Friday, February 29, 2008

Ciri-ciri Fundamentalisme Kristen Dewasa Ini

Oleh Ioanes Rakhmat

Dunia sekarang ini, tak pelak lagi, sedang dirongrong oleh aneka ragam fundamentalisme religius yang berwajah garang dan mengerikan. Ini membuat masa kini dan masa depan umat manusia selalu ada dalam bayang-bayang ancaman kemusnahan, annihilation. Karena itu, mengenali fundamentalisme Kristen lebih dalam adalah suatu kewajiban, supaya orang bisa tahu bagaimana menyikapinya. Berikut ini adalah ciri-ciri umum fundamentalisme Kristen dewasa ini.




1. Mempertuhan Alkitab

Bagi para penganut fundamentalisme Kristen, Alkitab menjadi Allah keempat, di samping tiga Allah dalam doktrin tritunggal, dengan memahkotai Alkitab dengan mahkota doktrin khayalan penuh takhayul “inerrancy of the Bible”. Doktrin ini menyatakan bahwa apa pun yang dimuat dalam Alkitab, tidak bisa salah dan tidak memiliki kekurangan atau keterbatasan dalam hal apa pun dan harus dilaksanakan kapan pun dan oleh siapa pun. Dus, doktrin ini bahkan menempatkan Alkitab lebih tinggi dari Allah sendiri, sebab hanya Allah saja yang bisa dipandang tidak bisa salah. (Sebetulnya, Allah malah juga bisa “salah”, yakni ketika suatu teologi [= iman atau ajaran ttg Allah] sudah tidak relevan lagi, sehingga konsep insani tentang Allah yang sudah tidak relevan itu harus direvisi). Dengan posisi semacam ini, para fundamentalis Kristen telah melanggar perintah, “Jangan ada ilah lain di hadapan Allah YME!” Jika seluruh pesan dalam Alkitab dilaksanakan letterlijk, harfiah, dalam dunia kita sekarang ini, maka, mengingat Alkitab juga memuat pesan-pesan kekerasan, dunia akan senantiasa berada dalam bayang-bayang maut kehancuran semesta, seperti yang diinginkan para literalis biblis fundamentalis Zionis Kristen di USA, yang berpengaruh dalam penentuan kebijakan politik luar negeri USA dan dalam melahirkan fundamentalisme Kristen di mana-mana bak penyakit menular di dunia sekarang ini.


2. Literalisme biblis

Para fundamentalis Kristen, dengan berpijak pada doktrin sesat “inerrancy of the Bible”, menekankan bahwa apa pun yang tertulis dalam Alkitab cukup diterima dengan iman saja, bahwa apa pun yang sudah ditulis di dalamnya adalah kebenaran mutlak yang melampaui segala zaman, berlaku kekal, berwibawa untuk segala tempat dan segala manusia. Alkitab cukup dibaca dan apa yang tertulis di dalamnya cukup diterima dengan penuh kepercayaan sebagai kebenaran absolut. Dengan literalisme biblis ini sebagai dasarnya, mereka akan menyatakan dengan yakin bahwa Alkitab bisa menjelaskan dirinya sendiri, sehingga tolok ukur kebenaran dan kesahihan Alkitab ditemukan dalam Alkitab sendiri. Bahwa Alkitab berisi begitu banyak ragam tulisan yang berbeda-beda, yang ditulis di zaman-zaman dan tempat-tempat yang berbeda, oleh manusia-manusia yang berlain-lainan dalam situasi-situasi yang juga berlain-lainan, sehingga untuk memahami Alkitab manusia harus memperhatikan dengan seksama konteks sejarah zaman masing-masing penulisnya, diabaikan begitu saja oleh para penafsir fundamentalis Kristen. Mereka juga tidak mau tahu, bahwa bukan Alkitab yang bisa menjelaskan dirinya sendiri, melainkan si penafsir Alkitab fundamentalislah yang membuat teks-teks Alkitab berbicara dari sudut tertentu, sesuai dengan doktrin mereka tentang Alkitab (bahwa Alkitab tidak berisi kesalahan atau kekurangan apa pun) atau sesuai dengan doktrin-doktrin keagamaan mereka yang fundamentalis. Literalisme biblis ini menghasilkan suatu logika beragama yang tidak normal, tidak sehat dan cedera secara epistemologis dan metodologis, sehingga fundamentalisme Kristen telah dan sedang menjelma menjadi suatu ancaman global terhadap logika beragama yang sehat.

3. Bermental triumfalistik ekspansionistik

Para penganut fundamentalisme Kristen memandang versi agama Kristen mereka sebagai versi agama yang paling unggul, paling benar, paling baik, jika dibandingkan dengan agama-agama lain non-Kristen dan versi-versi lain agama Kristen; dan, karena keunggulan ini, mereka memandang versi agama Kristen mereka bagaimana pun juga harus disebarkan ke seluruh tempat di bumi, dengan mengeliminir agama-agama lain non-Kristen dan menjadikan orang-orang non-Kristen bertobat, pindah agama, masuk agama Kristen versi mereka. Mereka memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya di dunia ini hanya akan ada satu agama tunggal yang benar, yang tampil sebagai sang pemenang tunggal, yakni agama Kristen fundamentalis. Mentalitas triumfalistik ekspansionistik ini ditemukan dalam semua orang Kristen injili literalis biblis. Dengan mentalitas semacam ini, mereka dibentuk untuk menjadi anti-pluralisme religius — suatu perspektif yang menerima dengan terbuka bahwa semua agama lain yang benar adalah juga jalan-jalan menuju beragam bentuk keselamatan manusia dalam dunia ini dan seterusnya.


4. Berkolaborasi dengan kapitalisme Barat

Kalau gerakan-gerakan Islam militan di Indonesia sering dikaitkan dengan kebangunan gerakan-gerakan Islam militan di kawasan Timur Tengah, Asia Tengah dan Asia Selatan yang berpengaruh global, fundamentalisme injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat di EU dan USA, yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen Barat yang mempunyai misi ekspansi peradaban Barat antara lain ke Indonesia. Afiliasi ekonomis dengan kapitalisme Barat memang bukan dibangun oleh kelompok-kelompok religius fundamentalis Kristen saja; kelompok-kelompok non-religius di Indonesia pun, misalnya NGOs, banyak yang hidup dari kucuran dana dari EU dan USA yang kapitalis. PGI pun bahkan bisa hidup hanya karena ada kucuran dana kapitalis Barat. Bahkan, negara NKRI pun tidak bisa lepas dari dominasi dan pendiktean kapitalisme Barat seperti direpresentasikan dalam IMF dan WB. Namun, hendaknya disadari, sebagian dari kekuatan ekonomi kapitalis USA sudah berada dalam genggaman para tokoh fundamentalis Kristen Amerika (Yahudi dan non-Yahudi), yang, bersama dengan para politikus neo-konservatif, sanggup memengaruhi kebijakan-kebijakan global politik dan militer luar negeri USA, khususnya kebijakan politik USA untuk kawasan Timur Tengah dan negara-negara lain di dunia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. Arti dari semua ini adalah kekristenan fundamentalis Kristen di Indonesia bukan lagi hanya merupakan suatu gerakan religius, tetapi juga gerakan politik ekonomi kapitalis.

5. Penyusupan ke gereja-gereja arus utama

Gerakan fundamentalisme Kristen di Indonesia berlangsung tidak terbatas hanya di kalangan kelompok-kelompok mereka sendiri (yang terbentuk “inborn” atau melalui “conversion”) sebagai sub-sub kultur atau ghetto-ghetto dalam kultur-kultur yang lebih besar, tetapi juga sudah dan sedang dengan agresif, lihai, tanpa nurani, menyusup ke gereja-gereja arus utama yang anti-fundamentalisme Kristen. Mereka memakai strategi dan taktik penyebaran secara “diam-diam” (sebagai para gerilyawan religius yang diutus untuk menyusup umumnya ke kalangan muda gereja-gereja arus utama) atau pun secara “terang-terangan” ketika menemukan diri sudah cukup kuat berbasis dan berakar di dalam organisasi-organisasi gereja-gereja arus utama, yakni ketika mereka sudah berhasil menempatkan, atau bersahabat kental dengan, para “pelayan” gereja yang (anehnya) berbalik jadi “fully committed” terhadap gerakan fundamentalisme Kristen dan yang mau menjadi para warriors untuk memperjuangkan perluasan pengaruh kekuasaan dan teritori mereka. Lalu, di dalam organisasi-organisasi gereja arus utama itu mereka, karena sudah yakin cukup kuat, melakukan kampanye-kampanye dan propaganda-propaganda doktrinal fundamentalis ke kalangan yang lebih umum dan meluas, dan menebar intrik-intrik untuk mengeliminir para gerejawan yang anti-fundamentalisme Kristen. Politik “devide et impera”, memecah dan/untuk menguasai, mereka kembangkan dalam organisasi-organisasi gereja arus utama untuk mereka dapat semakin luas menguasai daerah jajahan yang tidak sah. Di mana perlu, mereka bisa menjinakkan lawan-lawan ideologis mereka yang bermental lemah, dengan memakai kekuatan kapital mereka. Mereka memiliki sekian pasukan inkwisisi untuk menebar perpecahan di gereja-gereja arus utama.

6. Ketaatan membuta terhadap pemimpin pergerakan

Sebagaimana terjadi dengan semua gerakan subkultur dalam kultur besar masyarakat, organisasi gerakan fundamentalis Kristen ditandai oleh kohesi atau ikatan internal kuat antar anggota pergerakan yang diikat menjadi satu oleh doktrin dan terutama oleh pemimpin pergerakan, yang umumnya adalah satu otoritas tunggal personal yang ditaati dengan membuta oleh semua anggota pergerakan. Doktrin tertutup wajib dipegang kuat-kuat, tak boleh dipertanyakan, oleh semua anggota pergerakan. Semakin kokoh suatu doktrin dipegang, dan semakin banyak orang yang menerima doktrin mereka, semakin anggota pergerakan yakin akan kebenaran yang mereka pegang, dan ini pada gilirannya memberi semangat luar biasa bagi penyebaran dan ekspansi pergerakan untuk tujuan pengkristenan dunia. Pengkultusan atas sang pemimpin biasa dijumpai dalam gerakan-gerakan kultural keagamaan semacam ini. Sang pemimpin menjadi penentu doktrin dan strategi perjuangan gerakan, dan juga menjadi satu figur tunggal yang berotoritas memberlakukan disiplin pergerakan beserta hukuman-hukuman yang harus ditanggung oleh anggota pembelot atau pembangkang. Jika diperlukan, dan sangat jarang, penyesuaian-penyesuaian terhadap doktrin bisa dilakukan dalam konteks masyarakat yang berubah, tapi ini bisa terjadi jika sang pemimpin tunggal yakin telah mendapat mandat ilahi untuk melakukan langkah-langkah ini; dan sekali ini dijalankan, semua anggota pergerakan wajib menaati dan meneruskannya. Karena itu, paling baik jika sang pemimpin tunggal ini disoroti dengan kritis dari pelbagai sudut jika orang ingin memperlemah sengat dan daya terjang gerakan fundamentalisme religius semacam ini.

