Saturday, April 28, 2012

Ion H3+ sebagai the saviour of the universe!

Bintang-bintang baru sedang terbentuk di kawasan nebula Messier 78 
(gambar diambil oleh Teleskop Antariksa Spitzer NASA)

Para saintis dari Universitas Arizona,  Amerika Serikat, baru-baru ini menegaskan bahwa ion hidrogen triatomik (H3+) bisa jadi menyimpan rahasia terbentuknya jagat raya. Bagian terbesar jagat raya terdiri atas hidrogen dalam beragam bentuk, tapi ion H3+ adalah molekul terpenting  dan terbanyak dalam ruang antarbintang.

Ion H3+ berperan sangat menentukan dalam pembentukan dini bintang-bintang beberapa waktu setelah big bang. Ion H3+ juga memungkinkan terjadinya reaksi kimiawi terawal dalam jagat raya yang berujung pada  pembentukan senyawa kimiawi seperti air (H2O) atau carbon (C).

Tanpa ion H3+ tak akan terbentuk carbon, sebuah unsur terpenting bagi pembentukan kehidupan. Semua bentuk kehidupan berhutang pada ion H3+ yang terbentuk beberapa saat setelah big bang, 13,72 milyar tahun lalu.

Bukan hanya sebagai unsur esensial bagi kehidupan, ion H3+ juga memungkinkan terbentuknya bintang-bintang yang stabil yang mengisi jagat raya dalam kurun yang sangat panjang. Tanpa adanya ion H3+, bintang-bintang yang terbentuk pada usia dini jagat raya akan segera menjadi makin panas, lalu meledak dan lenyap kembali.

Jika semua bintang langsung meledak begitu terbentuk karena tekanan suhu panas dari intinya, maka jagat raya tak akan pernah ada, dan kehidupan tak pernah muncul. Dalam situasi yang tak memberi harapan itu, tampillah ion H3+ dari ledakan big bang sebagai sang penyelamat, the savior in the literal sense of the word.

Bintang-bintang yang baru terbentuk akan langsung lenyap lagi dalam suatu ledakan, jika energi panas yang ada di dalamnya tak tersalur ke luar. Nah, dari sangat sedikit molekul yang ada dalam jagat raya dini, ion H3+ menjadi penyelamat yang memungkinkan bintang-bintang terbentuk stabil untuk jangka waktu yang sangat lama.

Ion H3+ memungkinkan bintang-bintang yang baru terbentuk mengalami pendinginan suhu dengan cara memancarkan cahaya partikel foton yang sangat panas ke luar. Tanpa ada mekanisme cooling down dalam bintang-bintang yang baru terbentuk dan bersuhu tinggi, jagat raya tak akan pernah ada.

Nah, ion H3+ adalah motor penggerak mekanisme pendingin, semacam AC, dalam inti bintang-bintang baru yang sangat panas. Ion H3+ membuat energi besar yang terakumulasi dari reaksi nuklir dalam inti bintang-bintang tersalur ke luar dalam bentuk cahaya yang terpancar sangat terang dari bintang-bintang.

Luar biasa bukan: bintang-bintang muda bercahaya sangat kuat supaya mereka tetap ada dan stabil! Selama ini kita mungkin berpikir hanya satu sisi: cahaya bintang-bintang, Matahari misalnya, kita perlukan supaya kita bisa hidup.

Tanpa ion H3+ jagat raya akan tetap gelap selamanya dan kosong melompong, tanpa ada benda-benda massif, tanpa kehidupan, tanpa anda dan tanpa saya. Para astronomer berpendapat, dalam usia dini jagat raya, ion H3+ adalah molekul kimiawi terpenting satu-satunya yang membuat jagat raya bertahan ada.

Tapi dalam ruang antarbintang pada usia dini jagat raya, radiasi nuklir memancar ke mana-mana, dan dapat melenyapkan atau memodifikasi ion H3+. Syukurlah, ion H3+ dapat selamat dari radiasi dalam ruang hampa antarbintang karena struktur kimiawinya khas. Ion H3+ berstruktur asimetrik dan berisi dua elektron yang dimiliki bersama oleh tiga atom hidrogen. Struktur yang semacam ini membuat ion H3+ tak berubah, tapi tetap stabil, meskipun terkena radiasi dalam ruang antarbintang.

Bahkan radiasi yang terpancar dari bintang-bintang memiliki andil dalam terbentuknya ion H3+; bukan itu saja, radiasi ini juga merangsang molekul ini untuk tiba pada level energi yang makin tinggi. Peningkatan level energi ion H3+ juga disebabkan oleh akumulasi sisa-sisa energi yang berasal dari reaksi kimiawi yang dialaminya dengan molekul-molukel lain.

Ketika terjadi proses sebaliknya, yakni proses pendinginan, partikel cahaya foton terpancar dari dalam molekul ke luar, dan partikel ini dapat dideteksi oleh teleskop radio. Selain itu, berbeda dari atom hidrogen (H), ion H3+ dapat bengkok dan bervibrasi, sehingga membuat cahaya memancar ke luar dari dalam bintang-bintang.

Sebagai molekul yang bermuatan listrik (yang disebut ion), H3+ terdiri atas tiga atom hidrogen namun hanya memiliki dua, bukan tiga, elektron, sebagaimana seharusnya.  Alhasil, ion H3+ kelebihan satu ion yang bermuatan listrik positif.

Ion H3+ berbentuk segi tiga, dan ketika terangsang oleh energi panas, ion ini mulai terayun dan bervibrasi. Memahami gerak berayun dan menari dan bervibrasi dari ion H3+ sangat penting, untuk kita dapat menemukan perannya dalam jagat raya pada usia dininya.

Dengan lebih dulu memahami spektrum vibrasi ion H3+, kita akan dapat menemukan kemampuannya mendinginkan bintang-bintang muda yang baru terbentuk. Jika semua sifat kapasitas ion H3+ mendinginkan bintang-bintang muda kita ketahui, kita akan dapat memprediksi bagaimana bintang-bintang terbentuk dan mencapai tahap stabil.

Jika kita dapat mengetahui bagaimana bintang dan planet muda terbentuk lalu berevolusi lewat studi atas ion H3+, pengetahuan ini sangat penting. Sangat penting, sebab pengetahuan yang dihasilkannya akan membimbing kita dalam mencari lokasi di ruang antarbintang yang memungkinkan untuk dihuni.

Menemukan dunia-dunia di ruang antarbintang yang dapat dihuni sangat penting bagi kita yang mendiami planet Bumi. Khususnya dunia-dunia yang dapat dihuni di luar sistem Matahari kita penting ditemukan demi survival dan eksistensi kita sendiri di masa depan. Karena berbagai macam sebab, kita tak bisa selamanya hidup bergantung hanya pada planet biru kita, Bumi.

Selain demi survival kita, menemukan dunia-dunia lain yang dapat dihuni di ruang antarbintang membuka peluang bagi komunikasi antargalaksi. Sangat besar probabilitasnya bahwa homo sapiens bukanlah satu-satunya makhluk cerdas dalam jagat raya yang dapat dihuni oleh berbagai bentuk kehidupan. Ketahuilah, Frank Drake adalah saintis pertama yang pada 1961 menyusun sebuah persamaan matematis untuk menghitung jumlah peradaban cerdas yang mungkin ada dalam galaksi kita, Bima Sakti. Persamaan Drake hingga kini secara umum masih digunakan oleh Proyek SETI dalam menafsir jumlah peradaban yang mungkin ada dalam galaksi Bima Sakti.

Jauh dalam lubuk hati kita, kita rindu menemukan sesama makhluk hidup di luar sistem Matahari kita, yang mungkin jauh lebih cerdas dari kita dan sudah membangun peradaban sejak milyaran tahun lalu, sementara peradaban modern kita baru berusia 300 sampai 400 tahun saja. Kita berharap suatu saat di masa depan, kita akan bisa bertatapmuka dengan aliens yang tidak jahat. Adakah petunjuk-petunjuk yang kita telah dapatkan, untuk memastikan aliens cerdas itu ada? Tentang hal ini, masuk saja ke link ini Roswell UFO Was Not of This Earth. Baca reportasenya dan saksikan tayangan videonya, sekadar sebagai makanan pembuka saja.

Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, luar biasanya kita harus fokus pada kajian mendalam atas ion H3+, yang akan menyingkap masa lampau jagat raya demi masa depan kita. Untuk bisa menyingkap rahasia-rahasia kemampuan ion H3+, kajian mekanika Quantum harus dimaksimalkan sampai ke batas-batas ujungnya. Itulah tugas yang kini sedang dijalankan para saintis.

Monday, April 16, 2012

Betulkah Doktrin tentang Surga dan Neraka Perlu Supaya Dunia Aman?



“Pikiran dapat membuat neraka jadi sorga, atau sorga jadi neraka.”
― John Milton (pujangga Inggris, 1608-1674)

“Baik sorga maupun neraka sesungguhnya ada di dalam diri kita.”
― Mahatma Gandhi (pejuang kemerdekaan India, 1869-1948)

“Jika engkau memperbaiki pikiranmu, maka kehidupanmu selanjutnya akan berjalan pada rel yang benar.
Lao Tzu (604 SM)



Sorga ke atas dan sejuk, neraka ke bawah dan sangat panas? Fakta empirikkah, ataukah sebuah gambaran simbolik atau sebuah metafora? Apakah kosmos kita memang tersusun tiga lapis: di lapis bawah neraka, di lapis tengah Bumi, di lapis atas sorga? Faktanya tidak!


Saya mulai dengan sebuah catatan pendahuluan yang serius, berikut ini.

Pertama, anda bebas untuk percaya bahwa neraka yang bernyala-nyala abadi ada di alam baka dan akan dirasakan orang jahat setelah kematian mereka. Kalau anda memegang kepercayaan ini, meskipun tidak ada seorangpun yang bisa membuktikannya dengan objektif, seyogianya kepercayaan anda ini membuat anda hidup sangat berhati-hati, dalam pikiran, perkataan, kehendak dan perbuatan, dalam dunia sekarang ini, supaya anda tidak dicemplungkan ke dalam neraka sesudah anda mati.

Artinya, kepercayaan anda ini hendaklah membuat anda mampu hidup dengan bermoral, beretika, selama masih hidup di muka Bumi. Sebab, ada juga orang yang karena percaya neraka ada setelah kematian, malah hidup seenaknya sendiri, tanpa akhlak, di dalam dunia ini sekarang karena mereka berpikir berlawanan. Kata mereka: “Ah bukankah hukuman di neraka itu nanti, bukan sekarang di dunia? Jadi, ya sekarang bebas saja untuk berbuat apapun. Tokh tidak akan sekarang masuk neraka.”

Kedua, jika anda memilih untuk tidak percaya pada keberadaan neraka di alam baka, setelah kematian, ya anda bebas untuk mengambil posisi ini. Pertanyaannya sekarang, hal-hal apa yang dapat memandu anda kini di dunia ini untuk menjadi sosok-sosok yang hebat, agung dan mulia, dalam pikiran, perkataan, kehendak, dan perbuatan anda.

Orang bisa menjadi baik, agung dan luhur, memang tidak harus karena mereka takut pada ancaman hukuman di neraka sesudah wafat. Ini fakta. Ada banyak faktor yang berperan dalam membentuk jalan kehidupan, etika, gaya hidup, dan watak setiap orang, tidak harus agama atau doktrin tentang ancaman hukuman di neraka. Orang besar yang beragama ada banyak; begitu juga, ada sangat banyak sosok agung yang tidak beragama.

