Sunday, September 20, 2009

Kekristenan Yahudi Sejauh Tercermin dalam Surat Galatia dan Surat Yakobus

Tulisan ini berfokus pada dua surat dalam Perjanjian Baru yang berisi polemik yang tajam dan kentara antara kekristenan yang dibela Rasul Paulus (lihat gambar kiri) dan kekristenan yang dipertahankan orang-orang yang menentang sang Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini. Dua surat ini adalah salah satu surat asli Paulus, yakni surat Galatia, dan surat yang memakai nama Yakobus sebagai penulisnya. Bagian-bagian tertentu dari kedua surat ini akan dianalisis untuk menemukan gagasan-gagasan teologis apa yang dipertahankan oleh orang-orang yang menentang Rasul Paulus, yang dipertentangkan dengan gagasan-gagasan teologis Paulus sendiri. Yang mau ditemukan melalui analisis ini adalah apakah gagasan-gagasan lawan-lawan Rasul Paulus, sejauh tercermin dalam kedua surat ini, adalah gagasan-gagasan yang dapat dikategorikan sebagai gagasan-gagasan kalangan Yahudi-Kristen.


1. Surat Galatia


Telah kita bahas dalam sebuah tulisan yang lalu (klik di sini), bahwa di dalam surat Galatia, salah
satu surat asli Rasul Paulus, sang Rasul mengacu ke Konsili Yerusalem yang diadakan suatu waktu dalam kurun dua dekade pertama gerakan Kristen yang dimulai oleh Yesus di Galilea dan dilanjutkan oleh Rasul Yakobus Si Adil, saudara Yesus, di Yerusalem, di Yudea, melalui pendirian Jemaat Induk (Yahudi-Kristen) Yerusalem, yang dikenal sebagai jemaat ebyonim, jemaat “orang-orang miskin.” Juga kita telah perhatikan bahwa dalam surat Galatia ini, Rasul Paulus menyebut-nyebut “saudara-saudara palsu” (pseudadelfoi; Galatia 2:4) yang dituduhnya mau merampas “kemerdekaan Kristen” yang sudah diterima jemaat ini dan mau membawa mereka kepada kehidupan yang terikat pada hukum Taurat Musa, khususnya kewajiban sunat. “Saudara-saudara palsu” ini, karena disebut sebagai “saudara” (adelfos), tentulah orang-orang Kristen; dan karena mereka mau memaksakan kehendak mereka agar orang non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen harus disunat, tentulah mereka adalah orang Yahudi. Jadi, orang-orang yang menentang Rasul Paulus ini adalah orang-orang Kristen-Yahudi. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, “saudara-saudara palsu” ini sudah aktif bergerak menentang Rasul Paulus di jemaat campuran di Antiokhia, dengan mereka menuntut agar orang Kristen non-Yahudi disunat kalau mereka mau sepenuhnya menjadi orang Kristen. Untuk menyelesaikan persoalan ini, yakni persoalan apakah sunat masih harus dilakukan oleh orang Kristen non-Yahudi, Konsili Yerusalem digelar dan menghasilkan kesepakatan untuk membagi wilayah pelayanan Rasul Paulus dan wilayah pelayanan tiga soko guru jemaat Yerusalem (Rasul Yakobus Si Adil, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes) secara etnografis, bukan secara geografis: Rasul Paulus (dan Barnabas) pergi memberitakan injilnya kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi; sedangkan tiga soko guru ini kepada bangsa Yahudi.

Nah, setelah “saudara-saudara palsu” itu dikalahkan dalam Konsili Yerusalem ini dalam debat mengenai sejauh mana sunat masih atau sudah tidak mengikat orang Kristen non-Yahudi, mereka ternyata tidak mundur, melainkan tetap aktif menentang Rasul Paulus dan mengkhotbahkan di jemaat-jemaat yang telah didirikan Rasul Paulus perihal kewajiban sunat yang harus dilaksanakan oleh orang Kristen non-Yahudi. Mereka inilah yang juga menentang Paulus di jemaat Galatia dan meminta jemaat ini untuk memenuhi kewajiban sunat. Apa yang mereka beritakan di jemaat Galatia ini, dan apa yang mereka lakukan di sana?


1.1. Suatu “injil lain”


Langsung setelah Rasul Paulus menulis salamnya kepada jemaat di Galatia (1:1-5), dia mengungkapkan rasa kaget dan ketidaksenangannya terhadap keadaan yang sedang terjadi di jemaat ini. Tulisnya (tentu dengan nada emosional), “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu dan mengikuti suatu injil lain (heteron euaggelion), yang sebenarnya bukan injil” (1:6-7). Injil lain ini diberitakan oleh pseudadelfoi itu, yang dinyatakannya sebagai orang-orang yang sudah “mengacaukan” dan “menghasut” jemaat (5:10, 12), dan karena itu sudah pada tempatnya, dalam penilaian Rasul Paulus, mereka harus dikutuk, dan inilah yang dilakukan Paulus, yakni mengutuk mereka sampai dua kali (1:8-9).


Apa isi injil lain ini? Injil lain ini adalah bahwa orang non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen melalui iman mereka pada Yesus Kristus (Galatia 2:16) tetap harus menyunatkan diri mereka. “Saudara-saudara palsu” itu, tulis Rasul Paulus, “berusaha memaksa kamu untuk bersunat” (6:12); dan bukan hanya itu, mereka juga berhasil memengaruhi orang Kristen non-Yahudi di Galatia (bahwa mereka bukan-Yahudi, lihat Galatia 4:8) untuk “memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun” (4:10), yakni memelihara kalender hari-hari raya Yahudi.

Jelas, lawan-lawan Rasul Paulus di jemaat Galatia ini adalah orang-orang Yahudi Kristen yang tetap mengikatkan diri pada agama dan adat-istiadat Yahudi, yang sangat boleh jadi mendapat dukungan dari jemaat induk di Yerusalem dan dari tiga soko guru di sana, sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya.

1.2. Menolak status kerasulan Paulus
Persis pada bagian pembuka surat Galatia, Rasul Paulus menekankan dengan kuat bahwa dia adalah “seorang rasul” yang ditetapkan bukan oleh “manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (1:1), dan bahwa injil yang diberitakannya diterimanya bukan dari manusia melainkan dari “penyataan Yesus Kristus” (2:12 [di’ apokalupseōs Iēsou Khristou]; bdk ayat 16). Bahkan Paulus sampai perlu menegaskan bahwa dia sudah dipilih dan dipanggil untuk menjadi seorang rasul bagi bangsa-bangsa bukan-Yahudi “sejak dalam kandungan ibunya” (1:15). Seperti dilihat oleh Lüdemann (1989: 98), sikap Paulus yang defensif seperti ini menunjukkan bahwa di jemaat Galatia ada kalangan yang mempertanyakan validitas kerasulan Paulus, sehingga untuk menangkis hal negatif ini dia perlu sampai dua kali menegaskan keabsahan status kerasulannya.

Kita dapat berasumsi bahwa validitas kerasulan Paulus bisa dipertanyakan tentu karena lawan-lawan Paulus mengetahui bahwa dia bukanlah salah seorang saksi mata kehidupan Yesus (bdk argumen yang diajukan dalam Pseudo-Klementin Homili Buku XVII, pasal 19,1-7), dan bahwa dia baru menjadi atau mengklaim diri sebagai rasul setelah rasul-rasul lain yang merupakan saksi mata kehidupan Yesus tampil di muka umum (1:17).

