Friday, February 29, 2008

Ciri-ciri Fundamentalisme Kristen Dewasa Ini

Oleh Ioanes Rakhmat

Dunia sekarang ini, tak pelak lagi, sedang dirongrong oleh aneka ragam fundamentalisme religius yang berwajah garang dan mengerikan. Ini membuat masa kini dan masa depan umat manusia selalu ada dalam bayang-bayang ancaman kemusnahan, annihilation


Karena itu, mengenali fundamentalisme Kristen lebih dalam adalah suatu kewajiban, supaya orang bisa tahu bagaimana menyikapinya. Berikut ini adalah ciri-ciri umum fundamentalisme Kristen dewasa ini.



1. Mempertuhan Alkitab

Bagi para penganut fundamentalisme Kristen, Alkitab menjadi Allah keempat, di samping tiga Allah dalam doktrin tritunggal, dengan memahkotai Alkitab dengan mahkota doktrin khayalan penuh takhayul “inerrancy of the Bible”. Doktrin ini menyatakan bahwa apa pun yang dimuat dalam Alkitab, tidak bisa salah dan tidak memiliki kekurangan atau keterbatasan dalam hal apa pun dan harus dilaksanakan kapan pun dan oleh siapa pun. 


Dus, doktrin ini bahkan menempatkan Alkitab lebih tinggi dari Allah sendiri, sebab hanya Allah saja yang bisa dipandang tidak bisa salah. (Sebetulnya, Allah malah juga bisa “salah”, yakni ketika suatu teologi [= iman atau ajaran ttg Allah] sudah tidak relevan lagi, sehingga konsep insani tentang Allah yang sudah tidak relevan itu harus direvisi). Dengan posisi semacam ini, para fundamentalis Kristen telah melanggar perintah, “Jangan ada ilah lain di hadapan Allah YME!” 

Jika seluruh pesan dalam Alkitab dilaksanakan letterlijk, harfiah, dalam dunia kita sekarang ini, maka, mengingat Alkitab juga memuat pesan-pesan kekerasan, dunia akan senantiasa berada dalam bayang-bayang maut kehancuran semesta, seperti yang diinginkan para literalis biblis fundamentalis Zionis Kristen di USA, yang berpengaruh dalam penentuan kebijakan politik luar negeri USA dan dalam melahirkan fundamentalisme Kristen di mana-mana bak penyakit menular di dunia sekarang ini.


2. Literalisme biblis

Para fundamentalis Kristen, dengan berpijak pada doktrin sesat “inerrancy of the Bible”, menekankan bahwa apa pun yang tertulis dalam Alkitab cukup diterima dengan iman saja, bahwa apa pun yang sudah ditulis di dalamnya adalah kebenaran mutlak yang melampaui segala zaman, berlaku kekal, berwibawa untuk segala tempat dan segala manusia. Alkitab cukup dibaca dan apa yang tertulis di dalamnya cukup diterima dengan penuh kepercayaan sebagai kebenaran absolut. 


Dengan literalisme biblis ini sebagai dasarnya, mereka akan menyatakan dengan yakin bahwa Alkitab bisa menjelaskan dirinya sendiri, sehingga tolok ukur kebenaran dan kesahihan Alkitab ditemukan dalam Alkitab sendiri. 

Bahwa Alkitab berisi begitu banyak ragam tulisan yang berbeda-beda, yang ditulis di zaman-zaman dan tempat-tempat yang berbeda, oleh manusia-manusia yang berlain-lainan dalam situasi-situasi yang juga berlain-lainan, sehingga untuk memahami Alkitab manusia harus memperhatikan dengan seksama konteks sejarah zaman masing-masing penulisnya, diabaikan begitu saja oleh para penafsir fundamentalis Kristen. 

Mereka juga tidak mau tahu, bahwa bukan Alkitab yang bisa menjelaskan dirinya sendiri, melainkan si penafsir Alkitab fundamentalislah yang membuat teks-teks Alkitab berbicara dari sudut tertentu, sesuai dengan doktrin mereka tentang Alkitab (bahwa Alkitab tidak berisi kesalahan atau kekurangan apa pun) atau sesuai dengan doktrin-doktrin keagamaan mereka yang fundamentalis. 

Literalisme biblis ini menghasilkan suatu logika beragama yang tidak normal, tidak sehat dan cedera secara epistemologis dan metodologis, sehingga fundamentalisme Kristen telah dan sedang menjelma menjadi suatu ancaman global terhadap logika beragama yang sehat.

3. Bermental triumfalistik ekspansionistik

Para penganut fundamentalisme Kristen memandang versi agama Kristen mereka sebagai versi agama yang paling unggul, paling benar, paling baik, jika dibandingkan dengan agama-agama lain non-Kristen dan versi-versi lain agama Kristen; dan, karena keunggulan ini, mereka memandang versi agama Kristen mereka bagaimana pun juga harus disebarkan ke seluruh tempat di bumi, dengan mengeliminir agama-agama lain non-Kristen dan menjadikan orang-orang non-Kristen bertobat, pindah agama, masuk agama Kristen versi mereka. 


Mereka memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya di dunia ini hanya akan ada satu agama tunggal yang benar, yang tampil sebagai sang pemenang tunggal, yakni agama Kristen fundamentalis. Mentalitas triumfalistik ekspansionistik ini ditemukan dalam semua orang Kristen injili literalis biblis. 

Dengan mentalitas semacam ini, mereka dibentuk untuk menjadi anti-pluralisme religius — suatu perspektif yang menerima dengan terbuka bahwa semua agama lain yang benar adalah juga jalan-jalan menuju beragam bentuk keselamatan manusia dalam dunia ini dan seterusnya.

4. Berkolaborasi dengan kapitalisme Barat

Kalau gerakan-gerakan Islam militan di Indonesia sering dikaitkan dengan kebangunan gerakan-gerakan Islam militan di kawasan Timur Tengah, Asia Tengah dan Asia Selatan yang berpengaruh global, fundamentalisme injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat di EU dan USA, yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen Barat yang mempunyai misi ekspansi peradaban Barat antara lain ke Indonesia. 


Afiliasi ekonomis dengan kapitalisme Barat memang bukan dibangun oleh kelompok-kelompok religius fundamentalis Kristen saja; kelompok-kelompok non-religius di Indonesia pun, misalnya NGOs, banyak yang hidup dari kucuran dana dari EU dan USA yang kapitalis. PGI pun bahkan bisa hidup hanya karena ada kucuran dana kapitalis Barat. Bahkan, negara NKRI pun tidak bisa lepas dari dominasi dan pendiktean kapitalisme Barat seperti direpresentasikan dalam IMF dan WB. 

Namun, hendaknya disadari, sebagian dari kekuatan ekonomi kapitalis USA sudah berada dalam genggaman para tokoh fundamentalis Kristen Amerika (Yahudi dan non-Yahudi), yang, bersama dengan para politikus neo-konservatif, sanggup memengaruhi kebijakan-kebijakan global politik dan militer luar negeri USA, khususnya kebijakan politik USA untuk kawasan Timur Tengah dan negara-negara lain di dunia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. 

