Sunday, November 14, 2010

Protevangelium Jacobi
atau Kisah Masa Kanak-kanak Bunda Maria menurut Yakobus

oleh Dr Ioanes Rakhmat*

Tulisan ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berupa pengantar, yang berisi uraian-uraian tekstual dan historis tentang sebuah dokumen yang dinamakan Protevangelium Jacobi (selanjutnya ditulis singkat PJ), yang mencakup uraian-uraian tentang lapis-lapis tekstual dokumen ini, penulis dan waktu penulisan, tema terpenting, dan tujuan penulisan. Bagian kedua memuat seluruh teks dokumen ini yang terdiri atas 25 pasal. PJ disebut juga the Infancy Gospel of James dalam buku-buku berbahasa Inggris; dalam bahasa Indonesia penulis makalah ini menamakannya Kisah Masa Kanak-kanak Bunda Maria menurut Yakobus. 


Patung Bunda Maria meneteskan darah dari mata, hidung dan mulut. Tentu, ini sebuah metafora artistik. 

 


Lapis-lapis teks
 
Dokumen dasariah PJ kemungkinan besar mencakup hanya pasal 1-20, yakni kisah tentang kelahiran dan masa kanak-kanak Bunda Maria dan juga tentang kelahiran Yesus (Schneemelcher 1991:424). Kepada dokumen dasariah PJ ini kemudian ditambahkan pasal 21-22 (yang sebagian sejajar dengan Matius 2:1-18) tentang Raja Herodes Agung yang menjadi sangat murka karena diperdaya para ahli perbintangan dan keadaan ini mendorongnya untuk melakukan pembunuhan atas kanak-kanak yang berusia dua tahun ke bawah di Betlehem. 


Pasal 23-24 mengisahkan pembunuhan Zakharia, ayah Yohanes (Pembaptis), oleh orang-orang suruhan Herodes Agung. Ketika penulis Kristen Origenes (185-254) mengacu ke perkawinan pertama Yusuf sebagaimana dikisahkan dalam PJ, dia memberikan suatu alasan yang berbeda dari yang diberikan dalam PJ mengenai alasan kematian Zakharia. Hal ini menunjukkan bahwa pasal 23-24 ditambahkan belakangan sesudah Origenes, dengan editornya menambahkan sebuah kisah yang disusun kurang lebih sejalan dengan kisah yang ditemukan dalam Injil Lukas yang menggabungkan tradisi tentang kelahiran Yohanes Pembaptis dan tradisi tentang kelahiran Yesus (Lukas 1:5-80).

Dalam pasal 18:3-19:8 tiba-tiba saja Yusuf berbicara dengan memakai kata ganti orang pertama tunggal (“aku”); episode ini, yang memuat penglihatan Yusuf seolah alam berhenti bergerak ketika Yesus dilahirkan dalam sebuah gua di sekitar Betlehem, jelas adalah suatu bagian tambahan belakangan pada dokumen dasariah PJ. Kesimpulan bahwa bagian pasal 18:3-19:8 ini adalah suatu tambahan editorial belakangan didukung oleh Papyrus Bodmer 5 (dari abad ke-4), sebuah versi lain dari dokumen PJ, yang sama sekali tidak memuat bagian ini. Begitu juga, bagian PJ yang memuat doa Salome, salah seorang bidan (20:2-8), tidak terdapat dalam Papyrus Bodmer 5, dan hal ini mengindikasikan bahwa bagian doa Salome ini tidak termasuk ke dalam dokumen dasariah PJ. Ada beberapa rincian yang tidak penting yang tidak terdapat dalam Papyrus Bodmer 5, yang merupakan tambahan belakangan pada dokumen PJ.

Bagian yang cukup panjang pasal 17-20 beralih fokus ke kelahiran Yesus, tidak lagi terpusat pada figur Maria sendiri (yang dikisahkan dalam pasal 1-16), sehingga bisa jadi bagian ini pun suatu tambahan editorial belakangan. Tetapi bagian tentang kelahiran Yesus ini juga memuat sebuah tema penting tentang diri Maria juga, karena di dalamnya dikisahkan tentang keperawanan Maria yang tak hilang kendatipun dia baru saja memperanakkan bayi Yesus, sebagaimana telah diuji oleh bidan Salome yang memasukkan jarinya ke dalam vagina Maria untuk memeriksa selaput daranya yang ternyata tetap utuh (19:18-20:2). Jadi, ada suatu alasan kuat untuk memandang pasal 17-20 adalah juga bagian dari dokumen asli PJ.


Penulis teks dan waktu penulisan

Pasal terakhir PJ (25:1-4) memuat sebuah pernyataan bahwa penulis dokumen PJ adalah Yakobus, yang menulis dokumen ini setelah kematian Raja Herodes Agung (tahun 4 SM). Pernyataan ini tentu dibuat untuk menjamin bahwa semua hal yang dikisahkan dalam dokumen dasariah PJ adalah kejadian-kejadian historis yang benar-benar terjadi, karena dikisahkan sendiri oleh Yakobus, yang menurut tradisi dikenal luas sebagai “saudara Yesus” (Galatia 1:19; Markus 6:3; Injil Orang Ibrani 9:4; Hegesippus dalam Eusebius, Historia Ecclesiastica 2:23; Flavius Yosefus, Antiquitates Judaicae 20:200). Karena Yakobus dalam pasal 25:1-3 menyatakan bahwa dirinya sendiri mengalami masa huru hara pada waktu kematian Raja Herodes Agung, jelas harus disimpulkan bahwa Yakobus di sini tentu bukan Yakobus “saudara Yesus” yang dilahirkan Bunda Maria sesudah kelahiran Yesus, melainkan Yakobus putera Yusuf, salah seorang anak lelaki yang dihasilkan dari perkawinan pertamanya sebelum dia mengambil Maria sebagai seorang perawan yang hidup dalam perwaliannya sesuai permintaan Imam Besar yang disampaikan kepadanya dengan paksa (lihat 9:1-12). Menurut sebuah catatan Flavius Yosefus, Yakobus, “saudara Yesus”, mati dibunuh pada tahun 62 M (Antiquitates Judaicae 20:197-203). Pertanyaannya: Benarkah Yakobus yang mengklaim diri sebagai penulis PJ adalah Yakobus “saudara Yesus” yang mati pada tahun 62? Jawabnya: tidak mungkin, berdasarkan alasan-alasan berikut.

Dokumen PJ dengan terang-benderang memperlihatkan bahwa si penulisnya mengenal, memakai, memilah-milah, menambah-nambahi (antara lain menambahi sebuah tradisi lisan bahwa Yesus dilahirkan dalam sebuah gua di Betlehem), mengurangi dan mengolah dengan bebas kisah-kisah tentang kelahiran Yesus yang terdapat dalam pasal-pasal permulaan Injil Matius (1:18-2:18) dan Injil Lukas (1:5-2:40), di samping dia juga tampak mengenal dan memakai berbagai tema dalam Perjanjian Lama (khususnya tentang kelahiran Samuel yang dikisahkan dalam 1 Samuel 1-2:10).

Seperti diargumentasikan oleh Robert J. Miller (Miller 1994: 381), salah satu indikasi bahwa penulis PJ mengenal dan menggunakan Injil Matius dan Injil Lukas adalah kisahnya tentang pembunuhan Zakharia, suami Elizabet (kedua orangtua Yohanes Pembaptis) oleh orang-orang suruhan Raja Herodes Agung (lihat PJ pasal 22:5-23:9). Pembaca kisah-kisah kelahiran dalam Injil Matius dan Injil Lukas tentu bertanya bagaimana Yohanes Pembaptis, yang dilahirkan hanya beberapa bulan sebelum kelahiran Yesus, bisa luput dari perbuatan keji Herodes Agung membunuhi anak-anak yang berusia dua tahun ke bawah, sementara Yesus sendiri bisa luput karena kedua orangtuanya (Yusuf dan Bunda Maria), menurut Matius, membawanya menyingkir ke Mesir (Matius 2:13-15). 


Nah, penulis dokumen PJ menjawab pertanyaan ini dengan mengisahkan bahwa demi melindungi puteranya, Yohanes Pembaptis, yang sedang disembunyikan Elisabet, ibunya, di kawasan perbukitan, Zakharia memilih mati syahid ketimbang memberitahukan kepada Herodes Agung di mana puteranya itu berada. Tentang bagaimana Yesus bisa selamat dari pencarian para algojo Herodes Agung, penulis PJ memberi sebuah jawaban yang berbeda dari yang diberikan penulis Injil Matius, bahwa Yesus bisa luput karena dia disembunyikan Bunda Maria dalam sebuah palungan yang dibungkus dengan kain lampin (22:4). Kedua injil intrakanonik ini ditulis pada sekitar tahun 85; jadi, dokumen PJ hanya bisa ditulis sesudah tahun 85. 

Selain itu, kita tahu bahwa Origenes (185-254) dan Klemen dari Alexandria (sekitar 150-sekitar 215) mengenal dokumen PJ, dan Yustinus Martir (sekitar 100-165) memperlihatkan hubungan yang sangat dekat dengan gagasan-gagasan tertentu dalam PJ, antara lain gagasan bahwa Yesus dilahirkan dalam sebuah gua (PJ 18:1-2; 19:5, 12-10; Dialog dengan Tryfo 78.5) dan gagasan bahwa Maria adalah seorang keturunan Raja Daud (PJ 10:4; Dialog dengan Tryfo 43.1; 45.4; 100.3; dsb). 

Data ini membuat kita harus menyimpulkan bahwa dokumen dasariah PJ sudah dikenal paling awal pada paruhan kedua abad kedua (150-200), meskipun tentu saja, seperti sudah dicatat di atas, ada bagian-bagian di dalamnya yang merupakan tambahan editorial jauh lebih belakangan lagi. Dengan demikian, waktu penulisan dokumen PJ dapat ditempatkan dalam rentang waktu antara tahun 85 sampai tahun 150.

Nah, kesimpulannya tak bisa lain bahwa Yakobus “saudara Yesus” bukanlah penulis dokumen dasariah PJ; siapa penulis sebenarnya kita tak akan pernah tahu. Namun, keterangan dalam dokumen PJ sendiri menunjukkan bahwa si penulisnya tidak mengenal baik geografi Palestina maupun adat istiadat Yahudi (misalnya bahwa seorang pria yang tidak memiliki anak akan diekskomunikasi, dan bahwa seorang perempuan dapat dibesarkan dalam Ruang Maha Kudus bait suci), dan ihwal ini menyiratkan bahwa si penulis bukanlah seorang Yahudi.


Tema terpenting

Bagian terbesar PJ, yakni pasal 1-21, terfokus pada Maria, pun ketika yang dikisahkan di dalam bagian ini adalah kelahiran Yesus. Oscar Cullmann menulis bahwa seluruh dokumen PJ “ditulis untuk memuliakan Maria” (Schneemelcher 1991:425). Meskipun doktrin Katolik mengenai “konsepsi imakulat” Bunda Maria (bahwa ketika janin Maria terbentuk dalam rahim ibunya, janin Maria terjaga, tidak terkena dosa warisan) tidak muncul langsung dalam PJ, namun kelahiran Maria digambarkan dalam dokumen ini sebagai suatu kelahiran yang suci dan ajaib, kelahiran yang terjadi karena Tuhan Allah menghendakinya. Anna, ibu Maria, digambarkan menyatakan dirinya sudah mengandung begitu baru bertemu dengan Yoakhim, ayahnya, yang, setelah sekian waktu berlalu, baru kembali dari pengasingan dirinya di padang gurun (4:1, 3, 9). Maria dikandung tanpa hubungan seksual sebelumnya antara Yoakhim dan Anna.

Selanjutnya ketika Maria dibesarkan, dalam tiga tahun pertama kehidupannya kesucian dirinya dijaga betul oleh kedua orangtuanya, termasuk juga kesucian semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Maria diberi tempat khusus yang disucikan sebagai kamar tidurnya. Pada usia satu tahun, dia menerima berkat dari para imam. Ketika dia diserahkan ke bait suci Tuhan pada waktu dia sudah berusia tiga tahun, Maria tinggal di situ di Ruang Maha Kudus dengan diberi makan oleh seorang malaikat Tuhan (PJ 13:7; 15:10), sampai dia memasuki usia dua belas tahun. Setelah berusia dua belas tahun, karena sudah mulai menstruasi, Maria harus meninggalkan bait suci Tuhan, dan mulai hidup di bawah naungan dan perlindungan Yusuf sebagai walinya, sementara Yusuf sendiri adalah seorang lelaki tua yang sudah menjadi duda dengan memiliki sekian putera dari isterinya sebelum dia bertemu dengan Maria dan menjadi wali perawan ini.

Dengan menyatakan bahwa Yusuf sudah memiliki beberapa putera sebelum bertemu dengan Maria, si penulis PJ secara tak langsung menegaskan bahwa dari Bunda Maria Yusuf sama sekali tidak mendapatkan seorang anakpun. Kalau dogma Gereja Katolik belakangan memandang saudara-saudara yang dimiliki Yesus (baik saudara lelaki maupun saudara perempuan) bukanlah saudara-saudara kandung Yesus, melainkan saudara-saudara sepupunya, bagi si penulis PJ saudara-saudara lelaki yang dimiliki Yesus adalah saudara-saudara tiri, anak-anak Yusuf dari isteri terdahulunya. 


Sedangkan menurut beberapa teks dalam Perjanjian Baru, Yesus memiliki saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara perempuan, dengan ibu mereka bernama Maria (Markus 6:3; bdk Markus 3:31-32; Galatia 1:19; Galatia 4:4). Dengan menyatakan bahwa saudara-saudara lelaki Yesus adalah anak-anak Yusuf, dan bukan anak-anak Maria, penulis PJ jelas mau mempertahankan suatu kepercayaan bahwa setelah melahirkan Yesus, Bunda Maria tidak melahirkan anak-anak lagi. Tetapi si penulis PJ tidak menjelaskan dari mana saudara-saudara perempuan Yesus berasal (atau mungkin baginya, Yesus sama sekali tak memiliki saudara-saudara perempuan, suatu pandangan yang berbeda dari yang diberikan dalam Markus 6:3).

Seperti yang telah terjadi pada ibunya, Anna, dalam PJ Maria ketika berusia enam belas tahun (12:9) juga dikisahkan mengandung bukan karena suatu persetubuhan dengan seorang lelaki (dalam hal ini Yusuf, walinya), melainkan karena “firman Allah” (11:5), karena “kuasa Allah menaunginya” (11:7). Setelah melewati suatu krisis kehidupan karena Maria mengandung tanpa dia bisa menjelaskan siapa pria yang telah membuatnya hamil, dan setelah lulus ujian yang diadakan Imam Besar baik kepada Maria maupun kepada Yusuf untuk mengetahui apakah mereka masing-masing telah berbuat dosa (16:3-8), Maria akhirnya melahirkan di sebuah gua di sekitar kawasan Betlehem (18:1; 19:5, 13, 15), kota yang didatanginya bersama Yusuf dan putera-puteranya untuk mendaftarkan diri dalam rangka suatu sensus penduduk (17:1). 


Si penulis PJ sangat kuat menggambarkan bahwa Yesus memang betul-betul dilahirkan oleh seorang perawan, yang tetap perawan kendatipun dia baru saja melahirkan Yesus. Penulis PJ menggambarkan bahwa Salome, salah seorang bidan, telah memasukkan jarinya ke dalam vagina Maria yang baru melahirkan untuk memeriksa selaput daranya, dan kedapatan olehnya (yang membuatnya terkejut dan merasa berdosa!) bahwa selaput dara Maria tetap bertahan (19:19-20:4). Dengan kata lain, dokumen PJ mempertahankan sebuah keyakinan bahwa Bunda Maria bukan saja masih perawan ketika mengandung janin Yesus, tetapi juga keperawanannya abadi kendatipun dia sudah melahirkan bayi Yesus. 

Gereja Katolik belakangan memang mengembangkan dan mempertahankan sebuah dogma tentang keperawanan abadi Bunda Maria, a perpetual virginity. Dalam rangka tetap mempertahankan kepercayaan akan keabadian keperawanan Bunda Maria si penulis PJ juga menyatakan, seperti sudah disebut di atas, bahwa saudara-saudara yang dimiliki Yesus bukanlah saudara-saudara kandungnya yang dilahirkan oleh Bunda Maria belakangan, melainkan saudara-saudara tiri yang berasal dari Yusuf. Tersirat di sini pandangan si penulis PJ bahwa setelah melahirkan Yesus, Bunda Maria sama sekali tak melahirkan anak lagi. Gerd Lüdemann menulis, “PJ mencerminkan suatu kesalehan populer yang pertama memunculkan rumusan dogma tentang keperawanan abadi Bunda Maria” (Lüdemann 1998:136).


Tujuan penulisan

Mengapa tema-tema penting di sekitar diri Bunda Maria yang sudah disebut di atas dimunculkan dengan sangat kuat dan hidup oleh si penulis PJ? 


Ada suatu indikasi dalam teks PJ sendiri bahwa si penulis dokumen ini sedang berupaya menepis sebuah anggapan banyak orang, terutama kalangan Yahudi, bahwa Maria mengandung janin Yesus karena dia diperkosa oleh seorang pria (13:4). Injil Thomas logion 105 dan Injil Yohanes 8:41 secara tidak langsung menyebut Yesus sebagai seorang yang dilahirkan dari perzinahan. Begitu juga, sebutan bahwa Yesus adalah “anak Maria” (Markus 6:3) menunjukkan, menurut Lüdemann, bahwa Yesus lahir bukan sebagai seorang anak yang absah dalam suatu ikatan perkawinan patriarkal Yahudi, tetapi sebagai seorang anak haram dari seorang perempuan Yahudi (Lüdemann 1998: 52 ff.). Dalam sebuah tulisan seorang bapak gereja, Origenes (185-254), yang berjudul Melawan Celsus, terdapat bagian-bagian yang memuat informasi yang berasal dari seorang pagan terpelajar bernama Celsus yang menulis sekitar tahun 178. Berulang-ulang Celsus merujuk ke pernyataan-pernyataan seorang informan Yahudi. Dalam Melawan Celsus 1.28-38 sang informan Yahudi ini menyatakan bahwa Yesus mengarang-ngarang sendiri kisah kelahirannya dari seorang perawan, padahal Yesus sebetulnya adalah seorang anak yang dilahirkan lewat perzinahan antara ibunya dan seorang prajurit yang bernama Panthera. 

Ada dokumen-dokumen Yahudi dari Abad Pertengahan, diberi nama Toledoth Jeshu, yang juga menyebut nama Panthera, seorang Yahudi asal Sidon, prajurit Roma, sebagai pemerkosa Maria (survai dan evaluasi ringkas atas diri Panthera, lihat James D. Tabor 2007: 59-72). Secara umum Lüdemann menyimpulkan bahwa kisah-kisah mengenai pembenihan (konsepsi) janin Yesus dalam rahim Bunda Maria oleh Roh Kudus dan mengenai “kelahiran perawan” (parthenogenesis) dibuat oleh para penulis Kristen perdana sebagai suatu reaksi atas laporan-laporan yang beredar, yang dimaksudkan sebagai suatu fitnah tetapi secara historis benar, bahwa Yesus dikandung atau dilahirkan di luar ikatan resmi suatu perkawinan (Lüdemann 1998:60).

Nah, penulis PJ melalui narasinya tentang Bunda Maria ingin menunjukkan dengan caranya sendiri, jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan tuturan-tuturan tentang kelahiran Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas, bahwa:

  • Bunda Maria adalah seorang yang sangat suci sejak dilahirkan dan kesuciannya ini terus dipertahankan sampai dia, dalam usia enam belas tahun, dikehendaki Tuhan Allah untuk mengandung dari firman dan kuasa Allah;
  • Bunda Maria betul-betul tetap perawan ketika sudah melahirkan Yesus dan keperawanan abadi Bunda Maria ini sudah dibuktikan oleh seorang bidan yang bernama Salome yang telah memasukkan jarinya ke dalam vagina Bunda Maria untuk memeriksa selaput daranya, dan terbukti selaput daranya tetap ada;
  • Keperawanan Bunda Maria tetap abadi karena setelah melahirkan Yesus, Bunda Maria yang tetap perawan terus perawan karena dia tidak melahirkan anak-anak lagi;
  • Bunda Maria bukanlah seorang yang menjadi korban pemerkosaan atau telah melakukan suatu hubungan seks dengan seorang pria sebelum dia mengandung bayi Yesus;
  • Yesus yang dilahirkan Bunda Maria dalam keadaan tetap perawan bukanlah seorang anak haram, tetapi seorang yang dilahirkan dari firman dan kuasa Allah untuk menjadi sang penyelamat umat Israel.
Dengan demikian, dalam pandangan si penulis PJ, anggapan banyak kalangan bahwa Bunda Maria adalah seorang yang ternoda kesuciannya dan mengandung seorang anak haram adalah anggapan yang sama sekali salah dan tidak berdasar. Sekaligus juga, PJ menjadi sebuah dokumen ekstra-kanonik (= di luar kanon Perjanjian Baru) yang memberi refleksi-refleksi teologis awal yang kemudian melahirkan dogma-dogma dalam Gereja Katolik tentang konsepsi imakulat Bunda Maria, kelahiran Yesus dari perawan Maria, dan keperawanan abadi Bunda Maria.


