Saturday, August 29, 2009

Merehabilitasi Hawa, Sang Perempuan, melalui Hermeneutik Resistensi

Pada gambar di samping kiri ini, terlihat Hawa di Taman Eden membagi buah pohon pengetahuan bukan kepada Adam yang sedang teler, tetapi kepada perempuan-perempuan lain yang mengantri untuk menerimanya. Bukan hanya Hawa yang ada di taman itu, tetapi juga seorang perempuan lain yang juga memetik buah itu dan membaginya kepada perempuan-perempuan, yang berbaris menunggu giliran. Dalam gambar ini, Hawa dan perempuan lain, adalah para pembebas, para pembawa pencerahan ke dalam dunia.

Nah, saya mau merefleksikan tema ini, Hawa sang perempuan pembebas, dalam uraian di bawah ini, demi merehabilitasi diri Hawa yang sudah terlanjur dipandang sebagai sumber dosa asal, pandangan yang celakanya disucikan dan dikekalkan dalam Kitab Suci orang Kristen.

Menurut Rasul Paulus, “Hawa diperdayakan oleh ular dengan kelicikannya” (2 Korintus 11:3); jadi, Hawa, bagi Paulus, adalah makhluk bodoh yang kalah lihai dibandingkan seekor ular. Dalam surat 1 Timotius, kita baca:
“Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah dia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (2:11-14).
Seorang pemimpin gereja dari abad 2, Tertullianus, dengan memakai Kejadian 3 sebagai titik pijaknya, menegur keras kaum perempuan Kristen zamannya, demikian,
“Kalian adalah pintu gerbang masuknya setan ke dalam dunia... kalian adalah Hawa yang membujuk Adam, yang setan tidak berani serang.... Tahukah kalian bahwa setiap orang dari antara kalian adalah seorang Hawa? Hukuman Allah terhadap gender kalian tetap berlaku dalam zaman ini; begitu juga, kesalahan yang dibuat Hawa bagaimanapun juga tetap ada” (Tertullianus, De Cultu Feminarum I, 12).
Tentu kaum feminis modern, dengan menggunakan “hermeneutik resistensi” (“hermeneutics of resistance”; atau juga disebut “hermeneutics of liberative vision and imagination”), akan satu suara menyatakan bahwa teks-teks yang menyudutkan dan merendahkan kaum perempuan yang dikutip di atas bukan firman Allah, tetapi firman manusia laki-laki dalam suatu masyarakat patriarkal yang merendahkan dan menindas kaum perempuan. Tentu kaum feminis akan langsung menangkap ada misogini sangat kuat dalam teks-teks itu.

Di dalam sebuah dokumen yang dibeli British Museum pada tahun 1785, yang berjudul Pistis Sofia (ditulis tahun 250 M), misogini bahkan dikatakan juga terdapat dalam diri Rasul Petrus, yang menurut Gereja Katolik Roma adalah bapak moyang semua Paus. Teks Pistis Sofia 72 memuat ucapan Maria Magdalena tentang Rasul Petrus kepada Yesus, demikian, “Guruku, aku memahami dalam pikiranku bahwa aku dapat maju ke muka kapan saja untuk menafsirkan apa yang Pistis Sofia telah katakan, tetapi aku takut kepada Petrus, karena dia telah mengancam aku dan membenci gender kami.” Teks Pistis Sofia yang semacam ini tentu dilatarbelakangi suatu persaingan tajam antara rasul-rasul perempuan dan rasul-rasul pria dalam gereja awal dulu.

Untuk membela dan merehabilitasi Hawa serta melawan misogini, banyak pendukung feminisme pada masa kini berpaling ke teks-teks ekstrakanonik yang ditulis kalangan gnostik pada abad 2 dan 3, yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Di antara 52 traktat yang ditemukan di Nag Hammadi ini, dokumen Hipostasis Para Arkhon dan dokumen Guntur: Pikiran Sempurna khususnya patut diperhatikan. Dalam kedua dokumen gnostik ini, Hawa digambarkan bukan sebagai asal-muasal dosa asal (original sin), tetapi sebagai asal-muasal “karunia asal” (original grace). Karena apa? Karena, di dalam dokumen-dokumen gnostik ini, Hawa (atau Kuasa Spiritual Feminin yang ada dalam dirinya) dipandang sebagai hero yang dengan sangat berani telah melakukan langkah yang betul dan signifikan, yakni melawan Allah untuk mendapatkan “pengetahuan” (Yunani: gnōsis) yang begitu penting bagi pencerahan dan pembebasan manusia.

Keberanian Hawa melanggar larangan Allah (lihat Kejadian 2:17), dengan memetik “buah terlarang”, buah “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, lalu memakannya dan memberikannya kepada suaminya, Adam, telah membuat mata keduanya “terbuka.” Dengan tindakan heroik Hawa itu, mereka mendapatkan pencerahan dan pengertian serta pengetahuan. Mereka, seperti dikatakan sang ular, berhasil menjadi “seperti Allah, tahu tentang hal yang baik dan hal yang jahat” (Kejadian 3:5). Bukankah, menurut Kejadian 1, “menjadi seperti Allah” adalah suatu kodrat yang diberikan kepada Adam dan Hawa ketika Allah menciptakan mereka sebagai “gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26-27)? Jadi, kalau Adam dan Hawa bertindak memakan buah terlarang itu, bukankah tindakan mereka ini sejalan dengan kodrat mereka yang mulia? Kita jadi bertanya, Di mana kesalahan mereka?

Apakah dengan pelanggaran ini, Hawa, dan suaminya, Adam, langsung mati, seperti diancamkan Allah sebelumnya bahwa “pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17; 3:3)? Seperti dikatakan sang ular bahwa “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3:4), Adam dan Hawa ternyata memang tidak mati, malah keduanya masih hidup beberapa ratus tahun ke depan (lihat Kejadian 5:5) dan melahirkan keturunan. Ini membuktikan bahwa larangan Allah itu tidak memiliki kekuatan. Bagaimanapun juga, “pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat” sangat penting untuk mengawal perjalanan peradaban manusia. Bukankah sebagai “gambar dan rupa Allah” manusia diperintahkan untuk “menguasai” dan “menaklukkan” seluruh alam (Kejadian 1:26-28)? Bukankah untuk bisa menguasai dan menaklukkan seluruh alam dengan bijaksana diperlukan moralitas, pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat? Dengan demikian, harus ditegaskan, yang “menjalar” dari Adam dan Hawa ke seluruh umat manusia bukanlah dosa asal dan kematian sebagai hukumannya seperti dibayangkan Rasul Paulus (Roma 5:12-17), melainkan karunia asal dan kehidupan seperti dibayangkan kalangan gnostik.

Jelas, perspektif gnostik di atas berhasil merehabilitasi Hawa; dan kalangan pembela feminisme patut bersorak-sorai karenanya. Tetapi si penulis Kejadian 2:4b-3:24, yang mewakili kalangan sastrawan Yahwis “ortodoks” istana dalam zaman pemerintahan Raja Daud/Raja Salomo (abad 10 SM), ternyata tidak memihak kepada Adam dan Hawa yang sudah tercerahkan.

Dalam kesimpulan si penulis Kejadian 3, buah pohon terlarang yang dimakan Hawa dan diberikan kepada suaminya, Adam, membuat “mata mereka terbuka” sehingga mereka bisa melihat “bahwa mereka telanjang” dan untuk menutupi ketelanjangan mereka itu, mereka “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kejadian 3:7). Jelas, di sini si penulis ini memaknai kata “telanjang” sebagai sesuatu yang menimbulkan aib, sesuatu yang tidak bermoral, karena itu harus ditutupi. Dengan demikian, baginya, ketika Adam dan Hawa mau “menjadi seperti Allah” dan bertindak ke arah itu dengan melanggar larangan Allah, yang akhirnya mereka dapatkan hanyalah rasa malu, aib, dan keadaan tidak bermoral. Tentu saja, dengan hermeneutik resistensi kita bisa melawan dan menolak kesimpulan si penulis Kejadian 3 ini, dan mempersoalkan posisinya dengan rasional.

Pertama, dalam kisah sebelumnya, si penulis Kejadian 2:4b-3:24 menuturkan bahwa Tuhan “mengambil Adam dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15). Jadi, di Taman Eden Tuhan Allah tidak begitu saja memberikan segala sesuatunya dengan serba lengkap kepada Adam. Sejak awal, Taman Eden bukanlah sesuatu yang sudah jadi, tetapi sesuatu yang belum sempurna dan masih harus diolah. Adam tetap harus berpikir, bekerja keras, berkeringat dalam mengusahakan dan memelihara taman itu. Adam tetap harus melakukan tindakan budaya. Dengan demikian, untuk melaksanakan perintah kultural “mengusahakan dan memelihara” taman, Adam memerlukan bukan naluri, bukan hanya tubuh dan tenaga, tetapi pengetahuan dan teknologi. Bukankah sudah seharusnya Allah, sebagai sang Pencipta Adam dan tempat kehidupannya, memberinya pengetahuan itu? Jadi, kalau di tengah Taman Eden tumbuh “pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat”, biarkanlah Adam memetik buahnya dan memakannya. Bukankah pengetahuan semacam ini memungkinkan Adam memikirkan perihal bagaimana membangun kehidupan yang menghasilkan kebaikan dan mencegah kejahatan? Bukankah pengetahuan tentang moralitas, pengetahuan tentang nilai-nilai, pada saatnya mendorong orang untuk juga menciptakan pengetahuan material? Bukankah pengetahuan tentang moralitas mendorong orang untuk juga menghasilkan dan mengembangkan sains? Moralitas atau etika, sebagai suatu pengetahuan, mendorong penemuan dan pengembangan sains, tidak menghambatnya.

Dengan demikian, kalau dituturkan bahwa Tuhan Allah memberi larangan kepada Adam, si penulis kisah ini membuat Tuhan Allah menjadi suatu figur yang tidak konsisten, yang tidak mengetahui hal-hal yang dibutuhkan Adam. Tuhan Allah yang semacam ini bodoh, tidak maha tahu, penghambat, dan tidak bertanggungjawab. Tentu saja, orang tidak perlu tunduk pada Allah yang semacam ini. Dengan demikian, tindakan Hawa mengikuti pengarahan sang ular adalah suatu tindakan yang benar. Jadi, yang dibuat di Taman Eden bukanlah dosa asal, tetapi suatu tindakan berani Hawa untuk memungkinkan manusia melakukan tindak budaya primordial, yang akan terus dikembangkan manusia keturunan Adam dan Hawa di mana-mana dan di segala zaman. Adam dan Hawa, dengan demikian, bukanlah tipe manusia pembangkang, tetapi tipe manusia yang dengan bertanggungjawab memakai “kehendak bebas” mereka (bdk. Kejadian 2:16; 3:2) untuk membangun suatu bentuk primitif kebudayaan. Allah tidak boleh menghalangi kehendak bebas yang ada pada manusia yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya yang diperlukan untuk mengelola tempat kehidupannya dan dunia luas ciptaan Allah. Dan sampai sekarang, dari sebagai bayi sampai rambut memutih, manusia manapun tidak kehilangan kehendak bebas, dan kenyataan ini menunjukkan dosa asal itu tidak ada.

Kedua, menurut si penulis Kejadian 2:4a-3:24, Adam adalah suami Hawa (Kejadian 3:6), dan Hawa adalah istri Adam (Kejadian 2:24). Sebagai suami dan istri mereka berdua “telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kejadian 2:25). Dengan demikian, sebelum memakan buah terlarang, mereka sudah mengetahui bahwa mereka berdua telanjang, meskipun demikian keduanya tidak merasa malu. Jadi, si penulis bagian kitab Kejadian ini melupakan apa yang dia telah tulis sebelumnya ketika dia menarik kesimpulan yang sudah disebut di atas. Atau, dengan kata lain, kesimpulannya itu adalah kesimpulan yang keliru.

Karena bagi si penulis Kejadian 3, hasil dari memakan buah terlarang sangat buruk dan menimbulkan aib, pantaslah kalau dia selanjutnya menuturkan bahwa Allah, setelah mengetahui pelanggaran Adam dan Hawa, menjatuhkan hukuman berat kepada mereka berdua, kepada sang ular, dan kepada tanah (Kejadian 3:14-19). Nah, harus kita temukan apakah semua keadaan yang ditimbulkan oleh hukuman ini timbul karena dosa asal atau merupakan hal-hal yang memang kodrati dalam diri dan kehidupan manusia.

Perlu ditegaskan dulu bahwa Kejadian 2:4b-3:24 bukanlah sebuah narasi historis tentang Taman Eden dan tiga makhluk hidup penghuninya (Adam, Hawa dan ular) serta apa yang mereka perbuat, tetapi sebuah etiologi mitologis, sebuah kisah asal-usul fiktif, sebuah metafora, yang disusun ketika si penulisnya bertanya dan bergumul mengenai asal-usul dan sebab-musabab hal-hal eksistensial yang dilihat dan dialaminya setiap hari, lalu dia sendiri dengan imajinatif dan spekulatif mengupayakan jawaban atas serangkaian pertanyaannya sendiri. Bahwa kisah alkitabiah ini bukanlah sebuah kisah sejarah, melainkan sebuah mitologi, sebuah dongeng, sebuah metafora, ditunjukkan oleh hal-hal yang dikisahkannya. Hanya dalam dongeng saja ada pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan hal yang jahat, yang kalau buahnya dimakan si pemakan akan langsung menjadi cerdas dan berpengetahuan. Hanya dalam kisah fiktif saja ada ular yang bisa berbicara. Hanya dalam mitologi saja, Allah digambarkan bertubuh, berkaki dan bermulut, yang biasa berjalan-jalan di Taman Eden di hari-hari yang sejuk, lalu menyidik Adam dan Hawa ketika keduanya kedapatan bersembunyi dari hadapan-Nya. Hanya dalam dongeng saja ada dua orang manusia yang tidak berpusar, Adam dan Hawa, karena mereka tidak dikandung dalam rahim ibu mereka, tetapi langsung jadi sebagai manusia dewasa. Cuma dalam dongeng saja ada orang (yakni Adam) yang usianya sampai 930 tahun (Kejadian 5:5).