Arti dari semua ini adalah kekristenan fundamentalis Kristen di Indonesia bukan lagi hanya merupakan suatu gerakan religius, tetapi juga gerakan politik ekonomi kapitalis.

5. Penyusupan ke gereja-gereja arus utama

Gerakan fundamentalisme Kristen di Indonesia berlangsung tidak terbatas hanya di kalangan kelompok-kelompok mereka sendiri (yang terbentuk “inborn” atau melalui “conversion”) sebagai sub-sub kultur atau ghetto-ghetto dalam kultur-kultur yang lebih besar, tetapi juga sudah dan sedang dengan agresif, lihai, tanpa nurani, menyusup ke gereja-gereja arus utama yang anti-fundamentalisme Kristen. 


Mereka memakai strategi dan taktik penyebaran secara “diam-diam” (sebagai para gerilyawan religius yang diutus untuk menyusup umumnya ke kalangan muda gereja-gereja arus utama) atau pun secara “terang-terangan” ketika menemukan diri sudah cukup kuat berbasis dan berakar di dalam organisasi-organisasi gereja-gereja arus utama, yakni ketika mereka sudah berhasil menempatkan, atau bersahabat kental dengan, para “pelayan” gereja yang (anehnya) berbalik jadi “fully committed” terhadap gerakan fundamentalisme Kristen dan yang mau menjadi para warriors untuk memperjuangkan perluasan pengaruh kekuasaan dan teritori mereka. 

Lalu, di dalam organisasi-organisasi gereja arus utama itu mereka, karena sudah yakin cukup kuat, melakukan kampanye-kampanye dan propaganda-propaganda doktrinal fundamentalis ke kalangan yang lebih umum dan meluas, dan menebar intrik-intrik untuk mengeliminir para gerejawan yang anti-fundamentalisme Kristen. 

Politik “devide et impera”, memecah dan/untuk menguasai, mereka kembangkan dalam organisasi-organisasi gereja arus utama untuk mereka dapat semakin luas menguasai daerah jajahan yang tidak sah. Di mana perlu, mereka bisa menjinakkan lawan-lawan ideologis mereka yang bermental lemah, dengan memakai kekuatan kapital mereka. Mereka memiliki sekian pasukan inkwisisi untuk menebar perpecahan di gereja-gereja arus utama.

6. Ketaatan membuta terhadap pemimpin pergerakan

Sebagaimana terjadi dengan semua gerakan subkultur dalam kultur besar masyarakat, organisasi gerakan fundamentalis Kristen ditandai oleh kohesi atau ikatan internal kuat antar anggota pergerakan yang diikat menjadi satu oleh doktrin dan terutama oleh pemimpin pergerakan, yang umumnya adalah satu otoritas tunggal personal yang ditaati dengan membuta oleh semua anggota pergerakan. 


Doktrin tertutup wajib dipegang kuat-kuat, tak boleh dipertanyakan, oleh semua anggota pergerakan. Semakin kokoh suatu doktrin dipegang, dan semakin banyak orang yang menerima doktrin mereka, semakin anggota pergerakan yakin akan kebenaran yang mereka pegang, dan ini pada gilirannya memberi semangat luar biasa bagi penyebaran dan ekspansi pergerakan untuk tujuan pengkristenan dunia. 

Pengkultusan atas sang pemimpin biasa dijumpai dalam gerakan-gerakan kultural keagamaan semacam ini. Sang pemimpin menjadi penentu doktrin dan strategi perjuangan gerakan, dan juga menjadi satu figur tunggal yang berotoritas memberlakukan disiplin pergerakan beserta hukuman-hukuman yang harus ditanggung oleh anggota pembelot atau pembangkang. 

Jika diperlukan, dan sangat jarang, penyesuaian-penyesuaian terhadap doktrin bisa dilakukan dalam konteks masyarakat yang berubah, tapi ini bisa terjadi jika sang pemimpin tunggal yakin telah mendapat mandat ilahi untuk melakukan langkah-langkah ini; dan sekali ini dijalankan, semua anggota pergerakan wajib menaati dan meneruskannya. 

Karena itu, paling baik jika sang pemimpin tunggal ini disoroti dengan kritis dari pelbagai sudut jika orang ingin memperlemah sengat dan daya terjang gerakan fundamentalisme religius semacam ini.

7. Narcissisme radikal

Para penganut fundamentalisme Kristen dihinggapi suatu gejala mental eksesif yang biasa disebut “narcissisme radikal”— yakni suatu rasa cinta atau maniak diri yang sangat mendalam dan berlebihan, membuta, baik terhadap apa yang mereka persepsikan sebagai kebenaran diri sendiri maupun terhadap ideologi-ideologi religius, politik, ekonomi dan kebudayaan yang sudah berhasil mereka bangun dan pertahankan. 


Dorongan mental narcissistik ini bukan hanya merasuki bangunan ideologis agama mereka sehingga mereka akan mau mati demi doktrin-doktrin “cantik” mereka, tetapi juga merasuk ke dalam alam sadar dan alam bawah sadar mereka, sehingga gejala ini dapat disebut sebagai narcissisme radikal. 

Sadar atau dalam alam bawah sadar, mereka memandang diri sebagai laskar-laskar kebenaran ilahi, yang berbeda dari siapapun yang ada dalam dunia ini. Semangat tempur jihadisme sebagai Bible and doctrine warriors selalu membara dalam diri mereka, sehingga tepatlah kalau seorang pakar peneliti gejala fundamentalisme Kristen menyebut para fundamentalis Kristen sebagai “evangelicals in a fighting mood!” 

Ketika bercermin di hadapan siapa pun, yang mereka temukan adalah panggilan dan tugas mereka untuk mempertontonkan kecantikan atau ketampanan diri sendiri sebagai orang-orang pilihan ilahi untuk tugas penyelamatan dunia. Segala lini kehidupan siap mereka tempuri. 

Narcissisme radikal ini, suatu maniak cinta pada diri dan bangunan agama sendiri, menyebabkan fundamentalisme Kristen kokoh menjadi suatu sistem kepercayaan tertutup (a closed belief system) yang anti pada pembaruan, revisi dan inovasi mendasar, dalam doktrin-doktrin mau pun dalam praktik-praktik beragama.

8. Bervisi apokaliptik sangat politis radikal

Apokaliptisisme biblis adalah sebuah visi tentang Dunia Baru (=Apokalipsis) di masa depan, yang perihal bagaimana bentuknya dan kapan didatangkannya, diyakini telah disingkapkan (penyingkapan = apokalipsis), hitam di atas putih, selengkap-lengkap dan sepersis-persisnya, di dalam Alkitab oleh Allah. Kitab-kitab para nabi, dan sastra-sastra apokaliptis dalam Alkitab (misalnya, bagian-bagian tertentu dari beberapa Kitab Para nabi, lalu Kitab Daniel, Markus 13 dan pars., dan Kitab Wahyu Yohanes), mendapat perhatian khusus untuk dipakai dalam melakukan konstruksi tabel waktu yang berisi petunjuk-petunjuk kapan dunia baru itu akan didatangkan dan peristiwa-peristiwa apa yang akan mendahuluinya. 