Sumber rujukan

(1) Wilhelm Schneemelcher (ed.), New Testament Apocrypha. Vol I: Gospels and Related Writings (Cambridge/Louisville: James Clarke & Co/Westminster: 1991).

(2) Robert J. Miller (ed.), The Complete Gospels (Sonoma, CA: Polebridge Press, 1994).

(3) Gerd Lüdemann, Virgin Birth? The Real Story of Mary and Her Son Jesus (Harrisburg, PA: Trinity Press International, 1998).

(4) James D. Tabor, The Jesus Dynasty: The Hidden History of Jesus, His Royal Family, and the Birth of Christianity (New York, etc.: Simon and Schuster Paperbacks, 2007).


Terjemahan teks

Teks Indonesia Protevangelium Jacobi ini karya terjemahan Ioanes Rakhmat berdasarkan dua sumber utama: (1) Wilhelm Schneemelcher (ed.), New Testament Apocrypha. Vol I: Gospels and Related Writings (Cambridge/Louisville: James Clarke & Co/Westminster: 1991) 421-439; (2) Robert J. Miller (ed.), The Complete Gospels (Sonoma, CA: Polebridge Press, 1994) 380-396.


Kisah Masa Kanak-kanak Bunda Maria
menurut Yakobus

(Protevangelium Jacobi, the Infancy Gospel of James)

1 Menurut catatan-catatan dua belas suku Israel, pada suatu waktu adalah seorang yang sangat kaya bernama Yoakhim. 2 Dia selalu menggandakan pemberian-pemberiannya yang dipersembahkannya kepada Tuhan, 3 dan berkata kepada dirinya sendiri, “Satu pemberian, yang memperlihatkan kesejahteraanku, akan diperuntukkan bagi semua orang; dan persembahan lainnya, yang diberikan untuk pengampunan, akan menjadi persembahan untuk pengampunan dosaku yang diberikan kepada Tuhan Allah.”

4 Adapun hari akbar Tuhan sudah mendekat, dan umat Israel mempersembahkan pemberian-pemberian mereka. 5 Dan Reubel datang berhadapan dengan Yoakhim dan berkata, “Kamu tak diperbolehkan mempersembahkan pemberian-pemberianmu karena pertama-tama kamu belum menghasilkan seorang anak Israel.”

6 Maka Yoakhim jadi sangat bersusah hati lalu memutuskan untuk melihat kitab dua belas suku Israel, katanya, “Aku mau memeriksa kitab dua belas suku Israel untuk melihat apakah aku adalah satu-satunya orang di Israel yang tidak menghasilkan seorang anak.” 7 Dan dia meneliti (catatan-catatan) dan menemukan bahwa semua orang saleh di Israel memang sudah memiliki anak-anak. 8 Maka dia ingat bapak leluhur Abraham karena di hari-hari terakhirnya Tuhan Allah telah memberikannya seorang putera, Ishak.

9 Maka dia terus bersusah hati amat sangat dan tidak mau melihat isterinya tetapi mengasingkan dirinya ke padang gurun dan membangun kemahnya di sana. 10 Maka Yoakhim berpuasa ‘empat puluh hari dan empat puluh malam.’ 11 Dia berkata kepada dirinya sendiri, “Aku tidak akan kembali untuk mendapatkan makanan atau minuman sampai Tuhan Allahku melawatku. Doa akan menjadi makanan dan minumanku.”

2 Adapun isterinya Anna meratap dan berkeluh kesah karena dua hal: “Aku meratapi keadaanku sebagai janda dan aku meratapi keadaanku yang tanpa anak.” 2 Namun hari akbar Tuhan mendekat, 3 dan budaknya Yuthine berkata kepadanya, “Berapa lama kamu akan merendahkan dirimu? Lihatlah, hari akbar Tuhan telah tiba, dan engkau tak diharapkan berkeluh kesah. 4Melainkan ambillah serban pengikat kepalamu yang telah diberikan si nyonya pemilik toko kepadaku, tetapi tak boleh aku pakai sebab aku adalah budakmu dan karena pengikat kepala ini bertanda sebuah lencana kerajaan.” 5 Dan Anna berkata, “Enyahlah dariku! Aku tak mau mengenakannya. Tuhan Allah telah sangat mempermalukanku. Barangkali seorang penipu telah memberikannya kepadamu, dan engkau datang kepadaku untuk membuatku ikut serta dalam dosamu.” 6 Maka Yuthine sang budak menjawab, “Haruskah aku mengutukmu hanya karena engkau tidak memperhatikanku? Tuhan Allah telah membuat rahimmu mandul sehingga engkau tidak akan melahirkan anak-anak apapun bagi Israel.” 7 Anna pun jadi sangat berduka. Dia melepaskan baju perkabungannya, mencuci wajahnya, dan memakai gaun pengantinnya. 8 Maka, di tengah sore, dia pergi ke tamannya untuk berjalan-jalan. Dia melihat sebatang pohon salam lalu duduk di bawahnya. 9 Setelah beristirahat, dia berdoa kepada Tuhan: “Oh Allah nenek moyangku, berkati aku dan dengarkanlah doaku, sama seperti Engkau memberkati ibu kami Sara dan memberikannya seorang putera, Ishak.”

3 Lalu Anna menengadah ke atas langit dan melihat sebuah sarang burung pipit di pohon salam itu. 2 Maka seketika itu juga Anna mulai meratap, katanya kepada dirinya sendiri, “Malangnya aku ini! Siapakah yang telah melahirkan aku? Rahim apakah yang telah melahirkanku? 3 Sebab aku telah dilahirkan di bawah suatu kutuk dalam pandangan orang Israel. Dan aku telah dicerca dan diejek dan dibuang dari bait Tuhan Allahku.

4 “Betapa malangnya aku! Seperti apakah aku ini? Aku tidak seperti burung-burung di udara, karena burung-burung di udara pun menghasilkan anak-anak di dalam kehadiran-Mu, oh Tuhan.”

5 “Betapa malangnya aku! Seperti apakah aku ini? Aku tidak seperti hewan-hewan peliharaan, karena hewan-hewan peliharaan pun menghasilkan anak-anak yang muda di dalam kehadiran-Mu, Oh Tuhan.”

6 “Betapa malangnya aku! Seperti apakah aku ini? Aku tidak seperti binatang-binatang liar di muka Bumi, karena binatang-binatang liar di muka Bumi pun menghasilkan anak-anak di dalam kehadiran-Mu, Oh Tuhan.”

7 “Betapa malangnya aku! Seperti apakah aku ini? Aku tidak seperti air-air ini, karena air-air ini pun menghasilkan di dalam kehadiran-Mu, Oh Tuhan.”

8 “Betapa malangnya aku! Seperti apakah aku ini? Aku tidak seperti Bumi ini, karena Bumi pun menghasilkan panen pada musimnya dan memuji-Mu, Oh Tuhan.”

4 Tiba-tiba seorang malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Anna, Anna, Tuhan Allah telah mendengar doamu. Kamu akan mengandung dan melahirkan seorang anak, dan anakmu ini akan dibicarakan di seluruh dunia.”

2 Dan Anna berkata, “Sebagaimana Tuhan Allah itu hidup, entah aku akan melahirkan seorang putera ataukah seorang puteri, aku akan mempersembahkannya sebagai suatu pemberian kepada Tuhan Allahku, dan anak ini akan melayani-Nya seumur hidupnya.”

3 Dan pada saat itu dua malaikat melaporkan kepadanya, “Lihatlah, suamimu Yoakhim datang dengan kawanan ternaknya. 4 Engkau lihat, seorang malaikat Tuhan telah turun kepada Yoakhim dan berkata, ‘Yoakhim, Yoakhim, Tuhan Allah telah mendengar doamu. Turunlah dari sana. Lihatlah isterimu Anna mengandung.”

5 Maka Yoakhim turunlah dan memanggil gembala-gembalanya dengan perintah-perintah ini: “Bawalah kepadaku sepuluh ekor anak domba yang tak bercacat dan tak bernoda, dan sepuluh anak domba akan dipersembahkan kepada Tuhan Allah. 6 Juga, bawalah juga kepadaku dua belas anak sapi yang lembut, dan dua belas anak sapi ini akan diberikan kepada imam-imam dan dewan penatua. 7 Juga, seratus ekor kambing, dan seratus ekor kambing ini akan diberikan kepada seluruh umat.”

8 Dan Yoakhim datang bersama kawanan ternaknya, sementara Anna berdiri di pintu gerbang. 9 Lalu dia melihat Yoakhim mendekat bersama kawanan ternaknya, maka bersegera dia menyambutnya dan merangkul lehernya dengan tangan-tangannya: “Kini aku tahu bahwa Tuhan Allah telah memberkati aku dengan sangat besar. Janda ini tak akan lagi menjadi seorang janda, dan aku, setelah sebelumnya tak punya anak, sekarang sedang mengandung.”

10 Dan Yoakhim beristirahat pada hari pertama di rumahnya.

5 Tetapi pada keesokan harinya, ketika dia sedang mempersembahkan pemberian-pemberiannya, dia berpikir bagi dirinya sendiri, “Jika Tuhan Allah sungguh-sungguh telah bermurah hati kepadaku, patam yang sudah disemir pada serban pengikat kepala sang imam akan membuatnya jelas bagiku.” 2 Maka Yoakhim pun mempersembahkan semua pemberiannya dan memperhatikan serban sang imam hingga dia naik ke altar Tuhan. Dan dia melihat tidak ada dosa di dalamnya. 3 Dan Yoakhim berkata, “Kini aku tahu bahwa Tuhan Allah telah bermurah hati kepadaku dan telah mengampuni aku dari semua dosaku.” 4 Maka dia turun dari bait Tuhan dalam keadaan terbebaskan dan kembali ke rumahnya.

5 Maka kehamilannya telah tiba pada masanya, dan pada bulan kesembilan Anna melahirkan. 6 Dan dia berkata kepada sang bidan, “Anakku lelaki atau perempuan?” 7 Dan bidannya berkata kepadanya, “Seorang anak perempuan.” 8 Dan Anna berkata, “Hari ini aku telah sangat dipermuliakan.” Lalu bidan itu memandikan anak itu. 9 Tetapi ketika hari-hari yang telah ditetapkan telah genap, Anna mencuci bersih dirinya dari aliran darah. 10 Lalu dia menyusui anaknya itu dan memberinya nama Maria.

6 Hari demi hari anak itu bertambah kuat. 2 Ketika sudah berusia enam bulan, ibunya meletakkannya di lantai untuk melihat apakah dia sudah bisa berdiri. Anak itu berjalan tujuh langkah lalu mendatangi lengan-lengan ibunya. 3 Maka ibunya mengangkatnya dan berkata, “Sebagaimana Tuhan Allahku hidup, engkau tidak akan pernah berjalan di lantai ini lagi sampai aku membawamu ke bait Tuhan.”

4 Maka dia mengubah kamar tidur anak itu menjadi sebuah tempat suci dan tidak memperbolehkan apapun yang tak suci atau yang najis masuk ke dalam bibir anak itu. 5 Dia lalu menyuruh anak-anak perempuan Ibrani yang tak bernoda, dan mereka membuatnya tetap bersenang hati.

6 Adapun anak itu tiba pada ulang tahunnya yang pertama, dan Yoakhim mengadakan sebuah perjamuan besar dan mengundang imam-imam kepala, imam-imam, alim ulama, dewan penatua, dan semua orang Israel. 7 Yoakhim memperhadapkan anaknya itu kepada para imam, dan mereka memberkatinya: “Allah nenek moyang kita, berkati anak ini dan berikan kepadanya sebuah nama yang akan dibicarakan angkatan-angkatan mendatang selamanya.”

8 Dan setiap orang berkata, “Jadilah demikian. Amin.”

9 Dia memberikannya kepada imam-imam kepala, dan mereka memberkatinya: “Allah Yang Maha Agung, pandanglah anak ini dan berkati dia dengan berkat agung, suatu berkat yang tidak dapat dilampaui.”

10 Ibunya kemudian membawanya ke tempat sucinya, yakni kamar tidurnya, dan menyusui anak itu. 11 Dan Anna menggubah sebuah madah untuk Tuhan Allah: “Aku mau menaikkan sebuah madah suci kepada Tuhan Allahku, sebab Dia telah melawat aku dan menyingkirkan aib yang dikenakan kepadaku oleh musuh-musuhku. 12 Tuhan Allahku telah memberikanku buah kebenarannya, tunggal namun banyak di hadapannya. 13 Siapakah yang akan mengumumkan kepada anak-anak Reubel bahwa Anna memiliki seorang anak pada dadanya? ‘Dengarkan, dengarkan, kalian dua belas suku Israel: Anna memiliki seorang anak di dadanya!’”

14 Anna menidurkan anak itu di kamar tidurnya, tempat sucinya, lalu keluar dan mulai melayani tamu-tamunya. 15 Ketika perjamuan itu usai, mereka pulang dengan perasaan senang dan memuji Allah Israel.

7 Berbulan-bulan telah berlalu, tetapi ketika anak itu telah mencapai usia dua tahun, Yoakhim berkata, “Mari kita bawa dia ke bait Tuhan, sehingga kita dapat tetap memegang janji yang telah kita buat, atau kalau kita melanggarnya Tuhan akan murka kepada kita dan pemberian kita akan tak diterima.” 2 Dan Anna berkata, “Tunggulah sampai dia berusia tiga tahun, supaya dia tidak merasa kehilangan ayahnya atau ibunya.” 3 Dan Yoakhim setuju: “Ya, kita tunggu.” 4 Pada waktu anak itu mencapai usia tiga tahun, Yoakhim berkata, “Mari kita menyuruh puteri-puteri Ibrani yang tak bercacat. 5 Hendaklah mereka masing-masing mengambil sebuah lampu dan menyalakannya, supaya anak ini tidak akan berpaling balik dan membuat hatinya terperangkap oleh hal-hal lain di luar bait Tuhan.” 6 Dan inilah yang mereka lakukan sampai saatnya tiba untuk mereka naik ke bait Tuhan. 7 Sang imam menyambutnya, menciumnya, dan memberkatinya: “Tuhan Allah telah meninggikan namamu di antara semua angkatan. 8 Di dalam dirimu Tuhan akan menyatakan penyelamatan-Nya kepada orang Israel selama hari-hari terakhir ini.” 9 Dan dia mendudukkan anak itu pada undakan ketiga altar, dan Tuhan mencurahkan perkenan-Nya kepadanya. 10 Maka dia pun menari, dan seluruh kaum Israel mengasihinya.

8 Kedua orangtuanya kembali ke rumah dengan perasaan takjub dan memuji serta membesarkan Tuhan Allah sebab anak itu tidak berpaling ke belakang memandang mereka. 2 Dan Maria tinggal di bait Tuhan. Di sana dia terpelihara seperti seekor merpati, dengan menerima makanannya dari tangan seorang malaikat surgawi.

3 Namun ketika dia berusia dua belas tahun, para imam mengadakan sebuah pertemuan. “Lihatlah,” kata mereka, “Maria telah berusia dua belas tahun di bait Tuhan. 4 Apa yang harus kita lakukan terhadapnya supaya dia tidak mencemarkan tempat suci Tuhan Allah kita?” 5 Dan mereka berkata kepada Imam Besar, “Engkau berdirilah di altar Tuhan. Masuk dan berdoalah tentang anak itu, dan kita akan mengerjakan apapun yang Tuhan Allah singkapkan kepadamu.”

6 Maka Imam Besar mengambil jubah kebesarannya dengan dua belas bel, lalu memasuki Ruang Maha Kudus, dan mulai berdoa mengenai anak itu. 7Tiba-tiba seorang malaikat Tuhan menampakkan diri: “Zakharia, Zakharia, keluarlah dan kumpulkan para duda dari antara umat Israel dan mintalah mereka masing-masing membawa sebatang tongkat. 8 Dia akan menjadi isteri dari seseorang dari antara mereka yang kepadanya Tuhan Allah akan menunjukkan sebuah tanda.” 9 Maka berita-berita pun memenuhi seluruh kawasan di seputar Yudea. Sangkakala Allah dibunyikan dan para duda datang berlarian.

9 Dan Yusuf juga melemparkan kapak yang biasa dipakainya sebagai seorang pengrajin kayu, lalu datang ke pertemuan itu. 2 Ketika semua orang telah berhimpun, mereka mendatangi Imam Besar dengan tongkat-tongkat mereka. 3 Setelah Imam Besar mengumpulkan semua tongkat itu, dia memasuki bait dan mulai berdoa. 4 Ketika dia telah selesai berdoa, dia mengambil tongkat-tongkat itu lalu keluar dan mulai mengembalikan tongkat-tongkat itu kepada setiap orang. 5 Tetapi tidak ada tanda apapun pada tongkat-tongkat yang manapun. Yusuf mendapatkan tongkat yang terakhir. 6 Tiba-tiba saja seekor merpati keluar dari tongkat ini dan hinggap di kepala Yusuf. 7 “Yusuf, Yusuf,” kata Imam Besar, “engkau telah dipilih melalui undian untuk mengambil sang perawan Tuhan ini ke dalam pemeliharaan dan perlindunganmu.”

8 Tetapi Yusuf berkeberatan: “Aku telah memiliki sejumlah putera dan aku seorang lelaki yang sudah tua; sedangkan dia hanyalah seorang perempuan muda. Aku khawatir bahwa aku akan menjadi seorang korban olok-olok di antara umat Israel.”

9 Maka Imam Besar menanggapi, “Yusuf, takutlah akan Tuhan Allahmu dan ingatlah apa yang Allah telah lakukan kepada Datan, Abiram dan Korah: Bumi terbelah dua dan mereka semua ditelan karena keberatan mereka. 10Maka sekarang, Yusuf, engkau harus patuh supaya hal yang sama tidak akan terjadi pada keluargamu.” 11 Maka karena takut Yusuf mengambilnya ke dalam pemeliharaan dan perlindungannya. 12 Yusuf berkata kepadanya, “Maria, aku telah mendapatkan engkau dari bait Tuhan, tetapi kini aku meninggalkanmu di rumah. Aku mau pergi membangun rumah-rumah, tetapi aku akan kembali kepadamu. Tuhan akan melindungimu.”

10 Sementara itu, dilangsungkan sebuah sidang para imam, dan mereka sepakat: “Marilah kita membuat sebuah tirai bagi bait Tuhan.” 2 Dan Imam Besar berkata, “Panggillah para perawan sejati dari suku bangsa Daud.” 3 Maka para pembantu bait meninggalkan bait dan mencari di mana-mana dan menemukan tujuh orang. 4 Maka Imam Besar ingat pada gadis Maria, bahwa dia juga berasal dari keluarga Daud dan suci dalam pandangan Allah. 5 Maka para pembantu bait pergi dan mengambilnya. 6 Dan mereka membawa gadis-gadis itu ke dalam bait Tuhan. 7 Dan Imam Besar berkata, “Buanglah undi bagiku untuk memutuskan siapa yang akan memintal benang yang mana untuk tirai: benang warna emas, putih, linen, sutera, lembayung, merah tua, dan ungu sejati.” 8 Dan benang-benang warna ungu sejati dan merah tua jatuh ke Maria. Dan dia mengambil semuanya dan kembali ke rumah. 9 Adapun pada waktu inilah Zakharia menjadi bisu, dan Samuel mengambil tempatnya sampai Zakharia mendapatkan kembali suaranya. 10 Sementara itu Maria telah mengencangkan benang warna merah tua dan sedang menenunnya.