7. Narcissisme radikal

Para penganut fundamentalisme Kristen dihinggapi suatu gejala mental eksesif yang biasa disebut “narcissisme radikal”— yakni suatu rasa cinta atau maniak diri yang sangat mendalam dan berlebihan, membuta, baik terhadap apa yang mereka persepsikan sebagai kebenaran diri sendiri maupun terhadap ideologi-ideologi religius, politik, ekonomi dan kebudayaan yang sudah berhasil mereka bangun dan pertahankan. Dorongan mental narcissistik ini bukan hanya merasuki bangunan ideologis agama mereka sehingga mereka akan mau mati demi doktrin-doktrin “cantik” mereka, tetapi juga merasuk ke dalam alam sadar dan alam bawah sadar mereka, sehingga gejala ini dapat disebut sebagai narcissisme radikal. Sadar atau dalam alam bawah sadar, mereka memandang diri sebagai laskar-laskar kebenaran ilahi, yang berbeda dari siapapun yang ada dalam dunia ini. Semangat tempur jihadisme sebagai Bible and doctrine warriors selalu membara dalam diri mereka, sehingga tepatlah kalau seorang pakar peneliti gejala fundamentalisme Kristen menyebut para fundamentalis Kristen sebagai “evangelicals in a fighting mood!” Ketika bercermin di hadapan siapa pun, yang mereka temukan adalah panggilan dan tugas mereka untuk mempertontonkan kecantikan atau ketampanan diri sendiri sebagai orang-orang pilihan ilahi untuk tugas penyelamatan dunia. Segala lini kehidupan siap mereka tempuri. Narcissisme radikal ini, suatu maniak cinta pada diri dan bangunan agama sendiri, menyebabkan fundamentalisme Kristen kokoh menjadi suatu sistem kepercayaan tertutup (a closed belief system) yang anti pada pembaruan, revisi dan inovasi mendasar, dalam doktrin-doktrin mau pun dalam praktik-praktik beragama.

8. Bervisi apokaliptik sangat politis radikal

Apokaliptisisme biblis adalah sebuah visi tentang Dunia Baru (=Apokalipsis) di masa depan, yang perihal bagaimana bentuknya dan kapan didatangkannya, diyakini telah disingkapkan (penyingkapan = apokalipsis), hitam di atas putih, selengkap-lengkap dan sepersis-persisnya, di dalam Alkitab oleh Allah. Kitab-kitab para nabi, dan sastra-sastra apokaliptis dalam Alkitab (misalnya, bagian-bagian tertentu dari beberapa Kitab Para nabi, lalu Kitab Daniel, Markus 13 dan pars., dan Kitab Wahyu Yohanes), mendapat perhatian khusus untuk dipakai dalam melakukan konstruksi tabel waktu yang berisi petunjuk-petunjuk kapan dunia baru itu akan didatangkan dan peristiwa-peristiwa apa yang akan mendahuluinya. Umumnya, para penganut apokaliptisisme (di dunia kuno) memandang ke depan, kepada suatu dunia yang sama sekali lain dari dunia yang dikenal, yang akan didatangkan Allah di luar sejarah, dan akan menjadi bagian kawasan yang trans- atau meta-historis. Biasanya juga, para apokaliptisis kuno memandang dunia masa kini sudah sangat jahat, dikuasai kuasa anti-Allah, kuasa Setan, sehingga mereka akan menjauhi segala aktivitas duniawi (sosial, politik, ekonomi dan kultural) dan menunggu pasif kedatangan Dunia Baru di masa depan, yang diyakini tidak lama lagi akan tiba, di dalam mana kuasa anti-Allah akan dikalahkan oleh Allah sendiri.

Tetapi kalangan fundamentalis Kristen modern (dimulai di Eropa, USA, kemudian juga di Asia) sudah mengubah strategi politik kebudayaan mereka: mereka tetap mempertahankan visi apokaliptis tentang datangnya Dunia Baru di masa depan yang sudah dekat, tetapi mereka melihat adalah tugas mereka di dalam dunia sekarang ini untuk melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mempercepat kedatangan Dunia Baru itu. Karena itu, mereka sangat didorong untuk melibatkan diri dengan efektif, cerdas dan lihai di dalam percaturan politik, ekonomi dan militer dunia, khususnya yang ada kaitan langsung dengan peta perpolitikan dan militerisme di Timur Tengah, dan lebih khusus lagi yang berkenaan langsung dengan pembelaan kepentingan negara Israel modern sebagai sekutu USA. Lebih jauh lagi, Dunia Baru apokaliptik tidak lagi mereka lihat sebagai suatu entitas di luar sejarah, dunia yang trans-historis, tetapi suatu Dunia Baru yang akan berwujud dalam dunia ini, di bumi ini, Dunia Baru yang akan diperintah oleh sang Messias Yahudi-Kristen Yeshua/Yesus, dengan pusat pemerintahannya di Yerusalem dalam negara Israel modern.

Dalam pandangan orang fundamentalis Kristen, berdirinya Negara Israel modern tahun 1948, dan Perang Enam Hari tahun 1967 yang digelar Israel dengan sukses besar, adalah bagian dari tanda-tanda telah mendekatnya waktu kedatangan Dunia Baru itu. Puncak dari segala peristiwa dunia yang mengawali Apokalipsis, kedatangan Dunia Baru, adalah Perang (Nuklir) Dunia III, Perang Armageddon. Perang maha dahsyat ini, dalam keyakinan para fundamentalis Kristen, harus dipercepat meletusnya, dan ini akan bermula di Timur Tengah, lalu meluas ke seluruh dunia, dan ketika ini terjadi, Messias Yeshua akan datang dan menegakkan pemerintahannya di Yerusalem bumi. Maka, fundamentalisme Kristen pun kini sedang mengembangkan strategi politik dan kebudayaan dan ekonomi global/worldwide untuk turut mempercepat kemenangan Yeshua atas Setan dan bangsa-bangsa lain yang kafir, sehingga akibatnya akan berdirilah Negara Yahudi-Kristen yang berpusat di Yerusalem/Al Quds, yang menguasai seluruh dunia manusia. Ketika ini terjadi, maka Dunia Baru apokaliptis yang diidam-idamkan itu sudah datang, dan para fundamentalis Kristen bersama Mesias Yeshua akan dengan jaya memerintah Dunia Baru ini.

Orang Kristen fundamentalis di mana pun, yang memandang semua nubuat dalam Alkitab harus dipenuhi secara harfiah, khususnya yang berkaitan dengan nasib bangsa Yahudi (Israel modern), pastilah juga para warriors Kristen yang akan dengan penuh komitmen ikut serta untuk merealisasi nubuat para nabi, yakni kemenangan Israel dan kedatangan kembali Messias Yeshua untuk memerintah dunia. Perlu diteliti, berapa banyak orang fundamentalis Kristen Indonesia yang sudah dan sedang menerima pendidikan teologi di sekolah-sekolah teologi di USA yang memandang dengan sangat yakin kebenaran dari visi apokaliptisisme Zionis Yahudi-Kristen ini. Visi orang-orang abnormal, yang cedera saraf otaknya, yang lebih menyukai perang sejagat daripada perdamaian semesta.

9. Sangat anti terhadap pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci

Musuh ideologis hermeneutik orang Kristen fundamentalis literalis biblis paling utama dan yang paling mereka benci adalah orang-orang Kristen yang memakai pendekatan kritis-historis terhadap Alkitab. Pendekatan kritis-historis memandang setiap teks Kitab Suci tidak diilhamkan langsung oleh Allah dan tidak diturunkan langsung dari langit, tetapi lahir dari dalam konteks-konteks sosial-historis dan kultural yang riil dari manusia-manusia riil yang hidup dulu, dalam zaman masing-masing dan di tempat masing-masing dan yang menghadapi persoalan-persoalan historis yang riil dan kongkret. Karena itu, untuk memahami teks-teks Kitab Suci, para penafsir kritis mengembangkan metode-metode tafsir yang tepat dan memakai peralatan bantu konseptual metodikal untuk bisa masuk ke dalam konteks sejarah kehidupan para penulis teks-teks suci itu. Ilmu-ilmu lain yang bisa membantu, misalnya sosiologi dan antropologi serta arkeologi, dipakai untuk manusia zaman sekarang bisa dengan lebih dapat diandalkan memahami dan mendeskripsikan dunia sosial para penulis teks suci kuno. Memahami dunia sosial para penulis teks suci adalah syarat utama untuk bisa memahami teks suci, sebab meaning/arti/maksud dari teks suci tidak diberikan oleh langit, melainkan dibentuk dan diberikan oleh kebudayaan dalam dunia sosial si penulis dulu.

Bertabrakkan dengan perspektif kritis di atas, kalangan fundamentalis Kristen, Bible warriors, tidak memandang asal-usul teks-teks Kitab Suci secara demikian. Bagi mereka, semua teks Kitab Suci 100 persen berasal dari sorga, yang melalui proses pengilhaman mekanik, masuk ke dunia manusia. Bagi mereka, naskah-naskah asli Kitab Suci ada di sorga, di tangan Allah, lalu, melalui mesin mekanik faximili sorga, dikirim ke bumi dan manusia di bumi menerima teks sama persis dengan yang asli yang ada di tangan Allah. Perspektif skriptural fundamentalis semacam ini adalah perspektif anti-sejarah dan, juga, anti-kebudayaan.

Nah, orang Kristen literalis biblis fundamentalis adalah orang-orang yang pada satu pihak mengklaim paling mengerti Kitab Suci dan paling benar memahami pesan dan kewibawaan Kitab Suci, namun, pada pihak lain, ironisnya, mereka adalah orang-orang yang paling keliru memahami Kitab Suci, sebab yang mereka klaim sebagai makna teks Kitab Suci adalah makna teks yang dimungkinkan muncul karena di dalam kepala mereka sudah ada doktrin-doktrin gereja mereka dan pemikiran kultural modern yang kapitalistik. Di tangan mereka, Alkitab bukan lagi teks suci kuno, tetapi teks suci yang sangat modern. Mereka adalah para penafsir anti-sejarah dan pra-kritikal, sebuah pendekatan yang sangat menyesatkan. Ironinya, di dalam gereja-gereja mereka menghasut bahwa pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci akan menghancurkan iman Kristen. Ini adalah fitnah murahan, yang sama sekali tidak ada nilainya. Yang dihancurkan pendekatan kritis-historis bukanlah iman Kristen, tetapi agama Kristen fundamentalis literalis biblis. Sebaiknya, warga gereja di mana-mana harus waspada terhadap hermeneutik biblis orang-orang fundamentalis Kristen.