Lewat ilmu pengetahuan pun sangat banyak orang dapat menjadi agung dan memberi kontribusi-kontribusi besar dan langgeng yang real untuk dunia dan peradaban manusia. Obor penerang peradaban malah bernyala lebih banyak dan lebih benderang dalam diri para ilmuwan, tentu sejauh mereka tidak menjual diri lalu menjadi para ilmuwan politis yang digerakkan sebagai pion-pion oleh kekuatan-kekuatan sosialpolitis dan ekonomis besar dunia ini― para ilmuwan penjual diri ini lazim dinamakan “junk scientists”.

Ketiga, anda juga bebas untuk tetap memegang ide tentang adanya neraka, tetapi ide ini anda tidak perlakukan secara harfiah, melainkan secara metaforis. Bagi orang yang mengambil posisi ini, neraka itu suatu gambaran simbolik atau sebuah metafora yang menggambarkan situasi dan kondisi kehidupan manusia yang sangat menyiksa dan menimbulkan penderitaan sangat berat dalam jangka panjang.

Sikon kehidupan yang buruk dan menyakitkan ini, bagi mereka, tidak usah ditunggu setelah kematian, tetapi dapat ditemukan dan dialami di dalam dunia ini di mana-mana dan di sepanjang sejarah umat manusia.

Neraka, jika anda memegang posisi yang ketiga ini, terlihat real di dalam kemiskinan, kelaparan, kemelaratan, keterlantaran, keterbelakangan, kerentanan, kebodohan, ketidakadilan sosial, sakit penyakit, kesenjangan ekonomi yang lebar, perang, kehancuran peradaban, penyiksaan, kematian mengenaskan, serangan berbagai bencana alam yang dahsyat, rasialisme, pembunuhan karakter, perbudakan, dan berbagai bentuk penderitaan lain, yang sekarang sedang dialami banyak orang di muka Bumi.

Dari data The Global Slavery Index 2016 Report,/1/ kita ketahui bahwa dalam dasawarsa kedua abad ke-21 di era modern kini, neraka perbudakan sedang dialami 45,8 juta orang di dunia ini sekarang, bukan setelah kematian. Duabelas negara teratas yang paling luas mempraktekkan perbudakan adalah Korea Utara, Uzbekistan, Kamboja, India, Qatar, Pakistan, Republik Demokratik Kongo, Sudan, Irak, Afghanistan, Yemen, dan Suriah.

Banyak orang menderita rabun dekat yang parah sehingga mereka tidak bisa melihat fakta bahwa neraka perbudakan ini sangat real di muka Bumi sekarang ini, karena sepasang mata mereka terbiasa memandang ke dunia lain yang jauh dan tidak kelihatan.


Ini data neraka perbudakan dalam dunia kita sekarang ini!

Baiklah, tiga posisi di atas bebas anda pilih dan ambil; anda bisa mempercayai yang satu, dan tidak mempercayai dua yang lainnya; atau, anda juga bebas ambil ketiga-tiganya sekaligus bergantung sikon kehidupan yang sedang anda jalani atau sedang anda lihat.

Berikut ini, saya mau menyumbang sebuah wacana lain yang tidak klise tentang ide atau doktrin tentang sorga dan neraka. Semoga tulisan saya ini dapat mendatangkan pencerahan lebih jauh kepada teman-teman yang masih melihat diri sedang berziarah di lelautan kehidupan, dan tidak pernah sampai ke pelabuhan terjauh yang selalu masih samar terlihat di depan.


Dua tujuan

Konsep tentang sorga dan neraka dalam tradisi keagamaan Yahudi-Kristen muncul dengan lengkap pertama kali dalam Kitab Daniel (dalam Perjanjian Lama) yang ditulis pada abad kedua SM, ketika bangsa Yahudi sedang mengangkat senjata melawan pemerintahan lalim raja Syria Antiokhus IV Epifanes yang sedang melancarkan politik hellenisasi besar-besaran atas negeri Israel.

Hellenisasi adalah usaha-usaha politik dan militerisme untuk menjadikan kebudayaan dan agama-agama Yunani ― yang disebut hellenisme ― sebagai kebudayaan dan agama-agama bangsa-bangsa jajahan Aleksander Agung dan para penerusnya. Dalam sejarah Yahudi, perang ini dikenal sebagai Perang (Pemberontakan) Makkabe.

Konsep sorga dan neraka diciptakan pada awalnya oleh suatu komunitas keagamaan atau suatu bangsa beragama (dalam hal ini, bangsa Yahudi kuno) yang sedang ditindas suatu bangsa asing adidaya, dan mereka tidak memiliki kekuatan militer yang unggul. Akibatnya mereka mengalami banyak kekalahan, dan tidak sedikit dari antara mereka mati dalam banyak perlawanan yang tampak sia-sia, juga tak sedikit yang tidak tahan ditindas lalu menyeberang ke pihak musuh.

Nah, dalam kondisi perang semacam ini, para tokoh keagamaan mereka, yang juga bertanggungjawab dalam kehidupan politik dan militer, menyusun konsep tentang sorga dan neraka, baik berupa doktrin maupun berupa kisah-kisah kejuangan para martir.

Ada dua tujuan dalam mereka menyusun doktrin tentang sorga dan neraka. Pertama, untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan dalam diri para pejuang. Kepada para pejuang ini, lewat doktrin sorga dan neraka dan kisah-kisah heroik para syuhadah, dijanjikan bahwa kendatipun mereka akan mati dalam perang, mereka harus jangan menyerah, sebab sekalipun mereka mati mereka akan diberi pahala masuk sorga sesudah mati syahid.

Janji pahala sorga ini, dalam suatu perang, sangat efektif untuk membangun suatu semangat tempur sampai titik darah penghabisan, tentu kalau perangnya dilangsungkan karena alasan keagamaan.

Pada zaman kuno ketika belum dikenal pemisahan antara agama dan politik, perang dilakukan karena alasan agama dan politik sekaligus, yang satu tidak dipisahkan dari yang lain. Pemisahan agama dari politik, dan politik dari agama, yang dikenal sebagai sekularisasi, sama sekali belum dikenal saat semua agama besar lahir dalam dunia-dunia kuno. Sekularisme adalah sebuah gagasan modern.

Bahkan hingga abad ke-21 ini ada agama yang masih tidak membuka diri pada sekularisasi umumnya, yakni agama Islam. Menyebut Islam sebagai sebuah agama apolitis adalah suatu oxymoron, khususnya kalau kita mengacu ke era Islam klasik. Es yang panas, itu sebuah oxymoron. Begitu juga, segitiga lingkaran, atau kemarahan yang riang, atau duka yang menghibur, atau sungai yang mengalir ke puncak gunung, si cantik yang jelek, semuanya contoh oxymoron.

Bangsa beragama di zaman kuno, yang terancam kalah, dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Mengapa Allah mereka diam saja, dan tampak kalah juga ketika berhadapan dengan musuh mereka? Ketahuilah, bagi bangsa beragama di zaman dulu, kalau bangsa ini kalah perang, berarti Allah mereka juga kalah.

Nah, sebagai tujuan kedua, pertanyaan besar ini dijawab dengan doktrin tentang neraka: Jangan takut dan jangan kehilangan kepercayaan, sebab akan tiba saatnya, ketika zaman dan sejarah dunia berakhir tak lama lagi, semua musuh mereka akan dengan adil dibalas oleh Allah dengan membuang mereka semua ke dalam api neraka, yang akan memanggang mereka selamanya.

Doktrin tentang hukuman di neraka, dengan demikian, adalah sebuah doktrin tentang kebencian dan dendam membara yang tidak bisa hilang, tetapi dipelihara sampai ke alam baka. Tidak ada cinta di dalam doktrin ini.

Juga tidak ada keadilan di dalamnya. Bayangkan, usia seorang manusia di Bumi paling lama katakanlah 100 tahun, tetapi jika si manusia ini dihukum di api neraka, hukumannya berlangsung abadi, bermilyar-milyar-milyar tahun, tanpa ada suatu akibat positif apapun bagi si manusianya yang terus-menerus di panggang dalam api bak setusuk sate yang tak kunjung matang dipanggang di atas bara merah api.

Dan juga, kita patut bertanya, Apa manfaat hukuman ini buat Tuhan? Saya jujur saja tak sanggup berpikir bahwa karena sadisme, Tuhan sambil menari-nari suka melihat orang terpanggang abadi dalam api neraka berkobar yang dibuatnya.

Karena ada janji sorga dan ancaman neraka, doktrin tentang sorga dan neraka umumnya dilengkapi beberapa doktrin lain: doktrin-doktrin tentang kiamat (berakhirnya sejarah dunia), tentang bencana sejagat, tentang kebangkitan orang mati, tentang pengangkatan orang yang masih hidup ke angkasa, tentang pengadilan di akhir zaman, tentang merajalelanya aktivitas makhluk-makhluk demonik (setan atau iblis atau dajjal atau “anti-Kristus”), tentang figur sang hakim jagat raya yang akan turun dari kawasan adikodrati pada akhir zaman, dan tentang kitab kehidupan yang di dalamnya tercatat biografi orang per orangan selama mereka hidup di Bumi, yang akan dijadikan landasan pengadilan di akhir zaman.

Belakangan, doktrin tentang sorga dan neraka mengalami pergeseran fungsi, khususnya ketika doktrin ini tetap dipercaya dan dipegang meskipun umat tidak sedang perang. Doktrin ini berubah fungsi menjadi sebuah doktrin yang digunakan para rohaniwan untuk mengontrol perilaku umat orang per orangan.

Seperangkat aturan moral (moral code) disusun, seperangkat doktrin dibangun, dan seperangkat ritual ditetapkan, untuk diikuti dan dijalankan umat tanpa hak dan kewajiban bertanya. Para rohaniwan mengingatkan mereka dengan keras: Jika moral code dan seperangkat doktrin dan ritual ini tidak diikuti dan dijalankan sepersisnya, orang yang melawan ini akan masuk neraka abadi. Sebaliknya, anggota umat yang menaati semuanya akan menerima pahala sorga.

Jelas, dengan bisa mengontrol perilaku dan keyakinan umat, para rohaniwan ini tetap memegang kendali atas seluruh komunitas, dan mereka tetap bisa menjadi leader dengan kedudukan politik yang kuat, yang dapat memberi mereka banyak keuntungan lain (ekonomi, hak istimewa, hak menetapkan doktrin, hak menentukan kebenaran atau kesalahan, hak menghakimi, hak atas kehidupan dan kematian orang lain, dan hak-hak lainnya).


Limbo dan purgatori

Dalam kehidupan Gereja Roma Katolik (GRK) sekarang ini, doktrin tentang penghukuman di api neraka diperluas dengan dua doktrin lain tentang bagian-bagian kehidupan di akhirat yang mengawali atau menggantikan kehidupan sengsara di api neraka, yakni doktrin tentang limbo dan purgatori.

Limbo adalah kehidupan di akhirat yang diberikan kepada orang-orang pagan yang tak jahat tetapi penuh kebaikan dan kebajikan, noble pagans, sehingga mereka tak pantas dimasukkan ke dalam neraka, dan juga kepada bayi-bayi yang meninggal ketika belum menerima baptisan Kristen untuk keselamatan mereka. Limbo dibayangkan sebagai suatu tempat yang di dalamnya tak ada siksaan berat dan kekal seperti di neraka, tetapi juga tidak ditemukan kesukaan dan kebahagiaan seperti hidup dalam sorga. Limbo adalah situasi tengah-tengah antara neraka dan sorga.

