Thursday, April 16, 2009

Buku Baru Saya: Sokrates dalam Tetralogi Plato

Dengan senang saya beritahukan, inilah buku baru saya:

Ioanes Rakhmat,
Sokrates dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009).

ISBN: 978-979-22-4500-4

Ukuran: 13,5 x 20 cm
Tebal isi: 342 hlm
Paperback/Soft Cover
Harga @ Rp. 50.000,-
Akan sudah ada di toko buku Gramedia sejabodetabek mulai 21 April 2009

5 endorsements untuk buku ini:

Terjemahan empat teks kunci Plato ke dalam bahasa Indonesia ini amat memperkaya pustaka filsafat dalam bahasa Indonesia. Plato tetap boleh dianggap filsuf terbesar segala zaman, teks-teksnya dibaca sampai hari ini, justru oleh para filsuf terkemuka. Jadi, kalau tetralogi Plato yang sangat penting ini sekarang dapat dibaca dalam bahasa Indonesia, ini merupakan suatu peristiwa yang sangat menggembirakan

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ,
guru besar etika dan filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Plato meninggalkan lebih dari 40 karya berbentuk dialog. Namun, di antara karya itu, empat dialog yang ditulisnya pada awal-awal karirnya sebagai filsuf merupakan buku penting yang mengungkap berbagai isu fundamental dalam filsafat. Euthyfro berbicara tentang konsep kesalehan dan ketuhanan; Apologi berbicara tentang keberanian dan kebebasan berpendapat; Krito berbicara tentang pemerintahan dan politik; dan Faedo berbicara tentang jiwa dan kehidupan setelah mati. Keempat buku ini menjadi tetralogi Plato yang paling banyak dirujuk sarjana, di samping Republik. Kita harus berterimakasih kepada Ioanes Rakhmat yang telah menerjemahkan tetralogi penting ini dan menyuguhkannya dengan sangat bagus. Kesabaran penulis dalam membongkar naskah asli dialog-dialog Plato dan membandingkannya dengan naskah-naskah Inggris dan Belanda patut diapresiasi. Ini adalah karya kesarjanaan pertama dalam bahasa Indonesia yang menghadirkan tetralogi Plato, filsuf besar Yunani itu, secara utuh
Luthfi Assyaukanie, Ph.D., dosen filsafat, Universitas Paramadina, Jakarta

D
i Indonesia tidak pernah muncul kajian serius tentang Sokrates, pelopor pembangkang intelektual yang memikul misi tunggal: mempertanyakan kemapanan dengan jujur dan rendah hati, menawarkan gagasan tandingan kepada kaum muda dan lingkungannya, tanpa pretensi ide baru itulah satu-satunya kebenaran. Ioanes Rakhmat memelopori tugas berat ini dengan ketekunan dan kesungguhan yang mengagumkan. Dia, seperti kita, percaya bahwa isu abadi filsafat ini ―subjek lama yang terus merangsang pemikiran baru―akan terus relevan sepanjang masa. Karena akan selalu ada yang gentar pada ide yang mengusik kemapanan yang telanjur dianggap sebagai kebenaran. Karena akan selalu ada yang takut pada kebenaran. Kita berterima kasih untuk hadiah penting dari penerjemah, salah seorang pemikir terpenting filsafat dan agama di Indonesia dewasa ini
Hamid Basyaib, direktur program The Freedom Institute, Jakarta

B
uku ini sangat penting dan cocok dibaca para cendekiawan dan mahasiswa, maupun para pemegang kebijakan dan masyarakat umum di Indonesia. Halnya demikian bukan hanya karena Sokrates, seperti diceritakan Plato, telah mewarisi dunia Barat dan dunia Timur (seperti filsuf Arab Al-Kindi) suatu metode filosofis dan saintifik dialektis antara nalar universal dan indra partikular, antara pemikiran kritis dan pengalaman spiritual, antara pencarian kebenaran dan kesenangan duniawi, dan antara pemikiran individual dan kepercayaan masyarakat kebanyakan, tapi juga karena sang penerjemah dan penafsir tetralogi Plato ini adalah sosok cendekiawan pencari kebenaran, yang meneladani sikap kritis Sokrates yang kini sangat jarang ditemukan di Indonesia
Muhamad Ali, Ph.D.,
Assistant Professor, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta; kini bertugas sebagai Assistant Professor, Religious Studies Department, University of California, Riverside, Amerika Serikat