Harus juga ditekankan bahwa si penulis etiologi Kejadian 3, dalam membuat tuturannya, tidak memulainya dari apa yang dulu sekali terjadi di Taman Eden, tetapi dari apa yang dilihat dan dialaminya setiap hari dalam kehidupannya di abad 10 SM di Palestina, lalu mundur ke belakang sangat jauh, sampai ke permulaan kehidupan manusia di muka bumi.

Si penulis Kejadian 3, dari apa yang dilihatnya, bertanya, apa sebabnya ular menjalar dengan perutnya dan tinggal dalam liang dalam tanah dan dimusuhi dan menyerang manusia (kejadian 3:14-15). Tentu saja dia tidak bisa memanfaatkan sains evolusi Darwinian untuk menjawab semua pertanyaannya ini. Jawaban yang diajukannya sederhana: ular menjadi binatang semacam itu karena dulu sekali nenek moyang hewan ini sudah dikutuk Allah.

Jawaban teologisnya ini merugikan ular. Binatang ini umumnya dibenci kebanyakan manusia. Setiap kita bertemu ular tanah, apalagi kalau ular ini masuk ke rumah kita, berbisa ataupun tidak, kita cenderung mau membunuhnya, karena kita jijik pada bentuk tubuh dan lendirnya dan takut pada bisanya yang mematikan, ditambah lagi karena kita, celakanya, menganggap hewan ini sudah dikutuk Allah! Syukurlah, sekarang ini sudah ada banyak gerakan pencinta ular yang mau melindungi hewan ini. Seharusnya demikian, karena ular telah menjadi pandu yang baik bagi Hawa.

Selanjutnya, si penulis Kejadian 3 bertanya, apa sebabnya kaum perempuan mengalami kesusahan waktu mengandung selama 9 bulan, dan apa sebabnya mereka merasa sakit ketika bersalin, dan apa sebabnya perempuan berahi kepada suaminya dan ditaklukkan kaum lelaki (Kejadian 3:16). Jawabannya kembali sederhana: kaum perempuan mengalami semua keburukan ini karena dulu nenek moyang mereka, Hawa, telah melanggar larangan Allah, dan mereka kini harus menanggung akibat dosa warisan ini. Tentu ini adalah jawaban yang buruk dan naif.

Setiap perempuan yang mengandung tentu saja secara alamiah biologis mengalami hal-hal luar biasa. Perubahan hormonal dalam tubuh dapat menyebabkan rasa mual dan menimbulkan bercak-bercak kecil pada tubuh. Ngidam mangga asam, misalnya, bisa timbul karena dia menginginkan lebih banyak perhatian dan pemanjaan dari suami, tetapi bisa juga karena pengaruh hormonal, bukan hanya gejala psikologis. Lagi pula, kebanyakan perempuan merasa berbahagia jika mereka sedang mengandung, pun seandainya dia mengandung bayi yang ihwal siapa ayahnya tidak jelas atau mengandung karena korban pemerkosaan. Kita tahu bahwa seorang ibu yang sedang bersalin menderita rasa sakit bukan karena sedang menanggung hukuman ilahi, melainkan karena saluran leher rahim menuju vagina memang sangat sempit.

Lebih lanjut, bukankah suami maupun istri yang normal memiliki nafsu berahi yang perlu disalurkan entah untuk tujuan prokreasi ataupun untuk tujuan tunggal mencapai kenikmatan? Jadi, keduanya haruslah saling berahi terhadap mitranya jika mereka mau mempunyai anak atau mau mengecap kenikmatan bersenggama. Jika sang istri berahi lebih dulu terhadap suaminya, apa salahnya? Mengapa eros dipandang negatif dalam hubungan suami dan istri, sementara Allah sudah memerintahkan manusia di bumi ini untuk “beranak cucu”? Selain itu, bukankah kaum prialah yang umumnya memiliki libido lebih besar dan lebih agresif ketimbang kaum perempuan?

Masyarakat patriarkal si penulis Kejadian 3 menyebabkan kaum lelaki berkuasa atas kaum wanita; ini adalah fakta sosio-kultural antropologis, bukan fakta teologis yang penyebabnya harus dicari sampai pada pemberontakan pasangan manusia pertama di Taman Eden. Di dunia ini juga ada kebudayaan matriarkal yang menempatkan status sosial kaum perempuan lebih tinggi dibandingkan kaum lelaki. Patriarki dan matriarki ada bukan dikarenakan dosa Adam atau dosa Hawa dulu, tetapi dibentuk dengan sadar oleh masyarakat melalui konsensus sosio-politis dan kultural. Nah, kesalahan si penulis Kejadian 3 adalah dia memberi alasan teologis yang tidak tepat terhadap hal-hal yang sebenarnya hormonal, psikologis, sosiologis dan kultural.

Si penulis Kejadian 3 akhirnya bertanya, apa sebabnya tanah di muka bumi tidak subur, hanya menumbuhkan “semak duri dan rumput duri” , dan padang hanya menumbuhkan ilalang; dan apa sebabnya manusia harus “bersusah-payah” dan “berpeluh” dalam mencari nafkah; lalu mengapa akhirnya, setelah mengalami semua penderitaan ini, manusia harus mati, “kembali lagi menjadi tanah/debu” (Kejadian 3:17-19). Dia memberi jawaban teologis etiologis yang juga bersahaja: karena tanah sudah dikutuk Tuhan Allah; dan akibatnya, tanah tidak lagi subur sehingga manusia harus membanting tulang untuk mengusahakannya sampai manusia mati. Kalau ditanyakan kepadanya, mengapa tanah dikutuk dan manusia harus menderita dalam kehidupannya sampai dia mati, si penulis menjawab: ini semua terjadi karena “Adam telah mendengarkan perkataan istrinya dan memakan buah pohon terlarang” (Kejadian 3:17). Ringkas kata, sumber semua penderitaan manusia dan ketidaksuburan bumi, bagi si penulis Kejadian 3, adalah dosa asal Adam dan Hawa. Betulkah demikian?

Andaikan dosa asal itu ada, yang melakukan dosa asal ini bukanlah tanah, tetapi manusia. Jadi mengapa tanah yang harus menanggung kutuk? Ada orang yang barangkali mau berargumentasi demikian: Ya, jelas, tanah juga harus dikutuk, sebab asal-usul manusia (Ibrani: adam) adalah tanah (Ibrani: adamah), sehingga kesalahan manusia juga harus ditanggung tanah. Tetapi, bukankah ketika manusia sudah menjadi makhluk yang hidup dan memiliki kesadaran nurani dan kehendak bebas, dia sendirilah yang harus menanggung akibat perbuatannya? Jadi, keliru kalau tanah yang harus dikutuk, sementara yang bersalah adalah manusia, dan tanah, sebagai benda mati, tidak bisa diminta pertanggungjawaban moral. Tuhan Allah jelas salah mengalamatkan kutukannya.

Tetapi, karena dosa asal tidak ada, maka kalau tanah tidak subur, ketidaksuburan ini timbul tentu karena penyebab lain: iklim kering yang keras, lokasi geografis dan topografis yang tidak menguntungkan, kesalahan manusia, jenis tanah yang buruk, irigasi yang jelek, ketiadaan teknologi, dan kemiskinan penghuni tanah. Sebab-sebab yang lain ini adalah kenyataan masa kini yang harus diatasi. Mengasalkan ketidaksuburan tanah pada pelanggaran Adam dan Hawa dulu akan membuat penduduk tanah kering menyerah total pada kekerasan alam karena beranggapan tanah mereka sudah dikutuk.

Selanjutnya, apakah salah kalau manusia harus “berpeluh” dan “bersusah payah” dalam pekerjaannya setiap hari? Si penulis Kejadian 3 memandang keringat dan kerja keras sebagai hal-hal yang buruk, sebagai akibat dosa asal, yang hanya menimbulkan penderitaan dalam diri manusia. Benarkah demikian? Bukankah dalam realitas kehidupan sehari-hari, kerja keras dan keringat seringkali membahagiakan banyak orang yang berkarya, karena mereka memandang kerja keras dengan positif sebagai tugas dan panggilan mulia? Bukankah Allah menempatkan Adam di Taman Eden yang masih harus “diusahakan” dan “dipelihara” olehnya? Dengan demikian, bekerja keras dan berkeringat adalah hal-hal yang memang Tuhan Allah kehendaki untuk Adam lakukan. Bekerja dengan wajar dan berpeluh bukanlah hukuman, dan juga bukan penderitaan, tetapi amanat yang Tuhan Allah sudah berikan pada awal kehidupan manusia di muka bumi. Manusia akan mati bukan karena dia memakan buah pohon terlarang yang membuatnya tercerahkan, melainkan kalau dia tidak bekerja!

Tentu kita tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan sosio-ekonomi dalam masyarakat yang menyebabkan ada orang yang harus bekerja sangat keras dalam sehari, melebihi kemampuan dan tenaganya sendiri dengan hasil yang sangat sedikit, sementara ada orang yang bekerja sangat ringan dan hanya sebentar dalam sehari dengan hasil berlimpah ruah, jauh melebihi apa yang dibutuhkannya untuk hidup layak. Ketimpangan semacam ini jelas bukan timbul dari dosa asal Adam dan Hawa, tetapi karena masyarakat masa kini belum dikelola dengan sepenuhnya berlandaskan pada keadilan sosio-ekonomi, hukum dan pendidikan.

Tibalah pertanyaan puncak si penulis Kejadian 3: Mengapa manusia akhirnya harus “kembali lagi menjadi tanah/debu”? Bagi si penulis Kejadian 3, manusia mati sebagai akibat dosa asal. Betulkah demikian?

Kita sudah ketahui bahwa “pelanggaran” Adam dan Hawa tidak langsung membuat mereka mati. Menurut sebuah catatan mitologis dalam Kejadian 5:5, Adam mencapai umur 930 tahun, “lalu ia mati”. Kematian Adam dalam usia sangat tua ini terjadi di luar Taman Eden (lihat Kejadian 3:23-24), jauh sesudah Adam dan Hawa melawan Allah. Jadi, menurut catatan Kitab Suci ini, Adam mati karena penyebab alamiah usianya yang sudah sangat tua, bukan karena pelanggaran yang dia dan Hawa buat di Taman Eden beberapa ratus tahun sebelumnya.

Sudah kita catat, Adam diperintahkan Allah untuk melakukan tindak kultural “mengusahakan dan memelihara” Taman Eden. Begitu juga, hal yang sama harus dia lakukan ketika dia sudah diusir dari taman itu (Kejadian 3:23). Jadi, Adam memang harus terus bekerja, dan bekerja adalah perintah dan kehendak Allah. Tubuh yang terus dipakai untuk bekerja, ketika waktunya tiba, akan melemah sampai akhirnya tidak bisa difungsikan lagi. Ini adalah hukum kodrat yang juga berlaku pada semua benda yang tidak bernyawa, yang secara fisik lebih kuat dari daging, otot dan tulang manusia. Jadi, manusia mati karena sudah kodratnya dia harus demikian. Tetapi kita boleh bertanya: Bisakah manusia, dengan tubuh insaninya yang dia miliki, hidup kekal, tidak mati-mati? Jawabnya: Tidak bisa, dan tidak perlu demikian!

Tidak bisa, karena tubuh alamiah semua manusia akan uzur dan akhirnya tidak bisa difungsikan dengan normal lagi. Degenerasi ini terjadi karena gen manusia sudah mengarahkannya demikian. Gen bukanlah ciptaan setan, juga bukan ciptaan dosa, tetapi ciptaan Allah. Namun, kita bisa berimajinasi bahwa dengan ilmu biologi molekuler yang makin berkembang dan teknologi rekayasa genetika yang makin canggih, bisa saja suatu saat gen manusia “diutak-atik” dan unsur genetik di dalamnya yang menyebabkan manusia menua “diubah” lalu “diganti” dengan unsur genetik anti-penuaan, anti-degenerasi. Kalau rekayasa genetik semacam ini bisa dilakukan, dan etika mendukungnya, maka manusia tidak akan pernah tua, tidak akan pernah mati secara biologis lagi, dan juga tidak perlu menghisap darah manusia seperti dilakukan makhluk Drakula mitologis untuk bisa hidup kekal.

Tetapi, apakah rekayasa genetik semacam ini diperlukan? Hemat saya, tidak diperlukan, sebab, pada satu sisi, hidup tanpa bisa mati adalah suatu penderitaan; dan pada sisi lainnya “kekekalan” manusia juga bisa dicapai dengan mempertahankan spesiesnya di planet Bumi melalui keturunan mereka, dan dengan memberikan anak-cucu mereka pendidikan setinggi-tingginya dan tubuh yang semakin kuat untuk bekal bertahan ketika mereka harus menghadapi berbagai bencana alamiah atau bencana kultural. Orang yang sudah tua harus dengan rela memberi giliran kepada generasi muda yang lebih cerdas dan lebih kuat untuk menjaga dan merawat planet Bumi ini dan semua isinya selama tidak ada bencana kosmik yang bisa melenyapkan planet biru ini dan tata surya. Maka, saya perlu mengatakan kepada Tuhan Allah versi Kejadian 3, bahwa Dia tidak perlu khawatir kalau manusia akan melakukan pemberontakan kedua, dengan “mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan dan memakannya, sehingga dia hidup untuk selama-lamanya” (Kejadian 3:22).