10. Gerakan kebudayaan berbahaya

Orang sering menganggap bahwa fundamentalisme Kristen adalah suatu gerakan religius kultural yang anti-modernitas, karena ingin mengembalikan dunia dan gereja-gereja ke dalam kehidupan dunia zaman kuno, zaman kejayaan para nabi, dan zaman para rasul Kristen di abad-abad perdana dalam sejarah gereja, zaman keemasan bagi karya nyata Roh Kudus. Mereka, dengan demikian, sepertinya adalah gerakan kultural religius yang menentang kemajuan, bergerak ke belakang, mundur ke dalam masa lampau sejarah gereja Kristen.

Tapi, harus dicatat, anggapan dan perspektif ini tidak seluruhnya benar. Gerakan fundamentalisme Kristen adalah gerakan yang sangat modern; mereka memakai teknologi modern untuk menyebarkan doktrin-doktrin dan visi-visi mereka ke seluruh dunia (via Internet, televisi satelit, televisi cable, dll.); mereka menerapkan ilmu manajemen modern untuk menggalang dana besar-besaran dan mengurus ekspansionisme gerakan dan organisasi mereka; mereka mempelajari dan menerapkan insights yang diperoleh dari kajian-kajian modern antropologi sosio-budaya untuk bisa masuk dan beradaptasi dengan suku-suku asing dan terasing di dunia bangsa-bangsa untuk keperluan pengkristenan dalam program sedunia “evangelism explosion” mereka; mereka mempelajari peta perpolitikan, ekonomi dan bahasa-bahasa setempat dari negara-negara yang mereka sudah masukkan ke dalam daftar kawasan-kawasan pengkristenan global; mereka melatih dengan metode-metode modern para “gerilyawan” mereka dengan ketrampilan-ketrampilan praktis efektif untuk bisa masuk ke kawasan-kawasan “lawan” yang sedang menjadi target misi proselitisme mereka; mereka mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan modern untuk bisa berpolemik mempertahankan “keilmiahan” teks-teks Alkitab; dsb. Hal-hal ini menunjukkan mereka adalah organisasi modern yang dikelola dengan profesional modern, dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui sarana-sarana modern.

Tetapi pada pihak lain, gerakan kebudayaan kekristenan fundamentalis ini, pada intinya, adalah gerakan kultural berbahaya dan destruktif, karena mereka, pada pihak lain, anti nilai-nilai modern: demokrasi, pluralisme, sekularisme, liberalisme, persamaan hak-hak gender pria dan wanita, anti-teokratisme, sosialisme ekonomi, gerakan civil society, kebebasan individual, pencerahan akal budi, evolusionisme, toleransi, spiritualitas nonreligius, dll. Dalam semangat anti-modernisme ini, mereka mengembangkan wacana-wacana polemis pseudo- atau non-ilmiah untuk menunjukkan bahwa ide-ide mereka (dalam pikiran dan keyakinan mereka) adalah alternatif-alternatif yang lebih religius dan lebih ilmiah dan lebih biblis, misalnya sebagai ganti ilmu fisika, astronomi, astrofisika dan kosmologi modern mereka mempromosikan kreasionisme dangkal pseudo-sains; sebagai ganti teori evolusi mereka mengembangkan doktrin Intelligent Design; sebagai ganti pluralisme religius dan toleransi mereka memperjuangkan dan berkampanye bahwa hanya ada satu agama yang benar, agama Yesus Kristus versi mereka; sebagai ganti teologi agama-agama mereka mengembangkan apologetika terhadap agama-agama lain; sebagai ganti dialog antar agama mereka mengembangkan proklamasi Kristen yang menuntut pertobatan manusia masuk Kristen bila manusia tidak ingin masuk neraka; dlsb.


Jelas, fundamentalisme Kristen adalah gerakan kultural sangat berbahaya yang harus dicegah dan dieliminir daya sengatnya oleh orang beragama Kristen yang masih berhatinurani bersih, yang masih eling, yang jumlahnya masih sangat banyak. Lewat dialog terus-menerus, dan penyadaran serta pencerdasan masyarakat dan warga gereja-gereja.


Doktrin-doktrin Pokok Fundamentalisme Prostestan

Doktrin-doktrin Pokok Fundamentalisme Protestan: Sebuah Evaluasi Kritis

Oleh Ioanes Rakhmat

Fundamentalisme Protestan yang muncul pada awal abad 20 tidak dapat dilepaskan dari kandungan paradigma pemikiran Reformasi Protestan evangelikal (abad 16) ketika para tokoh terkemuka dari kalangan evangelikal dalam paradigma ini berkonfrontasi reaktif terhadap nilai-nilai paradigma zaman Pencerahan (abad 17 dan 18). Nilai-nilai ini melahirkan kemodernan dengan nilai-nilai modernnya yang diadaptasi ke dalam teologi modern dan teologi liberal, antara lain pengagungan rasionalitas yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta “progress” bagi peradaban manusia dan sekularisasi. Dalam paradigma Pencerahan ini, manusia tiba pada kesadaran dan pemikiran kesejarahan yang linier yang berorientasi ke masa depan, yang bertentangan dengan nilai-nilai zaman Barok (Renaissance) yang berorientasi ke masa lampau.

Nama “fundamentalisme” berasal dari brosur-brosur yang diterbitkan sebanyak 12 bagian dari 1909-1919 (1910-1915) yang diberi nama The Fundamentals: A Testimony to the Truth[1] (“fundamentals” di sini artinya tentu hal-hal yang mendasar dari iman Kristen) oleh tokoh-tokoh terkemuka kalangan Protestan evangelikal dan para teolog konservatif dari Princeton Theological Seminary, dengan dukungan dana penerbitan dari dua orang Kristen awam. Para pendukung gerakan ini disebut orang-orang “fundamentalis” (istilah ini diciptakan oleh seorang Baptis, C.C. Law, pada tahun 1920). Ada lebih dari satu definisi tentang “fundamentalisme” sebagai gerakan. Antara lain, fundamentalisme adalah “gerakan abad 20 yang terkait erat dengan tradisi kebangunan rohani dari Protestantisme evangelikal arus utama yang dengan militan melawan teologi modernis dan perubahan kebudayaan yang dihubungkan dengannya.”
[2] Dan, sederhana namun menggigit, seorang fundamentalis adalah “seorang evangelikal yang berang terhadap sesuatu.”[3] Definisi-definisi dari pakar non-fundamentalis ini disetujui oleh orang-orang fundamentalis sendiri. Dan “sesuatu” yang membuat mereka berang jelas adalah, seperti ditegaskan oleh seorang fundamentalis sendiri, “Protestantisme liberal radikal yang telah berupaya baik menyekularisasi kekristenan maupun mengkristenisasikan sekularisme pada saat yang bersamaan.”[4]

Apa yang mereka sedang lawan dan tentang mati-matian, terlihat dalam pokok-pokok yang mereka pandang fundamental bagi iman Kristen. Pokok-pokok ajaran dasariah yang dipertahankan dalam The Fundamentals mencakup:

1) pengilhaman dan ketidaksalahan (Infallibility) Alkitab;
2) keilahian Kristus dan kelahirannya dari perawan Maria;
3) pendamaian melalui kematian Yesus Kristus;
4) kebangkitan harfiah/jasmaniah Yesus Kristus; dan
5) kedatangan Yesus Kristus dengan segera.

Dari sekian tulisan dalam The Fundamentals, dua puluh tujuh membahas Alkitab, sembilan tentang apologetika, delapan mengenai pribadi Yesus Kristus, dan tiga tentang kedatangan Kristus kedua kalinya. Kalau isi seluruh tulisan di dalamnya diperiksa, maka kelihatan bahwa tujuan utamanya adalah membela dan memuliakan pandangan-pandangan tradisional mengenai Alkitab. Hampir sepertiga dari keseluruhan tulisan menekuni pokok ini, dan di dalam semua uraiannya pengilhaman dan infallibilitas Kitab Suci dengan kuat dipertahankan.[5]

Tokoh-tokoh Kristen fundamentalis sendiri menyatakan doktrin “inerrancy” dan “infallibility” Alkitab pada dasarnya berkaitan dengan keabsahan dan otoritas Alkitab. Mereka memandang Alkitab sebagai kumpulan tulisan yang “diilhamkan Allah” dan karenanya bebas dari kesalahan apapun di dalam semua pernyataan dan penegasannya sebagai mana terdapat dalam naskah-naskah aslinya. Mereka mengklaim bahwa doktrin fundamentalis tentang Alkitab ini sendiri berasal dari gerakan evangelikal arus utama abad 19 yang mempertahankan konsep “pengilhaman harfiah sepenuh-penuhnya” sebagaimana dikembangkan oleh para teolog dari Princeton Theological Seminary.

Memang pada 1878, dalam mengantisipasi gerakan fundamentalis, dalam Niagara Bible Conference dikeluarkan suatu “Pengakuan Iman Niagara” yang pasal pertamanya berbunyi demikian: “Kami percaya ‘bahwa segala tulisan suci diilhamkan Allah’; yang kami pahami sebagai tulisan suci adalah kitab yang dinamakan Alkitab; kami tidak memahami pernyataan itu seperti yang kadang-kadang secara keliru dipahami bahwa yang diilhami adalah karya-karya orang-orang pandai. Tetapi yang kami pahami adalah bahwa Roh Kudus memberikan kata-kata dari tulisan-tulisan itu sendiri kepada orang-orang suci zaman lampau. Dan bahwa pengilhaman Allah ini tidak berlangsung dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda, melainkan berlangsung sama rata dan sepenuhnya untuk semua bagian tulisan-tulisan ini, tulisan-tulisan sejarah, puisi, pengajaran dan nubuat para nabi, dan bahkan sampai pada kata-kata yang paling kecil dan juga infleksi suatu kata, asalkan semuanya itu di dalam naskah-naskah aslinya.”[6] Jelas, pernyataan ini adalah rumusan “kepercayaan”, rumusan “pengakuan iman”,[7] bukan suatu pernyataan atau kesimpulan ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian kritis ilmiah.

