Monday, September 20, 2010

“Tubuh” Yesus Yang Bangkit menurut Rasul Paulus

kebangkitan Yesus, suatu permainan warna


Orang yang berhak, dan pantas, menduduki posisi utama 
dan tertinggi dalam hierarki kepemimpinan gereja-gereja awal 
yang berdiri tak lama sesudah kematian Yesus, haruslah orang 
yang diberi kesempatan istimewa dan khusus untuk berjumpa tatap muka 
dengan Yesus yang sudah dibangkitkan! Maka disusunlah kisah-kisah semacam ini!


Untuk mengkaji topik yang menjadi judul tulisan ini, secara metodologis orang haruslah tidak memulainya dari teks-teks injil-injil Perjanjian Baru, melainkan harus dari teks-teks Rasul Paulus yang ditulis beberapa dekade sebelum penulisan kitab-kitab injil. Akan ditelusuri dalam tulisan ini ihwal apa yang dimaksud Rasul Paulus pada masanya ketika dia menyebut “tubuh rohaniah” (sōma pneumatikon) sebagai tubuh yang dimiliki Yesus setelah dia dibangkitkan dari antara orang mati. Untuk menemukan apakah gagasan Paulus tentang “tubuh rohaniah” sebagai tubuh orang yang sudah dibangkitkan dari kematian tetap bertahan pada era sesudahnya, kisah-kisah injil Perjanjian Baru tentang penampakan-penampakan diri Yesus sesudah kebangkitannya juga harus diperhatikan.

Orang Kristen umumnya cenderung mengelak ketika kepada mereka ditanyakan bagaimana atau apa wujud “tubuh rohaniah” yang digagas Rasul Paulus; bagi mereka, wujud atau rupa atau hakikat tubuh semacam ini berada di luar pengetahuan manusia, tak dapat dijangkau oleh sains, sehingga tinggal hanya dipercaya keberadaannya dan juga tinggal diharapkan dimiliki nanti di akhir zaman ketika orang-orang Kristen yang sudah mati dibangkitkan, untuk dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diberi tubuh yang sama dengan tubuhnya yang mulia. Tapi tak sedikit juga orang Kristen memgembangkan imajinasi mereka dengan liar sehingga jadilah “tubuh rohaniah” ini dipandang sebagai gabungan tubuh jasmaniah (tubuh protoplasmik) yang dimiliki selama kehidupan mereka di dunia dan “tubuh kemuliaan” yang, kata mereka, akan diberi hanya ketika mereka sudah dibangkitkan dan masuk surga.

Pada kesempatan ini sesungguhnya mau ditunjukkan bahwa wujud atau hakikat “tubuh rohaniah” yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus dapat ditemukan lewat kajian-kajian kritis lintasilmu atas teks-teks Perjanjian Baru yang relevan, sebagaimana akan diperlihatkan dalam uraian berikut. Juga akan diperlihatkan terjadinya pergeseran atau perubahan pandangan mengenai wujud “tubuh kebangkitan” yang semula (oleh Paulus) dipercaya hanya “rohaniah”, tetapi kemudian dipandang bersifat “ragawi” atau “material” (seperti dipercaya para penulis injil-injil Perjanjian Baru). Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah mengapa pergeseran pandangan ini terjadi. 


Dari mana Rasul Paulus memperoleh injilnya?


Baiklah kita mulai dengan sebuah pernyataan Rasul Paulus dalam surat Galatia 1:11-12 ihwal sumber injil yang diberitakannya.

“Sebab aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah Injil menurut manusia. Karena aku tidak menerima (Yunani: paralambanō) Injil ini dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui penyataan (Yunani: di’ apokalupseōs) Yesus Kristus.”

Kata kerja paralambanō (= menerima) dapat berarti menerima suatu tradisi lisan atau suatu tradisi tertulis dari orang lain sebelumnya tentang suatu kejadian historis; tetapi dalam teks Galatia 1:11-12 ini Rasul Paulus dengan sangat jelas menyatakan bahwa dia menerima injil bukan dari manusia, melainkan dari “penyataan” (atau “wahyu”; Yunani: apokalipsis) yang disampaikan oleh Yesus Kristus kepadanya.

Bagaimana caranya Rasul Paulus menerima penyataan dari Yesus Kristus? Paulus dalam 1 Korintus 9:1, melalui sebuah pertanyaan retoris, menyatakan bahwa dia telah melihat (horaō) Tuhan. Menurut lexikon BDAG/1/, kata kerja horaō selain berarti “melihat dengan mata”, juga berarti “melihat suatu penglihatan” atau “melihat secara mental atau secara spiritual.”

Dalam 2 Korintus 12:1-4 Rasul Paulus mengisahkan tentang seseorang, yang tidak lain adalah dirinya sendiri, yang telah menerima “penglihatan-penglihatan (optasias) dan penyataan-penyataan (apokalupseis)” “dari Tuhan” (kyriou) ketika dirinya, empat belas tahun sebelumnya, mengalami suatu perjalanan mistik masuk ke langit ketiga, ke Firdaus, dan di Firdaus ini dia “mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tak boleh diucapkan manusia.”

Tampaknya apa yang dimaksud Paulus tentang hal-hal “yang tak terkatakan dan yang tak boleh diucapkan manusia” itu adalah injil yang diterima dan diberitakan olehnya. Dalam Roma 16:25-26 kita baca,

“Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyataan (apokalupsis) rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan (fanerōthēnai) dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman.”

Jadi, kita dapat dengan pasti menyatakan bahwa injil yang Rasul Paulus beritakan adalah injil yang diterimanya melalui suatu penyataan atau penglihatan mistikal, bukan melalui suatu tradisi lisan atau suatu tradisi tertulis tentang suatu peristiwa sejarah. Selain itu, melalui penafsiran kitab-kitab para nabi, injil ini dapat ditemukan, karena sebelumnya, pada zaman lampau, injil ini telah diberitakan oleh para nabi dalam kitab-kitab mereka atas perintah Allah. Jadi, Rasul Paulus menemukan apa isi injilnya lewat pengalaman mistikal dan lewat penafsiran (midrash) teks-teks para nabi Perjanjian Lama.

Selanjutnya, tentang injil yang diberitakannya, dalam 1 Korintus 15:1-9 Rasul Paulus menulis:

“(1) Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri…. (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan (paredōka) kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima (parelabon) sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan kitab suci (kata tas grafas), (4) bahwa dia telah dikuburkan, dan bahwa dia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci; (5) bahwa dia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas muridnya. (6) Sesudah itu dia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. (7) Selanjutnya dia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. (8) Dan yang paling akhir dari semuanya dia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti anak yang lahir sebelum waktunya. (9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah.”

Dalam 1 Korintus 15:3 yang sudah dikutip di atas, Paulus menyatakan bahwa dia “menyampaikan” (paradidōmi) apa yang dia telah “terima” (paralambanō). Dua kata kerja ini (paradidōmi dan paralambanō) dapat berarti bahwa Paulus “menyampaikan” suatu tradisi lisan atau suatu tradisi tertulis tentang suatu kejadian historis, yang dia sebelumnya “telah terima” dari orang lain. Tetapi, seperti telah dicatat di atas, injil yang Paulus beritakan atau sampaikan bukanlah injil sebagai suatu tradisi yang dia telah terima dari orang lain (atau dari rasul-rasul sebelumnya), melainkan injil yang dia telah terima melalui suatu penyataan mistikal yang diberikan Yesus Kristus, dan yang dapat ditemukan melalui penafsiran kitab suci, khususnya kitab-kitab para nabi. Konsisten dengan ini, dalam 1 Korintus 11:23-26, ketika mengacu ke perjamuan malam Yesus Kristus, Rasul Paulus membuka ucapannya dengan perkataan: “Sebab apa yang telah kuteruskan (paredōka) kepadamu, telah aku terima (parelabon) dari Tuhan….”

Dan injil yang dia telah terima ini, dia juga telah sampaikan bukan sebagai sebuah tradisi atau sebuah ajaran dari orang lain, melainkan sebagai ajarannya sendiri. Kata benda paradosis (dari kata kerja paradidōmi), yang menurut BDAG berarti “tradisi atau isi ajaran yang disampaikan kepada orang lain,” dalam 1 Korintus 11:2 dan 2 Tesalonika 3:6 menunjuk ke tradisi atau ajaran langsung dari Rasul Paulus sendiri. Dalam 1 Tesalonika 4:2 Paulus menyebut “petunjuk-petunjuk” (paraggelias) yang dia sendiri telah berikan kepada jemaat atas nama atau dalam kewibawaan Tuhan Yesus.

