Sunday, May 13, 2018

Basis Biologi Aneka Ragam Ras Menunjukkan Umat Manusia Itu Bersaudara


Ide tentang ras-ras manusia yang berlainan semula diinvensi oleh para antropolog seperti Johann Friedrich Blumenbach pada abad ke-18. Istilah "ras" diciptakannya dalam usahanya untuk mengkategorisasi grup-grup populasi manusia yang baru, yang dijumpai lalu dieksploitasi sebagai bagian dari kolonialisme Eropa yang makin meluas.

Di tahun 1775, Blumenbach menyusun klasifikasi lima ras manusia. Minat membuat klasifikasi atas hal-hal yang ada dalam dunia ini sudah muncul setidaknya sejak Aristoteles.

Ketika diinvensi pada awalnya, kategori-kategori ras ini dibangun dengan landasan yang acak, sembarangan dan subjektif, yakni hanya pada perbedaan-perbedaan kebudayaan dan bahasa di antara grup-grup manusia, bukan pada biologi manusia yang memang belum mungkin dikaji waktu itu.

Kini para antropolog umumnya, dan biolog, tentu tidak semua, tidak lagi berpendapat bahwa ras atau warna kulit adalah suatu kategori ilmiah yang absah yang perlu dipakai untuk memisah-misahkan manusia./1/

Telah diketahui, riset-riset genetik yang telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa varian-varian warna kulit manusia tidak dapat diklasifikasi ke dalam kategori-kategori yang dinamakan ras.

Klasifikasi ras-ras ini selanjutnya, sejauh ini, telah memunculkan prasangka-prasangka rasial yang tidak adil dan merendahkan, dan mendehumanisasi. Kondisi ini kerap bermuara pada segregasi dan pertikaian rasial atas nama ideologi rasisme.

Menurut biolog dari Universitas Stanford, yang ikut mempelopori riset-riset perbedaan-perbedaan di antara populasi-populasi manusia, keanekaragaman ras manusia dihasilkan oleh 40 gen (sedangkan untuk tinggi tubuh, beberapa ratus gen terlibat). Dari keseluruhan genom, menurut biolog Richard Lewontin di tahun 1972, hanya 10% hingga 15% saja yang berhubungan dengan ras.

Di luar faktor genetik, ada faktor-faktor environmental yang ikut memberi andil pada keanekaragaman ras manusia. Yakni faktor-faktor budaya, penyakit genetik, kendala-kendala sosiologis (seperti kemiskinan atau pilihan-pilihan makanan yang tersedia), ukuran populasi awal, ekologi dan seleksi alamiah (misalnya toleransi pada tekanan oksigen yang rendah di antara populasi orang Tibet dan orang pegunungan Andes).

Menurut Feldman, sebutan "ras" cenderung pejoratif dan tidak relevan lagi, tapi ideologi rasisme tetap hidup dan tidak menurun kekuatannya.

Menurutnya, sekarang ini banyak biolog sudah mengganti sebutan ras dengan "moyang kontinental" atau "moyang benua". Maksudnya, setiap orang memiliki moyang-moyang yang berasal lebih dari satu benua, dengan gen-gen masing-masing terkombinasi. Feldman menandaskan, "Moyang setiap orang lebih mungkin mencakup wakil-wakil dari satu set benua-benua yang ada."/2/

Baiklah, pada kesempatan ini kita berpaling pada suatu studi genetik mutakhir yang berhasil menyingkap pengetahuan-pengetahuan baru tentang relasi beranekaragam warna kulit manusia dengan varian-varian genetik insani yang berkaitan dengan pigmentasi kulit tubuh manusia.

Genetikus dari Penn University, Sarah Tishkoff, dkk, belum lama ini telah melakukan riset genetik atas sejumlah 1.570 relawan Afrika yang berasal dari populasi-populasi yang berbeda genetik dan etnis di Ethiopia, Tanzania, dan Bostwana.

Sarah Tishkoff dan instrumen yang digunakannya dalam riset genetik di Afrika

Para relawan Afrika itu mencakup orang yang berkulit terang seperti beberapa bangsa Asia hingga yang berkulit terhitam di dunia, dan yang berada di antara dua jenis warna kulit ini.

Riset Sarah Tishkoff dkk ini dijalankan lewat kajian pigmen kulit melanin (via pantulan atau refleksi cahaya yang terpancar dari kulit partisipan) dan sampel DNA mereka.

Sarah Tishkoff dkk menemukan sedikitnya ada 6 varian genetik ("penanda biologis") yang terkait signifikan dengan pigmentasi kulit, dan keseluruhannya bertanggungjawab atas 29% varian-varian warna kulit di antara orang-orang di Ethiopia, Tanzania, dan Botswana. Enam varian genetik itu dikenal sebagai SLC24A5, MFSD12, DDB1, TMEM138, OCA2, dan HERC2.

Suatu kajian sebelumnya atas pigmentasi kulit telah berhasil mengidentifikasi varian-varian genetik yang sama, yakni HERC2 dan OCA2, yang ada di balik orang-orang Eropa dan Asia yang umumnya berkulit lebih terang.

Meskipun masih harus dilakukan penelitian lanjutan atas keseluruhan varian genetik yang berhubungan dengan warna kulit, varian-varian genetik yang sudah diidentifikasi itu, yang menghasilkan warna kulit terhitam hingga warna kulit yang lebih terang, menurut Sarah Tishkoff, dipastikan telah ada lebih dari 300.000 tahun yang lalu (saat kemunculan Homo sapiens di Afrika), dan beberapa di antaranya telah berusia hampir 1 juta tahun.

Artinya, varian-varian genetik ini ada lebih dulu dari manusia berpostur modern (Homo sapiens) dan telah membantu mengontrol pigmentasi pada moyang-moyang kita yang primitif.