Sebuah pertanyaan masih harus dijawab: Mengapa manusia menderita dalam dunia ini? Tentu penderitaan timbul juga bukan karena dosa asal. Lalu, dari mana datangnya penderitaan? Jawabnya bisa bermacam-macam.

Pada kesempatan ini, saya batasi pada satu jawaban: penderitaan dialami manusia karena watak agresif manusia. Ketika seorang manusia merasa terancam oleh agresivitas seorang manusia lainnya, orang yang terancam ini mendahului berbuat agresif kepada orang yang mengancamnya. Agresivitas manusia inilah yang menimbulkan perang di dunia ini. Perang antar manusia dan antar makhluk, dalam skala kecil dan dalam skala besar, menimbulkan penderitaan. Kita bertanya, dari mana agresivitas ini muncul? Apakah karena manusia memiliki pengetahuan, maka dia menjadi agresif, seperti dengan sinis dan keliru dituturkan si penulis Kejadian 3 bahwa ketika Allah menyidik Adam, dengan agresif Adam menyerang dan menyalahkan Hawa, dan ketika Hawa disidik Tuhan Allah, Hawa dengan agresif menyerang dan menyalahkan si ular (Kejadian 3:9-13)? Jelas bukan, sebab pengetahuan yang diperoleh Adam dan Hawa adalah pengetahuan untuk membedakan mana hal yang jahat dan mana hal yang baik, bukan pengetahuan yang akan membuat mereka saling menyerang.

Jadi darimana persisnya watak agresif manusia itu berasal? Jawaban teologis terhadap pertanyaan ini telah banyak diberikan oleh agama-agama. Pada kesempatan ini baiklah kita berpaling pada sosiobiologi. Menurut sosiobiologi, gen bukan saja menurunkan ciri fisik manusia (individual maupun kelompok), tetapi juga watak dan perilaku manusia, sementara para ilmuwan sosial mempertahankan bahwa watak dan perilaku manusia dibentuk oleh lingkungan kehidupan, pergaulan dan pendidikan manusia. Jadi, para sosiobiolog mempertahankan peran nature (alam) sedangkan para sosiolog mempertahankan peran nurture (pendidikan) dalam pembentukan watak dan perilaku manusia. Tentu lingkungan pergaulan dan kehidupan manusia kerap mendorong manusia bersikap agresif terhadap sesamanya. Tetapi bahwa sifat agresif juga diturunkan dari nenek moyang manusia lewat gen, adalah suatu fakta yang harus kita terima. Nah, kalau nenek moyang paling awal manusia, menurut sains evolusi, berasal dari hewan, dan hewan memang memiliki naluri agresif yang sangat kuat demi survival mereka, maka tidaklah mengejutkan jika homo sapiens sapiens, makhluk cerdas yang kita namakan manusia, juga memiliki watak agresif. Dengan demikian kita dapat katakan bahwa penderitaan manusia, yang ditimbulkan oleh sifat agresif manusia, adalah sesuatu yang memang harus manusia tanggung sebagai akibat kodrati genetiknya, bukan karena dosa asal!

Harapan saya, refleksi hermeneutis yang telah dilakukan di atas bisa merehabilitasi Hawa, sang perempuan, dari label sebagai asal-muasal dosa, menjadi seorang hero bagi pembebasan dan pencerahan kaum perempuan dan semua insan di muka bumi di sepanjang zaman.

Saturday, August 22, 2009

Kekristenan Yahudi dalam Tulisan-tulisan Hegesippus, Epifanius, Stefanus Gobarus, Yustinus Martir, dan Irenaeus

1. Kekristenan Yahudi dalam tulisan Hegesippus

Menurut Eusebius (c.263-c.339 M; lihat gambar sebelah kiri), Uskup Kaisarea di Palestina (mulai sekitar tahun 314), Santo Hegesippus (Yunani: Hagios Hēgēsippos) (c. 110-c. 7 April 180 M) adalah seorang Yahudi yang menjadi Kristen, menguasai bahasa-bahasa Semitik (Ibrani dan Aram) dan m
engenal tradisi lisan dan adat-istiadat bangsa Yahudi, serta mengutip Kitab Suci yang diberi nama Injil Orang Ibrani dan tradisi-tradisi Yahudi yang tidak tertulis (Eusebius, Historia Ecclesiastica 4.22). Seperti telah diperlihatkan Oded Irshai (1993) dan juga Gerd Lüdemann (1989: 166f.), setidaknya tradisi-tradisi yang digunakan Hegesippus memperlihatkan suatu latarbelakang Yahudi, atau berasal dari komunitas Yahudi-Kristen. Selain menghasilkan tulisan polemis melawan bidah gnostik dan Marcion, Hegesippus juga menghasilkan tulisan tentang sejarah gereja perdana. Seluruh karya tulis Hegesippus telah hilang, kecuali delapan fragmen dari bukunya tentang sejarah gereja yang terpelihara di dalam tulisan Eusebius, Historia Ecclesiastica, yang diselesaikan antara tahun 323-325. Selain itu, Epifanius, dalam karyanya Panarion, juga merujuk kepada Hegesippus. Sebuah penggalan tulisan Hegesippus juga tercatat dalam karya Stefanus Gobarus.

Eusebius melaporkan bahwa Hegesippus menulis sebuah karya yang diberi judul Hupomnēmata (“Memoar” atau “Memoranda”) yang terdiri atas lima jilid, dalam gaya bahasa yang sangat sederhana mengenai tradisi pemberitaan para rasul. Lewat Eusebius, Hegesippus juga dikenal oleh Santo Hieronimus (Latin: E
usebius Sofronius Hieronymus; Yunani: Eusebios Sōfronios Hierōnumos; hidup c. 347– 30 September 420) yang menyatakan bahwa Hegesippus “menulis sebuah sejarah tentang semua kejadian gerejawi sejak masa penderitaan Tuhan kita sampai ke masa kehidupannya sendiri… dalam lima jilid” (Hieronimus, De viris illustribus 22). Pernyataan Hieronimus ini menjadi dasar munculnya kepercayaan bahwa Hegesippus harus diperhitungkan sebagai bapak sejarah gereja. Tetapi menurut W. Tefler (1960:143f.), “Memoranda Hegesippus terutama adalah sebuah tulisan polemis dan doktrinal, dan hanya sambil lalu saja membahas sejarah.”

Berikut ini gambaran Hegesippus tentang kekristenan Yahudi sejauh tercermin dalam tulisan Eusebius, Historia Ecclesiastica (selanjutnya disingkat: HE). Bagian-bagian dari tu
lisan Epifanius dan tulisan Stefanus Gobarus yang sudah disebut di atas juga akan dikemukakan.

1.1. Mengenai Yakobus, saudara Yesus, dan kesyahidannya (dari Buku V Hupomnemata; dikutip Eusebius, HE, 2.23; bdk. Epifanius, Panarion 29.4; 78.13-14)


Dalam catatan Hegesippus, Yakobus, saudara Tuhan, meneruskan kepemimpinan Gereja Yerusalem, bersama dengan para rasul. Sejak masa kehidupan Yesus, pada umumnya orang menyebutnya Si Adil. Banyak orang memakai nama Yakobus, tetapi Yakobus si Adil sudah suci sejak dalam kandungan ibunya. Dia tidak minum anggur atau minuman lain yang dapat membuat orang mabuk; dia juga tidak makan daging; rambut di kepalanya tidak pernah dicukur, juga tidak meminyaki dirinya dengan minyak dan juga tidak pernah mandi. Hanya dia saja yang diizinkan memasuki tempat suci (ta hagia atau ho naos). Dia tidak mengenakan pakaian wol apapun, tetapi hanya memakai pakaian lenan yang halus. Hanya dia yang biasa pergi ke Bait Suci: dia biasa dijumpai sedang berlutut, menyembah Allah dan memohon pengamp
unan bagi umat Israel, sehingga kulit lututnya kapalan seperti kulit seekor onta. Karena dia dikenal luar biasa adil, dia disebut Si Adil (Saddik), dan Oblias (Ōblias), yang dalam bahasa Yunani berarti Keadilan dan Pertahanan Umat, sejalan dengan apa yang dikatakan para nabi mengenai dirinya.

Menurut Daniel Stökel Ben Ezra (Tomson 2003:63ff), Hegesippus, seperti ditulis di atas, menggambarkan Yakobus berkelakuan seolah setiap hari adalah Hari Pendamaian, Yom Kippur, dengan dia di Ruang Maha Kudus (ta hagia tōn hagiōn) Bait Allah terus-menerus menaikkan doa syafaat demi pengampunan dosa umat dan secara tetap memenuhi pantangan-pantangan yang dituntut Yom Kippur. Dengan ini, Yakobus memperluas Yom Kippur ke sepanjang tahun, bukan hanya sebagai satu hari istimewa yang dirayakan setahun sekali (hari kesepuluh bulan ketujuh, bulan Tishri, atau akhir September atau awal Oktober ; lihat Imamat 16:29-34; 23:26-32). Bagi Yakobus, sebagai seorang pemimpin Kristen yang memangku jabatan Imam Besar, Ruang Maha Kudus senantiasa dapat dimasuki dan selalu mungkin untuk menaikkan doa di ruang ini di mana Allah dipercaya hadir paling dekat. Dengan demikian, dari sudut pandang Hegesippus, hari khu
sus Yom Kippur yang dirayakan sekali dalam setahun makin tidak diperlukan.

Baru saja disebutkan bahwa Yakobus juga memangku jabatan Imam Besar. Sumber informasi tentang hal ini didapat, selain dari Hegesippus, juga dari Epifanius dalam tulisannya Panarion (29.4; 78.13-14). Dalam bagian karyanya ini, Epifanius dengan eksplisit menyebut Yakobus sebagai Imam Besar. Epifanius juga menulis bahwa Yakobus bertindak sebagai pemanggil hujan; tradisi pemanggilan hujan ini dapat mengacu kepada tradisi Yom Kippur Babilonia. Menurut tradisi Babilonia ini, salah satu tugas Imam Besar pada perayaan Yom Kippur adalah berdoa meminta kepada Allah agar tahun depan hujan akan turun dengan cukup (bYom 53b; bTaan 24b; bdk. 1 Raja-raja 18:42-45; paralel Yakobus 5:16-18). Tentang ini, Epifanius bahkan menulis bahwa Yakobus, “ketika kekeringan melanda tanah Israel, mengangkat tangannya ke langit dan berdoa minta hujan. Dan segera langit menurunkan hujan” (Panarion, 78.14).

Di atas telah ditulis bahwa Yakobus memakai pakaian lenan halus, dan tidak pernah memakai pakaian wol. Jenis pakaian Yakobus ini berlatarbelakang perintah di dalam Yehezkiel 44:17-18 (bdk. Imamat 16:4). Pakaian lenan digunakan oleh para imam biasa dalam pelayanan se
hari-hari dan oleh Imam Besar ketika dia memasuki Ruang Maha Kudus. Hegesippus menyatakan bahwa Yakobus berdoa di tempat kudus di Bait Allah, dan hanya dia yang diizinkan memasuki tempat ini. Catatan Hegesippus ini menunjukkan bahwa Yakobus diizinkan masuk ke Ruang Maha Kudus, dan dengan demikian dia dipandang sebagai seorang Imam Besar Yahudi yang menurut hukum Yahudi adalah satu-satunya pejabat Bait Allah yang boleh memasuki ruangan ini. Memang Hegesippus hanya menyebut tempat itu sebagai tempat suci (ta hagia atau ho naos); tetapi ta hagia juga bisa berarti ta hagia tōn hagiōn, Ruang Maha Kudus, The Holy of Holies (lihat Ibrani 9:2 atau 9:3; juga Yosefus, Perang Yahudi 1.7.6 [1.152]). Rufinus, yang menerjemahkan karya Eusebius ke dalam bahasa Latin, dan juga Hieronimus, serta teks dalam bahasa Syria, memakai sebutan Ruang Maha Kudus untuk memaknai ta hagia.

Dari pantangan-pantangan yang dijalani Yakobus, seperti telah ditulis di atas, kita dapat menggolongkan Yakobus, saudara Yesus, sebagai seorang nazir (= orang yang dikhususkan bagi Allah) yang mempraktekkan pantangan-pantangan yang dicatat dalam Bilangan 6:1-7 (pantang minum anggur/alkohol; pantang memotong rambut; pantang menyentuh mayat). Namun, kalau informasi dari Eusebius dan dari Epifanius digabung, kita ketahui ada 7 pantangan yang dipegang kuat oleh Yakobus: meminum anggur/alkohol, memakan daging, memangkas rambut, mandi, mengurapi diri dengan minyak, memakai sandal atau jubah kedua, dan berhubungan seks.