Doktrin tentang limbo ini dirancangbangun tidak lain untuk mengurangi rasa bersalah para rohaniwan GRK yang semula mengancamkan neraka kepada semua kaum kafir yang berakhlak luhur dan orang-orang yang baik tetapi tidak termasuk ke dalam komunitas GRK, dan tentu juga untuk memperkuat doktrin tentang neraka sebagai suatu tempat yang disediakan untuk orang-orang yang memang sangat patut dan sah dimasukkan ke dalamnya. Debat di dalam GRK tentang apakah doktrin limbo masih harus dipertahankan makin menguat sekarang ini ketika kasus-kasus janin yang diaborsi semakin menggunung, sementara GRK sangat menentang aborsi yang dilakukan dengan alasan apapun.

Purgatori, yang dikenal juga sebagai “api penyucian”, menyediakan suatu tempat dan kurun di mana seseorang dimungkinkan untuk terhindar dari hukuman abadi dalam api neraka, dengan menjalani suatu penghukuman sementara, yang sebenarnya lebih tepat disebut “penyucian” atau “pemurnian” dalam jangka waktu tertentu sebelum akhirnya terbebaskan sama sekali dari siksa di neraka abadi.

Menurut doktrin ini, ketika periode siksaan atau pemurnian terbatas ini selesai dijalani, orang yang menjalaninya dikeluarkan dari purgatori lalu diterima masuk ke dalam sorga abadi, berdasarkan kalkulasi bahwa kejahatannya selama hidup di muka Bumi sudah lunas dibayar olehnya selama berada dalam purgatori. Orang semacam ini dikalkulasi tidak terlalu jahat tetapi juga tidak terlalu baik.

Kita tahu, reformator Gereja Protestan pada abad ke-16, Martin Luther, dibuat sangat murka ketika GRK pada zamannya memanfaatkan doktrin tentang purgatori ini untuk menggalang dana besar bagi pembangunan Gereja Santo Petrus di Vatikan, melalui penjualan surat penghapusan dosa.

Pada masa itu, GRK mengajarkan, jika seorang Katolik yang berdosa telah dengan cukup memberi sumbangan uang ke kas gereja untuk membangun gereja besar ini, dengan membeli surat penghapusan dosa, orang ini akan terhindar dari purgatori ketika dia wafat nanti dan arwahnya akan langsung masuk sorga; atau, kalau orang ini memberi sumbangan uang demi seorang anggota keluarganya yang sudah meninggal, maka, begitu mata uang berdenting di kas gereja, arwah orang yang sudah meninggal ini dijamin gereja akan langsung dikeluarkan dari purgatori lalu dimasukkan ke dalam sorga abadi.

Tentu saja dengan jujur saya harus katakan bahwa Martin Luther benar, dan bahwa doktrin yang dilawannya ini penuh takhayul. Tapi ya, takhayul atau angan-angan atau imajinasi liar atau sesuatu yang melawan akal sehat atau hal yang irasional sejak dulu sudah menjadi bagian dari kandungan agama apapun, ketika era ilmiah atau era modern belum tiba, dan kosmologi modern belum dikonstruksi.

Jadi, doktrin tentang sorga dan neraka adalah sebuah doktrin politis religius, yang semula disusun untuk kepentingan perang, dan kemudian untuk mengendalikan perilaku dan kehidupan umat oleh para rohaniwan ketika doktrin ini tetap dipegang dalam konteks bukan perang dan ditambahi dengan doktrin tentang limbo dan purgatori.


Sebetulnya, adakah?

Kalau ditanya, apakah sorga dan neraka betulan akan ada dan dialami sesudah kematian, jawabnya adalah: seandainya manusia hidup terus dalam rupa roh sesudah kematian fisik di muka Bumi, maka roh yang tidak memiliki tubuh, indra dan otak sama sekali tak akan bisa merasakan entah nikmat sorga atau pun siksa neraka. Pernyataan saya ini memiliki landasan pada neurobiologi manusia yang saya segera beberkan cukup singkat saja pada kesempatan ini.

Rasa sakit, nyeri, tersiksa secara fisik, muncul dari aktivitas korteks anterior cingulate and anterior insula dalam otak manusia. Selain itu, juga karena teraktivasinya sistem saraf dan sistem pengindraan tubuh kita./2/

Sedikitnya ada tujuh neurotransmitters atau hormon kimianeural yang dihasilkan kelenjar-kelenjar dalam otak dan dalam tubuh kita, yang menjadi pemicu timbulnya rasa senang, bahagia, lega, nikmat, tenang, damai, kuat, percaya diri, agung, bernilai, bersahabat, sosial, optimis, dan yang sejenis. Lewat aliran darah hormon-hormon ini terbawa ke seluruh tubuh, sehingga kita mengalami keadaan-keadaan mental dan fisik yang seperti itu.

Tujuh hormon kebahagiaan dan kedamaian itu adalah endocannabinoid (molekul rasa bahagia dan damai), dopamin (molekul hadiah), oxytocin (molekul pengikat hubungan sosial), endorfin (molekul pembunuh rasa sakit, "morfin yang dihasilkan tubuh sendiri"), GABA (molekul anti-cemas), serotonin (molekul kepercayaan diri), adrenalin (atau epinefrin, molekul tenaga)./3/

Ketika otak, sistem saraf dan sistem pengindraan tubuh kita lenyap, maka pikiran dan perasaan apa pun lenyap. Tanpa perangkat lunak otak yang menyimpan data neural seluruh kehidupan anda, semua indra, identitas, memori, dan kesadaran diri anda lenyap sama sekali.

Banyak orang berpendapat tanpa bisa membuktikan bahwa kesadaran atau consciousness itu abadi, tidak terikat pada tubuh atau otak manusia. Tubuh atau otak boleh lenyap, tetapi kesadaran tidak akan lenyap, tapi pindah ke suatu kawasan lain ketika orang sudah menjadi mayat. Sebagai tanggapan, saya mau segera beberkan singkat saja apa temuan neurosains tentang kesadaran manusia.

Sebuah temuan baru neurosains telah dicapai oleh para ilmuwan dari Harvard Medical School yang masih harus dikaji dengan sampel yang lebih luas. Tapi temuan ini telah menghasilkan pengetahuan baru untuk membuat pasien koma sadar kembali.

Alih-alih datang dari dunia supernatural, kesadaran ("consciousness") muncul dari jejaring aktif interkoneksi antar tiga bagian otak manusia:

• Rostral Dorsolateral Pontine Tegmentum (RDPT) pada batang otak (brainstem)
• Ventral Anterior Insula (VAI) kiri pada korteks
• Pregenual Anterior Cingulate Cortex (PACC) pada korteks

Jika interkoneksi aktif jejaring neural tiga bagian ini terganggu atau rusak, kesadaran langsung hilang, si penderita masuk ke keadaan koma atau berada dalam kondisi vegetatif./4/

Dilihat dari sudut-sudut pandang ilmiah di atas, maka harus dinyatakan bahwa sorga dan neraka sesudah kematian ada hanya dalam doktrin, dalam kisah, dalam mitologi, dan tidak ada dalam realitas faktual apapun.


Imajinasi siksa di neraka. Kekejaman di Bumi yang diproyeksikan ke alam baka! Kekejaman tanpa akhir. Justru ini yang dipertahankan agama yang seharusnya menebar kasih sayang!


Menjadikan orang lebih baik?

Banyak orang tentu tak setuju pada pernyataan yang saya baru tulis di alinea di atas, bahwa sorga dan neraka tidak ada dalam realitas apapun di akhirat. Mereka akan berkeras beranggapan, bahwa kalau doktrin tentang sorga dan neraka sesudah kematian tak diajarkan, tak dicekoki, tak diindoktrinasikan, kejahatan di muka Bumi akan semakin meningkat.

Selain itu, jika hukuman neraka tidak ada, maka, kata mereka dengan marah, orang jahat akan keenakan sesudah kematian, karena tidak ada pembalasan atas kejahatan mereka selama hidup di Bumi.

Anggapan di atas salah total, tak tertolong, karena beberapa alasan.

Pertama, kekuasaan untuk mengadili dan menjatuhkan hukuman di muka Bumi ada pada pemerintah suatu negara. Jadi, untuk mengurangi atau menekan angka prevalensi kejahatan di muka Bumi, hukum positif dalam suatu negara harus dibangun, ditegakkan dan diberlakukan dengan konsekwen dan konsisten pada semua orang tanpa pilih bulu.

Kalau ada orang bisa lolos dari jerat hukum, misalnya karena pemerintahan di dalam suatu negara lemah, buruk dan korup, jalan keluarnya bukanlah menakut-nakuti rakyat dengan doktrin tentang neraka yang panas dan berlangsung abadi, melainkan membereskan hukum dalam negara itu dengan sungguh-sungguh.

Kini, dalam era globalisasi, yang mengikat manusia di suatu negara bukan hanya hukum positif nasional, tetapi juga hukum internasional; dan yang ada bukan hanya lembaga pengadilan dalam negeri, tetapi juga lembaga pengadilan internasional. Sudah banyak terjadi, seorang yang lolos dari jerat hukum di negerinya sendiri akhirnya diadili dan dijatuhi hukuman di luar negeri.

Kedua, perlu kita ketahui bahwa dalam zaman modern ini jumlah orang yang tak lagi bisa menerima doktrin tentang sorga dan neraka sangat banyak, di antara mereka termasuk orang-orang yang potensial melakukan kejahatan. Kalau orang zaman modern ditakuti-takuti hanya dengan sebuah doktrin keagamaan tentang hukuman di neraka, dan hukum positif dalam suatu negara tak ada atau dihapuskan, jelas kejahatan di dunia akan semakin meningkat.

Ketiga, ketaatan yang ditimbulkan oleh doktrin tentang api neraka adalah ketaatan yang tak dewasa, immature, tak keluar dari kesadaran nurani sendiri, tetapi muncul karena rasa takut yang besar. Doktrin tentang hukuman di neraka melahirkan bukan conscience, nurani, melainkan fear, ketakutan.

Untuk membangun suatu masyarakat yang warganya taat hukum dan tak melakukan kejahatan, yang dibutuhkan adalah pembinaan moralitas bertahap dan terus-menerus untuk menghasilkan nurani yang fungsional, matang, bertanggungjawab, mature and accountable.

Dalam rangka membangun suatu moralitas individual dan sosial semacam ini pendekatan “reward and punishment” sekuler dipakai. Ganjaran kebaikan diberikan kepada warga yang baik; dan penghukuman kepada warga yang jahat. Doktrin tentang ancaman api neraka tak akan menghasilkan conscience atau nurani yang fungsional, accountable dan mature dalam diri warga masyarakat, melainkan akan menghasilkan suatu masyarakat yang penuh ketakutan yang tak membangun, a society of fear, masyarakat yang ketakutan pada hal-hal yang tak real.

Keempat, kalau orang baru mau hidup beragama dan bermoral dengan baik hanya jika mereka diiming-imingi hadiah sorga, dan ditakut-takuti ancaman hukuman di api neraka, kehidupan bermoral dan beragama semacam ini berada baru pada tahap kanak-kanak, bukan tahap dewasa.

