Friday, December 30, 2011

Janji hidup kekal di surga,
mungkinkah terpenuhi?

Aku tak tertarik sama sekali dengan janji-janji agama bahwa aku akan masuk surga dan dijauhkan dari api neraka setelah aku mati, jika aku memenuhi syarat-syarat yang ditentukan agamaku!

Aku menaruh perhatian besar hanya pada kehidupan real yang aku sedang jalani sekali saja, paling lama 80 tahun, di muka Bumi ini, yang aku harus ikut usahakan menjadi surga bagi banyak orang lain, lewat usaha-usahaku menabur cinta kasih dan mencerdaskan manusia.

Dan aku sudah bertekad, untuk ikut memadamkan semua api neraka real yang sekarang ini kulihat menyengsarakan banyak orang miskin, bodoh, terbelakang dan tak berdaya, di muka Bumi sekarang ini.

Kalau kepadaku ditanyakan, mengapa aku tak mau masuk surga setelah kematian, dan terhindar dari api neraka, maka jawabku adalah: Aku tak serakah pada kehidupan.
─  ioanes rakhmat


Agama-agama umumnya menjanjikan para penganutnya akan masuk ke dalam kehidupan kekal setelah melewati kematian, di dalam surga, jika memenuhi sekian persyaratan yang digariskan agama-agama ini. Janji ini khususnya diberikan dalam agama-agama monoteistik yang melihat sejarah mempunyai titik ujung yang akan mengakhiri segala sesuatunya yang terdapat dalam dunia kodrati, untuk kehidupan kekal di dunia adikodrati dimasuki. 

Dalam agama-agama yang memandang sejarah tak memiliki titik akhir, melainkan bersiklus secara abadi, ada kepercayaan bahwa setiap manusia akan mengalami kelahiran kembali (reinkarnasi) dengan identitas yang sama, meskipun dalam tubuh yang sudah lain. Apakah status sosialnya akan meningkat atau malah menurun dalam kelahiran kembali di masa yang akan datang, bergantung pada karma apa yang sudah ditabur selama kehidupan sebelumnya. Kalau dharma dan kebajikan yang ditaburnya selama sekian reinkarnasi sudah cukup, orang ini akan terlepas dari siklus kematian dan kelahiran kembali, lalu masuk ke dalam Nirvana, suatu kondisi kehidupan yang di dalamnya tidak ada lagi unsur kefanaan, melainkan hanya kebakaan.

Tetapi kehidupan kekal atau Nirvana yang ditawarkan agama-agama mengandung persoalan serius berkaitan dengan identitas, kepribadian dan memori orang-orang yang telah meninggal, yang jasadnya telah membusuk lalu lenyap atau tulang-belulangnya tertinggal sebagai fosil (setelah terkubur dalam tanah selama 1000 tahun), atau berubah menjadi setumpuk debu tulang lewat kremasi. Apa persoalannya?

Persoalannya adalah identitas dan semua memori seseorang terekam dan tersimpan hanya dalam organ otak jasmaniahnya, dalam neuron-neuron atau sel-sel saraf otak yang jumlahnya 100 milyar. Begitu seseorang meninggal dunia, lalu jasadnya membusuk, begitu juga dengan otaknya, maka identitas, personalitas dan semua memori yang terekam dalam otaknya juga lenyap. Begitu otak mati dan lenyap, identitas pun lenyap, tak pergi ke mana-mana. Dengan demikian, kehidupan kekal seseorang sesudah kematian, di dalam surga atau di dalam Nirvana, yang tidak disertai dengan identitas, kepribadian dan semua memori asli yang ada dan terekam dalam organ otaknya selama seseorang masih hidup dalam dunia kodrati, adalah kehidupan kekal yang tak beridentitas, dan dengan demikian tak bermakna dan tak bermanfaat sama sekali, dan mungkin sekali tidak ada sama sekali.

Kalangan Kristen (juga Muslim) mempercayai adanya “tubuh” lain yang akan dikenakan orang pada saat terjadi kebangkitan orang mati di akhir zaman. Mengacu ke Rasul Paulus, tubuh kebangkitan ini disebut “tubuh rohani” (sōma pneumatikon). Dalam imajinasi orang Kristen, “tubuh rohani” yang disebut Paulus ini dibayangkan sebagai gabungan tubuh jasmaniah dan tubuh rohani, mungkin dengan komposisi 50 persen 50 persen, sehingga, kata mereka, orang-orang mati (Kristen) yang sudah dibangkitkan nanti akan juga masih memiliki otak jasmaniah sehingga jatidiri, personalitas dan memori historis mereka masih ada kendatipun sudah hidup di surga. Tentu saja ini adalah sebuah imajinasi yang luar biasa liar, sehingga menghasilkan sebuah konsep yang sama sekali asing dari pemikiran Rasul Paulus sendiri.

Pada zamannya, yang dimaksud Paulus dengan “tubuh rohani” adalah tubuh ether, tubuh yang dibayangkan sebagai tubuh para dewa atau para malaikat (dalam teosofi Hindu, tubuh ini disebut juga tubuh astral, tubuh prana, tubuh chi, atau tubuh “halus”)./1/ Pada masa kehidupan Paulus, ruang kosong dalam jagat raya dipercaya berisi ether, sebagai medan gaya, yang memungkinkan terhubungnya benda-benda dalam ruang jagat raya yang hampa. Tapi dalam pandangan sains fisika masa kini, “zat” yang dinamakan ether itu tidak ada, dan ruang hampa dalam jagat raya kini dipandang berisi gelombang dan energi elektromagnetik dan dipenuhi partikel cahaya yang dinamakan foton.

Tetapi meskipun keadaannya demikian, jangan sedih, sebab masih ada jalan-jalan lain jika anda memang menginginkan kehidupan anda tak pernah berakhir selamanya. Jalan-jalan lain ini ditawarkan oleh sains dan teknologi modern. Ada empat metode saintifik untuk anda dapat hidup sangat lama, atau malah hidup terus tanpa akhir.

Pertama, metode cloning 

Anda kini bisa hidup terus dengan memakai suatu tubuh lain yang sama persis dengan tubuh anda, bahkan juga dengan semua sifat dan jati diri yang sama, melalui metode cloning!

Para petani biasa melakukan cloning sederhana tanaman singkong: dengan hanya menancapkan patahan batang-batang pohon singkong, mereka kemudian mendapatkan tanaman singkong baru asli.

Anda tinggal memesan tim ahli kapan anda perlu menjalankan cloning!

Persoalan dengan metode cloning adalah metode ini belum pernah diterapkan pada manusia hingga saat ini, sehingga keterbatasan-keterbatasan hasil cloning manusia belum diketahui, misalnya apakah hasil cloning masih juga mempertahankan jatidiri, personalitas dan memori historis orang yang di-cloning.

Tetapi jika nanti teknologi dan biologi bisa disatukan, tak mustahil identitas dan jatidiri serta memori historis anda dapat direkam (di-download dari otak anda) dalam suatu peranti lunak komputer (dalam sebuah disc, katakanlah), lalu, ketika dibutuhkan, dapat di-upload kembali ke dalam organ otak hasil cloning.
 
Kedua, metode mematikan sel uzur 

Dengan membuang semua sel uzur (senescent cells) yang ada dalam tubuh anda, yang membuat tubuh anda sekarang dengan menyedihkan secara bertahap menjadi tua, uzur, lalu mati, anda tak akan lagi pernah menjadi tua. Kesimpulan ini didapat dari kajian klinis mutakhir terhadap tikus./2/
 
Ketiga, metode telomer 

Pada kromosom nomer 14 kita, ada sebuah gen yang disebut gen TEP1 (telomerase-associated protein-1). Produk TEP1 adalah sejenis protein atau enzim yang merupakan bagian dari sebuah mesin biokimia kecil paling istimewa, yang disebut telomerase. Sederhananya, ketiadaan telomerase akan menyebabkan penuaan. Sebaliknya, kebanyakan telomerase menjadikan sel-sel tertentu tidak bisa mati! 

Jika variasi mutan dibuat pada enzim telomerase dalam sel-sel tubuh anda, dengan memanjangkan bagian telomer-nya, usia anda akan diperpanjang. Semakin panjang telomer, sel-sel akan makin terlindungi dan proses penuaan berjalan lebih lambat, bahkan mungkin bisa dihentikan. 

Keempat, metode cryonics 

Ketika anda baru saja wafat (mati legal, atau mati klinis/medis), anda (atau wali anda) dapat meminta jenazah anda dibekukan di bawah suhu minus 150 derajat Celsius atau sampai minus 196 derajat Celsius (titik didih nitrogen cair), untuk nanti dihidupkan lagi (jika teknologi di masa depan sudah tersedia). 



 Mayat-mayat atau orang hidup yang dibekukan absolut, 
menanti dihidupkan lagi di masa depan!

Teknik medis pembekuan mayat ini untuk kemudian dihidupkan kembali disebut cryonics, dan sainsnya dinamakan cryogenics. Ketika ini dilakukan, seluruh cairan darah diganti dengan larutan cryoprotectant yang membuat jasad dan semua organ dan selnya, setelah membeku absolut, tak akan membusuk atau rusak  selamanya. Sel-sel sperma, kita tahu, di bank-bank sperma dibekukan absolut, lalu dipulihkan kembali dari pembekuan ketika mau dimasukkan ke dalam rahim kaum ibu yang subur, yang merindukan anak, tapi memiliki suami yang mandul. Sel-sel sperma ini tokh tetap hidup! 

Cryonics berasal dari kata Yunani kryo,  artinya “dingin seperti es”. Secara positif, cryonics dilihat sebagai sebuah teknis medis untuk mempertahankan dan memelihara kehidupan, bukan untuk meniadakan kematian.

Teknik ini dapat dipakai, misalnya, ketika seseorang menderita suatu penyakit yang tak tersembuhkan dengan pengobatan yang tersedia sekarang, lalu pas ketika dia dinyatakan telah mati (legal, medis/klinis), mayatnya diproses secara cryonics dengan harapan di masa depan sains dan teknologi medis sudah tersedia untuk menyembuhkannya. Persoalannya, teknologi me-revive mayat ini sekarang belum ada, atau, kalaupun ada, masih embrionik.

Selain itu, teknik ini dapat digunakan juga untuk membekukan tubuh astronot-astronot wantariksa yang akan menempuh perjalanan angkasa sangat jauh dan lama. Mesin-mesin dalam wantariksa mereka akan me-revive jasad-jasad mereka pada waktunya, sesuai jadwal yang diawasi dan ditaati oleh sebuah super komputer.

Tetapi, terbuka kemungkinan di masa depan, kalau hukum dan etika mengizinkan, orang yang sehatpun dapat menjalani cryonics. Yayasan The Alcor Life Extension, misalnya, mengkhususkan diri untuk memantapkan dan mengembangkan teknik medis cryonics./3/

Anda (atau wali) tinggal mengatur, tentu sebelum anda mati, bersama tim medis anda, kapan mayat anda yang beku absolut harus dihidupkan kembali dengan cara tertentu, tentunya dengan pengandaian teknologinya sudah tersedia.