Dalam 1 Korintus 15:3-4 Rasul Paulus memperinci apa isi injil yang diberitakan olehnya, yakni:

  • bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan kitab suci,
  • bahwa dia telah dikuburkan, dan
  • bahwa dia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci.
Dalam ayat-ayat ini dengan jelas Rasul Paulus menyatakan bahwa isi injilnya ini adalah “sesuai dengan kitab suci”, kata tas grafas, yang juga berarti “sebagaimana kita ketahui dari kitab suci”, yang ditafsirkan secara baru dan dengan pengilhaman oleh Roh Kudus. Earl Doherty/2/ menyatakan bahwa teks-teks profetis dalam Perjanjian Lama yang mengilhami Rasul Paulus untuk memberi isi pada injilnya adalah Yesaya 53 (tentang kematian yang menebus dosa), Hosea 6:2 (tentang kebangkitan setelah tiga hari), Mazmur 119:120; Mazmur 22:16; dan Zakharia 12:10.

Dalam 1 Korintus 15:4b Rasul Paulus mengungkapkan isi salah satu bagian dari injilnya, yakni bahwa Yesus Kristus telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci. Sudah ditegaskan di atas bahwa injil yang Paulus beritakan tidak diterima olehnya dari suatu tradisi historis (lisan atau pun tertulis), tetapi lewat suatu penglihatan mistikal yang diberikan oleh Yesus Kristus, dan melalui suatu pembacaan secara baru atas kitab-kitab para nabi. Jadi, ringkasnya, injil yang disampaikannya bahwa Kristus telah dibangkitkan pada hari ketiga sama sekali bukan sebuah kabar baik yang disampaikan berdasarkan suatu kejadian sejarah, tetapi berdasarkan suatu visi atau penglihatan mistikal dan melalui pembacaan kristologis secara baru Hosea 6:2.

Jika halnya demikian, seperti dilihat oleh Earl Doherty,/3/pantaslah jika di beberapa tempat dalam surat-suratnya Rasul Paulus dengan sangat jelas mengindikasikan bahwa kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati adalah suatu perkara dalam dunia iman saja, bukan suatu kejadian sejarah dalam suatu dunia objektif material. Mari kita perhatikanlah teks-teks lainnya, sebagai berikut:

“Karena jika kita beriman bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita beriman juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tesalonika 4:14)

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia juga kepercayaan kamu…. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14, 17a)


Tubuh rohaniah etherial

Karena kebangkitan Yesus Kristus, sebagai salah satu isi injil Paulus, adalah sesuatu yang diketahuinya lewat pengalaman penglihatan atau lewat suatu visi mistikal yang diberikan Yesus Kristus, maka “tubuh” Yesus yang sudah dibangkitkan, yang diklaim “dilihat” Rasul Paulus (1 Korintus 9:1; 15:8), tentu bukanlah suatu tubuh material protoplasmik yang dimiliki oleh setiap manusia biasa. Sudah dicatat di atas, bahwa Rasul Paulus mengklaim dirinya “melihat” Tuhan (1 Korintus 9:1), “melihat” dalam arti spiritual dan mental, bukan dengan mata jasmaniah biasa. Maka tepatlah jika Rasul Paulus menyebut “tubuh” kebangkitan sebagai “tubuh rohaniah” (sōma pneumatikon) yang berbeda dari tubuh alamiah atau tubuh jasmaniah (sōma psukhikon) (1 Korintus 15:44), atau sebagai “tubuh surgawi” (sōma epouranios) yang berbeda dari tubuh duniawi (sōma epigeios) (ayat 40).

Dalam Filipi 3:20-21, Rasul Paulus juga menyebut “tubuh kebangkitan” Yesus sebagai tubuh non-material, “tubuh yang mulia” (to sōma tēs doksēs). Di luar surat-surat asli Paulus, rujukan kepada “tubuh rohaniah” atau “tubuh surgawi” Yesus-yang-bangkit ditemukan antara lain dalam 1 Petrus 3:18-22 (“Ia [=Yesus Kristus], yang telah dibunuh dalam keadaannya sebagai manusia, tetapi telah dibangkitkan menurut roh [pneumati]), dalam Efesus 1:20 (“… dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga”), dan dalam Ibrani 10:12; 13:20 yang menunjukkan penulisnya tidak mengenal konsep tentang kebangkitan daging.

Kembali ke pertanyaan bab ini: Bagaimana wujud “tubuh rohaniah” yang dibayangkan Rasul Paulus ini, yang bukan “tubuh berdaging” atau “tubuh jasmaniah”, yang dapat “dilihat” olehnya lewat suatu visi atau penglihatan mistikal? Tentang ini, Richard Carrier membuat sebuah obervasi menarik berikut:

“Gagasan bahwa jiwa tidak memiliki massa, bahwa jiwa bukan ‘tubuh’ dengan lokasi, yang terbuat dari materi, tidaklah lazim di dunia kuno, tidak seperti pada zaman sekarang. Sebetulnya, gagasan umum tentang suatu jiwa yang tak memiliki massa, jiwa yang immaterial, pada dasarnya adalah suatu produk pemikiran Abad Pertengahan, meskipun gagasan ini telah memiliki suatu tempat embrionik di dalam Platonisme dan kultus-kultus pagan tertentu. Jadi, adalah mungkin bahwa Paulus dan orang-orang Kristen perdana lainnya percaya bahwa sang Kristus yang telah bangkit memiliki sebuah ‘tubuh’ baru, meskipun kini terbuat dari bahan yang tak bisa binasa…. Tubuh baru ini pastinya terbuat dari zat etherial murni dan homogen, zat-zat yang membentuk kawasan angkasa, yang umum dikenal oleh semua pemikir pada masa itu sebagai satu-satunya zat yang tidak dapat dihancurkan dan tidak dapat berubah, di dalam jagat raya.”/4/

Nah, “tubuh etherial” semacam ini, yakni “tubuh rohaniah” namun memiliki “substans” atau “zat”, dipercaya oleh orang Yunani-Romawi pada era kekristenan perdana sebagai tubuh para dewa atau para malaikat. Relevan dengan ini, perlu diingat, dalam Markus 9:2-8 ada sebuah kisah tentang Yesus berubah rupa, mengalami transfigurasi, di sebuah gunung yang tinggi, pada saat mana juga muncul Elia dan Musa yang bisa “dilihat” oleh murid-murid Yesus yang hadir (Petrus, Yakobus dan Yohanes) dan, karena penglihatan ini, mengalami ketakutan luar biasa; tetapi kedua orang zaman lampau ini kemudian menghilang lagi begitu saja.

Walaupun sama sekali tidaklah jelas bagaimana ketiga murid Yesus ini bisa mengenali wajah Elia dan Musa yang mereka tidak pernah jumpai, namun kejadian ini dikisahkan sedemikian rupa, dan pengisahan yang semacam ini harus membuat pembaca menyimpulkan bahwa peristiwa yang dikisahkan ini adalah suatu peristiwa penglihatan atau suatu visi. Bisa jadi kisah ini semula adalah kisah tentang suatu penampakan Yesus sesudah kebangkitannya (dalam tubuhnya yang sudah “berubah”, bertransfigurasi), yang dilihat para murid dalam suatu penglihatan mistikal. Yang jelas dalam kisah ini, Elia dan Musa digambarkan masing-masing memiliki suatu “tubuh” yang tidak biasa, yang bisa dilihat namun sebentar kemudian lenyap begitu saja, yang kemunculannya juga tak diduga-duga sebelumnya oleh para murid penyaksi.

Bisa jadi, konsep kuno tentang zat etherial alam semesta melatarbelakangi baik pemikiran Rasul Paulus tentang “tubuh rohaniah” yang dikatakannya sebagai tubuh Yesus yang sudah dibangkitkan, sebagai suatu prototipe “tubuh yang diubah” dari orang-orang lain yang nanti akan mengalami kebangkitan, maupun kisah transfigurasi Yesus dalam Markus 9:2-8. Tapi tentu saja harus dicatat, konsep kuno zat etherial semesta ini sudah usang, bahkan salah. Dalam zaman sekarang, kita tidak lagi berpikir bahwa alam semesta dipenuhi zat etherial,/5/ tetapi dipenuhi gelombang dan energi elektromagnetik dan partikel cahaya yang disebut foton. Dengan demikian, konsep Paulus tentang tubuh kebangkitan sebagai tubuh rohaniah ethereal juga sebuah konsep yang sudah usang!

Tetapi jika kita harus percaya bahwa Rasul Paulus memang sungguh-sungguh “melihat” Yesus yang sudah bangkit dalam suatu penglihatan mistikal atau dalam suatu visi/6/, adakah alternatif lain untuk kita pikirkan sebagai “wujud” tubuh rohaniah ini, yang bukan tubuh etherial?

Antara “ghost” dan “bodily resurrection”

Dalam hal ini, sebagaimana disarankan oleh James G. Crossley, teks Markus 6:49-50 patut dipertimbangkan./7/ Di situ penulis Injil Markus menuturkan bahwa pada jam tiga malam murid-murid melihat Yesus berjalan di atas air, hendak melewati mereka yang sedang berperahu dengan susah payah karena angin sakal. Segera mereka mengira bahwa Yesus adalah hantu (Yunani: fantasma), lalu mereka berteriak-teriak karena kaget dan takut luar biasa. Teks ini menunjukkan bahwa pada era kekristenan perdana, ada kepercayaan bahwa hantu itu terlihat, memiliki suatu wujud kongkret, dan melakukan gerakan-gerakan tanda hidup.