Umumnya, para penganut apokaliptisisme (di dunia kuno) memandang ke depan, kepada suatu dunia yang sama sekali lain dari dunia yang dikenal, yang akan didatangkan Allah di luar sejarah, dan akan menjadi bagian kawasan yang trans- atau meta-historis. 

Biasanya juga, para apokaliptisis kuno memandang dunia masa kini sudah sangat jahat, dikuasai kuasa anti-Allah, kuasa Setan, sehingga mereka akan menjauhi segala aktivitas duniawi (sosial, politik, ekonomi dan kultural) dan menunggu pasif kedatangan Dunia Baru di masa depan, yang diyakini tidak lama lagi akan tiba, di dalam mana kuasa anti-Allah akan dikalahkan oleh Allah sendiri.

Tetapi kalangan fundamentalis Kristen modern (dimulai di Eropa, USA, kemudian juga di Asia) sudah mengubah strategi politik kebudayaan mereka: mereka tetap mempertahankan visi apokaliptis tentang datangnya Dunia Baru di masa depan yang sudah dekat, tetapi mereka melihat adalah tugas mereka di dalam dunia sekarang ini untuk melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mempercepat kedatangan Dunia Baru itu


Karena itu, mereka sangat didorong untuk melibatkan diri dengan efektif, cerdas dan lihai di dalam percaturan politik, ekonomi dan militer dunia, khususnya yang ada kaitan langsung dengan peta perpolitikan dan militerisme di Timur Tengah, dan lebih khusus lagi yang berkenaan langsung dengan pembelaan kepentingan negara Israel modern sebagai sekutu USA. 

Lebih jauh lagi, Dunia Baru apokaliptik tidak lagi mereka lihat sebagai suatu entitas di luar sejarah, dunia yang trans-historis, tetapi suatu Dunia Baru yang akan berwujud dalam dunia ini, di bumi ini, Dunia Baru yang akan diperintah oleh sang Messias Yahudi-Kristen Yeshua/Yesus, dengan pusat pemerintahannya di Yerusalem dalam negara Israel modern.

Dalam pandangan orang fundamentalis Kristen, berdirinya Negara Israel modern tahun 1948, dan Perang Enam Hari tahun 1967 yang digelar Israel dengan sukses besar, adalah bagian dari tanda-tanda telah mendekatnya waktu kedatangan Dunia Baru itu. Puncak dari segala peristiwa dunia yang mengawali Apokalipsis, kedatangan Dunia Baru, adalah Perang (Nuklir) Dunia III, Perang Armageddon. Perang maha dahsyat ini, dalam keyakinan para fundamentalis Kristen, harus dipercepat meletusnya, dan ini akan bermula di Timur Tengah, lalu meluas ke seluruh dunia, dan ketika ini terjadi, Messias Yeshua akan datang dan menegakkan pemerintahannya di Yerusalem bumi. 


Maka, fundamentalisme Kristen pun kini sedang mengembangkan strategi politik dan kebudayaan dan ekonomi global/worldwide untuk turut mempercepat kemenangan Yeshua atas Setan dan bangsa-bangsa lain yang kafir, sehingga akibatnya akan berdirilah Negara Yahudi-Kristen yang berpusat di Yerusalem/Al Quds, yang menguasai seluruh dunia manusia. Ketika ini terjadi, maka Dunia Baru apokaliptis yang diidam-idamkan itu sudah datang, dan para fundamentalis Kristen bersama Mesias Yeshua akan dengan jaya memerintah Dunia Baru ini.

Orang Kristen fundamentalis di mana pun, yang memandang semua nubuat dalam Alkitab harus dipenuhi secara harfiah, khususnya yang berkaitan dengan nasib bangsa Yahudi (Israel modern), pastilah juga para warriors Kristen yang akan dengan penuh komitmen ikut serta untuk merealisasi nubuat para nabi, yakni kemenangan Israel dan kedatangan kembali Messias Yeshua untuk memerintah dunia. 


Perlu diteliti, berapa banyak orang fundamentalis Kristen Indonesia yang sudah dan sedang menerima pendidikan teologi di sekolah-sekolah teologi di USA yang memandang dengan sangat yakin kebenaran dari visi apokaliptisisme Zionis Yahudi-Kristen ini. Visi orang-orang abnormal, yang cedera saraf otaknya, yang lebih menyukai perang sejagat daripada perdamaian semesta.

9. Sangat anti terhadap pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci

Musuh ideologis hermeneutik orang Kristen fundamentalis literalis biblis paling utama dan yang paling mereka benci adalah orang-orang Kristen yang memakai pendekatan kritis-historis terhadap Alkitab


Pendekatan kritis-historis memandang setiap teks Kitab Suci tidak diilhamkan langsung oleh Allah dan tidak diturunkan langsung dari langit, tetapi lahir dari dalam konteks-konteks sosial-historis dan kultural yang real dari manusia-manusia real yang hidup dulu, dalam zaman masing-masing dan di tempat masing-masing dan yang menghadapi persoalan-persoalan historis yang real dan kongkret. 

Karena itu, untuk memahami teks-teks Kitab Suci, para penafsir kritis mengembangkan metode-metode tafsir yang tepat dan memakai peralatan bantu konseptual metodikal untuk bisa masuk ke dalam konteks sejarah kehidupan para penulis teks-teks suci itu. Ilmu-ilmu lain yang bisa membantu, misalnya sosiologi dan antropologi serta arkeologi, dipakai untuk manusia zaman sekarang bisa dengan lebih dapat diandalkan memahami dan mendeskripsikan dunia sosial para penulis teks suci kuno. 

Memahami dunia sosial para penulis teks suci adalah syarat utama untuk bisa memahami teks suci, sebab meaning/arti/maksud dari teks suci tidak diberikan oleh langit, melainkan dibentuk dan diberikan oleh kebudayaan dalam dunia sosial si penulis dulu.

Berbenturan dengan perspektif kritis di atas, kalangan fundamentalis Kristen, Bible warriors, tidak memandang asal-usul teks-teks Kitab Suci secara demikian. Bagi mereka, semua teks Kitab Suci 100 persen berasal dari sorga, yang melalui proses pengilhaman mekanik, masuk ke dunia manusia. Bagi mereka, naskah-naskah asli Kitab Suci ada di sorga, di tangan Allah, lalu, melalui mesin mekanik faximili sorga, dikirim ke bumi dan manusia di bumi menerima teks sama persis dengan yang asli yang ada di tangan Allah. Perspektif skriptural fundamentalis semacam ini adalah perspektif anti-sejarah dan, juga, anti-kebudayaan.

Nah, orang Kristen literalis biblis fundamentalis adalah orang-orang yang pada satu pihak mengklaim paling mengerti Kitab Suci dan paling benar memahami pesan dan kewibawaan Kitab Suci, namun, pada pihak lain, ironisnya, mereka adalah orang-orang yang paling keliru memahami Kitab Suci, sebab yang mereka klaim sebagai makna teks Kitab Suci adalah makna teks yang dimungkinkan muncul karena di dalam kepala mereka sudah ada doktrin-doktrin gereja mereka dan pemikiran kultural modern yang kapitalistik. 