Tentu saja empat langkah saintifik tersebut untuk membuat anda dapat hidup terus, menyimpan banyak persoalan yang masih harus diatasi.

Persoalan pertama tentu persoalan etis, yang biasanya diangkat oleh para etikus religius. Para moralis religius memang seringkali belum apa-apa sudah ingin mencegah dan menghentikan eksperimen ilmiah apapun yang berkaitan dengan kehidupan, kata mereka, atas nama Allah. 

Anda tentu tahu kini para pakar biologi sintetis dengan dipandu Craig J. Venter sudah sukses menciptakan DNA buatan yang hidup dan mampu mereplikasi diri./4/ Tanpa doa, tanpa Kitab Suci, dan tanpa Allah! DNA buatan ini dihasilkan hanya dari 4 botol larutan senyawa kimia yang mati, yang persenyawaannya di sebuah synthesizer diatur oleh informasi genomik dari sebuah komputer.

Benar seperti dikatakan kosmolog besar Michio Kaku: makin ke depan, manusia akan menjadi seperti Allah, tahu segala hal dan mampu menciptakan kehidupan. 

Yang ditawarkan sang ular mitologis kepada Hawa dan Adam bahwa mereka akan jadi seperti Allah, ternyata kini makin terbukti. Thank you, sang ular!

Tapi “menjadi seperti Allah” pada zaman kisah tentang Taman Eden ditulis, adalah hal yang sangat menakutkan si penulis kisah ini, pada abad sepuluh SM. Tapi, kini, dalam zaman modern, anda harus melihat hal menjadi-seperti-Allah sebagai kehendak Allah anda sendiri juga! Allah anda tak bisa membendung sains, selain merestuinya!

Nah, kembali ke empat cara membuat anda hidup kekal.

Yang paling problematis adalah langkah ke-4, cryonics. Sekarang ini tak ada jaminan saintifik bahwa langkah ini akan sukses tanpa hambatan. Soal terbesar dengan cryonics adalah apakah sel-sel saraf otak (neurons) anda tak akan rusak setelah dibekukan sekian lama (berapa lama, bergantung permintaan anda atau wali legal anda!).

Jika tak rusak, apakah sel-sel otak anda masih menyimpan semua data dan memori yang membentuk jatidiri dan kepribadian anda, ketika mayat anda yang membeku absolut di-revive?

Ini-lah hal yang paling diragukan, dan belum ada teknologi medis yang bisa menjamin bahwa identitas dan kepribadian anda pasti terpelihara lewat cryonics. Mungkin, ketika anda dihidupkan lagi setelah mayat anda membeku 100 tahun, identitas anda akan berganti total, dan anda akan hidup lagi sebagai seorang asing.

Tetapi, banyak saintis cryogenics tidak melihat hal ini sebagai suatu persoalan, sebab di masa depan teknologi yang dapat diandalkan untuk cryonics akan tersedia. Very promising, kata mereka! Mereka mengantisipasi bahwa di masa depan yang tak jauh, semua memori dalam otak seseorang yang baru meninggal dapat di-download ke dalam sebuah peranti lunak komputer untuk disimpan, untuk suatu saat di masa depan dijalankan kembali dengan meng-upload-nya ke dalam organ otak jasad yang baru dihidupkan kembali lewat metode cryonics. Teknik ini akan bisa dijalankan ketika nanti teknologi kecerdasan buatan dan teknologi komputasi otak sudah bisa disatukan dengan biologi, seperti diantisipasi secara visioner oleh Ray Kurzweil dalam bukunya The Singularity Is Near: When Humans Transcend Biology./5/

Tetapi, jika pun identitas dan kepribadian anda tetap bertahan utuh dalam organ otak anda yang dibekukan absolut, atau bisa di-upload kembali dari sebuah disc ke otak anda, ketika anda dihidupkan kembali, semua orang yang anda kenal sebelumnya sudah mati dan meninggalkan anda sendirian di zaman yang lain. Apakah anda mau? 

Kalau kepada saya ditanyakan apakah saya mau hidup kekal selamanya dalam raga di muka Bumi, saya dengan pasti akan menjawab Tidak mau, sebab saya akan sudah puas dengan hidup sebaik-baiknya satu kali saja, paling lama 70 atau 80 tahun, di muka Bumi. Dan saya juga tak mau masuk ke surga. Saya tak serakah pada kehidupan. Biarlah masa depan dunia diurus oleh anak-anak, cucu-cucu dan cicit-cicit kita, yang menunggu giliran berperan dalam dunia ini. Mereka pasti akan jauh lebih hebat dari kita dalam mengurus planet Bumi ini.  Itulah harapan saya kepada generasi mendatang setelah saya mati.

Baca juga:
Asal-usul doktrin tentang surga dan neraka
 
oleh ioanes rakhmat
Jakarta, 30 Desember 2011


Catatan-catatan

/1/ Lebih jauh tentang tubuh ether sebagai tubuh kebangkitan, simak di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/09/tubuh-yesus-yang-bangkit-menurut-rasul.html.

/2/ Reportase mutakhir tentang sel uzur ini, baca di http://www.nytimes.com/2011/11/03/science/senescent-cells-hasten-aging-but-can-be-purged-mouse-study-suggests.html?_r=3&smid=fb-nytimes&WT.mc_id=SC-SM-E-FB-SM-LIN-PCI-110311-NYT-NA&WT.mc_ev=click.

/3/ Lihat http://www.alcor.org. Uraian padat dan jelas tentang cryonics, dapat dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Cryonics. Jika anda ingin dapat gambaran jauh lebih lengkap tentang sains cryogenics atau teknik medis cryonics, infonya tersedia di http://science.howstuffworks.com/environmental/life/genetic/cryonics.htm.

/4/ Lihat tulisan saya di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/10/dna-sintetik-dan-kehidupan-artifisial.html.


/5/ Ray Kurzweil, The Singularity Is Near: When Humans Transcend Biology (New York: Viking Penguin, 2005), lihat khususnya bab 3 dan bab 4.



Thursday, December 29, 2011

Mitos Taman Eden, Adam, dan Hawa

Konon seekor ular cerdas membantu Hawa mendapatkan pengetahuan

Meskipun kita akan segera masuk ke tahun 2012, banyak orang di Indonesia, bahkan yang terpelajar juga, menolak sains evolusi Darwinian karena adanya kisah skriptural tentang Taman Eden yang konon di dalamnya Adam dan Hawa diciptakan langsung besar sebagai manusia dewasa dan semula ditempatkan oleh Allah. Bagi mereka, kisah ini adalah kisah nyata, bukan fiksi, ada dalam kitab-kitab suci sebagai wahyu ilahi yang tak mungkin salah, karena itu harus dipercaya dan dipertahankan apapun juga taruhannya. Jelas, budaya yang menguasai Indonesia adalah budaya agama (di samping budaya korupsi), bukan budaya saintifik. Sementara budaya agama umumnya memperbodoh manusia dan menutup pemikiran kritis, budaya sains mencerahkan manusia dan mendayagunakan pemikiran kritis.

Karena itu, untuk membangun suatu budaya saintifik, hemat saya, tak ada jalan lain, selain menunjukkan kepada anda bahwa kisah tentang Taman Eden adalah 100 persen dongeng. Tak percaya? Mari simak penyelidikan berikut.

Hanya dalam dongeng saja, ada sepasang manusia purba, lelaki dan perempuan, yang tidak memiliki pusar sama sekali karena tidak pernah menjadi janin dalam rahim seorang ibu, berhubung keduanya diciptakan langsung besar. (Kalaupun keduanya diciptakan sebagai sepasang bayi yang juga tak mempunyai pusar, kedua bayi ini akan pasti mati karena tak ada induk yang dapat menyusui dan memelihara mereka.)

Rabalah perut anda, dan rasakan apakah anda memiliki sebuah pusar; kempot ke dalam atau bodong keluar, tak masalah. Kalau anda keturunan langsung Adam dan Hawa mitologis, haruslah perut anda juga tidak memiliki pusar. Anda ternyata keheranan, dari mana asal-usul paling awal udel anda, bukan? Semoga anda langsung tersadarkan bahwa andalah manusia yang real, sedangkan Adam dan Hawa cuma dua makhluk khayalan.

Hanya dalam dongeng saja, manusia perempuan muncul dari satu tulang rusuk lelaki, sementara semua tulang rusuk pria hingga kini selalu komplit.

Menurut sains, homo sapiens nenek moyang anda bukan muncul pertama kali di Taman Eden sebagaimana dikisahkan kitab suci anda, melainkan di Afrika, 300.000 tahun yang lalu, sebagaimana ditunjukkan oleh bukti-bukti arkeologis./1/

Hanya dalam dongeng saja ada sebatang pohon moral yang menurut kisahnya tumbuh di tengah Taman Eden, yang jika buahnya dimakan, si pemakan akan langsung cerdas, minimal cerdas secara moral, tanpa perlu melewati proses panjang pembelajaran!

Sama seperti sekeping biji ketika dilempar ke tanah keesokan harinya telah tumbuh seketika menjadi sebatang pohon bayam yang puncaknya sampai ke langit, yang bisa membawa manusia ke suatu negeri kaya raya di atas awan-awan dan yang bisa membuatnya kaya raya dalam sekejap! Kisah tentang sekeping biji ini tentu saja dongeng ciptaan Hans Christian Andersen yang sangat menawan kanak-kanak, yang sesudah dikisahkan kepada mereka, mereka langsung tertidur.

Anda tentu teringat kisah dongeng yang serupa dalam bagian akhir kitab Yunus dalam Tenakh Yahudi, tentang sebatang pohon jarak yang tumbuh tinggi dan mengeluarkan daun-daun lebat dan lebar hanya dalam semalam! Yunus murka kepada Allah dan minta mati, ketika pohon jarak itu, yang daun-daun lebarnya dijadikannya tempat berteduh dari sengatan cahaya Matahari, dibuat mati oleh Allah!

Hanya dalam dongeng saja ada seekor ular berkaki, yang cerdas dan bisa berbicara bahkan berhasil meyakinkan manusia tentang sebuah kebenaran yang konon hanya Allah saja yang tahu.

Hanya dalam dongeng saja, curiosity atau rasa ingin tahu yang besar pada diri Hawa yang mendorongnya memetik dan memakan buah pohon moral itu, harus dikutuk dan dijadikan alasan untuk menghukum manusia, sementara dalam dunia real modern masa kini curiosity-lah, selain kebutuhan survival manusia, yang membuat sains maju dan terus berkembang di tangan manusia-manusia cerdas dan pemberani, seperti dicontohkan oleh Hawa dalam mitos Taman Eden. 