Setelah membaca buku sangat berharga buah tangan Ioanes Rakhmat ini, dari pemikiran Sokrates yang hidup sekitar 2350 tahun yang lalu di Yunani saya menemukan sedikitnya tiga hal yang relevan untuk situasi masa kini kita di Indonesia. Pertama, kita perlu belajar dari Sokrates bagaimana berbicara dengan benar dan menghasilkan kebenaran sebagai kesimpulannya. Kedua, kita perlu menyelesaikan segala persoalan yang ada dengan berbicara, dan berbicara dengan benar adalah ciri khas suatu masyarakat madani (civil society) yang dewasa dan beradab. Ketiga, kemampuan untuk berpikir dengan benar dan menghasilkan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari merupakan dasar dari terciptanya karya-karya intelektual yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Berbicara lebih spesifik dalam konteks bidang kajian profesional yang saya tekuni, saya dapat tegaskan bahwa teladan Sokrates dengan cara berpikirnya yang kritis, logis, dan bebas (dari kungkungan prior arts) bisa dijadikan perangsang kinerja otak para pencipta, inventor dan kreator dalam menghasilkan karya-karya baru untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia
Gunawan Suryomurcito, S.H., advokat (non-litigasi) dan konsultan hak kekayaan intelektual, ketua umum Indonesian Intellectual Property Society (IIPS)


Wednesday, April 15, 2009

A-Millennialisme

A-Millennialisme
(Tulisan ketiga/terakhir dari rangkaian tiga tulisan tentang millennialisme)

Amillennialisme sudah muncul sejak zaman kekristenan perdana; tetapi Bapak gereja Agustinus (354-430) dipandang sebagai orang yang bertanggungjawab menetapkan pandangan ini sebagai pandangan resmi gereja ortodoks. Sebelum pra-millennialisme menguat di Eropa dan di Amerika pada abad ke-19, pandangan amillennialisme ini sudah dipegang dan diajarkan di lingkungan gereja-gereja Reformed arus utama. Gereja Roma Katolik (RK) umumnya mengikuti ajaran Agustinus dan ajaran para reformator; gereja ini pada tahun 1940 sudah resmi menolak pra-millennialisme (pra-millennialisme, ditegaskan oleh gereja RK, “tidak dapat dengan aman diajarkan”), dan juga menolak pemakaian kata “rapture” meskipun tetap mengantisipasi kedatangan kembali Yesus ke bumi dan dikumpulkannya orang-orang percaya pada saat itu.

Para penganut amillennialisme menolak baik pra- maupun pasca-millennialisme. Bagi para amillennialis, Millennium itu tidak ada, baik yang menyusul maupun yang mendahului kedatangan Yesus Kristus kedua kali.


Hitam dan putih, kejahatan dan kebaikan, kepahitan dan
keberhasilan,
kejahatan dan kebaikan, senantiasa ada
bersama dalam kehidupan manusia
        
Kalau para pasca-millennialis mempertahankan bahwa mendahului kedatangan Kristus yang keduakalinya, akan ada masa Millennium (= jangka waktu yang sangat panjang) yang di dalamnya tidak akan ada lagi kejahatan dan keburukan, zaman di dalam mana kebenaran, keadilan, kebaikan, kedamaian dan kemakmuran menguasai segala segi kehidupan manusia, maka para amillennialis, dengan realistis, menegaskan bahwa masa yang semacam itu tidak akan pernah ada di bumi ini, kapan pun juga, baik pada masa sebelum Kristus datang kembali, mau pun pada masa sesudah kedatangannya.

Para amillennialis berpendapat, bahwa sebelum kedatangan Kristus untuk keduakalinya, yang ada adalah masa kehidupan manusia yang berisi sekaligus kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kebatilan, kemakmuran dan bencana, berkat dan kutuk, kejujuran dan kebohongan, kedamaian dan peperangan, sorga dan neraka. Yang baik dan yang jahat akan terus ada bersama-sama. Allah bekerja, tetapi juga kuasa Setan. Kedua segi yang saling bertolakbelakang ini akan terus ada di dalam Zaman Gereja, zaman sekarang ini, sampai zaman ini tiba-tiba saja berakhir ketika Kristus, tanpa diduga, bak pencuri di malam hari, datang kembali dengan awan-awan di angkasa, lalu “mengangkat” (Rapture) orang-orang yang sudah ditebus ke surga di mana mereka akan menerima “tubuh-tubuh spiritual” yang tidak akan bisa binasa lagi. Mereka yang percaya, namun sudah mati ketika Yesus datang kembali, akan dibangkitkan, lalu dengan tubuh yang baru juga akan diangkat ke surga. Bagian terbesar umat manusia, setelah melewati pengadilan akhir yang digelar Kristus pada waktu kedatangannya kembali, akan dilempar ke neraka sebagai penghukuman abadi. Dunia seperti yang ada sekarang akan ditinggalkan. Sejarah tidak ada lagi, lenyap senyap. Dengan demikian, menyusul kedatangan Kristus kembali, tidak ada Millennium di bumi ini; yang ada adalah suatu kehidupan yang sama sekali lain, yang berlangsung di surga.