11 Dan dia mengambil buli-buli airnya dan pergi keluar untuk mengisinya dengan air. 2Tiba-tiba ada suatu suara berkata kepadanya, “Salam, engkau yang diberkati! Tuhan besertamu. Diberkatilah engkau di antara perempuan.” 3 Maria mulai memandang sekitarnya, ke kiri dan ke kanan, untuk melihat dari mana suara itu berasal. 4 Dia mulai ketakutan lalu pulang ke rumah. Setelah menaruh buli-buli airnya dan mulai mengencangkan benang warna ungu, dia duduk di bangkunya dan mulai menenun.

5 Seorang utusan surgawi mendadak berdiri di hadapannya: “Jangan takut, Maria. Engkau tahu, engkau telah mendapat perkenan di hadapan pandangan Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Engkau akan mengandung melalui firman-Nya.”

6 Tetapi ketika dia mendengar hal ini, dia ragu dan berkata, “Jika aku benar mengandung dari Tuhan, Allah yang hidup, akankah aku juga melahirkan sebagaimana lazimnya setiap perempuan melahirkan?”

7 Dan malaikat Tuhan itu menjawab, “Tidak, Maria, sebab kuasa Allah akan menaungimu. Karena itu, anak yang akan dilahirkan akan disebut kudus, anak dari Yang Maha Tinggi. 8 Dan engkau akan menamakannya Yesus—nama ini berarti ‘dia akan menyelamatkan umatnya dari dosa-dosa mereka.’”

9 Dan Maria berkata, “Inilah aku, hamba Tuhan di hadapan-Nya. Aku berdoa agar semua yang engkau sudah katakan kepadaku benar-benar terjadi.”

12 Maka dia selesai menenun benang warna ungu dan warna merah tua dan membawa hasil karyanya kepada Imam Besar. 2 Imam Besar menerima semuanya dan memujinya dan berkata, “Maria, Tuhan Allah telah memuji namamu dan engkau akan diberkati oleh semua angkatan di muka Bumi.”

3 Maria bergembira dan pergi melawat Elisabet, sanaknya. 4 Dia mengetuk pintu. Elisabet mendengarnya, lalu menyingkirkan benang warna merah tua, dan berlari ke pintu, lalu membukakannya untuknya. 5 Dan dia memberkatinya dan berkata, “Siapakah aku sehingga sang ibu dari Tuhanku harus melawat aku? Engkau tahu, bayi yang ada dalam kandunganku telah melonjak karena girang dan memberkatimu.”

6 Tetapi Maria telah melupakan rahasia-rahasia yang malaikat surgawi Jibrail telah katakan, dan dia memandang ke langit dan berkata, “Siapakah aku sehingga setiap angkatan di Bumi akan memberi ucapan selamat kepadaku?”

7 Dia menghabiskan waktunya selama tiga bulan bersama Elisabet. 8 Hari demi hari rahimnya terus membesar. Maka Maria mulai ketakutan, dia kembali ke rumahnya, dan menyembunyikan diri dari umat Israel. 9 Dia baru berusia enam belas tahun ketika hal-hal rahasia ini terjadi pada dirinya. 


13 Kandungannya sudah memasuki bulan ke enam ketika suatu hari Yusuf pulang dari pekerjaannya membangun rumah-rumah, memasuki rumahnya, dan mendapatinya sedang mengandung. 2 Dia memukuli wajahnya sendiri, melemparkan dirinya ke tanah dengan mengenakan kain kabung, lalu mulai menangis dengan pilunya: “Wajah yang bagaimanakah yang aku harus perlihatkan kepada Tuhan Allah? 3 Doa yang bagaimanakah yang aku dapat katakan demi dirinya sebab aku telah menerimanya sebagai seorang perawan dari bait Tuhan Allah dan telah tidak melindunginya? 4 Siapakah yang telah memasang perangkap ini bagiku? Siapakah yang telah melakukan hal jahat ini di dalam rumahku? Siapakah yang telah memikat perawan ini untuk menjauh dariku dan memperkosanya? 5 Kisah tentang Adam telah berulang dalam kasusku ini, bukan? Sebab persis ketika Adam sedang berdoa, ular itu datang dan mendapati Hawa sedang sendirian, lalu mempedayanya, dan merusaknya, dan hal yang sama terjadi pada diriku.” 6 Lalu Yusuf bangkit dan melepaskan kain kabungnya dan memanggil Maria lalu berkata kepadanya, “Allah telah menaruh perhatian khusus pada dirimu, bagaimana engkau telah dapat melakukan hal ini? 7 Apakah engkau telah melupakan Tuhan Allahmu? Mengapa engkau telah mendatangkan aib pada dirimu sendiri, padahal engkau telah dibesarkan di Ruang Maha Kudus dan diberi makan oleh seorang malaikat surgawi?” 8 Tetapi Maria mulai menangis dengan pilunya: “Aku tak bersalah. Aku tidak pernah berhubungan seks dengan seorang lelaki manapun.” 9 Maka Yusuf berkata kepadanya, “Lalu dari mana asalnya bayi yang sedang engkau bawa-bawa ini?”10 Dan dia menjawab, “Sebagaimana Tuhan Allahku hidup, aku tidak tahu dari mana bayi ini berasal.”

14 Dan Yusuf menjadi sangat ketakutan dan tidak lagi berbicara dengannya sementara dia memikirkan apa yang dia akan perbuat terhadapnya. 2 Dan Yusuf berkata kepada dirinya sendiri, “Jika aku mencoba menutup-nutupi dosanya, akhirnya aku akan melawan hukum Tuhan. 3 Dan jika aku membeberkan keadaannya di hadapan orang Israel, aku takut kalau-kalau anak di dalam kandungannya itu mungkin dikirim dari surga dan karenanya aku akhirnya menyerahkan darah orang tak berdosa kepada suatu penghukuman mati. 4 Jadi apa yang aku harus perbuat kepadanya? (Aku tahu), aku akan menceraikannya diam-diam.”

5 Tetapi ketika malam tiba, seorang malaikat Tuhan tiba-tiba menampakkan diri kepadanya lewat sebuah mimpi dan berkata: “Jangan takut atas perempuan ini, sebab anak di dalam kandungannya adalah hasil pekerjaan roh kudus. 6 Dia akan memperanakkan seorang anak lelaki dan engkau akan menamakannya Yesus, yang berarti ‘dia akan menyelamatkan umatnya dari dosa-dosa mereka.’” 7 Maka Yusuf terbangun dari tidurnya dan memuji Allah Israel, yang telah memberi perkenan-Nya kepadanya. 8 Maka mulailah dia melindungi gadis itu.

15 Maka Annas sang alim ulama datang kepadanya dan berkata, “Yusuf, mengapa engkau tidak datang ke pertemuan kita?”

2 Dan dia menjawab kepadanya, “Karena aku sangat lelah sepulang dari perjalananku sehingga aku beristirahat dulu pada hari pertama aku tiba di rumahku.” 3 Lalu Annas berpaling dan melihat Maria mengandung. 4 Dia cepat-cepat mendatangi Imam Besar dan berkata kepadanya, “Engkau ingat Yusuf, orang yang engkau sendiri telah jamin, bukan? Nah, dia telah melakukan sebuah pelanggaran yang serius. 5 Maka Imam Besar bertanya, “Pelanggaran yang bagaimana?” 6 “Yusuf telah memperkosa perawan yang dia telah terima dari bait Tuhan,” jawabnya. “Dia telah melakukannya kepadanya dan tidak mengungkapkan perbuatannya kepada umat Israel.” 7 Dan Imam Besar bertanya kepadanya, “Apakah Yusuf telah sungguh-sungguh melakukan hal ini?” 8 Dan dia menjawab, “Utuslah para pembantu bait dan engkau akan mendapatkan perawan itu telah hamil.”

9 Begitulah, para pembantu bait pergi mendatangi Maria dan mendapatkannya sedang hamil seperti telah dilaporkan Annas, lalu mereka membawanya, bersama Yusuf, ke pengadilan. 10 “Maria, mengapa engkau telah berbuat demikian?” tanya Imam Besar kepadanya. “Mengapa engkau telah merendahkan dirimu sendiri? 11 Apakah engkau telah melupakan Tuhan Allahmu, bahwa engkau telah dibesarkan dalam Ruang Maha Kudus dan diberi makan oleh seorang malaikat surgawi? 12 Dari antara umat, engkau telah mendengar nyanyian mereka dan telah menari untuk mereka, lalu mengapa engkau telah melakukan hal ini?” 13 Maka menangislah dia dengan pilunya: “Sebagaimana Tuhan Allah hidup, aku tidak bersalah di hadapan-Nya. Percayalah kepadaku, aku tidak pernah berhubungan seks dengan seorang lelaki manapun.” 14 Maka Imam Besar berkata, “Yusuf, mengapa engkau telah melakukan hal ini?” 15 Dan Yusuf menjawab, “Sebagaimana Tuhan hidup, aku tak bersalah sejauh menyangkut dirinya.” 16 Dan Imam Besar berkata, “Jangan dustai dirimu di hadapan persidangan ini, tetapi katakanlah hal yang sebenarnya. Engkau telah berhubungan seks dengannya dan tidak menyatakan perbuatanmu ini kepada umat Israel. 17Dan engkau tidak merendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat, supaya keturunanmu dapat diberkati.” 18 Tetapi Yusuf membungkam seribu basa.

16 Lalu Imam Besar berkata, “Kembalikanlah perawan yang engkau telah terima dari bait Tuhan.” 2 Maka Yusuf, sambil menangis,… [tetap bungkam]. 3 Dan Imam Besar berkata, “Aku akan memberikanmu ujian meminum minuman Tuhan, dan ujian ini akan menyingkapkan dosa kalian dengan jelas bagi kalian berdua.” 4 Maka Imam Besar mengambil air dan menyuruh Yusuf meminumnya lalu mengirimnya ke padang gurun, tetapi dia kembali tanpa mengalami bahaya apapun. 5 Dan dia juga membuat gadis itu meminumnya dan mengirimnya ke padang gurun. Dia juga kembali tanpa mengalami bahaya apapun. 6 Maka setiap orang terkejut karena dosa mereka tidak terungkapkan. 7 Dan Imam Besar berkata, “Jika Tuhan Allah tidak menyingkapkan dosa kalian berdua, maka akupun tidak akan menghukum kalian.” Dan Imam Besar pun membebaskan mereka. 8 Yusuf mengambil Maria lalu kembali ke rumah sambil merayakan kebesaran Tuhan dan memuji Allah Israel.

17 Adapun Kaisar Agustus memerintahkan setiap orang di Betlehem Yudea mendaftarkan diri untuk keperluan sensus penduduk. 2 Maka Yusuf bertanya-tanya, “Aku akan mendaftarkan putera-puteraku, tetapi apa yang aku akan lakukan terhadap gadis ini? Bagaimana aku akan mendaftarkannya? 3 Apakah sebagai isteriku? Aku malu melakukannya. Apakah sebagai puteriku? Umat Israel tahu bahwa dia bukan puteriku. 4Bagaimana hal ini harus diputuskan, bergantung pada Tuhan.”

5 Maka dia memasang pelana keledainya dan menempatkan Maria di atasnya. Puteranya menuntun keledai itu dan Samuel berjalan di belakangnya. 6 Ketika mereka sudah berjalan hampir tiga mil, Yusuf berpaling dan melihat Maria merajuk. 7 Maka dia berkata kepada dirinya sendiri, “Mungkin bayi yang dibawanya menyebabkan dia merasa tidak nyaman.” 8 Yusuf berpaling lagi dan melihat Maria sedang tertawa, lalu dia berkata kepadanya, “Maria, apa yang sedang terjadi pada dirimu? Sebentar aku melihatmu tertawa, sebentar lagi engkau berkeluh kesah.” 9 Dia menjawab, “Yusuf, hal ini dikarenakan aku membayangkan ada dua orang di depanku, yang satu menangis dan yang satunya lagi bergembira dan melompat-lompat kegirangan.” 10 Setelah menempuh setengah perjalanan, Maria berkata kepadanya, “Yusuf, tolonglah aku turun dari keledai ini, sebab anak yang ada dalam kandunganku mau lahir.” 11 Maka Yusuf menolong Maria turun dari keledai, lalu berkata kepadanya, “Kemana aku akan membawamu supaya kamu dapat dengan tenang dan tanpa gangguan melahirkan, sebab tempat ini sangat terbuka?”

18 Dia menemukan sebuah gua di dekat situ dan membawanya masuk ke dalam. Dia menempatkan putera-puteranya untuk menjaganya 2 lalu pergi untuk mencari seorang bidan Ibrani di perkampungan sekitar Betlehem.

3 “Adapun aku, Yusuf, sedang berjalan kaki namun tidak pergi ke mana-mana. 4 Aku menengadah ke kubah langit dan melihatnya tegak dan diam, lalu ke awan-awan dan melihat awan-awan itu berhenti tak bergerak dengan mengherankan, dan ke burung-burung di angkasa yang tertahan di tengah-tengah udara. 5 Ketika aku memandang ke bumi, aku melihat sebuah mangkuk terletak di sana dan para pekerja bersandar di sekitarnya dengan tangan-tangan mereka berada dalam mangkuk itu; 6 beberapa dari antara mereka sedang mengunyah namun tidak mengunyah; beberapa sedang mengambil sesuatu untuk dimakan tetapi tidak mengambilnya; dan beberapa sedang menaruh makanan di dalam mulut-mulut mereka tetapi tidak melakukannya. 7 Melainkan, mereka semua sedang menatap ke atas.”

8 “Aku melihat domba-domba sedang didorong namun domba-domba itu berdiri diam; 9 sang gembala sedang mengangkat tangannya untuk memukul mereka, namun tangannya ini tetap terangkat. 10 Dan aku memperhatikan arus sungai dan melihat kambing-kambing dengan mulut-mulut mereka di dalam air namun mereka tidak minum. 11 Lalu tiba-tiba saja segala sesuatu dan setiap orang melanjutkan apa yang mereka telah dan sedang kerjakan.”

19 “Kemudian aku melihat seorang perempuan sedang turun dari sebuah kampung berbukit-bukit, dan dia bertanya, ‘Anda hendak pergi ke mana, tuan?’
2 Aku menjawab, ‘Aku sedang mencari seorang bidan Ibrani.’
3 Dia bertanya, ‘Apakah anda seorang Israel?’
4 Kukatakan kepadanya, ‘Ya.’
5 Dan dia berkata, ‘Dan siapakah dia yang memiliki seorang bayi di gua?’
6 Aku menjawab, ‘Tunanganku.’
7 Dan dia melanjutkan, ‘Dia bukan isterimu?’
8 Aku katakan kepadanya. ‘Dia Maria, yang dibesarkan di bait Tuhan; aku mendapatkan dirinya melalui undian sebagai isteriku. 9 Tetapi dia bukan benar-benar isteriku; dia mengandung oleh roh kudus.’
10 Bidan itu berkata, ‘Apa betul?’”
11 Yusuf menjawab, “Mari dan lihatlah.”

12 Dan bidan itu pergi bersamanya. 13 Maka mereka berdiri di muka gua, maka segumpal awan gelap menaungi mereka. 14 Bidan itu berkata, “Aku sungguh mendapat sebuah hak istimewa, sebab hari ini mataku telah melihat sebuah mukjizat, mukijzat keselamatan yang telah datang kepada umat Israel.”

15 Tiba-tiba saja awan itu beranjak mundur dari gua itu dan suatu cahaya yang sangat kuat tampak di dalam gua, sehingga mata mereka tak dapat tahan untuk melihat. 16 Sebentar kemudian cahaya itu menghilang perlahan sampai seorang bayi kelihatan; bayi ini menarik-narik buah dada ibunya Maria.

17 Dan bidan itu berteriak, “Betapa agungnya hari ini bagiku karena aku telah melihat mukjizat yang baru ini!” 18 Lalu bidan itu meninggalkan gua itu dan menjumpai Salome dan berkata kepadanya, “Salome, Salome, baiklah aku ceritakan kepadamu tentang suatu mukjizat yang baru: seorang perawan telah melahirkan, dan engkau tahu bahwa hal ini tidak mungkin!” 19 Dan Salome menjawab, “Sebagaimana Tuhan Allahku hidup, kecuali aku telah memasukkan jariku dan memeriksanya, aku tak akan pernah percaya bahwa seorang perawan telah melahirkan.”

20 Bidan itu masuk dan berkata, “Maria, siapkanlah dirimu untuk suatu pemeriksaan. Engkau segera menghadapi suatu ujian yang serius.”

2 Maka Maria, ketika dia mendengar perintah ini, mempersiapkan dirinya dan mengambil posisi; dan Salome memasukkan jarinya ke dalam diri Maria. 3 Lalu Salome berteriak kuat dan berkata, “Celakalah aku karena pelanggaran dan ketidakpercayaanku; aku telah mencobai Allah yang hidup. 4 Lihatlah! Tanganku menghilang, dimakan lidah-lidah api!” 5 Lalu Salome berlutut di hadapan hadirat Tuhan, dan mengucapkan kata-kata ini: “Allah nenek moyangku, ingatlah aku sebab aku adalah seorang keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. 6 Janganlah aku dijadikan teladan bagi umat Israel, tetapi berikan aku sebuah tempat di antara orang-orang miskin kembali. 7 Engkau sendiri tahu, Tuhan, bahwa aku telah dan sedang menyembuhkan orang dalam nama-Mu dan menerima pembayaran dari-Mu.”

8 Tiba-tiba seorang malaikat Tuhan menampakkan diri, dan berkata kepadanya, “Salome, Salome, Tuhan segala sesuatu telah mendengar doamu. 9 Ulurkan tanganmu ke anak itu dan gendonglah dia, maka engkau akan menerima keselamatan dan kesukaan.”

10 Salome mendekati anak itu dan mengangkatnya sambil berkata: “Aku akan menyembahnya sebab dia telah dilahirkan untuk menjadi raja Israel.” 11 Maka Salome segera sembuh dan meninggalkan gua itu dalam keadaan dibenarkan.

12 Maka suatu suara tiba-tiba terdengar, “Salome, Salome, jangan beritakan keajaiban yang telah engkau lihat sampai anak ini pergi ke Yerusalem.”

21 Yusuf baru saja mau berangkat ke Yudea, tetapi suatu kegemparan besar berlangsung di Betlehem di Yudea. 2 Hal ini terjadi ketika para ahli perbintangan datang dan bertanya, “Di manakah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami berada di sini karena kami telah melihat bintangnya di timur dan telah datang untuk menyembahnya.”

3 Ketika Herodes mendengar perkunjungan ini, dia sangat ketakutan dan mengirim kaki tangannya ke para ahli perbintangan itu. 4 Dia juga memanggil imam-imam kepala dan bertanya kepada mereka di istananya: “Hal apakah yang telah ditulis mengenai sang Messias? Di mana dia diberitakan akan dilahirkan?” 5 Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem, di Yudea, itulah yang dikatakan kitab suci.” 6 Lalu dia menyuruh mereka pergi. 7 Kemudian dia bertanya kepada para ahli perbintangan itu: “Tanda-tanda apakah yang kalian telah lihat mengenai orang yang telah dilahirkan sebagai raja?” 8 Maka para ahli perbintangan itu berkata, “Kami telah melihat sebuah bintang yang sangat terang di langit, dan bintang ini sangat mengaburkan bintang-bintang lainnya sehingga bintang-bintang lainnya ini tak tampak lagi. Karena itulah kami tahu bahwa seorang raja telah dilahirkan bagi Israel. Dan kami telah datang untuk menyembahnya.” 9Herodes memerintahkan mereka: “Pergi dan mulailah pencarian kalian, dan jika kalian telah menemukannya, laporkan kembali kepadaku, supaya aku dapat juga pergi menyembahnya.”

10 Para ahli perbintangan itu pergi. Dan terjadilah: bintang yang telah mereka lihat di timur membimbing mereka sampai mereka tiba di gua itu; lalu bintang itu berhenti persis di atas kepala anak itu. 11 Setelah para ahli perbintangan ini melihatnya bersama ibunya Maria, mereka memberikan persembahan-persembahan dari kantong-kantong mereka: emas, kemenyan murni, dan mur.

12 Karena mereka telah dinasihati oleh malaikat surgawi untuk jangan pergi ke Yudea, mereka kembali ke negeri mereka lewat suatu jalan lain.

22 Ketika Herodes menyadari bahwa dia telah diperdaya oleh para ahli perbintangan itu, maka dia menjadi sangat marah 2 lalu mengerahkan para algojonya dan memerintahkan mereka untuk membunuh semua kanak-kanak yang berusia dua tahun dan yang lebih muda.

3 Ketika Maria mendengar bahwa anak-anak sedang dibunuh-bunuhi, dia merasa takut 4 lalu mengambil anaknya, membungkusnya dengan kain lampin, dan menaruhnya di dalam palungan yang digunakan untuk memberi makan ternak.

