Friday, November 5, 2010

Fiksi dan Fakta Sejarah dalam Kitab Suci

Tentu saja ini gambar perjalanan fiktif menuju sorga!

oleh Ioanes Rakhmat**

N.B. Editing mutakhir 15 April 2018


Fiksi menyingkapkan kebenaran yang dibuat buram oleh realitas.
• Ralph Waldo Emerson

Imajinasi adalah suatu karunia. Jangan dibuang sia-sia.
• Jeanne Warnes

Di awal tulisan ini, saya ingin menegaskan lebih dulu dua poin penting. 

Pertama, tulisan saya ini tulisan akademik yang dipersiapkan dengan serius untuk menjadi landasan berdiskusi di kalangan intelektual dan orang yang terdidik dengan baik dalam pengetahuan ilmiah tentang kitab suci. Diperlukan pengetahuan dan kearifan yang luas dan dalam jika umat keagamaan ingin dimatangkan dalam pengetahuan ilmiah mereka tentang kitab-kitab keagamaan. 

Kedua, tidak semua konten kitab keagamaan tergolong, menurut jenis sastranya (literary genre), sebagai karya seni budaya spiritual yang kreatif dan imajinatif, sebab ada juga konten sejarah yang skalanya bervariasi. Konten sejarah faktual ini sekarang sudah menyatu dengan konten karya kreatif kesenian, kebudayaan dan spiritual.


Doktrin inerrancy of the Scripture

Orang yang saleh beragama biasa akan menyatakan bahwa setiap kitab suci pasti tidak dapat salah dalam segala hal yang dikatakannya. Ini adalah sebuah pandangan yang, dalam teologi sistematik kekristenan konservatif, disebut doktrin “inerrancy of the Scripture”. Padahal, pada sisi lain, mereka yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Tuhan YMTahu yang tidak pernah dan tidak bisa berbuat salah. Samakah atau setarakah sebuah kita suci dengan Tuhan YMTahu dan MBesar? Mereka pasti tahu jawabannya. 

Dengan doktrin itu, semua hal yang dituangkan dalam dokumen-dokumen kitab suci, apapun juga jenis sastranya, dipandang sebagai fakta sejarah dan selalu benar. Dengan demikian, kitab suci yang sebenarnya adalah kitab keagamaan, kitab kasih sayang antara para kekasih Allah dengan Allah mereka, diperlakukan sebagai sebuah buku sejarah murni

Benarkah cara pandang dan perlakuan yang semacam ini? Hemat saya, tidak sepenuhnya benar. Itu suatu simplifikasi yang naif. Di zaman dulu, kitab-kitab suci ditulis tanpa memakai ilmu sejarah, ilmu yang mengharuskan setiap klaim atau bukti (sastra atau non-sastra seperti artefak) diverifikasi kebenarannya atau difalsifikasi lewat berbagai pendekatan dan metode ilmiah, dan dibahas dari banyak perspektif. 

Saleh beragama tentu perlu; tapi cerdas beragama juga mutlak perlu. Kitab keagamaan ya kitab keagamaan, dari manapun asal-usulnya dipercaya, dan tidak bisa menjadi, atau diperlakukan sebagai, buku-buku berbagai ilmu pengetahuan, misalnya biologi, geologi, arkeologi, paleogenetika, kosmologi, neurologi, ilmu kimia, fisika, ilmu kedokteran, atau ilmu sejarah, futurologi, dst. 


Tapi membenci ilmu pengetahuan

Kita tahu, orang yang berada dalam aliran-aliran keagamaan konservatif, apalagi yang dari arus keras, umum sekali membenci ilmu pengetahuan dan bermental antisains. Mereka menilai pandangan-pandangan ilmu pengetahuan modern terus-menerus merongrong kitab-kitab keagamaan mereka yang berasal dari era pramodern dan prailmiah. 

Pada sisi lain, herannya mereka mengharuskan kitab-kitab keagamaan mereka seluruhnya hanya memuat fakta-fakta. Padahal, kita tahu, hanya ilmu pengetahuan (yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu) yang harus berlandaskan fakta-fakta objektif empiris dan menjelaskan fakta-fakta dan semua fenomena alamiah lewat metode-metode keilmuan yang absah. 

Membenci dan menolak ilmu pengetahuan, tapi mengharuskan kitab-kitab keagamaan hanya berisi fakta-fakta empiris atau berita-berita dan kisah-kisah faktual, adalah dua sikap dan pendirian yang bertentangan satu sama lain. Apa mau dikata, para agamawan konservatif sesungguhnya hidup dalam dua kondisi mental yang terbelah, terpecah, split and broken. Sejauh saya tahu, hidup dalam kondisi jiwa yang terbelah dan pecah ini tidak enak, hanya menimbulkan ketidakbahagiaan.

Lebih buruk dari kondisi itu, adalah kenyataan ini: Jika kitab-kitab suci disamakan dengan buku-buku ilmu pengetahuan yang dibangun dengan landasan fakta-fakta, maka peradaban manusia akan pasti mandek, bantut lalu punah. 

Kenapa begitu? Ya karena orang jadi tidak terdorong untuk mengeskplorasi, menyelidiki dan menjelaskan berbagai fenomena alam dan jagat raya secara objektif dan dapat diuji terus-menerus, diverifikasi lintaszaman dan lintastempat. 

Lewat semua aktivitas penyelidikan dan pengujian ini ilmu pengetahuan akan bertumbuh dan berkembang, makin tinggi dan makin maju, lewat koreksi, peningkatan dan dialektika tanpa akhir tesis versus antitesis yang akan bermuara pada sintesis sebagai sebuah tesis baru yang lebih baik dan integratif. Alhasil, peradaban terus bergerak ke depan, maju tanpa pernah berhenti. 

Loh, kenapa para agamawan jadi tidak terdorong untuk memajukan ilmu pengetahuan tanpa batas? Ya lantaran mereka dengan kuat dan ngotot meyakini, tanpa bisa membuktikan, bahwa semua ilmu pengetahuan bahkan yang belum ada sudah tertulis dalam kitab suci mereka yang berasal dari wahyu ilahi. Jadi, kata mereka, buat apa lagi meneliti dan mengembangkan iptek. Titik. Tegas mereka. Waduh!


Jalan agung menuju Tuhan

Nah, jadi perlu diingatkan, semua ilmu pengetahuan yang sudah ada dan yang akan ada, tentu berasal dari kemahatahuan Tuhan YMTahu. Karena itu, jika makin dekat seseorang ke Tuhan (tentu Tuhan YMTahu), jika makin dalam dia cinta Tuhan, maka orang itu, yang beribadah kepada Tuhan, akan makin dekat ke dan makin cinta ilmu pengetahuan, dan makin kuat dia termotivasi untuk menggali dan memajukan ilmu pengetahuan tanpa batas, sambung-menyambung secara dinamis dan dialektis, antargenerasi, lintaszaman dan lintasgeografis.

Niscaya, ilmu pengetahuan itu jalan agung tanpa ujung menuju Tuhan YMAgung dan MTahu, sumber segala pengetahuan, mata air jernih ilmu pengetahuan yang terus mengalir, mendaki dan menurun, lurus, berbelok dan berkelok, berkembang dan bergerak maju. Makin dekat ke Tuhan, ya makin cerdas, makin berwawasan, makin berilmu, makin banyak tahu, makin banyak mengerti, dan makin terang bersinar.

Jadi, tidak ada benturan antara ibadah kepada Tuhan dan berbagai usaha untuk mencari, menemukan dan memajukan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan tentang agama-agama. Orang yang suka membentur-benturkan keduanya, sesungguhnya jauh dari Tuhan YMTahu dan dari ilmu pengetahuan. 

Cerdas dan berilmu makin tinggi dan luas sudah pasti diinginkan Tuhan terjadi pada setiap orang. Tuhan tidak berkenan pada kebodohan dan kondisi buta ilmu pengetahuan. Tidak ada kebodohan dan buta ilmu pengetahuan atas atau demi nama Tuhan.

Berkaitan dengan Alkitab, secara emblematik (simbolik, bukan statistikal) saya mau katakan bahwa kitab suci gereja memuat fakta sejarah sebanyak minimal 20 persen, paling banyak 40 persen, sedangkan sisanya, 80 atau 60 persen, adalah fiksi, maksudnya tergolong dalam jenis sastra kreatif imajinatif kesenian, kebudayaan dan spiritual yang digubah untuk memenuhi berbagai kebutuhan spiritual, dan juga kebutuhan religiopolitis, bukan kebutuhan ilmiah.

Hal yang mau ditelusuri dalam tulisan ini adalah relasi antara fiksi imajinatif dan fakta dalam kitab suci, dengan fokus pada Alkitab yang saya telah pelajari dan dalami dari sudut pandang keilmuan puluhan tahun. 


Tuhan itu kreatif

Langsung saat ini perlu saya tekankan hal satu ini: Tuhan itu kreatif. 

Jadi, selain banyak jenis sastra lain (misalnya surat-surat, kredo atau syahadat, epik, peribahasa, aretalogi, eulogi, doktrin atau pengajaran, propaganda misiologis, renungan kearifan, renungan filosofis, etiologi, apokalipsis, kisah biografis, dll.), jenis sastra kreatif imajinatif kesenian, kebudayaan dan spiritual juga Tuhan pakai untuk menjadi wahana penyampaian firman atau kalam Tuhan yang lebih mudah ditangkap oleh hati dan kalbu serta intuisi manusia sehingga spiritualitas dapat tumbuh dan berkembang. 

Yesus, misalnya, sangat cerdas dan mahir dalam menggubah dan menyusun kisah-kisah fiksional (dikenal sebagai perumpamaan-perumpamaan Yesus) sebagai sarana dan wahana sastra untuk menyampaikan firman Allah yang rahmani dan rahimi kepada rakyat jelata Yahudi zamannya. 

Jadi, jangan paksa dan batasi Tuhan untuk berfirman hanya lewat fakta-fakta sejarah. Lewat banyak sarana dan wahana serta metode, dengan pranata agama sebagai salah satunya, Tuhan berfirman di zaman-zaman dulu terus hingga ke masa depan tanpa akhir dan tak pernah habis. 

Sebagaimana ada beranekaragam bangsa dan suku bangsa di dunia ini dan ada banyak tempat di muka Bumi dengan para penghuninya membangun kebudayaan dan peradaban yang berbeda-beda, dan sebagaimana zaman-zaman terus bergerak maju ke depan dan berubah dinamis, dan sebagaimana kecerdasan dan pengetahuan manusia terus berkembang dan makin maju, maka niscaya firman atau kalam Tuhan itu tidak cuma satu, tetapi kreatif, dinamis, majemuk dan tak pernah habis, dan sampai ke manusia lewat berbagai sarana, wahana, bentuk, cara dan jalan.