Kita tahu umumnya kanak-kanak akan baru mau belajar dengan baik jika kepadanya diiming-imingi hadiah permen atau sebuah boneka, atau bahkan kalau kepadanya diperlihatkan sebilah rotan yang siap dipukulkan ke pantatnya.

Orang yang beragama baru pada tahap kanak-kanak ini, yakni beragama secara egoistik dan dipenuhi ketakutan, akan memakai agamanya sebagai alat untuk mencapai kepuasan pribadinya saja, dan untuk mendatangkan kesusahan pada orang lain. Seorang anak sangat senang jika boneka milik kakaknya atau boneka milik temannya direbut untuk diberikan kepadanya, dan dia tak akan peduli kalau kakaknya atau temannya itu jadi menangis sedih.

Sufi agung perempuan pertama Rabiah al-Adawiyyah (717-801 M), yang kerap berlari-lari di pasar-pasar kota Basrah sambil menenteng seember air dan juga sebuah obor terang bernyala, ketika ditanya orang apa maksud tindakannya yang ganjil itu, sang sufi yang hebat ini menjawab: Akan kubakar sorga dengan api obor ini; dan akan kusiram neraka dengan seember air ini hingga padam, supaya orang menyembah Tuhan Sang Kekasih bukan karena ketakutan api neraka dan juga bukan karena iming-iming hadiah sorga, tetapi hanya karena cinta.

Ya, cinta kasih sebagai agama, itu sudah cukup. Ya karena Tuhan itu sang cinta kasih tanpa batas, bukan kebencian, kemarahan, perang, kebrutalan dan pembunuhan tanpa batas. Cinta kasih mengalahkan ketakutan pada neraka; juga membuat iming-iming sorga tak punya daya pikat lagi. 

Kelima, doktrin tentang hadiah sorga dan hukuman di neraka sesudah kematian menghasilkan orang beragama yang melihat kehidupan yang bermakna hanya ada di alam baka setelah kematian. Bagi mereka, kehidupan di Bumi sekarang ini hanya sementara, hanya untuk dilintasi, tak bermakna penuh, bahkan maya atau semu atau palsu saja.

Orang beragama yang berpandangan semacam ini bisa tak akan peduli pada banyak persoalan dan penyakit sosial di dunia masa kini, dan tak menyumbang apapun dalam usaha global memerangi banyak kejahatan, sakit-penyakit, berbagai bentuk kemiskinan, penindasan dan azab, dan juga dalam pembangunan dan pengembangan peradaban modern global.

Kalangan yang seperti ini mengibaratkan kehidupan di muka Bumi itu seperti sebuah jembatan saja untuk dilintasi, supaya masuk ke kawasan lain, di seberang jembatan itu. Begitu juga, tubuh mereka, dipandang oleh mereka sebagai sebuah penjara saja, yang dari jerat dan belenggu dan kurungannya, orang harus dibebaskan.


Apa ibarat yang benar? 

Menurut saya, ibarat-ibarat itu salah. Kehidupan ini bukan sebuah jembatan, tetapi sebuah perjalanan panjang yang menggairahkan, dengan segala pemandangan alam yang bisa dinikmati, dengan anekaragam kondisi yang bisa menyehatkan tubuh dan pikiran, tetapi juga bisa melelahkan.

Anda berada dalam sorga jika kehidupan anda, anda jalani dengan riang, happy, dan terus bergairah, bersama banyak orang lain. Entah dengan mengendarai sebuah mobil atau dengan sebuah bus umum, atau dengan menggoes sebuah sepeda, atau dengan sebuah perahu atau kapal laut yang besar. Entah dengan lewat jalan tol atau dengan lewat jalan-jalan kecil berkelok-kelok, atau di lelautan yang tenang atau di lelautan yang berombak besar.

For me, life is a journey, a wonderful voyage, worth carrying out, to the unknown future of enlightenment! Life is beautiful even though you will not be always happy in your life.


Begitu juga, tubuh ini bukan sebuah penjara bagi jiwa, sebab jiwa dan tubuh kita tidak bisa dipisahkan, kapanpun juga; keduanya membentuk satu kesatuan, sebagai satu unit psikosoma. Tubuh dan jiwa itu seperti relasi sebuah sepeda dan si pengayuhnya. Sepeda baru akan jalan ke depan kalau si pengendaranya terus mengayuh sepedanya. Harus terjadi kerjasama antara keduanya dengan berimbang.

Itulah hubungan tubuh dan jiwa. Saling memerlukan. Tidak terpisah. Saling mengimbangi. Saling menggenggam. Apa yang terjadi pada tubuh berpengaruh pada jiwa, begitu juga sebaliknya. Tanpa tubuh, jiwa juga tidak ada, tidak pergi ke mana-mana. Saat anda telah menjadi mayat, tubuh anda pun bertahap terurai, lalu lenyap, dan sebagian berubah kembali menjadi kimia Carbon yang abadi di muka Bumi.

Jiwa dan tubuh itu juga bak sebuah gunting yang memiliki dua bilah mata yang tidak bisa dicopot satu sama lain jika gunting ini mau berfungsi baik. Jika kedua bilah mata gunting bekerjasama, yang satu bergerak ke atas dan yang satunya lagi bergerak ke bawah dengan berimbang dan harmonis, barulah gunting ini bisa memotong sehelai kain atau sehelai kertas atau seutas tali.

Jiwa dan tubuh tidak bisa dipisah, sama seperti organ biologis otak tidak bisa dipisah dari pikiran yang nonmaterial. Otak dan pikiran adalah satu kesatuan. Karena organ otak ada, pikiran muncul. Karena kita bisa berpikir, maka otak ada. Tidak ada pikiran yang bisa lepas dari otak, kecuali sebagian isi pikiran ini telah dituangkan ke dalam sebuah buku atau ditransfer ke sebuah perangkat keras nonbiologis, misalnya sebuah superchip komputer jika teknologi untuk ini sudah ada.


Malah bisa jadi bertambah jahat!

Kepercayaan pada adanya sorga, malah bisa menghasilkan kejahatan besar. Anda tidak percaya? Ada banyak contohnya. Para pejihad Muslim yang sangat percaya pada keberadaan sorga dan neraka, sangat ingin segera masuk sorga dan di sana menerima banyak hadiah istimewa dari Alloh SWT, dengan melakukan terorisme atas nama Alloh ini untuk membunuh kaum kafir, infidel, sebanyak-banyaknya!

Seperti sudah saya tegaskan di bagian awal tulisan ini, saya tetap menghormati kepercayaan siapapun dan apapun tentang neraka. Tapi saya sungguh mengalami kesukaran besar untuk bisa membayangkan bagaimana para pejihad itu di alam baka bisa menikmati 72 bidadari sementara para pejihad itu sudah tidak memiliki baik organ seksual lagi maupun jejaring neural seks dalam organ otak. Saya menunggu hidayah pencerahan supaya saya bisa lepas dari kesulitan kognitif itu.

Dari iptek modern, bagaimanapun juga, pencerahan sudah saya dapat. Karena Tuhan itu dipercaya MahaTahu, maka tentu saja iptek adalah suatu wahana dan medium yang sangat penting yang dipakai Tuhan untuk secara bertahap, kumulatif, dan partisipatif, menyalurkan kemahatahuannya itu kepada umat manusia tanpa pernah bisa habis.

Dengan menggunakan instrumen-instrumen seperti fMRI, PET dan EEG, para neurosaintis kini sudah dapat menjelaskan dengan berbasis bukti-bukti empiris seluk-beluk berbagai mekanisme sistemik dalam otak yang berkaitan dengan seksualitas manusia, yang juga menjadi salah satu fokus studi genetik. Teori-teori psikoanalisis Sigmund Freud tentang seksualitas manusia kini sudah menjadi usang, ditinggalkan; meskipun demikian, tetap masih ada kalangan yang mempertahankan Freudianisme sebagai sebuah dogma.

Mekanisme sistemik rangsangan, respons dan aktivitas serta kenikmatan dan kepuasan seksual, semuanya berbasis neural. Maksudnya, mekanisme sistemik ini bekerja lewat proses-proses kimiawi elektrik dalam dan lewat neuron-neuron otak kita, dengan teraktivasinya bagian-bagian tertentu otak dan terproduksinya hormon-hormon seksual karena ada rangsangan-rangsangan fisik dan non-fisik.

Setidaknya, ada lima faktor neural hormonal yang terlibat dalam berbagai segi seksualitas manusia. Sederhananya, saya gambarkan berikut ini.

Pertama, terproduksinya hormon seks testosteron (pria) dan hormon seks wanita (oestrogen) yang melibatkan bagian-bagian tertentu otak dan kelenjar-kelenjar hormonal yang teraktivasi karena rangsangan-rangsangan seksual.

Kedua, struktur amygdala dalam organ otak kita teraktivasi, alhasil hasrat dan gairah seksual timbul. Jika terdapat kerusakan atau tumor pada bagian-bagian otak yang berlokasi dekat amygdala, si penderita akan cenderung berperilaku seksual yang agresif dan hyperaktif.

Ketiga, bagian otak yang dinamakan ventral striatum ambil bagian lebih lanjut dalam mekanisme sistemik seksualitas manusia dengan menimbulkan rasa nikmat dan terpuaskan secara seksual lewat orgasme yang lazimnya dibarengi dengan jeritan-jeritan dan desis-desis sensual.

Keempat, korteks orbitofrontal memberi anda kemampuan atau libido seksual untuk tertarik secara seksual pada seseorang dan tidak pada seorang lainnya. Selanjutnya, anda menggandeng pilihan mitra seksual anda untuk berkencan atau untuk bercinta dan bersetubuh di suatu tempat. Kemampuan ini tidak pernah melorot; dus, perlu dikontrol.

Kelima, saraf vagus membuat komponen-komponen genital tubuh anda (kelamin, payudara, bibir, dll) yang menerima rangsangan seksual (fisik atau non-fisik) meneruskan rangsangan ini ke otak, lalu otak memprosesnya untuk mempersiapkan anda bagi suatu aktivitas seksual.

Itulah gambaran yang disederhanakan dari mekanisme sistemik seks yang lebih rumit, yang semuanya diproses di otak./5/ Jadi, dengan berdasar pada sains, kita mau tak mau harus terima fakta ini: sekali tubuh kita sudah menjadi mayat, dan otak kita membusuk lalu lenyap, maka tidak akan pernah lagi ada kenikmatan seksual apapun setelah kematian!

Bagaimanapun juga, doktrin tentang sorga dan neraka yang mendorong orang melakukan terorisme demi menerima yang satu dan terhindar dari yang lainnya, sama sekali bukan doktrin yang memberi rasa aman pada bagian terbesar penduduk dunia. Syukurlah, kaum Muslim yang sudah matang beragama menolak terorisme sebagai suatu jalan masuk ke sorga!

Bagaimana dengan kekristenan? Kepercayaan Kristen untuk orang Kristen segera masuk sorga, yang akan dihadiahi Yesus saat dia telah datang untuk kedua kalinya, juga telah dan terus-menerus melahirkan banyak gerakan Kristen yang bercorak apokaliptik.

Dalam gerakan-gerakan Kristen semacam ini, para penganut fanatik kepercayaan ini yakin bahwa Yesus akan pasti datang kedua kalinya kalau dunia dapat mereka segera bawa ke dalam banyak perang nuklir sejagat, yang akan memaksa Yesus turun ke dunia lagi untuk menyelamatkan orang-orang yang sangat setia kepadanya, yang sedang berada dalam kondisi-kondisi genting.