Ketahuilah, sama seperti dalam kisah skriptural Taman Eden, seorang suci Santo Augustinus (354-430 M), yang dipuja dalam gereja dari abad ke abad, dengan terbuka mengutuki rasa ingin tahu (kuriositas), tulisnya, 
“Ada satu bentuk godaan lagi, bahkan lebih berbahaya, yakni penyakit ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang selalu mendorong kita untuk mencoba menemukan rahasia-rahasia alam, rahasia-rahasia yang sebetulnya berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, yang hanya akan membuahkan kesia-siaan jika dicari, yang seharusnya manusia tidak ingin pelajari./2/
Hanya dalam dongeng saja Allah punya tubuh, kaki, tangan, kepala, rambut, mata, alis, hidung, telinga dan mulut, sehingga membuatnya bisa berjalan-jalan di Taman itu mencari-cari Adam dan Hawa, melihat-lihat, pada hari yang sejuk./3/ Saya membayang-bayangkan, jika Allah sang Bapa ini bugil seperti Adam dan Hawa, bagaimana penampilannya. Seandainya Allah ini berbusana, saya berharap dia memakai baju batik dan kain sarung, dan memakai sebuah blangkon sebagai kopiahnya, sehingga Allah Adam dan Hawa ini tampil sebagai Allah Jawa Indonesia. :))

Kenapa Allah mencari Adam dan Hawa? Karena keduanya, sehabis memakan buah ajaib itu, ketakutan lalu mencari tempat bersembunyi, menghilang dari pandangan Allah.

Hanya dalam dongeng saja seorang manusia lelaki dan seorang manusia perempuan yang keduanya bugil total tidak terangsang secara seksual satu sama lain, sekian lama, bahkan masing-masing tidak menyadari kalau keduanya telanjang bulat.

Hanya dalam dongeng saja, Adam dan Hawa, lelaki dan perempuan, setelah sekian lama hidup bersama baru sadar bahwa keduanya telanjang bulat setelah memakan buah ajaib mitologis tadi.

Hanya dalam dongeng saja ada manusia berusia sampai empat ratus atau lima ratus tahun, dengan tetap muda dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Hanya dalam dongeng saja ada sebuah pohon lain di sebelah timur Taman Eden mitologis yang jika buahnya dimakan, Adam dan Hawa akan hidup abadi, sehingga konon Allah menempatkan beberapa malaikat berpedang bernyala untuk menjaga pohon ajaib kedua ini.

Kita tahu Drakula atau Vampire bisa hidup abadi karena meminum darah manusia, korban-korban mereka. Tapi kita juga sangat tahu bahwa dua makhluk abadi peminum darah ini hanya hidup dalam dongeng-dongeng dari negeri-negeri Eropa dan Amerika, sama seperti Leak hanya ada dalam dongeng rakyat Bali. Kita juga tahu ada satu makhluk menyeramkan, monster manusia, yang dibuat dengan menyatukan, lewat jahitan, serpihan-serpihan dan potongan-potongan mayat, lalu dihidupkan kembali dengan tenaga listrik dan petir. Tetapi monster manusia ini, yang diciptakan seorang profesor gila yang bernama Frankenstein, hanya ada dalam novel karya Mary Shelley yang edisi keduanya terbit 1831 di Inggris. Pesan novel ini jelas: dengan dijahit, serpihan-serpihan mayat bisa dihidupkan lagi, kematian bukan akhir! Tentu saja, pesan ini hanya berlaku dalam dunia dongeng.

Cukuplah sudah saya memperlihatkan kepada anda bahwa kisah skriptural tentang Taman Eden dan semua kejadian yang dikisahkan di dalamnya adalah dongeng belaka.

Setiap kisah skriptural, juga yang berupa kisah fiktif atau fantasi, ditulis pasti dengan suatu tujuan oleh si penulisnya dulu. Nah, apa tujuan penulisan kisah fiktif Taman Eden?

Penulis kisah Tamen Eden dalam Kejadian 2:8-3:24, yakni mazhab Yahwis yang bekerja pada abad sepuluh SM di istana raja Daud/raja Salomo, sudah lama memperhatikan banyak kejadian yang berkaitan dengan lingkungan hidup, manusia, binatang, kerja keras, moralitas, doktrin agama, nafsu berahi, persalinan perempuan, kematian, dan lain-lain.

Semua yang mereka lihat, mereka renungkan dalam-dalam, dengan banyak tujuan, salah satu di antaranya adalah untuk menemukan jawaban mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, sebuah pertanyaan yang juga sangat mengganggu pikiran Śākyamuni Siddhārtha Gautama di tempat dan zaman yang lain (563-483 SM) yang membuatnya meninggalkan istana lalu masuk ke dalam kehidupan tapa brata untuk mencari jawaban-jawaban yang dapat membebaskan manusia dari dukkha./4/

Lalu mereka, para sastrawan Yahwis ini, memberi jawab dengan menulis kisah tentang asal-usul (etiologi) yang sepenuhnya fiktif spekulatif. Dus, kisah Taman Eden historisnya tidak dimulai di permulaan kehidupan di zaman yang sangat lampau, tetapi dimulai di abad sepuluh SM di negeri Israel.

Para sastrawan Yahwis ini menemukan satu jawaban teologis sangat sederhana dan satu dimensi bahwa semua penderitaan manusia adalah akibat dari ketidaktaatan Hawa dan Adam terhadap ketetapan primordial Allah! Selain etiologi, mereka juga mengajukan teleologi: tujuan akhir kehidupan manusia adalah kematian, sebagai suatu akibat yang niscaya dari ketidaktaatan Adam dan Hawa! Betapa sendu kisah yang mereka tuturkan.

Kalau Gautama Buddha, setelah dia tercerahkan dan menemukan akar-akar timbulnya penderitaan, memberikan jalan-jalan keluar dari penderitaan yang musti dijalankan sendiri dengan berdisiplin oleh orang-orang yang mau mendengarkannya,/5/ para sastrawan Yahwis ini sama sekali tak memberi jalan keluar apapun, selain rasa putus asa yang dalam terhadap kemalangan manusia, Bumi dan makhluk-makhluk lainnya. Para sastrawan ini hanya memberikan etiologi dan teleologi yang suram, tapi tak menawarkan soteriologi, doktrin tentang ihwal bagaimana manusia bisa mencapai keselamatan (Yunani: sōtēria), terlepas dari penderitaan./6/

Nah, salah satu hal yang para sastrawan ini selalu temukan dan amati pada abad sepuluh SM adalah kenyataan bahwa ketika setiap manusia mati, lalu mayatnya dikuburkan, mayat ini segera mulai membusuk lalu perlahan menjadi satu dengan tanah.

Dari pengamatan ini, mereka lantas menyimpulkan: kalau mayat akhirnya menyatu dengan tanah atau menjadi bagian dari tanah/Bumi, sudah mustinya manusia berasal pada awal sekali dari tanah, dari Bumi! Ini adalah cara berpikir siklikal yang umum ditemukan dalam masyarakat agraris zaman kuno, yang hidup di bawah kendali musim-musim yang datang dan pergi silih berganti, sebagai siklus yang abadi. Tentu saja, sains modern yang telah membuat kita menemukan bahwa DNA adalah struktur kimiawi esensial pembentuk kehidupan,/7/ belum muncul ketika kisah skriptural Taman Eden ditulis. Dan kalau anda ingin memasukkan unsur DNA ke dalam kisah suci tentang asal-usul manusia, anda perlu menyusun kisah yang sama sekali berbeda dari kisah Taman Eden skriptural. Susunlah!


Catatan-catatan

/1/ Lihat L. Vigilant et al., “African Populations and the Evolution of Human Mitochondrial DNA”, dalam Science 253, no. 5027 [1991], hlm. 1503-1507.

/2/ Pernyataan Augustinus ini dikutip dalam Charles Freeman, The Closing of the Western Mind: The Rise of Faith and the Fall of Reason (London: Heinemann, 2002), hlm. vii.

/3/ Gaya berkisah dalam kitab-kitab suci, yang melukiskan Allah dalam sifat dan rupa manusia disebut gaya berkisah antropomorfis. Kitab suci Perjanjian Lama sangat kaya dengan antropomorfisme, yang tentu saja tak boleh diterima atau diperlakukan secara harfiah.

/4/ Kata sanskerta dukkha secara harfiah berarti rasa pedih yang ditimbulkan oleh cucukan ujung-ujung tulang dan serpihan-serpihan tulang yang tajam pada daging yang mengitarinya ketika tulang paha seseorang patah di dalam.

/5/ Gautama Buddha menawarkan Jalan Mulia Rangkap Delapan untuk manusia mencapai pencerahan diri  dan pembebasan dari penderitaan, yakni: (1) berpandangan benar; (2) berkeinginan benar; (3) berbicara benar; (4) bertindak benar; (5) hidup benar; (6) berusaha benar; (7) berpikiran benar; (8) berkonsentrasi benar. Jalan pertama dan kedua termasuk hikmat (sanskerta: prajnā); jalan ketiga, keempat dan kelimat termasuk moralitas (Sanskerta: sīla); jalan keenam, ketujuh dan kedelapan termasuk meditasi (Sanskerta: samādhi).

/6/ Usaha teologis menelusuri sebab-musabab adanya penderitaan, dan pertanyaan-pertanyaan di mana Allah yang maha pengasih dan maha adil berada di tengah realitas penderitaan manusia, dan kepada siapa Allah berpihak apakah kepada penyebab penderitaan atau kepada manusia yang menderita, masuk ke dalam bidang perenungan teologis yang dinamakan teodise (dari kata Yunani theos = Allah, dan dikē = keadilan). Dalam bukunya yang berjudul Gods Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question, Why We Suffer (New York: HarperCollins Publishers, 2008), Bart D. Ehrman memperlihatkan Alkitab gagal menjawab pertanyaan terpenting manusia apa sebabnya atau mengapa manusia menderita.

/7/ DNA (Deoxyribonucleic acid) adalah asam nukleat yang memuat informasi-informasi genetik yang digunakan untuk mengembangkan dan mengfungsikan semua organisme hidup yang dikenal. Segmen-segmen DNA yang membawa informasi genetik ini disebut gene. Bersama RNA dan protein, DNA adalah salah satu dari tiga makromolekul yang esensial bagi semua bentuk kehidupan yang dikenal. 



Sunday, December 25, 2011

Kita adalah aliens di planet Bumi: Proyek SETG NASA

oleh ioanes rakhmat,
pencinta jagat raya, dan seorang alien di muka Bumi

Kaum agamawan monoteistik yang memiliki kitab-kitab suci yang berpangkal pada kitab suci Yahudi yang dinamakan Tenakh (atau Perjanjian Lama, dalam istilah Kristen), meyakini bahwa asal-muasal manusia, homo sapiens, adalah Taman Eden, dan mereka ada karena diciptakan oleh Allah langsung besar sebagai manusia laki-laki Adam dan manusia perempuan Hawa; tentu keduanya tak memiliki pusar. Tetapi sains mempunyai penjelasan lain yang berbeda tentang asal-usul manusia.  

Bukan sains evolusi Darwinian yang kali ini saya mau share ke anda, tetapi sains yang fokus kajiannya adalah angkasa luar.Tentu saja, sains yang terfokus pada antariksa ini juga akan dilecehkan oleh para pembela kisah Taman Eden, sama seperti mereka, di ujung tahun 2011 ini, telah dengan sangat menyedihkan melecehkan sains evolusi Darwinian, yang kini sudah dibenarkan dan didukung oleh banyak sains lain, dan telah melahirkan sains-sains turunannya yang sangat solid. 