Tetapi, penolakan terhadap keabsahan status rasuli Paulus juga bisa ditimbulkan oleh ketergantungan Rasul Paulus kepada para pemimpin Gereja Induk Yerusalem. Memang Paulus secara eksplisit menegaskan lebih dari satu kali bahwa dia adalah seorang rasul yang independen, mandiri, yang tidak bergantung pada orang lain, bahkan pada tiga soko guru terpandang Gereja Induk Yerusalem sekalipun, sebab jabatan kerasulannya diklaimnya diterimanya langsung dari Yesus Kristus sendiri (Galatia 1:1; 1:16-18; 2:1-10). Tetapi, pernyataan-pernyataan tentang kemandiriannya sebagai seorang rasul justru dapat ditafsirkan sebaliknya bahwa Rasul Paulus memang bergantung pada para pemimpin utama jemaat Yahudi-Kristen di Yerusalam, dan ketergantungan ini terlalu kentara untuk tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Nah, persoalannya di sini: Jikalau Rasul Paulus memang bergantung pada, atau memelihara hubungan baik dengan, tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem, dia mestinya memberitakan injil yang sejalan dengan injil yang diberitakan para soko guru itu, khususnya Rasul Yakobus Si Adil, yakni injil yang mewajibkan orang Kristen non-Yahudi untuk mengamalkan Hukum Taurat, injil yang nomistik. Tetapi, karena kenyataannya Rasul Paulus memberitakan injil yang anti-nomistik, maka ketergantungan dan hubungan dekatnya dengan Gereja Induk Yerusalem dan tiga soko guru di sana diragukan atau dipertanyakan.

Bagi lawan-lawan Rasul Paulus, kerasulan Paulus teruji dan tak dapat diragukan hanya jika dia sungguh-sungguh bergantung pada tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem, bersahabat dengan mereka, didukung penuh oleh mereka, dan memberitakan injil yang nomistik, yang tetap mengikat orang Kristen non-Yahudi pada hukum Taurat Musa. Argumen seperti ini juga diketengahkan dalam bagian dokumen Pseudo-Klementin yang baru dirujuk di atas. Tetapi, karena dalam kenyataannya Rasul Paulus mempertahankan dan menyebarluaskan suatu pandangan teologis yang tidak sejalan dengan konsepsi tentang injil yang dipegang para soko guru itu, maka muncullah “saudara-saudara palsu” yang mempersoalkan keabsahan status kerasulannya dan ajaran-ajarannya.

Selain itu, lawan-lawan Paulus ini juga mengetahui bahwa pada waktu Konsili Yerusalem diadakan, tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem tidak sepatah katapun menyatakan pengakuan mereka terhadap status kerasulan Paulus; yang dicapai sebagai suatu kesepakatan pada waktu itu hanyalah pembagian wilayah kerja secara etnografis antara Paulus dan tiga pemimpin besar jemaat Yahudi-Kristen tertua di Yerusalem ini berdasarkan pertimbangan bahwa Paulus memang telah mendapatkan sukses besar dalam misi evangelisasinya terhadap bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Pengakuan terhadap keberhasilan kerja Paulus tidak otomatis berarti suatu pengakuan terhadap status kerasulannya.


2. Surat Yakobus


Surat Yakobus dibuka dengan salam dari “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus.” Salam ini ditujukan “kepada kedua belas suku di perantauan” (Yakobus 1:1). Pembaca atau penerima surat ini tidak bisa memastikan, apakah Yakobus si penulis surat ini adalah Yakobus Si Adil, saudara Yesus, atau orang lain yang kita tidak ketahui identitasnya, yang memakai nama Yakobus sebagai nama samaran. Para penafsir modern terbagi dua. Ada lebih banyak pakar (misalnya Gerd Lüdemann) yang menyatakan surat Yakobus adalah sebuah surat pseudonimus, surat yang ditulis oleh orang lain yang memakai nama palsu atau nama samaran Yakobus.


Ada juga yang menyatakan bahwa surat Yakobus adalah surat asli yang ditulis oleh Yakobus, saudara Yesus (misalnya Patrick J. Hartin 1991). Alasannya, antara lain, karena surat Yakobus memuat banyak pernyataan yang sejajar dengan ucapan-ucapan tua dan asli yang diucapkan Yesus, yang terdapat dalam sebuah dokumen yang dinamakan Injil “Q” (dokumen yang memuat hanya ucapan-ucapan Yesus yang dipakai oleh Matius dan Lukas sebagai sumber besar kedua selain Injil Markus sebagai sumber besar pertama) atau dalam sumber khusus yang dipakai hanya oleh Matius (sumber M) atau hanya oleh Lukas (sumber L). Hartin (hlm 141-142) mendaftarkan paralelisme antara keduanya, antara lain: Yakobus 1:2 //Lukas 6:22-23//Matius 5:11-12 (tentang hal bersuka cita ketika mengalami penganiayaan); Yakobus 1:4//Matius 5:48 (tentang panggilan menjadi sempurna); Yakobus 1:22,23//Matius 7:24, 26//Lukas 11:9, 13, 9-10 (tentang menjadi pelaku firman); Yakobus 2:5//Matius 5:3,5//Lukas 6:20 (tentang orang miskin); Yakobus 3:12//Matius 7:16-18//Lukas 6:43-44 (tentang buah dari pekerjaan yang baik); Yakobus 3:18//Matius 5:9 (tentang menjadi pembawa damai); Yakobus 4:4//Matius 12:39//Lukas 11:29 (tentang melayani dua tuan); Yakobus 4:8//Matius 5:8 (tentang hati yang murni/suci); Yakobus 4:9//Lukas 6:25 (tentang ihwal meratap dan menangis); Yakobus 5:2-3//Matius 6:19-21//Lukas 12:33-34 (tentang harta di surga); Yakobus 5:6//Lukas 6:37 (tentang jangan menghakimi); Yakobus 5:10//Matius 5:11-12//Lukas 6:23 (tentang nabi-nabi yang menderita); dan sebagainya. Selain itu, sebagaimana Yakobus si Adil adalah seorang monoteistik yang ketat, penulis surat Yakobus juga menekankan monoteisme (2:19). Dalam surat ini, “jemaat” atau “gereja” (ekklēsia; Yakobus 5:14) disebut juga sebagai rumah ibadat Yahudi, sinagoge (sunagōgē; Yakobus 2:2). Jadi, ada bukti-bukti teks yang kuat bahwa penulis surat Yakobus mengenal tradisi-tradisi tua ucapan-ucapan Yesus, saudara Yakobus, dan tidak asing dari lingkungan keagamaan Yahudi.

Tetapi, pada kesempatan ini kita tidak perlu ikut dalam debat yang belum selesai perihal apakah surat Yakobus ditulis oleh Rasul Yakobus Si Adil, saudara Yesus, atau sebagai sebuah surat pseudonimus, surat dengan penulisnya memakai nama samaran atau nama gadungan untuk memberi suatu wibawa rasuli pada surat yang ditulisnya dan meningkatkan kepercayaan para penerima surat ini dulu. Selain itu, kita juga tidak tahu sampai sejauh mana Rasul Yakobus Si Adil menguasai bahasa Yunani (Koine) sehingga dia bisa menulis sendiri dalam bahasa ini.

Yang perlu kita perhatikan saat ini adalah beberapa pernyataan dalam surat ini, khususnya dalam pasal 2, mengenai bagaimana manusia menerima “keselamatan” (sōtēria; Yakobus 2:14), bagaimana “manusia dapat dibenarkan” (dikaioutai anthrōpos; Yakobus 2:24-25 ), yang tampaknya ditulis untuk melawan pandangan-pandangan Rasul Paulus mengenal hal yang sama. Kita sudah mengetahui bahwa para pemimpin kekristenan Yahudi perdana, khususnya Rasul Yakobus Si Adil, sangat anti-Paulus. Kalau bisa diperlihatkan bahwa surat Yakobus pasal 2 memang berisi pernyataan-pernyataan yang sengaja ditulis untuk melawan pandangan Rasul Paulus, kita diperkaya lagi dengan pengetahuan mengenai pandangan kekristenan Yahudi sejauh tercermin dalam surat ini.