Keindahan dan pesona jagat raya, alam sendiri dan hukum-hukum alam betul-betul memancarkan kemuliaan dan keagungan Tuhan. Keagungan dan kemuliaan Tuhan yang dikilaukan oleh alam, kehidupan dan jagat raya mendorong orang menciptakan berbagai karya seni, budaya dan religius yang sangat kreatif dan imajinatif tanpa akhir. 

Pada sisi lainnya, juga mendorong orang-orang cerdas, para ilmuwan, untuk mengobservasi dan mengeksplorasi jagat raya kita dan segala isinya lewat berbagai instrumen, metode serta pendekatan dan model-model yang terus-menerus dievaluasi ulang dan dibarui sehingga makin maju dan makin dapat diandalkan. Hasilnya adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang terus berkembang maju dan dinamis.

Nah, tentu anda setuju bahwa kemampuan otak manusia untuk menghasilkan bukan saja ilmu pengetahuan, tapi juga karya-karya fiksional kreatif kesenian, kebudayaan dan spiritual adalah anugerah dan karunia Tuhan yang luar biasa bernilai dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, juga bagi pertumbuhan rasa keberagamaan kita. 

Jadi janganlah kemampuan pemberian Tuhan ini dikekang, dihambat atau disia-siakan. Makin Tuhan dihargai dan disayangi oleh kita, makin besar juga penghargaan dan kesukaan kita pada karya-karya kesenian, kebudayaan dan spiritual yang kreatif dan imajinatif. 

Karya-karya kreatif imajinatif ini, jika dipahami maksud dan tujuannya sebagai karya-karya kesenian, kebudayaan dan spiritualitas yang digubah dan disusun dalam suatu konteks sejarah tertentu, akan dapat meneduhkan jiwa dan menghilangkan dahaga jika memang kena buat kita di masa kini.

Bayangkanlah, betapa kering, kaku, membosankan, pengap dan panas dunia ini jika kita tidak memiliki kapasitas neural untuk menciptakan berbagai jenis sastra dan media dan ekspresi-ekspresi kesenian lain yang menyajikan berbagai fiksi kreatif dan imajinatif yang mampu mengerakkan hati dan akal kita.

Imajinasi yang kreatif, yang tak kenal batas-batas, kata Albert Einstein, lebih penting dari pengetahuan formal sebab setiap pengetahuan terbatas pada segala hal yang kita sudah ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia dan segala hal yang akan ada untuk kita ketahui dan pahami.

Saya mau tambahkan: imajinasi dan pengetahuan terlibat interaksi, alhasil keduanya bergerak lebih tinggi dan membubung, sambung-menyambung, bak gelombang-gelombang laut kejar-mengejar, bak pegas bergerak berpilin, yang satu menjadi awal dan landasan energi kinetik bagi yang lain bergantian. Interaksi dinamis dan kreatif ini berlangsung paling jelas antara sains-sains dasariah dan fiksi-fiksi sains yang imajinatif kreatif.

Tambahan yang kreatif, bukan?

Sejak kanak-kanak hingga dewasa dan lansia, kita suka kisah-kisah fiktif besar, yang agung dan bernilai moral, edukatif, estetis, eksistensial dan religius yang tinggi. Di dunia kuno manusia menyusun fiksi-fiksi agung kuno. Sekarang di era modern, kita juga menyusun fiksi-fiksi besar modern yang mampu menggerakkan hati dan akal, yang bermuara pada tindakan.

Selanjutnya, tentang isi tulisan ini, pertama-tama kita perlu mendapatkan kejelasan apa itu fiksi dan apa itu sejarah. Setelah itu akan dikemukakan tiga pendekatan epistemologis terhadap sejarah, yakni objektivisme, subjektivisme, dan interaktivisme. Lalu menyusul suatu uraian tentang unsur fiksi dalam sejarah dan unsur sejarah dalam fiksi. 

Kemudian akan diperlihatkan bahwa dalam setiap kitab suci unsur fiksi sudah menyatu dengan unsur sejarah. Kalau fiksi dalam kitab suci dapat berupa mitologi-mitologi atau kisah-kisah kreatif kesenian, kebudayaan dan spiritual, maka dalam zaman penulisan kitab-kitab suci kuno yang belum mengalami sekularisasi, zaman prailmiah, pramodern, mitologi-mitologi dipandang para penulisnya sebagai sejarah dan sejarah sebagai mitologi. Kenapa begitu? Ya karena dunia adikodrati (yang digambarkan lewat mitologi-mitologi) oleh orang zaman yang sangat lampau tidak dipisahkan dari dunia kodrati (dunia sejarah), dan juga sebaliknya. 

Namun, dalam banyak kasus, melalui upaya demitologisasi dalam hermeneutik modern, fiksi dalam kitab suci dapat dipilah-pilah dan dipisahkan dari sejarah dan juga sebaliknya.


Tolok ukur

Dalam zaman modern, kita umumnya telah biasa memakai nalar, logika dan sains, serta hukum-hukum alam (the laws of nature) yang tetap dan abadi, dan pengalaman sejarah, untuk menentukan mana fiksi dan mana fakta. Dengan cara inilah kita menilai bahwa semua kisah mukjizat dalam kitab suci apapun, khususnya dalam Alkitab, adalah kisah fiktif, bukan kisah historis. Praktek demitologisasi semacam ini tidak dikenal oleh para penulis kitab suci yang hidup dalam zaman pramodern dan prailmiah. 

Orang di zaman pramodern dan prailmiah menganggap mukjizat sebagai bagian dari pengalaman dunia sehari-hari, karena Allah dipercaya berada dalam dunia sehari-hari dan dapat dengan bebas melanggar “hukum-hukum alam” (yang tentu saja belum diobservasi secara saintifik oleh para penulis kitab-kitab suci kuno) untuk mendatangkan mukjizat. 

Ingatlah, dalam beragama, yang kita baca adalah kisah-kisah insani tentang mukjizat yang harus dibaca dan ditafsirkan lewat ilmu tafsir, bukan mukjizat itu sendiri yang dapat dilihat dengan mata kepala sendiri. 

Pada sisi lain, seandainya betul di zaman-zaman kuno mukjizat-mukjizat pernah terjadi karena Tuhan membatalkan hukum-hukum alam yang tetap dan abadi dalam jagat raya kita, alhasil dilahirkan hukum alam yang baru yang bekerja dalam alam tempat kita hidup, maka hukum alam yang baru itu mustinya juga tetap bekerja hingga kini bahkan selamanya. Faktanya, apa yang kita temukan dan ketahui? Kita semua tahu jawabannya. 

Kalau di zaman-zaman dulu hukum gravitasi Bumi bisa dilanggar sehingga memunculkan hukum alternatif antigravitasi, maka seharusnya hukum alternatif antigravitasi ini tetap bekerja hingga sekarang dan selamanya. Alhasil, kita sekarang mustinya bisa meluncur ke angkasa dan terbang dengan bebas, tanpa bantuan tenaga pendorong ke atas yang dihasilkan berbagai instrumen teknologis modern. Faktanya apa?

Kalau para agamawan konservatif menyatakan bahwa mukjizat terjadi bukan karena hukum alam yang baru, tapi karena hukum ilahi yang khas, yang bekerja satu kali saja di zaman dulu, maka pertanyaan yang muncul adalah dari mana atau berdasarkan apa hal itu mereka ketahui. 

Jawabannya ya sudah pasti: berdasarkan penafsiran mereka yang didorong oleh kepercayaan mereka atas kisah-kisah yang ditulis di zaman-zaman prailmiah. Dus, terbuka juga pintu bagi penafsiran-penafsiran lain, termasuk penafsiran yang lepas dari dorongan kepercayaan. 

Bagaimana pun juga, jika suatu hukum diklaim sebagai hukum ilahi yang istimewa, tapi bekerja dalam alam dan dunia kita, ya hukum ilahi itu menjadi hukum alam dan dunia kita juga. Bukankah para agamawan biasa mempertahankan bahwa semua hukum alam, yang sudah lama diobservasi dan yang baru, semuanya ciptaan Tuhan sendiri?

Tentu saja semua ilmuwan dan semua ilmu pengetahuan sejauh yang kini sudah dikenal, tidak akan pernah bisa tuntas, final dan selesai dalam menjelaskan semua realitas dan fenomena natural yang sudah diketahui dan yang akan diketahui. Akan selalu ada misteri-misteri alam yang belum bisa dijelaskan sekarang atau dalam waktu dekat. Ketahuilah, jagat raya kita ini, bak balon raksasa yang terus ditiup, masih terus mengembang dengan makin cepat dan tanpa batas, dan masih ada jagat-jagat raya lain yang jumlahnya infinite, tak terbatas. Duuuh!

Jika suatu misteri alam yang semula tidak atau belum dapat dijelaskan berdasarkan hukum-hukum alam atau hukum-hukum keilmuan, kemudian ternyata dapat dijelaskan dengan meyakinkan lewat metode-metode keilmuan atau teori-teori atau model-model baru keilmuan, tetap masih akan muncul misteri-misteri lainnya. 

Dalam dunia ilmu pengetahuan, kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena yang kedapatan masih sebagai misteri-misteri, tidak disebut sebagai mukjizat, tetapi tetap sebagai misteri-misteri alam raya yang menunggu penjelasan atau yang akan bisa dijelaskan pada waktunya. 

Sudah banyak fenomena alam yang dulu dijelaskan secara magis mitologis, misalnya gerhana atau pandangan prailmiah bahwa planet Bumi ini datar, kini sudah bisa dijelaskan dengan benar oleh ilmu pengetahuan. Gerhana itu ya suatu peristiwa astronomis alamiah yang sudah bisa dideskripsikan dan dikalkulasi dengan persis kapan akan terjadi. Juga, bukti-bukti ilmiah sudah banyak terhimpun selama ratusan tahun yang menunjukkan bahwa planet Bumi ini tidak datar, tetapi bulat.

Jika 60 hingga 80 persen tulisan dalam kitab suci adalah fiksi atau narasi-narasi kreatif imajinatif, maka, pertanyaan krusialnya adalah, apakah iman keagamaan yang dilandaskan pada fiksi, bukan pada fakta sejarah, adalah suatu iman yang dapat dibenarkan, iman yang sehat. 

Pertanyaan semacam itu bermakna dan fungsional hanya bagi orang yang meyakini bahwa beriman adalah juga suatu aktivitas epistemologis dan hermeneutis yang harus berpijak pada fakta, bukan pada fiksi. Jika mereka berhadapan dengan jenis sastra fiksi, mereka tidak terfiksasi, terpaku, pada konten fiksinya sendiri, tapi pada makna dan pesan historis kontekstual yang mau disampaikan si penulis fiksi tersebut. 

Sedangkan bagi bagian terbesar umat beragama, iman membuat fiksi menjadi fakta, dan beriman tak memerlukan suatu bukti empiris objektif tentang isi iman mereka (misalnya bahwa Allah itu ada, atau bahwa langit dan Bumi ini diciptakan dalam 6 x 24 jam dalam arti harfiah karena dalam kitab keagamaan mereka tertulis begitu). 