Mereka umumnya mengarahkan perhatian mereka ke segala konflik di Timur Tengah yang melibatkan negara Israel. Mereka percaya, konflik-konflik regional di Timur Tengah akan akhirnya menyeret banyak negara kuat dan sekutu-sekutu mereka ke dalam perang nuklir sejagat yang mereka sedang tunggu-tunggu sebagai bagian pendahuluan jadwal waktu kedatangan Yesus kembali. Alih-alih memperjuangkan perdamaian dunia dan kelanggengan planet Bumi, mereka malah ingin Bumi segera lenyap, dan sorga dari atas turun untuk menyambut mereka. Mereka, celakanya, malah ingin dengan segala cara mempercepat waktu bagi keinginan atau khayalan mereka ini terwujud sepenuhnya.

Selain itu, kita semua tahu, para penganut agama apapun sejak dulu berlomba-lomba dan bersaing satu sama lain untuk membawa orang lain sebanyak-banyaknya masuk ke dalam agama mereka supaya para mualaf ini menerima pahala sorga yang ditawarkan agama mereka, sambil mengancamkan neraka jahanam kepada para calon mualaf yang menolak pindah ke agama mereka. Ini kiat dagang yang tidak cerdas, tidak simpatik dan menimbulkan rasa mual di perut. Sorga jenis A dipertandingkan dengan sorga jenis B; neraka jenis X dibuat lebih seram dari neraka jenis Y. Adu indah, sekaligus adu seram!

Faktanya sangat jelas, ketimbang mendatangkan keamanan dan kedamaian dalam dunia, doktrin tentang sorga dan neraka sangat besar andilnya dalam memunculkan ketidakpedulian orang beragama pada kehidupan masa kini dan planet Bumi.

Selain itu, doktrin yang sama juga telah menjadi suatu sumber besar ideologis utama bagi keresahan dan pertikaian antar umat beragama, lewat segala aktivitas dakwah dan siar agama, yang kerap bermuara pada perang agama, dalam skala kecil maupun dalam skala besar!

Umat-umat keagamaan saling mengancamkan neraka terganas, dan saling menawarkan dan menjual sorga terlezat masing-masing. Ide-ide tentang kawasan imajiner yang dinamakan sorga dan neraka ada dalam semua agama, berkembang bertahap sejalan dengan sejarah pemikiran masing-masing agama dan dibeberkan dalam, tentu saja, aneka doktrin yang berlainan, dengan disertai teologi atau dengan tanpa teologi.


Poin pentingnya ini: karena final destination atau tujuan akhir kehidupan keagamaan umumnya adalah masuk sorga atau dibuang ke dalam neraka, maka sorga atau neraka menjadi isi paling esensial semua ajaran agama misioner tradisional yang sudah lansia. Semua umat keagamaan aktif bergerak ke segala arah dan lini untuk mencari dan merebut mualaf, ya demi ajaran yang esensial ini.

Alhasil, tepat jika disimpulkan bahwa pertikaian dan perang agama tidak sedikit dipicu oleh ide-ide orang beragama sendiri tentang kawasan-kawasan fiktif imajiner mereka masing-masing tentang neraka terseram dan sorga terindah yang dibangun dan diajarkan dalam agama-agama masing-masing pihak yang berperang.

Ketika dikarang pertama kali, ide-ide ini dimaksudkan untuk memperkuat semangat berperang dan bertempur hingga gugur di medan tempur; di masa kini, ide-ide ini mendatangkan perang di dalam suatu dunia yang semula teduh dan damai. Akal budi dan kalbu yang diberi Tuhan sekarang mereka buat tertidur atau mereka matikan demi membela khayalan-khayalan fantastik mereka. Seorang pelukis Spanyol yang ternama, Goya (1746-1828), menulis kata-kata "Ketika akal tertidur, maka monster-monster bermunculan" pada sebuah lukisannya yang termashyur (1799).


Religiopreneurs di segala tempat di muka Bumi sangat sibuk dengan kegiatan-kegiatan mempropagandakan kenikmatan sorga yang dijanjikan agama mereka dan kedurjanaan panas api nereka yang diancamkan agama mereka, sejak dulu hingga kini. Acapkali saya berjumpa dengan para pedagang sorga ini, saya selalu bertanya, “Kenapa anda tidak memberi contoh kepada umat anda dengan pergi duluan cepat-cepat ke sorga dan tidak pernah kembali lagi? Sorga itu, kata anda, bukankah kawasan kenikmatan tiada tara nan abadi?” Mereka tahu, mereka tidak bisa menyatakan terus-terang hal yang sudah kita semua ketahui: hidup nikmat dalam dunia ini lebih perlu daripada mati sekarang lalu masuk sorga.


Berakar dalam pikiran

Tetapi, saya mengakui sorga dan neraka juga sebuah fakta, maksud saya bukan saja berupa kebahagiaan besar dalam dunia ini dan kesengsaraan mengerikan di muka Bumi, tetapi juga sebagai fakta-fakta dalam pikiran kita yang dimetaforakan sebagai dua ekor binatang yang berdiam di dalamnya, yang terus-menerus berkelahi dan bertarung satu sama lain. Dilihat dari sudut ini, sorga dan neraka adalah metafora tentang sisi baik dan sisi buruk dalam diri setiap individu yang satu sama lain terus bertempur. Ikuti kisah metaforis berikut ini.


Seorang sesepuh Indian Cherokee sedang mengajarkan cucunya tentang kearifan dalam kehidupan.

“Dalam diriku berlangsung suatu pertarungan”, katanya kepada sang bocah.

“Sungguh-sungguh suatu pertarungan dahsyat antara dua ekor serigala.”

“Serigala yang satu jahat. Serigala ini adalah kemarahan, iri hati, duka lara, rasa sesal, ketamakan, kesombongan, rasa kasihan pada diri sendiri, dendam, rasa rendah diri, tipu daya, kebanggaan diri yang palsu, rasa paling unggul, keraguan pada diri sendiri, dan ego.”

“Serigala yang satu lagi baik. Serigala ini adalah sukacita, kedamaian, cinta, pengharapan, ketenangan, kerendahan hati, kemurahan, kebajikan, empati, kedermawanan, kebenaran, belarasa, dan kepercayaan.”

“Pertarungan yang sama juga berlangsung dalam dirimu, dan di dalam diri setiap orang lain juga.”

Sang cucu memikirkan sejenak kata-kata sang opa, lalu dia bertanya, “Opa, serigala manakah yang akan menang?”

Sesepuh itu menjawab pendek saja, “Serigala yang engkau beri makan!”

Dalam ajaran kebajikan kehidupan Yahudi juga dikenal ada dua kecenderungan dalam diri setiap manusia: kecenderungan jahat, dan kecenderungan baik. Masing-masing kecenderungan ini dapat juga diungkap sebagai roh yang jahat dan roh yang baik. Kedua roh ini bertempur satu sama lain terus-menerus. Bergolak dalam diri setiap orang. Roh mana yang akan menang, bergantung kepada roh yang mana setiap individu memihak dan mendukung dan memberi makan.

Dalam Al-Qur’an tentu saja ada teks-teks yang menggambarkan dalam jiwa manusia ada dua kecenderungan itu, atau dua sifat binatang itu, yang juga bertempur satu sama lain, berebut pengaruh pada diri manusia. Teks surah 91, As Syam ayat 8-10, misalnya, menyatakan: “Tuhan mengilhamkan kepada jiwa manusia (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Maka sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” Jelas, kefasikan dan ketakwaan adalah dua ekor serigala yang saling bertempur dalam jiwa manusia.

Serigala yang jahat adalah kefasikan, dan serigala yang baik adalah ketakwaan. Manusia harus memilih membesarkan serigala yang baik, yakni ketakwaan, dan tidak memberi makan serigala yang jahat, yakni kefasikan. Ketakwaan membuahkan hanya kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan semua ciptaan. Kefasikan membuahkan hanya keburukan, perang, dan penderitaan semua makhluk. Memilih serigala yang baik berarti hidup suci. Memilih serigala yang jahat berarti hidup kotor. Kesucian dan kekotoran adalah dua kekuatan yang saling bertempur dalam jiwa manusia. Menangkanlah kesucian. Hilangkanlah kekotoran.

Dua pakar neurosains Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman menerapkan ajaran Indian ini pada otak manusia./6/ Amygdala dalam sistem limbik dalam otak adalah serigala yang jahat. Neokorteks, khususnya anterior cingulate, yang bekerja sama dengan lobus frontalis, dan striatum, adalah serigala yang baik. Mana yang akan memenangkan pertarungan, bergantung pada serigala mana yang anda beri makan paling banyak dengan teratur setiap hari.

Sistim limbik itu pusat neural fanatisme, fundamentalisme dan radikalisme; dengan kata lain, pusat agama amarah. Anterior cingulate dan lobus frontalis itu pusat toleransi, keterbukaan, wawasan universal, nurani, dan cinta; dengan kata lain, pusat agama ramah. Sebuah perspektif yang menarik, bukan?

Hati-hati, andalah yang memiliki kemampuan apakah mau menghadirkan sorga dalam dunia ini, atau malah neraka, lewat pikiran dan kehendak anda, yang kemudian anda aktualisasikan dalam realitas. Karena itu, berhati-hatilah dalam berpikir. Siddhartha Gautama berujar bahwa apa yang kita pikirkan, itulah diri kita yang sebenarnya. Katanya juga, lewat pikiran anda, anda membentuk dunia ini.

Sebuah ucapan Zen menyatakan bahwa terhadap pikiran yang teduh dan tenang, seluruh alam menundukkan diri. Seorang guru spiritual India, Shree Rajneesh, yang juga dikenal sebagai Osho, menyatakan bahwa “jika engkau menderita, engkau sendirilah penyebabnya. Jika engkau merasa berbahagia, juga engkaulah penyebabnya. Tidak ada orang lain manapun yang bertanggungjawab bagimu. Hanya engkau, dan engkau sendirilah. Engkau adalah sorgamu sendiri, dan juga nerakamu sendiri.”


Penutup

Mengelola pikiran, sekali lagi: mengelola pikiran, adalah jalan mewujudkan sorga dalam dunia ini. Pertaruhannya bukan sesudah mati, tetapi sekarang, ketika anda masih hidup, mungkin hingga usia 70 tahun atau 100 tahun.

Kalau bagian terbesar dari 70 tahun atau 100 tahun usia anda, anda isi dengan pikiran yang agung dan perbuatan yang akbar, maka ketika mati, anda mati sebagai seorang manusia yang memiliki nilai, makna dan martabat yang agung. Inilah hadiah sorga terbesar buat anda. Anda menjadi sosok agung insani segala zaman.

Tetapi, jika anda mengisinya dengan pikiran yang jahat, licik dan kotor, dan tindakan yang kejam, brutal dan keji, maka ketika anda mati, anda mati sebagai insan tanpa nilai, tanpa makna dan tanpa martabat.

Anda yang termasuk manusia jenis ini, selama anda hidup, anda hanyalah segumpal daging tanpa akal, tanpa nurani dan tanpa kebajikan. Setelah mati, anda diingat hanya sebentar sebagai seorang penjahat, lalu selamanya dilupakan orang atau dihina tanpa akhir sebagai seekor kutu busuk atau seekor belatung atau suatu kuman yang mematikan saja.