2.1. Membandingkan Yakobus 2:10 dengan Galatia 5:3


Yakobus 2:10 berbunyi “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu (holon ton nomon), tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, dia bersalah terhadap seluruhnya.” Galatia 5:3, “Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa dia wajib melakukan seluruh hukum Taurat (holon ton nomon).” Kedua teks di atas memiliki kesamaan kosa kata hanya pada frasa “seluruh hukum Taurat”; selebihnya, keduanya memakai kata-kata yang berbeda.


Tetapi, sejauh menyangkut isi, kedua teks itu sebetulnya memperlihatkan bahwa si penulis surat Yakobus mengenal Galatia 5:3 (bdk juga Galatia 3:10b) dan melawannya dengan suatu pandangan yang berbeda. Pernyataan Paulus dalam teks Galatia ini dirumuskan dalam rangka untuk mengingatkan jemaatnya bahwa mereka harus tidak memilih jalan Taurat untuk mendapatkan pembenaran, sebagaimana ditulisnya pada ayat berikutnya, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat” (Galatia 5:4). Sebaliknya, dengan menempatkan teks Yakobus 2:10 dalam konteks perikopnya (2:5-13), kita harus menyatakan bahwa si penulis surat Yakobus justru menulis bagian ini untuk menantang jemaatnya memenuhi seluruh hukum Taurat. Jalan pemikirannya demikian: Jemaat “berbuat baik” jika mereka menjalankan “hukum utama”, yakni “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri” (2:8; Imamat 19:18). Tetapi jika jemaat “memandang muka”, yakni mengasihi hanya orang kaya dan “menghinakan orang-orang miskin” (ayat 9, 6), jemaat “berbuat dosa” dan jika mereka disorot oleh hukum utama ini, mereka nyata “melakukan pelanggaran” (ayat 9). Jadi, jika mereka mau menjalankan hukum utama itu, mereka harus menjalankan hukum ini tanpa memandang muka orang yang mereka harus kasihi. Hukum ini harus diberlakukan total kepada semua manusia tanpa pilih bulu, sebab, tulisnya, “Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (2:5b). Jika Allah memilih dan memedulikan orang miskin, hal ini adalah juga suatu hukum yang wajib dijalankan oleh jemaat, yakni mengasihi orang miskin juga. Pada ayat 11, si penulis surat Yakobus memberi sebuah contoh lain, ketika dia menegaskan bahwa Allah yang memerintahkan “Jangan berzinah”, juga memerintahkan umat-Nya “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13-14; Ulangan 5:17-18). Nah, barangsiapa yang mau melakukan hukum Allah, orang itu harus sekaligus tidak berzinah dan tidak membunuh; jadi, melakukan hukum Allah harus secara keseluruhan, tidak boleh sepenggal-sepenggal. Tulisnya, “Jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (ayat 11).

Jelas, kalau Rasul Paulus dalam Galatia 5:3 menghendaki jemaatnya membebaskan diri dari seluruh tuntutan hukum Taurat, penulis surat Yakobus justru menekankan hal yang sebaliknya, yakni jemaat harus “menjalankan atau menuruti seluruh hukum Taurat” tanpa kecuali, jika mereka dalam kehidupan ibadah mereka mau “menjadi sempurna dan lengkap” (teleoi kai oloklēroi; Yakobus 1:4). Dalam Perjanjian Baru, sebagaimana dicatat oleh Lüdemann (1989:142), ungkapan “menjalankan atau menuruti seluruh hukum Taurat” hanya muncul dalam teks surat Yakobus ini (2:8, 10).

Jadi, kekristenan yang diamalkan oleh jemaat penerima surat Yakobus adalah kekristenan yang mengikatkan diri sepenuhnya pada hukum Taurat; ini adalah jemaat Yahudi-Kristen.


2.2. Membandingkan Yakobus 2:14-26 dengan Roma 4:2,3,
Galatia 2:16, Roma 3:28


Yakobus 2:21 memuat sebuah pertanyaan retorika, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn edikaiōthē), ketika dia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Paulus, di Roma 4:2, menulis, “Sebab jika Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn edikaiōthē), maka dia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” Tentang Abraham, kedua teks ini memiliki kesamaan kata-kata pada frasa “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya”. Sebelum Paulus menulis surat-suratnya, khususnya menulis teks Roma 4:2 ini, tidak ada seorang Yahudi pun yang tidak memandang Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya. Hanya bagi Rasul Paulus, Abraham menerima “pembenaran” (dikaiosunē) dari Allah bukan karena perbuatan-perbuatannya, tetapi karena “iman”-nya (pistis) (Roma 4:3).


Tetapi si penulis surat Yakobus, melalui pertanyaan retorikanya ini, menyatakan hal sebaliknya, bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, khususnya ketika Bapak Leluhur Israel ini mempersembahkan Ishak, anaknya. Dengan demikian, si penulis surat Yakobus ini mengenal pandangan Rasul Paulus ini dan membantahnya; pandangannya yang diungkapkan secara retoris ini menunjukkan bahwa dia mengutip sekaligus membantah dan menyepelekan pandangan Rasul Paulus. Yakobus 2:23 berbunyi, “(Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan), Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Dengan memakai kata-kata (dalam bahasa Yunani) yang sama persis dengan yang dipakai dalam Yakobus 2:23, dalam Roma 4:3 kita temukan sebuah pernyataan yang sama, yang ditulis Rasul Paulus, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau Rasul Paulus mengutip teks ini dari Kejadian 15:6 untuk mendukung pendapatnya bahwa Abraham dibenarkan Allah karena iman atau kepercayaannya (pistis), dan bukan karena perbuatannya (to ergon; Roma 4:2), maka si penulis surat Yakobus justru mau menegaskan peran perbuatan (to ergon) yang membuat “iman menjadi sempurna (atau lengkap)” (hē pistis eteleiōthē) (Yakobus 2:22; juga ayat 24). Jadi, si penulis surat Yakobus menerima Abraham sebagai contoh orang yang dibenarkan Allah, tetapi tidak untuk mempertentangkan iman dengan perbuatan, melainkan sebagai contoh tentang perbuatan yang membuat iman menjadi sempurna atau lengkap. Iman saja, bagi penulis surat Yakobus, tidak cukup untuk orang dibenarkan oleh Allah; tulisnya, “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya (monon) karena iman” (Yakobus 2:24).

Yakobus 2:24 perlu dibandingkan dengan teks-teks Paulus yang bertolakbelakang dengannya, yakni Galatia 2:16, “Tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman kepada Yesus Kristus”; dan juga Roma 3:28 yang berbunyi, “Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena dia melakukan hukum Taurat (khōris ergōn nomou).” Harus dicatat bahwa sebelum Rasul Paulus menulis surat-suratnya yang di dalamnya dia mempertentangkan iman dan perbuatan, tidak ada seorang Yahudi pun pernah menulis hal yang sama. Teks dalam 4 Ezra 13:23; 7:24; dan 8:31 ff., memang dekat dengan pandangan Paulus, tetapi penulisnya tidak memandang iman dan perbuatan sebagai dua hal yang bertentangan.

Rasul Paulus menekankan bahwa hanya oleh iman saja orang menerima pembenaran dari Allah; pengamalan atau “kerja hukum Taurat (ta erga to nomou) sama sekali tidak memberi tambahan apapun pada prestasi manusia untuk dia menerima pembenaran dari Allah. Bagi Rasul Paulus, hanya oleh iman manusia dibenarkan oleh Allah; dan baginya, pembenaran melalui iman tidak bisa ada bersama-sama dengan pembenaran melalui pelaksanaan hukum Taurat.