Selanjutnya, Hegesippus dalam Buku V-nya itu, mencatat bagaimana Yakobus menemui ajalnya sebagai seorang syuhadah (martir). Sejumlah orang yang berasal dari tujuh kelompok keagamaan di antara orang Yahudi datang kepada Yakobus dan bertanya, “Jenis apakah pintu Yesus itu?” Yakobus menjawab bahwa Yesus adalah sang Penyelamat. Karena jawabannya ini, dan karena memandang reputasi Yakobus, sejumlah orang, tidak sedikit di antaranya berasal dari para pemimpin, menjadi percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias. Tetapi orang-orang yang berasal dari tujuh aliran ini tidak percaya. Karena melihat banyak orang menjadi percaya, mereka membuat huru-hara di antara orang Yahudi, para ahli Taurat, dan orang Farisi, sementara waktu itu adalah waktu perayaan Paskah dan banyak orang, dari berbagai bangsa, telah datang ke Yerusalem. Mereka kemudian mendatangi Yakobus dan, karena mereka memandang ketokohan Yakobus, mereka memintanya untuk meyakinkan orang banyak yang telah percaya itu bahwa kepercayaan mereka kepada Yesus sebagai sang Mesias adalah suatu kepercayaan yang keliru. Untuk keperluan ini, mereka meminta Yakobus berbicara dari suatu bagian dari Bait Allah, yang letaknya lebih tinggi, kepada orang banyak, yakni dari bubungan Bait Allah. Maka, ketika orang banyak telah berkumpul, dan Yakobus sudah mengambil tempat di bubungan Bait Allah supaya dapat dengan jelas dilihat dan didengar semua orang, para ahli Taurat dan orang Farisi bertanya kepadanya dengan lantang: “Wahai Yang Adil, yang kami wajib taati, berhubung banyak orang sudah keliru mengikut Yesus yang sudah disalibkan, katakanlah kepada kami jenis apakah pintu Yesus itu, orang yang telah disalibkan itu?”

Atas permintaan ini, Yakobus menjawab dengan suara keras, “Mengapa kalian bertanya kepadaku t
entang Yesus sang Anak Manusia? Dia sendiri telah duduk di surga, di sebelah kanan sang Kuasa Besar, dan akan datang kembali dengan awan-awan di langit!” Atas kesaksian Yakobus ini, banyak orang diyakinkan dan memuji testimoninya, dan mereka berkata, “Hosanna bagi sang anak Daud!” Melihat perkembangan situasinya, para ahli Taurat dan orang Farisi yang tidak percaya itu berkata satu terhadap yang lainnya, “Wah, wah, Orang Yang Adil ini sendiri telah keliru.” Lalu mereka memutuskan untuk naik ke bubungan Bait Allah dan melemparkan Yakobus ke bawah. Setelah Yakobus dilempar ke bawah, dan kedapatan tidak tewas, merekapun merajam Yakobus dengan batu, dan atas semua kemalangan ini, Yakobus berseru, “Aku mohon pada-Mu, Tuhan Allah, Bapa kami, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka sedang perbuat.” Seorang dari antara para imam berusaha menghentikan kebuasan mereka. Tetapi, di tengah huru-hara ini, seorang tukang celup melemparkan tongkat kayu besar yang biasa dia pakai untuk merojok-rojok pakaian yang dicelup, ke kepala Yakobus, dan kena. Yakobus pun mati seketika sebagai seorang syuhadah. Lalu Hegesippus, pada bagian Buku V-nya ini, mengakhiri dengan menulis bahwa mereka mengubur Yakobus di tempat itu juga, dekat Bait Allah, dan sebuah pilar dibangun di situ untuk mengingat dia. Bagian ini ditutup dengan kata-kata, “Orang ini adalah suatu kesaksian sejati baik bagi bangsa Yahudi maupun bagi orang Yunani bahwa Yesus adalah sang Mesias. Dan tak lama setelah itu, Vespasianus mengepung Yudea, dan menawan mereka”, seolah Hegesippus mau menyatakan bahwa dosa mereka membunuh Yakobus dibalas Allah dengan kehancuran negeri mereka.

Nah, yang perlu dijelaskan adalah apa maksud pertanyaan, “Jenis apakah pintu Yesus itu?”, sebuah pertanyaan yang diajukan para ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yakobus. Dengan melihat kesejajaran pertanyaan ini dengan ucapan Yesus dalam Matius 7:13, maks
ud pertanyaan ini dapat ditemukan: “Termasuk jenis pintu (atau jalan) yang bagaimanakah Yesus itu? Apakah dia adalah pintu (atau jalan) menuju ke kehidupan; ataukah dia adalah pintu (atau jalan) menuju ke kematian?” Jawaban Yakobus sangat tegas bahwa Yesus adalah sang Penyelamat, artinya pintu (atau jalan) sang Kristus adalah pintu (atau jalan) menuju keselamatan.

1.2) Mengenai kaum keluarga Yesus (Eusebius, HE, 3.20)


Yudas adalah saudara kandung Yesus, dan Yudas memiliki cucu-cucu sebagai anggota keluarga Yesus. Mereka, Yudas dan cucu-cucunya, dikenal sebagai bagian dari keluarga Daud; lalu seorang yang bernama Evokatus membawa mereka kepada Kaisar Domitianus (hidup 24 Oktober 51 – 18 September 96 ), sebab sang Kaisar takut terhadap kedatangan sang Kristus, seperti juga Herodes.

Maka bertanyalah Domitianus kepada mereka, apakah mereka adalah keluarga Daud; dan mereka mengaku demikian. Lalu sang Kaisar bertanya, harta kekayaan apa yang mereka miliki. Setelah menjelaskan apa yang mereka punya, mereka menegaskan bahwa mereka membayar pajak dan memenuhi kebutuhan mereka dengan bekerja. Lalu mereka memperlihatkan tangan-tangan mereka yang berkulit kasar dan berkapalan tebal sebagai bukti bahwa mereka telah terus-menerus bekerja dengan tangan. Terhadap pertanyaan tentang Kristus dan wujud kerajaannya serta waktu munculnya kerajaan ini dan di mana, mereka menjawab bahwa kerajaan Kristus bukanlah dari dunia ini, juga bukan bagian dari bumi ini, melainkan berasal dari kawasan surgawi dan kawasan para malaikat, dan akan datang pada akhir zaman ketika dia datang dengan segala kemuliaannya, dan menghakimi orang yang hidup dan orang yang mati, dan memberi balasan atau imbalan yang setimpal dengan cara kehidupan mereka. Setelah mendengar semua hal ini, Domitianus tidak menghukum mereka, tetapi menghina mereka supaya mereka memperhatikan, lalu mempersilakan mereka pergi. Dan pada waktu yang sama, sang Kaisar mengeluarkan sebuah perintah untuk menghentikan penganiayaan terhadap gereja. Setelah mereka dibebaskan, mereka menjadi para pemimpin gereja-gereja, sebagaimana lazimnya dilakukan orang-orang yang serentak menjadi martir dan kaum kerabat Yesus. Setelah kedamaian ditegakkan di antara gereja-gereja, mereka masih hidup sampai ke masa pemerintahan Kaisar Trajanus (hidup 18 September 53 – 8 August 117).

1.3) Mengenai kesyahidan Symeon, putra Klopas, Uskup Yerusalem (Eusebius, HE, 3.32)


Sejumlah orang dari kalangan bidah menyebarkan berita bahwa Symeon putra Klopas adalah keluarga Daud dan seorang Kristen. Klopas sendiri adalah seorang paman Yesus. Atas tuduhan ini, Symeon mati syahid disalibkan ketika dia berusia 120 tahun
pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus. Ketika dilakukan penyelidikan atas orang-orang Yahudi yang menjadi bagian dari keluarga Daud, para penuduh mereka sendiri dijatuhi hukuman dengan tuduhan yang sama. Karena usianya yang panjang, tentu Symeon pernah melihat dan mendengar Yesus, dan injil-injil juga menyebut Maria putri Klopas, ayah Symeon. Kaum keluarga Yesus memimpin setiap gereja sebagai para saksi Kristus dan sebagai bagian dari keluarga Yesus. Setelah kedamaian ditegakkan di setiap gereja, mereka tetap mengepalai gereja-gereja sampai ke masa pemerintahan Kaisar Trajanus, pada waktu mana Symeon putra Klopas mati syahid.

1.4) Mengenai perjalanan Hegesippus ke Roma, dan sekte-sekte Yahudi (Eusebius, HE, 4.22)


Pada bagian ini, Hegesippus bertutur tentang perjalanannya ke Roma pada waktu Anicetus menjadi Paus (155-166) dan persinggahannya di Korintus untuk bertemu dengan orang-orang Kristen di sana yang didapatinya terus merawat iman ortodoks. Ketika dia sudah tib
a di Roma, dia membuat sebuah daftar suksesi uskup-uskup, dan menurutnya suksesi ini, yang berlangsung di setiap kota, berjalan sesuai dengan ajaran Taurat, para nabi, dan ajaran Tuhan. Lalu Hegesippus menyatakan bahwa setelah Yakobus si Adil mati syahid, seperti halnya dengan Tuhan dan juga karena penyebab yang sama, Symeon putra Klopas, keturunan paman Yesus, diteguhkan sebagai uskup gereja Yerusalem berdasarkan pertimbangan semua orang bahwa dia termasuk kaum keluarga Yesus. Selanjutnya Hegesippus menyebutkan tujuh sekte yang ada dalam agama Yahudi, yang, menurutnya, merusak virginitas gereja Yerusalem setelah Yakobus mati syahid. Sekte-sekte itu antara lain sekte para pengikut Thebulis atau Thebouthis (yang tersinggung karena tidak diangkat menjadi uskup gereja Yerusalem setelah Yakobus wafat, lalu mulai merusak gereja dengan sembunyi-sembunyi), sekte para pengikut Simon, sekte para pengikut Kleobius, sekte para pengikut Doritheus, sekte para pengikut Gorthaeus, sekte para pengikut Masbothaeus. Dari mereka, kata Hegesippus, muncul sekte-sekte (gnostik): Menandrianis, Marcionis, Karpokratian, Valentinus, Basilidian, dan Saturnalian.

Setiap pemimpin ini, masing-masing berdasarkan kemampuan pribadi, mengajukan pandangan-pandangan pribadi mereka sendiri, sehingga muncullah Kristus-kristus palsu, nabi-nabi palsu, dan rasul-rasul palsu, yang telah memecah-belah gereja melalui doktrin-doktrin mereka yang rusak, yang melawan Allah dan sang Kristus-Nya. Hegesippus juga mencatat adanya aneka ragam pandangan mengenai sunat di antara orang Israel, sehingga bangsa Yahudi terpecah-pecah ke dalam sekte-sekte, seperti sekte Essenis, sekte Galilean, sekta Hemerobaptis, sekte Samaritan, sekte Saduki, sekte Farisi.


2. Hegesippus sebagaimana dikutip Stefanus Gobarus


Stefanus Gobarus (abad keenam) menulis dua abad setelah Eusebius. Dia mengutip pendek Hegesippus
, dan kutipannya ini dapat ditemukan dalam Photius: Bibliotheca. Codex 232, par. 70:8-9. Kutipannya berbunyi demikian:
“Hal-hal yang baik disediakan bagi orang yang benar;
mata tidak melihat dan juga telinga tidak mendengar;
dan juga hal-hal itu tidak masuk ke dalam hati manusia”
[Gobarus melanjutkan:] Hegesippus, seorang penulis zaman kuno yang termasuk ke zaman para rasul, mengatakan dalam bukunya yang kelima dari karyanya Hupomnēmata, atas dasar apa aku tidak tahu: “Hal ini dikatakan dengan cara yang berbelit-belit, dan mereka yang menggunakan perkataan ini adalah para pendusta, sebab Kitab Suci dan Tuhan mengatakan ‘Berbahagialah matamu karena melihat, dan telingamu karena mendengar.’”
Setelah menganalisa teks Gobarus ini, Gerd Lüdemann menyimpulkan bahwa perkataan yang dikutip dari surat Paulus ini (1 Korintus 2:9), dan dengan demikian menampilkan pandangan Rasul Paulus, diserang dengan tajam oleh Hegesippus melalui pengajuan suatu perkataan tandingan yang melawan, yang dikutipnya dari ucapan Yesus dalam Matius 13:16. Dengan melandaskan dirinya pada “Kitab Suci dan Tuhan” (Yesus), Hegesippus menuduh Rasul Paulus dan/atau murid-murid Rasul Paulus yang sezaman dengan Hegesippus sebagai “berbelit-belit” dan “para pendusta”. Jadi, dalam pendapat Hegesippus, teks Paulus dalam 1 Korintus 2:9 itu berbelit-belit dan berisi kebohongan, yang isinya berlawanan dengan perkataan Yesus dalam Matius 13:16. Lüdemann (1989: 158) menarik kesimpulan bahwa teks Gobarus yang dikutip di atas memperlihatkan bahwa Hegesippus adalah seorang Yahudi-Kristen yang anti-Paulus: Hegesippus mempertentangan otoritas Kitab Suci dan diri Tuhan Yesus yang menjadi andalannya dengan otoritas Rasul Paulus yang didasarkan pada wahyu, tema yang juga ditemukan dalam Pseudo-Klementin Homili Buku II, pasal 18; Buku XVII, pasal 19.1-7.