Jelas jadinya bahwa para amillennialis menolak adanya Millennium messianik Yahudi, yang bersifat material, seperti yang dipertahankan para pra-millennialis dispensasionalis. Dalam pandangan amillennialisme, di dalam zaman sekarang sebagai Zaman Gereja Kerajaan Allah sudah hadir melalui pemerintahan Kristus dari surga, pesan-pesan Alkitab, karya pelayanan gereja, dan pekerjaan Roh Kudus―inilah the good side dari realitas kehidupan dunia. Kehadiran pemerintahan Allah dalam Zaman Gereja ini bukanlah Millennium seperti yang dipahami para penganut pasca-millennialisme. Di dalam Zaman gereja, Kesengsaraan Besar (Tribulation), sebagai the bad side, juga sedang dialami, sampai pada saat kedatangan kembali Kristus yang waktunya tidak diketahui seorang pun.

Tidak seperti dalam pra-millennialisme dispensasionalis yang terus berusaha mengidentifikasi sang Antikristus dalam tokoh-tokoh insani dunia, dalam amillennialisme Antikristus dipahami secara figuratif dan simbolik sebagai kuasa-kuasa apa pun di dalam dunia ini yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan, keburukan, ketidakadilan dan kebatilan; jadi, yang diperhatikan bukanlah Antikristus personal, melainkan Antikristus “sistemik dan struktural.” Peperangan senantiasa berlangsung, antara kuasa Kristus dan kuasa Antikristus. Perang Armageddon itu kenyataan setiap hari dalam kehidupan orang beriman. Kejadian-kejadian yang disebut di dalam Khotbah Yesus di Bukit Zaitun, the Olivet Discourse (Markus 13, Matius 24 dan Lukas 21), peristiwa-peristiwa dan simbol-simbol (angka-angka, binatang-binatang, makhluk-makhluk, benda-benda, nama-nama, dll) yang digambarkan dan dipakai baik dalam Wahyu Yohanes maupun dalam Kitab Daniel sebagai sastra-sastra apokaliptik, oleh para amillennialis dipandang sebagai peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi pada zaman penulisan sastra-sastra ini; dan simbol-simbolnya, bagi para amillennialis, harus ditafsirkan non-literalistik, sebagai betul-betul simbol-simbol dan kiasan-kiasan yang rujukan-rujukan historisnya (siapa, apa dan bagaimana mereka itu) harus ditemukan di dalam zaman-zaman ketika sastra-sastra itu ditulis, bukan di dalam zaman-zaman lain di masa sesudahnya.

Kalau para penganut pra-millennialisme berpendapat bahwa Millennium harus ada sebagai masa dan kesempatan di mana nubuat-nubuat Kitab Suci tentang bangsa Israel akan dipenuhi seluruhnya, para amillennialis menegaskan bahwa, seperti halnya dengan nubuat-nubuat lainnya, tidak ada keharusan semua nubuat tentang Israel harus dipenuhi, dan kalau pun harus dipenuhi, pemenuhannya tidak harus di zaman modern ini, melainkan sudah pernah terjadi dulu, di dalam zaman umat Kitab Suci Ibrani.

Penutup 

Jelas sudah, bahwa dispensasionalisme pra-millennial adalah sebuah pandangan teologis politis yang hanya akan dipegang oleh kalangan yang melihat kemusnahan dunia sebagai suatu peristiwa yang jauh lebih baik daripada kelestarian kehidupan di muka planet Bumi. Kalangan ini bisa dikatakan telah mengalami kerusakan otak dan nurani, yang membuat mereka mencintai perang dan kemusnahan dunia ketimbang memperjuangkan perdamaian dunia dan mengusahakan kelestarian lingkungan hidup di planet Bumi, satu-satunya planet yang sekarang ini menjadi tempat kediaman bersama semua umat manusia. Pasca-millennialisme juga tidak realistik, karena mencari dunia yang sempurna tanpa cacat di dalam dunia masa kini, suatu pencarian yang hanya akan menimbulkan rasa frustrasi dan eskapisme dangkal.