Penulis surat Yakobus menolak kedudukan eksklusif iman dalam orang menerima pembenaran Allah sebagaimana dipahami Paulus, ketika dia menulis teks Yakobus 2:24 yang di dalamnya dia menegaskan bahwa manusia dibenarkan bukan “hanya (monon) karena iman”. Dengan demikian jelaslah bahwa Yakobus 2:24 ditulis untuk menolak atau melawan Rasul Paulus yang menegaskan hanya iman yang bisa menyelamatkan manusia. Bagi si penulis surat Yakobus, manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn), dan perbuatan-perbuatan menentukan kesempurnaan atau kelengkapan iman seseorang (Yakobus 2:22). Karena dia menolak fungsi eksklusif iman dalam pencapaian keselamatan (sebagaimana diajarkan Rasul Paulus), maka kalau dia menegaskan peran perbuatan yang dikontraskan dengan peran iman dalam orang menerima pembenaran Allah (seperti dalam Yakobus 2:24), maka tentu saja “perbuatan” (ergon) yang dimaksudkannya adalah “pengamalan Taurat” (ta erga tou nomou).

Tentu saja, kita dapat membantah si penulis surat Yakobus yang menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak memberi tempat pada moralitas atau perilaku etis, atau perbuatan, dalam manusia mencapai keselamatan dan menerima pembenaran Allah. Khususnya kalau kita perhatikan teks seperti Roma 1:5 yang menempatkan iman sejalan dengan ketaatan, yang diungkapkan sebagai “ketaatan iman” (eis hupakoēn pisteōs); atau teks Galatia 5:6 yang mengenal konsep “iman yang bekerja oleh kasih” (pistis di’ agapēs energoumenē). Bahkan dalam Galatia 5:14, Rasul Paulus menulis dengan tegas bahwa “seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’”

Tetapi, penolakan si penulis surat Yakobus terhadap Rasul Paulus tentunya ditimbulkan oleh pandangan yang umum ditemukan dalam surat-surat Paulus, khususnya surat Galatia dan surat Roma, yang memang sangat menekankan fungsi eksklusif iman (pistis) dalam pencapaian keselamatan dan penerimaan pembenaran dari Allah. Selain itu, di kalangan orang Kristen Yahudi perdana, sebagaimana sudah kita ketahui, sudah tertanam suatu kesimpulan umum dalam diri mereka bahwa Rasul Paulus, sebagai Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi, telah menepis sama sekali peran hukum Taurat dalam orang mencapai keselamatan.

Nah, si penulis surat Yakobus ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari orang-orang Yahudi-Kristen lainnya, misalnya Yakobus si Adil atau si penulis dokumen Pseudo-Klementin, yang menolak Rasul Paulus dan menyerang doktrin keselamatan yang diajarkannya yang telah menggeser peran Taurat ke posisi yang sangat tidak signifikan dan sangat tidak menentukan dalam orang menerima keselamatan dan pembenaran Allah.


3. Penutup


Telah diperlihatkan di atas bahwa dalam jemaat Galatia, Rasul Paulus ditentang oleh kalangan yang disebutnya “saudara-saudara palsu” yang menuntut orang Kristen bukan-Yahudi menyunatkan diri mereka jika mereka mau menjadi bagian dari gereja Yesus Kristus. Para penentang Rasul Paulus ini adalah orang-orang Yahudi-Kristen yang berasal dari Gereja Induk Yerusalem, dan dengan demikian mereka menganut dan mempertahankan pandangan-pandangan teologi Yahudi-Kristen seperti yang dianut dan dipertahankan para soko guru jemaat induk ini, yakni Rasul Yakobus, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Lawan-lawan Paulus ini bukan saja menolak injil yang diberitakan Paulus, tetapi juga mempersoalkan validitas status kerasulannya berhubung sang Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini tidak menyebarkan injil yang sejalan dengan injil yang diberitakan para pemimpin jemaat induk Yerusalem, dan juga karena dia bukan seorang saksi mata yang sama-sama bekerja dengan rasul-rasul semula Yesus Kristus.


Dalam surat Yakobus yang isinya memperlihatkan warna keyahudian, kita temukan suatu penolakan kuat si penulis surat ini terhadap ajaran Rasul Paulus yang menegaskan bahwa orang dibenarkan atau diselamatkan hanya karena iman (pistis), dan bukan karena “melakukan hukum Taurat” (ta erga tou nomou). Sebaliknya, si penulis surat Yakobus ini menekankan bahwa orang dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, atau karena mengamalkan Taurat, dan bukan “hanya karena iman”. Baginya, iman menjadi sempurna dan lengkap kalau disertai dengan perbuatan-perbuatan seperti diperintahkan Taurat Musa.

Jadi, surat Galatia dan surat Yakobus mencerminkan suatu bentuk kekristenan Yahudi yang dipertahankan para pembelanya yang sedang berhadapan dengan kekristenan yang dibangun Rasul Paulus. Ciri pokok injil yang dipertahankan kekristenan Yahudi ini adalah injil yang nomistik, kontras dengan injil Paulus yang anti-nomistik. Bagi para pembela kekristenan Yahudi, ikatan perjanjian (covenant) yang dibuat Allah dengan Musa melalui pemberian Hukum (nomos) Musa (di Gunung Sinai), tidak dibatalkan oleh ikatan perjanjian yang dibuat Allah dengan gereja melalui Yesus Kristus. Jadi, injil Yahudi-Kristen adalah suatu injil yang berbasis pada perjanjian Allah dengan Musa sekaligus pada perjanjian Allah dengan Yesus; inilah yang disebut injil nomisme kovenan (covenantal nomism).


Sumber rujukan:


(1) Gerd Lüdemann, Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989) 97-103; 140-149.

(2) Patrick J. Hartin, James and the Q Sayings of Jesus (Sheffield: JSOT Press, 1991).

(3) Jouette M. Bassler, ed., Pauline Theology. Vol I: Thessalonians, Philippians, Galatians, Philemon (Minneapolis: Fortress Press, 1991) 125-179.



Sunday, September 13, 2009

Yakobus Si Adil, Saudara Yesus, dan Konsili Yerusalem serta Insiden di Antiokhia dan Posisi Rasul Paulus

Dalam Perjanjian Baru, Yakobus (lihat gambar di sebelah kiri) disebut sebagai “saudara Yesus” (Markus 6:3; Galatia 1:19); demikian juga dalam Injil Orang Ibrani 9:4, dalam tulisan Hegesippus (Eusebius, Historia Ecclesiastica 2.23) dan dalam tulisan Flavius Yosefus, Antiquities Buku 20:200. Untuk membedakannya dari orang-orang lain yang memakai nama yang sama, misalnya dari Yakobus, saudara Yohanes (Kisah Para Rasul/KPR 12:2), tradisi Yahudi-Kristen menambahkan sebutan “si Adil” (ho dikaios; Saddik) kepada Yakobus saudara Yesus ini (Injil Thomas logion 12). Menurut Hegesippus (dalam Eusebius, Historia Ecclesiastica 2.23) sebutan “si Adil” untuk Yakobus sudah dipakai sejak dia masih bersama Yesus. Kalau tradisi Perjanjian Baru mencatat Maria Magdalena (lihat Matius 28:1-10; Markus 16:9; Lukas 24:10; dan Yohanes 20:11-18) atau Rasul Petrus (lihat 1 Korintus 15:5; Yohanes 20:1-10) sebagai saksi pertama kebangkitan Yesus, tradisi Yahudi-Kristen yang terpelihara dalam Injil Orang Ibrani 9 mencatat bahwa Yakobus si Adil adalah saksi pertama kebangkitan Yesus.