Lalu, mengapa Alkitab “dipercaya” dan dipertahankan sampai begitu rupa? Jelas, pada awal kelahiran fundamentalisme, pemahaman semacam itu dimaksudkan untuk menolak dan menyerang pendekatan historis kritis terhadap Alkitab yang memakai prinsip-prinsip penalaran dan kesadaran sejarah zaman Pencerahan. Apakah pandangan fundamentalis ini sesuatu yang baru? Jelas, bukan! Tentu sudah ada pemahaman di dalam gereja-gereja perdana semacam ini, bahkan di dalam dunia Perjanjian Lama ketika dituturkan bahwa Roh Allah datang dan memenuhi nabi-nabi yang sedang mengalami ekstasi, dan juga di dalam teologi Yahudi. Juga sudah jelas bahwa bapak-bapak gereja (Ortodoksi) memegang keyakinan yang serupa. Demikian juga dalam teologi Kristen Abad Pertengahan.[8] Bahkan, tegas orang-orang fundamentalis, Yesus sendiri mengutip Perjanjian Lama dan memandangnya sebagai tulisan-tulisan yang diilhami Allah dan bahkan dia sendiri mengacu pada bagian-bagian Kitab Suci yang “diragukan kebenarannya” dan menerimanya sebagai tulisan-tulisan yang menyaksikan kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh terjadi (Adam, Yunus, dan orang-orang lainnya).[9]

Sebelum tiba zaman Pencerahan yang melahirkan modernitas, adalah sesuatu yang wajar saja kalau orang berpikir demikian, sama seperti mereka percaya begitu saja bahwa dunia ini diciptakan dalam enam hari dalam arti harfiah. Lalu, apakah sebelum lahirnya fundamentalisme pada awal abad 20 orang-orang zaman pramodern yang memandang Alkitab seperti itu juga orang-orang fundamentalis? Tidak, tidak bisa dikatakan bahwa mereka yang hidup pada zaman pramodern, zaman pra-kritis dalam studi Kitab Suci, adalah orang-orang fundamentalis. Tetapi, orang-orang yang sudah memasuki zaman modern dimana studi-studi Alkitab sudah memakai metode-metode kritis, tetapi masih berkeras memandang Alkitab secara pra-kritis, mereka adalah orang-orang fundamentalis. Dalam hal ini, bukan Alkitab yang mereka pertahankan dan mutlakkan, melainkan doktrin keagamaan pramodern mereka mengenai Alkitab, dan dari doktrin ini memancar segala segi lain yang dipertahankan dalam tradisi keagamaan mereka.[10] Bagaimana dengan Martin Luther? Jelas, dia bukan seorang fundamentalis, sebab baginya meski pun Alkitab adalah firman Allah satu-satunya (sola Scriptura), dalam hermeneutik Luther tidak setiap bagian Alkitab yang berdiri sendiri-sendiri adalah firman Allah; bagian-bagian itu adalah firman Allah hanya sejauh menyaksikan Firman Allah yang menjelma, yaitu Yesus Kristus. Kewibawaan Alkitab dalam pandangan Luther terletak disitu, bukan pada doktrin inerransi dan infallibilitas harfiah Alkitab.

Doktrin mengenai kebangkitan Yesus secara jasmaniah didesakkan untuk melawan pandangan modernisme yang melihat Yesus hanya sebagai “guru moral” yang meninggalkan pesan-pesan moralnya, khususnya Khotbah di Bukit.[11] Bagi kalangan fundamentalis, Yesus adalah sang penyelamat yang hidup yang dapat mengubah kehidupan orang pada masa kini; dia bukan seorang guru etika yang sudah mati. Bagi mereka, kebangkitan yang dilihat hanya sebagai “kebangkitan spiritual” sama sekali tidak memadai, karena tidak sesuai dengan kesaksian Injil (orang-orang fundamentalis mengacu pada Lukas 24:36-43; Yohanes 20:20-29). Beberapa catatan perlu dikemukakan.

Dalam Alkitab, perihal kebangkitan Yesus diberitakan bukan hanya dalam Injil-injil, tetapi juga, misalnya, dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 15:35-58). Disitu, Paulus berbicara tentang tubuh kebangkitan sebagai “tubuh rohaniah” (sōma pneumatikon), sedang tubuh yang ditaburkan “tubuh jasmaniah” atau “tubuh alamiah” (sōma psukhikon). Jelas, Paulus membedakan dua jenis tubuh itu, yang di antara keduanya terdapat diskontinuitas radikal. Orang fundamentalis gagal melihat kemajemukan kesaksian Alkitab sendiri mengenai kebangkitan Yesus. Selain itu, dengan studi kritis, terlihat bahwa kesaksian Perjanjian Baru tentang kebangkitan Yesus berkembang dalam beberapa tahap, dan tahap yang paling awal (madah kristologis pra-Paulinis dalam Filipi 2) menyatakan kebangkitan Yesus itu dengan sebutan “Allah sangat meninggikan Dia” (2:9) tanpa ada rujukan apapun kepada kebangkitan jasmaniah. Baru pada tahap yang belakangan kebangkitan itu dituturkan dalam Injil-injil (Matius, Lukas dan akhirnya Injil Yohanes) dengan terinci dan makin materialis atau fisikal.[12]

Kalaupun orang-orang fundamentalis menekankan kebangkitan Yesus secara jasmaniah dengan mendasarkannya pada pengalaman orang percaya pada kehadirannya di masa kini sebagai penyelamat yang hidup yang mengubah hidup manusia, maka ada beberapa persoalan di sini. Pengalaman kehadiran Yesus pada masa kini jelas adalah pengamalan kehadiran Roh, bukan pengalaman akan kehadiran diri Yesus secara jasmaniah yang dapat dipandang dan disentuh. Jadi, mengapa untuk memberi landasan pada pengalaman spiritual ini harus ada doktrin yang dimutlakkan bahwa Yesus bangkit secara jasmaniah? Bukankah Yesus yang bangkit dalam tubuh rohaniahnya lebih mungkin untuk dapat juga hadir secara rohaniah pada masa kini? Lagi pula, pengalaman keagamaan dihadiri Yesus ini berlangsung dalam suatu lingkungan orang percaya yang memegang tradisi kepercayaan tertentu, dan pengalaman semacam ini bukan satu-satunya pengalaman keagamaan yang dengannya orang mengalami “makna” Yesus buat kehidupannya di masa kini. Di sini terlihat bahwa penekanan doktrinal pada kebangkitan jasmaniah Yesus oleh orang-orang fundamentalis tidak bertolak dari kesaksian Alkitab yang dipahami dengan teliti dan menyeluruh, melainkan bertolak dari pengalaman keagamaan dalam arus tradisi Kekristenan tertentu yang coba dibenarkan melalui harmonisasi tulisan-tulisan Kitab Suci dan muncul dari motivasi melawan modernisme yang menerapkan pendekatan kritis terhadap Kitab Suci.

Akhirnya, satu hal penting perlu dikemukakan. Meski pun doktrin tentang kebangkitan fisikal Yesus ini ditekankan oleh orang-orang fundamentalis, tetapi makna teologisnya tidak ditekankan sekuat yang diberikan pada kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia.[13] Mestinya, doktrin kebangkitan Yesus akan mendorong orang-orang fundamentalis untuk terjun ke dalam persoalan-persoalan masyarakat untuk mengusahakan pembaruan hidup sebagaimana Kristus yang mati disalibkan dibaharui kembali dalam kebangkitannya. Sebaliknya, mereka aktif untuk memperjuangkan keselamatan pribadi orang seorang saja melalui penginjilan tanpa menyentuh persoalan-persoalan kemasyarakatan, dan melupakan bahwa kebangkitan Yesus didahului oleh kematiannya dalam tangan pemerintah penjajah Roma di abad pertama yang melhat Yesus sebagai seorang tokoh keagamaan yang potensial mengganggu stabilitas Pax Romana. Juga, mestinya pengalaman dihadiri Roh Yesus Kritus yang diklaim kalangan fundamentalis ini akan membuat mereka terbuka juga pada pengalaman-pengalaman spiritual sejenis” yang dialami orang-orang dari tradisi keagamaan lain. Nyatanya, orang-orang fundamentalis tidak menunjukkan sikap dan pengertian semacam itu. Tidak mungkin pengalaman akan kehadiran “The Holy Other” akan memisahkan orang seorang dari orang-orang lain dari tradisi keagamaan yang berbeda yang juga mengalaminya.

Pengalaman batiniah keagamaan masa kini berupa kehadiran Yesus sebagai sang penyelamat yang hidup yang membuka hubungan pribadi dengan orang percaya, memerlukan pemahaman bahwa Yesus adalah Allah yang datang ke dalam dunia tanpa dosa (karena itu, dia harus dilahirkan dari Perawan Maria). Demikianlah argumentasi kalangan fundamentalis untuk doktrin mereka mengenai keilahian Yesus,[14] sementara di dalam doktrin Ortodoksi mengenai Yesus diakui bahwa Ia adalah “Allah dan Manusia”. Pada awal kelahiran fundamentalisme, doktrin ini diajukan untuk melawan pemahaman modernis liberal dan deisme (yang tidak dapat menerima gagasan tentang suatu Allah yang datang ke dalam dunia, menjelma, dan campur tangan dalam dunia manusia) yang melihat Yesus hanya sebagai manusia biasa, pengajar moral, yang menjadi teladan bagi manusia.[15] Karena itu dapat dipahami bahwa sisi kemanusiaan Yesus yang diakui Ortodoksi tidak ditampilkan dalam doktrin fundamentalis ini. Dari sudut ini, juga dapat dipahami kalau mereka tidak memedulikan kesaksian Perjanjian Baru yang juga menekankan kemanusiaan Yesus di samping, dalam tahap-tahap kemudian, keilahiannya.

Kepercayaan pada rasionalitas dan “progress” sebagai nilai-nilai modern menempatkan manusia sebagai makhluk otonom yang dapat membangun masa depannya sendiri dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sekularisasi yang menyertai kemodernan menyebabkan agama tidak berperan, dan Allah dipandang tidak diperlukan lagi untuk membangun manusia dan masyarakat. Dalam konteks semangat zaman yang seperti ini, fundamentalisme tampil dengan menekankan doktrin pendamaian dan penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, di samping itu juga untuk melanjutkan perlawanan terhadap Katolisisme yang memegang soteriologi yang sinergistis. Di samping itu, dengan doktrin ini juga orang fundamentalis menolak apabila Yesus hanya dilihat sebagai guru moral yang ajaran-ajarannya bermanfaat untuk membimbing manusia. Bagi mereka, yang diberikan Yesus bukan hanya ajaran-ajarannya, tetapi juga dirinya untuk kebaikan dan keselamatan manusia.