3. Kekristenan Yahudi sebagaimana tercermin dalam Yustinus Martir, Dialog dengan Tryfo 46-47

Santo Yustinus Martir (atau dikenal juga sebagai Yustinus dari Kaisarea) dilahirkan di Flavia Neapolis (Sikhem di Samaria; kini Nablus) di Palestina pada sekitar tahun 100, dan mati syahid pada tahun 165 di Roma ketika Kaisar Markus Aurelius berkuasa (hidup
26 April 121 – 17 March 180). Dia dikenal sebagai seorang apologet Kristen perdana dan karya-karyanya merupakan “apologi” Kristen paling awal yang masih ada sampai sekarang dalam ukuran besar. Yustinus menyebut dirinya seorang Samaria, tetapi sangat mungkin ayahnya (Priskus) dan kakeknya (Bakkhius) adalah seorang Yunani atau seorang Romawi, dan dia dibesarkan sebagai seorang bukan-Yahudi yang kemudian menjadi Kristen. Dia mengaku mempelajari filsafat, khususnya filsafat Sokrates dan Plato. Baginya, kekristenan yang dikenal dan dianutnya adalah filsafat sejati, dan sesudah menjadi Kristen dia senantiasa memakai jubah filsuf untuk menyatakan kepada publik bahwa dia sudah mendapatkan kebenaran. Sangat mungkin Yustinus berkelana ke banyak tempat dan akhirnya menetap di Roma dan bekerja sebagai seorang dosen Kristen. Di Roma sekelompok filsuf Synik berkomplot melawan dirinya, dan dalam kegigihannya membela apa yang diyakininya sebagai filsafat sejati, yakni kekristenan, dia harus mati syahid.

Dari sekian banyak karya yang dikaitkan dengan dirinya, banyak di antaranya bukanlah karya asli Yustinus. Karyanya yang berjudul Melawan Marcion dan Penolakan terhadap Semua Bidah (yang dirujuk Yustinus sendiri dalam 1 Apologi 26) telah hilang. Karya-karyanya 1 dan 2 Apologi dan Dialog dengan Tryfo (terdiri atas 142 pasal) diterima para pakar pada umumnya sebagai karya-karya asli Yustinus, dan di dalam kedua karya ini Yustinus kerap membeberkan siapa dirinya.

Sebagai sebuah eksposisi paling rinci pertama mengenai alasan mengapa Yesus adalah sang Mesias yang diberitakan Perjanjian Lama, Dialog dengan Tryfo adalah sebuah dialog antara Rabi Tarfon dan Yustinus, dan ada kemungkinan dialog ini sebuah dialog aktual yang berlangsung di Efesus. Tetapi dalam pandangan sejumlah kritikus modern, Dialog dengan Tryfo lebih merupakan suatu karya dialog fiktif imajiner, yang melaluinya Yustinus mau menunjukkan bahwa kekristenan adalah hukum bar
u bagi semua orang (pasal 10-30), dan membuktikan dari Kitab Suci Perjanjian Lama bahwa Yesus adalah sang Mesias (pasal 31-108).

Dialog dengan Tryfo 46-47 mengungkapkan beberapa karakteristik kepercayaan dan praktek orang-orang Kristen yang beretnis Yahudi (Judeo-Christians) yang dikenal Yustinus. Pertama, mereka memercayai Yesus yang disalibkan sebagai sang Mesias, sang Hakim atas semua orang dan kerajaannya kekal. Kedua, menurut Dialog 46:2, mereka memelihara Sabat, menyunatkan diri, memelihara bulan-bulan, membasuh diri jika menyentuh apapun yang dilarang Musa atau setelah berhubungan seks. Ketiga, seperti dicatat dalam Dialog 47:2, mereka menyunatkan diri dan menguduskan Sabat. Keempat, ritual pemberian kurban binatang pada hari Paskah Yahudi atau pemberian semua kurban lain sudah tidak mungkin lagi mereka jalankan (Dialog 46:1-2). Kepercayaan dan praktik keagamaan semacam ini disebut sebagai “percaya kepada Kristus dan menaatinya” (Dialog 46:1; 47:1) dan serentak dengan itu “hidup dalam segala hal sejalan dengan Taurat yang diberikan Musa” atau “hidup menurut Ta
urat” (Dialog 47:4). Bagi mereka, Yesus sang Kristus dan Taurat Musa serasi dan sejalan, tidak berbenturan.

Menurut Yustinus dalam 1 Apologi 49, bangsa-bangsa non-Yahudi yang tidak pernah mendengar hal apapun tentang Kristus, mendapatkan kesempatan mendengarkan pemberitaan Kristen tentang Kristus hanya setelah “para rasul bergerak keluar dari Yerusalem untuk berkhotbah mengenai Kristus.” Menyangkut sikap terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi yang telah menjadi Kristen, komunitas Yahudi-Kristen yang dikenal Yustinus ini terbagi atas dua golongan. Golongan pertama menerima mereka sebagai orang Kristen tetapi sekaligus menuntut mereka dengan keras untuk menaati Taurat Musa, dan jika mereka menolak hidup secara Yahudi, mereka tidak mau bergaul dan berhubungan dengan orang-orang Kristen non-Yahudi ini (Dialog 47:3). Golongan kedua mau menerima mereka sebagai orang Kristen tetapi tidak menuntut mereka untuk dalam segala hal hidup sejalan dengan Taurat Musa (Dialog 47:2). Kelompok Yahudi-Kristen yang kedua ini mau “bergaul” dengan orang-orang Kristen non-Yahudi dan mau “makan bersama” atau”hidup bersama” mereka (Dialog 47:2). Yustinus Martir sendiri menyatakan pendiriannya bahwa dia tidak setuju dengan golongan pertama yang sangat keras menekankan otoritas Taurat Musa atas setiap orang Kristen (Dialog 47:2). Komunitas Yahudi-Kristen ini berdiam bisa di Asia Kecil atau, lebih mungkin, malah bisa di Palestina sendiri. Yustinus pernah berdiam di kawasan-kawasan ini untuk waktu yang panjang.

Baru saja dicatat bahwa di dalam komunitas Yahudi-Kristen ini ada golongan yang tidak mau bergaul dengan orang Kristen non-Yahudi jika orang Kristen non-Yahudi ini tidak mau menjalani kehidupan sejalan dengan tuntutan Taurat Musa sepenuhnya. Tuntutan keras golongan ini untuk orang Kristen dari bangsa-bangsa lain hidup sejalan dengan Taurat dalam segala hal tentu tidak dapat dipisahkan da
ri ketegangan yang ditimbulkan oleh Rasul Paulus sebelum tahun 70 dengan orang Yahudi-Kristen (khususnya yang terhimpun di sekitar Yakobus si Adil; bandingkan dengan insiden di Antiokhia seperti dituturkan Paulus dalam Galatia 2:11-14) ketika sang Rasul membebaskan orang Kristen non-Yahudi dari keharusan tunduk kepada Taurat Musa seperti dapat kita baca dalam surat-surat Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, penolakan mereka untuk bergaul dan hidup bersama dengan orang Kristen non-Yahudi yang berada di luar Taurat Musa dalam banyak hal tentunya berkaitan dengan suatu penolakan terhadap Rasul Paulus oleh sebagian anggota komunitas Yahudi-Kristen yang dikenal oleh Yustinus ini. Jadi, mentalitas anti-Paulus ditemukan dalam komunitas Yahudi-Kristen ini.

Pertanyaan yang tertinggal: Mengapa Yustinus Martir tidak eksplisit menyebut nama Paulus atau meng
acu kepada Rasul Paulus dalam tulisannya, Dialog dengan Tryfo? Atas masalah ini, Gerd Lüdemann (1989: 153; 1996:56) memberi jawab berikut ini. Harus dicatat bahwa, pada satu sisi, Yustinus, dalam sebuah tulisannya sebelumnya, telah menyerang seorang Kristen gnostik yang bernama Marcion (lihat 1 Apologi 26.7 yang di dalamnya terdapat sebuah rujukan kepada “risalah” atau syntagma yang melawan semua bidah, dan ini berarti risalah ini juga melawan Marcion). Kita ketahui Marcion adalah pendukung kuat Rasul Paulus, sementara Rasul Paulus sendiri ditabukan dan ditolak oleh orang Yahudi-Kristen pada umumnya. Pada sisi lain, Yustinus Martir juga sedang berupaya membangun sebuah dialog dengan orang Yahudi, meskipun sangat boleh jadi dialog ini dilakukan secara imajiner monolog, seperti dilakukannya dalam karyanya Dialog dengan Tryfo. Nah, kalau Yustinus menyebut Rasul Paulus dengan eksplisit, hal ini akan membuatnya terlalu dekat dengan Marcion dan juga akan membuat situasinya lebih sulit untuk dia membangun sebuah dialog dengan orang Yahudi-Kristen yang membenci dan menolak Rasul Paulus.

4. Kekristenan Yahudi Ebion dalam pandangan Irenaeus, Adversus Haereses Buku I, 26.1-2.


Santo Irenaeus (Y
unani: Eirēnaios; lihat gambar sebelah kiri) dilahirkan sebagai seorang Yunani dekat Smyrna (kini Izmir, Turki) sekitar tahun 135-140 dan wafat sekitar tahun 202. Sejak kecil, dia sudah menerima pendidikan dan pengajaran Kristen dari uskup gaek Smyrna, Polikarpus, yang konon adalah seorang murid Rasul Yohanes. Sampai wafatnya, Irenaeus adalah uskup Lugdunum di Gaul (sekarang Lyons, Perancis). Sebagai salah seorang teolog besar pertama gereja, dia menekankan kepentingan elemen-elemen tradisional dalam gereja, khususnya keuskupan sebagai lembaga kepemimpinan gereja, Kitab Suci, dan tradisi. Ireaneus adalah saksi terawal atas pengakuan bahwa empat injil dalam Perjanjian Baru adalah dokumen-dokumen kanonik.

Menurut Irenaeus, satu-satunya jalan untuk mempertahankan kesatuan gereja adalah penerimaan dengan rendah hati satu otoritas doktrinal gereja, yakni konsili-konsili episkopal. Tulisan-tulisannya, bersama dengan tulisan-tulisan Klemen dan Ignatius, dipandang sebagai tulisan-tulisan yang membela keutamaan Paus.
Irenaeus adalah seorang bapak gereja dan apologet Kristen awal; tulisan-tulisannya membentuk bangunan teologi Kristen pada tahap dini perkembangannya. Karya Irenaeus yang paling baik dikenal adalah Adversus Haereses atau Melawan Para Bidah yang ditulis sekitar tahun 180. Karya ini, yang terdiri atas lima buku, berisi suatu serangan dan polemik terinci terhadap beraneka ragam gnostisisme yang pada masanya merupakan suatu ancaman serius terhadap gereja, khususnya gnostisisme yang disistimatisasi oleh Valentinus. Dalam polemiknya, dia menuduh kalangan gnostik sebagai orang-orang yang antara lain menjalani kehidupan seks yang bebas tak terkendali. Namun, dari teks-teks gnostik yang ditemukan di Nag Hammadi pada tahun 1945 kita tahu bahwa sekian kelompok gnostik menjalani kehidupan seksual yang suci dan murni, bahkan kesucian ditekankan lebih kuat oleh mereka daripada yang ditekankan gereja Kristen ortodoks dengan mereka sama sekali menolak pernikahan dan semua kegiatan seksual. Irenaeus mengatakan bahwa kaum gnostik Valentinus dan para pendahulu mereka bermula dari seorang penyihir yang bernama Simon Magus. Berhadapan dengan kalangan Kristen gnostik yang mengklaim bahwa mereka memiliki suatu tradisi lisan rahasia (“gnosis”) yang berasal dari Yesus sendiri, Irenaeus mempertahankan bahwa para uskup, yang tidak sedikit dari antara mereka berasal dari zaman para rasul, adalah satu-satunya pandu yang aman bagi setiap upaya penafsiran Kitab Suci.