Hegesippus, dalam karyanya, Buku V Hupomnemata (yang dikutip Eusebius, Historia Ecclesiastica 2.23) melaporkan bahwa Yakobus dipandang orang Yahudi sebagai Imam Besar yang disegani; juga Epifanius (dalam karyanya, Panarion 29.4; 78.13-14) mencatat hal yang sama. Lebih dari itu, Hegesippus bahkan menuturkan bahwa Yakobus setiap hari memasuki Ruang Maha Kudus dari Bait Allah untuk di situ dia memanjatkan doa syafaat bagi pengampunan dosa bangsa Israel; dan bahwa Yakobus menjalani suatu kehidupan asketis sebagai seorang nazir.

Dalam tradisi Kristen sebagaimana tercatat dalam Galatia 2:9; KPR 15:13; 21:18, dan juga dalam Injil Thomas logion 12, Yakobus si Adil dikenal dan dikenang sebagai seorang pemimpin besar atau soko guru terpandang jemaat Yahudi-Kristen yang berpusat di Yerusalem sebelum tahun 70, yang juga dipimpin oleh dua soko guru lainnya, Yohanes dan Petrus. Selain itu, dalam Pseudo-Klementin Rekognisi Buku I, pasal 43, dicatat bahwa setelah tujuh tahun dari saat kesengsaraan dan kematian Yesus, Gereja Tuhan yang dibentuk di Yerusalem berkembang pesat dan berlipatganda, di bawah kepemimpinan Uskup Yakobus, saudara Yesus, yang ditahbis menjadi uskup oleh Yesus sendiri (lihat juga Buku I, pasal 66, 68, 70, 72). Juga perlu dicatat bahwa dalam Surat Petrus kepada Yakobus, yang ditempatkan pada awal Pseudo-Klementin Homili, Yakobus si Adil disebut sebagai “Tuan dan Uskup gereja yang kudus”.

Tradisi Kristen skriptural juga mencatat bahwa pada masa kepemimpinan Yakobus, saudara Yesus, jemaat Yahudi-Kristen Yerusalem, dengan dihadiri Paulus dan Barnabas, menyelenggarakan suatu konsili penting untuk menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh masuknya bangsa-bangsa lain ke dalam komunitas gereja, persoalan mengenai sampai sejauh mana orang Kristen non-Yahudi terikat atau tidak terikat pada hukum Taurat, khususnya pada keharusan untuk disunat (lihat Galatia 2:1-10; KPR 15:1-21; 21:15-26).

Selain itu, minimal ada dua tradisi non-skriptural yang melaporkan ihwal kematian Yakobus, si Adil. Menurut Hegesippus, Yakobus si Adil mati terkena pentung besar pada kepalanya dalam suatu huru-hara di suatu kompleks Bait Allah pada masa perayaan Paskah. Huru hara ini timbul menyusul suatu perdebatan sengit apakah Yesus itu sang penyelamat atau bukan, antara Yakobus dan orang-orang dari sejumlah aliran Yahudi, yang melibatkan banyak orang Yahudi lainnya, para ahli Taurat dan orang Farisi. Tradisi lainnya tentang ihwal kematian Yakobus si Adil berasal dari seorang sejarawan Yahudi Flavius Yosefus dalam karyanya Antiquities Buku 20:197-203. Tetapi laporan Hegesippus dan laporan Yosefus perihal cara dan penyebab kematian Yakobus si Adil tidak harmonis.

Pada kesempatan ini, ada tiga hal yang akan diselidiki dengan singkat. Pertama, ihwal peran Yakobus dan posisi Rasul Paulus dalam Konsili Yerusalem dan keputusan apa yang diambil di konsili itu dalam mengatasi persoalan yang telah disebut di atas, yakni persoalan sampai sejauh mana Taurat, khususnya kewajiban sunat, masih mengikat orang Kristen yang berasal dari bangsa bukan-Yahudi, sementara bagi orang Yahudi-Kristen di Yerusalem, yang terhimpun di sekitar Yakobus, Taurat mengikat mereka sepenuhnya. Hal kedua yang akan disorot adalah insiden di Antiokhia yang terjadi menyusul Konsili Yerusalem, yang melibatkan kelompok Yakobus yang sangat ketat mengamalkan Taurat. Ketiga, ihwal penyebab sebetulnya dari kematian Yakobus. Hal yang ketiga ini penting diselidiki sebab, seperti baru saja dikatakan, ada dua versi berbeda tentang penyebab dan cara kematian Yakobus; dan penyelidikan tentang hal ini dapat menyingkapkan ihwal apakah Yakobus si Adil memang akan berkompromi mengenai kedudukan Taurat Musa bagi orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi seperti digambarkan belakangan dalam KPR 15:1-21; 21:15-26. Pengetahuan mengenai hal yang ketiga ini akan membantu kita untuk menyelidiki ihwal yang pertama. Karena itu, yang akan dianalisis pertama adalah ihwal cara dan penyebab kematian Yakobus si Adil.


1. Ihwal Kematian Yakobus, Saudara Yesus


Dalam penilaian saya, tuturan Hegesippus (abad kedua M) mengenai penyebab dan cara kematian Yakobus si Adil berisi beberapa hal yang tidak logis. Jika memang Yakobus betul dipandang sebagai Imam Besar, di samping juga sebagai seorang nazir Allah, oleh bangsa Yahudi sendiri pada umumnya, dan khususnya oleh orang Yahudi dan para pemuka keagamaan mereka yang berdiam di Yerusalem, maka lebih besar kemungkinannya untuk dia didengarkan dan diterima, apapun pandangannya tentang Yesus, ketimbang ditolak. Tetapi menurut Hegesippus, perkataan dan testimoni Yakobus mengenai status dan posisi Yesus malah menyulut huru-hara besar di suatu kompleks Bait Allah, yang berakhir dengan kematiannya ketika dia terkena pentung besar yang dilemparkan ke kepalanya. Sebagai seorang Imam Besar, sudah seharusnya Yakobus si Adil dijaga dan dilindungi, demi keselamatannya, bukan dibiarkan sendirian di tengah huru-hara besar itu. Lagi pula, sebagai Imam Besar, yang tugasnya memutuskan perkara-perkara prinsipil dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi, sangat tidak logis kalau dia harus berhadapan dengan orang banyak yang mudah dihasut ketika mereka memperdebatkan status dan posisi seseorang yang sudah mati disalibkan beberapa dasawarsa sebelumnya, yaitu Yesus dari Nazaret, yang dituduh sebagai seorang pemberontak oleh pemerintah kolonial Roma.

Jadi, lebih tepat jika kita menyimpulkan bahwa status Yakobus sebagai Imam Besar sebagaimana dilaporkan Hegesippus bukanlah status resmi yang diberikan kepadanya oleh para pemimpin Yahudi, misalnya Raja Agrippa, atau oleh Sanhedrin, atau oleh pemerintah Roma, melainkan status yang diberikan sepihak oleh kekristenan Yahudi belakangan sebagai suatu penghormatan agung terhadap dirinya. Dengan kata lain, jika gambaran Yakobus sebagai Imam Besar adalah gambaran yang diberikan belakangan oleh para pengikutnya dan lumayan dibesar-besarkan, maka seluruh kisah Hegesippus mengenai ihwal kematian Yakobus juga tidak dapat dipandang sebagai suatu kisah sejarah.