Ketimbang mempelajari sains evolusi langsung dari Charles Darwin/1/, atau dari biologiwan termasyhur masa kini Richard Dawkins,/2/ kaum agamawan Muslim di Indonesia (bahkan Muslim global) masa kini umumnya malah, memprihatinkan sekali, memilih untuk mempercayai tulisan-tulisan anti-sains evolusi dan sains Quranik”  (pengganti sains evolusi) dari Adnan Oktar yang lebih dikenal sebagai Harun Yahya,/3/ yang sebenarnya tidak memiliki kelaikan akademik sama sekali dalam menulis buku-buku anti-sains evolusi./4/   

Jika semua fakta sains yang sudah dibeberkan sains evolusi Darwinian dan sains-sains lain yang berkaitan dilecehkan oleh para pembela mitos Taman Eden, sains-sains angkasa luar ini juga akan menerima nasib yang sama. Sejujurnya harus dikatakan, para pembela kisah Taman Eden tidaklah lagi dapat hidup di dunia modern jika mereka konsisten mempertahankan mentalitas anti-sains mereka. Nah, mari sekarang kita fokus pada uraian berikut.



Karang di atas adalah pecahan meteor yang terbentuk milyaran tahun lalu sebelum jatuh ke Bumi. Karang ini berisi sesuatu yang kemudian memunculkan sebuah pandangan saintifik yang revolusioner tentang ihwal dari mana manusia berasal. 

Para peneliti NASA telah melakukan test terhadap 12 pecahan meteor semacam ini, dan mereka menemukan pecahan-pecahan meteor ini kaya dengan unsur carbon yang ditemukan berisi zat-zat kimia yang serupa dengan salah satu komponen penting DNA, struktur kimiawi terpenting yang membentuk kehidupan. Sebelumnya banyak orang menganggap DNA dalam pecahan-pecahan meteor ini muncul karena pecahan-pecahan ini sudah terkontaminasi oleh zat-zat kimiawi yang ada di Bumi; tetapi kajian-kajian yang mutakhir telah tiba pada suatu kesimpulan bahwa DNA dalam meteorit-meteorit tersebut berasal dari antariksa.   

Jadi, sudah dipastikan oleh para saintis, DNA yang terdapat dalam bebatuan meteorit yang ditemukan di Antartika dan Australia itu, berasal dari angkasa luar, persisnya dari planet Mars!/5/ Sangat boleh jadi, karena bebatuan meteor pasti sudah masuk ke Bumi pada awal planet ini terbentuk 4,5 milyar- 5 milyar tahun lalu, kita semua, humans, memiliki asal-usul paling awal di angkasa luar, bukan di planet Bumi ini sendiri, dalam bentuk DNA yang dihasilkan di antariksa. 

Lagi pula, sudah menjadi pengetahuan umum bagi kita dewasa ini bahwa setiap atom dalam tubuh kita pun semula berasal dari supernovae, bintang-bintang yang meledak. Kalau big bang yang terjadi 13,72 milyar tahun lalu menghasilkan zat-zat kimiawi yang paling ringan (hidrogen, deuterium, helium dan lithium), supernovae yang terjadi belakangan membuat zat-zat kimiawi yang lebih berat yang terdapat dalam inti bintang-bintang (carbon, nitrogen, oksigen, besi, dan lain-lain) tersebar mengisi ruang-ruang jagat raya. Dari unsur-unsur kimiawi yang semula ada dalam bintang-bintang inilah, khususnya unsur carbon, DNA semua bentuk kehidupan terbentuk. Sungguh,  elemen-elemen DNA kita, dan DNA semua bentuk kehidupan, memang pada awalnya terbentuk di angkasa luar. Maka, tepatlah apa yang ditulis oleh fisikawan teoretis Lawrence M. Krauss, bahwa Kita semua, dalam arti harfiah, adalah anak-anak bintang-bintang, dan tubuh kita terbuat dari debu-debu bintang.”/6/  

Setelah terbentuk di angkasa, tentu kawasan yang paling memungkinkan elemen-elemen DNA ini berkembang ketika sudah masuk ke Bumi, lalu jauh sesudahnya memunculkan homo sapiens, adalah kawasan laut. Tetapi para ahli astrofisika, astrobiologi  dan astrokimia sudah tiba pada sebuah kesimpulan bulat bahwa air di permukaan Bumi kita juga kiriman dari angkasa luar./7/ 

Planet kita aslinya adalah sebuah planet gersang bebatuan hampir 100 persen. Air datang belakangan, dan hanya sedikit sekali jumlah massanya dibandingkan besarnya massa Bumi secara keseluruhan. Atom oksigen dan atom hidrogen di angkasa luar sudah terbentuk pada suatu tahap evolusi kosmologis, lalu lewat meteor dan komet, secara kebetulan menerjang masuk ke Bumi tanpa diundang. 

Puing-puing jagat raya inilah, komet dan asteroid, kendaraan angkasa yang membawa air dan DNA mikroorganisme masuk ke planet Bumi. Dari air dan DNA antariksa, kita kemudian dilahirkan di Bumi, sebagai makhluk asing nan sendiri di planet ini!

Mungkin anda, seperti saya, suka menatap langit malam yang cerah, dan memandang lama-lama banyak benda terang di angkasa malam yang kelam. Kenapa? Bisa jadi kita semua, dulu secara intuitif, dan kini dapat dijelaskan secara saintifik, merasa bahwa kampung halaman kita yang sebenarnya adalah angkasa luar! Kita semula adalah E.T. beings

Jangan sedih, tapi happy-lah, jika anda rindu berada di ruang-ruang antarbintang dan antargalaksi!  

Bisa jadi, pengalaman spiritual yang diklaim dialami banyak orang, yang disebut OBE, “out of body experience”, pengalaman keluar dari tubuh lalu melanglang jagat raya, terkoneksi erat dalam otak kita dengan pengetahuan intuitif kita bahwa kita berasal dari antariksa!/8/Kita semua, humans, adalah aliens di planet Bumi! Human aliens!

Sains astrokimia, astrobiologi dan geokimia menjurus pada satu kesimpulan bahwa DNA kita berasal dari antariksa. Dus, ada banyak alasan jika NASA kini menjalankan sebuah proyek yang diberi nama SETG, the Search for Extra-Terrestrial Genomes, proyek pencarian genom di antariksa, khususnya di planet Mars.

Proyek NASA yang dinamakan SETG ini dikhususkan untuk menguji hipotesis bahwa kehidupan di planet Mars, jika ada, memiliki nenek moyang yang sama dengan kehidupan di planet Bumi. Bukti-bukti makin bertambah yang menunjukkan bahwa mikroba-mikroba yang dapat bertahan hidup, dapat ditransfer di antara dua planet ini, suatu kemungkinan yang sebagian didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi lintasan-lintasan meteor dan kajian-kajian magnetisasi yang mendukung hanya pemanasan yang moderat pada inti-inti meteor./9/ 

Logis, jika kita berharap, proyek ini akan nantinya diperluas oleh NASA ke planet-planet lain manapun yang terjangkau, yang diduga berisi bentuk-bentuk kehidupan mikrobial jenis apapun. Sementara ini, bulan-bulan dari planet-planet raksasa dalam tata surya menjadi objek-objek kajian yang menantang dan memberi harapan. 

Diperkirakan di bawah permukaan lautan-lautan di bulan Europa, sebagai salah satu satelit Galilea dari planet Jupiter, yang kawasannya sangat asam, terdapat mikroba-mikroba. Selain itu, bulan terbesar planet Jupiter, yang diberi nama Ganymede, bersama bulan lainnya Callisto, memiliki lautan-lautan yang jauh di bawah permukaannya yang tak terkena cahaya Matahari diyakini terdapat mikroba-mikroba. Eko-sistem dalam laut-laut dalam dari bulan-bulan planet Jupiter ini serupa dengan eko-sistem yang terdapat jauh di bawah permukaan laut-laut dalam dari planet Bumi. Jadi, dianggap bahwa sama seperti eko-sistem di kedalaman laut-laut dalam yang tak terkena cahaya Matahari dari planet Bumi berisi bentuk-bentuk kehidupan mikroba, demikian juga halnya dengan tempat-tempat di kedalaman laut-laut dalam dari tiga bulan planet Jupiter ini. European Space Agency (ESA) lewat wahana misi besarnya JUICE (Jupiter Icy Moons Explorer) akan fokus pada ketiga bulan planet Jupiter ini untuk mencari dan menemukan lingkungan-lingkungan alam yang memungkinkan munculnya kehidupan.

Di samping itu, pencarian kehidupan mikrobial juga diarahkan ke dua buah bulan dari antara 53 bulan planet Saturnus, yakni Titan sebagai bulan terbesarnya yang atmosfir padatnya mengandung materi organik, gas hidrogen dan gas-gas lainnya; dan bulan Enceladus, bulan terbesar keenam, yang berisi senyawa-senyawa organik sederhana. Ketika wahana antariksa Cassini-Huygens melakukan lintasan orbit beberapa kali pada bulan Enceladus pada tahun 2005, ditemukan gumpalan-gumpalan besar awan yang bermuatan air. Kajian-kajian lebih jauh, seperti yang dilakukan April 2012, pada banyak geyser es kutub selatan bulan ini berhasil memindai adanya uap air, partikel es, garam dan senyawa-senyawa organik di segala tempat yang diteliti. Tingkat salinitas di sana sama dengan yang terdapat di lautan-lautan planet Bumi. Misi astrobiologi terbesar dan terpenting dan yang paling memberi harapan dalam mencari dan menemukan kehidupan mikroba ditujukan ke bulan Enceladus. Jenis ekologi bulan Enceladus serupa dengan ekologi yang terdapat di kedalaman laut-laut dalam planet Bumi. Pengkajian lebih cermat dan lebih dekat atas bulan Enceladus akan diadakan Cassini pada Oktober 2015.
 
Rover Curiosity, yang akan didaratkan di planet Mars pada 06 Agustus 2012. 
Foto ini diambil pada 3 Juni 2011 ketika Curiosity sedang dalam tahap uji-coba 
di Spacecraft Assembly Facility di Jet Propulsion Laboratory, NASA, 
di Pasadena, California, USA

Ketahuilah, dalam rangka proyek SETG, NASA pada Sabtu pagi, 26 November 2011, telah meluncurkan sebuah wantariksa berbentuk piring (bak UFO), yang membawa sebuah mesin penjelajah planet Mars, rover, berbentuk mobil roda enam seberat 1 ton, yang diberi nama Curiosity. 