Dalam Adversus Haereses Buku I, 26.1-2, Irenaeus mengacu kepada kekristenan Yahudi Ebion dan karakteristik mereka, dengan sebelumnya dia mengacu pada kristologi Cerinthus dan Karpokrates. Selengkapnya teksnya berbunyi demikian:

1 “Cerinthus, seorang yang dididik dalam hikmat bangsa Mesir, mengajarkan bahwa… Yesus tidak dilahirkan dari seorang perawan, tetapi dia adalah anak Yusuf dan Maria yang dilahirkan dengan cara yang biasa ketika manusia umumnya dilahirkan, namun dia memang lebih benar, lebih bijak, dan lebih penuh pertimbangan dibandingkan orang biasa pada umumnya. Selain itu, setelah pembaptisannya, Kristus turun ke atas dirinya dalam rupa seekor burung merpati yang berasal dari Penguasa Yang Mahatinggi, lalu dia memberitakan tentang sang Bapa yang tidak dikenal dan melakukan banyak mukjizat. Tetapi akhirnya, sang Kristus meninggalkan Yesus, lalu Yesus menderita dan bangkit kembali, sementara sang Kristus sendiri tidak bisa menderita karena dia adalah suatu hakikat rohani. 2 Orang-orang yang disebut orang Ebion [Ibrani: ebyonim] sepakat bahwa dunia diciptakan oleh Allah; tetapi pendapat mereka mengenai Tuhan (Yesus) serupa dengan pendapat Cerinthus dan Karpokrates. Mereka menggunakan Injil menurut Matius saja, dan menolak mengakui Rasul Paulus dan berpendapat bahwa dia adalah seorang yang sudah murtad terhadap Taurat. Mengenai tulisan para nabi, mereka berusaha menjelaskannya dengan cara yang khas: mereka mempraktekkan sunat, bertekun memelihara adat-istiadat yang diperintahkan Taurat, dan menampilkan suatu gaya hidup yang bercorak sangat Yahudi, dan mereka bahkan memuja Yerusalem seolah kota ini adalah rumah Allah.”
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah pernyataan Irenaeus bahwa kristologi komunitas Ebion serupa dengan kristologi Cerinthus dan Karpokrates. Dalam Adversus Haereses Buku I, 25, Irenaeus menulis,
“Karpokrates dan para pengikutnya mempertahankan… bahwa Yesus adalah putra Yusuf, dan dia sama dengan orang lain pada umumnya, dengan kekecualian bahwa dia berbeda dari mereka dalam satu hal ini: bahwa karena jiwanya murni dan kokoh, dia dengan sempurna ingat pada hal-hal yang dia telah saksikan di kawasan Allah yang tidak diperanakkan. Karena alasan ini, suatu Kuasa turun ke atasnya dari sang Bapa, supaya melalui Kuasa ini dia dapat luput dari para pencipta dunia ini. Dan mereka mengatakan bahwa setelah melewati semua pencipta ini, dan tetap bebas dalam segala hal, Kuasa ini naik kembali kepada Allah yang tidak diperanakkan….”
Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa kristologi komunitas Ebion yang dibicarakan Irenaeus ini adalah kristologi adopsionis: Yesus menjadi sang Kristus atau diangkat/diadopsi menjadi sang Kristus pada waktu dia dibaptiskan ketika “Kristus” atau suatu “Kuasa” turun ke atas dirinya dalam rupa seekor burung merpati, dan sang Kristus atau Kuasa ini naik kembali kepada Allah Yang Mahatinggi pada waktu dia menderita dan mati di kayu salib. Sebelum pembaptisannya, Yesus adalah seorang manusia biasa yang dilahirkan dengan cara normal oleh seorang ayah dan seorang ibu yang juga manusia biasa (Bunda Maria), namun sebagai manusia biasa Yesus memiliki kualitas moral dan kebijaksanaan di atas rata-rata manusia pada umumnya. Dengan demikian, komunitas Ebion ini juga menolak doktrin kelahiran perawan. Injil Matius sebagai satu-satunya injil yang mereka pakai tentunya adalah Injil Matius yang sudah tidak memiliki kisah kelahiran dan silsilah Yesus. Mereka menggunakan kitab para nabi dengan cara yang sangat khas.


Berbeda dari pandangan gnostik yang memercayai bahwa dunia ini diciptakan oleh hakikat-hakikat ilahi atau para malaikat “yang jauh lebih rendah dari Allah yang tidak diperanakkan” (Adversus Haereses Buku I, 25.1) atau oleh “suatu Kuasa tertentu yang jauh terpisah dari Allah Utama” (Adversus Haereses Buku I, 26.1), komunitas Ebion menyatakan bahwa “dunia ini diciptakan oleh Allah” (Adversus Haereses Buku I, 25.2), tanpa menyebut adanya hakikat-hakikat ilahi lain yang lebih rendah dari Allah. Dengan demikian, mereka menganut monoteisme.

Orang-orang Ebion ini mempraktekkan sunat, memelihara adat-istiadat yang diperintahkan Taurat, dan menjalani suatu gaya hidup sebagai orang yang sangat Yahudi. Karena komunitas Yahudi-Kristen ini berpusat dan berdasar kuat pada Taurat, tentu saja mereka tidak mengakui Rasul Paulus, dan mencap sang Rasul sebagai seorang yang murtad, bidah, yang telah menyimpang dari Taurat. Permusuhan terhadap Paulus di dalam lingkungan Kristen sebelum tahun 70 ditemukan dalam banyak kelompok yang datang dari Yerusalem. Bandingkan kesesuaian verbal antara tuduhan yang diarahkan kepada Paulus dalam Kisah Para Rasul 21:21 sebagai seorang yang telah “murtad terhadap Musa” (apostasia apo Mouseos. TB LAI: “melepaskan hukum Musa”) dan teks Irenaeus pada bagian ini (“murtad terhadap Taurat”; apostates tou nomou). Fakta-fatka ini menunjukkan bahwa komunitas Ebion yang sedang dibicarakan Irenaeus ini memiliki hubungan genetik dengan gereja Yerusalem, yang dijuluki sebagai “orang-orang miskin” (Ibrani: ebyonim; Yunani: hoi ptōkhoi) (lihat Roma 15:25-26; 1 Korintus 16:1-4). Dalam tradisi skriptural Yahudi ebyon, “orang miskin”, merupakan sebuah gelar kehormatan (lihat Mazmur 86:1 dyb; 132:15 dyb; Yesaya 61:1 dyb). Mereka bahkan memuja Yerusalem, dan ketika berdoa mereka berkiblat ke kota ini yang dipandang sebagai rumah Allah. Posisi kiblat (qibla) ini mengisyaratkan bahwa komunitas ini memiliki hubungan khusus dengan kota Yerusalem, atau bahkan mereka bisa jadi berasal dari kota ini (lihat Gerd Lüdemann 1996:53).

Baiklah, sekian karakteristik doktrinal religius yang melekat pada komunitas Ebion ini, yang memiliki pertalian historis dengan jemaat induk di Yerusalem yang bertahan sampai tahun 70, sekarang kita rangkum:


1. Monoteisme

2. Kristologi adopsionis

3. Menolak doktrin kelahiran Yesus dari perawan Maria

4. Menggunakan hanya Injil Matius (tanpa kisah kelahiran dan silsilah Yesus)

5. Mempraktekkan sunat

6. Memelihara Taurat
7. Menjalani gaya hidup sangat Yudaistik
8. Mengambil kiblat ke kota suci Yerusalem ketika berdoa
9. Memakai kitab para nabi dengan cara yang khas

10.Menolak Rasul Paulus dan mencapnya sebagai bidah



5. Penutup


Telah dikemukakan di atas berbagai gambaran kekristenan Yahudi yang ditemukan dalam karya-karya penulis-penulis Kristen Hegesippus, Epifanius, Stefanus Gobarus, Yustinus Martir, dan Irenaeus. Tentu saja masih ada banyak penulis Kristen abad-abad pertama yang juga memberi laporan-laporan tentang kekristenan Yahudi yang mereka kenal secara langsung atau secara tidak langsung, yang tidak dibahas dalam tulisan ini. Gambaran tentang kekristenan Yahudi yang terungkap dalam tulisan ini ternyata kompleks dan beraneka ragam, sebab setiap penulis Kristen yang sudah disebut di atas, selain melaporkan fakta-fakta sejarah yang heterogen, juga memasukkan perspektif teologis masing-masing demi mempertahankan kepentingan-kepentingan ideologis gerejawi mereka. Bagimanapun juga, sepuluh ciri doktrinal religius yang berhasil dirangkum pada bagian keempat tulisan ini dapat dikatakan berlaku secara universal bagi kebanyakan kekristenan Yahudi perdana. Sementara ini kita tentunya cukup puas, karena pengetahuan kita tentang kekristenan Yahudi makin bertambah.

Sumber-sumber rujukan

(1) Irshai, Oded, Historical Aspects of the Christian-Jewish Polemic Concerning the Church of Jerusalem in the Fourth Century (in the Light of Patristic and Rabbinic Literature) (Ph.D. Dissertation, 2 vols, Hebrew University Jerusalem, 1993; in Hebrew with English Summary).

(2) Lüdemann, Gerd, Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989).

(3) Lüdemann, Gerd, Heretics: The Other Side of Early Christianity (ET by John Bowden; Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 1996).

(4) Tefler, W., “Was Hegesippus a Jew?”, dalam Harvard Theological Review 53.2 (April 1960) 143-153.

(5) Tomson, Peter J. & Doris Lambers-Petry (eds.), The Image of the Judeo-Christians in Ancient Jewish and Christian Literature (WUNT 158; Mohr Siebeck, 2003).

(6) Eusebius, Historia Ecclesiastica (http://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf201. html).

(7) Stephanus Gobarus (dalam Photius: Bibliotheca. Codices 230-241) (http://www.tertullian.org/fathers/photius_copyright/photius_07bibliotheca.htm).

(8) Yustinus Martir, 1 Apologi (http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf01.viii.ii.html).

(9) Irenaeus (http://en.wikipedia.org/wiki/Irenaeus).

(10) Irenaeus, Against Heresies (http://www.gnosis.org/library/advh1.htm).



Saturday, August 15, 2009

Kekristenan Yahudi Ebion menurut Pseudo-Klementin

Pseudo-Klementin (atau: Clementina) adalah serangkaian dokumen atau karya sastra yang menurut jenis sastranya tergolong sebagai sebuah roman atau novel teologis filosofis, yang melalui pengisahan peristiwa-peristiwa yang dialami para karakter di dalamnya gagasan-gagasan teologis dan filosofis disampaikan; dengan demikian, roman religius ini termasuk ke dalam “Tendenz-Romance”, suatu roman fiktif yang disusun dengan suatu tujuan.

Pseudo-Klementin
mencakup tiga dokumen. Dokumen pertama berjudul Rekognisi (Yunani: Anagnōseis), terdiri atas sepuluh buku, aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi yang masih ada adalah naskah dalam bahasa Latin, hasil terjemahan Tyrannius Rufinus dari Aquileia (wafat tahun 410). Dokumen kedua tersedia dalam bahasa Yunani, berjudul Homili, terdiri atas dua puluh buku, dan teks lengkapnya telah dikenal sejak 1853. Dokumen ketiga adalah ringkasan (epitomi) dari Homili yang ke dalamnya ditambahkan bagian-bagian yang berasal dari Surat Klemen kepada Yakobus, dan dari dokumen Martyrium Clemens yang ditulis oleh Simeon Metafrastes, dan sebagainya. Dan ada juga Pseudo-Klementin dalam bahasa Syria, yang berisi dokumen Yunani Rekognisi Buku I-IV dan dokumen Homili Buku X-XIV. Juga terdapat fragmen-fragmen dari Pseudo-Klementin yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Slavonia.


Dinamakan “pseudo-Klementin”, karena dalam dokumen ini Santo Klemen yang dilahirkan di kota Roma menyebut dirinya sendiri (dengan memakai kata ganti “aku”) sebagai penulisnya (lihat Rekognisi Buku I, pasal 1; dan passim), padahal siapa penulis sesungguhnya dari dokumen ini mustahil diketahui. Dengan demikian, Santo Klemen dijadikan penulis gadungan (“pseudo”) dokumen ini (= dokumen pseudonimus).

Dari catatan sejarah, kita tahu Santo Klemen, atau dikenal juga sebagai Santo Klemen dari Roma, atau, dalam bahasa Latin, sebagai Clemens Romanus, adalah Bapak Apostolik pertama dari gereja Kristen perdana, yang menjadi Paus di Roma antara tahun 92 sampai tahun 99, lalu (menurut tradisi dari abad ke-4) mati syahid pada tahun 101 atas perintah Kaisar Trajanus, dengan dirinya dilemparkan ke dalam laut sementara tubuhnya terikat oleh sebuah jangkar (lihat gambar di atas). Satu-satunya tulisan asli buah tangan Santo Klemen adalah surat 1 Klemen, yang ditulisnya sekitar tahun 96 untuk gereja di Korintus, dan merupakan salah satu dokumen Kristen tertua yang ada di luar Perjanjian Baru.


Dalam dokumen Pseudo-Klementin sendiri, Klemen dituturkan sebagai seorang teman seperjalanan Rasul Petrus menuju Roma. Setiap hal yang dikatakan Rasul Petrus di setiap tempat mengenai firman kebenaran dan sang Nabi sejati (=Yesus Kristus; Rekognisi Buku I, pasal 16, 44; dan passim) dan tindakan-tindakan sang Rasul dicatat oleh Klemen (Buku I, pasal 13, 25) untuk nantinya, dalam setiap tahun, diserahkan kepada Yakobus, saudara Yesus (Buku I, pasal 14), sesuai dengan amanat yang disampaikan Yakobus kepada Petrus sendiri (Buku I, pasal 17). Meskipun Klemen, seorang non-Yahudi yang dilahirkan di kota Roma, menjadi teman seperjalanan Rasul Petrus, Klemen tidak diizinkan Rasul Petrus untuk makan semeja dengannya dan dengan orang Yahudi lainnya selama Klemen belum menerima baptisan (Buku I, pasal 19; bdk. Buku II, pasal 70, 72; Buku VII, pasal 29; Homili XIII, pasal 4). Pada waktunya, seperti dicatat dalam Homili Buku XI, pasal 35, Klemen dibaptis oleh Petrus di suatu mata air dekat laut, dalam air yang terus mengalir. Dan, menurut catatan Tertullianus (ca. 160-ca. 220), Santo Klemen ditahbis oleh Rasul Petrus.


Rekognisi
Buku I, pasal 27-72, dipandang (sejak Adolf Hilgenfeld, 1848) sebagai bagian dari dokumen Yahudi-Kristen yang disebut Kerugmata Petrou (“khotbah-khotbah Petrus”), yang menjadi dokumen dasariah (Grundschrift) bagi penulisan Rekognisi dan Homili. Kapan dan di mana dokumen dasariah ini ditulis?