Sudah sepatutnya kita berpaling kepada seorang sejarawan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus, atau Yosef ben Matthias (37- sekitar 100 M), jika kita ingin mendapatkan gambaran aktual historis mengenai penyebab dan cara kematian Yakobus si Adil, saudara Yesus. Tentu, seperti telah diingatkan antara lain oleh Shaye J.D. Cohen (Cohen 1979: 47, 81) dan Helen K. Bond (Bond 2000: 177 ff.), ada segi-segi subjektif dalam laporan-laporan yang disampaikan Flavius Yosefus dalam tulisan-tulisan pentingnya mengenai sejarah bangsa Yahudi, seperti dituangkan dalam dua karya pentingnya, Bellum Judaecum atau The Wars of the Jews dan Antiquitates Judaicae atau The Antiquities of the Jews. Bagaimanapun juga, kedua karya sejarah ini adalah sumber-sumber penting yang diperlukan untuk kita bisa, dengan mendekatinya secara kritis, mendapatkan informasi penting tentang sejarah bangsa Yahudi khususnya dari masa pemerintahan raja Syria Antiokhus IV Epifanes (175-163 SM) sampai jatuhnya benteng Massada dekat Laut Mati pada tahun 73 M. Selain dua tulisan sejarah ini, Yosefus juga menulis dua karya lainnya, yakni sebuah autobiografinya The Life of Flavius Josephus dan sebuah karya apologetis pendek namun lancar yang membela keutamaan agama Yahudi dibandingkan berbagai segi pemikiran Yunani, yang berjudul Against Apion.

Dalam Antiquities Buku 20:197-203, Yosefus menuturkan ihwal kematian Yakobus si Adil yang terjadi pada tahun 62 M, kurang lebih lima sampai sepuluh tahun setelah perkunjungan terakhir (ketiga) Rasul Paulus ke Yerusalem. Sang Rasul datang ke Yerusalem pada waktu itu dengan maksud untuk menyerahkan bantuan ekonomi yang dikumpulkannya dari jemaat-jemaat non-Yahudi yang didirikannya, untuk jemaat miskin Yahudi-Kristen di Yerusalem (tentang hal ini, lihat Galatia 2:10b; Roma 15:25-30f.; KPR 24:17; 11:27 ff.), yang ternyata ditolak jemaat ini. Penolakan terhadap dukungan ekonomi ini sejalan dengan penolakan keras kelompok Yakobus si Adil terhadap Rasul Paulus (analisis tentang penolakan ini, dengan memakai teks KPR 21:15-26 sebagai landasannya, lihat Lüdemann 1989:59-62).

Yosefus mengisahkan bahwa setelah prokurator (atau gubernur) Festus mati, Kaisar Nero di Roma menunjuk Albinus sebagai penggantinya untuk memerintah provinsi Yudea. Selama masa peralihan ini, ketika Albinus masih dalam perjalanan menuju Yerusalem dari Roma, timbul anarki di Yerusalem. Seorang yang bernama Ananus yunior, dari latarbelakang keluarga Imam Besar Ananus senior, oleh Raja Agrippa diangkat menjadi Imam Besar. Ananus yunior ini termasuk kelompok Saduki, dan dengan jabatannya yang baru sebagai Imam Besar dia adalah pendukung dan pembela utama Sadukisme, namun dia bertemperamen buruk.

Dalam rangka untuk memperlihatkan kekuasaannya sebagai Imam Besar yang baru diangkat, Ananus, dalam masa interim ini, memanggil Sanhedrin dan membawa Yakobus, “saudara Yesus yang disebut Kristus”, dan beberapa orang Yahudi lainnya, ke hadapan majelis agama ini dan menuduh mereka semua sebagai orang-orang yang telah melanggar Taurat. Sanhedrin menjatuhkan hukuman mati kepada Yakobus dan sahabat-sahabatnya berupa penghukuman rajam sampai mati. Tindakan Ananus ini adalah tindakan terakhirnya selama masa tiga bulan memangku jabatan sebagai Imam Besar, sebab karena perbuatannya menghukum mati Yakobus dia akhirnya dicopot dari jabatannya oleh Raja Agrippa. Hal ini bisa terjadi karena sejumlah “warga kota (Yerusalem) yang sangat terpandang dan taat kepada Taurat” (epieikestatoi tōn kata tēn polin … kai peri tous nomous akribeis [Antiquities 20:201]) melawan tindakan sewenang-wenang Ananus ini. Mereka membawa suatu tuduhan berat rahasia terhadap Ananus kepada Raja Agrippa, bahwa tindakannya itu melanggar hukum dan tidak dapat dibenarkan. Bahkan sebagian dari mereka secara diam-diam mendatangi Albinus yang sedang dalam perjalanan dari Aleksandria ke Yerusalem, dan menyatakan kepada prokurator baru ini bahwa Ananus sebagai Imam Besar tidak memiliki hak dan wewenang untuk mengundang Sanhedrin dan menjatuhkan vonis hukuman mati tanpa izin dari Albinus. Karena laporan ini, Albinus menjadi sangat murka kepada Ananus dan mengancam akan menjatuhkan hukuman kepadanya; tetapi sementara ini belum tejadi, Raja Agrippa segera mencopot jabatan Imam Besar dari Ananus dan memberikan jabatan ini kepada Yesus, putra Damneus.

Laporan Yosefus tentang kematian Yakobus si Adil ini sangat kuat historisitasnya karena ditempatkan dalam suatu konteks historis suksesi kepemimpinan politik prokurator Roma atas Yudea dan suksesi kepemimpinan religio-politik Imam Besar di Yerusalem. Hal pertama yang patut dicatat dari laporan Yosefus ini adalah bahwa menjelang kematian Yakobus pada tahun 62 M, jabatan Imam Besar tidak dipangku Yakobus, tetapi oleh Ananus yang ditetapkan oleh Raja Agrippa. Dengan demikian, tuturan Hegesippus bahwa Yakobus adalah Imam Besar di Yerusalem bukanlah suatu catatan sejarah, tetapi lebih sebagai suatu bentuk penghormatan yang diberikan oleh para pengikutnya di kemudian hari, yang memandang Yakobus sebagai patriarkh atau bapak leluhur mereka.

Hal berikutnya yang sangat penting diperhatikan adalah tuturan Yosefus bahwa kematian Yakobus ini, sebagai soko guru Gereja Induk Yerusalem, menimbulkan kemarahan dan reaksi sebagian warga Yerusalem yang dikenal sebagai orang-orang “yang sangat terpandang dan taat kepada Taurat.” Kalau Ananus adalah pendukung dan pembela utama kelompok Saduki yang berpengaruh (Antiquities 20:199), maka warga Yerusalem yang mempersoalkan dan melawan tindakan kejam Ananus tidak bisa lain selain kalangan yang berpengaruh lainnya, yakni kalangan Farisi, kalangan yang dikenal sangat taat pada Taurat dan diklaim sebagai kalangan yang paling berwenang memberi tafsiran-tafsiran atas Taurat. Jika penghukuman mati Yakobus menimbulkan kemarahan kalangan Farisi, hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan mereka, Yakobus si Adil tidaklah bercacat dalam kelakuan maupun dalam pandangannya mengenai Taurat, dan bahwa Yakobus si Adil adalah seorang Yahudi-Kristen yang sangat ketat melaksanakan ketentuan Taurat dan karena itu tuduhan Ananus bahwa Yakobus telah melanggar Taurat sama sekali tidak benar dan karena itu mereka melawannya.