Ya, sesungguhnya bagi mereka yang beriman semacam itu, hidup beriman adalah hidup dalam dunia fiksi. Alih-alih mencari dan menemukan makna dan pesan historis kontekstual dari sebuah fiksi, mereka terfiksasi pada konten fiksinya dan menghabiskan waktu dan tenaga dalam mempertahankan dan membela bahwa tulisan yang mereka sedang baca yang sebetulnya tergolong karya sastra kreatif imajinatif spiritual adalah jenis sastra sejarah faktual seratus persen. 

Baiklah, saya katakan bahwa fiksi yang baik dan edukatif memang bisa bermanfaat dan kita perlukan untuk menolong kita dapat hidup bermoral baik, juga terhibur, happy, dikuatkan. Jadi, saya ajak anda untuk menikmati dan menghayati fiksi-fiksi jenis ini yang tertulis di manapun dan dalam kemasan apapun. Tapi dengan tetap menyadari bahwa fiksi ya fiksi, bukan realitas atau fakta. Kenapa begitu?

Karena, pada pihak lain, fiksi mungkin juga menjadikan orang hidup dalam suatu dunia khayalan dan delusi (= kepercayaan yang salah tetapi dengan kuat tetap dipertahankan) yang, jika terlalu banyak terpasok dalam benak kita, akan mematikan nalar dan logika sehingga dapat membahayakan diri kita sendiri, orang lain dan dunia kita.

Karena bahaya semacam itulah, setiap klaim keagamaan, hemat saya, harus dibawa ke meja bedah pengkajian saintifik untuk membuktikan objektivitasnya, kebenaran atau kesalahannya, relevansi atau irelevansinya, khususnya klaim-klaim keagamaan yang terkait dengan ilmu pengetahuan, fakta-fakta, dan moralitas. Klaim-klaim ini seharusnya tidak hanya sekadar dipercaya saja dengan membuta tanpa disokong bukti-bukti empiris dan penalaran logis dan pengenalan konteks zaman dan tempat.

Namun, penghayatan beriman yang semacam itu, yang tidak memerlukan dukungan suatu bukti sejarah apapun, ternyata bisa ditolerir oleh penemuan akan adanya empat peringkat makna dalam semua dokumen kitab suci. 

Makna tekstual historis kontekstual dari sebuah teks suci, yang sangat penting bagi para penafsir historisis, hanyalah salah satu makna saja, yang bisa ditandingi oleh makna-makna lainnya, yang muncul sebagai sensus plenior, “makna yang lebih penuh” atau “makna yang lebih dalam” (yang konon dikehendaki Allah, meskipun tak dikehendaki si manusia penulisnya). Nah, makalah ini ditutup dengan suatu uraian tentang sensus plenior ini.


Definisi fiksi dan sejarah

Apa yang dimaksud dengan “fiksi”? KBBI edisi ketiga (2005) mendefinisikan fiksi sebagai: a) cerita rekaan; b) rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan; c) pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Michael Wood mendefinisikan fiksi sebagai “invensi (= ciptaan imajinatif) murni”, “segala jenis fabrikasi.”/1/ Meriam Webster’s Collegiate Dictionary (edisi kesepuluh: 1993) mendefinisikan fiksi sebagai “sesuatu yang diciptakan oleh imajinasi” (khususnya sebuah kisah rekaan).” Jadi jelas bahwa fiksi adalah sebuah reka-rekaan, suatu khayalan, bukan sebuah fakta, bukan suatu peristiwa sejarah faktual.

Tetapi apakah sejarah itu? KBBI edisi ketiga mendefinisikan sejarah sebagai “kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau” dan sebagai “pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau.” Meriam Webster’s Collegiate Dictionary mendefinisikan sejarah (history) sebagai “peristiwa-peristiwa di masa lampau” dan sebagai “suatu catatan kronologis mengenai peristiwa-peristiwa penting (yang mempengaruhi suatu bangsa atau suatu lembaga), yang seringkali mencakup sebuah penjelasan tentang sebab-musabab peristiwa-peristiwa itu.” Keadaan “benar-benar terjadi di masa lampau” yang timbul karena “sebab-musabab” tertentu inilah yang membedakan sejarah dari fiksi yang merupakan “rekaan” atau “khayalan.”


Objektivisme, subjektivisme, dan interaktivisme

Tetapi definisi tentang “sejarah” yang baru dikemukakan pada alinea di atas tidak menyatakan apakah “peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau” itu dapat direkonstruksi oleh manusia pada masa kini dengan sepenuhnya objektif sebagai sejarah murni, tanpa melibatkan sama sekali diri si sejarawan dan dunianya pada masa kini. Objektivisme historis semacam ini dikenal juga sebagai positivisme atau historisisme, yang, bagi saya, adalah sesuatu yang tidak pernah ada dalam setiap upaya memahami dan menjelaskan masa lampau. 

Bahwa objektivisme historis tak pernah ada terbukti dari adanya lebih dari satu versi historiografi tentang satu peristiwa di masa lampau, yang menunjukkan bahwa ada faktor subjektif dari diri si sejarawan dan dunianya di masa kini yang ikut bermain dalam dia merekonstruksi suatu kejadian di masa lampau.

Pada ujung ekstrim lainnya dalam orang berhubungan dengan sejarah terletak subjektivisme, atau dikenal juga sebagai fenomenalisme atau narcissisme atau solipsisme historis, yang memandang bahwa suatu rekonstruksi sejarah adalah sepenuhnya sebuah proyeksi kepentingan subjektif diri si sejarawan dan dunianya pada masa kini ke masa lampau. 

Subjektivisme historis semacam ini, jika ada, sama sekali tidak menghasilkan suatu deskripsi sejarah, tetapi tepat jika karya yang dihasilkan dilabelkan sebagai propaganda personal (politis atau ideologis) si penulisnya. Pada pihak lain, subjektivisme jelas menutup mata pada suatu kenyataan bahwa di dalam suatu uraian sejarah apapun kita masih bisa mendapatkan fakta-fakta yang terjadi di masa lampau (yakni: apa peristiwanya, kapan terjadinya, di mana terjadinya, siapa yang terlibat) kendatipun diri si sejarawan dan dunianya pada masa kini terlibat secara signifikan dalam setiap usaha merekonstruksi masa lalu.

Karena itu, hemat saya, suatu posisi yang seimbang dalam setiap upaya merekonstruksi masa lampau adalah suatu posisi tengah antara objektivisme dan subjektivisme. John Dominic Crossan, antara lain, merumuskan posisi tengah ini dengan baik, ketika dia menyatakan bahwa sejarah adalah “masa lampau yang direkonstruksi secara interaktif dengan masa kini melalui bukti-bukti yang diperdebatkan di dalam wacana publik.”/2/ Crossan menyebut posisinya ini sebagai interaktivisme atau dialektika historis atau relasionisme atau relativisme.


Fiksi dalam setiap historiografi

Dengan memakai epistemologi interaktivisme dalam upaya mendapatkan suatu pengetahuan yang absah mengenai masa lampau, terbukalah suatu kemungkinan untuk memandang bahwa suatu uraian sejarah (suatu historiografi) bisa juga sebagian daripadanya berisi fiksi yang dimasukkan oleh si sejarawan ke dalam historiografinya, sementara dia juga membangun historiografinya dengan memakai bukti-bukti sejarah (material, tekstual dan oral) yang andal dan dapat diperdebatkan dalam suatu diskursus publik. 

Michael Wood menegaskan bahwa sejarah, bahkan sejarah yang tergolong paling dapat dipercaya, dapat dilihat berisi unsur-unsur fiksi, sementara novel-novel, yang termasuk ke dalam suatu dunia invensi sastrawi, dapat berfungsi sebagai dokumen-dokumen sejarah./3/ Charles W. Hedrick bahkan juga menyatakan bahwa sejarah adalah “suatu konstruk mental fiktif.”/4/ Dalam suatu historiografi Indonesia yang disusun rezim Orde Baru tentang peralihan kekuasaan politik dari rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, bukankah Supersemar itu sebuah fiksi? 

Lalu, tidak kurang contohnya untuk orang dapat menyatakan bahwa banyak novel ditulis dalam suatu konteks sejarah yang dikenal dengan sangat baik oleh si penulis novel, dan dengan demikian novelnya ini juga menjadi sebuah media penyampai dan penafsir sejarah, kendatipun novel umumnya tidaklah termasuk ke dalam genre historiografi.

Karena suatu tulisan sejarah dapat juga memuat fiksi, maka dapat dipahami jika Feeney menyatakan bahwa perbedaan antara sejarah dan epik tidaklah berhubungan dengan apa yang kita dapat sebut “historisitas” (yakni apakah sesuatu itu sungguh telah terjadi atau tidak), melainkan suatu persoalan mengenai derajat “kefiktifan” yang diterapkan dalam suatu pengisahan./5/ 

Tentu saja, hemat saya, derajat kefiktifan suatu tulisan sejarah haruslah sangat kecil jika memang tulisan sejarah ini mau atau harus digolongkan sebagai suatu tulisan sejarah, dan bukan suatu fiksi. Sebaliknya juga, suatu karya fiksi yang derajat kefiktifannya minim tidak pantas lagi disebut sebagai suatu fiksi, dan dalam setiap karya fiktif sudah dengan sendirinya unsur-unsur sejarah bisa ada sangat minimal atau malah tidak ada sama sekali. Dan tentu saja, seperti dikatakan Crossan, setiap sejarah adalah suatu kisah, tetapi tidak setiap kisah adalah sejarah,/6/ yaitu jika kisah ini sepenuhnya fiktif. 

Bagaimanapun juga, kita semua tentu sepakat, bahwa suatu tulisan yang digolongkan sebagai tulisan sejarah haruslah berisi fakta-fakta di masa lampau, fakta-fakta yang ditatasusun ulang atau direkonstruksi dengan tidak terlepas dari hermeneutik si sejarawan, hermeneutik yang mengharuskannya memahami dan menafsirkan masa lampau secara interaktif dengan masa kini dalam dunianya. 

Jadi, dalam pandangan modern, tetap harus bisa dibedakan mana kisah fiktif (fictional narrative) dan mana kisah sejarah (historical narrative), kendatipun dalam setiap kisah sejarah bisa ada unsur-unsur fiktifnya yang dapat mengambil bentuk sebagai “muatan-muatan politis” dari si sejarawan dalam suatu pengisahan sejarah, atau sebagai “muatan-muatan mitologis” dari seorang sejarawan yang bertutur tentang sejarah kelahiran suatu agama atau suatu bangsa di muka Bumi.