5 Adapun Elisabet, ketika dia mendengar bahwa mereka sedang mencari Yohanes, dia mengambilnya dan pergi ke perkampungan berbukitan. 6 Dia terus mencari suatu tempat untuk menyembunyikannya, tetapi tidak ada satu pun tempat yang didapatkannya. 7 Maka dia pun mengerang dan berkata dengan sangat keras, “Gunung Allah, telanlah seorang ibu ini bersama anaknya.” Anda tahu, Elisabet tidak dapat terus mendaki karena perasaannya yang sedang sangat tertekan menggagalkannya. 8 Tetapi tiba-tiba saja gunung terbelah dua dan menelan mereka. Gunung ini memungkinkan cahaya untuk menyinarinya, 9 sebab seorang malaikat Tuhan bersama mereka untuk melindungi mereka.

23 Namun Herodes tetap mencari Yohanes, 2 dan mengutus orang-orangnya kepada Zakharia yang sedang melayani altar, dengan membawa pesan kepadanya: “Di manakah engkau telah menyembunyikan puteramu?”

3 Tetapi dia menjawab mereka, “Aku adalah seorang pelayan Allah, dan sedang mengurus baitnya. Bagaimana aku bisa tahu di mana puteraku berada?”

4 Maka orang-orang utusan Herodes itu pergi lalu melaporkan semuanya kepadanya; dan Herodes menjadi sangat marah lalu berkata, “Apakah puteranya akan memerintah Israel?”

5 Maka dia mengutus kembali orang-orang suruhannya itu untuk menyampaikan pesan ini kepadanya: “Katakanlah hal yang benar kepadaku. Di mana puteramu itu? Bukankah engkau tahu bahwa kehidupanmu berada dalam kekuasaanku?” 6 Maka orang-orang utusan itu pergi dan menyampaikan pesan itu kepadanya. 7 Zakharia menjawab, “Aku adalah seorang syuhadah bagi Allah. Ambillah kehidupanku. 8 Tetapi Tuhan akan menerima rohku karena kamu mencurahkan darah seorang yang tak bersalah di pintu gerbang bait Tuhan.” 9 Maka ketika fajar tiba, Zakharia dibunuh, tetapi umat Israel tidak mengetahui kalau dia telah dibunuh.

24 Pada saat acara sambutan resmi, para imam berangkat, tetapi Zakharia tidak menemui dan memberkati mereka sebagaimana biasanya. 2 Maka para imam menunggu-nunggu Zakharia untuk menyalami mereka dengan doa dan memuji Allah Yang Maha Tinggi.

3 Tetapi ketika dia tak juga menampakkan diri, mereka semua menjadi takut. 4 Namun salah seorang dari antara mereka dengan gagah berani memasuki tempat suci lalu melihat darah yang sudah mengering di sebelah altar Tuhan. 5 Dan sebuah suara berkata, “Zakharia telah dibunuh! Darahnya tidak akan kering sampai seorang pembalas muncul.”

6 Ketika dia mendengar suara ini, dia menjadi takut lalu segera keluar dan melaporkan kepada imam-imam apa yang dia telah lihat dan telah dengar. 7Mereka pun mendapatkan keberanian, lalu masuk, dan melihat apa yang telah terjadi. 8 Para alim ulama bait berteriak, dan para imam merobek jubah-jubah mereka dari atas ke bawah. 9 Mereka tidak menemukan suatu mayat, tetapi mereka menemukan darahnya, yang telah berubah menjadi batu. 10 Mereka ketakutan lalu keluar dan melaporkan kepada umat bahwa Zakaharia telah dibunuh. 11 Ketika semua suku Israel mendengar berita ini, mereka mulai meratap; dan mereka memukuli dada mereka selama tiga hari dan tiga malam.

12 Namun setelah tiga hari, para imam dengan seksama membicarakan siapa yang mereka harus tunjuk untuk menggantikan posisi Zakharia. 13 Undian jatuh ke Simeon. 14 Orang ini, anda tahu, adalah seorang yang oleh roh kudus diberitahu bahwa dia tidak akan mati sampai matanya melihat sang Messias dalam daging.

25 Adapun aku, Yakobus, adalah orang yang telah menulis kisah ini pada waktu huru hara melanda Yerusalem ketika Herodes mati. 2 Aku menyingkir ke padang gurun sampai huru hara itu berakhir. 3 Di sana aku memuji Tuhan Allah, yang telah memberiku hikmat untuk menulis kisah ini.

4 Kasih karunia akan selalu bersama semua orang yang takut kepada Tuhan. Amin.

--------------
* Makalah ini disampaikan pada acara seminar sehari Mariologi bertema Kehidupan Maria dalam Pendampingan Karya Yesus. Diadakan oleh Komunitas Maria Bunda Pewarta, Minggu, 14 November 2010, di Unika Atmajaya, Gedung Yustinus, lt 14, Jalan Jendral Sudirman no. 51, Jakarta, Indonesia. Dua pembicara lainnya: Dr. Jalaluddin Rakhmat dan Rm Dr H. Pidyarto Gunawan, O.Carm. Tampak oleh saya, umat tidak terbiasa mendengar penyajian kritis sebagaimana yang saya berikan.

Friday, November 5, 2010

Fiksi dan Fakta Sejarah dalam Kitab Suci

Tentu saja ini sebuah karya seni yang kreatif imajinatif yang menggambarkan perjalanan fiktif menuju sorga!


oleh Ioanes Rakhmat**

N.B.
Editing mutakhir 22 April 2018

“Fiksi menyingkapkan kebenaran yang dibuat buram oleh realitas.”
• Ralph Waldo Emerson

“Imajinasi adalah suatu karunia. Jangan dibuang sia-sia.”
• Jeanne Warnes

Di awal tulisan ini, saya ingin menegaskan lebih dulu dua poin penting.

Pertama, tulisan saya ini tulisan akademik yang dipersiapkan dengan serius untuk menjadi landasan berdiskusi di kalangan intelektual dan orang yang terdidik dengan baik dalam pengetahuan ilmiah tentang kitab suci. Diperlukan pengetahuan dan kearifan yang luas dan dalam jika umat keagamaan ingin dimatangkan dalam pengetahuan ilmiah mereka tentang kitab-kitab keagamaan.

Kedua, tidak semua konten kitab keagamaan tergolong, menurut jenis sastranya (literary genre), sebagai karya seni budaya spiritual yang kreatif dan imajinatif, sebab ada juga konten sejarah yang skalanya bervariasi. Konten sejarah faktual ini sekarang sudah menyatu dengan konten karya kreatif kesenian, kebudayaan dan spiritual.

Doktrin inerrancy of the Scripture

Orang yang saleh beragama biasa akan menyatakan bahwa setiap kitab suci pasti tidak dapat salah dalam segala hal yang dikatakannya. Ini adalah sebuah pandangan yang, dalam teologi sistematik kekristenan konservatif, disebut doktrin “inerrancy of the Scripture”. Padahal, pada sisi lain, mereka yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Tuhan YMTahu yang tidak pernah dan tidak bisa berbuat salah. Samakah atau setarakah sebuah kita suci dengan Tuhan YMTahu dan MBesar? Mereka pasti tahu jawabannya.

Dengan doktrin itu, semua hal yang dituangkan dalam dokumen-dokumen kitab suci, apapun juga jenis sastranya, dipandang sebagai fakta sejarah dan selalu benar. Dengan demikian, kitab suci yang sebenarnya adalah kitab keagamaan, kitab kasih sayang antara para kekasih Allah dengan Allah mereka, diperlakukan sebagai sebuah buku sejarah murni.

Benarkah cara pandang dan perlakuan yang semacam ini? Hemat saya, tidak sepenuhnya benar. Itu suatu simplifikasi yang naif. Di zaman dulu, kitab-kitab suci ditulis tanpa memakai ilmu sejarah, ilmu yang mengharuskan setiap klaim atau bukti (sastra atau non-sastra seperti artefak) diverifikasi kebenarannya atau difalsifikasi lewat berbagai pendekatan dan metode ilmiah, dan dibahas dari banyak perspektif.

Saleh beragama tentu perlu; tapi cerdas beragama juga mutlak perlu. Kitab keagamaan ya kitab keagamaan, dari manapun asal-usulnya dipercaya, dan tidak bisa menjadi, atau diperlakukan sebagai, buku-buku berbagai ilmu pengetahuan, misalnya biologi, geologi, arkeologi, paleogenetika, kosmologi, neurologi, ilmu kimia, fisika, ilmu kedokteran, atau ilmu sejarah, futurologi, dst.

Tapi membenci ilmu pengetahuan

Kita tahu, orang yang berada dalam aliran-aliran keagamaan konservatif, apalagi yang dari arus keras, umum sekali membenci ilmu pengetahuan dan bermental antisains. Karena keliru memperlakukan kitab-kitab keagamaan mereka, maka dengan keliru juga mereka menilai pandangan-pandangan ilmu pengetahuan modern terus-menerus merongrong kitab-kitab keagamaan mereka yang berasal dari era pramodern dan prailmiah.

Pada sisi lain, herannya mereka mengharuskan kitab-kitab keagamaan mereka seluruhnya hanya memuat fakta-fakta. Padahal, kita tahu, hanya ilmu pengetahuan (yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu) yang harus berlandaskan fakta-fakta objektif empiris dan menjelaskan fakta-fakta dan semua fenomena alamiah lewat metode-metode keilmuan yang absah.

Membenci dan menolak ilmu pengetahuan, tapi mengharuskan kitab-kitab keagamaan hanya berisi fakta-fakta empiris atau berita-berita dan kisah-kisah faktual, adalah dua sikap dan pendirian yang bertentangan satu sama lain. Apa mau dikata, para agamawan konservatif sesungguhnya hidup dalam dua kondisi mental yang terbelah, terpecah, split and broken. Sejauh saya tahu, hidup dalam kondisi jiwa yang terbelah dan pecah ini tidak enak, hanya menimbulkan ketidakbahagiaan.

Lebih buruk dari kondisi itu, adalah kenyataan ini: Jika kitab-kitab suci disamakan dengan buku-buku ilmu pengetahuan yang dibangun dengan landasan fakta-fakta, maka peradaban manusia akan pasti mandek, bantut lalu punah.

Kenapa begitu? Ya karena orang jadi tidak terdorong untuk mengeskplorasi, menyelidiki dan menjelaskan berbagai fenomena alam dan jagat raya secara objektif dan dapat diuji terus-menerus, diverifikasi lintaszaman dan lintastempat.

Lewat semua aktivitas penyelidikan dan pengujian ini ilmu pengetahuan akan bertumbuh dan berkembang, makin tinggi dan makin maju, lewat koreksi, peningkatan dan dialektika tanpa akhir tesis versus antitesis yang akan bermuara pada sintesis sebagai sebuah tesis baru yang lebih baik dan integratif. Alhasil, peradaban terus bergerak ke depan, maju tanpa pernah berhenti.

Loh, kenapa para agamawan jadi tidak terdorong untuk memajukan ilmu pengetahuan tanpa batas? Ya lantaran mereka dengan kuat dan ngotot meyakini, tanpa bisa membuktikan, bahwa semua ilmu pengetahuan bahkan yang belum ada sudah tertulis dalam kitab suci mereka yang berasal dari wahyu ilahi. Jadi, kata mereka, buat apa lagi meneliti dan mengembangkan iptek. Titik. Tegas mereka. Waduh!

Jalan agung menuju Tuhan

Nah, jadi perlu diingatkan, semua ilmu pengetahuan yang sudah ada dan yang akan ada, tentu berasal dari kemahatahuan Tuhan YMTahu. Tentu saja, kemahatahuan Tuhan itu tanpa batas, infinite, tak berhingga, tak ada batas akhirnya, tak ada ujungnya, tak pernah tamat, tak pernah selesai.

Karena itu, jika makin dekat seseorang ke Tuhan (tentu Tuhan YMTahu), jika makin dalam dia cinta Tuhan, maka orang itu, yang beribadah kepada Tuhan, akan makin dekat ke dan makin cinta ilmu pengetahuan. Makin kuat dia termotivasi untuk menggali dan memajukan ilmu pengetahuan tanpa batas, sambung-menyambung secara dinamis, dialektis, dan progresif, antargenerasi, lintaszaman dan lintasgeografis.

Niscaya, ilmu pengetahuan itu jalan agung tanpa ujung menuju Tuhan YMAgung dan MTahu, sumber segala pengetahuan, mata air jernih ilmu pengetahuan yang terus mengalir, mendaki dan menurun, lurus, berbelok dan berkelok, berkembang dan bergerak maju. Makin dekat ke Tuhan, ya makin cerdas, makin berwawasan, makin berilmu, makin banyak tahu, makin rendah hati, makin terbuka, makin banyak mengerti, dan makin terang bersinar.

Jadi, tidak ada benturan antara ibadah kepada Tuhan dan berbagai usaha untuk mencari, menemukan dan memajukan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan tentang agama-agama. Orang yang suka membentur-benturkan keduanya, sesungguhnya jauh dari Tuhan YMTahu dan dari ilmu pengetahuan.

Cerdas dan berilmu makin tinggi dan luas sudah pasti diinginkan Tuhan terjadi pada setiap orang. Tuhan tidak berkenan pada kebodohan dan kondisi buta ilmu pengetahuan. Tidak ada kebodohan dan buta ilmu pengetahuan atas atau demi nama Tuhan.

Berkaitan dengan Alkitab, secara emblematik (simbolik, bukan statistikal) saya mau katakan bahwa kitab suci gereja memuat fakta sejarah sebanyak minimal 20 persen, paling banyak 40 persen, sedangkan sisanya, 80 atau 60 persen, adalah fiksi, maksudnya tergolong dalam jenis sastra kreatif imajinatif kesenian, kebudayaan dan spiritual yang digubah untuk memenuhi berbagai kebutuhan spiritual, dan juga kebutuhan religiopolitis, bukan kebutuhan ilmiah.

Hal yang mau ditelusuri dalam tulisan ini adalah relasi antara fiksi imajinatif dan fakta dalam kitab suci, dengan fokus pada Alkitab yang saya telah pelajari dan dalami dari sudut pandang keilmuan puluhan tahun.

Tuhan itu kreatif

Langsung saat ini perlu saya tekankan hal satu ini: Tuhan itu kreatif.

Jadi, selain banyak jenis sastra lain (misalnya surat-surat, kredo atau syahadat, epik, peribahasa, aretalogi, eulogi, doktrin atau pengajaran, khotbah, propaganda misiologis, renungan kearifan, renungan filosofis, etiologi, apokalipsis, kisah biografis, dll.), jenis sastra kreatif imajinatif kesenian, kebudayaan dan spiritual juga Tuhan pakai untuk menjadi wahana penyampaian firman atau kalam Tuhan yang lebih mudah ditangkap oleh hati dan kalbu serta intuisi manusia sehingga spiritualitas dapat tumbuh dan berkembang.

Yesus, misalnya, sangat cerdas dan mahir dalam menggubah dan menyusun kisah-kisah fiksional (dikenal sebagai perumpamaan-perumpamaan Yesus) sebagai sarana dan wahana sastra untuk menyampaikan firman Allah yang rahmani dan rahimi kepada rakyat jelata Yahudi zamannya. Rakyat jelata pun tersentuh dan tergugah ketika kisah-kisah kreatif imajinatif Yesus sampaikan di hadapan mereka, di banyak lokasi di Galilea dan dalam berbagai kesempatan.

Sekian kritikus sastra alkitabiah menyebut perumpamaan-perumpamaan Yesus sebagai fiksi-fiksi puitis. Karena Allah sang Bapa itu kreatif, maka Yesus pun kreatif. Bahwa Yesus dengan kreatif dan imajinatif menyusun sendiri perumpamaan-perumpamaan fiksionalnya sebagai media sastrawi dalam menyampaikan kalam Allah yang menggugah kalbu dan pikiran rakyat jelata Yahudi di masa kehidupannya, silakan baca tulisan saya yang ringkas padat yang berjudul “Agama Butuh Fiksi dan Imajinasi Yang Bebas”./1/

Jadi, jangan paksa dan batasi Tuhan untuk berfirman hanya lewat fakta-fakta sejarah. Ngeri saya kalau harus memaksa Tuhan untuk tidak boleh kreatif; lagipula tidak akan berhasil. Saya cuma seekor kunang-kunang; sedangkan Tuhan itu MTahu dan MBesar, dan juga MHadir.

Tak ada kawasan, bidang, lingkungan, wilayah, tempat, dimensi, baik yang real maupun yang abstrak, yang faktual maupun yang imajinatif, yang prosais dan yang puitis, yang matematis dan yang artistis, yang tidak dihadiri Tuhan YMHadir.

Kawasan mulai dari dunia subatomik mekanika quantum, kehidupan sehari-hari yang multidimensional, planet Bumi, sistem Matahari, galaksi Bima Sakti, hingga samudera kosmik, jagat-jagat raya maha besar, hyperspace dan ekstradimensi, semuanya dihadiri Tuhan, memancarkan kemuliaan dan keagungan Tuhan.

Kehadiran, gerak, karya, kata, dan misteri Tuhan YMHadir tak terbatas, tak berhingga, infinite. Tak pernah dan tak bisa habis ditangkap, dipahami, dimengerti dan diungkap. Selalu Tuhan YMTahu, MHadir dan MBesar mengelak jika ada yang mau mengurung dan membatasinya dalam suatu sistem atau suatu kawasan atau suatu dimensi.

Lewat banyak dan beranekaragam sarana dan wahana serta metode, dengan pranata agama sebagai salah satunya, Tuhan berfirman di zaman-zaman dulu terus hingga ke masa depan tanpa akhir dan tak pernah habis.

Sebagaimana ada beranekaragam bangsa dan suku bangsa di dunia ini dan ada banyak tempat di muka Bumi dengan para penghuninya membangun kebudayaan dan peradaban yang berbeda-beda, dan sebagaimana zaman-zaman terus bergerak maju ke depan dan berubah dinamis, dan sebagaimana kecerdasan dan pengetahuan manusia terus berkembang dan makin maju, maka niscaya firman atau kalam Tuhan itu tidak cuma satu, tetapi majemuk, kreatif, dinamis, dialektis, progresif, dan tak pernah habis, dan sampai ke manusia lewat berbagai sarana, wahana, bentuk, cara dan jalan.

Keindahan dan pesona jagat raya, alam sendiri dan hukum-hukum alam betul-betul memancarkan kemuliaan dan keagungan Tuhan. Keagungan dan kemuliaan Tuhan yang dikilaukan oleh alam, kehidupan dan jagat raya mendorong orang menciptakan berbagai karya seni, budaya dan religius yang sangat kreatif dan imajinatif tanpa akhir.

Pada sisi lainnya, juga mendorong orang-orang cerdas, para ilmuwan, untuk mengobservasi dan mengeksplorasi jagat raya kita dan segala isinya lewat berbagai instrumen, metode serta pendekatan dan model-model yang terus-menerus dievaluasi ulang dan dibarui sehingga makin maju dan makin dapat diandalkan. Hasilnya adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang terus berkembang maju dan dinamis.

Nah, tentu anda setuju bahwa kemampuan otak manusia untuk menghasilkan bukan saja ilmu pengetahuan, tapi juga karya-karya fiksional kreatif kesenian, kebudayaan dan spiritual adalah anugerah dan karunia Tuhan yang luar biasa bernilai dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, juga bagi pertumbuhan rasa keberagamaan kita.

Jadi janganlah kemampuan pemberian Tuhan ini dikekang, dihambat atau disia-siakan. Makin Tuhan dihargai dan disayangi oleh kita, makin besar juga penghargaan dan kesukaan kita pada karya-karya kesenian, kebudayaan dan spiritual yang kreatif dan imajinatif.

Karya-karya kreatif imajinatif ini, jika dipahami maksud dan tujuannya sebagai karya-karya kesenian, kebudayaan dan spiritualitas yang digubah dan disusun dalam suatu konteks sejarah tertentu, akan dapat meneduhkan jiwa dan menghilangkan dahaga jika memang kena buat kita di masa kini di tempat kita.

Bayangkanlah, betapa kering, kaku, membosankan, pengap dan panas dunia ini jika kita tidak memiliki kapasitas neural untuk menciptakan berbagai jenis sastra dan media dan ekspresi-ekspresi kesenian lain yang menyajikan berbagai fiksi kreatif dan imajinatif yang mampu mengerakkan hati dan akal kita.