2. Konsili Yerusalem dan Posisi Rasul Paulus


Bahan Kitab Suci yang secara tradisional dipakai dan diandalkan untuk merekonstruksi apa yang menjadi pokok perbincangan dan perdebatan dalam Konsili Yerusalem adalah Galatia 2:1-10, karena apa yang dapat dibaca dalam perikop ini adalah kesaksian seorang saksi mata, yakni Rasul Paulus sendiri, meskipun penulis KPR beberapa dasawarsa sesudahnya juga merujuk kepada konsili yang sama (KPR 15:1-21; 21:15-26). Konsili Yerusalem diselenggarakan karena sebelumnya sudah muncul persoalan serius di dalam jemaat campuran (antara orang Kristen-Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi) di Antiokhia, yakni persoalan apakah orang Kristen non-Yahudi harus disunat sebagai prasyarat untuk menjadi anggota komunitas Kristen (lihat Galatia 2: 3). Di jemaat ini, orang-orang yang disebut Paulus sebagai “saudara-saudara palsu” (pseudadelfoi) (Galatia 2:4) telah menyusup masuk untuk memaksakan pandangan mereka bahwa orang non-Yahudi juga harus disunat jika mereka ingin menjadi bagian dari gereja Kristen. Untuk menyelesaikan persoalan ini, Paulus memutuskan untuk datang ke Yerusalem guna membicarakannya dengan para pemimpin jemaat induk Yerusalem dan mencari penyelesaiannya. Keputusan Paulus untuk pergi ke Yerusalem menunjukkan bahwa yang dimaksud olehnya sebagai “saudara-saudara palsu” tidak lain adalah orang-orang Yahudi-Kristen asal jemaat Yerusalem. Paulus membawa Barnabas (seorang Yahudi) dan Titus (seorang Kristen kebangsaan Yunani) sertanya ketika dia berangkat ke Yerusalem (Galatia 2:1).

Di Yerusalem, dalam suatu konsili, Paulus membentangkan keberhasilan kegiatan misi pekabaran injil yang telah dilakukannya di antara bangsa-bangsa non-Yahudi serta persoalan apakah seorang non-Yahudi harus disunat jika orang ini mau menjadi anggota komunitas Kristen. Kesaksian Paulus ini dan persoalan yang diangkatnya dibentangkannya di hadapan jemaat Yerusalem secara keseluruhan dan juga secara khusus di hadapan para pemimpin terpandang jemaat ini yang menjadi “soko guru”, yakni Yakobus, Petrus dan Yohanes (Galatia 2:2b; 6 ff.). Pada saat itu, Paulus menyatakan pandangannya, dengan memakai contoh diri Titus, bahwa orang non-Yahudi yang menjadi Kristen tidak diharuskan untuk menyunatkan dirinya (Galatia 2:3). Tetapi, di dalam konsili Gereja Induk Yerusalem ini “saudara-saudara palsu” ini menyusup masuk dan mendesakkan kehendak mereka agar Titus disunat untuk memenuhi ketentuan Hukum Musa (Galatia 2:4). Paulus menuduh mereka hendak “menghadang kebebasan” Kristen dengan memaksa orang Kristen untuk “diperhamba” (kembali) oleh Taurat Musa (Galatia 2:4). Karena orang-orang ini bebas berbicara di dalam Konsili Yerusalem ini, harus dianggap bahwa mereka, kalangan legalis ini, mendapat dukungan kuat dari jemaat Yahudi-Kristen Yerusalem. Bahkan karena mereka berani berbicara di hadapan para soko guru ini, dan mendesakkan pandangan mereka bahwa Titus harus disunat, sangat mungkin bahwa sebelum kedatangan Paulus ke konsili ini para soko guru ini, khususnya Yakobus si Adil, semula memihak kepada “saudara-saudara palsu” itu.

Dari catatan Paulus sendiri dalam Galatia 2:7-10, Paulus jelas pada akhirnya dalam konsili ini mendapatkan persetujuan dan dukungan dari ketiga soko guru ini untuk terus melanjutkan misi pekabaran injilnya kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi dengan tidak mengharuskan mereka untuk disunat sebelum menjadi bagian dari jemaat Kristen. Persetujuan dan dukungan ini ditandai dengan “jabat tangan” dari ketiga soko guru ini dengan Paulus dan dengan Barnabas juga sebagai tanda “persekutuan” (Galatia 2:9). Alasan persetujuan dan dukungan ini jelas tentu karena misi evangelisasi Paulus kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi, yang membebaskan mereka dari tuntutan Taurat, telah mencapai sukses yang signifikan sehingga tidak dapat disepelekan atau diabaikan oleh mereka bertiga. Di samping itu, dukungan ini diberikan juga karena jemaat-jemaat Kristen non-Yahudi yang Paulus telah dirikan siap memberi dukungan dan bantuan ekonomi kepada jemaat Yerusalem (= “orang-orang miskin”; hoi ptōkhoi) (Galatia 2:10) sebagai tanda persekutuan dengan jemaat induk ini.

Apakah dengan didukungnya Paulus dan misinya kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi oleh ketiga soko guru jemaat Yerusalem, “saudara-saudara palsu” itu, yang telah dikalahkan dalam debat tentang kewajiban sunat, telah kehilangan pengaruh mereka sama sekali? Apakah karenanya mereka menarik diri selamanya sehingga tidak akan lagi merongrong misi evangelisasi Paulus kepada orang-orang bukan-Yahudi yang, ketika mereka menjadi Kristen, dibebaskan oleh sang Rasul ini dari segala tuntutan Taurat Musa? Kalau kesepakatan antara Paulus dan Barnabas dengan tiga soko guru jemaat Yerusalem, yang dicapai dalam Konsili Yerusalem ini, diperhatikan dengan saksama, maka akan terlihat bahwa kesepakatan ini mengandung unsur-unsur yang potensial anti-Paulus juga, yang kemudian dipakai kalangan anti-Paulus untuk menekannya di jemaat-jemaat lain yang telah didirikannya.

Dalam kesepakatan itu diatur bahwa Paulus dan Barnabas diserahi tanggungjawab untuk pergi memberitakan injil “kepada orang-orang yang tidak bersunat” (lebih tepat: “kepada bangsa-bangsa lain”) (eis ta ethnē), sedangkan Yakobus, Petrus dan Yohanes “kepada orang-orang bersunat” (eis tēn peritomēn) (Galatia 2:9). Pembagian tugas misioner ini dilakukan secara etnografis, berdasarkan ras atau kebangsaan orang yang menjadi sasaran pekabaran injil, bukan secara geografis teritorial. Dengan pembagian secara etnografis ini, di masa depan terbuka kemungkinan untuk orang-orang Yahudi yang menjadi bagian dari jemaat Kristen non-Yahudi dituntut untuk memenuhi semua ketentuan yang diatur dalam Taurat Musa. Sementara, Paulus sendiri, kalau kita perhatikan insiden yang dituturkannya dalam Galatia 2:11-14, tidak menghendaki orang Kristen-Yahudi yang bergaul dengan orang-orang Kristen non-Yahudi menjalani kehidupan yang sejalan dengan tuntutan Taurat Musa, dan dengan demikian menghindar untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak bersunat.


3. Insiden di Antiokhia Menyusul Konsili Yerusalem


Menyusul laporannya tentang Konsili Yerusalem dalam Galatia 2:1-10, dalam Galatia 2:11-14 Paulus menuturkan suatu peristiwa lanjutan yang terjadi di Antiokhia, yang berkaitan dengan “beberapa orang dari kalangan Yakobus” (tinas apo Iakōbou). Konsili Yerusalem dan insiden di Antiokhia ini terjadi dalam dua dasawarsa pertama gerakan Kristen yang berawal di Yerusalem yang dipimpin Yakobus, sepeninggal Yesus. Insiden ini menunjukkan bahwa kendatipun telah tercapai kesepakatan dalam Konsili Yerusalem, pengaruh Rasul Yakobus dan nomisme-nya (=keterikatan mutlak pada Hukum Taurat) tetap sangat kuat khususnya di jemaat-jemaat Kristen di luar Palestina, yang di dalamnya terdapat orang-orang Yahudi-Kristen. Jemaat Antiokhia, seperti sudah ditulis di atas, adalah jemaat campuran antara orang Kristen-Yahudi dan orang Kristen non-Yahudi. Di jemaat semacam ini, orang Kristen yang lahir sebagai orang Yahudi makan sehidangan dengan orang Kristen non-Yahudi; dengan demikian mereka (orang Yahudi-Kristen) telah tidak mengindahkan ketentuan dalam agama Yahudi yang melarang orang Yahudi makan semeja dengan orang dari bangsa non-Yahudi atau masuk ke rumah orang bukan-Yahudi (lihat antara lain KPR 10:28; Yohanes 18:28; Yobel 22:16; Tobit 1:10 f.).