Rover Curiosity ini, yang diberi energi bukan dari cahaya matahari tapi dari bahan bakar plutonium, yang akan berfungsi sebagai laboratorium sains (the Mars Science Laboratory), sudah dengan mulus didaratkan di planet ini 6 Agustus 2012, setelah wantariksa yang membawanya menempuh perjalanan terbang sejauh 354 juta mil selama 8,5 bulan, untuk menyelidiki langsung di tempat, persisnya di kawah Gale, adakah jejak-jejak dan tanda-tanda kehidupan di planet ini, yang tersimpan di dalam molekul-molekul organik dan isotop-isotop carbon-12 dan carbon-13./10/ (Foto di sebelah kiri ini mendebarkan hati, diambil oleh Curiosity sendiri pada 1 November 2012, di sekitar kawah Gale, planet Mars.

Dalam jangka panjang ke depan, proyek SETG NASA akan disusul dengan pendaratan astronot-astronot di planet Mars secara bertahap; para astronot ini akan tinggal lama di planet merah ini  untuk mengubah kondisi alam planet Mars menjadi serupa dengan kondisi alam planet Bumi sehingga Mars nantinya akan menjadi rumah kedua homo sapiens. Kegiatan-kegiatan teknologis semacam ini dinamakan terraforming. Tetapi terraforming, dalam perencanaan NASA, baru akan bisa dilakukan dalam abad ke-23, masih jauh di depan. Tetapi, bagaimana kalau ada perusahaan penerbangan antariksa swasta yang akan dalam waktu pendek di depan ini mendaratkan astronot-astronot di planet Mars dan mulai melakukan terraforming dalam abad ke-21 ini? Inilah yang saya mau share ke anda.

Perusahaan penerbangan antariksa swasta Belanda Mars One pada April 2023 akan mengirim 4 astronot ke Mars yang tak akan kembali lagi ke planet Bumi, kampung halaman mereka. Ketika mereka sudah tiba di Mars, mereka akan bekerja giat mempersiapkan segala sesuatu dan membangun pemukiman-pemukiman untuk manusia./11/

Selanjutnya, setiap 2 tahun sekali Mars One akan mengirim 4 orang astronot tambahan ke Mars, sehingga sampai dengan tahun 2033 akan sudah ada 20 orang yang berdiam di planet Mars, dan tak pernah lagi pulang ke planet Bumi.

Untuk menggolkan proyek jangka panjang ini, Mars One akan bekerja sama dengan media reality show Big Brother, dan mereka juga mendapatkan dukungan dari fisikawan pemenang Hadiah Nobel Gerard 't Hooft.

Mulai tahun depan ini, 2013, Mars One akan mencari dan menyeleksi serta melatih calon-calon astronot yang akan terbang ke Mars. Apakah anda mau mendaftarkan diri? Sebelum anda mendaftarkan diri, ketahuilah, jika anda sudah mendarat di planet Mars, dan harus memulai kehidupan dan bekerja di sana, anda sungguh-sungguh berada di suatu lingkungan alam yang sangat keras, tak bersahabat, dan sangat asing bagi anda. Tanpa persiapan jangka panjang yang sangat matang, anda pasti akan gagal hidup di Mars. Karena kesadaran semacam inilah, kini NASA dan lembaga-lembaga pengeskplorasi angkasa luar lainnya sedang terus-menerus melatih para calon astronot yang nanti akan terbang ke planet merah ini dan mendarat di sana, lalu bekerja untuk waktu yang cukup lama. Mereka dilatih untuk bertahan hidup dan bekerja efektif di tempat-tempat di Bumi (alamiah maupun buatan) yang dipandang menyamai kondisi-kondisi keras alam planet Mars./12/

NASA sendiri hingga saat ini dan sekian dekade ke depan belum sanggup melaksanakan apa yang akan dilaksanakan perusahaan Mars One. Ini sungguh suatu perkembangan yang mendebarkan hati, yang dapat membawa anda ke suasana batin yang tak menentu. Kalau dulu orang menjelajah lautan-lautan di muka Bumi untuk menemukan benua-benua baru, kini orang akan segera menjelajah antariksa untuk membangun koloni-koloni baru di planet-planet lain. 

Jika keberadaan bentuk-bentuk kehidupan apapun dipandang terkait dengan keberadaan air, maka sudah dipastikan bahwa planet Mars pada kondisi masa kini memiliki air yang aktif./13/  

Terbuka banyak kemungkinan bahwa di antariksa dalam jagat raya kita tersimpan tidak hanya satu jenis DNA, tetapi sangat beragam, sejalan dengan banyak ragamnya lokasi dan kondisi yang potensial menyimpan berbagai bentuk kehidupan antariksa, sama seperti kondisi di Bumi./14/

Begitu juga, dengan bertumpu pada konsep
kosmologis mutakhir multiverse, kita dapat menyatakan bahwa di dalam jagat-jagat raya paralel yang memiliki hukum-hukum alam dan konstan yang berbeda dari yang berlaku di jagat raya kita, seperti ditegaskan oleh fisikawan Victor J. Stenger, dapat ada bentuk-bentuk kehidupan lain yang tidak sama dengan yang kita kenal di Bumi atau di dalam jagat raya kita sendiri./15/

Bukankah suatu pengetahuan dan penemuan yang mempesona luar biasa jika nanti terbukti makin kuat dan tak terbantahkan bahwa kita semua berasal-usul dari angkasa luar, dan di sana, di ruang antarplanet dan antarbintang, dan di dalam planet-planet dan bintang-bintang sendiri, ternyata terdapat berbagai jenis bentuk-bentuk kehidupan, yang tidak harus sama dengan bentuk-bentuk kehidupan yang ada di planet Bumi? Mungkinkah di antara berbagai jenis bentuk kehidupan antariksa ini, terdapat spesies-spesies cerdas aliens yang siap bertemu kita, entah sebagai lawan atau pun sebagai kawan? Saya ingin pertanyaan ini djawab dengan positif: Ya, kita akan bertemu dengan mereka suatu saat sebagai sesama kawan.

Ihwal bagaimana anda akan memperlakukan mitos Taman Eden di depan fakta-fakta sains yang sudah saya bentangkan di atas, saya serahkan pada keputusan anda sendiri, dan ujilah mana yang anda mau ikuti.  

Melecehkan dan mencemooh orang-orang yang menerima sains evolusi sebagai keturunan-keturunan monyet, sudah tak relevan lagi dan sama sekali meleset, sebab baik manusia maupun monyet, bahkan semua bentuk kehidupan, memiliki tubuh yang unsur-unsurnya memang datang dari bintang-bintang yang meledak. Tanpa supernovae, tak ada kehidupan apapun dalam jagat raya kita.



Baca juga
Proyek SETI

/1/ Charles Darwin, On the Origin of the Species (terbit pertama kali 1859; edisi paperback 17 Desember 2011); idem, The Descent of Man and Selection in Relation to Sex (Kindle edition; 24 Maret 2011).

/2/ Richard Dawkins, The Selfish Gene (New York: Oxford University Press, 1976); idem, The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution (New York, etc.: Free Press, 2009).

/3/ Di luar mitos yang dibangun oleh Harun Yahya sendiri dan oleh para pendukungnya tentang siapa dirinya, ihwal siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana kehidupannya yang sebenarnya yang dirahasiakan, lihat tulisan kritis Halil Arda yang berjudul Sex, flies and videotape: the secret lives of Harun Yahya, dan tersedia online di http://newhumanist.org.uk/2131. Lihat juga tulisan sejenis di http://whoisharunyahya.wordpress.com/harun-yahya-tries-to-hide-his-past/. Artikel tentang Harun Yahya di Wikipedia versi Indonesia perlu dibaca juga http://id.wikipedia.org/wiki/Harun_Yahya.

/4/ Harun Yahya tidak memiliki kualifikasi akademik sama sekali untuk menghasilkan tulisan-tulisan anti-sains evolusi; sebuah contoh kekeliruannya sekaligus ketidakjujurannya dalam karyanya Atlas of Creation terpasang online di http://www.museumofhoaxes.com/hoax/weblog/permalink/the_fishing_lures_of_faith/ . Sebetulnya Harun Yahya tak pernah melakukan kajian lapangan sama sekali (seperti dulu dilakukan dalam waktu panjang oleh Charles Darwin) ketika dia menyusun Atlas of Creation. Karyanya ini, yang dibagi-bagi olehnya dengan cuma-cuma ke banyak saintis terkenal dunia dan lembaga-lembaga keilmuwan internasional, hanyalah sebuah kumpulan foto-foto yang diambil dari berbagai sumber olehnya dengan tanpa izin. Foto-foto yang dikumpulkan olehnya diberi penjelasan yang menyesatkan, bahkan di sana dan di sini direkayasa atau dipelintir, hanya untuk menunjukkan, lewat foto-foto, bahwa berbagai macam makhluk hidup sejak dulu hingga kini tak mengalami perubahan bentuk fisik sama sekali; dus, tidak ada evolusi biologis spesies. Ketika karyanya ini dievaluasi oleh para saintis sejati, terlihatlah berbagai kesalahan dan rekayasa di sana dan di sini. Setelah mendapat banyak kecaman, Harun Yahya memperbaiki buku mewahnya ini; lalu muncullah seloroh dari sejumlah saintis sejati bahwa karya Harun Yahya yang anti-evolusi ternyata malah berevolusi karena diperbaiki olehnya di sana di sini sehingga berubah secara signifikan dari versi sebelumnya.

/5/ Info mutakhir dari NASA tentang hal ini, dapat dibaca di http://news.yahoo.com/blogs/technology-blog/nasa-says-might-aliens-204234402.html, dan jika anda mau lihat juga gambar-gambarnya, masuk ke http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2023946/Nasa-study-looking-meteorites-claims-aliens.html. Reportase mutakhir (24 Mei 2012) tersedia online di http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-18196353. Lihat juga terutama jurnal Science DOI: 10.1126/science.1220715  (03 May 2012) 

/6/ Lawrence M. Krauss, A Universe from Nothing: Why There Is Something Rather Than Nothing (New York: Free Press, 2012), hlm. 17. 

/7/ Lihat terutama laporan penelitian dalam majalah Nature 464, hlm. 1320-1321, Issue 7293, 29 April 2010, berjudul “Water Ice and Organics on the Surface of the Asteroid 24 Themis”; bisa diunduh dari http://www.nature.com/nature/journal/v464/n7293/abs/nature09029.html. Menurut beberapa kajian yang sudah dilakukan sebelumnya, persediaan air di planet Bumi dikirim oleh asteroid (komet dan meteor) pada suatu saat setelah terjadi tabrakan benda-benda langit yang menghasilkan bulan kita (yang kini sudah tak berisi air karena semuanya menguap pada saat tabrakan ini). Lihat Mottl, M.J., Glazer, B.T., Kaise, R.I., & Meech, K.J., “Water and astrobiology” , dalam Chem. Erde Geochem. 67, hlm. 253-282 (2008); Drake, M.J. & Campins, H., dalam Comets and Meteorites (eds. Lazzaro, D., Ferraz-Mello, S., & Fernandez, J.A.), hlm. 381-394 (Cambridge Univ. Press, 2006); Morbidelli, A., et al., “Source regions and time scales for the delivery of water to earth”, dalam Meteorit. Planet. Sci. 35, hlm. 1309-1320 (2000). Lihat juga berita yang lebih mutakhir tentang temuan awan air dalam jumlah massa yang luar biasa besar di sebuah kuasar yang terbentuk kurang lebih 1 milyar tahun setelah big bang (dinamakan kuasar APM 08279+5255 ); beritanya tersedia online di http://www.science20.com/news_articles/apm_082795255_largest_water_mass_universe_so_far-81124.