Imajinasi yang kreatif, yang tak kenal batas-batas, kata Albert Einstein, lebih penting dari pengetahuan formal sebab setiap pengetahuan terbatas pada segala hal yang kita sudah ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia dan segala hal yang akan ada untuk kita ketahui dan pahami.

Saya mau tambahkan: imajinasi dan pengetahuan terlibat interaksi, alhasil keduanya bergerak lebih tinggi dan membubung, sambung-menyambung, bak gelombang-gelombang laut kejar-mengejar, bak pegas bergerak berpilin, yang satu menjadi awal dan landasan energi kinetik bagi yang lain bergantian. Interaksi dinamis dan kreatif ini berlangsung paling jelas antara sains-sains dasariah dan fiksi-fiksi sains yang imajinatif kreatif.

Tambahan yang kreatif, bukan?

Sejak kanak-kanak hingga dewasa dan lansia, kita suka kisah-kisah fiktif besar, yang agung dan bernilai moral, edukatif, estetis, eksistensial dan religius yang tinggi. Di dunia kuno manusia menyusun fiksi-fiksi agung kuno. Sekarang di era modern, kita juga menyusun fiksi-fiksi besar modern yang mampu menggerakkan hati dan akal, yang bermuara pada tindakan.

Selanjutnya, tentang isi tulisan ini, pertama-tama kita perlu mendapatkan kejelasan apa itu fiksi dan apa itu sejarah. Setelah itu akan dikemukakan tiga pendekatan epistemologis terhadap sejarah, yakni objektivisme, subjektivisme, dan interaktivisme. Lalu menyusul suatu uraian tentang unsur fiksi dalam sejarah dan unsur sejarah dalam fiksi.

Kemudian akan diperlihatkan bahwa dalam setiap kitab suci unsur fiksi sudah menyatu dengan unsur sejarah.

Kalau fiksi dalam kitab suci dapat berupa mitologi-mitologi atau kisah-kisah kreatif kesenian, kebudayaan dan spiritual, maka dalam zaman penulisan kitab-kitab suci kuno yang belum mengalami sekularisasi, zaman prailmiah, pramodern, mitologi-mitologi dipandang para penulisnya sebagai sejarah dan sejarah sebagai mitologi. Kenapa begitu?

Ya karena dunia adikodrati (yang digambarkan lewat mitologi-mitologi) oleh orang zaman yang sangat lampau tidak dipisahkan dari dunia kodrati (dunia sejarah), dan juga sebaliknya.

Namun, dalam banyak kasus, melalui upaya demitologisasi dalam hermeneutik modern, fiksi dalam kitab suci dapat dipilah-pilah dan dipisahkan dari sejarah dan juga sebaliknya.

Tolok ukur

Dalam zaman modern, kita umumnya telah biasa memakai nalar, logika dan sains, serta hukum-hukum alam (the laws of nature) yang tetap dan abadi, dan pengalaman sejarah, untuk menentukan mana fiksi dan mana fakta.

Dengan cara itulah kita menilai bahwa semua kisah mukjizat dalam kitab suci apapun, khususnya dalam Alkitab, adalah kisah fiktif, bukan kisah historis. Praktek demitologisasi semacam ini tidak dikenal oleh para penulis kitab suci yang hidup dalam zaman pramodern dan prailmiah.

Orang di zaman pramodern dan prailmiah menganggap mukjizat sebagai bagian dari pengalaman dunia sehari-hari, karena Allah dipercaya berada dalam dunia sehari-hari dan dapat dengan bebas melanggar “hukum-hukum alam” (yang tentu saja belum diobservasi secara saintifik oleh para penulis kitab-kitab suci kuno) untuk mendatangkan mukjizat.

Ingatlah, dalam beragama, yang kita baca adalah kisah-kisah insani tentang mukjizat yang harus dibaca dan ditafsirkan lewat ilmu tafsir, bukan mukjizat itu sendiri yang dapat dilihat dengan mata kepala sendiri.

Pada sisi lain, seandainya betul di zaman-zaman kuno mukjizat-mukjizat pernah terjadi karena Tuhan membatalkan hukum-hukum alam yang tetap dan abadi dalam jagat raya kita, alhasil dilahirkan hukum alam yang baru yang bekerja dalam alam tempat kita hidup, maka hukum alam yang baru itu mustinya juga tetap bekerja hingga kini bahkan selamanya. Kemahakuasaan Tuhan mustahil kita batasi kerjanya cuma untuk masa lampau satu kali saja.

Faktanya, apa yang kita temukan dan ketahui? Kita semua tahu jawabannya.

Ilmu pengetahuan tak pernah selesai

Kalau di zaman-zaman dulu hukum gravitasi Bumi bisa dilanggar sehingga memunculkan hukum alternatif antigravitasi, maka seharusnya hukum alternatif antigravitasi ini tetap bekerja hingga sekarang dan selamanya. Alhasil, kita sekarang mustinya bisa meluncur ke angkasa dan terbang dengan bebas, tanpa bantuan tenaga pendorong ke atas yang dihasilkan berbagai instrumen teknologis modern. Faktanya apa?

Kalau para agamawan konservatif menyatakan bahwa mukjizat terjadi bukan karena hukum alam yang baru, tapi karena hukum ilahi yang khas, yang bekerja satu kali saja di zaman dulu, maka pertanyaan yang muncul adalah dari mana atau berdasarkan apa hal itu mereka ketahui.

Jawabannya ya sudah pasti: berdasarkan penafsiran mereka yang didorong oleh kepercayaan mereka atas kisah-kisah yang ditulis di zaman-zaman prailmiah. Dus, terbuka juga pintu bagi penafsiran-penafsiran lain, termasuk penafsiran yang lepas dari dorongan kepercayaan.

Bagaimana pun juga, jika suatu hukum diklaim sebagai hukum ilahi yang istimewa, tapi bekerja dalam alam dan dunia kita, ya hukum ilahi itu menjadi hukum alam dan dunia kita juga. Bukankah para agamawan biasa mempertahankan bahwa hukum alam, yang sudah lama diobservasi dan yang baru, semuanya ciptaan Tuhan sendiri?

Tentu saja semua ilmuwan dan semua ilmu pengetahuan sejauh yang kini sudah dikenal, tidak akan pernah bisa tuntas, final dan selesai dalam menjelaskan semua realitas dan fenomena natural yang sudah diketahui dan yang akan diketahui.

Akan selalu ada misteri-misteri alam yang belum bisa dijelaskan sekarang atau dalam waktu dekat. Ketahuilah, jagat raya kita ini, bak balon raksasa yang terus ditiup, masih terus mengembang dengan makin cepat dan tanpa batas, dan masih ada jagat-jagat raya lain yang jumlahnya infinite, tak terbatas. Duuuh!

Jika suatu misteri alam yang semula tidak atau belum dapat dijelaskan berdasarkan hukum-hukum alam atau hukum-hukum keilmuan, kemudian ternyata dapat dijelaskan dengan meyakinkan lewat metode-metode keilmuan atau teori-teori atau model-model baru keilmuan, tetap masih akan muncul misteri-misteri lainnya.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena yang kedapatan masih sebagai misteri-misteri, tidak disebut sebagai mukjizat, tetapi tetap sebagai misteri-misteri alam raya yang menunggu penjelasan atau yang akan bisa dijelaskan pada waktunya.

Sudah banyak fenomena alam yang dulu dijelaskan secara magis mitologis, misalnya gerhana atau pandangan prailmiah bahwa planet Bumi ini datar, kini sudah bisa dijelaskan dengan benar oleh ilmu pengetahuan.

Gerhana itu ya suatu peristiwa astronomis alamiah yang sudah bisa dideskripsikan dan dikalkulasi dengan persis kapan akan terjadi. Juga, bukti-bukti ilmiah sudah banyak terhimpun selama ratusan tahun yang menunjukkan bahwa planet Bumi ini tidak datar, tetapi bulat.

Berikut ini sebuah selingan pendek saja. Dua ribu tahun lalu lebih, persisnya 240 SM, Eratosthenes (276 SM - 194 SM), seorang terpelajar Yunani-Libia yang tinggal di Alexandria, Mesir, dengan menggunakan nalar, matematika dan geometri sederhana menemukan bahwa Bumi ini bulat bak bola, bukan datar bak kue serabi. Dialah orang pertama yang mengukur panjang lingkaran planet Bumi, dan mendapatkan angka 250.000 stadia (k.l. 25.000 mil)./2/

Kini di era modern, berapa persisnya panjang lingkaran planet Bumi sudah dengan mudah diukur. Jika lingkaran garis katulistiwa yang diukur, angka yang didapat 24.901.461 mil (atau 40.075.017 km). Jika bola Bumi diukur menurut garis meridian (lingkaran dari kutub ke kutub), hasilnya 24.859.73 mil (atau 40.007.86 km).

Jadi, dengan menggunakan sarana yang simpel dan pengetahuan di zamannya, Eratosthenes mengukur jarak lingkaran bola Bumi dengan hasil yang akurat. Oh ya, astronom Amerika, Carl Sagan merujuk ke Eratosthenes dalam film dokumenter serial Cosmos./3/

Jangan terfiksasi pada huruf

Well, back to our focus. Jika 60 hingga 80 persen tulisan dalam kitab suci adalah fiksi atau narasi-narasi kreatif imajinatif, maka, pertanyaan krusialnya adalah, apakah iman keagamaan yang dilandaskan pada fiksi, bukan pada fakta sejarah, adalah suatu iman yang dapat dibenarkan, iman yang sehat.

Pertanyaan semacam itu bermakna dan fungsional hanya bagi orang yang meyakini bahwa beriman adalah juga suatu aktivitas epistemologis dan hermeneutis yang harus berpijak pada fakta, bukan pada fiksi. Jika mereka berhadapan dengan jenis sastra fiksi, mereka tidak terfiksasi, terpaku, pada konten fiksinya sendiri, tapi pada makna dan pesan historis kontekstual yang mau disampaikan si penulis fiksi tersebut.

Sedangkan bagi bagian terbesar umat beragama, iman membuat fiksi menjadi fakta, dan beriman tak memerlukan suatu bukti empiris objektif tentang isi iman mereka (misalnya bahwa Allah itu ada, atau bahwa langit dan Bumi ini diciptakan dalam 6 x 24 jam dalam arti harfiah karena dalam kitab keagamaan mereka tertulis begitu).

Ya, sesungguhnya bagi mereka yang beriman semacam itu, hidup beriman adalah hidup dalam dunia fiksi. Alih-alih mencari dan menemukan makna dan pesan historis kontekstual dari sebuah fiksi, mereka terfiksasi pada konten fiksinya dan menghabiskan waktu dan tenaga dalam mempertahankan dan membela bahwa tulisan yang mereka sedang baca yang sebetulnya tergolong karya sastra kreatif imajinatif spiritual adalah jenis sastra sejarah faktual seratus persen.

Baiklah, saya katakan bahwa fiksi yang baik dan edukatif memang bisa bermanfaat dan kita perlukan untuk menolong kita dapat hidup bermoral baik, juga terhibur, happy, dikuatkan. Jadi, saya ajak anda untuk menikmati dan menghayati fiksi-fiksi jenis ini yang tertulis di manapun dan dalam kemasan apapun. Tapi dengan tetap menyadari bahwa fiksi ya fiksi, bukan realitas atau fakta. Kenapa begitu?

Karena, pada pihak lain, fiksi mungkin juga menjadikan orang hidup dalam suatu dunia khayalan dan delusi (= kepercayaan yang salah tetapi dengan kuat tetap dipertahankan) yang, jika terlalu banyak terpasok dalam benak kita, akan mematikan nalar dan logika sehingga memperbodoh diri sendiri, dan dapat membahayakan diri kita sendiri, orang lain dan dunia.

Karena bahaya semacam itulah, setiap klaim keagamaan, hemat saya, harus dibawa ke meja bedah pengkajian saintifik untuk membuktikan objektivitasnya, kebenaran atau kesalahannya, relevansi atau irelevansinya, khususnya klaim-klaim keagamaan yang terkait dengan ilmu pengetahuan, fakta-fakta, dan moralitas. Klaim-klaim ini seharusnya tidak hanya sekadar dipercaya saja dengan membuta tanpa disokong bukti-bukti empiris dan penalaran logis dan pengenalan konteks zaman dan tempat.

Iman juga ada fungsinya

Tentu saja, kapasitas mental kita untuk bisa percaya dan beriman adalah salah satu fungsi neural penting dalam jejaring bagian-bagian otak kita. Kepercayaan atau keberimanan hard-wired dalam fungsi kognitif otak kita.

Hidup yang berat kerap dapat dijalani dengan tenang dan tabah karena kepercayaan dan keberimanan. Tanpa kepercayaan kepada sesama manusia, mulai dari sesama yang terdekat hingga yang terjauh, dan kepada hal-hal lain di luar dunia kita, kehidupan kita mungkin sekali akan berisi banyak frustrasi, rasa lemah, stres, kecemasan, kehilangan pengharapan, dan depresi.

Jadi, percaya dan berimanlah jika ini membuat anda tabah, tegar, riang, dan kehidupan anda menjadi berkat dan kebaikan bagi sesama organisme, masyarakat, dunia ini dan peradaban.

Tapi iman dan kepercayaan yang tidak cerdas, tidak arif, tanpa pengetahuan dan membuta, tanpa kesadaran konteks zaman dan tempat, saya mau ingatkan, pastilah akan menghancurkan dan membinasakan segala sesuatu, tentu termasuk diri orang yang beriman jenis ini. Jadi, cerdas, arif, celik dan selektiflah dalam percaya dan beriman.

Kembali ke fokus tafsiran atas kitab-kitab keagamaaan. Ternyata, penghayatan beriman yang tidak memerlukan dukungan suatu bukti sejarah apapun, bisa ditolerir oleh penemuan akan adanya empat peringkat makna dalam semua dokumen kitab suci.

Makna tekstual historis kontekstual dari sebuah teks suci, yang sangat penting bagi para penafsir historisis, hanyalah salah satu makna saja, yang bisa ditandingi oleh makna-makna lainnya, yang muncul sebagai sensus plenior, “makna yang lebih penuh” atau “makna yang lebih dalam” (yang konon dikehendaki Allah, meskipun tak dikehendaki si manusia penulisnya). Nah, makalah ini ditutup dengan suatu uraian tentang sensus plenior ini.

Definisi fiksi dan sejarah 

Apa yang dimaksud dengan “fiksi”? KBBI edisi ketiga (2005) mendefinisikan fiksi sebagai: a) cerita rekaan; b) rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan; c) pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Michael Wood mendefinisikan fiksi sebagai “invensi (= ciptaan imajinatif) murni”, “segala jenis fabrikasi.”/4/ Meriam Webster’s Collegiate Dictionary (edisi kesepuluh: 1993) mendefinisikan fiksi sebagai “sesuatu yang diciptakan oleh imajinasi” (khususnya sebuah kisah rekaan).” Jadi jelas bahwa fiksi adalah sebuah reka-rekaan, suatu khayalan, bukan sebuah fakta, bukan suatu peristiwa sejarah faktual.

Tetapi apakah sejarah itu? KBBI edisi ketiga mendefinisikan sejarah sebagai “kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau” dan sebagai “pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau.”

Meriam Webster’s Collegiate Dictionary mendefinisikan sejarah (history) sebagai “peristiwa-peristiwa di masa lampau” dan sebagai “suatu catatan kronologis mengenai peristiwa-peristiwa penting (yang mempengaruhi suatu bangsa atau suatu lembaga), yang seringkali mencakup sebuah penjelasan tentang sebab-musabab peristiwa-peristiwa itu.”

Keadaan “benar-benar terjadi di masa lampau” yang timbul karena “sebab-musabab” tertentu inilah yang membedakan sejarah dari fiksi yang merupakan “rekaan” atau “khayalan.”

Objektivisme, subjektivisme, dan interaktivisme

Tetapi definisi tentang “sejarah” yang baru dikemukakan pada alinea di atas tidak menyatakan apakah “peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau” itu dapat direkonstruksi oleh manusia pada masa kini dengan sepenuhnya objektif sebagai sejarah murni, tanpa melibatkan sama sekali diri si sejarawan dan dunianya pada masa kini. Objektivisme historis semacam ini dikenal juga sebagai positivisme atau historisisme, yang, bagi saya, adalah sesuatu yang tidak pernah ada dalam setiap upaya memahami dan menjelaskan masa lampau.

Bahwa objektivisme historis tak pernah ada terbukti dari adanya lebih dari satu versi historiografi tentang satu peristiwa di masa lampau, yang menunjukkan bahwa ada faktor subjektif dari diri si sejarawan dan dunianya di masa kini yang ikut bermain dalam dia merekonstruksi suatu kejadian di masa lampau. Bulan purnama itu objektif ada di angkasa malam. Tapi sepuluh orang terpisah dengan suasana mental masing-masing berbeda, pada waktu yang diatur bersamaan akan menulis kisah-kisah yang tidak sama tentang sang rembulan yang cuma satu itu.

Pada ujung ekstrim lainnya dalam orang berhubungan dengan sejarah terletak subjektivisme, atau dikenal juga sebagai fenomenalisme atau narcissisme atau solipsisme historis, yang memandang bahwa suatu rekonstruksi sejarah adalah sepenuhnya sebuah proyeksi kepentingan subjektif diri si sejarawan dan dunianya pada masa kini ke masa lampau.

Subjektivisme historis semacam ini, jika ada, sama sekali tidak menghasilkan suatu deskripsi sejarah, tetapi tepat jika karya yang dihasilkan dilabelkan sebagai propaganda personal (politis atau ideologis) si penulisnya.

Pada pihak lain, subjektivisme jelas menutup mata pada suatu kenyataan bahwa di dalam suatu uraian sejarah apapun kita masih bisa mendapatkan fakta-fakta yang terjadi di masa lampau (yakni: apa peristiwanya, kapan terjadinya, di mana terjadinya, siapa yang terlibat) kendatipun diri si sejarawan dan dunianya pada masa kini terlibat secara signifikan dalam setiap usaha merekonstruksi masa lalu.

Karena itu, hemat saya, suatu posisi yang seimbang dalam setiap upaya merekonstruksi masa lampau adalah suatu posisi tengah antara objektivisme dan subjektivisme.

John Dominic Crossan, antara lain, merumuskan posisi tengah ini dengan baik, ketika dia menyatakan bahwa sejarah adalah “masa lampau yang direkonstruksi secara interaktif dengan masa kini melalui bukti-bukti yang diperdebatkan di dalam wacana publik.”/5/ Crossan menyebut posisinya ini sebagai interaktivisme atau dialektika historis atau relasionisme atau relativisme.

Fiksi dalam setiap historiografi 

Dengan memakai epistemologi interaktivisme dalam upaya mendapatkan suatu pengetahuan yang absah mengenai masa lampau, terbukalah suatu kemungkinan untuk memandang bahwa suatu uraian sejarah (suatu historiografi) bisa juga sebagian daripadanya berisi fiksi yang dimasukkan oleh si sejarawan ke dalam historiografinya, sementara dia juga membangun historiografinya dengan memakai bukti-bukti sejarah (material, tekstual dan oral) yang andal dan dapat diperdebatkan dalam suatu diskursus publik.

Michael Wood menegaskan bahwa sejarah, bahkan sejarah yang tergolong paling dapat dipercaya, dapat dilihat berisi unsur-unsur fiksi, sementara novel-novel, yang termasuk ke dalam suatu dunia invensi sastrawi, dapat berfungsi sebagai dokumen-dokumen sejarah./6/ Charles W. Hedrick bahkan juga menyatakan bahwa sejarah adalah “suatu konstruk mental fiktif.”/7/ Dalam suatu historiografi Indonesia yang disusun rezim Orde Baru tentang peralihan kekuasaan politik dari rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, bukankah Supersemar itu sebuah fiksi?

Lalu, tidak kurang contohnya untuk orang dapat menyatakan bahwa banyak novel ditulis dalam suatu konteks sejarah yang dikenal dengan sangat baik oleh si penulis novel, dan dengan demikian novelnya ini juga menjadi sebuah media penyampai dan penafsir sejarah, kendatipun novel umumnya tidaklah termasuk ke dalam genre historiografi.

Karena suatu tulisan sejarah dapat juga memuat fiksi, maka dapat dipahami jika Feeney menyatakan bahwa perbedaan antara sejarah dan epik tidaklah berhubungan dengan apa yang kita dapat sebut “historisitas” (yakni apakah sesuatu itu sungguh telah terjadi atau tidak), melainkan suatu persoalan mengenai derajat “kefiktifan” yang diterapkan dalam suatu pengisahan./8/

Tentu saja, hemat saya, derajat kefiktifan suatu tulisan sejarah haruslah sangat kecil jika memang tulisan sejarah ini mau atau harus digolongkan sebagai suatu tulisan sejarah, dan bukan suatu fiksi.