Di tangan mereka, Alkitab bukan lagi teks suci kuno, tetapi teks suci yang sangat modern. Mereka adalah para penafsir anti-sejarah dan pra-kritikal, sebuah pendekatan yang sangat menyesatkan. Ironinya, di dalam gereja-gereja mereka menghasut bahwa pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci akan menghancurkan iman Kristen. 

Itu adalah fitnah murahan, yang sama sekali tidak ada nilainya. Yang dihancurkan pendekatan kritis-historis bukanlah iman Kristen, tetapi agama Kristen fundamentalis literalis biblis. Sebaiknya, warga gereja di mana-mana harus waspada terhadap hermeneutik biblis orang-orang fundamentalis Kristen.

10. Gerakan kebudayaan berbahaya

Orang sering menganggap bahwa fundamentalisme Kristen adalah suatu gerakan religius kultural yang anti-modernitas, karena ingin mengembalikan dunia dan gereja-gereja ke dalam kehidupan dunia zaman kuno, zaman kejayaan para nabi, dan zaman para rasul Kristen di abad-abad perdana dalam sejarah gereja, zaman keemasan bagi karya nyata Roh Kudus. Mereka, dengan demikian, sepertinya adalah gerakan kultural religius yang menentang kemajuan, bergerak ke belakang, mundur ke dalam masa lampau sejarah gereja Kristen.

Tapi, harus dicatat, anggapan dan perspektif ini tidak seluruhnya benar. Gerakan fundamentalisme Kristen adalah gerakan yang sangat modern. Mereka memakai teknologi modern untuk menyebarkan doktrin-doktrin dan visi-visi mereka ke seluruh dunia (via Internet, televisi satelit, televisi cable, dll.). Mereka menerapkan ilmu manajemen modern untuk menggalang dana besar-besaran dan mengurus ekspansionisme gerakan dan organisasi mereka. 


Mereka mempelajari dan menerapkan insights yang diperoleh dari kajian-kajian modern antropologi sosio-budaya untuk bisa masuk dan beradaptasi dengan suku-suku asing dan terasing di dunia bangsa-bangsa untuk keperluan pengkristenan dalam program sedunia “evangelism explosion” mereka.

Mereka mempelajari peta perpolitikan, ekonomi dan bahasa-bahasa setempat dari negara-negara yang mereka sudah masukkan ke dalam daftar kawasan-kawasan pengkristenan global. Mereka melatih dengan metode-metode modern para “gerilyawan” mereka dengan ketrampilan-ketrampilan praktis efektif untuk bisa masuk ke kawasan-kawasan “lawan” yang sedang menjadi target misi proselitisme mereka. 

Mereka mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan modern untuk bisa berpolemik mempertahankan “keilmiahan” teks-teks Alkitab; dsb. 

Semua langkah mereka itu menunjukkan mereka adalah organisasi modern yang dikelola dengan profesional modern, dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui sarana-sarana modern.

Tetapi pada pihak lain, gerakan kebudayaan kekristenan fundamentalis ini, pada intinya, adalah gerakan kultural berbahaya dan destruktif, karena mereka, pada pihak lain, anti nilai-nilai modern: demokrasi, pluralisme, sekularisme, liberalisme, persamaan hak-hak gender pria dan wanita, sosialisme ekonomi, gerakan civil society, kebebasan individual, pencerahan akal budi, sains evolusi, toleransi, spiritualitas nonreligius, dll. 


Dalam semangat anti-modernisme ini, mereka mengembangkan wacana-wacana polemis pseudo- atau non-ilmiah untuk menunjukkan bahwa ide-ide mereka (dalam pikiran dan keyakinan mereka) adalah alternatif-alternatif yang lebih religius dan lebih ilmiah dan lebih biblis. 

Misalnya, sebagai ganti ilmu fisika, astronomi, astrofisika dan kosmologi modern mereka mempromosikan kreasionisme dangkal pseudo-sains dan agama Bumi Datar. Sebagai ganti teori evolusi mereka mengembangkan doktrin Intelligent Design. Sebagai ganti pluralisme religius dan toleransi mereka memperjuangkan dan berkampanye bahwa hanya ada satu agama yang benar, agama Yesus Kristus versi mereka. 

Sebagai ganti teologi agama-agama mereka mengembangkan apologetika terhadap agama-agama lain. Sebagai ganti dialog antar agama mereka mengembangkan proklamasi Kristen yang menuntut pertobatan manusia masuk Kristen bila manusia tidak ingin masuk neraka; dlsb.

Jelas, fundamentalisme Kristen adalah gerakan kultural sangat berbahaya yang harus dicegah dan dieliminir daya sengatnya oleh orang beragama Kristen yang masih berhatinurani bersih, yang masih eling, yang jumlahnya masih sangat banyak. Lewat dialog terus-menerus, dan penyadaran serta pencerdasan masyarakat dan warga gereja-gereja.

Semoga bermanfaat.



Doktrin-doktrin Pokok Fundamentalisme Prostestan

Doktrin-doktrin Pokok Fundamentalisme Protestan: Sebuah Evaluasi Kritis


Oleh Ioanes Rakhmat



Fundamentalisme Protestan yang muncul pada awal abad ke-20 tidak dapat dilepaskan dari kandungan paradigma pemikiran Reformasi Protestan evangelikal (abad ke-16) ketika para tokoh terkemuka dari kalangan evangelikal dalam paradigma ini berkonfrontasi reaktif terhadap nilai-nilai paradigma zaman Pencerahan (abad ke-17 dan ke-18). 

Nilai-nilai ini melahirkan kemodernan dengan nilai-nilai modernnya yang diadaptasi ke dalam teologi modern dan teologi liberal, antara lain pengagungan rasionalitas yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta “progress” bagi peradaban manusia dan sekularisasi. Dalam paradigma Pencerahan ini, manusia tiba pada kesadaran dan pemikiran kesejarahan yang linier yang berorientasi ke masa depan, yang bertentangan dengan nilai-nilai zaman Barok (Renaissance) yang berorientasi ke masa lampau.

Nama “fundamentalisme” berasal dari brosur-brosur yang diterbitkan sebanyak 12 bagian dari 1909-1919 (1910-1915) yang diberi nama The Fundamentals: A Testimony to the Truth (“fundamentals” di sini artinya tentu hal-hal yang mendasar dari iman Kristen) oleh tokoh-tokoh terkemuka kalangan Protestan evangelikal dan para teolog konservatif dari Princeton Theological Seminary, dengan dukungan dana penerbitan dari dua orang Kristen awam./1/ 


Para pendukung gerakan ini disebut orang-orang “fundamentalis” (istilah ini diciptakan oleh seorang Baptis, C.C. Law, pada tahun 1920). 