/8/ Tentang OBE, saya sudah membahasnya panjang lebar di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html.


/10/Lihat reportasenya di http://www.time.com/time/health/article/0,8599,2100310,00.html; dan penjelasan terperinci berjudul “Mega-rover ready to hunt for life signs on Mars” di http://www.newscientist.com/article/mg21228381.900-megarover-ready-to-hunt-for-life-signs-on-mars.html?full=true. Selain itu, gambaran yang lebih luas tentang Curiosity dan kondisi-kondisi lingkungan alam planet Mars dapat diperoleh di http://www.time.com/time/health/article/0,8599,2100299,00.html.    

/11/Berita ini kebetulan saya dapatkan di situs http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2154336/New-Mars-One-mission-aims-establish-human-colony-Red-Planet-2023.html. Bacalah dengan happy.

/12/ Tentang kegiatan-kegiatan pelatihan calon-calon astronot yang akan terbang dan mendarat di planet Mars lalu bekerja di sana, lihat antara lain http://www.good.is/posts/mars-500-training-astronauts-for-a-manned-mission-to-mars/, http://www.space.com/11871-mars500-photos-russia-mock-mars-mission.html, dan juga http://www.space.com/13536-9-coolest-mock-space-missions-countdown.html.
 
/13/ Simak serial reportase bergambar tentang planet Mars yang pada kondisi masa kini memiliki air, di http://www.time.com/time/photogallery/0,29307,2086992,00.html#ixzz1epv6kzaw.     

/14/Lihat artikel Anna Davison, “The most extreme life-forms in the universe”, 26 Juni 2008, di http://www.newscientist.com/article/dn14208-the-most-extreme-lifeforms-in-the-universe.html.

/15/ Victor J. Stenger, Has Science Found God? The Latest Results in the Search for Purpose in the Universe (Amherst, N.Y.: Prometheus Books, 2003) hlm. 156, 183-84.



Saturday, December 24, 2011

Ioanes Rakhmat's Honest Testimony

Sekian teman baru saja kontak saya lewat beberapa media, bertanya, Mengapa saya bertobat (converted) ke Zen Buddhisme. Bukankah anda a freethinker? Berikut ini saya mau klarifikasi.

Zen Buddhisme itu, kendatipun di Indonesia digolongkan sebagai agama, sebetulnya bukan agama dalam pengertian konvensional teistik. Dalam bentuk aslinya, Zen Buddhisme adalah filsafat asah otak, lewat meditasi intensif yang dipandu koan (kisah-kisah dialog atau kisah-kisah debat). Cara meditatif seperti ini dinamakan zazen. Beberapa teman bertanya, bagaimana/apa itu zazen. Nah, untuk tahu, simak saja di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/zazen-jalan-menuju-pencerahan-1.html

Dalam Zen, tak ada teologi (doktrin ttg Allah), apalagi teologi yang antropomorfik, yang menggambarkan 5Allah dalam sifat dan bentuk manusia.Tak ada penyembahan kepada Allah dalam Zen; kalaupun ada sesuatu yang diagungkan, itu adalah the laws of nature, hukum-hukum alam. Kalaupun mau disebut sebagai “Allah”, Allah dalam Zen adalah Allah Baruch de Spinoza, yang pernah menyatakan Deus sive Natura. Bagi Spinoza, hukum-hukum alam (natura) dan Allah (Deus) tidak bisa dipertentangkan, dengan menerima yang satu dan membuang yang lainnya.

Aku ingin berhati putih seperti domba ini, tetapi cerdas sehingga tidak bisa diguntingi bulunya tanpa daya, dan tidak diam saja ketika mau dibantai...


Zen Buddhisme dan meditasi zazen adalah “filsafat” dan praktik spiritual yang tua. Nah, jika dibandingkan dengan monoteisme, jelas Zen bukanlah agama dalam pengertian yang sama.

Siapa saja, tanpa perlu meninggalkan agama lamanya, bisa berlatih zazen dalam biara-biara Zen, yang ada di Indonesia. Atau bisa juga berlatih secara otodidak dengan panduan buku-buku standard Zen; seperti anda juga bisa otodidak dalam memahami semua agama lain.

Nah, saya tidak menyatakan converted to Zen Buddhism; sebab di dalam rumah Zen saya bisa berkelana ke mana saja dalam suatu zazen.

Semua agama punya koan, yakni kisah-kisah yang umumnya berbentuk dialog atau debat. Nah, dalam zazen, koan dari agama manapun bisa dipakai untuk mencapai pencerahan budi dan perubahan perilaku.

Ada banyak aliran dalam Buddhisme, dari yang mayoritas sampai varian-varian minornya. Nah, Zen yang saya sekarang tekuni, saya ambil Zen yang tidak mengenal figur penyelamat atau penebus dosa.

Saya tak suka dengan doktrin Kristen tentang Yesus Kristus yang sudah mati sebagai sang penyelamat untuk menebus dosa manusia. Bagaimana mungkin, diimani dengan sekuat-kuatnya sekalipun, bahwa kematian Yesus dari Nazareth di kayu salib di abad pertama bisa menyelamatkan tujuh milyar lebih manusia di abad ke-21 ini? 

Diselamatkan dalam arti apa? Apakah dalam arti dimasukkan ke dalam sorga setelah kematian karena percaya pada Yesus Kristus? Jika ini yang dimaksudkan, bagi saya keyakinan ini sama sekali tidak signifikan, sebab tidak ada sesuatu apapun yang bisa kita perbuat setelah kematian, yang punya makna untuk dunia dan kehidupan kita sekarang ini. Boleh saja anda seribu kali masuk sorga setelah kematian; tapi jika selama kehidupan anda dalam dunia sekarang ini anda tidak berguna sama sekali untuk umat manusia dan dunia, anda tetaplah seorang yang telah sia-sia ada dalam dunia. Sorga tanpa dunia, kosong makna! Dunia tanpa sorga, kesempatan berkarya cerdas dan welas!  

Apa gunanya hukuman bengis di neraka abadi, dan apa gunanya kenikmatan kekal di sorga, jika para penghuni keduanya sudah tidak bisa lagi memberi sumbangan-sumbangan penting untuk kehidupan di permukaan Bumi: untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucu manusia, untuk membangun peradaban dunia, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk berkarya besar dalam masyarakat dan dunia, untuk menolong orang-orang sakit, bodoh dan miskin, untuk menjadi manusia yang manusiawi? 

Saya sudah menulis cukup panjang tentang doktrin sorga dan neraka, lalu saya menyimpulkan bahwa doktrin ini tidak signifikan sama sekali bahkan bisa menjadi sumber ideologis berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan atas nama suatu agama, juga oleh orang Kristen. Bacalah di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/04/betulkah-doktrin-tentang-surga-dan.html.

Yang sangat dalam menimbulkan penderitaan dan azab, hemat saya, adalah neraka-neraka sungguhan yang ada di muka Bumi ini: perang, konflik-konflik keagamaan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan, sakit-penyakit, berbagai bentuk diskriminasi, dan masih banyak lagi! Yang dapat membahagiakan dengan real adalah ketika anda ikut terlibat membangun kehidupan sorga di muka Bumi dengan real, dengan melenyapkan kemiskinan, azab dan kebodohan, memperjuangkan dan menegakkan perdamaian dan persaudaraan antar-manusia di dunia ini, mengembangkan sains dan teknologi yang membuat kehidupan menjadi lebih baik dan lebih sehat dan lebih bertahan, dengan menjaga alam dan lingkungan kehidupan untuk tetap bersahabat dengan semua bentuk kehidupan!  

Atau, apakah diselamatkan dalam arti mengubah watak dan kelakuan manusia, dari jahat menjadi baik, secara magis? Faktanya, kematian Yesus di kayu salib tidak punya kekuatan magis apapun untuk mengubah karakter manusia, tidak mujarab, sejauh si manusianya tidak punya komitmen pribadi untuk mengubah watak dan kepribadiannya sendiri. Faktanya, kapan pun dan di manapun juga selalu ada sangat banyak orang Kristen yang tetap saja berwatak buruk, jahat dan keji. Ketahuilah, para kapitalis Kristen, yang bekerja sebagai para pengusaha atau sebagai para rohaniwan, sangat banyak dalam dunia kita masa kini, dan Tuhan mereka yang sebenarnya adalah uang atau kapital. Ketamakan adalah watak mereka yang asli.  

Dan ingatlah, sangatlah logis (kendatipun egoistik dan hedonistik) jika banyak orang Kristen berpikir bahwa berbuat dosa sebanyak-banyaknya setiap hari tidak masalah, sebab setiap kali habis berbuat dosa, cukup datang dan berdoa kepada Yesus untuk mohon pengampunan, dan pasti akan diampuni oleh Yesus sebab dia mahapemurah dan sudah menanggung dosa mereka sekali untuk selamanya di kayu salib. Bahkan banyak juga yang berpendapat, meminta pengampunan dosa cukup saat mau meninggal saja, dan pasti akan diampuni Yesus kendatipun seluruh kehidupan sebelumnya berlumuran dosa dan kekejian. Kepercayaan terhadap anugerah murah ini jelas dipegang dengan senang oleh banyak orang Kristen.

Penolakan kuat saya terhadap doktrin keselamatan (soteriologi) Kristen ini sudah saya tuangkan dalam buku saya. Buku itu berjudul Membedah Soteriologi Salib (cetakan 2, 2010). Sekarang sudah tak ada stok-nya lagi karena laku keras! Dalam buku ini, alasan saya lainnya yang kuat saya ungkapkan untuk menolak soteriologi salib adalah bahwa soteriologi ini berdasar pada kekerasan dan kekejian yang dialami Yesus dengan real, yang diubah begitu saja oleh para penulis Perjanjian Baru sebagai jalan keselamatan lewat anugerah Allah. Bagi saya, kekerasan ya harus dilihat sebagai kekerasan, dan harus dihindari oleh semua orang yang punya kebaikan hati dan sifat-sifat kemanusiaan. Bukan dirasionalisasi untuk membangun sebuah agama baru, yang lepas dari Yudaisme.  

Selain itu, semakin seseorang itu matang dan tangguh jiwa dan mentalnya lewat berbagai gemblengan, maka, sebagai seorang mahatma, semakin dia ingin bertanggungjawab sendiri atas semua jalan kehidupannya, entah benar atau salah, entah baik atau buruk. Dia tak membutuhkan satu ekor kambing hitam apapun yang akan dijadikan sasaran tumpahan semua kelemahan dan kesalahannya. Dogma penebusan lewat kematian Yesus sangat membuka peluang besar untuk berubah jadi dogma tentang anugerah murah, yang melahirkan mentalitas pecundang, bukan pejuang, dalam diri para pemeluk dogma ini. 