Sebaliknya juga, suatu karya fiksi yang derajat kefiktifannya minim tidak pantas lagi disebut sebagai suatu fiksi, dan dalam setiap karya fiktif sudah dengan sendirinya unsur-unsur sejarah bisa ada sangat minimal atau malah tidak ada sama sekali. Dan tentu saja, seperti dikatakan Crossan, setiap sejarah adalah suatu kisah, tetapi tidak setiap kisah adalah sejarah,/9/ yaitu jika kisah ini sepenuhnya fiktif.

Bagaimanapun juga, kita semua tentu sepakat, bahwa suatu tulisan yang digolongkan sebagai tulisan sejarah haruslah berisi fakta-fakta di masa lampau, fakta-fakta yang ditatasusun ulang atau direkonstruksi dengan tidak terlepas dari hermeneutik si sejarawan, hermeneutik yang mengharuskannya memahami dan menafsirkan masa lampau secara interaktif dengan masa kini dalam dunianya. Sejarah murni itu tidak ada.

Jadi, dalam pandangan modern, tetap harus bisa dibedakan mana kisah fiktif (fictional narrative) dan mana kisah sejarah (historical narrative), kendatipun dalam setiap kisah sejarah bisa ada unsur-unsur fiktifnya yang dapat mengambil bentuk sebagai “muatan-muatan politis” dari si sejarawan dalam suatu pengisahan sejarah, atau sebagai “muatan-muatan mitologis” dari seorang sejarawan yang bertutur tentang sejarah kelahiran suatu agama atau suatu bangsa di muka Bumi.

Dalam kitab suci, fiksi dan sejarah menyatu

Dunia yang di dalamnya kitab-kitab suci kuno ditulis adalah suatu dunia pramodern dan prailmiah yang tidak mengenal pemisahan antara dunia adikodrati dan dunia kodrati, antara dunia allah-allah dan dunia manusia. Inilah suatu dunia yang belum mengalami “disenchantment of the world” (Entzauberung der Welt), suatu dunia yang belum “kehilangan kekeramatannya”.

Dalam dunia jenis ini, allah-allah dan dewa-dewi serta para malaikat yang gaib dan keramat, dan juga jin-jin dan setan-setan, bertatap muka dan bergaul bersama dengan manusia, suatu dunia yang belum mengalami sekularisasi./10/

Menurut suatu tuturan dalam Tenakh Yahudi (= Perjanjian Lama orang Kristen), di Taman Eden di Bumi (di kawasan Mesopotamia), Tuhan Allah konon bergaul akrab dengan manusia, Adam dan Hawa, dan di taman ini “Tuhan Allah berjalan-jalan pada waktu hari sejuk” (Kejadian 3:8). Di dalam dunia ini, “anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka” (Kejadian 6:2).

Bahkan dalam Kejadian 6-9, dikisahkan bahwa Tuhan sanggup memantau semua manusia yang hidup di muka Bumi dan perilaku mereka masing-masing, dan Dia mendapati bahwa kejahatan mereka sudah sangat besar dan segala kecenderungan mereka jahat semata-mata. Karena itu Yahweh sangat menyesal, lalu memutuskan untuk melenyapkan mereka. Dalam Kejadian 6:7 ditulis bahwa Tuhan berfirman, “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka Bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Tidak dijelaskan oleh si penulis bagian kitab Kejadian itu mengapa murka Allah atas dosa manusia bisa merembet ke Bumi dan ke dunia hewan sehingga hewan-hewanpun (yang umumnya tak memiliki kesadaran diri dan karenanya tak mengenal masalah moralitas) mau dibinasakan oleh sang Tuhan penghukum ini (Kejadian 6:13). Hanya Nuh, “seorang yang benar dan tidak bercela” (Kejadian 6:9), dan keluarganya serta sejumlah pasangan binatang yang ikut bersamanya masuk ke dalam bahtera, diselamatkan dari penghukuman habis-habisan oleh Tuhan ini.

Tak ada suatu pergumulan teologis yang serius dan berat dalam diri penulis bagian kitab Kejadian ini tentang kehendak Allah untuk dengan tega membinasakan seluruh muka Bumi; si penulis ini hanya menerima saja bahwa Yahweh adalah Tuhan atas seluruh muka Bumi dan segenap penghuninya, karena Tuhan inilah yang telah menciptakan semuanya. Tidak ada pemikiran dalam dirinya bahwa Bumi dan segenap isinya, termasuk manusia, memiliki otonomi di hadapan Tuhan penghukum semacam ini.

Kita tahu, seorang guru yang arif dan empatetis tidak akan berlaku keras pada siswa-siswanya yang kedapatan telah melakukan kesalahan atau yang nakal. Sang guru dengan lembut dan arif pasti akan memperhatikan dan membimbing dengan edukatif siswa-siswanya yang seperti itu.

Dalam Perjanjian Baru, dikatakan bahwa Allah masuk ke dalam dunia manusia dengan “menjadi daging” (= manusia) (Yohanes 1:14a). Dalam bagian permulaan Injil Matius dan Injil Lukas kita baca dua buah kisah yang sangat berbeda (dan tak bisa diharmonisir) tentang kelahiran Yesus dan kejadian-kejadian yang menyelubunginya yang dibuat oleh makhluk-makhluk adikodrati di dalam kelahiran ini, antara lain bahwa janin Yesus “dikandung dari Roh Kudus” yang menghamili Maria (Matius 1:18; Lukas 1:31, 35), dan bahwa pada saat Yesus dilahirkan bala tentara surgawi menaikkan madah-madah pujian (Lukas 2:13-15) dan para malaikat menyampaikan pesan-pesan surgawi (Lukas 2:8-12 ).

Kita tahu, dalam hampir seluruh dokumen Perjanjian Baru, para penulisnya mewartakan bahwa Tuhan Allah tidak membiarkan Yesus dari Nazaret dikalahkan oleh kematian melalui penyaliban, dengan sang Tuhan Allah ini dari dunia adikodrati mendatangi kubur Yesus (konon via beberapa malaikat) di dunia kodrati, lalu membangkitkannya dari antara orang mati. Ini suatu gambaran teologis tentang Tuhan yang memberi dan memelihara kehidupan, bukan membinasakan.

Bagi kita yang hidup dalam zaman modern yang sudah tersekularisasi, yang sudah terbiasa untuk memisahkan fakta dari fiksi dengan memakai nalar, logika, sains modern, hukum-hukum alam dan pengalaman historis untuk memilah-milah, jelaslah bahwa:

Taman Eden yang serba lengkap adalah fiksi (yang malah dalam Wahyu Yohanes 22:1-2 dipandang sebagai suatu taman di masa depan, bukan di masa lalu); sepasang manusia dewasa pria dan wanita yang tidak memiliki pusar karena diciptakan dari tanah dan langsung dewasa adalah fiksi (sebaliknya, jika mereka diciptakan sebagai sepasang bayi dulu juga adalah fiksi, sebab keduanya pasti akan mati karena tak ada orangtua yang merawat dan memberi mereka susu);/11/ seekor ular yang bisa berbicara memperdaya dan meyakinkan Hawa adalah fiksi; buah pohon pengetahuan yang jika dimakan membuat si pemakan langsung cerdas (minimal secara moral) adalah fiksi; dan bahkan Tuhan Allah yang berkaki dan bertangan dan bermulut yang berjalan-jalan di Taman Eden pada hari-hari sejuk adalah juga fiksi teologis antropomorfis.

Demikian juga, anak-anak Allah yang dikuasai berahi lalu mengawini anak-anak perempuan manusia adalah fiksi yang terang-benderang.

Kisah alkitabiah tentang air bah yang melanda muka Bumi yang konon terjadi pada masa Nuh hidup ternyata dalam banyak rinciannya sejajar dengan kisah tentang banjir besar yang dikisahkan dalam Epik Gilgamesh (yang disusun pada millennium ketiga SM)./12/

Kita, dengan demikian, bisa dengan yakin menyatakan bahwa kisah alkitabiah tentang air bah ini ditulis sebagai sebuah fiksi mitologis dengan memanfaatkan epik akbar ini sebagai suatu sumber utamanya.

Kita tahu ada banyak usaha untuk menyebarkan “junk science” (= sains rongsokan) yang seolah telah “membuktikan” bahwa air bah pada zaman Nuh dan bahteranya adalah sebuah kejadian historis dan sebuah benda faktual, bukan sebuah fiksi mitologis, seperti sedang dilakukan oleh Noah’s Ark Ministries International (NAMI)./13/

Begitu juga, keyakinan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Allah-yang-menjadi-daging adalah sebuah fiksi atau metafora teologis, karena tak bisa dibuktikan sama sekali sebagai sebuah fakta, sementara dapat dengan jelas dibuktikan bahwa daging manusia adalah perpaduan materi (pada level yang paling fundamental terdiri atas elektron, u-quark, dan d-quark) dan zat-zat kimiawi. Kalau orang Kristen berkeras bahwa mereka mengimani dengan kuat bahwa Yesus adalah Allah, maka iman yang kuat ini juga adalah sebuah metafora teologis.

Berkaitan dengan tuturan injil tentang kelahiran Yesus, kita tahu dari sains biologi dan genetika bahwa secara alamiah tanpa sel-sel telur seorang perempuan dibuahi oleh sel-sel sperma seorang lelaki, dan tanpa kromosom Y dari pihak ayah, tak akan terbentuk suatu janin manusia yang akan berkembang menjadi bayi lelaki yang hidup.

Bagaimana dengan parthenogenesis (arti harfiah “kelahiran perawan”)?

Adriana Bos-Mikich, Fabiana F. Bressan dkk dalam sebuah artikel riset mereka di jurnal Stem Cells International menyatakan bahwa parthenogenesis bukanlah suatu bentuk reproduksi alamiah pada mamalia; dus tak akan ada keturunan yang dilahirkan lewat parthenogenesis.

Namun di zaman sekarang yang ditandai oleh kemajuan luar biasa dalam sains medik, parthenogenesis dimungkinkan hanya lewat penerapan iptek modifikasi genetik dengan tujuan sama sekali bukan untuk melahirkan satu sosok bayi manusia lewat manuver reproduktif parthenogenesis yang memang tidak dimungkinkan. Tetapi untuk tujuan-tujuan riset di bidang-bidang teknologi reproduksi yang dibantu (assisted reproduction technology atau ART), sel-sel somatik, eksperimen transfer nuklir, dan derivasi stem sel embrionik pluripoten tingkat klinis untuk keperluan pengobatan regeneratif./14/

Penting disadari hal satu ini: penulis-penulis Injil Matius dan Injil Lukas sama sekali tidak bermaksud memberitakan bahwa Yesus dari Nazaret dilahirkan melalui suatu cara kelahiran parthenogenesis. Tetapi dua penulis injil ini (atau sumber-sumber yang mereka pakai) mau menyatakan bahwa pencipta yang membuat Yesus dilahirkan adalah Allah sendiri, Roh Kudus, bukan manusia. Allah betul-betul berada di dalam dan menyatu dengan diri Yesus dari Nazaret, sejak dari dalam kandungannya. Karena itu Bunda Maria mau tak mau diteorikan (dalam wujud metafora teologis) masih murni perawan ketika mengandung Yesus.

Dalam pasal permulaan kitab Kejadian, Allah dimetaforakan sebagai roh yang melayang-layang di atas muka air. Ini adalah puisi metaforis yang secara figuratif melukiskan Allah sebagai seekor burung yang sedang terbang mencari sarang untuk bertelur. Metafora kelahiran Yesus dari sang perawan Maria jadi sangat impresif puitis jika metafora dalam kitab Kejadian itu menjadi latarbelakang sastrawinya.

Alih-alih mengulang metafora sang perawan insani Maria yang mengandung lewat pembenihan oleh roh Allah, penulis Injil Yohanes membayangkan hal yang berbeda, yakni roh Allah yang berinkarnasi.

Menurut Injil Yohanes 1:1, sang Firman yang ada sejak “pada mulanya” di kawasan adikodrati non-insani telah menjadi daging, maksudnya telah menjadi manusia, Yesus, di dunia kodrati. Kisah-kisah kelahiran dalam Injil Lukas dan Injil Matius diganti oleh penyusun Injil Yohanes dengan protologi, doktrin teologis tentang hal-hal yang ada pada mulanya, dan metafora inkarnasi.

Nah, metafora kelahiran Yesus dari perawan Maria, dan protologi serta teologi inkarnasi dalam prolog Injil Yohanes, tentu tidak bisa menutup pintu bagi suatu pertanyaan krusial siapakah ayah insani Yesus dari Nazaret yang sesungguhnya.

Jika Yesus adalah sesosok manusia pria yang hidup dalam dunia kuno, maka pasti dia memiliki bukan saja seorang bunda insani, tetapi juga seorang ayah insani. Soal krusial ini tampaknya dicoba ditutupi oleh kisah-kisah kelahiran Yesus dalam permulaan Injil Matius dan Injil Lukas, yang ternyata dapat dikatakan, menurut pendapat banyak pakar tafsir kritis Perjanjian Baru, “dibocorkan” juga di dalam Injil Yohanes (8:41) dan dalam Injil Thomas (logion 105) yang menyebut secara tidak langsung bahwa Yesus dilahirkan karena suatu perzinahan./15/ Terus terang, bagi saya, topik ini susah didiskusikan, karena melibatkan banyak disiplin ilmu untuk orang bisa tiba pada suatu kesimpulan sejarah yang kuat.

Jika Yesus dari Nazaret bukan suatu figur fiktif mitologis seperti diargumentasikan belakangan ini oleh sejumlah mythicists/16/ melainkan seorang manusia historis, jelas Yesus yang historis ini pasti pernah mengalami kelahiran seperti manusia pada umumnya. Cuma, kisah-kisah kelahiran dalam Injil Matius dan Injil Lukas sudah menyatupadukan fakta sejarah kelahiran Yesus ini (di sebuah kota kecil Nazaret) dengan fiksi-fiksi mitologis seperti yang baru saja dibeberkan.

Melalui suatu usaha demitologisasi, mana hal yang mitologis dan mana hal yang faktual historis dalam kisah-kisah kelahiran Yesus ini dapat dipilah-pilah dengan cermat untuk mendapatkan suatu “historical core”-nya: yakni sebuah informasi bahwa Yesus dilahirkan di Nazaret dari seorang perempuan yang bernama Maria, dengan ayah insani yang tak jelas sosok dan identitasnya.

Ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa Yesus sangat rindu pada ayahnya, kerinduan yang tak pernah terpenuhi. Tapi Yesus menemukan Allah bangsa Yahudi yang dipanggilnya dengan akrab dengan sapaan Bapa (Aram: Abba) sebagai pengganti ayah insani Yesus.

Konsisten dengan semua penilaian di atas, harus dikatakan bahwa Yesus yang sudah mati selama tiga hari dan mayatnya sudah membusuk hanya bisa dibangkitkan dalam fiksi, atau dalam teologi, bukan dalam realitas faktual karena tak ada suatu kemungkinan kecil historis apapun bagi suatu mayat yang sudah membusuk bisa hidup lagi. Ini ilmu pengetahuan.

Makromolekul DNA, yang berisi seluruh cetak biru informasi genetik setiap individu, pada orang yang semua sel tubuhnya sudah mati pasti juga tak berfungsi lagi sehingga tidak akan ada lagi di dalam diri mayat ini suatu sekuen informasi genetik yang bisa memberi suatu instruksi kehidupan kepada zat-zat kimiawi protoplasmik yang sudah mati.

Lebih luas lagi, jika genom dipahami. Genom, yakni satu set lengkap DNA setiap organisme, termasuk seluruh gen-nya, memuat semua informasi yang diperlukan untuk membangun dan mempertahankan kehidupan organisme. Dalam seluruh sel tubuh manusia yang masing-masing memiliki sebuah nukleus terdapat salinan seluruh genom. Jadi, jika sel-sel tubuh ini sudah mati, mengerut, terdegenerasi lalu membusuk, maka dengan cepat genom terdegradasi, melemah, lalu rusak dan membusuk; alhasil, informasi genomik pemberi kehidupan tidak tersedia lagi.

Bahwa Yesus mati disalibkan adalah betul suatu fakta sejarah, tetapi bahwa Yesus dibangkitkan adalah sebuah metafora teologis yang dikarang untuk memberi suatu legitimasi teologis terhadap peristiwa kematian Yesus yang sangat memalukan umat Kristen perdana dulu. Kenapa memalukan? Karena bagi orang Yahudi, orang yang mati dikayusalibkan adalah orang yang terkutuk (Galatia 3:13; bdk Ulangan 21:23); dan berita bahwa keselamatan dicapai lewat kematian Yesus di kayu salib adalah, bagi orang di luar kekristenan, suatu kebodohan dan suatu batu sandungan (1 Korintus 1:23).

Meski begitu, saya perlu tekankan, teologi kebangkitan Yesus adalah sebuah metafora teologis yang umumnya berfungsi positif bagi orang Kristen karena teologi ini membangkitkan harapan dan motivasi hidup dan daya juang di saat mereka sedang lemah karena didera berbagai persoalan dan azab dan sakit-penyakit yang berat. Saya juga memerlukan metafora ini.

Beragama tidak bisa luput dari kebutuhan terhadap metafora-metafora. Sebentar lagi saya akan jelaskan apa itu metafora, sebuah kata yang kaya makna.

Dengan demikian, menurut saya, bukti terkuat dari kebangkitan Yesus adalah ketangguhan dan daya tahan kehidupan setiap orang Kristen, dan semangat serta harapan yang tak bisa pudar, dalam kehidupan yang berat dan penuh azab dalam dunia ini. Kebangkitan itu harus dialami, bukan cuma didoktrinkan.

Dalam dunia sains pun para ilmuwan perlu memakai metafora-metafora untuk menggambarkan suatu realitas dan fenomena yang belum bisa dijelaskan dengan sepenuh-penuhnya, atau jika realitas atau fenomena itu jadi lebih mudah dan lebih jelas dibayangkan dan dipahami dibandingkan jika yang digunakan bahasa matematis.

Big bang, jagat raya sebagai balon besar yang mengembang dengan makin cepat, jagat-jagat raya baru yang terus bermunculan sebagai balon-balon sabun dari busa dimensi ruangwaktu, black hole dan worm hole, dan masih banyak lagi, adalah beberapa metafora dari banyak metafora yang dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan.

Dalam dunia keagamaan, metafora (berasal dari dua kata Yunani meta dan ferein) diartikan sebagai suatu medium linguistik dan nonlinguistik yang menjadi suatu wahana atau kendaraan yang membawa atau menyeberangkan (Yunani: ferein) manusia kodrati ke kawasan transenden adikodrati, yang melampaui (Inggris: beyond; Yunani: meta) kawasan imanen kodrati atau dunia real tempat kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, untuk menggubah dan mengonstruksi sebuah metafora, orang memerlukan kreativitas dan imajinasi kognitif yang bebas dan mampu terbang ringan dan tinggi tanpa batas, melintasi kawasan-kawasan kodrati keseharian, lalu menyeberang dan masuk ke kawasan nilai-nilai yang lebih agung dan lebih tinggi, kawasan transenden.

Semua hal yang dirujuk di atas, yang ditulis dalam Alkitab, adalah fiksi karena semuanya dapat diargumentasikan melalui suatu analisis saintifik sebagai sama sekali bukan fakta, tetapi hasil rekaan imajinasi kreatif manusia yang hidup pada masa pramodern dan prailmiah. Satu kalimat yang pas adalah: Kita membutuhkan metafora-metafora yang baik dan membangun kehidupan.

Pada zaman kuno ini para penulis kitab-kitab suci memakai beranekaragam mitologi ketika menjelaskan realitas dunia mereka yang tak terpisahkan dari dunia adikodrati imajiner dengan semua penghuninya (allah-allah, dewa-dewi, para malaikat, dan jin-jin serta setan-setan) yang juga serba imajiner.

Dalam mengisahkan peristiwa-peristiwa faktual dalam sejarah atau dalam dunia kontemporer, para penulis kitab-kitab suci, Alkitab khususnya, juga memakai mitologi fiksional yang dipadukan dengan fakta-fakta sejarah. Dalam banyak kasus, fakta-fakta sejarah yang mereka bungkus dalam suatu mitologi jumlahnya malah sedikit, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Mereka memadukan mitologi dengan sejarah; atau, lebih tepat, mereka tidak membuat pemisahan antara fakta sejarah dan fiksi mitologis.