Paulus, dalam bagian surat Galatia ini, melaporkan bahwa di jemaat Antiokhia ini, Rasul Petrus semula biasa makan semeja dengan orang-orang yang tidak bersunat. Tetapi, ketika dilihat oleh Petrus ada beberapa orang dari kalangan Yakobus datang dan menjumpainya, dia “menjauhi mereka (yakni orang-orang yang tidak bersunat) karena takut akan saudara-saudara yang bersunat” (Galatia 2:12b). Melihat sikap Rasul Petrus yang semacam ini, orang-orang Yahudi lain, termasuk Barnabas, juga menarik diri dari sesama anggota jemaat bukan-Yahudi. Paulus menilai perilaku Petrus dan orang-orang Yahudi lainnya yang semacam ini sebagai kemunafikan; lalu dia menyatakan bahwa kelakuan atau cara hidup Petrus dan orang-orang Yahudi lainnya yang seperti ini adalah “hidup secara kafir” (ethnikōs), bukan “hidup secara Yahudi” (Ioudaïkōs). Jika demikian halnya, tandas Paulus, bagaimana mungkin mereka dapat memaksa orang-orang non-Yahudi untuk “hidup secara Yahudi” (Ioudaïzein).

Jadi, dari tuturan Paulus tentang suatu insiden di Antiokhia ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, orang-orang dari kalangan Yakobus yang datang ke Antiokhia ini tentu datang bukan karena kehendak mereka sendiri, melainkan karena diutus Yakobus ke sana dan dengan demikian membawa otoritas Yakobus sendiri, sehingga mereka dapat disebut “dari kalangan Yakobus”. Kedua, karena mereka ditakuti oleh Petrus dan orang Yahudi lainnya yang biasa makan semeja dengan orang bukan-Yahudi, berarti orang-orang dari kalangan Yakobus ini sendiri konsisten dan gigih memberlakukan ketentuan Taurat yang sangat ketat yang memisahkan orang Kristen-Yahudi dari orang Kristen non-Yahudi, dan mereka adalah kalangan yang bersunat. Ketiga, karena pandangan dan sikap mereka mewakili pandangan dan sikap Yakobus si Adil sendiri, maka harus disimpulkan bahwa Yakobus sendiri adalah seorang soko guru jemaat Yerusalem yang mempertahankan sunat dan pandangan bahwa orang Yahudi harus tidak makan di meja orang bukan-Yahudi yang secara ritual dinilai najis, sementara Paulus sendiri mengharapkan orang-orang Yahudi-Kristen tidak lagi mematuhi aturan Taurat mengenai hal halal dan hal haram dalam soal-soal makanan dan cara hidup ketika mereka bergaul dengan orang-orang Kristen non-Yahudi. Keempat, kesepakatan yang dicapai dalam Konsili Yerusalem dan insiden di Antiokhia ini menunjukkan bahwa Yakobus, saudara Yesus, menyetujui hanya pembagian tanggungjawab misioner secara etnografis dengan Paulus, tetapi dia tidak mengompromikan nomisme dengan injil Paulus yang anti-nomisme, yang memberitakan dan memberlakukan pembebasan orang Kristen dari tuntutan Hukum Taurat Yahudi. Dalam KPR 21:21, yang dinilai Lüdemann sebagai sebuah catatan historis (Lüdemann 1989: 59), dimuat tuduhan yang ditujukan kepada Paulus yang disampaikan “Yakobus dan semua penatua” jemaat Yerusalem, bahwa dia “mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan Hukum Musa” sebab dia melarang orang-orang Yahudi menyunatkan anak-anak mereka dan hidup menurut adat-istiadat Yahudi. Kelima, kendatipun Konsili Yerusalem sudah diselenggarakan dan di sana kesepakatan sudah dicapai, ternyata Yakobus si Adil tetap memperlihatkan anti-Paulinisme dalam usahanya membela, mempertahankan dan memberlakukan nomisme kepada orang Yahudi yang menjadi Kristen, di Yerusalem dan di luar Palestina.


4. Penutup


Dalam tulisan ini telah diperlihatkan bahwa Yakobus si Adil, saudara Yesus, adalah seorang pemimpin utama Gereja Induk Yerusalem yang memiliki pandangan dan cara hidup nomistik, cara hidup yang terpusat pada keutamaan Hukum Taurat Musa bagi setiap orang Kristen-Yahudi. Dia mati dirajam dengan batu pada tahun 62 M karena suatu tuduhan yang tidak pada tempatnya yang diajukan oleh Imam Besar Ananus kepada Sanhedrin, bahwa Yakobus telah melanggar Taurat Musa. Kalangan Farisi di Yerusalem membela Yakobus dan mengupayakan perlawanan terhadap tindakan yang tidak sah yang telah dilakukan Imam Besar Ananus. Pembelaan dan perlawanan kalangan Farisi ini menunjukkan bahwa Yakobus dipandang oleh mereka sebagai orang yang tidak bercacat dalam mempertahankan dan mengamalkan Yudaisme.

Ketika Konsili Yerusalem digelar pada dasawarsa kedua gerakan Kristen, Yakobus bersama dua soko guru lainnya, Rasul Yohanes dan Rasul Petrus, mendukung misi Paulus dan Barnabas yang anti-nomian kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi, sedangkan misi evangelisasi nomian kepada bangsa Yahudi dipikul oleh para soko guru Gereja Induk Yerusalem ini. Pembagian kerja ini dilakukan secara etnografis, bukan secara geografis teritorial, sehingga tidak mengompromikan nomisme atau ketaatan mutlak pada Hukum Musa, yang dipertahankan dan diberlakukan oleh Yakobus si Adil, yang dengan konsisten dipertahankan dan diberlakukan kepada orang Yahudi-Kristen yang hidup bersama dengan orang Kristen non-Yahudi.

Insiden di Antiokhia yang terjadi menyusul Konsili Yerusalem membuktikan bahwa Yakobus si Adil bersama para muridnya atau warga jemaat Yerusalem tetap mempertahankan dan memberlakukan ketentuan Taurat yang melarang orang Yahudi makan semeja dengan orang bukan-Yahudi. Sementara Paulus menghendaki orang Yahudi-Kristen yang bergaul bersama orang Kristen non-Yahudi melepaskan keterikatan mereka pada Hukum Musa, misalnya larangan makan semeja dengan orang non-Yahudi atau larangan memasuki rumah orang non-Yahudi.

Jadi, kita temukan kembali suatu fakta sejarah yang solid bahwa kekristenan Yahudi yang berpusat di Yerusalem adalah kekristenan yang nomistik, dan berada dalam konflik dengan kekristenan yang didirikan Paulus, yang anti-nomian.


Sumber-sumber rujukan:


(1) Lüdemann, Gerd,
Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989) 35-63.

(2) Lüdemann, Gerd,
Heretics: The Other Side of Early Christianity (ET by John Bowden; Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 1996) 27-52.

(3) Whiston, William (penerjemah),
The Works of Josephus: Complete and Unabridged (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publisher, 19871, 199510).

(4) Cohen, Shaye J.D.,
Josephus in Galilee and Rome. His Vita and Development As a Historian (Leiden: E.J. Brill, 1979).

(5) Bond, Helen K., “New Currents in Josephus Research” dalam
Currents in Research: Biblical Studies 8 (2000) 162-190.

(6) Mason, Steve,
Josephus and the New Testament (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publisher, 1992).