Tampaknya pada awalnya kepercayaan bahwa Yesus-yang-sudah-bangkit memiliki tubuh yang kasat mata sebagai hantu, non-material tetapi berwujud (ghostly and bodily), sudah cukup meluas beredar. Tetapi penulis Injil Lukas (di tahun 85) merasa perlu untuk menangkis kepercayaan ini. Lukas menulis dalam pasal 24:36-43 bahwa untuk menepis sangkaan para muridnya bahwa Yesus sesudah kebangkitannya berubah menjadi “hantu” atau “roh” (pneuma)/8/ yang kelihatan nyata, Yesus, dalam ayat 39, dibuat oleh Lukas berkata, “Lihatlah tanganku dan kakiku: Aku sendirilah ini; rabahlah aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaku.” Dalam suratnya, Kepada Jemaat di Smyrna 3.2, Ignatius melaporkan perjumpaan Yesus yang sudah bangkit dengan murid-muridnya dalam suatu bentuk yang dekat dengan Lukas 24:36-43, tetapi tidak menunjukkan ketergantungan:

“Dan ketika dia datang kepada mereka bersama Petrus, dia berkata kepada mereka: ‘Peganglah, sentuhlah aku dan lihatlah bahwa aku bukanlah hantu tanpa tubuh.’ Maka mereka segera menyentuhnya dan percaya, bahwa dia tampil utuh sebagai daging dan roh... Dan setelah kebangkitannya, dia makan dan minum bersama mereka sebagai suatu makhluk berjasad, meskipun dia dipersatukan dalam roh dengan sang Bapa.”

Ringkas kata, pada era injil-injil Perjanjian Baru ditulis, beberapa dekade setelah masa aktif Rasul Paulus, “Yesus yang bangkit” tidak lagi dipahami dan dipandang sebagai Yesus yang memiliki “tubuh rohaniah”, yang hanya bisa dilihat lewat pengalaman visioner atau mistikal (seperti yang dialami Rasul Paulus), tapi sebagai Yesus yang memiliki tubuh kebangkitan yang nyata dan material. Gambaran-gambaran dalam injil-injil Perjanjian Baru tentang tubuh kebangkitan Yesus yang secara kronologis (mulai dari Injil Markus di tahun 70, sampai ke Injil Yohanes di tahun 95) digambarkan semakin material, dan paling nyata sifat materialnya dalam Injil Yohanes, diajukan para penulis injil, khususnya penulis Injil Yohanes, tentu dengan suatu maksud dan tujuan yang real.

Gregory J. Riley, dalam bukunya Resurrection Reconsidered,/9/ memperlihatkan bahwa perlawanan berbagai bentuk kekristenan gnostik terhadap  gagasan kekristenan anti-gnostik (proto-ortodoks) tentang “kebangkitan ragawi” Yesus, telah mendorong ditulisnya kisah-kisah injil tentang penampakan Yesus secara ragawi dan material setelah kebangkitannya. Kisah dalam Injil Yohanes tentang Rasul Thomas yang tidak mau percaya bahwa Yesus sudah bangkit secara ragawi kecuali kalau dia sudah bisa menyentuh daging dan bekas luka-luka Yesus, yang ditutup dengan sebuah pernyataan “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:24-29), menyingkapkan kontroversi yang timbul di sekitar ihwal tubuh kebangkitan Yesus antara komunitas (gnostik) Thomas/10/ dan komunitas Yohanes yang anti-gnostik. Komunitas Thomas dan komunitas Yohanes tumbuh, tulis Riley, “dalam percakapan satu sama lain, yakni, dalam suatu kondisi perkembangan timbal-balik dan debat atas, antara lain, topik tentang kebangkitan ragawi.”/11/

 Untuk memastikan bahwa Yesus sesudah kebangkitannya 
memakai tubuh material, Rasul Thomas sampai harus 
mencucukkan jarinya ke bagian-bagian tubuh Yesus yang luka, 
yang sedang berdiri di antara sebelas rasul lainnya

Orang tak akan luput melihat bahwa pandangan Lukas bahwa Yesus bukan hantu, tetapi bertubuh kongkret lengkap dengan daging dan tulang, malah juga bisa memakan sesuatu (Lukas 24:43; bdk. Yohanes 21:12-14), sudah jauh meninggalkan konsep Rasul Paulus yang tidak mengenal baik gagasan tentang “kubur kosong” maupun gagasan tentang “kebangkitan daging” dan “penampakan ragawi”. Gagasan-gagasan injil yang semacam ini, yang muncul belakangan, termasuk kisah-kisah penampakan Yesus yang sudah bangkit secara ragawi, sesungguhnya bisa dijelaskan kemunculannya secara sosiologis: gagasan-gagasan ini diajukan oleh para penulis injil-injil dalam Perjanjian Baru ketika para rasul utama dalam kekristenan perdana sedang terlibat dalam suatu pertarungan religio-politis memperebutkan posisi utama dalam hierarki kepemimpinan gereja awal. Orang yang berhak, dan pantas, menduduki posisi utama dan tertinggi dalam hierarki kepemimpinan gereja-gereja awal yang berdiri tak lama sesudah kematian Yesus, haruslah orang yang diberi kesempatan istimewa dan khusus untuk berjumpa tatap muka dengan Yesus yang sudah dibangkitkan! Maka disusunlah kisah-kisah semacam ini! Tafsiran sosiologis ini dipertahankan banyak pakar Perjanjian Baru.

John Dominic Crossan berpendapat bahwa kisah-kisah injil dalam Perjanjian Baru tentang penampakan-penampakan Yesus dan tentang penyataan-penyataan yang diberikannya, secara perlahan dan bertahap menggeser penekanan terhadap pemberian penyataan-penyataan ini secara konsisten dan hierarkis, mulai dari komunitas secara umum, lalu ke kelompok para pemimpin, sampai akhirnya ke hanya beberapa individu pemimpin khusus yang memegang otoritas apostolis./12/ Helmut Koester menyatakan, “kisah-kisah kesengsaraan yang ditulis, yang beredar, dan juga tulisan-tulisan yang menjadi injil-injil, menyingkapkan suatu kepentingan politis.”/13/ Werner Kelber juga menegaskan bahwa jenis kisah-kisah penampakan Yesus setelah kebangkitannya, yang mengisi kitab-kitab injil Perjanjian Baru khususnya, cocok untuk menetapkan dan meningkatkan pengetahuan esoteris dan otoritas apostolis./14/

Dalam komunitas Yahudi-Kristen yang muncul dan berpusat di Yerusalem tak lama setelah kematian Yesus, figur yang dipandang sebagai saksi pertama dan utama atas kebangkitan Yesus, sebagaimana dikisahkan dalam Injil Orang Ibrani 9 (bdk. 1 Korintus 15:7), adalah Yakobus si Adil, “saudara Yesus” (lihat Galatia 1:19; Markus 6:3; Flavius Yosefus, Antiquitates 20.200), yang menjadi pendiri dan soko guru utama komunitas Yahudi-Kristen ini. Logika di balik tuturan ini jelas: karena pemimpin utama komunitas Yahudi-Kristen ini adalah Rasul Yakobus si Adil, maka kesempatan istimewa untuk menjadi saksi mata kebangkitan Yesus dan menerima wahyu, tentunya diberikan lebih dulu kepadanya, bukan kepada Maria Magdalena (yang menjadi saksi kebangkitan Yesus menurut Matius 28:1-10; Markus 16:9; Lukas 24:10; Yohanes 20:11-18) dan juga bukan kepada Rasul Petrus (yang menjadi saksi kebangkitan Yesus menurut 1 Korintus 15:5; Yohanes 20:1-10)./15/

Di lain pihak, dalam banyak kebudayaan kepercayaan pada adanya hantu (dari orang yang sudah mati) yang berjalan-jalan lalu menampakkan diri kepada manusia pasti dapat ditemukan, bahkan juga pada zaman modern sekarang ini. Bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan secara saintifik?