Buku MSS itu sudah ditanggapi oleh sebuah buku lain, pesanan sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI), oleh seorang rohaniwan ortodoks Kristen pro-dogma, sementara saya sendiri critical of dogmas. Saya katakan hal ini, karena beberapa orang telah bertanya ihwal buku ini dan tujuan penulisannya.

Saya tak melihat keperluan orang untuk membaca buku tanggapan ini, sebab sama sekali tidak match dengan buku MSS saya itu. Buku Membedah Soteriologi Salib memakai pendekatan sains, analisis sejarah dan analisis teks, sedangkan buku tanggapannya memakai dogma-dogma. Sejarah dan sains masak dilawan dengan dogma tritunggal Kristen. Absurd, bukan?

Nah, karena bagi saya doktrin penyelamatan lewat figur besar yang mati disiksa adalah doktrin yang absurd dan memakai bahasa kekerasan, saya memilih rumah Zen yang pas. Zen Buddhisme yang saya sedang tekuni menekankan pelatihan diri sendiri untuk mencapai pencerahan akal lewat zazen. Tak ada figur penyelamat ilahi apapun di dalam Zen. Untuk tahu zazen, sekali lagi, simak saja di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/12/zazen-jalan-menuju-pencerahan-1.html

Jadi, sejak meninggalkan kekristenan ortodoks, dan sejak tak lagi berkunjung ke gereja, saya tak pindah ke agama konvensional teistik lain manapun. Bagi saya, pindah ke agama lain apapun, apalagi yang monoteistik, hanyalah keluar dari mulut ikan, lalu masuk ke mulut ubur-ubur. Agama adalah my past, neither my present nor my future.  

Tetapi saya tetap berkomitmen penuh untuk terus-menerus mendalami dan makin mengenal Yesus dari Nazareth yang telah mendapat sebuah ruang khusus dalam batin dan pikiran saya. Untuk keperluan mengenal lebih objektif sosok agung ini, saya harus habiskan waktu bertahun-tahun mencari-carinya di perpustakaan-perpustakaan besar di sejumlah universitas di negeri Belanda. Disertasi doktor yang telah saya tulis dan telah diterbitkan dengan judul The Trial of Jesus in John Dominic Crossan's Theory: A Critical and Comprehensive Evaluation (2005) adalah sebuah karya yang menunjukkan cinta saya pada Yesus. 

Karena saya mencintai Yesus, dia bagi saya ada bukan hanya untuk diimani dengan membuta, tetapi juga untuk dikaji secara ilmiah. Cinta dan kajian ilmiah tidak terpisah. Cinta mengikat saya dengan Yesus dalam keabadian, kajian-kajian ilmiah terhadap sosok besar ini memperluas pengenalan saya kepadanya terus-menerus, tanpa akhir. Karena saya mencintai Yesus, saya menyelidikinya secara ilmiah terus-menerus; dan karena saya mengkajinya tanpa akhir, saya makin mencintainya. Karena saya mencintai Yesus, segala hal yang baik yang diajarkan dan diperagakan Yesus, saya berusaha sungguh-sungguh aktualisasikan lewat kehidupan saya sekarang. Karena Yesus sungguh mencintai orang-orang yang berkesusahan, saya juga berusaha untuk menyayangi, dan menolong, setiap orang yang hidup dalam azab dan penderitaan, yang saya jumpai.   

Selain itu, saya juga akan terus melanjutkan kajian-kajian kritis saya terhadap dunia agama-agama hanya dengan satu tujuan: memberi berbagai sumbangan pemikiran untuk umat beragama apapun menjadi cerdas dalam beragama. Begitu juga, kemampuan akademik saya dalam bidang kajian Yesus sejarah, akan terus saya kembangkan supaya bisa bermanfaat buat gereja-gereja di Indonesia. Harapan saya adalah gereja-gereja tidak hanya mampu mengindoktrinasi umat mereka dengan dogma-dogma tentang Yesus, tetapi juga mampu memberikan kepada umat mereka hasil-hasil kajian ilmiah tentang siapa sebenarnya Yesus dari Nazareth sebagai sosok yang real hidup di negeri Palestina pada abad pertama Masehi. 

Tentu saja banyak pekerja gereja-gereja, khususnya para pendeta, yang terus-menerus menegaskan bahwa jika kajian-kajian ilmiah terhadap sosok Yesus disampaikan ke warga gereja umumnya, maka yang akan terjadi adalah: iman dan kepercayaan mereka terhadap Yesus menjadi goyah, alhasil kajian-kajian ilmiah ini merusak, bukan membangun iman dan kepercayaan Kristen. Saya biasanya menanggapi keberatan mereka ini dengan menyatakan bahwa beriman tanpa disertai keraguan dan pertanyaan, bukan lagi iman dan kepercayaan yang hidup dan terus tumbuh lewat perubahan-perubahan, melainkan delusi. Iman itu, kalau hidup, akan terus berubah, bertumbuh, dinamis. Jika iman itu mati, bukan lagi iman namanya, tetapi delusi. Jika delusi semakin akut, delusi ini menjadi patologis, dan delusi yang patologis sangat merusak agama-agama apapun. Anda seyogianya tahu, delusi kini telah membuat gaya hidup dan sepak terjang banyak orang beragama tidak lagi membangun dunia dan perdamaian, tetapi merusak kehidupan dan melenyapkan perdamaian.

Di samping kajian-kajian ilmiah dalam kehidupan keagamaan saya perlukan, saya juga tetap butuh spiritualitas, bukan religiositas terlembaga. Kenapa saya memerlukan spiritualitas? Karena saya tahu pasti, ada neuron-neuron dalam otak kita yang memerlukan makanan spiritual. Ada atau tidak ada Tuhan, alam telah membentuk otak homo sapiens yang butuh input dan output spiritual. Spiritualitas sudah terpatri dan built-in dalam otak kita sekarang ini; sudah hard-wired, artinya: menjadi bagian fungsi neural otak manusia. Bahwa otak kita sudah disetel oleh alam untuk butuh input dan output spiritual, sudah saya tulis dengan dahsyat di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html

Saya yakin, otak kita berkondisi seperti itu hanya pada masa kini tahap evolusi organ otak kita; di masa depan, karena evolusi (alamiah dan artifisial/buatan), belum tentu otak kita butuh spiritualitas, ketika sains mampu menjelaskan nyaris segalanya dan kebudayaan teknologis yang humanis sudah mengglobal. Nah, karena saya perlu memberi makanan spiritual ke otak saya, saya memilih aktif dalam rumah Zen, tanpa perlu menganut agama tradisional teistik lain. 

Dengan demikian, ideologi ateisme juga sama sekali bukan pilihan saya. Saya telah menemukan, akal dan batin saya tidak bisa ateis, meskipun saya tetap menghormati kawan-kawan yang memilih jadi ateis. Saya sudah menjadi seorang bebas, a freethinker, jadi mustahil saya mau memenjarakan diri saya lagi dalam ideologi ateisme. Sejauh yang saya sudah ketahui, ada sedikit ide dalam ateisme yang bagus; tetapi kebanyakan, hemat saya, tidak bagus, buruk, dan tidak menarik. Ini terbukti dengan makin banyaknya orang ateis radikal, militan dan fundamentalis belakangan ini. Hal bagaimana saya sudah mendekonstruksi ateisme, dapat dibaca di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2014/08/apakah-tuhan-itu-ada.html.   

Meskipun saya ada dalam rumah Zen, ingin saya tegaskan sekuatnya, saya tetap seorang bebas, a freethinker. Zen justru menghendaki orang-orang bebas berkelana dalam pikiran, lewat olah otak yang dinamakan zazen dengan dipandu oleh koan-koan. Beragama, dalam Zen Buddhisme, bukanlah menyembah suatu Allah, melainkan mengontrol dan mendewasakan pikiran, dan lewat pikiran yang benar dan berani, orang disanggupkan melakukan kebajikan. Jadi, masuknya saya ke rumah Zen tak lain karena saya ingin hidup utuh dan tetap bebas melakukan ziarah pemikiran. I am a Zenist but at the same time a freethinker. Sebuah pepatah Zen berbunyi demikian, Seluruh jagat raya tunduk pada suatu pikiran yang tenang. 

Saya bisa berada dalam ketenangan pikiran selama satu hingga dua jam, bahkan kadangkala lebih, dalam meditasi rutin saya setiap hari. Tetapi, saya mau ingatkan bahwa meditasi yang real itu adalah kehidupan kita sehari-hari, yang kita jalani dengan tenang, berkonsentrasi, berpikir dengan serius tetapi juga dinamis dan dalam banyak perspektif, dan juga disertai dengan sikap yang relaks, riang, happy, dan hati dipenuhi kebaikan. Menyadari hal ini, I am really, really happy. Kata Dalai Lama XIV, meditasi terbaik adalah tidur nyenyak setiap malam!

Alhasil, dengan pikiran yang tenang dan segar, saya juga mengembara masuk ke dalam dunia sains yang sangat mempesona. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir ini, pengetahuan saya tentang sains semakin luas dan dalam, dan keadaan ini sangat mempesona saya. Ternyata saya lebih berbakat menjadi seorang pemikir sains, ketimbang menjadi seorang pendeta.

Saya sekarang ini sangat berbahagia dalam dunia sains, jauh lebih berbahagia dibanding ketika bekerja sebagai seorang pendeta. Malah jabatan pendeta dulu kerap menyiksa batin dan akal saya!

Bisa jadi saya dulu telah salah memilih jurusan teologi ketika studi S-1, dan sudah pasti saya telah salah memilih pekerjaan sebagai seorang pendeta! Berbuat salah satu dua kali adalah hal yang insani. Kata Albert Einstein, Siapapun yang tak pernah membuat kesalahan, tak pernah mencoba sesuatu yang baru.

Sewaktu belajar di SMP lalu di SMA dulu, minat terbesar saya adalah fisika, matematika dan kimia. Tapi, saat mau melanjutkan studi ke perguruan tinggi, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil bidang ilmu arsitektur. Tapi pilihan ini akhirnya saya batalkan karena saya waktu itu berhasil diyakinkan sejumlah orang di gereja bahwa jauh lebih baik memilih ilmu teologi. Kata mereka, bersama dengan filsafat, teologi atau ilmu tentang ketuhanan adalah ibu dari semua cabang ilmu pengetahuan. Waktu itu saya berpikir, hebat juga jika saya bisa menguasai ilmu segala ilmu atau ibu semua ilmu, yakni teologi. Akhirnya saya sekolah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta selama lima tahun penuh dan lulus dari sekolah ini dengan yudisium cum laude, dengan pujian

Oleh sekolah ini, saya ditempa menjadi seorang pemikir teologi yang liberal. Tapi pada sisi lain, ada tekanan kuat dari gereja-gereja pengelola STT Jakarta untuk hanya mencetak para sarjana teologi yang setia dan taat pada dogma-dogma gereja. Dualisme ini sangat tidak menenteramkan saya.