Terakhir, tentang doktrin kedatangan segera Yesus untuk kedua kalinya. Penekanan pada kedatangan yang segera ini memperlihatkan keprihatinan orang-orang fundamentalis pada kecenderungan para teolog dan orang Kristen liberal untuk menerima gagasan tentang “kemajuan” (progress) dan memperbincangkan perihal mengenai “membangun” Kerajaan Allah di bumi melalui prestasi-prestasi sosial kemasyarakatan seperti yang dikembangkan oleh “social Gospel” dengan gagasannya tentang “demokratisasi” Kerajaan Allah dan “mengkristenisasikan tatanan sosial” (antara lain Albrecht Ritschl, Walter Rauschenbusch dan Horace Bushnell). Bagi orang fundamentalis, “social Gospel” telah memodernisasi Injil yang sebenarnya.[16]

Pendekatan terhadap Alkitab yang pramodern menyebabkan mereka juga tidak melihat bahwa eskatologi (= ajaran tentang akhir zaman) Perjanjian Baru lebih dari satu macam dan mengalami perkembangan, dari pengharapan eskatologis yang memandang Yesus segera datang kembali sampai pada pandangan bahwa kedatangannya tidak diketahui kapan terjadinya atau pada pandangan dia sudah datang kembali dalam kehadiran Roh Kebenaran/paraklētos; dan ketika gereja perdana mulai melembaga eskatologi bergeser, diganti oleh lebih banyak tugas penataan organisasi pelayanan gereja di dalam dunia yang masih berlangsung (seperti tercermin dalam Surat-surat Pastoral dan surat-surat Katolik). Satu hal teramat penting yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa “eskatologi” fundamentalis ini dipahami oleh orang-orang fundamentalis secara ideologis, karena mereka mengembangkannya terkait dengan “nasib” Negara Israel modern (berdiri 14 Mei 1948) yang mereka dukung sepenuhnya dalam percaturan politik dan militer di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara adidaya modern, demi wawasan mereka tentang suatu perang (nuklir) “Armageddon”[17] yang dalam skema “dispensasionalisme” fundamentalis (dari kata latin “dispensatio”, artinya “pembagian” atau “pembabakan”, yakni pembabakan sejarah mulai dari zaman Adam dan Hawa, Nuh, sampai pada akhir zaman dengan “pengangkatan” ke surga) akan merupakan peristiwa paling menentukan untuk pengangkatan mereka ke surga di akhir zaman.

Tampak bahwa fundamentalisme Kristen pada awal berdirinya tidak mengembangkan suatu teologi yang utuh dan sistematis. Lagi pula, mustahil mereka dapat melakukannya mengingat mereka tampil sebagai gerakan reaksioner. Lima pokok doktrin yang diklaim dan dipertahankan orang-orang fundamentalis sebagai doktrin-doktrin ortodoks yang universal nyatanya lebih banyak bersifat reaktif dan perlawanan serta ditafsir dalam semangat keagamaan mereka sendiri yang juga tidak lepas dari pengaruh zaman dan kebudayaan di dalam mana mereka hidup. Fundamentalisme adalah suatu, bukan satu-satunya, bentuk kekristenan di dalam zaman modern yang berpijak pada tradisi dan pengalaman keagamaan tertentu mereka sendiri yang menjadi norma dalam mereka menafsirkan Kitab Suci dan memahami tradisi-tradisi gereja, dengan tujuan untuk melawan segala bentuk modernisme.[18] Yang menjadi tulang punggung gerakan fundamentalis adalah doktrin pramodern mereka tentang Alkitab di tengah-tengah zaman modern; doktrin ini memang ukuran utama untuk mencirikan dan melabelkan fundamentalisme. Tetapi fundamentalisme sebenarnya jauh melebihi itu saja.

Fundamentalisme adalah suatu gerakan yang membangun suatu citra khas mereka sendiri mengenai dunia luar; dunia luar mulai dari zaman Alkitab sampai zaman sekarang. Citra tentang dunia luar yang mereka bangun itu memperlihatkan mereka tidak memahami seluruh sejarah kekristenan, mulai dari zaman gereja rasuli sampai pada gereja masa kini.[19] Ketika masyarakat Amerika dibanjiri nilai-nilai dan filosofi serta ilmu pengetahuan modern, maka perubahan-perubahan besar terjadi dengan cepat dalam semua bidang kehidupan dan nilai-nilai tradisional bergeser. Tinimbang memahami dengan sebaik-baiknya modernitas dan menggumuli dengan proaktif peran gereja Kristen di dalamnya, nyatanya mereka serta merta berpaling ke masa lampau, ke dalam kehidupan gereja zaman rasuli untuk mencari pijakan yang “jelas”, “pasti” dan “menjamin jatidiri”, karena mereka menganggap nilai-nilai universal yang murni dan abadi dapat ditemukan di situ dalam kehidupan umat zaman lampau dan dalam “Injil masa lampau”, dan juga ke dalam tradisi-tradisi bapak-bapak gereja dan ke dalam gerakan-gerakan evangelikal abad 18 dan abad 19 karena mereka memandang doktrin-doktrin murni, abadi dan universal dari Ortodoksi sudah dirumuskan pada zaman-zaman itu.

Dari sudut filosofis, langkah ini tepat, sebab menunjukkan pengertian bahwa dari dalam sejarah orang dapat menemukan petunjuk-petunjuk untuk kehidupan masa kini. Tetapi, kekeliruan fatal mereka adalah bahwa mereka tidak menyadari (atau tidak mau menyadari dan menerima?) bahwa setiap tanggapan keagamaan apapun dalam suatu zaman tertentu adalah produk zamannya sekali pun ingin memengaruhi zaman itu. Untuk mengambil pelajaran dari masa lampau, orang tidak perlu menjadi fundamentalis; tetapi orang bisa menjadi fundamentalis ketika dia hanya terpaku pada huruf-huruf tertulis, tanpa menyadari bahwa makna huruf-huruf atau teks-teks diberikan oleh “sistem sosial” di dalam mana teks-teks itu muncul. Memahami sejarah dengan kritis dengan melibatkan pelbagai disiplin ilmu akan membawa si peneliti pada penemuan akan keunikan masing-masing peristiwa sejarah yang dihasilkan dari interaksi dan saling pengaruh antar banyak faktor kontemporer. Pada sisi lain orang-orang fundamentalis tampil untuk melawan modernitas dan modernisme, tetapi mereka dan pandangan-pandangan mereka juga adalah produk zaman modern atau dihasilkan dari pelbagai faktor zaman ini yang berinteraksi. Ini tidak mereka pahami dengan sebaik-baiknya.


Catatan-catatan


[1] The Fundamentals (Chicago: Testimony Publishing Company, 1910-1915).

[2] George M. Marsden, “Fundamentalism as an American Phenomenon: A Comparison with English Evangelicalism”, Church History 46 (June 1977) 215, dikutip dalam Ed Dobson, Ed Hindson, Jerry Falwell, The Fundamentalist Phenomenon. The Resurgence of Conservative Christianity (Grand Rapids: Baker Book House, 1986, cetakan 2) 3.

[3]George M. Marsden, “Defining American Fundamentalism”, Noman J. Cohen (ed), The Fundamentalist Phenomenon (Grand Rapids: Eerdmans, 1990) 22 [22-37].

[4] Pernyataan ini dikemukakan oleh tokoh-tokoh fundamentalis kontemporer sendiri (1981), di antaranya Jerry Falwell, ketika mengacu kepada Harvey Cox yang menulis buku The Secular City (1965). Lihat Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 6. Selain buku itu, ada dua buku Cox lain yang disebut-sebut oleh mereka: The Feast of Fools (1969) dan The Seduction of the Spirit (1973).

[5] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 3. Cetak miring ditambahkan.

[6] Teks dikutip oleh Hans Küng (Christianity, 636) dari E.R. Sandeen, The Roots of Fundamentalism. British and American Millenarianism 1800-1930 (Chicago,1970) 273.

[7] Pakar fundamentalis masa kini juga melihatnya sebagai “pengakuan iman” seperti nyata dalam pernyataan ini: “Fundamentalists and evangelicals alike hold to a basic belief in the inerrancy of the Scriptures in their original autographs” (Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 8). Cetak miring ditambahkan.

[8] Menurut Jaroslav Pelikan (“Fundamentalism and/or Orthodoxy? Toward an Understanding of the Fundamentalist Phenomenon”, Norman J. Cohen, The Fundamentalist Phenomenon, 8) Ortodoksi Kristen dapat berbicara mengenai “inerransi” Alkitab hanya karena hermeneutiknya peka terhadap “bermacam-macam arti” (sensus plenior) suatu teks alkitabiah; malah pada Abad Pertengahan suatu teks dapat mempunyai empat bahkan tujuh arti.

[9] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 8, ketika menguraikan doktrin tentang keilahian Yesus (hal. 8-9).

[10] James Barr, Fundamentalism (Philadelphia: Westminster Press, 1977, 1978), khususnya bab 2, hlm.11-39; juga pakar-pakar lain yang meneliti fundamentalisme: Hans Küng, Christianity, 636-37; Harvey Cox, Religion in the Secular City, 44; Jaroslav Pelikan, “Fundamentalism and/or Orthodoxy?” 6 [3-21]. Cohen menyebutnya “articulus fundamentalissimus” dari semua doktrin fundamental; Thomas F. O’Meara, Fundamentalism: A Catholic Perspective. A Theologian Looks at the Fundamentalist Challenge Inside and Outside the Catholic Church (New York, New Jersey/Paulist Press, 1990) 14-18. Bahkan O’Meara melihat bahwa dalam fundamentalisme firman Allah tidak terletak pada teks Alkitab melainkan pada subjektivitas dan teologi si pengkhotbah/si penginjil fundamentalis sendiri, dan menolak sabda si pengkhotbah atau si penginjil berarti menolak sama sekali semua penyataan Kristiani (hlm.15,17).

[11] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 10.

[12] Tentang tahap-tahap perkembangan kesaksian Alkitab mengenai kebangkitan Yesus, lihat antara lain Thomas Sheehan, “The Resurrection: An Obstacle to Faith?”, The Fourth R vol. 8, no. 2, (March/April 1995) 3-9. Uraian lengkapnya lihat bukunya The First Coming. How the Kingdom of God Became Christianity? ( New York: Random House, 1988).

[13] James Barr, Fundamentalism, 28.

[14] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 9.

[15] James Barr, Fundamentalism, 28.

[16] Harvey Cox, Religion in the Secular City, .44; Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 75-76.

[17] Tentang “teologi Armageddon” ini, penulis sudah mengulasnya dengan cukup berpanjang lebar terkait dengan apokaliptisisme alkitabiah, lihat Ioanes Rakhmat, “Apokaliptisisme Alkitabiah dan Teologi Armageddon yang Menyesatkan”, dalam Andar Ismail (Peny.), Mulai dari Musa dan Segala Nabi (Jakarta: Gunung Mulia,1996) 45-70. Sikap politik fundamentalisme Amerika Utara terhadap Negara Israel Modern kentara sekali dalam ucapan representatif dari Jerry Falwell, “We are Pro-American, which means strong national defense and the State of Israel”; lihat Jerry Falwell, “An Interview with the Lone Ranger of American Fundamentalism”, Christianity Today XXV, 15 (September 4, 1981) 21.