Realitas mereka pahami sebagai satu kesatuan tak terpisahkan antara dunia transendental adikodrati dan dunia imanen kodrati. Dunia khayangan di atas dan Bumi di bawah tak terceraikan. Seluruh realitas kehidupan bagi mereka penuh dengan kegaiban dan keramat. Mereka tidak mengenal apa yang manusia modern sebut sebagai genre sastrawi fiksi yang berkontras tajam dengan genre historiografi.

Hal itu merupakan sebuah kenyataan bukan hanya dalam dunia Yahudi kuno, tetapi juga dalam dunia Yunani-Romawi kuno. Ada sekian orang besar Yunani-Romawi kuno dipercaya dilahirkan dari benih ilahi yang ditanam ke dalam rahim perempuan-perempuan insani. Perlu diketahui, dalam sebuah kajian komparatif atas sejumlah tulisan Plato, Christopher Gill menandaskan bahwa Plato sama sekali tidak membuat suatu pembedaan yang jelas antara wacana faktualnya dan wacana fiksionalnya; dan apa yang dilakukan Plato ini juga mencerminkan karakteristik luas pemikiran dan asumsi kultural dunia Yunani pada umumnya./17/

Hukum-hukum sains tak bisa dilanggar

Karena para penulis kitab-kitab suci kuno memandang bahwa dunia kodrati adalah juga arena tempat allah-allah dan dewa-dewi bersibuk diri dengan perkara-perkara insani dan perkara-perkara alamiah, maka, bagi mereka, senantiasa terbuka kemungkinan untuk allah-allah ini mencampuri jalannya apa yang pada zaman modern ini disebut sebagai hukum-hukum alam (the laws of nature).

Bagi mereka yang memegang kosmologi kuno yang tak mengenal pemisahan antara dunia adikodrati dan dunia kodrati, alam berjalan karena semuanya diatur dan ditentukan dengan bebas oleh Allah. Tidak ada hukum-hukum alam yang berjalan sendiri lepas dari pengaturan dan kehendak Allah (sebagaimana pada zaman modern dipertahankan dalam deisme).

Karena itu, bagi mereka, mukjizat senantiasa merupakan pengalaman nyata dan keadaan yang tak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, mukijzat bukanlah hal yang tak masuk ke dalam nalar mereka; malah sebaliknya, nalar manusia kuno membutuhkan dan memberi tempat bagi mukjizat terjadi.

Tetapi, bagi orang modern, mustahil hukum-hukum alam dilanggar oleh suatu kekuatan apapun, sebab hukum-hukum ini berlaku tetap dan abadi sejak jagat raya kita ini terbentuk “dari ketiadaan”, persisnya dari kondisi vacuum state, seperti ditulis Stephen Hawking dalam sebuah buku terbarunya, The Grand Design. Sang mahafisikawan ini menyatakan bahwa “Allah tidak dapat mencampuri jalannya jagat raya” yang sudah tercipta ex nihilo, dan bahwa “suatu hukum saintifik bukanlah suatu hukum saintifik jika hukum ini berlaku hanya apabila suatu makhluk adikodrati memutuskan untuk tidak mencampurinya.”/18/

Jadi, kalau bagi para penulis kitab-kitab suci kuno suatu mukjizat adalah sebuah realitas faktual yang terjadi karena Allah bebas melakukannya kendatipun sang Allah ini harus melanggar hukum-hukum alam yang sudah ditetapkannya, maka bagi kita yang hidup dalam zaman di mana sains modern menjelaskan segala sesuatu yang terdapat dalam dunia material, kisah-kisah tentang mukjizat dalam kitab-kitab suci adalah metafora-metafora.

Tidak seperti yang umumnya dipertahankan kalangan agamawan yang mau menjelaskan agama mereka melalui sains modern, menurut antara lain fisikawan Victor J. Stenger,/19/ prinsip ketidakpastian (the principle of uncertainty) Werner Karl Heisenberg (yang diperkenalkan pada tahun 1927) dalam mekanika quantum dan juga teori “kekacaubalauan” (chaos theory) dalam fisika dan kosmologi modern sama sekali tidak dapat dipakai untuk mendukung kemungkinan terjadinya mukjizat sebagai suatu peristiwa yang melanggar hukum-hukum sains.

Prinsip ketidakpastian Heisenberg menyatakan bahwa kita tidak bisa sama sekali pada waktu yang sama mengetahui dengan persis baik momentum suatu partikel subatomik elektron maupun posisinya dalam dunia subatomik. Prinsip ini hanya berlaku dalam dunia mikro, dunia subatomik partikel elektron atau partikel lain, dan bukan dalam dunia makro (yang dikendalikan oleh hukum-hukum fisika Newtonian) yang mencakup pengalaman kehidupan sehari-hari di muka Bumi sampai realitas jagat raya yang mahabesar.

Kalaupun untuk mendatangkan mukjizat dalam dunia makro, Allah bekerja dalam koridor “prinsip ketidakpastian” mekanika quantum, tetap saja Allah ini melanggar prinsip ketidakpastian quantum ini yang sebenarnya memiliki kemauan sendiri untuk bekerja dalam suatu ketidakpastian, dan tidak bisa dilanggar. Karena yang bekerja itu suatu ketidakpastian, tidak ada suatu kekuatan eksternal apapun yang bisa memastikan ke arah mana ketidakpastian ini harus bekerja pada dirinya sendiri.

Prinsip ketidakpastian ini membuat klaim absolutis ekstrim kiri dan klaim absolutis ekstrim kanan tidak berlaku; kita ditempatkan dalam suatu sikon yang serba terbuka, tidak tertutup, sistem yang relatif. Keterbukaan, dan penolakan pada absolutisme, tidak sama dengan kekacaubalauan. Dalam studi Victor J. Stenger ditemukan bahwa sistem mekanika quantum secara statistikal bersifat deterministik, linier dan tidak menampakkan kekacaubalauan dalam aneka bentuk.

Menurut teori chaos (landasan empirisnya ditemukan secara kebetulan oleh Edward Lorenz pada 1961) suatu perubahan terkecil dalam kondisi-kondisi awal dapat menimbulkan suatu perilaku sistem yang berbeda secara dramatis, berubah menjadi chaos yang tampak tidak terprediksi.

Atmosfir Bumi adalah sebuah contoh dari suatu sistem yang chaotic, yang bisa menimbulkan turbulensi cuaca mendadak dalam hubungannya dengan Bumi dan lautan. Otak manusia juga dapat berada pada “sisi-sisi pinggir kekacaubalauan”, karena dari kondisi yang stabil dan dapat diprediksi dalam banyak kesempatan tiba-tiba saja kerja otak dapat berubah dengan sangat cepat di bawah kondisi-kondisi tertentu yang pas. Begitu juga, kondisi “kacaubalau” yang diteorikan terjadi pada awal terbentuknya jagat raya adalah suatu kondisi yang berlangsung sebagai fenomena alamiah, yang bekerja menurut hukum fisika Newtonian dan sama sekali tak melibatkan suatu oknum adikodrati apapun yang dinamakan Allah.

Saya mau memakai sebuah ilustrasi yang mudah-mudahan tepat. Kalau kita dapati kepribadian seseorang itu “kacaubalau” dan “berubah-ubah drastis dari waktu ke waktu tak terprediksi”, keadaan chaotic dalam dirinya ini tidak mengacu kepada suatu intervensi suatu makhluk supernatural (allah atau setan, misalnya) ke dalam dirinya sebagai penyebabnya, tetapi menunjukkan ada suatu problem psikologis dan problem neural (problem di organ otak) dalam dirinya sendiri sebagai manusia. Problem ini bisa diperlihatkan dan diprediksi oleh psikologi dan neurosains berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya yang ternyata berulang.

Dus, chaos itu terjadi oleh penyebab-penyebab internal dalam suatu sistem, bukan karena dicampuri dengan paksa oleh suatu kekuatan eksternal apapun. Menurut Victor J. Stenger, chaos dalam teori chaos adalah chaos yang deterministik,/20/ alias tidak nyelonong sendirian.

Jadi, menurut hukum-hukum sains, mukjizat sama sekali tak dimungkinkan terjadi. Tetapi, dalam suatu zaman prasaintifik yang belum tersekularisasi, banyak mukjizat dilaporkan oleh kitab-kitab suci terjadi dalam alam, yang dilakukan oleh figur-figur agung yang dipercaya memiliki kekuasaan dan kekuatan ilahi.

Bagi penulis Perjanjian Lama, yang meyakini bahwa Yahweh, Allah mereka, selalu berpihak kepada bangsa Israel dan selalu melawan bangsa-bangsa asing, bukanlah hal aneh jika Tuhan Allah, karena berpihak kepada bangsa Israel, lewat tangan nabi besar Musa sanggup membelah Laut Merah semalam-malaman melalui hembusan angin timur yang sangat kuat (Keluaran 14:21) supaya mereka dapat luput dari kejaran Firaun Mesir dan bala tentaranya dengan menyeberangi Laut Merah yang sudah terbelah sehingga tersedia jalur tanah kering untuk sementara waktu.

Si penulisnya, ketika menulis kisah epik besar imajiner ini, sama sekali tidak memikirkan bahwa mustahil ribuan orang Israel, dalam kegelapan malam, tanpa cahaya Matahari atau bulan atau lampu neon atau kunang-kunang, bisa dengan tenang dan selamat menyeberangi laut itu di dalam hembusan angin badai yang sangat kuat semalam-malaman. Badai kuat ini tentu akan membuat mereka bukan hanya sekadar masuk angin, tetapi juga terlempar ke mana-mana bak daun-daun kering.

Jangan juga diabaikan, tanah kering dasar Laut Merah itu bukan seruas jalan tol panjang yang beraspal rata, apik, mulus dan bersih, tapi penuh dengan lekak-lekuk dan bebatuan yang tajam dan sangat berbahaya, dan lubang-lubang besar dan kecil di sana-sini.

Waduh! Ya itulah ciri kisah-kisah epik.

Sangat sulit untuk mendapatkan unsur-unsur historis dalam epik penyeberangan Laut Merah ini—sesuatu yang bertentangan dengan segala usaha kalangan Kristen literalis evangelikal untuk “membuktikan” (atau lebih tepat: menyebarkan suatu kabar bohong) bahwa penyeberangan Laut Merah adalah suatu peristiwa sejarah.

Bagi si penulis kitab Yunus dalam Perjanjian Lama, karena Allah memegang kendali atas gelora lautan dan atas binatang-binatang dalam laut, dan berdaulat atas bangsa-bangsa lain, maka dimungkinkan sama sekali kalau Yunus yang sudah ditelan seekor ikan besar bisa tinggal dengan tenang dan aman selama tiga hari tiga malam dalam perut ikan ini dan malah bisa berdoa bermalam-malam suntuk di dalamnya (Yunus 1:17-2:10) seolah dia sedang tinggal di dalam sebuah kamar ber-AC di sebuah hotel berbintang lima (tanpa listrik) yang kita bayangkan menyediakannya nasi, lauk dan anggur selama tiga hari tiga malam.

Bukan hanya itu, menurut penulis kitab Yunus bahkan Allah sanggup dalam semalam menumbuhkan sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk daun-daun lebarnya menaunginya (Yunus 4:6, 10) ketika Yunus sedang menunggu kota Niniwe dihancurkan oleh Allah dan penduduknya dibinasakan, yang ternyata malah tidak terjadi, sesuatu yang sama sekali sangat tidak diharapkan oleh Yunus.

Kajian kritis atas kitab Yunus membuat kita harus menyimpulkan bahwa seluruh kitab Yunus adalah sebuah metafora teologis yang dikarang si penulisnya untuk menentang partikularisme Israel (pandangan bahwa Allah hanya memilih dan menyayangi satu umat partikular, yakni bangsa Israel) dan membela universalisme teologis (pandangan bahwa Yahweh Israel adalah juga Allah seluruh bangsa di seluruh muka Bumi dan Allah ini menyayangi juga bangsa-bangsa lain di seluruh muka Bumi).

Tidak ada sedikitpun fakta sejarah yang menyangkut figur yang diberi nama Yunus dalam kitab ini, kecuali negeri yang bernama Niniwe. Meski merupakan fiksi, pesan historis kontekstual fiksi tentang sosok Yunus tokh sangat jelas.

Dalam Perjanjian Baru, ada banyak kisah tentang Yesus membuat mukjizat, dengan dia melanggar hukum-hukum alam dengan bebasnya. Pada kesempatan ini, ambil dua contoh yang luar biasa, yakni Yesus berjalan di atas air (Markus 6:45-52; Matius 14:22-33; Yohanes 6:16-21) dan Yesus memberi makan lima ribu orang lelaki (tak termasuk anak-anak dan perempuan) hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan (Markus 6:30-44; Matius 14:13-21; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:1-13). Apakah kedua kisah ini kisah faktual atau kisah fiktif?

Telaah kritis atas kisah injil tentang Yesus berjalan di atas air sudah saya lakukan di tempat lain./21/ Kisah ini sepenuhnya adalah fiksi, karena tak ada suatu kemungkinan kecil faktual apapun untuk seorang manusia dalam keadaan alamiah bisa berjalan di atas air sebab massa jenis tubuh manusia lebih besar dari massa jenis air yang akan membuatnya tenggelam di dalam air. Satu hal yang merupakan fakta sejarah adalah kebiasaan Yesus dan murid-muridnya berperahu di Danau Galilea yang sewaktu-waktu dapat bergelombang besar.

Kalau Yesus bisa berjalan di atas air yang dalam (katakanlah karena dia memiliki “ilmu meringankan tubuh” yang konon, menurut dongeng, dimiliki para guru silat Biara Shao Lin), dia sebetulnya memiliki suatu kesempatan emas untuk mendemonstrasikan kepandaian hebatnya ini di hadapan orang banyak (konon berjumlah sampai lima ribu orang laki-laki; lihat Markus 6:30-44, sebuah perikop yang langsung mendahului perikop Markus 6:45-52) untuk membuat mereka terkesima lalu menjadi percaya padanya.

Tetapi, menurut teks yang kita baca, dengan disaksikan orang banyak yang terus mengikutinya, Yesus dan murid-muridnya “mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi” (Markus 6:32). Demikian juga, dalam kisah sebelumnya tentang Yesus meredakan angin ribut (Markus 4:35-41), di hadapan orang banyak yang melihatnya dan dengan di kelilingi perahu-perahu lain yang sedang berlayar di Danau Galilea, Yesus seharusnya dapat mendemonstrasikan kehebatannya jika memang dia bisa berjalan di atas air.

Tetapi apa kata teks yang kita baca? Bukannya Yesus berjalan di atas air danau, dia malah “duduk” lalu “tidur” dalam perahu yang membawanya bertolak bersama murid-muridnya. Bukankah orang banyak akan makin terkesima lalu percaya pada Yesus jika Yesus bukan saja memperlihatkan kemampuannya meredakan angin ribut (4:39) tetapi juga kemampuannya berjalan di atas air? Jadi, bertolak dari teks-teks ini kita harus menyimpulkan bahwa Yesus sebetulnya tidak bisa berjalan di atas air.

Jika demikian halnya, mengapa Markus 6:45-52 mengisahkan Yesus berjalan di atas air di tengah Danau Galilea?

Kisah Markus ini tidak bermaksud melaporkan suatu kejadian sejarah faktual (bahwa Yesus dulu betulan berjalan di atas air yang dalam), melainkan mau menyampaikan sebuah ajaran tentang pemuridan (discipleship) yang dibutuhkan komunitas-komunitas yang menerima dan membaca kisah ini, yakni ajaran tentang bagaimana orang seharusnya bersikap sebagai murid Yesus dalam suatu kehidupan nyata yang keras yang sedang mereka jalani, kehidupan yang secara ilustratif simbolik dilukiskan sebagai sebuah pelayaran yang berbahaya.

Selain itu, jika air bah dalam kisah tentang Nabi Nuh memusnahkan manusia, kisah dalam Injil Markus 6 tersebut memberi sebuah pesan lain: air Danau Galilea yang sedang mengamuk diinjak-injak dan ditaklukkan Yesus, sang Tuhan gereja.

Dua pesan historis kontekstual metafora Yesus berjalan di atas air ini sangat kuat menggugah kalbu dan rasa serta membangun semangat yang semula sudah kendor atau pudar. Saya di era modern juga menerima manfaat besar dari pesan metafora ini. Saya dalam sekian momen kehidupan saya betul-betul dilanda gelombang pasang yang menerjang. Saya perlu memandang wajah Yesus di saat-saat itu. Itulah kekuatan sebuah metafora: pesan historis kontekstualnya!

Oh ya, by the way, kalau Yesus bisa berjalan di atas air, dia tak akan perlu bersusah payah dan berlelah-lelah berjalan kaki atau naik seeokor keledai ketika dia dan murid-muridnya pergi ke Yerusalem pada suatu waktu perayaan Paskah Yahudi, sebab dia dapat menuju kota suci ini dengan terbang melayang di muka Bumi, malah, karena dia maha hebat, mungkin terbang dengan kecepatan cahaya sehingga dia menggugurkan teori relativitas khusus Albert Einstein. Tentu saja hal ini khayalan saya sendiri yang tak pernah terjadi.

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ekor ikan juga sudah saya telaah dengan kritis di tempat lain, dengan suatu kesimpulan bahwa kisah ini adalah suatu fiksi teologis mitologis./22/ Sejumlah unsur fiktif dalam kisah ini bisa ditunjukkan.

Mustahil Yesus dari Nazaret bisa dengan aman menghimpun sampai 5000 orang lelaki di suatu negeri yang sedang dijajah Roma, di suatu provinsi (Galilea) yang sedang diperintah Raja Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) yang akan selalu mencegah dan menindas secara militeristik setiap upaya pengerahan massa seperti pernah dilakukannya terhadap Yohanes Pembaptis yang telah berhasil menghimpun banyak pengikut, sebagaimana dilaporkan oleh seorang sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus (Antiquitates Judaica 18.116 dyb). Geza Vermes menyatakan bahwa jumlah 5000 orang ini tampak “dibesar-besarkan.”/23/

Tak ada suatu kemungkinan faktual sekecil apapun bahwa 5 roti dan 2 ekor ikan di tangan Yesus, sehabis didoakannya, langsung bertambah berlipat ganda, sehingga mendadak di sekitar Yesus muncul bergunduk-gunduk roti dalam jumlah besar; atau bahwa ketul-ketul roti dan ikan yang ada di tangan murid-murid Yesus ketika dibagi-bagikan tak bisa habis-habis, satu diberi langsung muncul satu yang baru lagi. Para mentalis dan illusionis dalam zaman modernpun, dengan menggunakan trik mental dan trik teknologis secanggih apapun, tak akan sanggup melakukan hal ini.

Jadi, harus dinyatakan bahwa kisah ini tak lain adalah sebuah fiksi teologis mitologis yang dibangun dengan ilham dari teks-teks suci Perjanjian Lama yang mengisahkan keajaiban-keajaiban yang dibuat Musa (Keluaran 16) atau Elia dan Elisa (bdk 1 Raja-raja 17:11-16; 2 Raja-raja 4:42-44), dan memakai figur-figur besar ini sebagai model-model untuk membangun suatu citra religiopolitis Yesus yang diperlukan umat Kristen perdana di suatu kawasan yang mengharuskan mereka berkompetisi religiopolitis./24/

Sensus plenior

Jika bagian terbesar (60 hingga 80 persen) dokumen-dokumen kitab suci adalah fiksi, dan hanya 20 sampai 40 persen fakta sejarah, maka hal ini sungguh menjadi suatu problem besar bagi seorang kritikus historis yang mau mencari landasan-landasan historis bagi suatu iman keagamaan yang dapat diandalkan, solid, tidak mengawang, tidak mengapung, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Problem ini memang suatu problem yang dihadapi para penafsir historisis modern. Seperti dikatakan Feeney, “Para kritikus kuno…banyak menaruh perhatian lebih pada kelaikan moral dan nilai filosofis pernyataan-pernyataan fiksional yang mereka buat ketimbang pada status logis pernyataan-pernyataan itu atau pada sifat realitas pernyataan-pernyataan itu, sedangkan kritisisme modern arus utama memiliki prioritas yang berkebalikan.”/25/

Para kritikus sastra modern, khususnya kritikus historis berbagai sastra dalam kitab-kitab suci, dengan memakai nalar, logika, sains, hukum-hukum alam, dan pengalaman sejarah sebagai instrumen-instrumen evaluatif, umumnya memandang suatu tulisan suci itu bernilai kalau tulisan suci ini melaporkan suatu peristiwa sejarah yang bisa ditelaah dan dijelaskan dengan logis, dan bukan memuat dongeng atau mitologi atau fiksi.