Maka, sebagai alternatif ketiga, penulis menganjurkan setiap orang Kristen memegang pandangan a-millennialisme (atau non-millennialisme), dan bersama Roh Yesus Kristus sanggup setiap hari untuk hidup dalam dunia yang ditandai oleh perjuangan terus-menerus antara memilih yang jahat atau memilih yang baik, antara berpihak kepada kuasa jahat atau berpihak kepada kuasa kebaikan. Adalah panggilan hidup setiap orang beragama untuk dia dalam hidupnya setiap hari memilih berpihak kepada kebaikan, dan tegas menentang kejahatan. Beragama adalah berjuang, demi perdamaian dan kebaikan untuk semua orang, pada masa kini dan dalam dunia sekarang ini! Eskapisme dan utopianisme yang mengarahkan orang ke suatu dunia masa depan yang diturunkan dari surga, sebagai langit baru dan Bumi baru, tidaklah perlu dipegang, karena keduanya, langit baru dan Bumi baru, hanya akan bisa ada setelah melewati suatu masa milyaran tahun proses evolusi kosmologis setelah Tata Surya lenyap dalam suatu bencana kosmik.

Pasca-Millennialisme

Napoleon Bonaparte dianggap sebagai anti-Kristus 
oleh kalangan dispensasionalis


Pasca-Millennialisme

(Tulisan kedua dari rangkaian tiga tulisan tentang millennialisme)

Dalam pasca- (post-) millennialisme, kedatangan kembali Yesus Kristus diyakini akan berlangsung menyusul atau setelah (= pasca) Millennium. Millennium akan terjadi lebih dulu, baru Kristus datang kembali. Tetapi, dalam pandangan ini, Millennium tidak ditafsirkan harfiah (1000 x 365 hari), melainkan figuratif atau simbolis, yakni mengacu kepada pemerintahan Yesus Kristus yang bertakhta di surga (Kisah Para Rasul 2:29-36) atas dunia manusia untuk jangka waktu yang panjang (Markus 13:32-37; Lukas 12:37-48). Pemerintahan Kristus ini berlangsung melalui pekerjaan Roh Kudus di dunia. Roh Kudus bekerja baik di dalam dan melalui gereja mau pun di dalam dan melalui sarana-sarana lain di dalam dunia yang dikelola oleh orang-orang yang sudah ditebus, untuk secara bertahap mendatangkan dan mengembangkan Kerajaan Allah di bumi.

Pemerintahan millennial melalui Roh Kristus ini akan berlangsung untuk jangka waktu yang lama, dalam proses yang mula-mula tidak begitu saja kelihatan, sampai pada kedatangan kembali Yesus Kristus secara fisik ke dalam dunia. Khususnya melalui pemberitaan Injil oleh gereja-gereja sedunia, dan karya penyelamatan yang dikerjakan Roh Kudus, dunia akan dikristenkan. Sementara pertobatan berlangsung di seantero bumi, seluruh (atau bagian terbesar) bangsa Yahudi juga akan berpaling kepada dan menerima Yesus Kristus sebagai sang Mesias dan, dengan itu, mereka akan menjadi bagian dari gereja universal, umat zaman akhir pilihan Allah, yang membawa berkat bagi dunia.
 
Selama Millennium, pemerintahan Kristus melalui Roh Kudus di bumi tidak hanya berlaku dalam kehidupan spiritual (yakni, kebangkitan spiritual akbar, dan pertobatan seluruh dunia, masuk Kristen); tetapi, menyusul atau bersamaan dengan suatu konversionisme atau pertobatan global ini, pemerintahan ini juga berlangsung di dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Para pasca-millennialis yakin bahwa Roh Kudus juga akan membawa dunia ini dan umat manusia di dalamnya kepada keadaan-keadaan kehidupan yang akan makin ditandai oleh kemakmuran dan kesejahteraan sosial-ekonomi, serta kestabilan dan keadilan serta kedamaian politik dan militer menyeluruh.