Tidak ada penghukuman dan kemalangan yang lebih besar pada diri setiap insan, selain mati tanpa nilai, tanpa makna dan tanpa martabat. Seratus tahun hidup, hanya membuang waktu. Kesia-siaan sempurna! Kondisi ini lebih mengerikan dan lebih panas dari api neraka apapun yang manusia dapat bayangkan seliar-liarnya.

“Kebenaran itu tidak selalu indah; begitu juga, kata-kata yang indah tidak selalu kebenaran.
― Lao Tzu (604 SM)


Jakarta, 16 April 2012
oleh Ioanes Rakhmat

Editing mutakhir 26 Agustus 2017

Catatan-catatan

/1/ Gary Haugen, "45 million people are victims of modern slavery. Here are five steps to setting them free", World Economic Forum, 3 Jan 2017, https://www.weforum.org/agenda/2017/01/45-million-people-are-victims-of-modern-slavery-here-are-five-steps-to-setting-them-free.

/2/ Alan Fogel, "Emotional and Physical Pain Activate Similar Brain Regions", Psychology Today, 19 April 2012, https://www.psychologytoday.com/blog/body-sense/201204/emotional-and-physical-pain-activate-similar-brain-regions.

/3/ Christopher Bergland, "The Neurochemicals of Happiness", Psychology Today, 29 Nov 2012, https://www.psychologytoday.com/blog/the-athletes-way/201211/the-neurochemicals-happiness.

/4/ http://m.neurology.org/content/early/2016/11/04/WNL.0000000000003404.short. Lihat juga http://www.sciencealert.com/harvard-scientists-think-they-ve-pinpointed-the-neural-source-of-consciousness.

/5/ Kristian Adams, Bellinda Favaloro, Brendan Dundas, et al., "Sex and the Brain. What Parts are Involved", Neuroscience Fundamentals, August 2011, http://neurosciencefundamentals.unsw.wikispaces.net/Sex+and+the+Brain.+What+parts+are+involved%3F. Lihat juga Carl Zimmer, "The Brain: Where Does Sex Live in the Brain? From Top to Bottom", Discover Magazine, Sept 10, 2009, http://discovermagazine.com/2009/oct/10-where-does-sex-live-in-brain-from-top-to-bottom.

/6/ Andrew Newberg dan Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings from a Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009), hlm 131-133.




Sunday, April 15, 2012

Mempertahankan dogma, atau membarui dogma?

Sehabis membaca tuntas buku baru saya, Memandang Wajah Yesus (terbit 2012),/1/ seorang pendeta di Jambi mengirim sebuah SMS kepada saya, tulisnya: “Saya benar-benar puas dengan buku Pak Ioanes ini, sebuah buku tentang Yesus yang sudah lama saya tunggu, yang perlu dibaca semua orang yang berkepentingan dengan Yesus.”

Tapi itu komentar seorang pendeta yang masih mau berkembang, berubah, dinamis, yang gairah intelektualnya masih hidup dan kuat.

Komentar semacam itu hanya bisa ditulis oleh seorang pendeta yang melihat ihwal mencari dan mendapatkan ilmu sebagai sebuah panggilan dan sebuah kebajikan.

Komentar sejenis itu hanya bisa diungkap oleh seorang pendeta yang tak mau tunduk pada rutinitas pekerjaan pendeta sebagai pekerja gereja.

Komentar semacam itu hanya bisa diekspresikan oleh seorang pendeta yang tak tak takut keamanan posisinya dan ketenteraman jiwanya akan terganggu.

Tapi bagi para pendeta yang melihat diri harus mempertahankan, melindungi dan mensakralisasi dogma-dogma kuno yang disusun belasan abad lalu, halnya tak demikian.

Bagi para rohaniwan yang melihat diri sebagai para penjaga dan pelindung akidah-akidah yang sudah jumud, buku MWY saya itu menyesatkan, karena itu harus dijauhi dan dibatasi persebarannya.

Banyak rohaniwan studi lama di luar negeri untuk meraih gelar doktor dengan biaya sangat mahal tapi dengan satu tujuan saja: untuk makin piawai menjaga dogma.

Motif mereka meraih gelar doktor hanya satu: menjadi pakar yang ahli membela dan mempertahankan akidah-akidah gereja yang sudah membatu, yang mereka lihat sedang terancam oleh kritik-kritik para pembaru gereja atau kritik-kritik para ikonoklas. Bagi kalangan mereka, semakin ahli mereka mempertahankan dogma-dogma jumud, semakin besar pahala mereka di sorga, dan semakin hebat nama mereka dalam dunia ini.

Filsafat pendidikan yang mereka anut sangat aneh: semakin terpelajar mereka, semakin pakar mereka, maka semakin tak bisa diubah pikiran mereka, dan semakin tak bisa digoyang posisi mapan mereka.

Padahal filsafat pendidikan yang benar adalah: semakin seseorang banyak belajar, semakin cair dan mengalir dia, semakin berubah dirinya, pandangannya dan sikapnya, dan semakin jauh dia memasuki masa-masa depan yang menantang, menggairahkan, dan penuh kemungkinan-kemungkinan baru yang menakjubkan.

Ketika bertemu dengan orang-orang yang berbeda, mereka bukan berdialog dengan kesediaan berubah dan mengalami pertumbuhan intelektual, malah berapologetik, membela diri dan dogma-dogma jumud mereka dengan segala cara yang dihalalkan.

Bagi kalangan mereka, berubah doktrin, berubah pandangan, adalah tanda kelemahan watak dan iman. Bagi mereka sebutan “konservatif” adalah sebutan yang menimbulkan kebanggaan dan rasa percaya diri. 

Kalau bagi saya dan bagi sangat banyak orang lain sebutan “liberal” adalah sebutan yang agung dan membanggakan, bagi mereka sebutan ini hanya pantas diberikan kepada setan-setan. Kalau bagi saya gereja yang berubah adalah gereja yang hidup, bagi mereka kalau gereja berubah, gereja ini pasti akan sesat, binasa, dan dikhianati.

Batu karang, simbol kekokohan sekaligus kejumudan gereja!

Kalau perubahan menandakan kehidupan dan gerak maju, bagi mereka suatu pengkhianatan dan kontaminasi terhadap kemurnian masa lampau yang tak bisa dimaafkan. Kata “perubahan” adalah kata yang sangat menakutkan mereka, dan harus dijaga tak terjadi pada kaum mereka. Anehnya ada banyak dari antara mereka yang dengan bangga memegang semboyan Gereja Reformasi sebagai cerminan identitas gereja mereka.

Tahukah anda bunyi semboyan Gerakan Reformasi Gereja abad ke-16 yang dimulai di Jerman oleh Martin Luther? Bunyi semboyan itu, “ecclesia reformata semper reformanda”./2/ Dengan bebas semboyan ini dapat diartikan, gereja Protestan adalah gereja yang terus-menerus membarui diri. Walaupun itu bunyi semboyan identitas mereka, ironisnya gereja Protestan masa kini pada umumnya berwatak dogmatis kuat, anti-pembaruan dan konservatif. Kalaupun mereka menyatakan diri melakukan pembaharuan, ini dilakukan supaya kemurnian doktrin dapat kokoh dipertahankan. Memang aneh: membaharui gereja supaya gereja tak berubah, tetap lama, tetap puritan, dus tetap usang.

Maka dapat dimaklumi, ketika ada pendeta-pendeta gereja-gereja Protestan yang mulai melakukan pembaruan internal gereja mereka dalam arti sebenarnya kata “pembaharuan”, mereka akan pasti dihadang oleh pimpinan tertinggi organisasi gereja mereka.

Saya mempunyai seorang teman dekat yang kini bekerja sebagai pendeta di GKJ (Gereja Kristen Jawa) Dagen-Palur, Karanganyar, Jawa Tengah. Teman saya ini, Pdt. Novembri Choeldahono, selama lebih dari sepuluh tahun terakhir ini berusaha keras membarui GKJ-nya dalam banyak segi. Pembaruan yang sedang dijalankan teman saya ini dkk-nya di GKJ-nya mencakup pembaruan akidah, ritual, sumber daya, sumber dana, moral dan keterlibatan sosial. 

Teman saya ini, sejak bersama-sama saya kuliah di tahun 1980-an di sebuah perguruan tinggi teologi di Jakarta, sudah menampakkan diri sebagai seorang yang kreatif. Menurutnya, seorang yang kreatif itu adalah “seorang yang berjiwa petualang, yang tidak suka hidup hanya pada jalur dogmatis yang dirasakannya sebagai belenggu, dan berani untuk bergerak beyond, bergerak melampaui atau melompati, rumusan-rumusan akidah-akidah yang konvensional untuk mencari sesuatu yang baru, berani mengambil risiko dan selalu berperan sebagai pelopor.”/3/ 

Saya ingin memberi beberapa gambaran saja mengenai pembaruan besar yang sedang dia dkk-nya lakukan di gerejanya. Pembaruan yang paling kelihatan secara fisik adalah pembaruan di bidang ritual (liturgi) di GKJ-nya.

Pagelaran wayang dia dkk bawa masuk ke dalam acara-acara ritual gereja. Sebagai contoh, dalam acara penahbisan Pdt. Indri Jatmoko pada 1 Januari 2014 di GKJ Dagen-Palur, para punakawan dalam kisah pewayangan Jawa, yang dikenal dengan nama Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, tampil dalam liturgi sebagai sosok-sosok pemberi wejangan-wejangan./4/ Kita tahu, pada 21 April 2004 di Paris, Prancis, UNESCO lewat Direktur Jendralnya Koichiro Matsuura mengukuhkan wayang Indonesia sebagai sebuah Karya Agung Budaya Dunia (sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)./5/ Menurut Pdt. Jatmoko, wayang sebagai warisan budaya leluhur perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai suatu karya seni adiluhung yang mampu mengembangkan nilai-nilai universal dan pendidikan agama yang humanis dalam rangka mewujudkan kehidupan yang penuh kedamaian./6/

Bukan hanya wayang, tapi juga unsur-unsur ritual dari agama-agama lain, termasuk dari agama-agama suku, dibawa masuk ke dalam gerejanya. Membakar dupa lidi dan kemenyan dalam ibadah (sesuatu yang lumrah di gereja Katolik) menjadi salah satu unsur ritual gereja GKJ-nya. Menabur bunga warna-warni dari baskom berair, dilakukan dalam ritual ibadah di GKJ-nya, sesuatu yang orang bisa hubungkan dengan ritual kultik paranormal.

Ketika ada penahbisan pendeta, para sesepuh dan pemimpin dari agama-agama lain, termasuk agama-agama suku dan aliran-aliran kepercayaan, ikut menumpangkan tangan mereka di atas kepala pelayan yang sedang ditahbis. Mereka semua dipandang sebagai orang-orang yang berhati kudus, yang berkomitmen untuk menegakkan harkat dan martabat manusia. Dalam setiap acara penahbisan pendeta, mereka menaikkan doa-doa dan menyampaikan restu mereka.

Simbol salib yang umum tak bisa disingkirkan dari bangunan gereja manapun, disingkirkannya dengan alasan salib adalah lambang kutuk ilahi. Meskipun demikian, makna-makna positif simbolik lainnya dari salib, misalnya sebagai simbol komitmen perjuangan sampai titik darah terakhir, atau sebagai simbol ketegaran dalam menghadapi kelaliman, tetap dipertahankan.