Pseudo-Klementin
menggunakan Injil Matius, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul; dengan demikian dokumen ini sudah ditulis pada akhir abad pertama Masehi. Dalam Rekognisi Buku I, pasal 39, terdapat rujukan ke suatu tradisi yang mengetahui bahwa Gereja Induk Yerusalem diselamatkan dan dipelihara dari kehancuran akibat Perang Yahudi I melawan Roma (66-70) melalui penyingkiran ke Pella (sebelah timur Sungai Yordan, di kawasan Dekapolis) sebelum perang meletus, dan ke suatu tradisi yang mengenal edik Hadrianus (diundangkan tahun 135) yang mengharuskan orang Yahudi meninggalkan Palestina setelah Perang Yahudi II (132-135) yang dipimpin Simon Bar Kokhba dan Akiba ben Yusuf berakhir. Dengan demikian, dokumen dasariah Pseudo-Klementin pasti ditulis sesudah tahun 135. Eusebius, dalam karyanya Sejarah Gereja (III, xxxviii), yang ditulis pada tahun 325, menyebut sebuah dokumen yang ditulis oleh Klemen, yang berisi dialog antara Petrus dan Appion. Dalam karyanya yang terpenting, yang berjudul Panarion, yang juga dikenal sebagai Adversus Haereses (Latin; Inggris: “Against Heresies”), yang ditulis dalam bahasa Yunani Koine dari tahun 374 sampai tahun 377, Epifanius dari Salamis (wafat 403) menyatakan bahwa Pseudo-Klementin digunakan oleh orang Ebion sekitar tahun 360 (Panarion xxx.15). Selain itu, dalam buku yang sama (xxx.16), Epifanius juga menunjuk ke suatu dokumen yang disebut Anabathmoi Yakobou yang memiliki sejumlah kesejajaran tema dengan Rekognisi Buku I, pasal 33-71. Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa Pseudo-Klementin, khususnya sumber dasariah yang digunakan penulisnya, ditulis antara tahun 100 (terminus a quo) dan abad keempat Masehi (terminus ad quem).


Di atas sudah dicatat bahwa Rekognisi Buku I, pasal 39, memuat suatu tradisi tentang pengungsian Gereja Yerusalem ke Pella sebelum pecah Perang Yahudi I melawan Roma. Catatan tentang penyingkiran ke Pella ini terdapat dalam Eusebius, Sejarah Gereja 3.5.3; dalam Epifanius, Panarion 29.7.7; dan Panarion 30.2.7; dan Risalah mengenai Berat dan Ukuran 15. Selanjutnya, Eusebius dalam karyanya, Sejarah Gereja 4.6.3, memakai karya Aristo dari Pella, Dialog antara Jason dan Papiskus (ditulis pada pertengahan abad ke-2), sebagai sumber informasi baginya mengenai perang Bar Kokhba. Sangat boleh jadi, Aristo dalam karyanya yang lain juga menuturkan tentang Perang Yahudi I, dan karya Aristo yang lainnya ini dipakai oleh Eusebius ketika dia mengacu ke tradisi pengungsian ke Pella (dalam karyanya, Sejarah Gereja 3.5.3). Karena tradisi ini mungkin sekali diteruskan hanya oleh Aristo dari Pella, maka dapat disarankan bahwa Pella, yang terletak di sebelah timur Sungai Yordan, adalah tempat ditulisnya dokumen dasariah Pseudo-Klementin.


Secara keseluruhan, dokumen Pseudo-Klementin adalah suatu dokumen yang berasal dari kekristenan Yahudi Ebion. Indikasi yang jelas tentang hal ini adalah posisi yang diberikan kepada Yakobus si Adil, saudara Yesus, sebagai uskup Gereja Yerusalem, uskup dari segala uskup. Dalam salam pembuka Surat Petrus kepada Yakobus (yang ditempatkan pada awal Homili), Yakobus disebut sebagai “Tuhan dan Uskup gereja yang kudus.” Indikasi lainnya adalah pandangan dokumen ini yang sangat negatif terhadap Paulus, yang telah memberitakan injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi sebelum Rasul Petrus melakukan hal yang sama. Yang juga penting untuk diperhatikan adalah bahwa pernyataan-pernyataan doktrinal dalam dokumen ini, meskipun tidak homogen, bercorak Yudaistik, bahkan ketika pernyataan-pernyataan ini bercampur dengan pemikiran spekulatif gnostik yang berasal dari kalangan non-Yahudi. Lebih khusus lagi, dokumen Pseudo-Klementin dikaitkan dengan suatu sekte Ebion yang dinamakan Elkesaites.


Untuk menemukan pandangan-pandangan dasariah kekristenan Yahudi Ebion dalam dokumen Pseudo-Klementin ini, Rekognisi Buku I, pasal 27-72, yang merupakan dokumen dasariah bagi Rekognisi dan Homili, perlu diperhatikan dengan saksama. Berikut ini uraian tentang teologi Kristen-Yahudi yang tercermin terutama dalam Rekognisi Buku I; gambaran tentang kondisi-kondisi nyata yang dialami komunitas pemakai dokumen Pseudo-Klementin juga akan diberikan.


1) Monoteisme


Umat Kristen-Yahudi yang memakai dokumen Pseudo-Klementin, khususnya dokumen dasariah Kerugmata Petrou, menganut monoteisme: hanya ada satu Allah, dan Tuhan, dan sang Bapa, sang Khalik yang baik, adil dan benar, pengasih, penyayang, panjang sabar, pemelihara dan pemurah (Rekognisi Buku I, pasal 7, 25; Homili Buku II, pasal 12, 15, 16, 40, 45; Homili Buku XI, pasal 7; Buku XVIII, pasal 22), dan, bagi mereka, hanya Allah satu-satunya yang harus disembah, dan orang Yahudi dilarang membuat gambar atau patung apapun untuk disembah (Rekognisi, Buku I, pasal 35). Allah YME ini tidak kelihatan, tetapi gambar-Nya terdapat dalam diri manusia sebagai “gambar Allah” (Homili Buku XI, pasal 4); dan barangsiapa menyembah Allah ini, orang itu akan melakukan perintah-perintah Taurat (Homili Buku XI, pasal 16) dan mengakui Yesus sebagai wahyu Allah yang telah Allah berikan kepada orang-orang yang layak menerimanya (Homili Buku XVIII, pasal 13, 14).


2) Kristologi


a) Yesus sang Nabi sejati, serupa dengan Nabi Musa

Yesus adalah sang Nabi sejati, pemberita kebenaran, yang telah dinubuatkan oleh Musa sebagai nabi yang “serupa dengan dirinya”, yang diangkat dari antara umat Israel (lihat Ulangan 18:15; Kisah Para Rasul 3:22,23) (Rekognisi Buku I, pasal 56, 57), tetapi sebagai sang Kristus dia “lebih besar” dari Musa (Buku I, pasal 59), dan juga lebih besar dari Salomo (Homili Buku XI, pasal 33). Dia disebut oleh Allah sebagai Anak Allah pada waktu dia dibaptiskan (Rekognisi Buku I, pasal 48), dan di dalam dirinya Roh Allah berdiam (Homili, Buku II, pasal 10).
Untuk membuktikan bahwa sang Nabi sejati ini “serupa dengan Nabi Musa” (Ulangan 18:15), dia mengikuti pola kepemimpinan Musa (Bilangan 11:16) dengan mengangkat tujuh puluh dua rasul lain (Lukas 10) di samping dua belas rasul utama (Matius 10) (Rekognisi Buku I, pasal 40). Begitu juga, sama seperti Musa membuat mukjizat dan menyembuhkan di Mesir, sang Nabi sejati juga membuat banyak mukjizat dan memberitakan kehidupan kekal (Buku I, pasal 41, 57). Tetapi semua ini tidak berhasil membuat orang percaya kepadanya; malah akhirnya orang jahat menyalibkan sang Nabi sejati ini. Ketika dia menderita karena penyaliban, seluruh dunia menderita bersamanya: matahari menjadi gelap, gunung-gunung berguncang terkoyak, kubur-kubur terbuka, dan tirai Bait Allah terbelah dua (Matius 27:45, 51, 52) (Buku I, pasal 41; Homili Buku XI, pasal 20). Setelah kematiannya, sang Nabi sejati bangkit kembali dari antara orang mati (Rekognisi Buku I, pasal 42, 53).

b) Yesus, sang Kristus yang kekal


Yesus diakui sebagai “sang Kristus yang kekal” (Rekognisi Buku I, pasal 43, 44, 63; bdk. Yohanes 12:34), yang berdiam “di tempat yang tidak kelihatan” (Buku I, pasal 33), dan telah menampakkan diri kepada Abraham dan Musa (pasal 33, 34, 36), dan telah menjatuhkan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir (pasal 34). Dia juga sudah dikenal oleh Adam, Henokh, Nuh, Ishak, Yakub (Homili Buku XVIII, pasal 13). Dia disebut sebagai sang Kristus karena Allah telah mengurapinya dengan minyak rohani yang diambil dari kayu pohon kehidupan (Rekognisi Buku I, pasal 45).


c) Yesus berpraada dan telah menjadi manusia yang tak berdosa


Dengan memiliki kepraadaan/praeksistensi (Rekognisi Buku I, pasal 33, 34, 52), Yesus adalah permulaan dari segala sesuatu, “telah ada dari semula dan akan selalu ada” (Buku I, pasal 52; Homili Buku XVIII, pasal 13). Dia “senantiasa mengetahui segala hal, hal-hal di masa lampau, hal-hal di masa kini, dan hal-hal yang akan datang” (Homili Buku II, pasal 6, 10, 50), dan hanya dia yang mengetahui kebenaran (Homili Buku II, pasal 12). Dia “telah menjadi manusia”, “manusia utama dan teragung di atas manusia lainnya” (Rekognisi Buku I, pasal 45; Homili Buku II, pasal 17), penuh kasih karunia, tidak berdosa dan satu-satunya orang yang kepadanya dipercayakan kebenaran (Homili, Buku II, pasal 6).


d) Dua kedatangan Kristus


Sebagai sang Nabi sejati yang “serupa dengan Musa”, kedatangan Yesus Kristus yang pertama kali sudah diprediksi oleh Musa, dengan mengambil wujud kehidupan yang bersahaja dan rendah, yang kemudian dihakimi oleh dunia ini lalu dibunuh. Tetapi pada kedatangannya yang kedua kali, dia akan datang dengan segala kemuliaannya dan akan menjadi sang Hakim dunia pada hari penghakiman dan akan menghukum orang jahat, tetapi akan mengambil kaum mukmin untuk menerima bagian dalam kerajaannya (Rekognisi Buku I, pasal 49; juga pasal 69; Homili Buku II, pasal 46; Homili Buku XI, pasal 32). Semua orang benar, dan yang berkehendak untuk menyenangkannya, bagi mereka tersedia hal-hal baik yang tak terkatakan dan kota Yerusalem surgawi sebagai tempat tinggal mereka dalam suatu kehidupan yang tidak bisa binasa. Sedangkan, bagi orang yang tidak benar dan telah menjalani kehidupan yang jahat tersedia pembalasan yang setimpal dan keras (Rekognisi Buku I, pasal 51) dalam kehidupan di neraka (Rekognisi Buku I, pasal 52; Homili Buku II, pasal 13).


3) Kedudukan Abraham


Bangsa Yahudi adalah keturunan Abraham (Rekognisi Buku I, pasal 32); Yesus Kristus sebagai sang Nabi sejati telah menampakkan diri kepada Abraham dan mengajarkannya pengetahuan tentang keilahian, asal-muasal dan akhir dunia, keabadian jiwa, cara hidup yang diperkenan Allah, kebangkitan orang mati, penghakiman akhir yang adil, pahala bagi orang baik dan penghukuman bagi orang jahat (Buku I, pasal 33). Ketika Abraham belum dicerahkan oleh sang Nabi sejati, Abraham telah memiliki dua orang putra, masing-masing bernama Ismael (darinya berasal bangsa-bangsa barbar) dan Heliesdros (darinya muncul bangsa Persia, bangsa Brakhman, bangsa-bangsa yang berdiam di Arabia, di Mesir, dan juga di India) (Buku I, pasal 33); dan ketika Abraham sudah dicerahkan, baginya dari Sara lahir Ishak, yang darinya lahir Yakub, dan dari Yakub dua belas Bapak Leluhur Israel, dan dari dua belas ini lahir tujuh puluh dua (Buku I, pasal 34).


4) Ritual pemberian kurban


Karena Musa melihat kebiasaan jahat bangsa Mesir untuk mempersembahkan kurban kepada berhala-berhala telah tertanam sangat dalam di dalam kesadaran bangsa Yahudi yang pernah diperbudak di Mesir, dan akar dari kejahatan ini tidak dapat dicabut dari batin mereka, maka Musa mengizinkan bangsa Yahudi mempersembahkan kurban (binatang) sebagai suatu kelonggaran, dengan satu syarat, yakni kurban boleh dipersembahkan hanya kepada Allah saja (Rekognisi Buku I, pasal 36). Dengan kelonggaran ini, dikatakan, Musa dapat memangkas separuh dari akar kejahatan ini; dan separuhnya lagi akan dicabut di masa depan oleh Nabi yang “seperti Musa” yang dibangkitkan Tuhan Allah dari tengah umat Israel (Buku I, pasal 36).


5) Bait Allah tempat mempersembahkan kurban akhirnya dihancurkan


Musa telah menentukan suatu tempat suci untuk bangsa Israel dapat dengan dibenarkan oleh hukum Allah mempersembahkan kurban kepada Allah (lihat Ulangan 12:11; 2 Tawarikh 7:12). Tetapi, pada saatnya yang tepat, sejalan dengan ajaran sang Nabi sejati bahwa yang terutama Allah kehendaki bukanlah persembahan kurban melainkan belas kasih (Hosea 6:6; Matius 9:13; 12:7), tempat yang dipilih Allah sebagai tempat yang cocok untuk memberi kurban kepada Allah adalah hikmat sang Nabi sejati. Sedangkan tempat yang ditetapkan Musa, dan yang dibangun oleh Salomo sebagai rumah persembahan (2 Tawarikh 7:12), yang dipilih Allah hanya untuk sementara dan seringkali diserbu dan dijarah bangsa-bangsa asing yang bermusuhan, akhirnya seluruhnya dihancurkan (di akhir Perang Yahudi I vs Roma, tahun 66-70; Markus 13:2; Matius 24:2; Lukas 19:44) (Rekognisi Buku I, pasal 37).