Ada lebih dari satu definisi tentang “fundamentalisme” sebagai gerakan. Antara lain, fundamentalisme adalah “gerakan abad 20 yang terkait erat dengan tradisi kebangunan rohani dari Protestantisme evangelikal arus utama yang dengan militan melawan teologi modernis dan perubahan kebudayaan yang dihubungkan dengannya.”/2/ Dan, sederhana namun menggigit, seorang fundamentalis adalah “seorang evangelikal yang berang terhadap sesuatu.”/3/ 

Definisi-definisi dari pakar non-fundamentalis ini disetujui oleh orang-orang fundamentalis sendiri. Dan “sesuatu” yang membuat mereka berang jelas adalah, seperti ditegaskan oleh seorang fundamentalis sendiri, “Protestantisme liberal radikal yang telah berupaya baik menyekularisasi kekristenan maupun mengkristenisasikan sekularisme pada saat yang bersamaan.”/4/

Apa yang mereka sedang lawan dan tentang mati-matian, terlihat dalam pokok-pokok yang mereka pandang fundamental bagi iman Kristen. Pokok-pokok ajaran dasariah yang dipertahankan dalam The Fundamentals mencakup:


1. pengilhaman dan ketidaksalahan (Infallibility) Alkitab;
2. keilahian Kristus dan kelahirannya dari perawan Maria;
3. pendamaian melalui kematian Yesus Kristus;
4. kebangkitan harfiah/jasmaniah Yesus Kristus; dan
5. kedatangan Yesus Kristus dengan segera.

Dari sekian tulisan dalam The Fundamentals, dua puluh tujuh membahas Alkitab, sembilan tentang apologetika, delapan mengenai pribadi Yesus Kristus, dan tiga tentang kedatangan Kristus kedua kalinya. 

Kalau isi seluruh tulisan di dalamnya diperiksa, maka kelihatan bahwa tujuan utamanya adalah membela dan memuliakan pandangan-pandangan tradisional mengenai Alkitab. Hampir sepertiga dari keseluruhan tulisan menekuni pokok ini, dan di dalam semua uraiannya pengilhaman dan infallibilitas Kitab Suci dengan kuat dipertahankan./5/

Tokoh-tokoh Kristen fundamentalis sendiri menyatakan doktrin “inerrancy” dan “infallibility” Alkitab pada dasarnya berkaitan dengan keabsahan dan otoritas Alkitab. Mereka memandang Alkitab sebagai kumpulan tulisan yang “diilhamkan Allah” dan karenanya bebas dari kesalahan apapun di dalam semua pernyataan dan penegasannya sebagai mana terdapat dalam naskah-naskah aslinya. Mereka mengklaim bahwa doktrin fundamentalis tentang Alkitab ini sendiri berasal dari gerakan evangelikal arus utama abad 19 yang mempertahankan konsep “pengilhaman harfiah sepenuh-penuhnya” sebagaimana dikembangkan oleh para teolog dari Princeton Theological Seminary.

Memang pada 1878, dalam mengantisipasi gerakan fundamentalis, dalam Niagara Bible Conference dikeluarkan suatu “Pengakuan Iman Niagara” yang pasal pertamanya berbunyi demikian:

“Kami percaya ‘bahwa segala tulisan suci diilhamkan Allah’; yang kami pahami sebagai tulisan suci adalah kitab yang dinamakan Alkitab; kami tidak memahami pernyataan itu seperti yang kadang-kadang secara keliru dipahami bahwa yang diilhami adalah karya-karya orang-orang pandai. 

Tetapi yang kami pahami adalah bahwa Roh Kudus memberikan kata-kata dari tulisan-tulisan itu sendiri kepada orang-orang suci zaman lampau. Dan bahwa pengilhaman Allah ini tidak berlangsung dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda, melainkan berlangsung sama rata dan sepenuhnya untuk semua bagian tulisan-tulisan ini, tulisan-tulisan sejarah, puisi, pengajaran dan nubuat para nabi, dan bahkan sampai pada kata-kata yang paling kecil dan juga infleksi suatu kata, asalkan semuanya itu di dalam naskah-naskah aslinya.”/6/ 

Jelas, pernyataan ini adalah rumusan “kepercayaan”, rumusan “pengakuan iman”,/7/ bukan suatu pernyataan atau kesimpulan ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian kritis ilmiah. Selain itu, merujuk ke naskah-naskah asli Alkitab adalah suatu usaha yang sia-sia, sebab Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, disusun tidak dari autograf-autograf atau naskah-naskah asli, melainkan dari naskah-naskah salinan dari salinan dari salinan.

Lalu, mengapa Alkitab “dipercaya” dan dipertahankan sampai begitu rupa? Jelas, pada awal kelahiran fundamentalisme, pemahaman semacam itu dimaksudkan untuk menolak dan menyerang pendekatan historis kritis terhadap Alkitab yang memakai prinsip-prinsip penalaran dan kesadaran sejarah zaman Pencerahan.


Apakah pandangan fundamentalis ini sesuatu yang baru? Jelas, bukan! Tentu sudah ada pemahaman di dalam gereja-gereja perdana semacam ini, bahkan di dalam dunia Perjanjian Lama ketika dituturkan bahwa Roh Allah datang dan memenuhi nabi-nabi yang sedang mengalami ekstasi, dan juga di dalam teologi Yahudi.

Juga sudah jelas bahwa bapak-bapak gereja (Ortodoksi) memegang keyakinan yang serupa. Demikian juga dalam teologi Kristen Abad Pertengahan./8/ Bahkan, tegas orang-orang fundamentalis, Yesus sendiri mengutip Perjanjian Lama dan memandangnya sebagai tulisan-tulisan yang diilhami Allah dan bahkan dia sendiri mengacu pada bagian-bagian Kitab Suci yang “diragukan kebenarannya” dan menerimanya sebagai tulisan-tulisan yang menyaksikan kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh terjadi (Adam, Yunus, dan orang-orang lainnya)./9/

Sebelum tiba zaman Pencerahan yang melahirkan modernitas, adalah sesuatu yang wajar saja kalau orang berpikir demikian, sama seperti mereka percaya begitu saja bahwa dunia ini diciptakan dalam enam hari dalam arti harfiah.

Lalu, apakah sebelum lahirnya fundamentalisme pada awal abad ke-20 orang-orang zaman pramodern yang memandang Alkitab seperti itu juga orang-orang fundamentalis? Tidak, tidak bisa dikatakan bahwa mereka yang hidup pada zaman pramodern, zaman pra-kritis dalam studi Kitab Suci, adalah orang-orang fundamentalis.

Tetapi, orang-orang yang sudah memasuki zaman modern dimana studi-studi Alkitab sudah memakai metode-metode kritis, tetapi masih berkeras memandang Alkitab secara pra-kritis, mereka adalah orang-orang fundamentalis. Dalam hal ini, bukan Alkitab yang mereka pertahankan dan mutlakkan, melainkan doktrin keagamaan pramodern mereka mengenai Alkitab, dan dari doktrin ini memancar segala segi lain yang dipertahankan dalam tradisi keagamaan mereka./10/

Bagaimana dengan Martin Luther? Jelas, dia bukan seorang fundamentalis, sebab baginya meski pun Alkitab adalah firman Allah satu-satunya (sola Scriptura), dalam hermeneutik Luther tidak setiap bagian Alkitab yang berdiri sendiri-sendiri adalah firman Allah; bagian-bagian itu adalah firman Allah hanya sejauh menyaksikan Firman Allah yang menjelma, yaitu Yesus Kristus. Kewibawaan Alkitab dalam pandangan Luther terletak disitu, bukan pada doktrin inerransi dan infallibilitas harfiah Alkitab.