[18] Pernyataan Billy Graham (seorang evangelikal) bahwa ia “melawan dengan militan segala bentuk modernisme” membuatnya dipandang sebagai seorang fundamentalis oleh orang-orang yang memang fundamentalis. Tetapi ketika Billy Graham kedapatan membuka hubungan dengan badan-badan gerejawi ekumenis, dengan orang-orang liberal dan dengan Roma Katolik, orang-orang fundamentalis sangat keberatan dan ini akhirnya menimbulkan perpecahan dalam tubuh mereka sendiri. Lihat Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 116-17.

[19] James Barr, Beyond Fundamentalism (Philadelphia: Westminster Press, 1984) viii, ix.

Saturday, February 16, 2008

Karunia Ilahi dalam Agama-agama

Di lingkungan gereja-gereja Prostestan umumnya, kepada warga gereja atau calon anggota gereja selalu diajarkan bahwa kekristenan adalah agama ”kasih karunia”, sedangkan agama-agama lainnya adalah agama ”amal perbuatan”. Maksudnya: di dalam kekristenan, Allah dipandang sebagai Allah yang dengan kasih karunia-Nya mendatangi manusia untuk menyelamatkan manusia, dan keselamatan ini tinggal diterima saja dengan kepastian besar oleh manusia;[1] sedangkan di dalam agama-agama lain, manusia digambarkan berusaha mendatangi dan mencapai Allah atau mendapat perkenan-Nya melalui usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan atau amal ibadah manusia itu sendiri, sehingga pada akhirnya orang non-Kristen akan selalu diperhadapkan pada ketidakpastian besar akan keselamatan dirinya.

Di dalam mengajarkan suatu agama, orang juga mempersaksikan, atau menjadi saksi atas, agama itu. Jadi, kalau seorang Kristen mengajarkan bahwa suatu agama adalah agama ”amal perbuatan”, berarti ia mempersaksikan atau menjadi saksi bahwa memang demikianlah agama yang diajarkannya itu. Demikian juga halnya bila ia mengajarkan bahwa agama Kristen (agamanya sendiri) adalah agama kasih karunia. Apakah memang demikian keadaannya? Apakah memang orang Kristen sudah dengan jujur menjadi saksi atas agama-agama lain yang dianut oleh manusia lain sesamanya? Di dalam Kitab Suci gereja, Alkitab, ditegaskan perintah ini, ”Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16), dan perintah ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18; Matius 22:39 dan par.). Supaya orang Kristen tidak terjatuh ke dalam tindakan melanggar perintah-perintah ini, baik sekali apabila mereka meneliti untuk menemukan apakah di dalam agama-agama lain kasih karunia Allah tidak dikenal dan tidak menentukan, apakah orang Kristen sudah berlaku jujur terhadap diri sendiri (sebagai wujud mengasihi diri sendiri) apabila mereka mengatakan bahwa di dalam agama Kristen perbuatan itu sama sekali tidak menentukan pandangan Allah terhadap manusia

Tulisan ini diajukan dengan maksud seperti yang baru saja dikemukakan. Yaitu mengadakan penelitian pendahuluan yang singkat dan sangat terbatas mengenai pokok kasih karunia ilahi di dalam agama-agama lain. Penulis menyadari bahwa agama dan kehidupan beragama apapun adalah suatu fenomenon yang teramat kompleks. Dengan demikian, tulisan ini tentu saja tidak akan menyelesaikan banyak (apalagi semua) persoalan dalam kehidupan suatu agama dan, apalagi, antar agama-agama. Ada persoalan-persoalan di dalamnya yang relatif mudah diatasi karena masing-masing Kitab Suci agama-agama dan pandangan tokoh-tokohnya memuat titik-titik temu; tetapi ada banyak juga persoalan di dalamnya yang sukar (malah mungkin juga tidak akan pernah) terselesaikan karena bukan titik-titik temu yang dijumpai, melainkan titik-titik perbedaan bahkan titik-titik pertentangan tajam. Sudah seharusnya penyataan-penyataan ilahi yang ditanggapi oleh manusia dalam lingkungan-lingkungan sosial-budaya dan zaman-zaman yang berbeda-beda melahirkan, menumbuhkan dan mengembangkan agama-agama yang bukan saja satu sama lain berisikan titik-titik temu, melainkan juga titik-titik perbedaan atau malah titik-titik pertentangan tajam.


Karunia Keselamatan dalam Agama Islam


Setiap insan muslim yang takwa, kita tahu, dalam memulai suatu pekerjaan atau tindakan apapun (misalnya: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya) tidak lupa mengucapkan ayat 1 dari surat Al Faatihah Alquran dalam bahasa Arabnya. Ayat ini dalam bahasa Indonesianya berbunyi demikian:
[2]

Dengan menyebut nama Allah
yang Maha Pemurah (Arab: Ar Rakhmaan)
lagi Maha Penyayang (Arab: Ar Rahiim)

Enam ayat selanjutnya dari surat ini lengkapnya berbunyi demikian:

Segala puji bagi Allah
Tuhan semesta alam
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Yang menguasai hari pembalasan
Hanya kepada Engkaulah
kami menyembah
dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus
(yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Dalam catatan penjelasan dari Departemen Agama RI atas ayat 1 surat Al Faatihah, dikatakan Ar Rakhmaan berarti ”Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya”, sedang Ar Rahiim berarti ”Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.” Sedangkan ayat 2 berarti ”menyanjung Allah karena perbuatan-Nya yang baik”, karena Ia adalah ”sumber dari segala kebaikan”, Tuhan ”atas semua yang diciptakan-Nya yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya.” ”Hari pembalasan” pada ayat 4 dijelaskan sebagai ”hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk.” Ayat 5 menyatakan sikap tunduk dan sembah dari manusia kepada Allah karena ”kebesaran-Nya” dan ”kekuasaan-Nya yang mutlak atas manusia.” Kepada Allah yang Maha Besar dan berkuasa mutlak atas manusia ini, manusia ”mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri”.

Permohonan minta tolong kepada Allah karena ketidaksanggupan manusia diungkapkan pula dengan sangat menyentuh hati di dalam surat Al Baqarah ayat 286 yang lengkapnya berbunyi demikian:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakan dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdo’a): ”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Dalam Kitab Suci Alquran edisi bahasa Inggris dan tafsirannya yang diterbitkan berdasarkan Keputusan Raja Fahd (No. 12412, tanggal 27/10/1405 AH), seruan di dalam ayat 286 surat Al Baqarah dijelaskan demikian: Karena mereka yang berdoa itu ”mengetahui betapa besar kegagalan orang-orang sebelum mereka”, mereka ”berdoa supaya beban-beban mereka hendaknya diringankan, dan mereka mengakui dan sadar bahwa mereka memerlukan kasih karunia dan pengampunan Allah lebih besar lagi.”[3]

Dari penjelasan-penjelasan pendek di atas terhadap beberapa ayat Alquran dapat disimpulkan bahwa memang Islam menekankan perbuatan atau amal manusia yang akan diperhitungkan Allah pada Hari Pembalasan; namun mengingat keterbatasan dan ketidaksanggupan manusia, yang pada akhirnya dimohonkan dan berlaku adalah kasih karunia Allah yang Ar Rakhmaan dan Ar Rahiim, yang menjadi sumber dari segala kebaikan dan kasih karunia. Karena itu, bagi seorang insan muslim, hidup berimannya adalah, memakai kata-kata Nurcholish Madjid, hidup ”bersandar sepenuhnya kepada Allah, tempat manusia menggantungkan harapan”, ”hidup dengan penuh tekad dan harapan kepada Allah swt”, hidup dengan memandang ”positip dan optimis kepada Allah.” Inilah ”hidup mempercayai Allah.”[4]


Karunia Keselamatan dalam Agama Hindu


Orang-orang Kristen juga diajarkan bahwa agama Hindu adalah agama politeis, agama yang menerima dan mempercayai banyak ilah, agama ”alam” yang mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan alam dalam sosok para dewa. Tetapi mari dengarkan apa yang dikatakan I Made Titib, orang Bali, doktor di bidang agama Hindu.
[5] Menurutnya, sepintas lalu Kitab Weda (sebagai Kitab Suci utama agama Hindu) menyampaikan ajaran politeisme, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian.[6] Kutipan-kutipan mantra/sloka dari Kitab Weda berikut ini tampaknya menempatkan agama Hindu sebagai agama politeis.

Mereka menyebut Indra, Mitra, Waruna, Agni dan Dia yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok; Yang Maha Esa itu oleh orang-orang bijaksana disebut dengan banyak nama seperti: Agni, Yama dan Matariswan. (Rg Weda I.1164.46)

Agni hanyalah Itu, Aditya hanya Itu, Wayu hanyalah Itu, Candra adalah Itu; cahaya adalah Itu, Brahma adalah Itu, Apah adalah Itu, Prajapati adalah Dia. (Yajur Weda XXXII.I)

Dua sloka di atas memperlihatkan sepertinya yang dipuja dalam Weda adalah kekuatan-kekuatan alam (”politeisme alamiah”); tetapi sesungguhnya tidak demikian. Mantra-mantra berikut menegaskan keesaan Allah (monoteisme).[7]

Kekuatan yang menjadikan matahari bersinar itu adalah Aku yang tunggal. (Yajur Weda XL.17)
Tuhan Yang Maha Esa adalah Maha Besar dari segala yang ada. (Rg Weda III.55.1)
Ia Maha Esa, tidak ada duanya, daripada-Nyalah semua makhluk tercipta.
(Chandogya Upanisad VI.2.1)

Menurut I Made Titib, Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan banyak nama yang beragam karena manusia itu terbatas dalam membayangkan Tuhan yang Maha Esa Yang Tidak Terbatas. Kitab-kitab Upanishad menegaskan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tidak Terbatas ini sangat sulit diberikan batasan, sebab batasan cenderung mempersempit pengertian mengenai Tuhan Yang Maha Agung itu. Untuk menyebut ketidakterbatasan Diri Allah ini kitab-kitab Upanishad memakai kata-kata ”Neti-neti!”, artinya ”Bukan ini!” Selain Tuhan Yang Maha Esa yang diungkapkan dengan banyak nama dan peran ini, agama Hindu juga mengenal dewa-dewa yang bukan sekadar gejala alam atau personifikasi kekuatan alam, melainkan sebagai hakikat-hakikat adikodrati yang menguasai fenomena alam. Monoteisme dipertahankan dengan jalan menaklukkan dewa-dewa ini kepada Dewa Tertinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, yang juga disebut sebagai ”Tat” (Itu) atau ”Sat” (Kebenaran Mutlak), sehingga ketuhanan dalam agama Hindu digambarkan sebagai pantheon, Sidang Para Dewa dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagi Dewa Tertinggi.[8]

Tuhan Yang Maha Esa digambarkan memiliki dua segi: Tuhan Yang Berpribadi dan Tuhan Yang Tanpa Pribadi. Dua segi ini masing-masing menggambarkan sifat keadikodratian dan sifat kekodratian Tuhan Yang Maha Esa. Sifat kekodratian, tanpa pribadi, dari Tuhan Yang Maha Esa ini abstrak, mewujud di dalam hukum tertinggi, prinsip yang mengatur tertib alam semesta. Sedangkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai ”Pribadi” digambarkan transenden (adikodrati), sebab tidak ada wujud atau bandingan apapun untuk menggambarkan-Nya. Tuhan Yang Adikodrati ini Tad awyaktam, aha hi, artinya ”sesungguhnya, Tuhan itu tidak terkatakan.”[9] Penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Berpribadi dilakukan melalui Bhakti (upacara kebaktian) dan Karma Marga (kerja yang tulus ikhlas dan pengabdian yang tinggi). Pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Tanpa Pribadi dilakukan melalui Jnana dan Yoga Marga (filsafat ketuhanan dan yoga samadhi/meditasi).