Dengan berdasar pada pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan oleh antropologi lintas-budaya, lintas-agama dan psikososial, dan juga yang diperoleh dari kajian-kajian psikiatris modern terhadap kondisi-kondisi mental manusia ketika mengalami kedukaan dan kehilangan, Crossan menyimpulkan bahwa suatu visi atau suatu penglihatan mengenai hantu, yakni mengenai orang yang sudah mati tetapi tampak hidup lagi dan aktif, adalah suatu kemungkinan yang umum terjadi pada manusia, suatu kemungkinan yang terhubung kuat, hard-wired, dengan otak kita, yang faktual terjadi di abad pertama dan di zaman modern./16/

Selain itu, dengan memperhatikan tulisan Virgil, Aeneid Buku 2, tulisan Justinus  Martyr, 1 Apology 21, dan juga suatu bagian dari tulisan Celsus, On the True Doctrine, Crossan menyimpulkan bahwa di dalam kebudayaan Laut Tengah kuno, pada awal mula berdirinya kekristenan, penampakan-penampakan diri orang-orang yang sudah mati, dan kenaikan ke surga orang-orang yang sudah mati tetapi hidup lagi, diterima sebagai kemungkinan-kemungkinan yang nyata, dan bukan sebagai kejadian-kejadian yang abnormal dan sepenuhnya unik./17/

Setelah mengkaji kisah-kisah tentang penampakan hantu orang-orang yang sudah mati dalam kebudayaan Yunani klasik, kebudayaan Romawi, dan dalam teks-teks Yahudi, Thomas S. Verenna menyimpulkan bahwa kisah-kisah tentang hantu adalah “fenomena kebudayaan”, dan tradisi serta kepercayaan tentang hantu-hantu orang-orang mati yang gentayangan “berakar pada fenomena psikologis dan fisikal yang sangat nyata” yang “dapat terjadi dalam aneka ragam bentuk.”/18/


Halusinasi individual dan massal

Tentu tidak semua orang akan begitu saja mengklaim telah melihat hantu orang-orang mati. Ada prakondisi-prakondisi psikologis patologis tertentu yang harus dialami seseorang sebelum dia bisa menerima suatu penglihatan atau suatu visi melihat hantu. Misalnya prakondisi psikologis sedang berduka sangat dalam karena kehilangan orang yang sangat dikasihi. Atau prakondisi psikologis terbuka pada pengalaman-pengalaman paranormal atau spiritual, berhubung yang bersangkutan memang menjalani suatu pergaulan yang intensif dengan kelompok-kelompok paranormal atau kelompok-kelompok spiritual tertentu yang memiliki buku-buku bacaan, keyakinan-keyakinan dan ritual-ritual spesifik. Apa yang dinamakan halusinasi akan dengan mudah dialami oleh orang-orang yang memiliki prakondisi-prakondisi sosio-psikologis semacam ini. Penglihatan akan hantu tentu saja tergolong halusinasi, sebab hantu yang sama bisa tidak terlihat oleh orang lain yang ada bersama dengan orang yang mengalami halusinasi ini.

Dalam suatu kajian tentang fenomena halusinasi dalam lingkungan kehidupan orang-0rang Kristen perdana, Richard Carrier menyatakan bahwa orang-orang Kristen perdana kerap secara teratur mengalami halusinasi, yang menyebabkan mereka juga menerima penyataan-penyataan yang serupa dengan yang diterima Rasul Paulus yang sebelumnya memang juga mengalami halusinasi./19/ Carrier menulis, “pengalaman-pengalaman halusinasi yang jelas, terdokumentasi dengan baik di sepanjang semua tradisi keagamaan, di sepanjang sejarah, dan tampaknya otak manusia secara khusus terhubung dengan pengalaman-pengalaman ini.”/20/ Menurut Slade dan Bentall, yang dirujuk oleh Carrier, “proses dan kondisi patologis… umumnya dikaitkan dengan pengalaman halusinasi. Kondisi ini mencakup kerusakan sistem pengindraan, variasi-variasi fisiologis seperti naiknya suhu tubuh dan kekurangan air, gangguan sistem saraf pusat, dan kondisi-kondisi psikiatris seperti skizofrenia dan psikoses depresif yang berlebihan.”/21/

Karena zat ethereal itu tidak ada dalam jagat raya, sehingga tubuh ethereal Yesus yang bangkit juga tidak ada, maka alternatif “hantu” boleh jadi merupakan sebuah alternatif yang paling mungkin untuk memberi wujud pada “tubuh rohaniah” yang diklaim Paulus sebagai tubuh kebangkitan, yang bisa dilihat hanya lewat pengalaman penglihatan atau pengalaman visioner, yang pada dasarnya adalah pengalaman halusinasi. Jadi, pengalaman penglihatannya ini atas “tubuh rohaniah” Yesus adalah suatu halusinasi. Bukan hanya dialami Rasul Paulus, pengalaman halusinasi ini juga dialami oleh rasul-rasul lain yang disebutnya: Kefas, dua belas murid, lima ratus saudara sekaligus, Yakobus, semua rasul. Seperti sudah ditulis di atas, halusinasi bisa dialami oleh siapa saja yang memiliki prakondisi-prakondisi psikologis dan neurologis yang pas, dan otak manusia memungkinkan halusinasi dialami sebagai sesuatu yang neurologis real dalam otak manusia.

Kalau para sejarawan modern telah merekam dengan benar dan tak ada unsur pembesar-besaran berita, tercatat bahwa di kawasan peziarahan Cova da Iria, di Fatima, Portugal, pada 13 Oktober 1917, tujuh puluh ribu peziarah serentak melihat Matahari “merobek dirinya sendiri dari angkasa lalu menimpa kerumunan orang banyak yang ketakutan.”/22/ Tentu laporan ini bukanlah sebuah laporan tentang suatu kejadian astronomis betulan, melainkan sebuah laporan tentang terjadinya halusinasi massal, yang melibatkan bukan hanya lima ratus peziarah, tetapi tujuh puluh ribu.

Kapanpun juga, halusinasi adalah suatu pengalaman neurologis psikologis, yang berlangsung dalam organ otak, bukan suatu pengalaman mengenai suatu kejadian historis dalam suatu dunia objektif. Pengalaman halusinasi Rasul Paulus melihat Yesus dalam “tubuh rohaniah” dengan tepat disebutnya sebagai suatu pengalaman yang hanya ada dalam iman, bukan dalam realitas objektif empiris.

Penutup

Telah diperlihatkan di atas, pergeseran telah terjadi dalam pandangan mengenai wujud Yesus-yang-sudah-dibangkitkan. Mula-mula (setidaknya mulai dari Rasul Paulus) Yesus yang hadir setelah peristiwa Paskah dibayangkan memiliki “tubuh rohaniah ethereal”, tubuh non-material tapi memiliki substans; tetapi belakangan (oleh para penulis injil-injil Perjanjian Baru) Yesus-setelah-kebangkitannya dibayangkan sebagai Yesus yang tetap memiliki raga protoplasmik, Yesus yang berdaging dan bertulang bahkan membutuhkan makanan, tetapi sekaligus Yesus yang sudah mentransendir kodrat kedagingan dan keinsaniannya, dengan mengambilbagian dalam keadikodratian ilahi yang tak dapat dibatasi oleh dimensi ruang-waktu kosmologis.

Pergeseran pandangan tentang bagaimana wujud Yesus-yang-dibangkitkan, mulai dari wujud “tubuh rohaniah” sampai ke wujud tubuh yang material fisikal, tak dapat dilepaskan dari variabel-variabel historis sosiologis, ekklesiologis dan doktrinal, yakni kebutuhan memberi legitimasi ilahi terhadap individu-individu pemimpin utama rasuli dalam hierarki kepemimpinan gereja-gereja perdana, dan kebutuhan membangun dan memenangkan polemik doktrinal dalam melawan berbagai bentuk kekristenan gnostik yang bermental sarkofobik dan anti-raga.

Alternatif memandang Yesus-yang-sudah-dibangkitkan hadir kembali dalam dunia orang-orang hidup sebagai fantasma, ghost, hantu, merupakan alternatif yang paling kuat ditopang baik oleh kajian-kajian sastra keagamaan lintaszaman dan lintaskebudayaan maupun oleh kajian berbagai disiplin sains yang relevan, khususnya disiplin sains psikiatri, psikologi dan neurologi. Disiplin-disiplin sains ini membuat kita bisa menyebut semua pengalaman melihat kehadiran kembali Yesus setelah kematiannya sebagai halusinasi yang dimunculkan oleh aktivitas neurologis dalam otak manusia.

Halusinasi melihat kembali Yesus dalam kondisi hidup dan aktif setelah kematiannya, khususnya yang dialami oleh sejumlah murid terdekat Yesus, yang disebut sebagai para rasul, menunjukkan bahwa mereka mengalami tekanan dan penderitaan psikologis yang sangat berat karena telah ditinggal oleh Yesus yang sangat mereka kasihi, yang membuat mereka merasa sangat kehilangan, atau karena mereka merasa sangat bersalah karena pernah menyangkali dan berkhianat pada Yesus pada momen-momen genting Yesus ditangkap dan dieksekusi, sehingga timbul kebutuhan psikologis yang sangat besar dalam jiwa mereka untuk mendapat kesempatan bertemu Yesus kembali supaya mereka dapat mengakui segala kesalahan mereka dan meminta ampun kepada Yesus, sekalipun mereka sadar bahwa kebutuhan ini sangat tidak realistik./23/

Pendek kata, berbagai macam pernyataan atau kisah dalam Perjanjian Baru yang mencatat atau menuturkan perjumpaan kembali para murid Yesus dengan Yesus setelah kematiannya, ditulis karena Yesus sungguh-sungguh menempati posisi signifikan dan utama dalam kehidupan para rasul, dan khususnya karena Yesus adalah seorang yang mereka sangat sayangi. Jika seseorang menjadi “the significant other” bagi kehidupan anda, dan orang ini sangat anda cintai, anda akan pasti berharap dapat bertemu tatap muka kembali dengannya sekalipun dia sudah meninggal, apalagi jika anda merasa telah berbuat salah sangat besar terhadapnya ketika dia masih hidup. Harapan anda yang sangat besar, keadaan batin anda yang sangat galau, dan kondisi  tubuh anda yang tidak bugar, dapat membuat anda mengalami halusinasi melihat dirinya hidup kembali.     