Dalam kitab suci, fiksi dan sejarah menyatu

Dunia yang di dalamnya kitab-kitab suci kuno ditulis adalah suatu dunia pramodern dan prailmiah yang tidak mengenal pemisahan antara dunia adikodrati dan dunia kodrati, antara dunia allah-allah dan dunia manusia. Inilah suatu dunia yang belum mengalami “disenchantment of the world” (Entzauberung der Welt), suatu dunia yang belum “kehilangan kekeramatannya”. Dalam dunia jenis ini, allah-allah dan dewa-dewi serta para malaikat yang gaib dan keramat, dan juga jin-jin dan setan-setan, bertatap muka dan bergaul bersama dengan manusia, suatu dunia yang belum mengalami sekularisasi./7/

Menurut suatu tuturan dalam Tenakh Yahudi (=Perjanjian Lama orang Kristen), di Taman Eden di Bumi (di kawasan Mesopotamia), Tuhan Allah konon bergaul akrab dengan manusia, Adam dan Hawa, dan di taman ini “Tuhan Allah berjalan-jalan pada waktu hari sejuk” (Kejadian 3:8). Di dalam dunia ini, “anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka” (Kejadian 6:2).

Bahkan dalam Kejadian 6-9, dikisahkan bahwa Tuhan sanggup memantau semua manusia yang hidup di muka Bumi dan perilaku mereka masing-masing, dan Dia mendapati bahwa kejahatan mereka sudah sangat besar dan segala kecenderungan mereka jahat semata-mata. Karena itu Yahweh sangat menyesal, lalu memutuskan untuk melenyapkan mereka. Dalam Kejadian 6:7 ditulis bahwa Tuhan berfirman, “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka Bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.” 

Tidak dijelaskan oleh si penulis bagian kitab Kejadian itu mengapa murka Allah atas dosa manusia bisa merembet ke Bumi dan ke dunia hewan sehingga hewan-hewanpun (yang umumnya tak memiliki kesadaran diri dan karenanya tak mengenal masalah moralitas) mau dibinasakan oleh sang Tuhan penghukum ini (Kejadian 6:13). Hanya Nuh, “seorang yang benar dan tidak bercela” (Kejadian 6:9), dan keluarganya serta sejumlah pasangan binatang yang ikut bersamanya masuk ke dalam bahtera, diselamatkan dari penghukuman habis-habisan oleh Tuhan ini. 

Tak ada suatu pergumulan teologis yang serius dan berat dalam diri penulis bagian kitab Kejadian ini tentang kehendak Allah untuk dengan tega membinasakan seluruh muka Bumi; si penulis ini hanya menerima saja bahwa Yahweh adalah Tuhan atas seluruh muka Bumi dan segenap penghuninya, karena Tuhan inilah yang telah menciptakan semuanya. Tidak ada pemikiran dalam dirinya bahwa Bumi dan segenap isinya, termasuk manusia, memiliki otonomi di hadapan Tuhan penghukum semacam ini. 

Kita tahu, seorang guru yang arif dan empatetis tidak akan berlaku keras pada siswa-siswanya yang kedapatan telah melakukan kesalahan atau yang nakal. Sang guru dengan lembut dan arif pasti akan memperhatikan dan membimbing dengan edukatif siswa-siswanya yang seperti itu.

Dalam Perjanjian Baru, dikatakan bahwa Allah masuk ke dalam dunia manusia dengan “menjadi daging” (= manusia) (Yohanes 1:14a). Dalam bagian permulaan Injil Matius dan Injil Lukas kita baca dua buah kisah yang sangat berbeda (dan tak bisa diharmonisir) tentang kelahiran Yesus dan kejadian-kejadian yang menyelubunginya yang dibuat oleh makhluk-makhluk adikodrati di dalam kelahiran ini, antara lain bahwa janin Yesus “dikandung dari Roh Kudus” yang menghamili Maria (Matius 1:18; Lukas 1:31, 35), dan bahwa pada saat Yesus dilahirkan bala tentara surgawi menaikkan madah-madah pujian (Lukas 2:13-15) dan para malaikat menyampaikan pesan-pesan surgawi (Lukas 2:8-12 ). 

Kita tahu, dalam hampir seluruh dokumen Perjanjian Baru, para penulisnya mewartakan bahwa Tuhan Allah tidak membiarkan Yesus dari Nazaret dikalahkan oleh kematian melalui penyaliban, dengan sang Tuhan Allah ini dari dunia adikodrati mendatangi kubur Yesus (konon via beberapa malaikat) di dunia kodrati, lalu membangkitkannya dari antara orang mati. Ini suatu gambaran teologis tentang Tuhan yang memberi dan memelihara kehidupan, bukan membinasakan.

Bagi kita yang hidup dalam zaman modern yang sudah tersekularisasi, yang sudah terbiasa untuk memisahkan fakta dari fiksi dengan memakai nalar, logika, sains modern, hukum-hukum alam dan pengalaman historis untuk memilah-milah, jelaslah bahwa: 

Taman Eden yang serba lengkap adalah fiksi (yang malah dalam Wahyu Yohanes 22:1-2 dipandang sebagai suatu taman di masa depan, bukan di masa lalu); sepasang manusia dewasa pria dan wanita yang tidak memiliki pusar karena diciptakan dari tanah dan langsung dewasa adalah fiksi (sebaliknya, jika mereka diciptakan sebagai sepasang bayi dulu juga adalah fiksi, sebab keduanya pasti akan mati karena tak ada orangtua yang merawat dan memberi mereka susu);/8/ seekor ular yang bisa berbicara memperdaya dan meyakinkan Hawa adalah fiksi; buah pohon pengetahuan yang jika dimakan membuat si pemakan langsung cerdas (minimal secara moral) adalah fiksi; dan bahkan Tuhan Allah yang berkaki dan bertangan dan bermulut yang berjalan-jalan di Taman Eden pada hari-hari sejuk adalah juga fiksi. 

Demikian juga, anak-anak Allah yang dikuasai berahi lalu mengawini anak-anak perempuan manusia adalah fiksi yang terang-benderang.

Kisah alkitabiah tentang air bah yang melanda muka Bumi yang konon terjadi pada masa Nuh hidup ternyata dalam banyak rinciannya sejajar dengan kisah tentang banjir besar yang dikisahkan dalam Epik Gilgamesh (yang disusun pada millennium ketiga S.M.)./9/

Kita, dengan demikian, bisa dengan yakin menyatakan bahwa kisah alkitabiah tentang air bah ini ditulis sebagai sebuah fiksi mitologis dengan memanfaatkan epik akbar ini sebagai suatu sumber utamanya. 

Kita tahu ada banyak usaha untuk menyebarkan “junk science” (= sains rongsokan) yang seolah telah “membuktikan” bahwa air bah pada zaman Nuh dan bahteranya adalah sebuah kejadian historis dan sebuah benda faktual, bukan sebuah fiksi mitologis, seperti sedang dilakukan oleh Noah’s Ark Ministries International (NAMI)./10/

Begitu juga, keyakinan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Allah-yang-menjadi-daging adalah sebuah fiksi atau metafora teologis, karena tak bisa dibuktikan sama sekali sebagai sebuah fakta, sementara dapat dengan jelas dibuktikan bahwa daging manusia adalah perpaduan materi (pada level yang paling fundamental terdiri atas elektron, u-quark, dan d-quark) dan zat-zat kimiawi. Kalau orang Kristen berkeras bahwa mereka mengimani dengan kuat bahwa Yesus adalah Allah, maka iman yang kuat ini juga adalah sebuah metafora teologis. 

Berkaitan dengan tuturan injil tentang kelahiran Yesus, kita tahu dari sains biologi dan genetika bahwa tanpa sel-sel telur seorang perempuan dibuahi oleh sel-sel sperma seorang lelaki, dan tanpa kromosom dari pihak ayah, tak akan terbentuk sebuah janin manusia. Penulis-penulis Injil Matius dan Injil Lukas sama sekali tidak bermaksud memberitakan bahwa Yesus dari Nazaret dilahirkan melalui suatu cara kelahiran yang dinamakan parthenogenesis (“kelahiran perawan), tetapi mau menyatakan bahwa sang ayah yang membuat Yesus dilahirkan adalah Allah sendiri, Roh Kudus, bukan manusia, dan karena itu Bunda Maria mau tak mau diteorikan (dalam wujud fiksi) masih murni perawan ketika mengandung Yesus. 

Allah betul-betul berada di dalam dan menyatu dengan diri Yesus dari Nazaret, sejak dari dalam kandungannya, bahkan, menurut Injil Yohanes 1:1, sejak “pada mulanya” di dalam dunia adikodrati. Protologi (= doktrin teologis tentang hal-hal yang ada pada mulanya) sejenis ini sama sekali tidak bisa menutup pintu bagi suatu pertanyaan krusial siapakah ayah insani Yesus dari Nazaret yang sesungguhnya. 

Jika Yesus adalah sesosok manusia pria yang hidup dalam dunia kuno, maka pasti dia memiliki bukan saja seorang bunda insani, tetapi juga seorang ayah insani. Soal krusial ini tampaknya dicoba ditutupi oleh kisah-kisah kelahiran Yesus dalam permulaan Injil Matius dan Injil Lukas, yang ternyata dapat dikatakan, menurut pendapat banyak pakar tafsir kritis Perjanjian Baru, “dibocorkan” juga di dalam Injil Yohanes (8:41) dan dalam Injil Thomas (logion 105) yang menyebut secara tidak langsung bahwa Yesus dilahirkan karena suatu perzinahan./11/ Terus terang, bagi saya, topik ini susah didiskusikan, karena melibatkan banyak disiplin ilmu untuk orang bisa tiba pada suatu kesimpulan sejarah yang kuat.

Jika Yesus dari Nazaret bukan suatu figur fiktif mitologis seperti diargumentasikan belakangan ini oleh sejumlah mythicists,/12/ melainkan seorang manusia historis, jelas Yesus yang historis ini pasti pernah mengalami kelahiran seperti manusia pada umumnya. Cuma, kisah-kisah kelahiran dalam Injil Matius dan Injil Lukas sudah menyatupadukan fakta sejarah kelahiran Yesus ini (di sebuah kota kecil Nazaret) dengan fiksi-fiksi mitologis seperti yang baru saja dibeberkan. 

Melalui suatu usaha demitologisasi, mana hal yang mitologis dan mana hal yang faktual historis dalam kisah-kisah kelahiran Yesus ini dapat dipilah-pilah dengan cermat untuk mendapatkan suatu “historical core”-nya: yakni sebuah informasi bahwa Yesus dilahirkan di Nazaret dari seorang perempuan yang bernama Maria, dengan ayah insani yang tak jelas sosok dan identitasnya. Ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa Yesus sangat rindu pada ayahnya, kerinduan yang tak pernah terpenuhi. Tapi Yesus menemukan Allah bangsa Yahudi yang dipanggilnya dengan akrab dengan sapaan Bapa (Aram: Abba) sebagai pengganti ayah insani Yesus.