Sifat apakah yang diperlihatkan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang kepada-Nya manusia mengabdi? Mantra berikut menyatakan Tuhan Yang Maha Esa itu Penyangga, Pemelihara dan sangat Pemurah.

O Agni, Engkau adalah Indra yang Maha Agung....
Engkau adalah Wisnu yang Maha Luas,
Yang kekuasaan-Nya patut dipuja,
Engkau adalah Brahmanaspati,
Brahman yang memiliki kekayaan,
Engkau adalah Penyangga,
Yang memelihara kami dengan kebijaksanaan.
Engkau adalah raja Waruna yang selalu
Menegakkan hukum sebagai Mitra Pencipta keajaiban
Kepada-Mu kami memuja
Engkau Aryaman dewa pahlawan
Yang memperbanyak segala yang ada
Engkau adalah Amsa yang sangat pemurah (Rg Weda II. 1,3,4)

Yajur Weda XL. 17 menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu Pelindung Cemerlang:

Oh umat manusia, oleh-Ku,
Pelindung Cemerlang, telah Kututupi wajah-Ku yang abadi
Kekuatan yang menjadikan matahari
Bersinar di sana adalah Aku
Aku membentang di angkasa raya.
Om adalah nama-Ku (AUM Kham Brahma)

Dalam doa Subhasita umat Hindu, Tuhan diyakini sebagai Ibu dan Bapak Yang Sejati, sahabat dan teman terkasih.

Ya Tuhan Yang Maha Esa,
Engkau adalah Ibu dan Bapakku yang sejati
Sahabat dan teman terkasihku
Engkau sumber pengetahuan dan Pemberi kekayaan
Bagi hamba Engkau adalah segalanya,
Dewata tertinggi.

Dalam Bhagavadgita IX.22, Krisna mengamanatkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada umat-Nya yang berbakti kepada-Nya:

Mereka yang memuja Aku sendiri,
Merenungkan Aku senantiasa,
Kepada mereka Aku bawakan
Apa yang mereka perlukan
Dan Aku lindungi apa yang mereka miliki

Sebagai Ibu dan Bapak Sejati, maka Tuhan Yang Maha Esa dalam pandangan Hindu, memakai kata-kata I Made Titib, akan ”turun menyelamatkan umat-Nya” ketika umat-Nya berseru kepada-Nya mohon pertolongan dan perlindungan.[10] Di dalam bahaya, anugerah Tuhan Yang Maha Esa akan menyelamatkan, seperti dinyatakan berikut ini:[11]

Jika kamu merenungkan Aku,
Maka kamu akan mengatasi segala bahaya
Karena anugerah-Ku
(Bhagavadgita XVIII.58; IX.30-31; XVIII.56,62)

Jelas, di dalam monoteisme dari Hinduisme, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai Tuhan yang berkasih karunia, yang kepada-Nya umat mengabdi. Dialah Bapak dan Ibu Sejati bagi manusia; Dialah kawan sejati terkasih bagi setiap insan.


Karunia Keselamatan dalam Agama Buddha


Dalam Dhammapada yaitu kumpulan sabda pengajaran Gautama Buddha,
[12] pada bab XIV.12-13 (tentang ”sang Buddha”) terdapat ucapan Gautama yang berbunyi demikian:

Ia yang berlindung kepada Buddha,
Dhamma, dan Sangha, akan melihat
Empat Kebenaran Mulia dalam pengertian
yang benar: Dukkha (penderitaan),
sebab dari dukkha,
lenyapnya dukkha;
dan Jalan Mulia Beruas Delapan
sesungguhnya inilah perlindungan yang aman,
perlindungan yang paling utama dan azasi.
Dengan mencari perlindungan semacam ini,
orang akan terbebas dari penderitaan, dukkha.

Pembebasan dari penderitaan (dukkha) dialami apabila Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Beruas Delapan[13] dipahami dengan benar; tetapi pemahaman yang benar hanya akan diperoleh kalau orang berada dalam perlindungan Buddha, Dhamma (pengajaran) dan Sangha (paguyuban). Ucapan Buddha Gautama ini dapat dipahami dari dua sudut aliran Buddhisme: aliran Theravada (”Jalan Para Sesepuh”) atau Hinayana (”perahu/rakit kecil”) dan aliran Mahayana (”perahu/rakit besar”).

Aliran Theravada menekankan bahwa tercapai atau tidaknya Nirvana bergantung kepada usaha sendiri dan tanggungjawab pribadi seseorang; tidak ada bantuan atau rakhmat apapun yang diberikan kepadanya untuk mencapai tujuan itu. Dengan memperhatikan ucapan sang Buddha berikut ini, maka ”perlindungan sang Buddha” dalam ucapan di atas jelas tidak mengacu kepada bantuan atau rakhmat yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri:

Sesungguhnya, penguasa atas diri manusia adalah dirinya sendiri,[14]
diri sendiri pula tempat berlindung (bagi diri sendiri)
Karena itu kendalikanlah dirimu, seperti seseorang mengendalikan kuda tunggangannya.
(Dhammapada, XXV.21)

Sabda di atas menunjukkan bahwa Gautama Buddha tidak mengikat orang kepada diri-Nya sendiri dalam hubungan-hubungan yang bergantung pada diri-Nya.[15] Dalam banyak ucapan-Nya, Buddha Gautama memang menekankan tanggungjawab murid-murid-Nya sendiri untuk mengusahakan pembebasan (mencapai Nirvana) bagi masing-masing diri mereka sendiri. Antara lain:

Bukan dengan memakai wahana-wahana itu seseorang
dapat tiba di tempat yang tidak dapat dimasuki;
melainkan ia yang terlatih,
yang telah menaklukkan
dirinya sendiri
(Dhammapada, XXIII.4)

Aku telah menaklukkan semuanya,
Aku mengetahui semuanya,
Aku tidak dipengaruhi apapun.
Dengan meninggalkan segalanya,
dengan melepaskan semua nafsu keinginan (tanha)
Aku telah mengalami pembebasan.
Kalau semuanya ini Aku dapatkan atas
Usaha-Ku sendiri, maka kepada siapa Aku
harus mengaitkannya?
(Dhammapada, XXIV.20)

Kosongkan perahu[16] ini, O Bhikkhu!
Tanpa Engkau di dalamnya,
perahu akan bergerak lebih laju;
buanglah nafsu dan kebencian,
maka engkaupun akan menuju Nirvana
(Dhammapada, XXV.10)

Tanggungjawab diri sendiri untuk mengupayakan pembebasan, memasuki Nirvana, lepas dari lingkaran kematian dan kelahiran-kembali, khususnya dengan meniadakan Tanha, nafsu keinginan yang merusak, ditekankan dalam Buddhisme Theravada.

Dari perspektif aliran Mahayana, Thomas Cleary, dalam menafsirkan ucapan ini, melihat kepentingan sangha, ”paguyuban”. ”Sangha” di sini secara harfiah dan rohaniah mengacu kepada orang-orang yang mencapai dan memakai kebenaran melalui pengajaran (Dhamma) yang diuraikan oleh sang Buddha. Di dalam Sangha inilah perlindungan dari sang Buddha dan pengajaran-Nya diperoleh. Sangha bukan sekadar suatu pengakuan, ibadah atau lembaga/pranata, tetapi pada hakikatnya bersifat rohaniah, mengacu kepada cinta kasih semesta dan kenyataan objektif itu sendiri.[17] Di dalam kawasan cinta kasih semesta sebagai kawasan perlindungan, orang baru betul-betul memahami dan mengalami jalan-jalan pembebasan sejati untuk memasuki Nirvana. Dalam hal ini, cinta kasih menjadi konteks dialaminya pembebasan dari dukkha. Cinta kasih di sini adalah cinta kasih sang Buddha sendiri dan para murid-Nya yang menerima Dhamma dari-Nya, dan cinta kasih semesta ”yang berakar di dalam Nirvana, yang tanpa kecuali memperhatikan setiap jiwa dan berada dalam setiap jiwa itu, dan pada saat yang tepat akan menarik setiap jiwa itu ke tujuan.”[18] Dalam Dhammapada XXV. 9 terdapat sabda Gautama yang memakai kata ”cinta kasih” (metta) untuk kata ”paguyuban” (sangha).

Bhikku yang diam di dalam cinta kasih (metta)
akan berbahagia di dalam Pengajaran (Dhamma)
sang Buddha serta mencapai Keadaan damai
dan bahagia, di mana segala yang
sudah digariskan berakhir.

Dari sudut pandangan aliran Mahayana, jelaslah bahwa dalam mencapai Nirvana ada rakhmat, bantuan dan bimbingan yang diberikan kepada seorang Buddhis. Tema ini dengan bagus sekali dibuat liriknya oleh Shantideva, seorang penyair dan orang suci Buddhis:

Semoga aku menjadi penawar bagi si sakit
penyembuh dan perawatnya sehingga penyakit itu
tidak akan kambuh lagi;
Semoga aku mencurahkan makanan
bagaikan hujan lebat,
dan memuaskan segala rasa lapar dan dahaga;
Semoga aku menjadi minuman dan daging
yang akan mengakhiri kelaparan zaman ini;
Kuserahkan tanpa peduli, seluruh hidup
dan kesenanganku, seluruh kebenaran diriku
di waktu lampau, di saat ini dan
di masa yang akan datang, sehingga
semua makhluk dapat sampai ke tujuannya.[19]

Siapakah yang memberikan rakhmat, bantuan dan bimbingan ini? Tentu saja pertama-tama adalah Gautama sendiri yang telah mencapai Nirvana dan menjadi Sang Buddha, melampaui kemanusiaan-Nya dan menjadi ilahi, sebagai Tuhan Penyelamat dunia, Tuhan Yang Melihat ke bawah dengan Penuh Kasih Sayang. Selain itu, aliran Mahayana mengenal Bodhisatva, sebagai tujuan setiap orang Buddhis. Bodhisatva adalah ”seorang yang hakikat dirinya (satva) adalah kearifan sempurna (bodhi), seorang makhluk yang walaupun telah mencapai tepi Nirvana, dengan sukarela melepaskan hadiahnya itu supaya ia dapat kembali ke dunia ini, sehingga orang lain dapat mencapai Nirvana itu. Dengan sengaja, ia seakan-akan ’menghukum’ dirinya sendiri dengan melayani orang lain sepanjang hidupnya, supaya dengan mengambil manfaat dari pengurbanan yang sebetulnya sudah di luar kewajibannya itu, orang lain dapat masuk ke Nirvana lebih dahulu. Seorang Bodhisatva adalah seorang yang bersumpah untuk tidak pergi meninggalkan dunia ini sampai rumput sendiripun telah memperoleh pencerahan rohani.”[20] Bodhisatva harus ada di dalam dunia sepanjang masih ada kesengsaraan dan Nirvana: kehadirannya di dalam dunia dimaksudkan untuk menyelamatkan ”segala sesuatunya”.[21]

Dengan demikian, di dalam agama Buddha secara keseluruhan kita lihat ada dua penekanan dalam rangka manusia mencapai pembebasan dan pencerahan. Yaitu pada satu sisi, tekanan pada usaha dan tanggungjawab manusia sendiri, dan pada sisi lainnya, tekanan pada rakhmat dan kasih karunia dari sang Buddha dan Bodhisatva.