Oleh ioanes rakhmat

 
Catatan-catatan

/1/
A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (edisi ketiga; Chicago and London: University of Chicago Press, 2000). Lexikon edisi ketiga ini dirujuk juga dengan singkatan BDAG (Bauer-Danker-Arndt-Gingrich).

/2/Earl Doherty,
Jesus Neither Man Nor God: The Case for A Mythical Jesus (edisi baru yang diperluas; Ottawa, Canada: Age of Reason Publication, 2009) h. 47, 85-86.

/3/ Earl Doherty,
Jesus Neither Man Nor God, h. 79.

/4/ Richard Carrier, “Osiris and Pagan Resurrection Myths” (2000) dalam situs
http://www.frontline-apologetics.com/Carrier_on_Osiris_.html.

/5/ Lihat Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow,
The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010) h. 95-96, 100.

/6/Bandingkan dengan tuturan tentang fotisme yang dialami Rasul Paulus dalam suatu perjalanannya ke Damsyik dalam Kisah Para Rasul 9:3-9; 22:6-11; 26:12-18. Menurut para antropolog, pengalaman melihat suatu “sosok bercahaya” (= fotisme) adalah sebuah fenomen lintas-budaya, yang dapat ditemukan dalam banyak kehidupan suku-suku bangsa di dunia ini. Tentu saja, jika ditinjau dari neurosains, fotisme adalah fenomen neurologis, bukan realitas faktual di dunia natural objektif. Lihat tulisan saya yang berjudul “Pengalaman-pengalaman Spiritual Ditinjau dari Neurosains: Interkoneksi ‘Roh’ dan Otak”, tersedia online di
http://ioanesrakhmat.blogspot.com/ 2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html.  

/7/ Michael F. Bird and James G. Crossley,
How Did Christianity Begin? A Believer and Non-believer Examine the Evidence (London/Peabody: SPCK and Hendrickson Publisher, 2008) h. 54.

/8/BDAG menerjemahkan
pneuma dalam Lukas 24: 37, 39 sebagai “ghost”, hantu.

/9/ Gregory J. Riley, Resurrection Reconsidered: Thomas and John in Controversy (Minneapolis: Fortress Press, 1995).

/10/ Dalam tahap belakangan perkembangannya, komunitas Kristen Thomas menjadi komunitas Kristen gnostik yang bermental “sarkofobik” atau “anti-raga” (menolak raga, dan memandangnya sebagai “penjara jiwa” yang harus dilepaskan jika orang ingin masuk ke dalam keselamatan). Pada tahap ini, mereka tidak bisa menerima pandangan Kristen proto-ortodoks Perjanjian Baru bahwa Yesus dibangkitkan “secara ragawi”, bukan hanya secara rohaniah. Dalam Kitab Thomas 143.10f, termuat sebuah kutukan, “Celakalah kalian yang berharap pada daging, dan pada penjara yang akan binasa!”

/11/ Riley, Resurrection Reconsidered, h. 177.

/12/ John D. Crossan, The Historical Jesus: The Life of A Mediterranean Jewish Peasant (New York: HarperCollins, 1991) h. 395-416; idem, Jesus: A Revolutionary Biography (New York: HarperCollins, 1994) h. 165 dyb.; idem, Who Killed Jesus? Exposing the Roots of Anti-semitism in the Gospel Story of the Death of Jesus (New York: HarperCollins, 1995) h. 202 dyb.

/13/ Helmut Koester, “Writings and the Spirit: Authority and Politics in Ancient Christianity” dalam
Harvard Theological Review 84:4 (1991) h. 369 [253-372].

/14/ Werner H. Kelber, “Narrative and Disclosure: Mechanisms of Concealing, Revealing, and Reveiling” dalam
Semeia 43 (1988) h. 6 [1-20].

/15/ Lihat Ioanes Rakhmat, Menguak Kekristenan Yahudi Perdana: Sebuah Pengantar (Jakarta: JRC, 2009) h. 19.

/16/ John D. Crossan, “Historical Jesus As Risen Lord” dalam
The Jesus Controversy: Perspectives in Conflict. Penyunting umum: Gerald P. McKenny (Harrisburg, Pennsylvania: Trinity Press International) h. 6-7 [1-47]; idem, Jesus: A Revolutionary Biography, h. 87-88; idem, “Why Is Historical Jesus Research Necessary?” dalam James H. Charlesworth and Walter P. Weaver (eds.), Jesus Two Thousand Years Later (Harrisburg, PA: Trinity Press International, 2000) h. 17-18 [7-37]. Bdk. Gerd Lüdemann dan Alf Özen, De Opstanding van Jezus: Een Historische Benadering (Baarn: Ten Have, 1996) h. 176-178 [114-178].

/17/ John D. Crossan, “Historical Jesus As Risen Lord”, h. 6 ff., 26-31.


/18/ Thomas S. Verenna,
Of Men and Muses: Essays on History, Literature, and Religion (Lulu.com, 2009) h. 145.

/19/Richard Carrier, “The Spiritual Body of Christ” dalam Robert M. Price dan Jeffery Jay Lowder, eds.,
The Empty Tomb: Jesus Beyond the Grave (2005) h. 184-188.

/20/ Richard Carrier, “The Spiritual Body of Christ”, h. 184.


/21/ Peter D. Slade dan Richard P. Bentall,
Sensory Deception: A Scientific Analysis of Hallucination (1988) h. 28.

/22/Laporan ini tersedia online di
http://www.sofc.org/Spirituality/s-of-fatima.htm.

/23/ Untuk menebus kesalahannya yang pernah dibuatnya ketika dia melakukan berbagai bentuk kekerasan terhadap para pengikut Yesus, Rasul Paulus sampai perlu membangun sebuah pemikiran kristologis tentang pendamaian dosa yang didatangkan oleh Yesus lewat kematiannya di kayu salib. Doktrin ini dirancangbangun oleh Paulus tentu untuk pertama-tama membuat dirinya terbebas dari perasaan berdosa yang sangat merusak mentalnya, yang lalu diperluasnya untuk berlaku bagi semua orang yang mau mempercayai doktrinnya ini. Tuturan tentang percakapan Yesus dengan Simon Petrus dalam Yohanes 21:15-19 juga dapat dijelaskan dari perspektif yang sama.


Saturday, September 11, 2010

5 Roti dan 2 Ikan, Yang Makan 5000 Orang



Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti dan 2 ekor ikan. 
Tetapi, jika betul, mengapa masih ada kelaparan begitu parah dalam 
kehidupan dunia di abad XXI ini? Ironisnya, yang sekarang terjadi adalah 
mukjizat 5000 roti dihabiskan tuntas hanya oleh 5 orang lelaki berperut buncit!
ioanes rakhmat

[Tulisan ini adalah bab 4 buku baru saya, Memandang Wajah Yesus: Sebuah Eksplorasi Kritis (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2012) hlm. 82-98. Ingin cek buku-buku saya? Masuklah ke sini.]


Kalangan Kristen literalis menerima tuturan injil-injil Perjanjian Baru tentang Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, dengan sisa 12 bakul penuh (Markus 6:30-44 dan par.), sebagai tuturan sejarah faktual apa adanya.

Bagi mereka, dengan memakai iman sebagai senjata pamungkas pertahanan diri, kisah ini adalah kisah sejarah faktual, yang hanya perlu diterima kebenarannya tanpa ragu, dan tak perlu diadakan investigasi saintifik untuk memeriksa faktualitas kisah ini. Mereka sama sekali mengenyampingkan berbagai ciri dan sifat hiperbolik serta tujuan kisah-kisah hebat skriptural religius yang ditulis sebagai media propaganda ideologis, devosional dan apologetis. Iman keagamaan memang kerap memblokir pemikiran kritis, lalu mematikannya.

Kontras dengan itu, kalangan Kristen kritis non-literalis memahami kisah mukjizat pemberian makan 5000 orang ini sebagai sebuah mitos, sebuah metafora, sebuah perumpamaan, a parable. Sebagai sebuah metafora, sebuah mitos, kisah ini tidak bermaksud mengisahkan sejarah faktual apa adanya, tetapi mau menyampaikan pesan-pesan teologis dalam rangka pembinaan komunitas atau dalam rangka propaganda agama. Sebuah pesan teologis bukanlah sebuah berita tentang suatu peristiwa sejarah, tetapi sebuah berita yang disampaikan untuk membangkitkan antara lain sebuah penyembahan dan pengagungan, sebuah sikap devosional reverensial, terhadap figur-figur besar yang dikisahkan di dalam kisah-kisah skriptural.