Hancurnya Bait Allah di Yerusalem dan berdirinya “Pembinasa keji” di tempat kudus (Matius 24:15; bdk. Daniel 9:27) adalah tanda bahwa ritual kurban sudah berakhir (Rekognisi Buku I, pasal 64).
Sebelum sang Nabi sejati datang, Nabi yang sekaligus menolak kurban dan Bait Suci, tempat suci untuk mempersembahkan kurban itu sering dijarah dan dibumihanguskan, dan bangsa Yahudi dibuang ke tengah-tengah bangsa-bangsa asing, kemudian dipulangkan kembali ketika mereka memohon belas kasih Allah. Semua bencana ini haruslah menjadi suatu pelajaran berat dan berharga bagi bangsa Yahudi bahwa suatu bangsa yang mempersembahkan kurban-kurban akan jatuh ke tangan bangsa-bangsa lain dan diangkut keluar dari negeri asal mereka, tetapi mereka yang melakukan keadilan dan belas kasih tanpa memberi kurban-kurban dibebaskan dari penawanan dan dipulihkan kembali ke tanah asal mereka (Rekognisi Buku I, pasal 37). Jadi, setelah sang Nabi sejati datang, pemberian kurban akan malah mendatangkan bencana, dan bukan mendatangkan keselamatan dan pengampunan dosa.

6) Ritual baptisan sebagai pengganti ritual kurban


Sang Nabi sejati dalam nama Allah telah memberi peringatan kepada bangsa Yahudi untuk berhenti memberi kurban-kurban. Sebagai ganti ritual kurban untuk pengampunan dosa, sang Nabi sejati menetapkan baptisan dengan air agar, melalui ritual pengganti ini yang dijalankan dengan memanggil namanya (bahkan juga dengan memanggil tiga nama: sang Bapa, sang Putra, dan Roh Kudus; lihat Homili Buku XI, pasal 26; Rekognisi Buku I, pasal 69, 63), segala dosa orang diampuni pada masa kini, dan untuk selanjutnya di masa depan dapat menjalani suatu kehidupan yang sempurna dan tidak binasa, karena telah dimurnikan bukan oleh darah binatang, melainkan melalui pemurnian oleh hikmat Allah (Rekognisi Buku I, pasal 39).

Melalui kasih karunia ilahi yang bekerja pada waktu ritual pembaptisan dijalankan, Yesus Kristus memadamkan api yang dinyalakan imam-imam untuk membakar kurban (Buku I, pasal 48). Kedatangan sang Kristus telah meniadakan ritual kurban dan sebagai gantinya berlaku kasih karunia ilahi yang diperoleh via ritual pembaptisan (Buku I, pasal 54). Dengan menerima baptisan dalam nama Yesus, dan merayakan ekaristi, orang akan menerima pengampunan dosa, “dilahirkan kembali”, masuk ke dalam kerajaan surga, menerima keselamatan dan tidak akan mengalami bahaya pada waktu orang mati dibangkitkan (Rekognisi Buku I, pasal 55, 63, 69; Homili Buku XI, pasal 26, 27).


Setiap orang yang percaya kepada sang Nabi sejati ini, dan telah dibaptis dalam namanya, tetap terjaga sehingga tidak akan mengalami luka-luka perang yang menghancurkan (yakni, Perang Yahudi I melawan Roma, tahun 66-70; teks ini mengacu ke tradisi penyingkiran ke Pella menjelang pecahnya perang), yang menimpa bangsa Yahudi yang tidak percaya dan juga menimpa tempat suci mereka. Sedangkan orang yang tidak percaya akan didesak keluar dari tempat dan kerajaan mereka (mengacu ke edik Hadrianus, tahun 135) dan melalui semua bencana ini mereka, berlawanan dengan kehendak mereka sendiri, akan dapat memahami dan menaati kehendak Allah (Rekognisi Buku I, pasal 39).


7) Komunitas Yahudi-Kristen di sekitar Yesus dan Yakobus


Seperti sudah dikatakan di atas, Yesus Kristus sebagai sang Nabi sejati yang “seperti Musa” telah mengikuti pola kepemimpinan Musa dengan mengangkat tujuh puluh dua rasul lain, di samping dua belas rasul utama (sejalan dengan jumlah 12 bulan dalam setahun kalender matahari; lihat Homili Buku II, pasal 23). Dicatat dalam Rekognisi Buku I, pasal 43, bahwa setelah tujuh tahun dari saat kesengsaraan dan kematian Yesus, Gereja Tuhan yang dibentuk di Yerusalem berkembang pesat dan berlipatganda, dengan dipimpin secara adil oleh Uskup Yakobus saudara Yesus, yang ditahbis menjadi uskup oleh Yesus sendiri (lihat juga Buku I, pasal 66, 68, 70, 72). Ajaran dan khotbah Yakobus, saudara Yesus, dipandang sebagai dasar doktrinal Gereja Induk Yerusalem; dan jemaah dilarang menerima rasul atau guru atau nabi lain yang tidak memiliki khotbah yang dapat dengan akurat dibandingkan dan disejajarkan dengan khotbah Yakobus sebagai patokan (Homili Buku XI, pasal 35; lihat juga Rekognisi Buku IV, pasal 34-35).

8) Posisi bangsa-bangsa non-Yahudi

Menurut tradisi nenek moyang Yahudi, sang Kristus harus diterima bangsa Yahudi, yang kepada mereka dia telah datang, dan mereka harus percaya kepadanya yang diharapkan dan dinantikan untuk memberi keselamatan kepada umat; sedangkan bangsa-bangsa non-Yahudi akan memusuhinya sebab tidak ada janji atau kabar mengenai dirinya yang telah disampaikan kepada mereka, dan bahkan namanya tidak dikenal oleh mereka. Tetapi para nabi mengatakan bahwa sang Kristus haruslah menjadi pengharapan bangsa-bangsa non-Yahudi, bukan pengharapan bangsa Yahudi (lihat Yesaya 49:1; 66:19; juga Kejadian 49:10). Itulah yang terjadi: ketika Yesus Kristus datang untuk kali pertama, bangsa Yahudi menolaknya; sedangkan orang non-Yahudi yang belum pernah mendengar apa-apa tentang dirinya percaya bahwa dia telah datang dan berharap dia akan datang kembali, dan dengan demikian mereka semua menjadi “orang yang benar”, yang berhak mendapatkan tempat tinggal di “kota Yerusalem surgawi” (Rekognisi Buku I, pasal 50 dan 51). Dengan demikian, menyangkut kedatangannya yang pertama, yang mengambil rupa seorang manusia sederhana, yang bernama Yesus, orang Yahudi telah membuat kesalahan dengan menolaknya (Buku I, pasal 50). Kehancuran Bait Allah di Yerusalem (tahun 70) adalah titik awal diberitakannya Injil Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi di luar Palestina, sebagai suatu testimoni terhadap ketidakpercayaan bangsa Yahudi terhadap sang Nabi sejati, sehingga ketidakpercayaan mereka dapat dinilai dan dihakimi oleh iman bangsa-bangsa lain (Rekognisi Buku I, pasal 64), dan juga sebagai suatu upaya rahasia meluruskan para bidah yang akan bermunculan (Homili Buku II, pasal 17).


9) Posisi Rasul Paulus


Pseudo-Klementin
mengacu kepada Rasul Paulus secara tersamar sebagai sosok yang bernama Simon (bukan Simon Magus, seorang Samaria penyihir yang namanya juga muncul dalam dokumen ini), yang mendahului Petrus dalam misi pekabaran injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (Homili Buku II, pasal 17, 18). Sosok Simon ini digambarkan dalam dokumen Pseudo-Klementin dengan sangat negatif, antara lain sebagai kegelapan, kebodohan dan penyakit serta sebagai seorang nabi palsu, penipu, dan penabur kesalahan yang berkhotbah dengan dalih menyebar kebenaran di dalam nama Tuhan, padahal dia sebenarnya diutus oleh Iblis, si jahat, yang telah berbantahan dengan Yesus selama empat puluh hari (Homili Buku II, pasal 17; Buku XI, pasal 35). Ditegaskan dalam dokumen ini, orang banyak telah tersesat memercayai, mengasihi dan menerimanya meskipun sang Rasul ini adalah seorang pembenci, seorang musuh, api yang membakar dan pembawa kematian (Homili Buku II, pasal 18), yang “telah menerima penugasan dari Kayafas, Imam Besar, untuk menangkap semua orang yang percaya kepada Yesus, dan harus pergi ke Damaskus dengan membawa serta surat-suratnya, dan di sana juga, dengan bantuan orang-orang yang tidak percaya, dia harus membuat malapetaka di antara kaum mukmin” (Rekognisi Buku I, pasal 71). Ketika Klemen bertanya kepada Petrus, siapa sebenarnya figur Simon ini, Petrus menjawab, “Jika engkau ingin tahu, engkau mampu untuk mengetahuinya dari orang-orang yang dari mereka juga aku telah mendapatkan informasi yang akurat mengenai segala hal tentang dirinya” (Homili Buku II, pasal 18).


Ucapan panjang Rasul Petrus dalam Homili Buku XVII, pasal 19, 1-7, ditujukan dengan nada sengit kepada Rasul Paulus. Seperti dapat dibaca dalam 1 Korintus 15:8 dan 2 Korintus 12:1, Paulus mengklaim telah melihat “penampakan” Yesus, dan dari Yesus dia juga menerima “penglihatan dan wahyu dari Tuhan.” Tetapi, dalam pandangan Petrus, penglihatan atau wahyu yang diterima melalui mimpi tidak menjamin bahwa si penerima benar-benar menerimanya dari Allah; sebab bisa terjadi penglihatan atau wahyu itu berasal dari roh pendusta atau roh jahat. Ditulis dalam Homili Buku XVII, pasal 15, “Tidaklah pasti apakah orang yang menerima penglihatan melihat sebuah mimpi yang dikirim oleh Allah.” Begitu juga, orang yang melihat penampakan Yesus dalam sebuah penglihatan atau dalam sebuah mimpi berada dalam ketidakpastian dan karena itu dia tidak berhak mengajar; hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan orang yang pernah secara jasmaniah berada bersama-sama Yesus, bercakap-cakap dengannya dan menerima pengajaran langsung darinya. Hanya para saksi matalah yang berhak menjadi rasul-rasul Yesus Kristus dan pemberita-pemberita injil. Dengan ukuran ini, jelas Paulus tidak berhak menyebut dirinya rasul. Bagi Petrus, kalau betul Yesus telah menampakkan diri kepada Paulus lewat sebuah penglihatan, ini berarti Yesus murka kepada Paulus seperti kepada seorang musuh. Petrus juga sangat meragukan kebenaran pernyataan Paulus bahwa Yesus telah menampakkan diri kepadanya, sebab apa yang dipikirkan dan diajarkan Paulus, menurut penilaian Petrus, bertentangan dengan pengajaran Yesus sendiri. Lagi, kata Petrus, jika betul Yesus telah mengunjungi Paulus dan mengajarnya dan dengan demikian menjadikannya seorang rasul, seharusnya Paulus mencintai rasul-rasul lainnya dan tidak bertengkar dengan Petrus, dan mau menerima pengajaran dari para rasul lainnya tentang hal-hal yang mereka telah terima dari Yesus serta mau bekerja sama dengan mereka. Dalam pasal II dari Surat Petrus kepada Yakobus (yang mengawali Homili), Rasul Petrus menyatakan dengan keras bahwa Paulus adalah musuhnya, yang memberitakan ajaran yang bodoh dan di luar Taurat.


Meskipun gaya khotbah dan perlakuan keras Rasul Petrus terhadap Paulus dalam Homili Buku XVII di atas kelihatan autentik, namun tradisi tentang perbantahan yang terjadi di Laodikea ini berasal paling telat dari abad kedua, dan juga tidak dapat secara langsung dikaitkan pada lawan-lawan Paulus. Selain itu, historisitas perbantahan ini juga diragukan, mengingat Rasul Petrus relatif dekat dengan Paulus. Lain halnya dengan Yakobus si Adil, atau dengan orang-orang di sekitarnya, yang memang berkonfrontasi tajam dengan Rasul Paulus. Meskipun demikian, kita dapat dibenarkan jika beranggapan bahwa dalam Pseudo-Klementin, argumen-argumen lama dari orang Kristen Yahudi di Yerusalem yang ditujukan kepada Paulus telah dipakai kembali dan dipelihara.



Sumber-sumber


(1) Lüdemann, Gerd, Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989) 169-194.

(2) idem, Heretics: The Other Side of Early Christianity (ET by John Bowden; Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 1996) 57-60.

(3) Ehrman, Bart, Lost Scriptures: Books that Did Not Make It into the New Testament (Oxford, New York: Oxford University Press, 2003) 195-200.

(4) Wikipedia, the free encyclopedia, “Clementine Literature” (http://en.wikipedia.org/wiki/Clementine_Literature).

(5) Christian Classics Ethereal Library, “The Clementine Literature” (http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf08.vi.html).