas. Selain itu, saya sangat ragu, kalau segmen-segmen tertentu dalam dunia Islam Indonesia akan melihat dari sudut pandang yang sama. Segmen-segmen ini bisa diantisipasi akan memberi reaksi geram dan murka terhadap orang Kristen Indonesia, ketika kepada mereka disodorkan analisis yang telah dilakukan MMW atas kondisi umat Muslim Indonesia masa kini. Itulah sebabnya saya telah tulis di atas, bahwa proyek SAVE MARYAM potensial menimbulkan benturan sosial dalam masyarakat Indonesia, benturan sosial yang akan makin parah dan makin keras dibandingkan keadaannya sekarang yang memang sudah tidak bagus.

Press release MMW itu ditutup dengan kutipan teks dari Surat Al Anfal ayat 46, yang berbunyi demikian, "Jangan berdebat di antaramu sendiri, yang mengakibatkan strategimu gagal dan kekuatanmu menyusut." Ya, tampaknya MMW menghendaki proyek SAVE MARYAM dijalankan tanpa kompromi, tanpa dialog, tanpa debat, dan umat Muslim Indonesia diminta untuk ikut saja, tanpa terpecah-belah. Is that so? Time will tell.


Bagian 3

Baru saja (pukul 16.00, tanggal 28 Juli 2012) saya menemukan sebuah tanggapan saintifik (ditulis dalam bahasa Inggris) atas semua klaim yang disebarluaskan oleh MMW lewat video dan press release mereka, ditulis oleh Maulana M. Syuhada, dan tersedia online di Facebook-nya. Link ke Facebook Bung Maulana ini saya berikan di bawah ini (seluruhnya ada 3 link); silakan keseluruhan tanggapannya anda baca. Pada kesempatan ini saya mau mengutip tiga pernyataan tegas saja dari Bung Maulana ini. 
 
Bung Maulana menyatakan, 
"#SaveMaryam is exploiting Indonesia by creating bombastic video using manipulative facts and figures in order to achieve their donations ambition of $ 2,000,000. It seems this KONY 2012 type video is a new way of gathering money from all over the world."
(#SaveMaryam sedang mengeksploitasi Indonesia dengan menciptakan video yang bombastis dan memakai fakta-fakta dan angka-angka yang dimanipulasi dengan tujuan untuk memenuhi ambisi mereka mendapatkan sumbangan sebesar USD 2.000.000. Tampaknya tipe video KONY 2012 adalah sebuah cara baru dalam mengumpulkan uang dari seluruh dunia.)
Dan juga,
"After watching the video, I was shocked and angry. The video is very patronizing, yet insulting to Muslims in Indonesia. They use manipulative figures and inaccurate facts, depicting Indonesia as ignorant and hopeless nation."
(Setelah menyaksikan video itu, saya terkejut dan marah. Video itu tampak sangat bersahabat dan menyokong, tapi sebetulnya sangat merendahkan sekaligus menghina umat Muslim di Indonesia. Mereka memakai angka-angka yang dimanipulasi dan fakta-fakta yang tidak akurat, dengan menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang bodoh dan tak memiliki pengharapan.)
Mr. Maulana juga memasang tuntutannya kepada MMW, demikian:
"I demand you to withdraw the video and stop spreading this lies before we report this to the Indonesian authorities and police."
(Saya menuntut anda untuk menarik video ini dan berhenti menyebarkan kebohongan-kebohongan ini sebelum kami melaporkan hal ini kepada pemerintah Indonesia dan polisi.)
Dalam tulisan Bung Maulana itu terdapat lampiran tentang data demografis Indonesia jika dilihat dari jumlah para penganut agama-agama. Data ini diambil dari hasil sensus nasional tahun 2000 dan tahun 2010. Saya kutipkan seluruhnya, termasuk pendapat-pendapatnya atas data demografis ini. Menurut Maulana, data statistik konversi Muslim ke Kristen sebesar 2 juta orang per tahun, yang diajukan SAVE MARYAM, adalah dusta, yang disebarkan ke seluruh dunia!

Indonesian Population by Religion
(According to 2000 and 2010 National Census)

1. Indonesian Population in 2000 (1,2,3)
Islam           = 177,528,772 (88.22%)
Protestant  = 11,820,075 (5.87%)
Catholic      = 6,134,902 (3.05%)
Hindu          = 3,651,939 (1.81%)
Buddha       = 1,694,682 (0.84%)
Others        = 411,629 (0.20%)
Total           = 201,241,999 (100%)

2. Indonesian Population in 2010 (2,4)
Islam               = 207,176,162 (87.18%)
Protestant      = 16,528,513 (6.96%)
Catholic          = 6,907,873 (2.91%)
Hindu              = 4,012,116 (1.69%)
Buddha           = 1,703,254 (0.72%)
Konghucu       = 117,091 (0.05%)
Others            = 299,617 (0.13%)
Not Answered = 139,582 (0.06%)
Not Asked       = 757,118 (0.32%)
Total                = 237,641,326 (100%)

3. Average Annual Increase (2000 - 2010)
Total          = (237,641,326 - 201,241,999) / 10 = 3,639,933
Muslim       = (207,176,162 - 177,528,772) / 10 =  2,964,739
Protestant = (16,528,513 - 11,820,075) / 10 =  470,844
Catholic      = (6,907,873 - 6,134,902) / 10 =  77,297
Christian (Catholic + Protestan) = (23,436,386 - 17,954,977) / 10 =  548,141

From 2000 to 2010 total Indonesian population had increased by 3,639,933 per year.
- Muslim population had increased by 2,964,739 per year.
- Christian population had increased by 548,141 per year.

If total Christian population only increased by 548,141 per year how could 2,000,000 Muslims converted to Christian per year??? 

(Jika total penduduk Kristen hanya bertambah 548,141 per tahun, bagaimana bisa 2 juta Muslim pindah agama, masuk Kristen, per tahun???)

And of that 548,141, the biggest percentage is certainly due to natural growth (birthrate). So, the annual increase due to conversion from other religion(s) is even smaller. 

(Dan dari 548,141, persentase terbesar tentu saja berasal dari pertambahan alamiah [angka kelahiran]. Jadi, pertambahan tahunan yang berasal dari perpindahan dari agama lain bahkan lebih kecil lagi.)

So, SaveMaryam's claim that 2 Millions Indonesian Muslims are converted to Christianity every year is simply A LIE! If you dare to exaggerate the exact facts, how could we believe that you don't exaggerate the other facts? 

(Jadi, klaim SaveMaryam bahwa 2 juta Muslim Indonesia pindah agama, masuk Kristen, per tahun, sesungguhnya cuma SEBUAH DUSTA. Jika anda berani membesar-besarkan fakta-fakta yang eksak, bagaimana kami dapat percaya bahwa anda tidak membesar-besarkan fakta-fakta lainnya?)

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bung Maulana. Anda, Bung Maulana, adalah seorang Muslim intelektual yang Indonesia terus perlukan!

Salam,
ioanes rakhmat

Agamaku paling tinggi, 
karena agamaku adalah Cinta Kasih.  
ioanes rakhmat