Seolah bagi mereka, semua dongeng, mitologi atau fiksi dalam kitab-kitab suci tidak memiliki nilai-nilai lain apapun yang bukan nilai historis, misalnya, seperti ditulis Feeney, nilai moral yang dapat menjadikan manusia memiliki budi pekerti yang baik dan nilai filosofis yang bisa membuat orang memiliki berbagai kebijaksanaan hidup.

Juga harus selalu diingat bahwa bukan dalam rangka mengajarkan sejarah, Yesus banyak bercerita lewat semua perumpamaan fiktifnya, melainkan untuk memberi berbagai ilustrasi bagaimana Allah itu dapat dimasuki dan dialami sebagai Allah yang penuh kerahiman dan kemurahan.

Teologi ternyata juga memerlukan dan memang memakai fiksi atau metafora sebagai suatu wahana sastra komunikatif untuk menyampaikan pesan-pesannya. Fiksi juga menyandang suatu nilai religius. Dengan fiksi juga, orang dapat membuat banyak hal dalam dunia ini make sense, bermakna, dapat dipikul, dapat dimengerti dan masuk ke dalam akalnya, sebab setiap fiksi menyediakan logikanya sendiri.

Fiksi spiritual religius memang bisa membangun suatu moralitas yang bagus pada diri seorang beragama, dan bisa juga membuatnya lebih berhikmat, imajinatif, berbahagia dan terhibur dalam arti-arti tertentu, dan dapat membantunya masuk ke dalam berbagai pengalaman religius yang diproses dalam organ otak manusia.

Tetapi, saya ingin tekankan, kebanyakan hidup dalam kepercayaan pada fiksi dapat membuat orang terasing sama sekali dari kenyataan kehidupan yang seringkali tidak sebagus yang digambarkan dalam fiksi apapun, atau malah lebih baik ketimbang yang dideskripsikan dalam fiksi-fiksi yang suram.

Bagi penafsir historisis, iman tanpa pijakan pada sejarah akan melahirkan seorang beragama yang hidup dalam delusi (= suatu kepercayaan yang salah, antara lain karena tak memiliki dasar pada fakta sejarah, tetapi tetap dipertahankan kuat-kuat); dan delusi dapat membuat orang pada akhirnya hidup dalam suatu alam khayalan dan paling akhir tak mampu lagi membedakan mana fakta dan mana nonfakta.

Tetapi para penafsir historisis juga dengan terbuka mengakui bahwa mereka bukanlah kalangan yang satu-satunya berhak menentukan makna tunggal dalam setiap teks suci keagamaan, teks yang digunakan sebagai pembimbing bagi suatu komunitas keagamaan yang memilikinya.

Makna tekstual historis dari suatu teks keagamaan barulah satu makna saja, bukan seluruh makna teks suci apapun, meskipun makna historis ini, hemat saya, merupakan makna yang pertama-tama harus ditemukan dalam setiap usaha memahami teks suci apapun.

Dalam dunia penafsiran teks-teks Alkitab dikenal apa yang dinamakan sensus plenior, yakni “makna yang lebih penuh” atau “makna yang lebih dalam”, yang secara dogmatis dinyatakan sebagai makna-makna yang diberikan atau ditambahkan Allah kepada setiap teks suci, apapun genre dari teks suci ini, di luar dari yang dikehendaki si penulis asli teks.

Sebagaimana semua ide yang ada dan akan ada dalam dunia ini, termasuk ide-ide baru dalam dunia ilmu pengetahuan, ide tentang sensus plenior ini tentu saja ide insani, ide yang disusun dan dikonsep oleh manusia, oleh para penafsir insani. Kalau berguna ya dimanfaatkan, jangan dimutlakkan sebagai ide yang tak bisa salah.

Menurut Walter C. Kaiser, istilah “sensus plenior” diciptakan tahun 1972 oleh F. Andre Fernandez/26/ dan dipopulerkan oleh Raymond E. Brown yang mendefinisikan sensus plenior sebagai:

“makna tambahan, yang lebih dalam, yang dikehendaki oleh Allah tetapi tidak dengan jelas dikehendaki oleh si pengarang insani, yang dilihat ada dalam kata-kata suatu teks alkitabiah (atau sekelompok teks, atau bahkan suatu buku secara keseluruhan) ketika teks-teks ini dikaji dari sudut pandang wahyu atau perkembangan yang lebih jauh dalam pemahaman atas wahyu.”/27/

Dalam hermeneutik Yahudi, “makna yang lebih penuh” ini dijumpai dalam empat peringkat makna yang dipandang ada dalam setiap teks kitab suci, yakni

• peshat (= makna harfiah; pada peringkat filologis kontekstual)
• remez (= makna alegoris, yakni makna lain yang bukan makna harfiah, yang dapat diperoleh jika dilakukan referensi silang terhadap teks-teks lain, yang ada pada peringkat rasional atau filosofis)
• derash (= makna moral atau makna homiletis; berada pada peringkat aggadis, peringkat penafsiran/midrashik melalui derash), dan
• sod (= makna anagogis atau makna mistikal, yang “membawa” atau “memimpin” [Yunani: anagō] orang kepada kawasan spiritual yang lebih tinggi)./28/

Empat peringkat makna ini juga menjadi fokus dari hermeneutik gereja pada Abad Pertengahan./29/

Penutup

Perbincangan di atas tentang nisbah fiksi dan fakta sejarah dalam kitab suci membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa dokumen-dokumen dalam kitab suci tidak bisa dibatasi hanya pada genre fiksi dan genre historiografi dan interrelasi antara keduanya, sebab setiap teks kitab suci memiliki minimal empat peringkat makna yang keseluruhannya membentuk “makna yang lebih penuh” dari setiap teks kitab suci.

Ingatlah juga bahwa jenis sastra A atau B atau C atau D berisi maksud, tujuan dan makna masing-masing yang tidak sama. Ketahuilah juga, dalam setiap kitab keagamaan terdapat banyak jenis sastra, tidak cuma satu dan seragam. Kitab-kitab keagamaan itu kaya, tidak miskin, sastra.

Baik saya beri satu dua contoh dalam zaman kita. Sebuah kolom berita di surat kabar tentang peresmian sebuah jalan tol baru yang panjang berisi maksud dan tujuan serta makna atau pesan yang berbeda jika dibandingkan dengan puisi-puisi dan cerita-cerita pendek pelipur lara atau iklan-iklan yang diterbitkan di koran yang sama. Juga berbeda dari berita-berita dusta dan fitnah dan nyinyiran yang banyak beredar di berbagai media sosial.

Dengan demikian, untuk menemukan dengan tepat maksud, tujuan, makna dan pesan dari setiap jenis tulisan itu diperlukan metode-metode dan pendekatan-pendekatan tafsir yang berbeda. Para literalis skripturalis telah lama salah memahami kitab-kitab keagamaan, dan mereka tak tahu metode-metode keilmuan kritis dalam bidang ilmu tafsir.

Namun, bagi saya, jika anda memilih, sejalan dengan kecondongan kognitif anda, untuk menemukan makna historis sebuah teks keagamaan dari jenis sastra metafora, dan menjauhkan diri dari konten fiksinya, ya jalankan keputusan anda itu dengan ringan, bebas dan riang.

Tapi jika anda mencukupkan diri dengan huruf-huruf sastra-sastra metaforis imajinatif kreatif dalam kehidupan beragama anda, dan tak tertarik untuk memikirkan faktasitas atau nonfaktasitas konten teks-teks yang anda sedang baca, dan mencukupkan diri dengan iman dan kepercayaan religius anda, ya jalankanlah pilihan anda ini dengan bebas.

Saya memberi saran ini saja: jalankan dan amalkan pesan-pesan metafora-metafora yang anda temukan membangun kehidupan dan peradaban. Lepaskan metafora-metafora yang anda temukan menghancurkan dan membinasakan kehidupan dan peradaban. Kalau anda menutup akal dan menolak ilmu pengetahuan, saya berharap nurani anda tetap hidup dan membuahkan kehidupan dan kasih sayang semesta.

Bagaimana pun juga, di zaman kita sekarang, dalam rangka suatu kajian ilmiah terhadap agama sebagai suatu pranata sosial seperti halnya terhadap berbagai pranata sosial lainnya,/30/ hermeneutik historisis yang berupaya menemukan makna teks suci dalam konteks sejarah kelahirannya perlu tetap menjadi suatu hermeneutik yang berada di baris terdepan.

Mengapa? Sebab suatu iman keagamaan yang tidak memiliki suatu dasar sejarah dan hampa kesadaran konteks zaman dan tempat, akan mudah tergelincir menjadi suatu iman khayalan dan delusi yang bisa membahayakan seorang yang beragama dan komunitas keagamaannya dan bahkan dunia ini secara menyeluruh.

Jika suatu agama apapun ingin menjadi sebuah pranata sosial yang dapat mendatangkan kebaikan kepada dunia luas, umat beragama ini harus bisa memetik pengalaman baik dari masa lampau kehidupan agama mereka, dan membuang pengalaman buruknya. Untuk tujuan inilah seharusnya fiksi dan fakta sejarah dalam kitab-kitab suci ditafsirkan dan dijelaskan.

Pertanyaan berikut ini penting untuk dijawab: Untuk tujuan-tujuan historis kontekstual apakah dokumen-dokumen dalam setiap kitab suci, baik yang bersifat fiksional maupun yang bersifat faktual, telah ditulis?

Stay blessed. 
Keep moving forward.

ioanes rakhmat

Editing mutakhir 22 April 2018


Catatan-catatan

** Penulis adalah seorang kritikus teologi dan agama, dan juga menjadi seorang pengamat perkembangan sains modern, tinggal di Jakarta. Alamat email: ioanes27@yahoo.com. Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi bertema Fiksi dan Non-Fiksi dalam Kitab Suci, yang diselenggarakan oleh Jaringan Islam Liberal pada Kamis, 4 November 2010, di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta, Indonesia. Rekan Hamid Basyaib menjadi pembicara kedua.

/1/ Ioanes Rakhmat, “Agama Butuh Fiksi dan Imajinasi Yang Bebas”, The Freethinker Blog, 5 oktober 2013, http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2013/10/agama-butuh-fiksi-dan-imajinasi-yang.html?m=0.

/2/ Lebih jauh tentang Eratosthenes dan metode yang dipakainya untuk mendapatkan panjang lingkaran bola Bumi, lihat http://www.openculture.com/2017/03/carl-sagan-explains-how-the-ancient-greeks-figured-out-the-earth-isnt-flat.html. Juga lihat http://www.eg.bucknell.edu/physics/astronomy/astr101/specials/eratosthenes.html dan slide https://prezi.com/m/szxwzshs7a2d/eratosthenes/.

/3/ Tentang Carl Sagan mengacu ke Eratosthenes, lihat http://www.openculture.com/2017/03/carl-sagan-explains-how-the-ancient-greeks-figured-out-the-earth-isnt-flat.html.

/4/ Michael Wood, “Prologue” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction in the Ancient World (Exeter: University of Exeter Press, 1993), xvi (xiii-xviii).

/5/ John Dominic Crossan, The Birth of Christianity: Discovering What Happened in the Years Immediately After the Execution of Jesus (San Francisco: Harper-SanFrancisco, 1998, 1999) 25; idem, “Historical Jesus As Risen Lord” dalam Gerald P. McKenny, gen. ed., The Jesus Controversy (Harrisburg, PA: Trinity Press International, 1999), 3.

/6/ Michael Wood, “Prologue” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, xiii (xiii-xviii).

/7/ Charles W. Hedrick, Parables As Poetic Fictions: The Creative Voice of Jesus (Peabody: Hendrickson Publisher, 1994), 81 ff. Hedrick memanfaatkan kajian Franck Kermode, The Sense of An Ending: Studies in the Theory of Fiction (London: Oxford, 1966).

/8/ D.C. Feeney, “Towards an Account of the Ancient World’s Concepts of Fictive Belief” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, 233 (230-244).

/9/ John D. Crossan, “Historical Jesus As Risen Lord”, 5.

/10/ Sebuah uraian bagus tentang sekularisasi terdapat antara lain dalam karya Peter L. Berger, The Sacred Canopy: Elements of A Sociological Theory of Religion (New York: Doubleday & Company, 1969 [1967]).

Belakangan, Berger berbicara tentang desekularisasi dunia; lihat Peter L. Berger, “The Desecularization of the World: A Global Overview” dalam Peter L. Berger, ed., The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics (Washington, D.C.: Ethics and Public Policy Center, 1999), 1-18.

Gagasan Berger bahwa bangkitnya suatu pandangan dunia rasional telah merongrong fondasi iman kepada suatu dunia adikodrati, hal-hal yang misterius, dan magi, sangat kuat dipengaruhi oleh Max Weber melalui tulisannya, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Diterjemahkan oleh T. Parsons (New York: Scribner’s, 1930 [New York: Routledge Classics, 2006, dengan introduksi Anthony Giddens]); dan The Sociology of Religion (Boston: Beacon Press, 1993 [1922]). Tentang sekularisasi, lihat juga Talal Asad, Formations of the Secular: Christianity, Islam, Modernity (Stanford, CA: Stanford University Press, 2003), bab 6 (181-201).

/11/ Alternatif ketiganya yang paling natural adalah Adam dan Hawa, manusia, adalah produk proses evolusi biologis spesies sebelumnya, melalui seleksi alamiah dan mutasi genetik yang berlangsung acak dan buta, tanpa desain apapun sebelumnya.

/12/ N.K. Sandars (penerjemah dan pengintrodusir), The Epic of Gilgamesh (London: Penguin Books, 1960, 1972), 108-113.

/13/ Sebuah tangkisan ilmiah terhadap klaim “junk science” NAMI, lihat Robert R. Cargill, “On the Misuse of Archaeology for Evangelistic Purposes” (June 2010), http://www.bibleinterp.com/articles/misuse357930.shtml.

/14/ Adriana Bos-Mikich, Fabiana F. Bressan, Flavio V. Meirelles et al., “Parthenogenesis and Human Assisted Reproduction”, Stem Cells International, 9 November 2015, https://www.hindawi.com/journals/sci/2016/1970843/.

/15/ Gerd Lüdemann, Virgin Birth? The Real Story of Mary and Her Son Jesus (Harrisburg, PA: Trinity Press International, E.T. 1998), 131-134.

Beberapa pakar yang menelusuri siapa ayah insani Yesus menemukan bahwa ayah insani Yesus yang sesungguhnya mungkin sekali adalah (Tiberius Julius Abdes) Panthera, seorang prajurit Roma, mungkin seorang Yahudi, asal Sidon. Tentang usaha penelusuran ini, lihat antara lain James D. Tabor, The Jesus Dynasty: The Hidden History of Jesus, His Royal Family, and the Birth of Christianity (dengan sebuah epilog baru) (New York, etc.: Simon & Schuster Paperback, 2007), 59-72.

Suatu analisis sastra yang memperlihatkan bahwa kisah-kisah alkitabiah tentang kedua orangtua Yesus (Yusuf dan Bunda Maria) adalah kisah-kisah fiktif, lihat John Shelby Spong, Jesus for the Non-Religious (New York: HarperCollins Publisher, 2007), 25-36; idem, Yesus Bagi Orang Non-Religius: Menemukan Kembali Yang Ilahi di Hati Yang Insani. Terjemahan Indonesia oleh Ioanes Rakhmat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), 31-45.

/16/ Untuk suatu kajian kritis mutakhir yang hendak membuktikan bahwa Yesus adalah suatu figur mitologis yang tak pernah ada dalam sejarah, lihat Earl Doherty, Jesus Neither God Nor Man: The Case for A Mythical Jesus (new, revised and expanded) (Ottawa, Canada: Age of Reason Publication, 2009). Nama-nama berikut juga adalah para mitisis dalam kajian tentang Yesus: Thomas S. Verenna, James G. Crossley, Richard Carrier, dan Robert M. Prize.

/17/ Christopher Gill, “Plato on Falsehood—Not Fiction” dalam Christopher Gill dan T.P. Wiseman, eds., Lies and Fiction, 41, 69, 79, 81, 87 (38-87).

/18/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010), 30, 34, 171.

/19/ Victor J. Stenger, Quantum Gods: Creation, Chaos, and the Search for Cosmic Consciousness (New York: Prometheus Books, 2009), 118-119, 1 47-162, 209-225, 227-237; idem, The New Atheism: Taking a Stand for Science and Reason (New York: Prometheus Books, 2009) 194-197. Lihat juga Michael D. Fayer, Absolutely Small: How Quantum Theory Explains Our Everyday World (New York: Amacom, 2010), 76 ff.

/20/ Victor J. Stenger, Quantum Gods, 149.

/21/ Tentang uraian kritis saya atas teks-teks injil tentang Yesus memberi makan ribuan orang dari sedikit makanan, lihat Ioanes Rakhmat, "5 Roti dan 2 Ikan, Yang Makan 5000 Orang", Freethinker Blog, 11 September 2010, http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2010/09/5-roti-dan-2-ikan-yang-makan-5000-orang.html?m=0.

/22/ Tentang eksposisi kritis saya atas teks-teks injil tentang Yesus berjalan di atas air, lihat Ioanes Rakhmat, "Yesus berjalan di atas air: Betulkah?", Freethinker Blog, 14 Juli 2009, http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2009/07/yesus-berjalan-di-atas-air.html?m=0.   

/23/ Geza Vermes, The Authentic Gospel of Jesus (London, etc.: Penguin Books, 2004) 12.

/24/ Gerd Lüdemann, The Great Deception and What Jesus Really Said and Did (New York: Prometheus Books, 1999), 72; Geza Vermes, The Authentic Gospel of Jesus, 13.

/25/ D.C. Feeney, “Towards an Account of the Ancient World’s Concepts of Fictive Belief”, 234.

/26/ Walter C. Kaiser, Jr., “Single Meaning, Unified Referents: Accurate and Authoritative Citations of the Old Testament by the New Testament,” dalam Stanley N. Gundry et al., Three Views on the New Testament Use of the Old Testament (Grand Rapids: Zondervan, 2007), 47.

/27/ Raymond E. Brown, The Sensus Plenior of Sacred Scripture (Baltimore: St. Mary’s University, 1955), 92; idem, “The History and Development of the Theory of a Sensus Plenior,” Catholic Biblical Quarterly 15 (1953) 141-162; idem, The Jerome Biblical Commentary Vol. 1 (London: Geoffry Chapman Publishers, London, 1971), 605–623. Lihat juga David H. Stern, Jewish New Testament Commentary (Maryland, 1992), 11–14.

/28/ Lihat Bryan Griffith Dobbs, “Levels of Meaning in Holy Scripture: ‘PaRDeS’” dalam http://www.kheper.net/topics/hermeneutics/PaRDeS-1.htm.

/29/ Lihat antara lain Mark Holtz, “All Scripture Is Inspired By God: Medieval Exegesis and the Modern Christian” (Catholic Dossier, March-April 1996), http://www.ewtn.com/library/scriptur/medmod.txt.

/30/ Meski setiap agama membangun klaim-klaim keimanan yang bersifat supernatural, sebagai suatu pranata sosial setiap agama bukanlah suatu fenomena suprarasional atau supernatural yang tidak bisa diselidiki oleh ilmu pengetahuan, tetapi suatu pranata sosial antropologis yang real.

Setiap agama memiliki minimal 5 unsur sosiologis antropologis berikut: (a) ada suatu komunitas sosial (community); (b) ada berbagai ritual yang dijalankan (cult); (c) ada sekumpulan kitab atau dokumen yang dipandang suci oleh komunitas sosial (canon); (d) ada sekumpulan doktrin yang dirumuskan secara sosial dan dinyatakan sebagai syahadat (creed); (e) ada sekumpulan kaidah moral yang disusun bersama (code).

Semua komunitas keagamaan di muka Planet Bumi ini memiliki lima unsur sosial antropologis tersebut; jadi setiap agama adalah suatu fakta sosial antropologis yang umum dalam dunia ini. Karena itu, sebagai suatu fakta sosial antropologis, setiap agama terbuka untuk dipelajari dan diselidiki oleh para sejarawan, oleh para ilmuwan sosial yang banyak jenisnya, oleh para ahli sastra, dan oleh para ilmuwan lain yang fokus pada kognisi, mental dan otak.