Doktrin mengenai kebangkitan Yesus secara jasmaniah didesakkan untuk melawan pandangan modernisme yang melihat Yesus hanya sebagai “guru moral” yang meninggalkan pesan-pesan moralnya, khususnya Khotbah di Bukit./11/

Bagi kalangan fundamentalis, Yesus adalah sang penyelamat yang hidup yang dapat mengubah kehidupan orang pada masa kini; dia bukan seorang guru etika yang sudah mati. Bagi mereka, kebangkitan yang dilihat hanya sebagai “kebangkitan spiritual” sama sekali tidak memadai, karena tidak sesuai dengan kesaksian Injil (orang-orang fundamentalis mengacu pada Lukas 24:36-43; Yohanes 20:20-29). Beberapa catatan perlu dikemukakan.

Dalam Alkitab, perihal kebangkitan Yesus diberitakan bukan hanya dalam Injil-injil, tetapi juga, misalnya, dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 15:35-58). Disitu, Paulus berbicara tentang tubuh kebangkitan sebagai “tubuh rohaniah” (sōma pneumatikon), sedang tubuh yang ditaburkan “tubuh jasmaniah” atau “tubuh alamiah” (sōma psukhikon).

Jelas, Paulus membedakan dua jenis tubuh itu, yang di antara keduanya terdapat diskontinuitas radikal.

Orang fundamentalis gagal melihat kemajemukan kesaksian Alkitab sendiri mengenai kebangkitan Yesus.

Selain itu, dengan studi kritis, terlihat bahwa kesaksian Perjanjian Baru tentang kebangkitan Yesus berkembang dalam beberapa tahap, dan tahap yang paling awal (madah kristologis pra-Paulinis dalam Filipi 2) menyatakan kebangkitan Yesus itu dengan sebutan “Allah sangat meninggikan Dia” (2:9) tanpa ada rujukan apapun kepada kebangkitan jasmaniah. Baru pada tahap yang belakangan kebangkitan itu dituturkan dalam Injil-injil (Matius, Lukas dan akhirnya Injil Yohanes) dengan terinci dan makin materialis atau fisikal./12/

Kalaupun orang-orang fundamentalis menekankan kebangkitan Yesus secara jasmaniah dengan mendasarkannya pada pengalaman orang percaya pada kehadirannya di masa kini sebagai penyelamat yang hidup yang mengubah hidup manusia, maka ada beberapa persoalan di sini.

Pengalaman kehadiran Yesus pada masa kini jelas adalah pengamalan kehadiran Roh, bukan pengalaman akan kehadiran diri Yesus secara jasmaniah yang dapat dipandang dan disentuh. Jadi, mengapa untuk memberi landasan pada pengalaman spiritual ini harus ada doktrin yang dimutlakkan bahwa Yesus bangkit secara jasmaniah? Bukankah Yesus yang bangkit dalam tubuh rohaniahnya lebih mungkin untuk dapat juga hadir secara rohaniah pada masa kini?

Lagi pula, pengalaman keagamaan dihadiri Yesus ini berlangsung dalam suatu lingkungan orang percaya yang memegang tradisi kepercayaan tertentu, dan pengalaman semacam ini bukan satu-satunya pengalaman keagamaan yang dengannya orang mengalami “makna” Yesus buat kehidupannya di masa kini. Yesus memberi banyak makna, tidak cuma lewat kematian dan kebangkitannya, tapi juga lewat kehidupan, ajaran, contoh, komitmen, dan wejangan-wejangan dan kisah-kisah metaforisnya (dikenal sebagai perumpamaan-perumpamaannya).

Di sini terlihat bahwa penekanan doktrinal pada kebangkitan jasmaniah Yesus oleh orang-orang fundamentalis tidak bertolak dari kesaksian Alkitab yang dipahami dengan teliti dan menyeluruh, melainkan bertolak dari pengalaman keagamaan dalam arus tradisi Kekristenan tertentu yang coba dibenarkan melalui harmonisasi tulisan-tulisan Kitab Suci dan muncul dari motivasi melawan modernisme yang menerapkan pendekatan kritis terhadap Kitab Suci.

Akhirnya, satu hal penting perlu dikemukakan. Meski pun doktrin tentang kebangkitan fisikal Yesus ini ditekankan oleh orang-orang fundamentalis, tetapi makna teologisnya tidak ditekankan sekuat yang diberikan pada kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia./13/

Mestinya, doktrin kebangkitan Yesus akan mendorong orang-orang fundamentalis untuk terjun ke dalam persoalan-persoalan masyarakat untuk mengusahakan pembaruan hidup sebagaimana Kristus yang mati disalibkan dibaharui kembali dalam kebangkitannya.

Sebaliknya, mereka aktif untuk memperjuangkan keselamatan pribadi orang seorang saja melalui penginjilan tanpa menyentuh persoalan-persoalan kemasyarakatan, dan melupakan bahwa kebangkitan Yesus didahului oleh kematiannya dalam tangan pemerintah penjajah Roma di abad pertama yang melihat Yesus sebagai seorang tokoh keagamaan yang potensial mengganggu stabilitas Pax Romana. Lewat kerjasama dengan para pemuka keagamaan Yahudi dan para penguasa Bait Allah, Yesus akhirnya ditangkap dan segera dieksekusi.

Juga, mestinya pengalaman dihadiri Roh Yesus Kritus yang diklaim kalangan fundamentalis ini akan membuat mereka terbuka juga pada pengalaman-pengalaman spiritual sejenis” yang dialami orang-orang dari tradisi keagamaan lain. Nyatanya, orang-orang fundamentalis tidak menunjukkan sikap dan pengertian semacam itu. Tidak mungkin pengalaman akan kehadiran “The Holy Other” akan memisahkan orang seorang dari orang-orang lain dari tradisi keagamaan yang berbeda yang juga mengalaminya.

Satu hal perlu dicatat. Studi-studi neurosaintifik atas berbagai pengalaman keagamaan yang dialami oleh orang-orang yang menghayati agama-agama yang berbeda bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa otak manusia memang dikonstruksi dan terprogram secara neurologis untuk manusia dapat mengalami berbagai pengalaman kerohanian, misalnya merasakan kehadiran satu sosok rohani atau merasakan sedang berjalan menuju dunia lain, dan seterusnya.

Di lingkungan kekristenan evangelikal, pengalaman batiniah keagamaan masa kini berupa kehadiran Yesus sebagai sang penyelamat yang hidup yang membuka hubungan pribadi dengan orang percaya, memerlukan pemahaman bahwa Yesus adalah Allah yang datang ke dalam dunia tanpa dosa (karena itu, dia harus dilahirkan dari Perawan Maria). Demikianlah argumentasi kalangan fundamentalis untuk doktrin mereka mengenai keilahian Yesus,/14/ sementara di dalam doktrin Ortodoksi mengenai Yesus diakui bahwa Ia adalah “Allah dan Manusia”.