Mari kita adakan investigasi kritis lebih jauh terhadap kisah ini. 

Harus diingat betul-betul bahwa yang ditemukan dalam Alkitab bukan mukjizat-mukjizat, tetapi kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai para pembaca kisah-kisah itu. Kisah-kisah tentang mukjizat harus diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat empiris objektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra.

Selain itu, harus senantiasa diingat bahwa kisah-kisah mukjizat dalam kitab suci apapun tak pernah dimaksudkan untuk ditujukan kepada para pembaca modern oleh para penulis kisah-kisah ini dulu. Kita sebagai pembaca modern atas kisah-kisah dalam kitab suci adalah para penyelundup, yang memaksa masuk ke dalam dunia kisah kuno dan ke dalam dunia kuno para penulis kisah-kisah ini. Selalu ada kesenjangan sejarah (= kesenjangan temporal) dan kesenjangan budaya (= kesenjangan pemikiran) antara kita para pembaca modern dan para penulis kitab-kitab suci kuno.

Lagi pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara apa yang dikisahkan (misalnya oleh penulis Injil Markus di tahun 70) dan apa yang faktual telah terjadi (yang dilakukan Yesus pada awal tahun 30-an). Kalaupun para penulis kisah-kisah mukjizat memakai tradisi-tradisi lisan yang berawal pada masa kehidupan Yesus, semua tradisi lisan disebarkan tidak apa adanya, melainkan selalu mengalami penyuntingan, editing, sehingga mengalami banyak perluasan, penambahan, pembesar-besaran, dan perubahan, ataupun penyusutan, sehingga kisah-kisah ini makin jauh dari fakta-fakta di masa lampau.

Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah, dengan mengajukan antara lain pertanyaan-pertanyaan berikut:
  • dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah-kisah itu ditulis;
  • faktor-faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah-kisah itu;
  • untuk kisah-kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah-kisah paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi, dan dalam Perjanjian Lama;
  • apa tujuan penulisan kisah-kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi;
  • di tempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks temuan-temuan arkeologis mutakhir dan kajian-kajian antropologis lintas-budaya, dan jika ditinjau dari sains modern, apakah ada hal-hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam sejarah;
  • termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah-kisah tentang mukjizat itu;
  • dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat kisah-kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah-kisah tentang mukjizat itu;
  • dan mengapa kisah-kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu dan bukan dalam suatu konteks sastra lainnya.
Kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan, pertama-tama adalah kisah, bukan fakta. Di sini kita berhadapan dengan kisah injil tentang mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri.

Warga gereja kebanyakan tidak menyadari bahwa hanya dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam injil-injil lainnya para murid Yesuslah yang membagi-bagikan makanan yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. Perbedaan pengisahan ini memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang tentang siapa Yesus bagi penyusun Injil Yohanes. Sejalan dengan kristologi Injil Yohanes secara keseluruhan yang memandang Yesus sebagai sosok ilahi, Yesus di dalam kisah pemberian makan dalam Injil Yohanes ini ditampilkan sebagai seorang yang serba mandiri dan sanggup sendirian mengatasi segala permasalahan yang mendatangi dirinya. Kenyataan adanya perbedaan tekstual semacam ini sudah tak memungkinkan orang untuk memperlakukan semua kisah dalam injil-injil PB sebagai kisah-kisah sejarah. Mana yang benar, Yesus sendiri yang membagi-bagikan, atau murid-muridnya yang mengedarkan makanan itu? Tak mungkin ada dua sejarah yang berlainan, untuk hanya satu kejadian! Salah satunya saja yang benar, atau keduanya salah sekaligus.

Tiga golongan penafsir

Terhimpunnya dalam satu hari orang laki-laki sampai lima ribu orang (belum termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah suatu kejadian mudah; ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman saja, mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea) maupun Roma (penjajah seluruh tanah Palestina zaman Yesus) akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar, seperti telah terjadi pada Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes Antipas karena kekuatirannya atas massa pengikut Yohanes Pembaptis (baca tuturan tentang ini dalam Flavius Yosefus, Antiquities 18.116 dyb) dan pada kegiatan-kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan juga oleh sejarawan Yahudi yang sama, Yosefus.

Jadi, dilihat dari konteks sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun lima ribu orang laki-laki dengan dirinya tetap aman-aman saja. Selain itu, harus diingat, pada zaman kuno total penduduk di kawasan-kawasan di sekitar tempat terjadinya pemberian makan lima ribu orang itu mungkin sekali tidak mencapai angka lima ribu. Jauh lebih realistis jika angka 5000 ini dipandang sebagai sebuah hiperbol numerik.

Tafsiran supernaturalis
 
Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini. Yang pertama adalah kalangan supernaturalis, yang menyatakan bahwa Yesus, dengan kekuatan supernaturalnya, betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa dua belas bakul (orang dapat bertanya, Dari mana bakul-bakul ini berasal?).

Masalah dari tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang entah untuk membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak sehabis makanan-makanan ini (lima ketul roti dan dua ekor ikan) didoakan Yesus, atau pun untuk membayangkan bahwa di tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua orang yang duduk berhimpun mendapat makanan. Para mentalist dan illusionist dalam zaman modern yang piawai memakai trik teknologis dan trik mental untuk memperdaya masyarakat juga pasti tidak bisa mengadakan kejadian semacam ini: faktual mengadakan gundukan roti secara mendadak bergunung-gunung di sekitar diri mereka, lewat mantra sim salabim albarabarakadabra gedubrak!

Tafsiran rasionalis/naturalis

Penafsir kedua adalah dari golongan rasionalis (atau golongan naturalis). Mereka menyatakan bahwa prakarsa Yesus dan para murid untuk membagi makanan itu kepada beberapa orang yang sedang duduk di barisan terdepan telah mendorong orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga membagi-bagi makanan yang mereka telah bawa dari rumah masing-masing kepada orang-orang lainnya, sehingga akhirnya semua orang mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi. Semua kejadiannya sangat natural, alamiah biasa. Kesulitan tafsiran rasionalis ini adalah teks injil-injil jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of fish semacam itu. Sebaliknya, dalam injil-injil dikatakan bahwa orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan apa pun, kecuali hanya lima roti dan dua ekor ikan (yang ada pada seorang anak). Selain itu, angka 5000 orang lelaki yang berhimpun itu tentu saja harus dinyatakan sebagai angka yang sangat dibesar-besarkan, berdasarkan alasan di atas. Mungkin anda akan berpendapat, berbagi roti dan ikan semacam ini jauh lebih menyentuh perasaan kemanusiaan kita, jauh lebih ajaib dan mempesona, ketimbang Yesus dan murid-muridnya mengadakan gundukan-gundukan roti mendadak lewat mantera sim salabim albarabarakadabra gedubrak

Tetapi harus diakui bisa saja hal yang dibayangkan kalangan penafsir rasionalis ini secara faktual historis benar; tetapi karena kejadian historis yang semacam ini tidak membuat Yesus tampil sakti mandraguna, maka, untuk mempersakti Yesus, sejarah diubah oleh para penulis kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru (mulai dari Markus) sehingga lahirlah kisah-kisah hebat tentang Yesus membuat mukjizat pemberian makan lima ribu orang ini yang kita dapat baca sekarang dalam injil-injil PB. Kalau tafsiran kalangan rasionalis ini benar, tentu kita harus mengubah angka 5000 menjadi mungkin maksimal 50 orang saja. 

Sudah menjadi suatu kecenderungan umum di kalangan orang Kristen perdana dulu untuk semakin lama semakin mempermuliakan, mempersakti dan mengagungkan Yesus, bahkan akhirnya sampai menempatkan Yesus setara dengan Allah sendiri, karena mereka dengan tidak mau kalah sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis sengit dengan kalangan-kalangan lain di dunia Yunani-Romawi yang sudah memiliki figur-figur mahaagung mereka sendiri, seperti Kaisar Augustus yang dalam kultus pemujaan Kaisar dipandang orang Roma sebagai sang juruselamat dunia yang kelahirannya membawa kabar baik dan keselamatan untuk seluruh kawasan kekaisaran./1/

Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan terhadap kisah Yesus memberi makan lima ribu orang adalah tafsiran tipologis yang menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dan memandang Perjanjian Baru sebagai penggenap dan penyempurna tujuan-tujuan rohani Perjanjian Lama. Bagaimana kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ini harus dijelaskan dan ditafsirkan secara tipologis?