Lama kelamaan saya makin menyadari dan menemukan fakta-fakta bahwa teologi itu bukan ilmu dari segala ilmu atau ibu dari semua ilmu pengetahuan. Saya waktu itu, karena berpikir liberal, akhirnya menemukan, nyaris semua klaim dalam ilmu teologi tidak dilandaskan pada bukti-bukti yang real, melainkan dibangun hanya dengan landasan otoritas ilahi kitab suci yang tidak boleh diragukan, kepercayaan tanpa bukti, segudang asumsi, angan-angan, cita-cita, harapan-harapan, keinginan-keinginan, impian-impian, yang semuanya kini tampak oleh saya hanya sebagai isapan jempol belaka. Tentu ada klaim-klaim dalam teologi yang dilandaskan pada fakta-fakta, tapi jumlahnya sangat sedikit. Kondisi ini membuat saya tidak tenteram. Saya waktu itu, akhirnya, terdorong kuat untuk kembali mendalami ilmu-ilmu empiris, seperti yang pernah saya lakukan saat di SMP dan SMA.   

Sekarang ini, saya bersyukur kepada alam atas kesempatan untuk saya boleh mendalami berbagai cabang sains; dan, hopefully, dalam dua puluh tahun ke depan pengetahuan saya mengenai sains-sains empiris akan makin meningkat. Thanks, Mother Nature! Tak ada rasa sakit hati dalam bentuk apapun dan kepada siapapun dalam diri saya sekarang ini. I am a free gentleman and also a lover of humanity!

Sekian pendeta GKI kini, di hadapan saya pribadi, menyesalkan sikap para petinggi GKI yang dulu tidak merangkul saya, karena kini saya malah semakin “liar” berpikir. Ketimbang bisa membungkam saya, kini malah saya, kata mereka, makin membuat banyak pendeta kebakaran jenggot karena tulisan-tulisan saya yang semakin meluas ke banyak bidang ilmu. Kini saya bebas berpikir dan menulis apapun dalam bingkai sains, tanpa kontrol apapun dari gereja manapun. 

Sungguh saya tidak bisa mengerti jika dalam zaman modern ini ada orang, beragama ataupun tidak, sampai bisa membenci dan menolak keras sains modern. Kini tanpa sains dan teknologi modern tidak seorang pun akan dapat hidup dengan baik dan sehat! Tanpa kitab-kitab suci agama-agama, anda tentu saja masih bisa hidup dengan sangat baik. Tetapi anda akan sangat menderita bahkan akan mati jika anda menolak semua sains modern dan semua teknologi yang dihasilkannya. Kalau anda tidak percaya, anda cobalah sendiri.

Ketika saya telah terbitkan buku MSS saya, tanpa didahului dialog dan bedah buku ini dengan saya, mereka, para pemuka GKI itu, menyatakan saya sesat, dan hal ini diumumkan di seluruh gereja GKI di Indonesia!

Karena saya secara sepihak sudah dinyatakan sesat, mereka menyatakan saya berada dalam penggembalaan khusus untuk membuat saya di ujungnya menarik kembali buku MSS itu! Inilah skenario mereka.

Tapi, demi kejujuran ilmiah dan integritas pribadi, saya tak mengambil pusing atas penetapan status saya sebagai seorang sesat oleh GKI!  Bagi saya sendiri, pikiran saya lurus dan jujur. Saya pikir, Yesus dari Nazareth pun, kalau dia masih hidup, akan membenarkan saya!

Hampir dua tahun saya tak pernah menggubris panggilan pimpinan sinode GKI sampai empat kali untuk saya digembalakan khusus! Saya sudah bersikap, Silakan kalian lepaskan jabatan pendeta saya, karena saya tidak akan pernah memusingkannya!

Sesungguhnya, GKI telah memakai pendekatan kekuasaan dalam menghadapi buku MSS saya itu. Saya tahu, mereka takut kalau mendiskusikan dulu buku MSS itu dengan saya di forum publik tanpa saya dinyatakan sesat lebih dulu!

Sekarang di mana-mana sekian pendeta ketua GKI dengan munafik menyatakan, bahwa penggembalaan khusus atas orang sesat itu adalah kesempatan berdialog dengan pimpinan sinode GKI! Sungguh sebuah perbuatan yang sangat pengecut dari kaum rohaniwan ortodoks pro-dogma.

Tapi saya maklum, memang sejak awal gereja berdiri, gereja selalu memakai kekuasaan represif, ketimbang membuka dialog bermartabat. Filsuf perempuan pemberani Hypatia telah mengalaminya di Aleksandria, Mesir. Juga Arius di tempat lain. Galileo Galilei sama juga. Michael Servetus dibakar hidup-hidup atas perintah Yohannes Kalvin lantaran si korban ini mengkritik habis buku Kalvin, Institutio. Di zaman kita, Leonardo Boff juga dipaksa bungkam. Gustavo Gutierrez demikian pula. John Shelby Spong termasuk bahkan diancam. Dan masih banyak lagi.

Saya bangga bisa melawan dogma-dogma kolot gereja yang bagi saya sudah usang dan memperbodoh manusia! Tanpa pembaruan, ya semua teologi kolot itu berubah dengan sendirinya menjadi fosil-fosil teologi. Dalam buku MSS itu, saya bukan hanya mengkritik dogma gereja, tapi juga memberi jalan-jalan alternatif yang liberal.

Saya bangga menjadi seorang liberal.
I am proud of being a liberal!

Guru-guru saya sendiri mendidik saya jadi liberal ketika studi S-1 dulu di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta! Saya meneruskan dan memperdalam pemikiran liberal yang mereka telah wariskan kepada saya.

Dulu saya sangat membanggakan STT Jakarta karena keliberalan pemikiran di dalamnya. Tapi kini STT Jakarta sudah jauh dari pemikiran liberal, karena sudah terperosok ke dalam kubangan gelap konservatisme, dogmatisme dan fideisme.

Sayalah pewaris satu-satunya yang masih hidup dan committed, dari para founding fathers STT Jakarta yang liberal! Saya bangga dan bahagia dengan kenyataan ini! 

Pelabuhan yang selalu samar-samar....

Tetapi saya sudah bisa melihat, ke depannya, saya tidak mau lagi digolongkan ke dalam kubu liberal dalam pemikiran teologi. Watak mental saya adalah watak seorang musafir, seorang peziarah, yang terus berjalan ke depan, tidak pernah berdiam panjang dan lama di suatu stasiun. Tujuan akhir perjalanan saya terletak di tempat yang sangat jauh, suatu pelabuhan yang selalu samar-samar kelihatan, tetapi tidak pernah saya bisa singgahi. Saya adalah seorang peziarah dan penjelajah dalam lelautan jagat raya yang luas, tanpa batas dan tanpa tepi. Terus saja saya berlayar, berenang, menjelajah

Planet demi planet, sistem matahari demi sistem matahari, galaksi demi galaksi, jagat raya demi jagat raya, saya lewati terus. Terus, terus dan terus. Ke masa depan yang juga tanpa batas. Menembus worm holes, berpindah dari satu ruangwaktu ke ruangwaktu lainnya, masuk ke dunia-dunia dan dimensi-dimensi lain, tanpa habis. Mungkin saya akan bisa melompat jauh ke masa depan, dan mungkin juga bisa kembali jauh ke masa lampau. Silih berganti akan saya lakukan. Menguak banyak misteri, hanya untuk menemukan misteri-misteri baru lagi. 

Faktanya adalah saya akan selanjutnya memilih untuk menjadi seorang yang berpikir ilmiah, a scientific-minded man! Artinya, semua pandangan, pendapat dan sikap saya tentang banyak hal dalam dunia ini akan saya selalu usahakan punya landasan-landasan ilmiah. Liberalisme pun kini tidak luput dari berbagai kritik saya, tentu dari sudut pandang ilmiah.

Ilmu pengetahuan itu, walaupun terbatas, selalu maju ke depan, tanpa berhenti, tanpa ada batasnya. Ilmu pengetahuan itu adalah perziarahan, dus semua ilmuwan dan semua orang yang memilih berpikir ilmiah selalu berada dalam perjalanan dan ziarah yang tidak pernah berakhir. 

Sebaliknya, agama itu, walaupun diklaim tanpa batas, sebetulnya sangat terbatas, sebab semua klaim keagamaan hanya didasarkan pada segudang asumsi dan kepercayaan, tanpa pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Sejak ribuan tahun lalu, dan terus ke depan, tentang asal-usul dunia, manusia, dan kehidupan yang rumit dan terus berkembang dan berubah, agama hanya memegang satu penjelasan saja, sangat terbatas, yang mereka klaim datang dari sorga. Padahal, berbagai ilmu pengetahuan modern telah berhasil memberi kita banyak pengetahuan baru yang menakjubkan tentang asal-usul jagat raya, manusia, kehidupan dan sangat banyak hal lain yang sama sekali tidak pernah disebutkan satu kalipun dalam semua kitab suci dari dunia kuno.  

Iman keagamaan, dengan demikian, bukan membebaskan manusia, tetapi memenjara, sejauh agama apapun menjadi sebuah museum fosil-fosil kepercayaan purba. Sang sufi dari Persia yang beken, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengajukan sebuah pertanyaan yang selalu saya ingat, “Mengapa anda terus berdiam dalam penjara sementara pintu-pintunya terbuka lebar?” Rumi juga memerintahkan, “Jadilah langit! Ambil sebuah kapak lalu runtuhkan dinding penjara itu! Lepaskan dirimu!”  

Saya sudah runtuhkan dinding-dinding penjara itu, Rumi! Saya sudah bebas, dan kini terus terbang, dan terus berenang. Saya mau menjadi langit! Juga menjadi lelautan luas! Juga menjadi seekor lumba-lumba! Saya senang bisa berenang-renang terus sepanjang umur saya di lelautan ilmu pengetahuan. 


Saya bertekad, meskipun tidak lagi mengikatkan diri pada satu agama terlembaga apapun, even though I am walking alone, saya tidak akan meninggalkan dunia agama-agama, tetapi berperan lebih luas dan lebih dalam dari sudut-sudut lain. Untuk mengubah dunia dalam skala kecil, tetapi dengan mengabaikan kurang lebih 4 milyar orang dewasa yang beragama dalam dunia di abad ke-21 ini, hemat saya adalah suatu langkah yang tidak strategis. Orang ateis tidak melihat hal strategis ini. Saya melihatnya. 

Semoga juga, dengan bekal ilmu pengetahuan yang makin dalam dan luas, saya bisa membantu banyak orang beragama untuk menjadi cerdas beragama, tidak lagi bodoh. Beragama dengan cerdas itu beragama bukan dalam sebuah museum fosil, tetapi dalam sebuah laboratorium. 

Maaf, kini waktu saya mau masuk ke saat teduh, untuk berada berdua saja dengan Sang Sunyi. Dalam kesunyian berdua, kami menjadi ramai, tetapi sunyi. Sunyi yang mahasunyi. Sunyi nan sendiri. Sunyi nan ramai. 


Jakarta, 24 Desember 2011
ioanes rakhmat