Pada awal kelahiran fundamentalisme, doktrin itu diajukan untuk melawan pemahaman modernis liberal dan deisme (yang tidak dapat menerima gagasan tentang suatu Allah yang datang ke dalam dunia, menjelma, dan campur tangan dalam dunia manusia) yang melihat Yesus hanya sebagai manusia biasa, pengajar moral, yang menjadi teladan bagi manusia./15/

Karena itu dapat dipahami bahwa sisi kemanusiaan Yesus yang diakui Ortodoksi tidak ditampilkan dalam doktrin fundamentalis ini. Dari sudut ini, juga dapat dipahami kalau mereka tidak mempedulikan kesaksian Perjanjian Baru yang juga menekankan kemanusiaan Yesus di samping, dalam tahap-tahap kemudian, keilahiannya.

Kepercayaan pada rasionalitas dan “progress” sebagai nilai-nilai modern menempatkan manusia sebagai makhluk otonom yang dapat membangun masa depannya sendiri dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sekularisasi yang menyertai kemodernan menyebabkan agama tidak berperan, dan Allah dipandang tidak diperlukan lagi untuk membangun manusia dan masyarakat.

Dalam konteks semangat zaman yang seperti itu, fundamentalisme tampil dengan menekankan doktrin pendamaian dan penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, di samping itu juga untuk melanjutkan perlawanan terhadap Katolisisme yang memegang soteriologi yang sinergistis.

Di samping itu, dengan doktrin ini juga orang fundamentalis menolak apabila Yesus hanya dilihat sebagai guru moral yang ajaran-ajarannya bermanfaat untuk membimbing manusia. Bagi mereka, yang diberikan Yesus bukan hanya ajaran-ajarannya, tetapi juga dirinya untuk kebaikan dan keselamatan manusia.

Terakhir, tentang doktrin kedatangan segera Yesus untuk kedua kalinya. Penekanan pada kedatangan yang segera ini memperlihatkan keprihatinan orang-orang fundamentalis pada kecenderungan para teolog dan orang Kristen liberal untuk menerima gagasan tentang “kemajuan” (progress) dan memperbincangkan perihal mengenai “membangun” Kerajaan Allah di bumi melalui prestasi-prestasi sosial kemasyarakatan seperti yang dikembangkan oleh “social Gospel” dengan gagasannya tentang “demokratisasi” Kerajaan Allah dan “mengkristenisasikan tatanan sosial” (antara lain Albrecht Ritschl, Walter Rauschenbusch dan Horace Bushnell). Bagi orang fundamentalis, “social Gospel” telah memodernisasi Injil yang sebenarnya./16/

Pendekatan terhadap Alkitab yang pramodern menyebabkan mereka juga tidak melihat bahwa eskatologi (= ajaran tentang akhir zaman) Perjanjian Baru lebih dari satu macam dan mengalami perkembangan, dari pengharapan eskatologis yang memandang Yesus segera datang kembali sampai pada pandangan bahwa kedatangannya tidak diketahui kapan atau pada pandangan dia sudah datang kembali dalam kehadiran Roh Kebenaran/paraklētos.

Ketika gereja perdana mulai melembaga eskatologi bergeser, diganti oleh lebih banyak tugas penataan organisasi pelayanan gereja di dalam dunia yang masih berlangsung (seperti tercermin dalam Surat-surat Pastoral dan surat-surat Katolik).

Satu hal teramat penting yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa “eskatologi” fundamentalis ini dipahami oleh orang-orang fundamentalis secara ideologis, karena mereka mengembangkannya terkait dengan “nasib” Negara Israel modern (berdiri 14 Mei 1948) yang mereka dukung sepenuhnya dalam percaturan politik dan militer di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara adidaya modern, demi wawasan mereka tentang suatu perang (nuklir) “Armageddon” apokaliptik./17/

Dalam skema “dispensasionalisme” fundamentalis (dari kata latin “dispensatio”, artinya “pembagian” atau “pembabakan”, yakni pembabakan sejarah mulai dari zaman Adam dan Hawa, Nuh, sampai pada akhir zaman dengan “pengangkatan” ke surga), perang apokaliptik Armageddon akan merupakan peristiwa paling menentukan untuk pengangkatan mereka ke surga di akhir zaman.

Tampak bahwa fundamentalisme Kristen pada awal berdirinya tidak mengembangkan suatu teologi yang utuh dan sistematis. Lagi pula, mustahil mereka dapat melakukannya mengingat mereka tampil sebagai gerakan reaksioner.

Lima pokok doktrin yang diklaim dan dipertahankan orang-orang fundamentalis sebagai doktrin-doktrin ortodoks yang universal nyatanya lebih banyak bersifat reaktif dan perlawanan serta ditafsir dalam semangat keagamaan mereka sendiri yang juga tidak lepas dari pengaruh zaman dan kebudayaan di dalam mana mereka hidup.

Fundamentalisme adalah suatu, bukan satu-satunya, bentuk kekristenan di dalam zaman modern yang berpijak pada tradisi dan pengalaman keagamaan tertentu mereka sendiri yang menjadi norma dalam mereka menafsirkan Kitab Suci dan memahami tradisi-tradisi gereja, dengan tujuan untuk melawan segala bentuk modernisme./18/

Yang menjadi tulang punggung gerakan fundamentalis adalah doktrin pramodern mereka tentang Alkitab di tengah-tengah zaman modern; doktrin ini memang ukuran utama untuk mencirikan dan melabelkan fundamentalisme. Tetapi fundamentalisme sebenarnya jauh melebihi itu saja.

Fundamentalisme adalah suatu gerakan yang membangun suatu citra khas mereka sendiri mengenai dunia luar; dunia luar mulai dari zaman Alkitab sampai zaman sekarang. Citra tentang dunia luar yang mereka bangun itu memperlihatkan bahwa mereka tidak memahami seluruh sejarah kekristenan, mulai dari zaman gereja rasuli sampai pada gereja masa kini./19/

Ketika masyarakat Amerika dibanjiri nilai-nilai dan filosofi serta ilmu pengetahuan modern, maka perubahan-perubahan besar terjadi dengan cepat dalam semua bidang kehidupan dan nilai-nilai tradisional bergeser.

Tinimbang memahami dengan sebaik-baiknya modernitas dan menggumuli dengan proaktif peran gereja Kristen di dalamnya, nyatanya mereka serta merta berpaling ke masa lampau, ke dalam kehidupan gereja zaman rasuli untuk mencari pijakan yang “jelas”, “pasti” dan “menjamin jatidiri” mereka. Mengapa?

Karena mereka menganggap nilai-nilai universal yang murni dan abadi dapat ditemukan di situ, di dalam kehidupan umat zaman lampau dan dalam “Injil masa lampau”, dan juga di dalam tradisi-tradisi bapak-bapak gereja dan di dalam gerakan-gerakan evangelikal abad ke-18 dan abad ke-19. Mereka memandang doktrin-doktrin murni, abadi dan universal dari Ortodoksi sudah dirumuskan pada zaman-zaman itu.