Konsisten dengan semua penilaian di atas, harus dikatakan bahwa Yesus yang sudah mati selama tiga hari dan mayatnya sudah membusuk hanya bisa dibangkitkan dalam fiksi, atau dalam teologi, bukan dalam realitas faktual karena tak ada suatu kemungkinan kecil historis apapun bagi suatu mayat yang sudah membusuk bisa hidup lagi. 

Makromolekul DNA, yang berisi seluruh cetak biru informasi genetik setiap individu, pada orang yang semua sel tubuhnya sudah mati pasti juga tak berfungsi lagi sehingga tidak akan ada lagi di dalam diri mayat ini suatu sekuen informasi genetik yang bisa memberi suatu instruksi kehidupan kepada zat-zat kimiawi protoplasmik yang sudah mati. 

Bahwa Yesus mati disalibkan adalah betul suatu fakta sejarah, tetapi bahwa Yesus dibangkitkan adalah sebuah metafora teologis yang dikarang untuk memberi suatu legitimasi teologis terhadap peristiwa kematian Yesus yang sangat memalukan umat Kristen perdana dulu. Kenapa memalukan? Karena bagi orang Yahudi, orang yang mati dikayusalibkan adalah orang yang terkutuk (Galatia 3:13; bdk Ulangan 21:23); dan berita bahwa keselamatan dicapai lewat kematian Yesus di kayu salib adalah, bagi orang di luar kekristenan, suatu kebodohan dan suatu batu sandungan (1 Korintus 1:23). 

Meski begitu, saya perlu tekankan, teologi kebangkitan Yesus adalah sebuah metafora teologis yang umumnya berfungsi positif bagi orang Kristen karena teologi ini membangkitkan harapan dan motivasi hidup dan daya juang di saat mereka sedang lemah karena didera berbagai persoalan dan azab dan sakit-penyakit yang berat. Saya juga memerlukan metafora ini. Beragama tidak bisa luput dari kebutuhan terhadap metafora-metafora. Sebentar lagi saya akan jelaskan apa itu metafora, sebuah kata yang kaya makna.

Dengan demikian, menurut saya, bukti terkuat dari kebangkitan Yesus adalah ketangguhan dan daya tahan kehidupan setiap orang Kristen, dan semangat serta harapan yang tak bisa pudar, dalam kehidupan yang berat dan penuh azab dalam dunia ini. Kebangkitan itu harus dialami, bukan cuma didoktrinkan.

Dalam dunia sains pun para ilmuwan perlu memakai metafora-metafora untuk menggambarkan suatu realitas dan fenomena yang belum bisa dijelaskan dengan sepenuh-penuhnya, atau jika realitas atau fenomena itu jadi lebih mudah dan lebih jelas dibayangkan dan dipahami dibandingkan jika yang digunakan bahasa matematis.

Big bang, jagat raya sebagai balon besar yang mengembang dengan makin cepat, jagat-jagat raya baru yang terus bermunculan sebagai balon-balon sabun dari busa dimensi ruangwaktu, black hole dan worm hole, dan masih banyak lagi, adalah beberapa metafora dari banyak metafora yang dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan. 

Dalam dunia keagamaan, metafora (berasal dari dua kata Yunani meta dan ferein) diartikan sebagai suatu medium linguistik dan nonlinguistik yang menjadi suatu wahana atau kendaraan yang membawa atau menyeberangkan (Yunani: ferein) manusia kodrati ke kawasan transenden adikodrati, yang melampaui (Inggris: beyond; Yunani: meta) kawasan imanen kodrati atau dunia real tempat kehidupan sehari-hari. 

Karena itulah, untuk menggubah dan mengonstruksi sebuah metafora, orang memerlukan kreativitas dan imajinasi kognitif yang bebas dan mampu terbang ringan dan tinggi tanpa batas, melintasi kawasan-kawasan kodrati keseharian, lalu menyeberang dan masuk ke kawasan nilai-nilai yang lebih agung dan lebih tinggi, kawasan transenden.

Semua hal yang dirujuk di atas, yang ditulis dalam Alkitab, adalah fiksi karena semuanya dapat diargumentasikan melalui suatu analisis saintifik sebagai sama sekali bukan fakta, tetapi hasil rekaan imajinasi kreatif manusia yang hidup pada masa pramodern dan prailmiah. Satu kalimat yang pas adalah: Kita membutuhkan metafora-metafora yang baik dan membangun kehidupan. 

Pada zaman kuno ini para penulis kitab-kitab suci memakai beranekaragam mitologi ketika menjelaskan realitas dunia mereka yang tak terpisahkan dari dunia adikodrati imajiner dengan semua penghuninya (allah-allah, dewa-dewi, para malaikat, dan jin-jin serta setan-setan) yang juga serba imajiner. 

Dalam mengisahkan peristiwa-peristiwa faktual dalam sejarah atau dalam dunia kontemporer, para penulis kitab-kitab suci, Alkitab khususnya, juga memakai mitologi fiksional yang dipadukan dengan fakta-fakta sejarah. Dalam banyak kasus, fakta-fakta sejarah yang mereka bungkus dalam suatu mitologi jumlahnya malah sedikit, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Mereka memadukan mitologi dengan sejarah; atau, lebih tepat, mereka tidak membuat pemisahan antara fakta sejarah dan fiksi mitologis. 

Realitas mereka pahami sebagai satu kesatuan tak terpisahkan antara dunia transendental adikodrati dan dunia imanen kodrati. Dunia khayangan di atas dan Bumi di bawah tak terceraikan. Seluruh realitas kehidupan bagi mereka penuh dengan kegaiban dan keramat. Mereka tidak mengenal apa yang manusia modern sebut sebagai genre sastrawi fiksi yang berkontras tajam dengan genre historiografi. 

Hal itu merupakan sebuah kenyataan bukan hanya dalam dunia Yahudi kuno, tetapi juga dalam dunia Yunani-Romawi kuno. Ada sekian orang besar Yunani-Romawi kuno dipercaya dilahirkan dari benih ilahi yang ditanam ke dalam rahim perempuan-perempuan insani. Perlu diketahui, dalam sebuah kajian komparatif atas sejumlah tulisan Plato, Christopher Gill menandaskan bahwa Plato sama sekali tidak membuat suatu pembedaan yang jelas antara wacana faktualnya dan wacana fiksionalnya; dan apa yang dilakukan Plato ini juga mencerminkan karakteristik luas pemikiran dan asumsi kultural dunia Yunani pada umumnya./13/


Hukum-hukum sains tak bisa dilanggar

Karena para penulis kitab-kitab suci kuno memandang bahwa dunia kodrati adalah juga arena tempat allah-allah dan dewa-dewi bersibuk diri dengan perkara-perkara insani dan perkara-perkara alamiah, maka, bagi mereka, senantiasa terbuka kemungkinan untuk allah-allah ini mencampuri jalannya apa yang pada zaman modern ini disebut sebagai hukum-hukum alam (the laws of nature). 

Bagi mereka yang memegang kosmologi kuno yang tak mengenal pemisahan antara dunia adikodrati dan dunia kodrati, alam berjalan karena semuanya diatur dan ditentukan dengan bebas oleh Allah. Tidak ada hukum-hukum alam yang berjalan sendiri lepas dari pengaturan dan kehendak Allah (sebagaimana pada zaman modern dipertahankan dalam deisme). Karena itu, bagi mereka, mukjizat senantiasa merupakan pengalaman nyata dan keadaan yang tak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, mukijzat bukanlah hal yang tak masuk ke dalam nalar mereka; malah sebaliknya, nalar manusia kuno membutuhkan dan memberi tempat bagi mukjizat terjadi. 


Dapatkah kekristenan yang mempercayai Alkitab sebagai wahyu ilahi 
menerima sains evolusi Darwinian?

Tetapi, bagi orang modern, mustahil hukum-hukum alam dilanggar oleh suatu kekuatan apapun, sebab hukum-hukum ini berlaku tetap dan abadi sejak jagat raya kita ini terbentuk “dari ketiadaan”, persisnya dari kondisi vacuum state, seperti ditulis Stephen Hawking dalam sebuah buku terbarunya, The Grand Design. Sang mahafisikawan ini menyatakan bahwa “Allah tidak dapat mencampuri jalannya jagat raya” yang sudah tercipta ex nihilo, dan bahwa “suatu hukum saintifik bukanlah suatu hukum saintifik jika hukum ini berlaku hanya apabila suatu makhluk adikodrati memutuskan untuk tidak mencampurinya.”/14/ 

Jadi, kalau bagi para penulis kitab-kitab suci kuno suatu mukjizat adalah sebuah realitas faktual yang terjadi karena Allah bebas melakukannya kendatipun sang Allah ini harus melanggar hukum-hukum alam yang sudah ditetapkannya, maka bagi kita yang hidup dalam zaman di mana sains modern menjelaskan segala sesuatu yang terdapat dalam dunia material, kisah-kisah tentang mukjizat dalam kitab-kitab suci adalah metafora-metafora.

Tidak seperti yang umumnya dipertahankan kalangan agamawan yang mau menjelaskan agama mereka melalui sains modern, menurut antara lain fisikawan Victor J. Stenger,/15/ prinsip ketidakpastian (the principle of uncertainty) Werner Karl Heisenberg (yang diperkenalkan pada tahun 1927) dalam mekanika quantum dan juga teori “kekacaubalauan” (chaos theory) dalam fisika dan kosmologi modern sama sekali tidak dapat dipakai untuk mendukung kemungkinan terjadinya mukjizat sebagai suatu peristiwa yang melanggar hukum-hukum sains.

Prinsip ketidakpastian Heisenberg menyatakan bahwa kita tidak bisa sama sekali pada waktu yang sama mengetahui dengan persis baik momentum suatu partikel subatomik elektron maupun posisinya dalam dunia subatomik. Prinsip ini hanya berlaku dalam dunia mikro, dunia subatomik partikel elektron atau partikel lain, dan bukan dalam dunia makro (yang dikendalikan oleh hukum-hukum fisika Newtonian) yang mencakup pengalaman kehidupan sehari-hari di muka Bumi sampai realitas jagat raya yang mahabesar. 

Kalaupun untuk mendatangkan mukjizat dalam dunia makro, Allah bekerja dalam koridor “prinsip ketidakpastian” mekanika quantum, tetap saja Allah ini melanggar prinsip ketidakpastian quantum ini yang sebenarnya memiliki kemauan sendiri untuk bekerja dalam suatu ketidakpastian, dan tidak bisa dilanggar. Karena yang bekerja itu suatu ketidakpastian, tidak ada suatu kekuatan eksternal apapun yang bisa memastikan ke arah mana ketidakpastian ini harus bekerja pada dirinya sendiri.

Prinsip ketidakpastian ini membuat klaim absolutis ekstrim kiri dan klaim absolutis ekstrim kanan tidak berlaku; kita ditempatkan dalam suatu sikon yang serba terbuka, tidak tertutup, sistem yang relatif. Keterbukaan, dan penolakan pada absolutisme, tidak sama dengan kekacaubalauan. Dalam studi Victor J. Stenger ditemukan bahwa sistem mekanika quantum secara statistikal bersifat deterministik, linier dan tidak menampakkan kekacaubalauan dalam aneka bentuk.