Sudah saya tulis di atas, teologi, moral, sumber daya, sumber dana, dan keterlibatan sosial juga mengalami pembaruan hampir menyeluruh di GKJ-nya.

Syahadat atau pengakuan iman yang dipegang GKJ Dagen-Palur juga unik, sudah meninggalkan syahadat-syahadat kuno gereja yang disusun belasan abad lampau di Eropa. Dalam syahadat gereja ini, tema-tema modern seperti multikulturalisme, kesetaraan gender, pemeliharaan ekologi, penentangan terhadap kekerasan, dan penegakan HAM, diberi tekanan khusus./7/  

Dari keseluruhan tujuh pendeta yang kini bekerja di GKJ Dagen-Palur, teman saya ini, bersama tiga rekannya di gereja yang sama, tidak menerima gaji dari GKJ-nya, dan sebagai gantinya mereka aktif menjalankan peternakan ayam sendiri atau usaha-usaha kecil lainnya. Selain itu, dia juga menghidupkan beberapa LSM yang ikut menopang pekerjaan-pekerjaan pembaruannya dalam gereja-gereja dan masyarakat Jawa Tengah. Mereka sudah berkomitmen untuk bukan saja membangun kemandirian teologi dan ritual, tetapi juga meraih dan mempertahankan kemandirian dan kebebasan finansial.

Teman-temannya yang juga pendeta, yang juga tak takut melakukan pembaruan, bersama gereja mereka masing-masing bergabung masuk ke GKJ-nya, membentuk korps kependetaan yang makin tangguh dan gereja lokal yang makin besar dan luas. Dari tahun ke tahun, para pendeta GKJ lain yang pindah dan masuk serta bergabung ke GKJ Dagen-Palur bersama gereja mereka masing-masing, makin banyak, bukan makin sedikit. 

Nama GKJ Dagen-Palur makin dikenal sebagai gereja tempat berkumpulnya para pendeta pembaharu, yang tanpa takut terus melangkah maju. Tujuan pembaruan yang mereka sedang jalankan antara lain adalah membuat gereja-gereja berakar pada dan tumbuh dari kebudayaan asli mereka sendiri, kebudayaan Jawa, dan menjadikan gereja-gereja sebagai komunitas-komunitas rekonsiliatif dan liberatif yang terbuka bagi siapapun yang mau masuk ke dalamnya untuk mencari, menemukan dan menyebarkan persaudaraan, perdamaian, pembebasan dan keadilan. Dalam komunitas-komunitas keagamaan semacam ini, penganut agama-agama lain, seperti dikatakan Pdt. Ratna Prajati yang bekerja di GKJ Dagen-Palur, tidak dilihat sebagai musuh, lawan atau saingan. Sebaliknya, mereka dipandang sebagai kawan-kawan sekerja, saudara, sesama, yang memiliki tujuan yang sama, yakni mendatangkan kesejahteraan bagi manusia dan semua makhluk lainnya dalam alam ciptaan Allah./8/ 

Seperti diungkap oleh Pdt. Indrianto Adiatmo Sawaldi yang juga bekerja di GKJ Dagen-Palur, masyarakat Jawa (termasuk di dalamnya wong Ngayogyakarta dan wong Sala) dikenal sebagai masyarakat yang memiliki watak semedulur, yakni watak senang bersaudara dengan semua 0rang, ramah satu sama lain, dan suka menolong berdasarkan prinsip gotong-royong. Di dalam diri mereka terkandung jiwa suka damai dan menjauhi permusuhan. Inilah budaya damai orang Jawa, yang membentuk kapribaden Jawa. Dengan budaya damai dan kepribadian Jawa ini, arus budaya kekerasan yang kini melanda di banyak tempat di Indonesia, juga di Jawa Tengah, dapat bersama-sama dilawan./9/ Tepat sekali jika perjuangan real menegakkan budaya damai oleh gereja-gereja di Indonesia dilihat sebagai bagian dari gerakan global untuk menegakkan budaya damai di planet Bumi, sebagaimana telah dicanangkan oleh lembaga PBB UNESCO dalam Declaration on a Culture of Peace./10/ Menurut Pdt. Jatmoko, pendidikan agama yang humanis, yang sedang dirintisnya, memerlukan antara lain para pendidik yang berjiwa damai yang mampu membangkitkan semangat perdamaian secara luas kepada setiap orang lain./11/ 

Tetapi, para pemimpin tertinggi (disebut pimpinan sinode) GKJ memberi reaksi sangat negatif pada semua usaha pembaruan teman saya ini dkk-nya. Teman saya ini dkk-nya ditetapkan sesat, terkena tindakan pendisiplinan gereja (disebut “siasat”), oleh pemimpin sinodenya, sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi para sesepuh di kantor sinodenya tak bisa berbuat apa-apa terhadap teman saya ini dkk dan terhadap GKJ-nya. 

Meskipun sudah dinyatakan sesat dan terkena “siasat”, teman saya dkk tetap tenang saja dan terus melakukan gerak pembaruannya dengan percaya diri, tanpa takut.

Kok bisa demikian? Ya, karena sistem pengaturan GKJ bersifat presbiterial, artinya: majelis jemaat sebuah gereja setempat memiliki otoritas penuh, lebih tinggi dari otoritas pimpinan sinodenya. Setiap jemaat/gereja lokal GKJ adalah gereja penuh, tak tunduk pada kemauan para birokrat tertinggi sinode GKJ secara keseluruhan.

Selama tak ada persoalan dengan jemaat/gereja lokal, dhi dengan GKJ Dagen-Palur, teman saya dkk dapat terus bekerja di situ dan membarui. Faktanya memang demikian: GKJ Dagen-Palur dengan otoritasnya sendiri mendukung penuh pembaruan mereka, kendatipun mereka sedang terkena “siasat” sinode.

Seorang profesor dari Vrije Universiteit di Belanda baru-baru ini melakukan penelitian panjang di GKJ Dagen-Palur itu. Kata teman saya itu, profesor dari VU ini menyimpulkan bahwa jika dalam sepuluh tahun ke depan GKJ Dagen-Palur bertahan, maka pengaruhnya akan meluas ke seluruh GKJ di seantero Indonesia dan akan menjadi pusat besar reformasi gereja.

Tapi, adakah sistem manajemen gereja yang berbeda? Ada, misalnya sistem manajerial Gereja Kristen Indonesia (GKI), tempat saya dulu bekerja. Kalau teman saya itu pendeta di GKI, dia pasti sudah lama harus menanggalkan kependetaannya! Dalam GKI yang menganut sistem manajerial presbiterial sinodal, otoritas sinode berada di atas otoritas jemaat-jemaat lokalnya. Keputusan-keputusan Majelis Sinode harus ditaati oleh setiap Majelis Jemaat lokal.

Pertanyaannya: Sesatkah teman saya dkk-nya itu?

Kata “sesat” hanya dipakai para birokrat konservatif gereja yang sudah tak mampu belajar dan berkembang lagi, dan dikenakan kepada orang-orang yang berbeda dari mereka, yang mereka lihat sebagai ancaman serius terhadap konservatisme yang mereka bela, agung-agungkan, dan pertahankan mati-matian. Seolah konservatisme itu adalah Allah mereka sendiri.

Tapi bagi sesama peziarah, dan bagi kalangan akademisi, tak ada kata “sesat”; yang ada adalah kata “berbeda”, “teori baru”, “perspektif baru”, “model baru”. Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa Tengah, teman saya itu bersama sahabat-sahabatnya sedang memperkenalkan dan memantapkan sebuah model baru bergereja, model yang membutuhkan partisipasi sebanyak mungkin kebudayaan-kebudayaan asli orang-orang Jawa dalam merayakan kepercayaan Kristen yang dibarui dan makin berakar.

pasar tradisional menginspirasi lahirnya “teologi alun-alun

Dalam setiap perayaan hari Pentakosta, di GKJ Dagen-Palur teman saya itu memperagakan apa yang dinamakannya “teologi alun-alun”: siapapun, tak harus orang Kristen, boleh datang ke acara ini yang dipandang sebagai acara pasar, tempat orang menjual dan membeli. Di pasar teologi ini, orang bebas untuk membentangkan dan menawarkan tafsiran-tafsiran masing-masing tentang kebenaran, yang berbeda dari tafsiran-tafsiran resmi yang diterima di kalangan arus utama atau di kalangan ortodoks. Orang bebas untuk membeli atau tidak mau membeli berbagai tafsiran tentang kebenaran ini. Tidak ada monopoli atas barang yang diperdagangkan, dan tidak ada eksploitasi terhadap para pembeli. Inilah hakikat pasar dalam kebudayaan Jawa asli, dengan karakter yang ramah, manusiawi, kooperatif, bergotong-royong, tidak tamak, yang berkonfrontasi dengan sistem pasar kapitalisme modern. Menurut teman saya itu, kebenaran itu tidak satu, tapi ada banyak, dan masing-masing boleh dihayati dengan bebas, bahkan boleh juga bersaing dengan ramah, terbuka, simpatik, dan sehat, lewat marketing ide-ide di pasar-pasar tradisional yang berpindah-pindah lokasi secara berkala.

Tanpa ada perspektif baru, teori baru, model baru, yang berbeda dari yang lama, gereja manapun akhirnya akan terbenam tanpa daya dalam rutinitas harian yang makin dirasakan tak bermakna lagi. Gereja yang tak bisa memberi makna yang signifikan kepada umatnya, akhirnya akan ditinggalkan. Hanya para pemimpin gereja yang cerdas, visioner dan berani, yang akan dapat membarui gereja. Tanpa para pemimpin keagamaan jenis ini di garis depan, agama-agama apapun akan pada akhirnya tak fungsional dan tak signifikan lagi, baik bagi umat sendiri, maupun, dan apalagi, bagi masyarakat dan dunia yang lebih luas. Tanpa pembaruan yang menyeluruh yang harus selalu dilakukan, gereja-gereja dan juga semua komunitas keagamaan lain hanya akan menjadi museum-museum tempat menaruh benda-benda purbakala, misalnya fosil-fosil. Ada pada kita fosil-fosil beranekaragam dinosaurus, yang tertua adalah fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu./12/ Selain itu, ya tentu saja ada pada kita juga fosil-fosil dogma, yang kini dimuseumkan dalam bangunan-bangunan gereja yang tampak aktif. Menurut anda, dilihat dari sudut ilmu pengetahuan, mana yang lebih berharga, fosil-fosil dinosaurus ataukah fosil-fosil dogma? 

Fakta bahwa komunitas-komunitas keagamaan hanya menyimpan dan memelihara fosil-fosil dogma sebetulnya mengungkapkan sebuah masalah besar yang lebih mendasar. Di mana akar-akar masalah besarnya tertanam? Tak lain, akar-akar masalahnya tertanam di lembaga-lembaga pendidikan teologi yang mencetak para sarjana agama. Lembaga-lembaga pendidikan ini memelihara, merawat dan meneruskan hanya fosil-fosil dogma ke dalam komunitas-komunitas itu lewat para sarjana agama yang mereka telah luluskan. Ini adalah sebuah fenomena yang ganjil, sebab bukankah sudah seharusnya semua lembaga pendidikan teologi hanya menghasilkan para sarjana pembaharu yang memiliki kemampuan untuk menjadi agents of social change, agen-agen perubahan sosial. Jika hal yang sangat mendasar ini tidak terjadi, berarti ada problem besar dalam dunia pendidikan teologi di Indonesia. 