Dari sudut filosofis, langkah ini tepat, sebab menunjukkan pengertian bahwa dari dalam sejarah orang dapat menemukan petunjuk-petunjuk untuk kehidupan masa kini. Tetapi, kekeliruan fatal mereka adalah bahwa mereka tidak menyadari (atau tidak mau menyadari dan menerima?) bahwa setiap tanggapan keagamaan apapun dalam suatu zaman tertentu adalah produk zamannya sekali pun ingin memengaruhi zaman itu.

Untuk mengambil pelajaran dari masa lampau, orang tidak perlu menjadi fundamentalis; tetapi orang bisa menjadi fundamentalis ketika dia hanya terpaku pada huruf-huruf tertulis, tanpa menyadari bahwa makna huruf-huruf atau teks-teks diberikan oleh “sistem sosial” di dalam mana teks-teks itu muncul.

Memahami sejarah dengan kritis dengan melibatkan pelbagai disiplin ilmu akan membawa si peneliti pada penemuan akan keunikan masing-masing peristiwa sejarah yang dihasilkan dari interaksi dan saling pengaruh antar banyak faktor kontemporer.

Pada sisi lain, orang-orang fundamentalis tampil untuk melawan modernitas dan modernisme, tetapi mereka dan pandangan-pandangan mereka juga adalah produk zaman modern atau dihasilkan dari berbagai faktor zaman ini yang berinteraksi. Ini tidak mereka pahami dengan sebaik-baiknya.


Catatan-catatan


/1/ The Fundamentals (Chicago: Testimony Publishing Company, 1910-1915).

/2/ George M. Marsden, “Fundamentalism as an American Phenomenon: A Comparison with English Evangelicalism”, Church History 46 (June 1977) 215, dikutip dalam Ed Dobson, Ed Hindson, Jerry Falwell, The Fundamentalist Phenomenon. The Resurgence of Conservative Christianity (Grand Rapids: Baker Book House, 1986, cetakan 2) 3.

/3/ George M. Marsden, “Defining American Fundamentalism”, Noman J. Cohen (ed), The Fundamentalist Phenomenon (Grand Rapids: Eerdmans, 1990) 22 [22-37].

/4/ Pernyataan ini dikemukakan oleh tokoh-tokoh fundamentalis kontemporer sendiri (1981), di antaranya Jerry Falwell, ketika mengacu kepada Harvey Cox yang menulis buku The Secular City (1965). Lihat Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 6. Selain buku itu, ada dua buku Cox lain yang disebut-sebut oleh mereka: The Feast of Fools (1969) dan The Seduction of the Spirit (1973).

/5/ Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 3. Cetak miring ditambahkan.

/6/ Teks dikutip oleh Hans Küng (Christianity, 636) dari E.R. Sandeen, The Roots of Fundamentalism. British and American Millenarianism 1800-1930 (Chicago, 1970) 273.

/7/ Pakar fundamentalis masa kini juga melihatnya sebagai “pengakuan iman” seperti nyata dalam pernyataan ini: “Fundamentalists and evangelicals alike hold to a basic belief in the inerrancy of the Scriptures in their original autographs” (Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 8). Cetak miring ditambahkan.

/8/ Menurut Jaroslav Pelikan (“Fundamentalism and/or Orthodoxy? Toward an Understanding of the Fundamentalist Phenomenon”, Norman J. Cohen, The Fundamentalist Phenomenon, 8) Ortodoksi Kristen dapat berbicara mengenai “inerransi” Alkitab hanya karena hermeneutiknya peka terhadap “bermacam-macam arti” (sensus plenior) suatu teks alkitabiah; malah pada Abad Pertengahan suatu teks dapat mempunyai empat bahkan tujuh arti.

/9/ Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 8, ketika menguraikan doktrin tentang keilahian Yesus (hal. 8-9).

/10/ James Barr, Fundamentalism (Philadelphia: Westminster Press, 1977, 1978), khususnya bab 2, hlm.11-39; juga pakar-pakar lain yang meneliti fundamentalisme: Hans Küng, Christianity, 636-37; Harvey Cox, Religion in the Secular City, 44; Jaroslav Pelikan, “Fundamentalism and/or Orthodoxy?” 6 [3-21]. Cohen menyebutnya “articulus fundamentalissimus” dari semua doktrin fundamental; Thomas F. O’Meara, Fundamentalism: A Catholic Perspective. A Theologian Looks at the Fundamentalist Challenge Inside and Outside the Catholic Church (New York, New Jersey/Paulist Press, 1990) 14-18. Bahkan O’Meara melihat bahwa dalam fundamentalisme firman Allah tidak terletak pada teks Alkitab melainkan pada subjektivitas dan teologi si pengkhotbah/si penginjil fundamentalis sendiri, dan menolak sabda si pengkhotbah atau si penginjil berarti menolak sama sekali semua penyataan Kristiani (hlm.15,17).

/11/ Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 10.

/12/ Tentang tahap-tahap perkembangan kesaksian Alkitab mengenai kebangkitan Yesus, lihat antara lain Thomas Sheehan, “The Resurrection: An Obstacle to Faith?”, The Fourth R vol. 8, no. 2, (March/April 1995) 3-9. Uraian lengkapnya lihat bukunya The First Coming. How the Kingdom of God Became Christianity? ( New York: Random House, 1988).

/13/ James Barr, Fundamentalism, 28.

/14/ Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 9.

/15/ James Barr, Fundamentalism, 28.

/16/ Harvey Cox, Religion in the Secular City, .44; Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 75-76.

/17/ Tentang “teologi Armageddon” ini, penulis sudah mengulasnya dengan cukup berpanjang lebar terkait dengan apokaliptisisme alkitabiah, lihat Ioanes Rakhmat, “Apokaliptisisme Alkitabiah dan Teologi Armageddon yang Menyesatkan”, dalam Andar Ismail (Peny.), Mulai dari Musa dan Segala Nabi (Jakarta: Gunung Mulia,1996) 45-70. Sikap politik fundamentalisme Amerika Utara terhadap Negara Israel Modern kentara sekali dalam ucapan representatif dari Jerry Falwell, “We are Pro-American, which means strong national defense and the State of Israel”; lihat Jerry Falwell, “An Interview with the Lone Ranger of American Fundamentalism”, Christianity Today XXV, 15 (September 4, 1981) 21.

/18/ Pernyataan Billy Graham (seorang evangelikal) bahwa ia “melawan dengan militan segala bentuk modernisme” membuatnya dipandang sebagai seorang fundamentalis oleh orang-orang yang memang fundamentalis. Tetapi ketika Billy Graham kedapatan membuka hubungan dengan badan-badan gerejawi ekumenis, dengan orang-orang liberal dan dengan Roma Katolik, orang-orang fundamentalis sangat keberatan dan ini akhirnya menimbulkan perpecahan dalam tubuh mereka sendiri. Lihat Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 116-17.

/19/ James Barr, Beyond Fundamentalism (Philadelphia: Westminster Press, 1984) viii, ix.