Menurut teori chaos (landasan empirisnya ditemukan secara kebetulan oleh Edward Lorenz pada 1961) suatu perubahan terkecil dalam kondisi-kondisi awal dapat menimbulkan suatu perilaku sistem yang berbeda secara dramatis, berubah menjadi chaos yang tampak tidak terprediksi. 

Atmosfir Bumi adalah sebuah contoh dari suatu sistem yang chaotic, yang bisa menimbulkan turbulensi cuaca mendadak dalam hubungannya dengan Bumi dan lautan. Otak manusia juga dapat berada pada “sisi-sisi pinggir kekacaubalauan”, karena dari kondisi yang stabil dan dapat diprediksi dalam banyak kesempatan tiba-tiba saja kerja otak dapat berubah dengan sangat cepat di bawah kondisi-kondisi tertentu yang pas. Begitu juga, kondisi “kacaubalau” yang diteorikan terjadi pada awal terbentuknya jagat raya adalah suatu kondisi yang berlangsung sebagai fenomena alamiah, yang bekerja menurut hukum fisika Newtonian dan sama sekali tak melibatkan suatu oknum adikodrati apapun yang dinamakan Allah. 

Saya mau memakai sebuah ilustrasi yang mudah-mudahan tepat. Kalau kita dapati kepribadian seseorang itu “kacaubalau” dan “berubah-ubah drastis dari waktu ke waktu tak terprediksi”, keadaan chaotic dalam dirinya ini tidak mengacu kepada suatu intervensi suatu makhluk supernatural (allah atau setan, misalnya) ke dalam dirinya sebagai penyebabnya, tetapi menunjukkan ada suatu problem psikologis dan problem neural (problem di organ otak) dalam dirinya sendiri sebagai manusia, seperti bisa diperlihatkan dan diprediksi oleh psikologi dan neurosains berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya yang ternyata berulang.

Dus, chaos itu terjadi oleh penyebab-penyebab internal dalam suatu sistem, bukan karena dicampuri dengan paksa oleh suatu kekuatan eksternal apapun. Menurut Victor J. Stenger, chaos dalam teori chaos adalah chaos yang deterministik,/16/ alias tidak nyelonong sendirian.

Jadi, menurut hukum-hukum sains, mukjizat sama sekali tak dimungkinkan terjadi. Tetapi, dalam suatu zaman prasaintifik yang belum tersekularisasi, banyak mukjizat dilaporkan oleh kitab-kitab suci terjadi dalam alam, yang dilakukan oleh figur-figur agung yang dipercaya memiliki kekuasaan dan kekuatan ilahi.

Bagi penulis Perjanjian Lama, yang meyakini bahwa Yahweh, Allah mereka, selalu berpihak kepada bangsa Israel dan selalu melawan bangsa-bangsa asing, bukanlah hal aneh jika Tuhan Allah, karena berpihak kepada bangsa Israel, lewat tangan nabi besar Musa sanggup membelah Laut Merah semalam-malaman melalui hembusan angin timur yang sangat kuat (Keluaran 14:21) supaya mereka dapat luput dari kejaran Firaun Mesir dan bala tentaranya dengan menyeberangi Laut Merah yang sudah terbelah sehingga tersedia jalur tanah kering untuk sementara waktu.

Si penulisnya, ketika menulis kisah epik besar imajiner ini, sama sekali tidak memikirkan bahwa mustahil ribuan orang Israel, dalam kegelapan malam, tanpa cahaya Matahari atau bulan atau lampu neon atau kunang-kunang, bisa dengan tenang dan selamat menyeberangi laut itu di dalam hembusan angin badai yang sangat kuat semalam-malaman, yang akan membuat mereka tentu bukan hanya sekadar masuk angin, tetapi juga terlempar ke mana-mana bak daun-daun kering. Ya itulah ciri kisah-kisah epik. 

Sangat sulit untuk mendapatkan unsur-unsur historis dalam epik penyeberangan Laut Merah ini—sesuatu yang bertentangan dengan segala usaha kalangan Kristen literalis evangelikal untuk “membuktikan” (atau lebih tepat: menyebarkan suatu kabar bohong) bahwa penyeberangan Laut Merah adalah suatu peristiwa sejarah.

Bagi si penulis kitab Yunus dalam Perjanjian Lama, karena Allah memegang kendali atas gelora lautan dan atas binatang-binatang dalam laut, dan berdaulat atas bangsa-bangsa lain, maka dimungkinkan sama sekali kalau Yunus yang sudah ditelan seekor ikan besar bisa tinggal dengan tenang dan aman selama tiga hari tiga malam dalam perut ikan ini dan malah bisa berdoa bermalam-malam suntuk di dalamnya (Yunus 1:17-2:10) seolah dia sedang tinggal di dalam sebuah kamar ber-AC di sebuah hotel berbintang lima (tanpa listrik) yang kita bayangkan menyediakannya nasi, lauk dan anggur selama tiga hari tiga malam. 

Bukan hanya itu, menurut penulis kitab Yunus bahkan Allah sanggup dalam semalam menumbuhkan sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk daun-daun lebarnya menaunginya (Yunus 4:6, 10) ketika Yunus sedang menunggu kota Niniwe dihancurkan oleh Allah dan penduduknya dibinasakan, yang ternyata malah tidak terjadi, sesuatu yang sama sekali sangat tidak diharapkan oleh Yunus. 

Kajian kritis atas kitab Yunus membuat kita harus menyimpulkan bahwa seluruh kitab Yunus adalah fiksi atau metafora teologis yang direka-reka si penulisnya untuk menentang partikularisme Israel (pandangan bahwa Allah hanya memilih dan menyayangi satu umat partikular, yakni bangsa Israel) dan membela universalisme teologis (pandangan bahwa Yahweh Israel adalah juga Allah seluruh bangsa di seluruh muka Bumi dan Allah ini menyayangi juga bangsa-bangsa lain di seluruh muka Bumi). Tidak ada sedikitpun fakta sejarah yang menyangkut figur yang diberi nama Yunus dalam kitab ini, kecuali negeri yang bernama Niniwe. Meski merupakan fiksi, pesan historis kontekstual fiksi tentang sosok Yunus tokh sangat jelas.

Dalam Perjanjian Baru, ada banyak kisah tentang Yesus membuat mukjizat, dengan dia melanggar hukum-hukum alam dengan bebasnya. Pada kesempatan ini, ambil dua contoh yang luar biasa, yakni Yesus berjalan di atas air (Markus 6:45-52; Matius 14:22-33; Yohanes 6:16-21) dan Yesus memberi makan lima ribu orang lelaki (tak termasuk anak-anak dan perempuan) hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan (Markus 6:30-44; Matius 14:13-21; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:1-13). Apakah kedua kisah ini kisah faktual atau kisah fiktif?

Telaah kritis atas kisah injil tentang Yesus berjalan di atas air sudah saya lakukan di tempat lain./17/ Kisah ini sepenuhnya adalah fiksi, karena tak ada suatu kemungkinan kecil faktual apapun untuk seorang manusia dalam keadaan alamiah bisa berjalan di atas air sebab massa jenis tubuh manusia lebih besar dari massa jenis air yang akan membuatnya tenggelam di dalam air. Satu hal yang merupakan fakta sejarah adalah kebiasaan Yesus dan murid-muridnya berperahu di Danau Galilea yang sewaktu-waktu dapat bergelombang besar.

Kalau Yesus bisa berjalan di atas air yang dalam (katakanlah karena dia memiliki “ilmu meringankan tubuh” yang konon, menurut dongeng, dimiliki para guru silat Biara Shao Lin), dia sebetulnya memiliki suatu kesempatan emas untuk mendemonstrasikan kepandaian hebatnya ini di hadapan orang banyak (konon berjumlah sampai lima ribu orang laki-laki; lihat Markus 6:30-44, sebuah perikop yang langsung mendahului perikop Markus 6:45-52) untuk membuat mereka terkesima lalu menjadi percaya padanya. 

Tetapi, menurut teks yang kita baca, dengan disaksikan orang banyak yang terus mengikutinya, Yesus dan murid-muridnya “mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi” (Markus 6:32). Demikian juga, dalam kisah sebelumnya tentang Yesus meredakan angin ribut (Markus 4:35-41), di hadapan orang banyak yang melihatnya dan dengan di kelilingi perahu-perahu lain yang sedang berlayar di Danau Galilea, Yesus seharusnya dapat mendemonstrasikan kehebatannya jika memang dia bisa berjalan di atas air. 

Tetapi apa kata teks yang kita baca? Bukannya Yesus berjalan di atas air danau, dia malah “duduk” lalu “tidur” dalam perahu yang membawanya bertolak bersama murid-muridnya. Bukankah orang banyak akan makin terkesima lalu percaya pada Yesus jika Yesus bukan saja memperlihatkan kemampuannya meredakan angin ribut (4:39) tetapi juga kemampuannya berjalan di atas air? Jadi, bertolak dari teks-teks ini kita harus menyimpulkan bahwa Yesus sebetulnya tidak bisa berjalan di atas air. 

Jika demikian halnya, mengapa Markus 6:45-52 mengisahkan Yesus berjalan di atas air di tengah Danau Galilea? Kisah Markus ini tidak bermaksud melaporkan suatu kejadian sejarah faktual (bahwa Yesus dulu betulan berjalan di atas air yang dalam), melainkan mau menyampaikan sebuah ajaran tentang pemuridan (discipleship) yang dibutuhkan komunitas-komunitas yang menerima dan membaca kisah ini, yakni ajaran tentang bagaimana orang seharusnya bersikap sebagai murid Yesus dalam suatu kehidupan nyata yang keras yang sedang mereka jalani, kehidupan yang secara ilustratif simbolik dilukiskan sebagai sebuah pelayaran yang berbahaya. Selain itu, jika air bah dalam kisah tentang Nabi Nuh memusnahkan manusia, kisah dalam Injil Markus 6 tersebut memberi sebuah pesan lain: air Danau Galilea yang sedang mengamuk diinjak-injak dan ditaklukkan Yesus, sang Tuhan gereja. 

Dua pesan historis kontekstual metafora Yesus berjalan di atas air ini sangat kuat menggugah kalbu dan rasa serta membangun semangat yang semula sudah kendor atau pudar. Saya di era modern juga menerima manfaat besar dari pesan metafora ini. Saya dalam sekian momen kehidupan saya betul-betul dilanda gelombang pasang yang menerjang. Saya perlu memandang wajah Yesus di saat-saat itu. Itulah kekuatan sebuah metafora. 