Selama Millennium, secara bertahap dan sinambung, di bawah kendali Kristus dalam Roh, dunia akan bergerak menuju suatu kesempurnaan dan kekudusan menyeluruh: religius, spiritual, sosial, ekonomis, politis, militer dan ekologis. Kebudayaan Kristen akan ditegakkan di bumi. Pada saat inilah nubuat PL terpenuhi, bahwa “bumi akan dipenuhi dengan pengetahuan akan kemuliaan TUHAN, seperti air menutup lautan” (Habakuk 2:14). Sesudah masa Millennium ini, yaitu masa panjang kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran dan kesucian di dalam dunia ini, Yesus Kristus, dalam wujud fisik, datang kembali ke dalam dunia, lalu membangkitkan orang-orang percaya yang sudah mati, dan melaksanakan penghakiman dan pengadilan terakhir. Para pasca-millennialis mengabaikan gagasan-gagasan dispensasionalis tentang “Pengangkatan ke Sorga” (Rapture) dan “Masa Kesengsaraan Besar” (Tribulation).
 
Yang patut diajukan sebagai pertanyaan terhadap para pasca-millennialis adalah: Kapan persisnya Millennium ini dimulai? Mereka memang tidak bisa memberi satu jawaban yang persis. Tetapi, ketika Kebangkitan Besar, the Great (Spiritual) Awakening, melanda Eropa dan Amerika Utara pada abad-abad ke-17 dan ke-18, pasca-millennialisme, yang berisi optimisme religius, sosial, politik dan ekonomi, banyak dikhotbahkan para penginjil. The Great Awakening itu dilihat sebagai pertanda dimulainya Millennium, yang akan didahului oleh pertobatan massal orang Yahudi Diaspora, masuk Kristen, dan ini akan mendatangkan berkat bagi segala bangsa dan kaum di muka bumi. Jonathan Edwards (1703-1758) di Inggris, dan juga George Whitefield, misalnya, mempropagandakan keyakinan ini dengan sangat bersemangat. Jauh sebelumnya, pada 1621, Sir Henry Finch, seorang advokat kenamaan dan anggota DPR Inggris, melalui tulisannya juga telah menyebarluaskan keyakinan dan pandangan yang sama, dengan menekankan panggilan kepada orang-orang Yahudi Diaspora untuk menerima Yesus Kristus. Para pembela aliran ini juga mencakup nama-nama J. A. Alexander, Robert Dabney, Charles Hodge, A. A. Hodge, B.B. Warfield, Loraine Boettner and Charles H. Spurgeon.
 
Tetapi, pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ketika dunia diguncangkan oleh berbagai bencana politik dan militer yang melanda Amerika Utara dan Eropa, misalnya Perang Kemerdekaan Amerika (1775-1784), Revolusi Perancis (1789-1793), dan Perang-perang Napoleonik (1809-1815), Perang Saudara di Amerika (1861-1865), optimisme pasca-millennialis, tak pelak lagi, mulai ditinggalkan. Orang mulai berpaling kepada suatu pandangan apokaliptik millennialis yang lain, yakni pra-millennialisme dispensasionalis, yang, seperti sudah dikemukakan dalam tulisan sebelumnya (klik di sini), dipropagandakan dengan sangat bersemangat oleh Edward Irving dan John Nelson Darby dan Plymouth Brethren, dan yang sejak 1862 oleh Darby dibawa masuk ke Amerika Utara.
 
Di dalam horison pra-millennialisme dispensasionalis ini, di tengah guncangan politik yang dahsyat melanda Eropa, orang pun mulai waspada terhadap kedatangan Antikristus dalam diri tokoh-tokoh insani, dan mengantisipasi tibanya Masa Kesengsaraan Besar dan berkumpulnya kembali orang-orang Yahudi di Tanah Perjanjian. Di Eropa abad ke-19, para pra-millennialis pun banyak berspekulasi, apakah Napoleon Bonaparte yang ateis itu sang Antikristus yang telah datang. Di Amerika Utara, pada tahun 1773, Raja George III digambarkan sebagai sang Antikristus, dan Perang Kemerdekaan dipandang sebagai suatu “perang salib suci” yang akan memulai Millennium.

Pada masa kini, pasca-millennialisme (dengan berbagai nama lain, misalnya Kingdom Now Theology, atau Dominion Theology atau juga Christian Reconstruction) masih dengan aktif dipropagandakan oleh kelompok-kelompok atau gerakan-gerakan yang, antara lain, menamakan diri Chalcedon Foundation dan Christian Reconstruction.


Baca juga:
A-millennialisme
Dispensasionalisme pra-millennial