Dalan penglihatan Thomas Cleary, ”perahu besar” hanya dapat diluncurkan kalau sang pengemudinya sudah terampil mengayuh ”perahu kecil”; dengan demikian kedua aliran ini saling memerlukan. Kalau aliran ”perahu kecil” membawa seorang Buddhis, di dalam pengalaman pencerahan pribadi, meninggalkan bumi, memasuki sorga/nirvana, maka aliran ”perahu besar” menghubungkan bumi dan sorga melalui perantara Bodhisatva.[22]


Jangan Mengucapkan Saksi Dusta!


Jadi harus diakui bahwa agama-agama Islam, Hindu dan Buddha memberi tempat yang sangat penting pada kasih karunia Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia. Agama-agama ini pada dasarnya adalah agama-agama kasih karunia, dengan tidak mengabaikan tanggungjawab pada pihak manusia sendiri untuk beribadah kepada Yang Ilahi di dalam seluruh kehidupannya. Jadi, orang-orang Kristen janganlah terus-menerus melanggar perintah Allah, ”Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu manusia!”, melalui dan dalam kesaksian mereka bahwa di dalam agama-agama lain tidak ditemukan anugerah Allah, bahwa di dalam agama-agama lain yang ditekankan hanyalah amal ibadah manusia dalam rangka ia mencari keselamatannya sehingga pada akhirnya ia berada dalam keadaan serba tidak pasti! Padahal sebetulnya di luar kekristenan ada anugerah Allah!


Pada pihak lain, orang-orang Kristen juga ”harus mengasihi dirinya sendiri” dengan bersedia mengakui bahwa harus diberikan tempat pada usaha dan tanggungjawab manusia ”untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12) dan menunjukkan ”iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6) sebab ”iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:17,20). Orang-orang Kristen juga jangan lalai memperhatikan pernyataan Tuhan Yesus Kristus tentang apa yang akan ia lakukan pada kedatangannya nanti di akhir zaman: ”Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya!” (Wahyu 22:12).

Kalau sebagai orang-orang Kristen Reformatoris mereka yakin bahwa mereka diselamatkan karena ”sola gratia” dan ”sola fide”, itu sangat baik! Tetapi adakah pada masa kini dan di akhir zaman bukti lain yang ampuh selain apa yang manusia lakukan selama hidup mereka bahwa mereka memang benar-benar sudah hidup dalam keselamatan karena kasih karunia yang mereka terima melalui iman? Penulis yakin tidak ada! Tidak ada dualisme antara iman dan perbuatan. Keduanya mengungkapkan realitas tunggal kehidupan manusia di hadapan Allah. Orang-orang Kristen Reformatoris mungkin sukar menerima kebenaran ini karena semangat zaman Reformasi abad 16 masih menguasai mereka yang hidup pada masa kini di abad 21, ketika saudara-saudara mereka dari kalangan Katolik dan dari agama-agama lain terus menerus menjadi berkat buat dunia ini melalui pelayanan dan kesaksian mereka yang bertolak dari Kitab Suci, teologi dan dogma-dogma mereka!

Kesulitan mereka mungkin sama atau serupa dengan kesulitan besar yang dialami Paulus ketika ia hanya bisa mendiskreditkan Taurat berhadapan dengan Injil di dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Tetapi ketika ia menulis surat Roma, ia sudah jauh lebih matang dan seimbang. Di situ Paulus tegas-tegas menyatakan dan mengingatkan orang-orang Kristen pada zamannya bahwa ”akar” dari kekristenan adalah agama Yahudi, agama Taurat; dan tanpa akar ini tidak mungkin ada suatu agama dunia yaitu kekristenan (Roma 11:17-18). Dan kekristenan yang berakar pada agama Taurat itu pada akhirnya juga menjadi suatu lembaga keagamaan yang di dalamnya pengamalan Taurat berjalan berdampingan dengan penerimaan keselamatan dari Yesus Kristus, tanpa pihak yang satu menghakimi pihak yang lainnya, karena ”setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Roma 14-15; kutipan dari 14:12).

Dan bahwa ketaatan pada Taurat bisa berjalan berdampingan dengan pembebasan dan keselamatan sebagai buah prakarsa dan kasih karunia ilahi bukanlah tema yang asing bagi agama Yahudi (lihat antara lain Keluaran 20:2 dyb). Ketaatan pada Taurat sebagai wujud cinta kasih kepada Allah sang Pemberi Taurat yang telah membebaskan Israel, membentuk jati diri bangsa Yahudi.



Catatan-catatan


[1] Tentu banyak nas Alkitab yang dengan tepat telah diajukan untuk mendukung ajaran (Reformatoris) ini, antara lain: Roma 3:23-24 (“semua orang telah berbuat dosa dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”); Efesus 2:5,8 (“sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”); Titus 3:7 (“supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya berhak menerima hidup yang kekal”); Yohanes 3:16 (“karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”).

[2] Kutipan ayat-ayat suci Alquran dalam tulisan ini diambil dari Alquran terjemahan Departemen Agama RI (Al Qur’an Dan Terjemahnya, Juz 1- Juz 30), edisi baru, revisi terjemah Januari 1993.

[3] The Holy Qur’an. English Translation of the Meaning and Commentary, disunting dan direvisi oleh The Presidency of Islamic Researches IFTA, CALL and GUIDANCE, Al-Madinah, Al-Munawarah: King Fahd Holy Qur-an, Printing Complex, 133.

[4] Nurcholish Madjid, Pintu-pintu Menuju Tuhan, penyunting: Elza Peldi Taher, pengantar oleh Goenawan Muhammad (Jakarta: Paramadina, 1995) 4-5, 14-15.

[5] Lulusan Vedic Department Gurukala Kangri University Hardwar, Uttar Padesh, India (1993).

[6] I Made Titib, Ketuhanan dalam Weda, penyunting: Putu Setia (Jakarta/Denpasar: Pustaka Manikgeni, April 1994) 16.

[7] I Made Titib tidak menyangkal bahwa monoteisme dalam agama Hindu muncul sebagai hasil perkembangan sejarah pemikiran ketuhanan dalam agama Hindu, mulai dari Politeisme alamiah, Politeisme terorganisir, Henoteisme, sampai kepada Monoteisme dan akhirnya Monisme. Lihat Titib, Ketuhanan dalam Weda, 18-23.

[8] Pemikiran ketuhanan seperti ini ditemukan juga di dalam Alkitab, khususnya dalam gambaran Alkitab tentang para malaikat yang menjadi pelayan Allah di surga atau menjadi utusan-Nya ke bumi. Lihat misalnya Ayub 1:6-12; Mazmur 89:7.

[9] Pemikiran seperti ini ditemukan kesejajarannya dalam Alkitab. Selain segi kekodratian Allah yang kuat sekali ditekankan dalam Alkitab (antara lain Keluaran 3:8; Yohanes 1:14), segi keadikodratian Allah Yang Esa juga ditekankan di dalamnya, seperti ditemukan antara lain dalam Mazmur 145:3 (”Kebesaran Allah tidak terduga”); 2 Korintus 12:4 (”kata-kata-Nya tidak terkatakan”); 1 Timotius 6:16 (”bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, dan tak pernah dilihat oleh seorangpun”); 1 Korintus 13:9,12 (”diketahui dengan tidak lengkap dan dikenal dengan tidak sempurna, hanya samar-samar”).

[10] I Made Titib, Ketuhanan dalam Weda, 61.

[11] Ovey N. Mohammed, “Yesus dan Krisna”, di dalam R.S. Sugirtharajah, Wajah Yesus di Asia, diterjemahkan oleh Ioanes Rakhmat (Jakarta: Gunung Mulia, 1994) 22-26, kutipan hlm. 31.

[12] Dhammapada. The Sayings of Buddha, diterjemahkan dari Kanon Pali dan diberi komentar oleh Thomas Cleary (N.Y.: Bantam Books, 1995); bab-bab dan ayat-ayat dalam tulisan ini mengikuti pembagian Thomas Cleary. Lihat juga Dhammapada, karya Biksu Narad Mahathera, diterjemahkan oleh Tirtasanti (Pustaka Karaniya: 1994, cetakan ke-6).

[13] Jalan Beruas Delapan menuju Nirvana [=lenyapnya (ni) nafsu keinginan (vana)] mencakup: pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, perilaku yang benar, cara hidup yang benar, usaha yang tepat, ingatan/kesadaran yang benar, dan pemusatan diri yang benar.

[14] Terjemahan Tirtasanti (Dhammapada, bab XXV. 380) berbunyi: ”Sesungguhnya diri sendirilah juru selamat,...”

[15] Thomas Cleary, Dhammapada, 123.

[16] Gambaran tentang ”perahu kosong” menunjuk pada penguasaan seseorang atas dirinya sendiri sehingga dirinya tidak menyusahkan baik dirinya sendiri maupun diri orang-orang lain. Lihat Thomas Cleary, Dhammapada, 119.

[17] Thomas Cleary, Dhammapada, 66-67.

[18] Huston Smith, Agama-agama Manusia, penerjemah: Saafroedin Bahar (Jakarta: Yayasan Obor, 1985) 160.

[19] Dari Bodhicharyavatara, gubahan Shantideva; lihat Huston Smith, Agama-agama Manusia, 160.

[20] Huston Smith, Agama-agama Manusia, 161-162.

[21] Frithjof Schuon, Treasures of Buddhism (Bloomington, Indiana: World Wisdom Books, 1993) 113.

[22] Thomas Cleary, Dhammapada, 5-6.