Oh ya, by the way, kalau Yesus bisa berjalan di atas air, dia tak akan perlu bersusah payah dan berlelah-lelah berjalan kaki atau naik seeokor keledai ketika dia dan murid-muridnya pergi ke Yerusalem pada suatu waktu perayaan Paskah Yahudi, sebab dia dapat menuju kota suci ini dengan terbang melayang di muka Bumi, malah, karena dia maha hebat, mungkin terbang dengan kecepatan cahaya sehingga dia menggugurkan teori relativitas khusus Albert Einstein. Tentu saja hal ini khayalan saya sendiri yang tak pernah terjadi.

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ekor ikan juga sudah saya telaah dengan kritis di tempat lain, dengan suatu kesimpulan bahwa kisah ini adalah suatu fiksi teologis mitologis./18/ Sejumlah unsur fiktif dalam kisah ini bisa ditunjukkan. Mustahil Yesus dari Nazaret bisa dengan aman menghimpun sampai 5000 orang lelaki di suatu negeri yang sedang dijajah Roma, di suatu provinsi (Galilea) yang sedang diperintah Raja Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) yang akan selalu mencegah dan menindas secara militeristik setiap upaya pengerahan massa seperti pernah dilakukannya terhadap Yohanes Pembaptis yang telah berhasil menghimpun banyak pengikut, sebagaimana dilaporkan oleh seorang sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus (Antiquitates Judaica 18.116 dyb). Geza Vermes menyatakan bahwa jumlah 5000 orang ini tampak “dibesar-besarkan.”/19/ 

Tak ada suatu kemungkinan faktual sekecil apapun bahwa 5 roti dan 2 ekor ikan di tangan Yesus, sehabis didoakannya, langsung bertambah berlipat ganda, sehingga mendadak di sekitar Yesus muncul bergunduk-gunduk roti dalam jumlah besar; atau bahwa ketul-ketul roti dan ikan yang ada di tangan murid-murid Yesus ketika dibagi-bagikan tak bisa habis-habis, satu diberi langsung muncul satu yang baru lagi. Para mentalis dan illusionis dalam zaman modernpun, dengan menggunakan trik mental dan trik teknologis secanggih apapun, tak akan sanggup melakukan hal ini. 

Jadi, harus dinyatakan bahwa kisah ini tak lain adalah sebuah fiksi teologis mitologis yang dibangun dengan ilham dari teks-teks suci Perjanjian Lama yang mengisahkan keajaiban-keajaiban yang dibuat Musa (Keluaran 16) atau Elia dan Elisa (bdk 1 Raja-raja 17:11-16; 2 Raja-raja 4:42-44), dan memakai figur-figur besar ini sebagai model-model untuk membangun suatu citra religiopolitis Yesus yang diperlukan umat Kristen perdana di suatu kawasan yang mengharuskan mereka berkompetisi religiopolitis./20/


Sensus plenior

Jika bagian terbesar (60 hingga 80 persen) dokumen-dokumen kitab suci adalah fiksi, dan hanya 20 sampai 40 persen fakta sejarah, maka hal ini sungguh menjadi suatu problem besar bagi seorang kritikus historis yang mau mencari landasan-landasan historis bagi suatu iman keagamaan yang dapat diandalkan, solid, tidak mengawang, tidak mengapung, dan dapat dipertanggungjawabkan. Problem ini memang suatu problem yang dihadapi para penafsir historisis modern. Seperti dikatakan Feeney, “Para kritikus kuno…banyak menaruh perhatian lebih pada kelaikan moral dan nilai filosofis pernyataan-pernyataan fiksional yang mereka buat ketimbang pada status logis pernyataan-pernyataan itu atau pada sifat realitas pernyataan-pernyataan itu, sedangkan kritisisme modern arus utama memiliki prioritas yang berkebalikan.”/21/ 

Para kritikus sastra modern, khususnya kritikus historis berbagai sastra dalam kitab-kitab suci, dengan memakai nalar, logika, sains, hukum-hukum alam, dan pengalaman sejarah sebagai instrumen-instrumen evaluatif, umumnya memandang suatu tulisan suci itu bernilai kalau tulisan suci ini melaporkan suatu peristiwa sejarah yang bisa ditelaah dan dijelaskan dengan logis, dan bukan memuat dongeng atau mitologi atau fiksi. Bagi mereka, seolah semua dongeng, mitologi atau fiksi dalam kitab-kitab suci tidak memiliki nilai-nilai lain apapun yang bukan nilai historis, misalnya, seperti ditulis Feeney, nilai moral yang dapat menjadikan manusia memiliki budi pekerti yang baik dan nilai filosofis yang bisa membuat orang memiliki berbagai kebijaksanaan hidup.

Juga harus selalu diingat bahwa bukan dalam rangka mengajarkan sejarah, Yesus banyak bercerita lewat semua perumpamaan fiktifnya, melainkan untuk memberi berbagai ilustrasi bagaimana Allah itu dapat dimasuki dan dialami sebagai Allah yang penuh kerahiman dan kemurahan. 

Teologi ternyata juga memerlukan dan memang memakai fiksi atau metafora sebagai suatu wahana sastra komunikatif untuk menyampaikan pesan-pesannya. Fiksi juga menyandang suatu nilai religius. Dengan fiksi juga, orang dapat membuat banyak hal dalam dunia ini make sense, bermakna, dapat dimengerti dan masuk ke dalam akalnya, sebab setiap fiksi menyediakan logikanya sendiri.

Fiksi spiritual religius memang bisa membangun suatu moralitas yang bagus pada diri seorang beragama, dan bisa juga membuatnya lebih berhikmat, imajinatif, berbahagia dan terhibur dalam arti-arti tertentu, dan dapat membantunya masuk ke dalam berbagai pengalaman religius yang diproses dalam organ otak manusia. 

Tetapi, saya ingin tekankan, kebanyakan hidup dalam kepercayaan pada fiksi dapat membuat orang terasing sama sekali dari kenyataan kehidupan yang seringkali tidak sebagus yang digambarkan dalam fiksi apapun, atau malah lebih baik ketimbang yang dideskripsikan dalam fiksi-fiksi yang suram.

Bagi penafsir historisis, iman tanpa pijakan pada sejarah akan melahirkan seorang beragama yang hidup dalam delusi (= suatu kepercayaan yang salah, antara lain karena tak memiliki dasar pada fakta sejarah, tetapi tetap dipertahankan kuat-kuat); dan delusi dapat membuat orang pada akhirnya hidup dalam suatu alam khayalan dan paling akhir tak mampu lagi membedakan mana fakta dan mana nonfakta.

Tetapi para penafsir historisis juga dengan terbuka mengakui bahwa mereka bukanlah kalangan yang satu-satunya berhak menentukan makna tunggal dalam setiap teks suci keagamaan, teks yang digunakan sebagai pembimbing bagi suatu komunitas keagamaan yang memilikinya. Makna tekstual historis dari suatu teks keagamaan barulah satu makna saja, bukan seluruh makna teks suci apapun, meskipun makna historis ini, hemat saya, merupakan makna yang pertama-tama harus ditemukan dalam setiap usaha memahami teks suci apapun.

Dalam dunia penafsiran teks-teks Alkitab dikenal apa yang dinamakan sensus plenior, yakni “makna yang lebih penuh” atau “makna yang lebih dalam”, yang secara dogmatis dinyatakan sebagai makna-makna yang diberikan atau ditambahkan Allah kepada setiap teks suci, apapun genre dari teks suci ini, di luar dari yang dikehendaki si penulis asli teks. 

Sebagaimana semua ide yang ada dan akan ada dalam dunia ini, termasuk ide-ide baru dalam dunia ilmu pengetahuan, ide tentang sensus plenior ini tentu saja ide insani, ide yang disusun dan dikonsep oleh manusia, oleh para penafsir insani. Kalau berguna ya dimanfaatkan, jangan dimutlakkan sebagai ide yang tak bisa salah.

Menurut Walter C. Kaiser, istilah “sensus plenior” diciptakan oleh F. Andre Fernandez pada tahun 1927/22/ dan dipopulerkan oleh Raymond E. Brown yang mendefinisikan sensus plenior sebagai “makna tambahan, yang lebih dalam, yang dikehendaki oleh Allah tetapi tidak dengan jelas dikehendaki oleh si pengarang insani, yang dilihat ada dalam kata-kata suatu teks alkitabiah (atau sekelompok teks, atau bahkan suatu buku secara keseluruhan) ketika teks-teks ini dikaji dari sudut pandang wahyu atau perkembangan yang lebih jauh dalam pemahaman atas wahyu.”/23/

Dalam hermeneutik Yahudi, “makna yang lebih penuh” ini dijumpai dalam empat peringkat makna yang dipandang ada dalam setiap teks kitab suci, yakni peshat (= makna harfiah; pada peringkat filologis kontekstual), remez (= makna alegoris, yakni makna lain yang bukan makna harfiah, yang dapat diperoleh jika dilakukan referensi silang terhadap teks-teks lain, yang ada pada peringkat rasional atau filosofis), derash (= makna moral atau makna homiletis; berada pada peringkat aggadis, peringkat penafsiran/midrashik melalui derash), dan sod (= makna anagogis atau makna mistikal, yang “membawa” atau “memimpin” [Yunani: anagō] orang kepada kawasan spiritual yang lebih tinggi)./24/ Empat peringkat makna ini juga menjadi fokus dari hermeneutik gereja pada Abad Pertengahan./25/ 


Penutup

Perbincangan di atas tentang nisbah fiksi dan fakta sejarah dalam kitab suci membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa dokumen-dokumen dalam kitab suci tidak bisa dibatasi hanya pada genre fiksi dan genre historiografi dan interrelasi antara keduanya, sebab setiap teks kitab suci memiliki minimal empat peringkat makna yang keseluruhannya membentuk “makna yang lebih penuh” dari setiap teks kitab suci. 

Ingatlah juga bahwa jenis sastra A atau B atau C atau D berisi maksud, tujuan dan makna masing-masing yang tidak sama. Ketahuilah juga, dalam setiap kitab keagamaan terdapat banyak jenis sastra, tidak cuma satu dan seragam. Kitab-kitab keagamaan itu kaya, tidak miskin, sastra.

Baik saya beri satu dua contoh dalam zaman kita. Sebuah kolom berita di surat kabar tentang peresmian sebuah jalan tol baru yang panjang berisi maksud dan tujuan serta makna atau pesan yang berbeda jika dibandingkan dengan puisi-puisi dan cerita-cerita pendek pelipur lara atau iklan-iklan yang diterbitkan di koran yang sama. Juga berbeda dari berita-berita dusta dan fitnah dan nyinyiran yang banyak beredar di berbagai media sosial. 

Dengan demikian, untuk menemukan dengan tepat maksud, tujuan, makna dan pesan dari setiap jenis tulisan itu diperlukan metode-metode dan pendekatan-pendekatan tafsir yang berbeda. Para literalis skripturalis telah lama salah memahami kitab-kitab keagamaan, dan mereka tak tahu metode-metode keilmuan dalam bidang ilmu tafsir.