Tafsiran tipologis

Tipologi (yang berhubungan dengan kata Yunani tupos, dengan kata Latinnya figura) adalah salah satu metode tafsir yang khas dan banyak dijalankan para penulis Perjanjian Baru ketika mereka menggunakan teks-teks Perjanjian Lama dalam rangka menyusun pandangan-pandangan mereka tentang siapa Yesus (kristologi),  bagaimana gereja-gereja harus dibangun dan diatur (ekklesiologi) dan bagaimana doktrin-doktrin Kristen harus dirumuskan (dogmatika).

Dalam metode tafsir tipologis, segala sesuatu yang muncul dalam pekerjaan Allah di zaman Perjanjian Lama dipandang para penulis Perjanjian Baru sebagai, seperti ditulis Gerhard von Rad, “pra-gambaran (pra-figurasi) atau tipologi dari berbagai hal yang terjadi pada masa kehidupan Yesus Kristus di masa Perjanjian Baru.”/2/ Dalam pandangan Jean Daniélou, “esensi tipologi adalah menunjukkan bagaimana kejadian-kejadian di masa lampau merupakan suatu gambaran, suatu figur atau suatu tupos, dari kejadian-kejadian di masa yang akan datang.”/3/ Menurut Walter Eichrodt, “apa yang disebut tupoi [bentuk jamak tupos] … adalah tokoh-tokoh, lembaga-lembaga, dan peristiwa-peristiwa dalam dunia Perjanjian Lama yang dipandang sebagai model-model atau presentasi-presentasi yang dibangun oleh Allah bagi realitas-realitas yang bersesuaian dalam sejarah keselamatan Perjanjian Baru.”/4/

Meskipun ditemukan kesesuaian dalam detail-detail historis, kultural, arkeologis dan biografis antara kejadian-kejadian tertentu di masa Perjanjian Lama dan di masa Perjanjian Baru, dalam penafsiran tipologis detail-detail ini, sebagaimana Von Rad tegaskan, bukanlah hal-hal utama yang menjadi sorotan. Sorotan utama tipologi adalah pesan-pesan teologis atau kerugmata (yang terbungkus dalam detail-detail kisah) atau “pesan-pesan rohani”, yang dilihat berhubungan antara yang disampaikan teks-teks Perjanjian Lama dan yang disajikan teks-teks paralel dalam Perjanjian Baru./5/

Tetapi hal paling penting yang mau disampaikan tafsiran tipologis adalah bahwa figur Yesus Kristus sendiri sebagai anti-tupos (atau anti-type) adalah lebih tinggi, lebih agung dan penyempurna yang tiada taranya dari tokoh-tokoh agung Perjanjian Lama sebagai tupoi; begitu juga halnya dengan segala sesuatu yang terjadi pada Yesus Kristus jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa paralel yang sudah terjadi dalam masa Perjanjian Lama.

Dalam tipologi, kejadian-kejadian yang dialami Yesus Kristus bukan hanya pengulangan kejadian-kejadian dalam Perjanjian Lama atau dibangun berdasarkan model-model kejadian-kejadian dalam masa Perjanjian Lama, tetapi melampaui, menyempurnakan dan merupakan klimaks semua kejadian dalam Perjanjian Lama.

Dalam tipologi, tokoh-tokoh agung dalam Perjanjian Lama bukan hanya dijadikan model-model dasar dalam merancangbangun berbagai figur Yesus oleh para penulis Perjanjian Baru, tetapi oleh mereka Yesus Kristus dibuat melampaui, mentransendir, menyempurnakan dan menjadi puncak dari semua model yang tersedia dalam Perjanjian Lama.

Progres, puncak, kulminasi, penyempurnaan dan pelampauan atas model-model Perjanjian Lama di dalam diri Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru adalah hal-hal terpenting yang mau disampaikan tipologi. Supersesionisme kristosentris adalah sebuah ciri terpenting setiap tafsiran tipologis, dan merupakan kerugma terpenting yang mau disampaikannya./6/

Dengan demikian, sebagaimana akan segera ditunjukkan, dilihat secara tipologis, Yesus yang dipersaksikan dalam kisah-kisah injil tentang pemberian makan lima ribu orang (khususnya dalam Matius 14:13-21) adalah anti-type yang bukan saja sejajar atau semodel dengan, tapi juga  menjadi penyempurna, nabi Musa, nabi Elia, dan nabi Elisa sebagai tupoi dan model-model rekonstruktif dalam para penulis injil Perjanjian Baru merancangbangun kristologi-kristologi.       

Yesus sebagai “Musa yang baru”

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang klop dengan keseluruhan pesan teologis Injil Matius. Bagi penulis Injil Matius, Yesus adalah “Musa yang baru”, bahkan lebih besar dari Musa, yang membawa hukum baru, dan yang mengulangi kembali bahkan melampaui peristiwa-peristiwa besar yang dikisahkan pernah dialami nabi Musa. Harus jangan dilupakan bahwa bagi bangsa Yahudi kapanpun juga, nabi teragung mereka bukanlah Abraham, melainkan Musa. Jadi, dalam rangka bersaing secara ideologis dengan Yudaisme, dengan jitu penulis Injil Matius menciptakan satu figur suci Yesus yang bukan saja sejajar dan semodel dengan, tapi juga melampaui, Musa./7/

Kalau dulu untuk memelihara umat Israel yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka “daging” dan “roti” (yang disebut manna) untuk dimakan (lihat Keluaran 16), kini, untuk umat Allah yang baru, yaitu Israel baru (= gereja Matius), Yesus sebagai Musa yang baru dan bahkan lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para pengikutnya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari tangannya sendiri, sesuatu yang tidak dilakukan oleh nabi Musa dalam zaman Perjanjian Lama.

Jadi, di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah tupos sedangkan Yesus adalah anti-tupos-nya. Bagi Matius, Musa adalah nabi besar dunia Perjanjian Lama yang muncul kembali di dalam figur Yesus pada masa kemudian dalam sejarah Israel, yang semodel dengan Musa tapi juga melampaui Musa, yang melakukan perbuatan-perbuatan yang sejajar dengan, tapi juga lebih hebat dari, yang dilakukan Musa.

Yesus sebagai anti-tupos Elia

Atau, dalam pandangan Matius, Yesus adalah “nabi Elia yang baru”, bahkan lebih agung dari nabi Elia, yang sanggup tanpa habis-habis memberi roti kepada bukan hanya satu orang, tetapi kepada banyak orang, kurang lebih serupa dengan, tapi juga jauh melampaui, apa yang konon pernah dilakukan Elia kepada seorang janda di Sarfat dalam konteks peristiwa yang berbeda (lihat 1 Raja-raja 17:7-16).

Bagi orang Yahudi, juga pada abad pertama Masehi, Elia adalah figur nabi agung yang tak pernah mengalami kematian fisik sebab dipercaya dia dulu telah diangkat ke surga dengan kereta berapi yang ditarik kuda berapi (2 Raja-raja 2:11) dan dia dipercaya akan datang kembali pada “hari Tuhan” (Maleakhi 4:5), dan mereka menunggu kedatangannya sebagai salah satu tahap dari tindakan-tindakan besar Allah untuk memulihkan pamor dan kedaulatan bangsa Yahudi, saat di mana “surya kebenaran” terbit, saat di mana “orang-orang fasik diinjak-injak” oleh umat Israel “di bawah telapak kaki” mereka (Maleakhi 4:2-3).

Komunitas Matius percaya, bahwa Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Yesus, adalah nabi Elia sendiri yang telah datang kembali (Matius 11:13-14) seperti telah dinubuatkan nabi Maleakhi sebelumnya. Dengan menggambarkan Yesus sebagai Elia yang baru dan bahkan melampaui Elia, maka bagi Matius, dengan demikian, Yesus sebetulnya juga lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis./8/

Yesus sebagai anti-tupos Elisa

Menurut Reginald Fuller, “prototipe” sastra bagi beranekaragam kisah injil tentang Yesus memberi makan banyak orang dari sangat sedikit makanan adalah sebuah kisah dalam Perjanjian Lama tentang nabi Elisa melipatgandakan sedikit ketul roti untuk dimakan oleh banyak orang, yang terdapat dalam 2 Raja-raja 4:42-44, yang merupakan bagian dari “siklus Elisa” dalam 2 Raja-raja 2:1-8:29. Selengkapnya kisahnya demikian.

Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: “Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan.” Tetapi pelayannya itu berkata: “Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?” Jawabnya: “Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya.” Lalu dihidangkanlah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman TUHAN. (2 Raja-raja 4:42-44)

Fuller mengikhtisarkan pola dasariah dari kisah tentang Elisa melipatgandakan ketul-ketul roti:
  • Makanan dibawa ke seorang abdi Allah;
  • Jumlah makanan disebutkan dengan angka;
  • Ada keberatan yang logis bahwa jumlah makanan tidak cukup untuk dihidangkan kepada sangat banyak orang;
  • Si abdi Allah selaku sang master mengabaikan keberatan itu, dan memerintahkan makanan tersebut diedarkan;
  • Ternyata orang banyak bukan saja dikenyangkan, tapi makanannya juga bersisa./9/

Tak diragukan bahwa pola dasariah dari kisah Perjanjian Lama tentang Elisa ini memang mendasari keseluruhan kisah injil yang lebih panjang tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan. Tetapi kita juga tahu bahwa dalam kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan orang banyak dari sangat sedikit makanan, Yesus ditampilkan jauh lebih agung dan lebih mempesona. Yesus memberi makan bukan seratus orang (seperti dilakukan Elisa), tetapi lima ribu orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak); Yesus memberi makan bukan dari dua puluh ketul roti (seperti dilakukan Elisa) tetapi dari makanan yang jauh lebih sedikit: lima ketul roti dan dua ekor ikan.

Jadi harus disimpulkan: dalam pandangan penulis Injil Matius, Yesus adalah anti-tupos nabi Elisa sebagai tupos. Yesus bukan saja sejajar dan semodel dengan nabi Elisa, tetapi juga jauh melampaui Elisa, dalam tindakannya memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima ketul roti dan dua ekor ikan, dengan sisa makanan dua belas bakul.

Jadi, pemberian makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan oleh Yesus, hanya ada dalam teks, dalam sastra injil, dalam dunia kisah, dalam dunia ide teologis, bukan dalam sejarah insani faktual.

Kisah injil-injil Perjanjian Baru tentang tindakan hebat Yesus ini disusun dalam bingkai pemahaman dan penafsiran tipologis, bukan dalam bingkai suatu kejadian faktual historis yang melawan nalar dan hukum-hukum alam, kejadian yang disebut mukjizat. Dalam sejarah, tak pernah ada tindakan hebat Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan.

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, siapapun seharusnya dapat memutuskan untuk memandang kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang (lelaki) dengan lima roti dan dua ekor ikan sebagai kisah-kisah fiktif yang ditulis dengan memakai kisah-kisah Perjanjian Lama sebagai model untuk mempertahankan sebuah teologi, sebuah kerugma, atau sebuah mitos tentang Yesus bahwa Yesus itu lebih besar dari Musa, bahwa Yesus adalah nabi yang sejajar dengan bahkan melampaui nabi agung Elia, bahwa Yesus adalah nabi akbar yang semodel dengan, tapi juga jauh melampaui nabi Elisa, yang sanggup untuk mengenyangkan semua pengikutnya, sehingga mereka, sebagai orang Yahudi, perlu berpaling kepadanya dan percaya penuh.

Jadi, kisah-kisah fiktif ini adalah propaganda politis teologis Kristen yang disusun ketika umat Kristen perdana sedang berusaha menjadi besar di tengah tekanan dari berbagai kelompok pesaing, misalnya dari Yudaisme, sekaligus sebagai kisah-kisah devosional yang dapat membangun fanatisme yang makin kuat dalam diri komunitas para penulis injil-injil terhadap Yesus, sang Tuhan mereka./10/

Penutup

Uraian-uraian di atas telah berhasil memperlihatkan bahwa kisah-kisah injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima roti dan dua ekor ikan, bukanlah kisah-kisah tentang sebuah peristiwa sejarah faktual, melainkan kisah-kisah fiktif yang disusun untuk berbagai kepentingan. Juga telah diperlihatkan ada banyak persoalan dan kesulitan besar timbul jika kisah-kisah tersebut diperlakukan sebagai kisah-kisah sejarah faktual.

Selain itu, jika kisah-kisah ini dipahami dan diterima secara literalistik, maka maksud dan tujuan sebenarnya penulisan kisah-kisah ini tak berhasil didapatkan, padahal kisah-kisah ini menjadi penting justru karena maksud dan tujuan penulisannya sama sekali bukanlah untuk menceritakan atau melaporkan kejadian-kejadian di masa lampau, melainkan untuk membimbing dan menguatkan serta memperlengkapi komunitas-komunitas Kristen yang berdiri empat puluh sampai lima puluh lima tahun setelah Yesus wafat dengan seperangkat ajaran dan ideologi yang diperlukan.

Kisah-kisah ini menjadi penting khususnya ketika mereka sedang terlibat dalam suatu persaingan ideologis dengan Yudaisme yang memicu mereka untuk menggambarkan Yesus sebagai “Musa yang baru”, yang lebih agung dari Musa yang sebenarnya, atau sebagai nabi besar yang berdiri berdampingan dengan, bahkan melampaui, nabi Elia dan nabi Elisa. Jadi, lewat kisah-kisah tentang Yesus yang melebihi nabi Musa, nabi Elia, dan nabi Elisa, para pembaca injil-injil didesak untuk meninggalkan agama Yahudi, atau tidak memilih agama Yahudi, tetapi berpaling dan masuk ke dalam agama Kristen versi masing-masing penulis injil. Kisah-kisah ini niscaya adalah kisah-kisah politis!

Dalam usaha memahami kisah-kisah mukjizat Yesus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperlakukan kisah-kisah tersebut sebagai kisah-kisah, bukan sebagai fakta-fakta.

Tentu ada kisah-kisah faktual, tapi juga ada kisah-kisah fiktif, dan kisah-kisah tentang mukjizat Yesus termasuk dalam kisah-kisah fiktif. Karena setiap kitab suci bukan buku sejarah, maka di dalamnya ada lebih banyak kisah fiktif ketimbang kisah faktual.

Jika orang mencari dan mau mendapatkan firman Allah lewat kisah-kisah skriptural, firman Allah juga bisa dengan jelas dan efektif disampaikan lewat media kisah-kisah fiktif, tidak selalu harus lewat media kisah-kisah faktual.

Siapa yang bisa memaksa Allah untuk berfirman hanya lewat kisah-kisah sejarah faktual? Dan jika Allah mau berfirman lewat kisah-kisah fiktif, maka siapa yang dapat melarang-Nya? Yesus menyampaikan firman Allah banyak kali lewat kisah-kisah fiktif yang disusunnya sendiri, yakni perumpamaan-perumpamaannya. Siapa yang mau mempersalahkan Yesus?  

Mereka yang menolak untuk melihat kisah mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti dan 2 ikan sebagai sebuah perumpamaan, sebuah metafora, umumnya tidak suka pada sains modern, apalagi jika sains ini dipakai untuk mengupas teks-teks Alkitab untuk memperlihatkan teks-teks itu sebagai metafora saja. Sains itu berurusan hanya dengan fakta-fakta. Dengan ingin memperlakukan kisah-kisah mukjizat Yesus sebagai kisah-kisah faktual, kisah-kisah tentang fakta-fakta, mereka anehnya ingin memperlakukan teks-teks kitab suci sebagai teks-teks ilmiah, padahal mereka anti-ilmu pengetahuan.


Baca juga:
Yesus berjalan di atas air: betulkah?

Catatan-catatan


/1/ Ihwal Kaisar Augustus disembah sebagai “sang juruselamat dunia” dan kelahirannya dipandang membawa “kabar baik” dan “keselamatan” bagi seluruh kekaisaran, ditulis dalam sebuah prasasti yang mencantumkan dekrit Majelis Provinsi Asia yang dikeluarkan tahun 9 SM. Lihat teks dekrit ini selengkapnya dalam Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas. The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) hlm. 27.

/2/ Gerhard von Rad dalam Claus Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics (Richmond, Virginia: John Knox Press, 1964) hlm. 36.

/3/ Jean Daniélou, From Shadows to Reality (London: Burns and Oates, 1960) hlm. 12.

/4/ Walter Eichrodt  dalam Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 225.

/5/ Gerhard von Rad dalam Westemann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 36-37; lihat juga S. Lewis Johnson, The Old Testament in the New (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1980) hlm. 55.

/6/ Jean Daniélou, From Shadows to Reality, hlm. 12; Walter Eichrodt dalam Westermann, ed., Essays on Old Testament Hermeneutics, hlm. 235.

/7/ Tema tipologis tentang Yesus sebagai “Musa yang baru” dalam Injil Matius telah dieksplorasi dengan bagus antara lain oleh Dale C. Allison, Jr., The New Moses: A Matthean Typology (Minneapolis: Fortress Press, 1993).

/8/ Kendatipun dalam konteks narasi tentang pembaptisan Yesus di sungai Yordan, Yesus, kita baca, mengungkapkan kesediaannya untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis yang malah sebaliknya sungkan untuk melakukannya (Matius 3:14-15).

/9/ Reginald Fuller, Preaching the New Lectionary (Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1974) hlm. 406.

/10/ Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, khususnya yang terdapat dalam Lukas 9:12-17, dapat juga dijelaskan dengan memakai pendekatan tafsir sosial saintifik, dengan memakai model “patron-klien”, sebagaimana sudah dilakukan oleh Ekaterini Tsalampouni, “The Story of Feeding the Multitudes in Luke 9:12-17: A Social-Scientific Approach” (February 2012), tersedia online di http://www.bibleinterp.com/opeds/tsa368003.shtml.