Satu masalah besar yang mendasar lainnya adalah banyak sarjana agama, karena pendidikan teologi yang salah yang mereka telah terima, berpikir keliru tentang apa yang dimaksudkan dengan dogma. Dalam pandangan mereka, dogma itu adalah keseluruhan pemahaman manusia tentang Allah yang sudah selesai, sudah tuntas, dan sudah jadi, begitu selesai dirancangbangun pada masa-masa silam di tempat-tempat lain, sehingga tak boleh diubah lagi atau diganti. Bagi mereka, misalnya, dogma Tritunggal Kristen adalah dogma harga mati, dogma yang sudah sempurna, sekali telah dirumuskan dulu di Eropa, belasan abad lalu, berlaku selamanya di segala tempat di muka Bumi. Kekeliruan berpikir semacam ini tentu saja harus diperbaiki. 

Yang bisa tuntas dipahami adalah agama-agama atau teologi agama-agama atau dogma-dogma. Banyak orang sudah tiba di tahap ini. Tetapi tak ada seorangpun yang telah selesai dan tuntas menemukan dan memahami Hakikat Adikodrati yang diberitakan agama-agama, yang diberi banyak nama dan sifat. Kalau akidah-akidah atau dogma-dogma keagamaan ditulis untuk menyingkapkan siapa sang Hakikat Adikodrati ini, banyak orang telah selesai memahami akidah-akidah atau dogma-dogma ini, tapi mereka tidak akan pernah mencapai garis finish dalam mengenal dan memahami sang Hakikat Adikodrati itu sendiri. Teologi atau dogma selalu tak pernah sama dengan ontologi. Doktrin-doktrin tentang Allah apapun, sesuci apapun, setua apapun, tak akan pernah sama dengan diri Allah itu sendiri.

Sang Hakikat Adikodrati sesungguhnya selalu menjauh ketika didekati, dan selalu mengelak, elusif, ketika mau digenggam. Usaha menangkap dan menggenggam sang Hakikat ini bak usaha menjaring angin! Dia mahabesar, tapi agama-agama begitu kecil. Sistem-sistem kepercayaan yang dibangun manusia, kapanpun dan di manapun juga, tak pernah sanggup menyerap tuntas diri sang Hakikat Adikodrati ini. Tak ada satupun agama yang telah mencapai dan meraup kebenaran mutlak dan final. Jika sebuah agama mengklaim telah tuntas mengantongi sang Hakikat Adikodrati atau sang Kebenaran Mutlak ini, maka tamatlah sudah riwayat Dia yang mahabesar ini. Tamatlah teologi. Tamatlah juga agama.

Karena ruang-dan-waktu adalah dimensi-dimensi yang terus berada dalam gerak dan perubahan, selalu impermanen, selalu dinamis, maka pemahaman orang atas realitas ruang-dan-waktu juga terus berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat. Setiap dogma disusun selalu dari sudut-sudut pandang tertentu para penyusunnya dalam mereka memandang realitas yang terus berubah. Dengan demikian, tak ada dogma yang bebas nilai. Dogma-dogma keagamaan yang disusun belasan atau puluhan abad lalu juga secara alamiah akan menjadi usang, atau pada masa kini dipersepsi jauh berbeda dari yang dipersepsi orang-orang zaman kuno di tempat lain yang dulu menyusun dan menguduskannya. Dengan demikian, tak ada dogma yang berlaku abadi. Jika ilmu pengetahuan yang dibangun berdasarkan bukti-bukti tidak pernah berlaku abadi, tidak pernah final, apalagi dogma-dogma yang dibangun hanya berdasarkan iman atau kepercayaan.

Kalau anda mau mengabadikan sebuah dogma, anda melawan hukum alam yang menghendaki segala sesuatu dalam jagat raya ini bergerak dan berubah, lewat evolusi atau lewat revolusi, secara alamiah atau lewat intervensi manusia. Ketahuilah, jagat raya kita yang terbentuk 14 milyar tahun lalu lewat big bang hingga kini dan bermilyar-milyar tahun ke depan terus aktif bergerak mengembang dengan makin cepat, tak pernah statis. Jagat raya kita sedang mengalami evolusi. Evolusi adalah suatu fakta kosmik, yang menyelubungi segala sesuatu. Kalaupun dalam jagat raya ini ada yang tetap dan abadi, yang tetap dan abadi itu adalah perubahan itu sendiri, baik perubahan menuju keusangan dan kematian maupun perubahan menuju pembaruan dan kelahiran kembali.

Dan ketahuilah juga, dogma yang benar dan fungsional adalah dogma yang terus berubah, karena dogma adalah respons kognitif manusia terhadap Allah yang dipercaya bekerja dalam pentas kehidupan insani yang terus berubah. Jadi, sudah kodratnya dogma itu selalu kontekstual, maksudnya: selalu terikat pada ruang dan waktu yang di dalamnya dogma ini disusun, dan karena itu selalu terbatas, dan tak boleh diabadikan. Karena itu juga, setiap dogma haruslah cerdas karena merupakan tanggapan kreatif dan inovatif manusia pada tindakan-tindakan Allah dalam pentas kehidupan manusia, yang berbeda dari satu zaman ke zaman lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika zaman berubah dan tempat-tempat berganti, dogma-dogma juga berubah dan berganti. 

Tidak ada dogma apapun yang berlaku di segala zaman dan di segala tempat; tak ada dogma apapun yang berlaku abadi dan universal. Ketika anda mau mengabadikan dan menguniversalkan sebuah dogma, tentu biasanya dengan memakai nama Allah, maka dogma ini menjadi sebuah ideologi penindas kebebasan berpikir dan berpendapat orang-orang lain yang hidup di zaman lain dan di tempat lain, yang tidak sama dengan zaman dan tempat kelahiran dogma itu dulu. Padahal, dogma yang benar seharusnya adalah dogma yang membebaskan, bukan menindas, manusia. Dogma ada untuk melayani manusia, bukan manusia ada untuk melayani dogma. Manusia adalah tuan atas dogma, bukan dogma tuan atas manusia.  

Dengan demikian, tak ada pilihan lain, selain semua orang beragama harus terus-menerus membaharui akidah-akidah dan dogma-dogma keagamaan mereka, atau menyusun akidah-akidah dan dogma-dogma baru jika yang lama ditemukan sudah tak relevan lagi atau malah keliru dan menyesatkan. Tugas membaharui adalah tugas yang abadi. Terus mengalir. Selama sungai-sungai bermuara di samudera, segala sesuatu akan terus mengalami perubahan dan pembaruan. Hanya jika semua samudera di muka Bumi mengalir masuk ke sungai-sungai lalu bermuara di kawah-kawah gunung-gunung, hanya jika jagat raya kita berhenti mengembang lalu menciut lagi karena tarikan kuat gravitasi materi gelap (dark matter) atau tarikan kuat gravitasi sebuah lubang hitam (black hole) supermasif dan bertenaga besar, berakhirlah semua era, semua gerak, semua nafas, semua kehidupan, semua perubahan, dan semua pembaruan.

Jika pembaruan terus dilakukan, hidup beragama menjadi hidup yang menantang, menggairahkan dan mencerahkan, tak lagi rutin dan membosankan. Dan orang-orang yang cerdas pun akan dengan bersemangat mau ambil bagian di dalamnya, tak lagi menjauh dari dunia agama-agama. Suasana dan semangat yang seperti inilah yang kini dapat anda temukan dan rasakan di GKJ Dagen-Palur. Saya sendiri pernah bertandang ke gereja ini, selain untuk berjumpa dengan teman saya itu, juga untuk melakukan pengamatan-pengamatan atas beberapa bagian dari kehidupannya yang dinamis. Mudah-mudahan anda punya waktu untuk meninjau gereja hebat ini supaya bisa menemukan dan merasakan sendiri semangat pembaruan yang sedang dan akan terus berlangsung di sana./13/ 

---------------------

/1/ Ioanes Rakhmat, Memandang Wajah Yesus: Sebuah Eksplorasi Kritis (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2012).

/2/ Frasa “Ecclesia reformata semper reformanda (est) harfiah berarti “gereja haruslah selalu dibaharui”. Ide ini semula datang dari gerakan Nadere Reformatie abad ke-17 di dalam Gereja Reformasi Belanda (Dutch Reformed Church). Istilah ini mula-mula muncul dalam buku Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (artinya “Perenungan tentang Zion”) (Amsterdam, 1674). Dalam Reformasi Protestan abad ke-16, ide yang terkandung dalam frasa ini menjadi salah satu ide pokok teolog Jerman Martin Luther (1483-1546). Pada masa kini, istilah ini dipakai dengan meluas sebagai semboyan tak resmi Gereja Reformed dan Gereja Presbiterian. Ide mendasar dalam semboyan ini adalah bahwa gereja Prostestan harus terus-menerus memeriksa diri kembali supaya dapat mempertahankan kemurnian doktrin dan praktek bergereja mereka.  

/3/ Novembri Choeldahono, “Menegakkan Keadilan dan Kebenaran: Mendidik Umat sebagai Subjek yang Kreatif dalam Menyelesaikan Permasalahan di Gereja yang Berorientasi pada Nilai Keadilan dan Kebenaran” dalam Buku Pedoman Rapat Jemaat Tahun 2013 GKJ Dagen-Palur, hlm. 5 [1-6]. 

/4/ Lihat buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis, Rabu, 1 Januari 2014, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, hlm. 4-6, 13-25. 

/5/ Tentang ini, lihat http://senawangi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=81&Itemid=210&lang=id.

/6/ Lihat Indri Jatmoko, “Khotbah Sulung: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis”, 1 Januari 2014, GKJ Dagen-Palur, dalam buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko, hlm. 39 [26-42].  

/7/ Lihat Liturgi Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko dalam buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko, hlm. 23-24.

/8/  Ratna Prajati, “Berbangsa dan Bernegara (Amsal 29:17)” dalam buku Peneguhan Pdt. Indrianto Adiatmo Sawaldi dan Pdt. Ratna Prajati: Membangkitkan Budaya Damai dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Jumat 20 Mei 2011, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, hlm. 22 [20-22].

/9/ Indrianto Adiatmo Sawaldi, “Ikhtiar Membangun Budaya Damai di tengah Arus Budaya Kekerasan”, dalam Buku Pedoman Rapat Jemaat Tahun 2013 GKJ Dagen-Palur, hlm. 14-15.  

/10/ Lihat UNESCO, “A Declaration on a Culture of Peace” pada http://www.unesco.org/cpp/uk/declarations/2000.htm.

/11/ Indri Jatmoko, “Khotbah Sulung: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis”, hlm. 32.  

/12/ Tentang Nyasasaurus parringtoni, lihat Jeanna Bryner, “Earliest Dinosaur? Nyasasaurus Parringtoni Roamed Pangea 240 Million Years Ago, Fossils Suggest”, Huffington Post Science 05 December 2012, pada http://www.huffingtonpost.com/2012/12/05/earths-earliest-dinosaur-nyasasaurus-parringtoni_n_2243479.html.


/13/Alamat GKJ Dagen-Palur: Jalan Timur Stasiun KA Palur, no. 4, RT 02/RW X1, Dagen, Jaten, Karanganyar 57772, Jawa Tengah, Indonesia.