Namun, bagi saya, jika anda memilih, sejalan dengan kecondongan kognitif anda, untuk menemukan makna historis sebuah teks keagamaan dari jenis sastra metafora, dan menjauhkan diri dari konten fiksinya, ya jalankan keputusan anda itu dengan ringan, bebas dan riang. 

Tapi jika anda mencukupkan diri dengan huruf-huruf sastra-sastra metaforis imajinatif kreatif dalam kehidupan beragama anda, dan tak tertarik untuk memikirkan faktasitas atau nonfaktasitas konten teks-teks yang anda sedang baca, dan mencukupkan diri dengan iman dan kepercayaan religius anda, ya jalankanlah pilihan anda ini dengan bebas. 

Saya memberi saran ini saja: jalankan dan amalkan pesan-pesan metafora-metafora yang anda temukan membangun kehidupan dan peradaban. Lepaskan metafora-metafora yang anda temukan menghancurkan dan membinasakan kehidupan dan peradaban. Kalau anda menutup akal dan menolak ilmu pengetahuan, saya berharap nurani anda tetap hidup dan membuahkan kehidupan dan kasih sayang semesta.

Bagaimana pun juga, dalam rangka suatu kajian ilmiah terhadap agama,/26/ hermeneutik historisis yang berupaya menemukan makna teks suci dalam konteks sejarah kelahirannya haruslah tetap menjadi suatu hermeneutik yang berada di baris terdepan. 

Mengapa? Sebab suatu iman keagamaan yang tidak memiliki suatu dasar sejarah dan hampa kesadaran konteks zaman dan tempat, akan mudah tergelincir menjadi suatu iman khayalan dan delusi yang bisa membahayakan seorang yang beragama dan komunitas keagamaannya dan bahkan dunia ini secara menyeluruh. 

Jika suatu agama apapun ingin menjadi sebuah pranata sosial yang dapat mendatangkan kebaikan kepada dunia luas, umat beragama ini harus bisa memetik pengalaman baik dari masa lampau kehidupan agama mereka, dan membuang pengalaman buruknya. Untuk tujuan inilah seharusnya fiksi dan fakta sejarah dalam kitab-kitab suci ditafsirkan dan dijelaskan. Pertanyaan berikut ini penting untuk dijawab: Untuk tujuan-tujuan historis kontekstual apakah dokumen-dokumen dalam setiap kitab suci, baik yang bersifat fiksional maupun yang bersifat faktual, telah ditulis?

Stay blessed. 
Keep moving forward.

ioanes rakhmat

Editing mutakhir 12 April 2018



Catatan-catatan

** Penulis adalah seorang kritikus teologi dan agama, dan juga menjadi seorang pengamat perkembangan sains modern, tinggal di Jakarta. Alamat email: ioanes27@yahoo.com. Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi bertema Fiksi dan Non-Fiksi dalam Kitab Suci, yang diselenggarakan oleh Jaringan Islam Liberal pada Kamis, 4 November 2010, di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta, Indonesia. Rekan Hamid Basyaib menjadi pembicara kedua.


/1/ Michael Wood, “Prologue” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction in the Ancient World (Exeter: University of Exeter Press, 1993) xvi (xiii-xviii).

/2/ John Dominic Crossan, The Birth of Christianity: Discovering What Happened in the Years Immediately After the Execution of Jesus (San Francisco: Harper-SanFrancisco, 1998, 1999) 25; idem, “Historical Jesus As Risen Lord” dalam Gerald P. McKenny, gen. ed., The Jesus Controversy (Harrisburg, PA: Trinity Press International, 1999) 3.

/3/ Michael Wood, “Prologue” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, xiii (xiii-xviii).

/4/ Charles W. Hedrick, Parables As Poetic Fictions: The Creative Voice of Jesus (Peabody: Hendrickson Publisher, 1994) 81 ff. Hedrick memanfaatkan kajian Franck Kermode, The Sense of An Ending: Studies in the Theory of Fiction (London: Oxford, 1966).

/5/ D.C. Feeney, “Towards an Account of the Ancient World’s Concepts of Fictive Belief” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, 233 (230-244).

/6/ John D. Crossan, “Historical Jesus As Risen Lord”, 5.

/7/ Sebuah uraian bagus tentang sekularisasi terdapat antara lain dalam karya Peter L. Berger, The Sacred Canopy: Elements of A Sociological Theory of Religion (New York: Doubleday & Company, 1969 [1967]). Belakangan, Berger berbicara tentang desekularisasi dunia; lihat Peter L. Berger, “The Desecularization of the World: A Global Overview” dalam Peter L. Berger, ed., The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics (Washington, D.C.: Ethics and Public Policy Center, 1999) 1-18. 

Gagasan Berger bahwa bangkitnya suatu pandangan dunia rasional telah merongrong fondasi iman kepada suatu dunia adikodrati, hal-hal yang misterius, dan magi, sangat kuat dipengaruhi oleh Max Weber melalui tulisannya, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Diterjemahkan oleh T. Parsons (New York: Scribner’s, 1930 [New York: Routledge Classics, 2006, dengan introduksi Anthony Giddens]); dan The Sociology of Religion (Boston: Beacon Press, 1993 [1922]). Tentang sekularisasi, lihat juga Talal Asad, Formations of the Secular: Christianity, Islam, Modernity (Stanford, CA: Stanford University Press, 2003) bab 6 (181-201).

/8/ Alternatif ketiganya yang paling natural adalah Adam dan Hawa, manusia, adalah produk proses evolusi biologis spesies sebelumnya, melalui seleksi alamiah dan mutasi genetik yang berlangsung acak dan buta, tanpa desain apapun sebelumnya.

/9/ N.K. Sandars (penerjemah dan pengintrodusir), The Epic of Gilgamesh (London: Penguin Books, 1960, 1972) 108-113.


/10/ Sebuah tangkisan ilmiah terhadap klaim “junk science” NAMI, lihat Robert R. Cargill, “On the Misuse of Archaeology for Evangelistic Purposes” (June 2010) dalam http://www.bibleinterp.com/articles/misuse357930.shtml.

/11/ Gerd Lüdemann, Virgin Birth? The Real Story of Mary and Her Son Jesus (Harrisburg, PA: Trinity Press International, E.T. 1998) 131-134. Beberapa pakar yang menelusuri siapa ayah insani Yesus akan menemukan bahwa ayah insani Yesus yang sesungguhnya mungkin sekali adalah (Tiberius Julius Abdes) Panthera, seorang prajurit Roma, mungkin seorang Yahudi, asal Sidon. Tentang usaha penelusuran ini, lihat antara lain James D. Tabor, The Jesus Dynasty: The Hidden History of Jesus, His Royal Family, and the Birth of Christianity (dengan sebuah epilog baru) (New York, etc.: Simon & Schuster Paperback, 2007) 59-72. Suatu analisis sastra yang memperlihatkan bahwa kisah-kisah alkitabiah tentang kedua orangtua Yesus (Yusuf dan Bunda Maria) adalah kisah-kisah fiktif, lihat John Shelby Spong, Jesus for the Non-Religious (New York: HarperCollins Publisher, 2007) 25-36; idem, Yesus Bagi Orang Non-Religius: Menemukan Kembali Yang Ilahi di Hati Yang Insani. Terjemahan Indonesia oleh Ioanes Rakhmat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) 31-45.

/12/ Untuk suatu kajian kritis mutakhir yang hendak membuktikan bahwa Yesus adalah suatu figur mitologis yang tak pernah ada dalam sejarah, lihat Earl Doherty, Jesus Neither God Nor Man: The Case for A Mythical Jesus (new, revised and expanded) (Ottawa, Canada: Age of Reason Publication, 2009). Nama-nama berikut juga adalah para mitisis dalam kajian tentang Yesus: Thomas S. Verenna, James G. Crossley, Richard Carrier, dan Robert M. Prize.

/13/ Christopher Gill, “Plato on Falsehood—Not Fiction” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, 41, 69, 79, 81, 87 (38-87).

/14/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010) 30, 34, 171.

/15/ Victor J. Stenger, Quantum Gods: Creation, Chaos, and the Search for Cosmic Consciousness (New York: Prometheus Books, 2009) 118-119, 1 47-162, 209-225, 227-237; idem, The New Atheism: Taking a Stand for Science and Reason (New York: Prometheus Books, 2009) 194-197. Lihat juga Michael D. Fayer, Absolutely Small: How Quantum Theory Explains Our Everyday World (New York: Amacom, 2010) 76 ff.

/16/ Victor J. Stenger, Quantum Gods, 149.

/17/Lihat tulisan penulis, “Yesus berjalan di atas air?” dalam http://www.ioanesrakhmat.com/2009/07/yesus-berjalan-di-atas-air.html.

/18/Lihat tulisan penulis, “5 Roti dan 2 ikan, yang makan 5000 orang” dalam http://www.ioanesrakhmat.com/2010/09/5-roti-dan-2-ikan-yang-makan-5000-orang.html.

/19/ Geza Vermes, The Authentic Gospel of Jesus (London, etc.: Penguin Books, 2004) 12.

/20/ Gerd Lüdemann, The Great Deception and What Jesus Really Said and Did (New York: Prometheus Books, 1999) 72; Geza Vermes, The Authentic Gospel of Jesus, 13.

/21/D.C. Feeney, “Towards an Account of the Ancient World’s Concepts of Fictive Belief”, 234.

/22/ Walter C. Kaiser, Jr., “Single Meaning, Unified Referents: Accurate and Authoritative Citations of the Old Testament by the New Testament,” dalam Stanley N. Gundry et al., Three Views on the New Testament Use of the Old Testament (Grand Rapids: Zondervan, 2007), 47.

/23/ Raymond E. Brown, The Sensus Plenior of Sacred Scripture (Baltimore: St. Mary’s University, 1955), 92; idem, “The History and Development of the Theory of a Sensus Plenior,” Catholic Biblical Quarterly 15 (1953) 141-162; idem, The Jerome Biblical Commentary Vol. 1 (London: Geoffry Chapman Publishers, London, 1971) 605–623. Lihat juga David H. Stern, Jewish New Testament Commentary (Maryland, 1992) 11–14.

/24/ Lihat Bryan Griffith Dobbs, “Levels of Meaning in Holy Scripture: ‘PaRDeS’” dalam http://www.kheper.net/topics/hermeneutics/PaRDeS-1.htm.

/25/ Lihat antara lain Mark Holtz, “All Scripture Is Inspired By God: Medieval Exegesis and the Modern Christian” (Catholic Dossier, March-April 1996) dalam http://www.ewtn.com/library/scriptur/medmod.txt.

/26/ Tentang alasan-alasan mengapa agama perlu dikaji secara saintifik, lihat tulisan saya dalam http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2010/09/mengapa-agama-harus-dikaji-secara.html; dan juga dalam Koran Tempo edisi 24 September 2010 hlm. A10 atau dalam http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/09/24/Opini/ krn.20100924.212624.id.html.