Selain itu, sangat mungkin varian-varian genetik HERC2 dan OCA2 yang menghasilkan pigmentasi yang lebih terang, telah muncul di Afrika hampir 1 juta tahun lalu, sebelum menyebar ke Eropa dan ke Asia.

Dengan demikian, moyang-moyang purba kita tidak memiliki warna kulit yang gelap atau hitam, tetapi warna kulit yang lebih terang sebelum mereka beradaptasi dengan kondisi-kondisi alam dan kehidupan yang baru. Dulu sekali, di saat kita kehilangan bulu-bulu lebat penutup tubuh dan pindah ke savana-savana yang terbuka, meninggalkan hutan-hutan rimba, tubuh kita beradaptasi dengan menghasilkan kulit yang berwarna lebih gelap dan makin gelap.

Bukti genetik juga menunjukkan bahwa varian pigmentasi yang terang pada SLC24A5 masuk ke Afrika Timur lewat aliran gen dari orang bukan-Afrika. Artinya, lewat kawin silang dengan populasi dari pigmen kulit yang berbeda, warna-warna kulit yang bervariasi dihasilkan lewat kombinasi gen-gen.

Pada sejumlah lokasi genetik itu varian-varian genetik yang terkait dengan pigmentasi gelap orang Afrika identik dengan varian-varian genetik populasi orang Asia Selatan dan populasi orang Australo-Melanesia.


Sarah Tishkoff menyimpulkan bahwa "studi kami ini sungguh-sungguh membuat kita tidak bisa lagi mempercayai ide tentang suatu konstruk biologis bagi setiap ras manusia. Kami temukan, tidak ada batas-batas yang khas dan tersendiri, yang unik, di antara grup-grup ras manusia, yang konsisten dengan varian-varian genetik."

Artinya, varian-varian genetik itu terkombinasi, tercampur, dalam memunculkan anekaragam warna kulit manusia. Bukan eksklusi, tapi inklusi varian-varian genetik-lah yang berlangsung di saat beranekaragam ras manusia muncul di zaman-zaman yang sangat lampau.

Lalu Sarah Tishkoff menandaskan bahwa "ada lebih banyak hal dalam warna kulit kita yang mempersatukan kita alih-alih memisahkan kita. Jadi, pandangan-pandangan rasis dan dugaan-dugaan yang tak berpijak pada sejarah tentang ciri-ciri [fenotipik] yang terkait warna kulit bukan saja tidak bermoral, tapi juga salah sama sekali jika dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan."

Statistikus biologis dari Universitas Michigan, Jedidiah Carlson, menyatakan bahwa "pigmentasi yang berwarna terang, dan mungkin juga ciri-ciri fenotipik lainnya orang Eropa, tidak unik bagi orang Eropa. Populasi-populasi manusia telah dan terus berkawinsilang sepanjang keberadaan kita sebagai suatu spesies."/3/

Dengan kata lain, warna-warna kulit yang berlainan muncul sebagai hasil membangun relasi-relasi kekerabatan yang luas antaretnis dan antarras yang tidak bisa dibatasi, dan lintasbenua.

Jadi, ras-ras manusia yang dikenal sekarang berpangkal pada persaudaraan dan kekerabatan yang luas yang melibatkan lebih dari satu benua, bukan pada permusuhan dan perpecahan yang menyakitkan dan menimbulkan azab antarras
dan antaretnis moyang-moyang manusia dulu.

Akhirnya, satu poin penting perlu jelas dipahami. Ras atau warna kulit tidak sama dengan etnisitas meski keduanya dapat bertumpangtindih.

Ada banyak usaha untuk mendefinisikan etnisitas supaya orang tidak menyamakan begitu saja etnisitas dengan ras.

Etnisitas (dari kata Yunani "ethnos", artinya "bangsa") didefinisikan, misalnya, sebagai "suatu grup manusia yang satu sama lain mengidentifikasi diri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan tradisi-tradisi yang sama di bidang-bidang sosial, kultural, bahasa, politik, dan kebangsaan (lewat kelahiran atau naturalisasi atau asal kedatangan), dan juga memiliki moyang yang sama dan pengalaman sejarah yang sama."

Ada juga yang dengan ringkas menyatakan bahwa "ras terkait dengan biologi, sedangkan etnisitas terkait dengan kebudayaan."

Sedikit lebih rinci, etnisitas dipandang sebagai "suatu istilah untuk kebudayaan manusia dalam suatu wilayah geografis tertentu, termasuk di dalamnya pranata-pranata bahasa, peninggalan sejarah, agama, politik kebangsaan, dan adat-istiadat mereka." Menjadi anggota suatu kelompok etnis, dengan demikian, mengharuskan orang untuk hidup selaras dengan beberapa atau seluruh hal yang dipraktekkan lewat dan dalam pranata-pranata kebudayaan itu.

Tetapi sama seperti etnisitas atau kebangsaan seseorang dapat berubah (lewat proses hukum yang dinamakan naturalisasi, misalnya), ras juga secara biologis tidak langgeng selamanya. Kajian-kajian genetik belakangan ini menunjukkan bahwa warna kulit dapat berubah drastis dalam minimal 100 generasi dalam kurun 2.500 tahun, akibat pengaruh-pengaruh environmental.

Dalam keperluan di bidang sosial dan administrasi kependudukan, jika acuan ke ras dipakai, acuan ini adalah suatu konstruk sosial yang harus bebas dari ideologi rasisme yang, kita tahu, memisah-misahkan manusia berdasarkan warna kulit demi kepentingan-kepentingan segregasi politik dan perlakuan sosial dan ekonomi yang tidak adil.

Biro Sensus Amerika Serikat, misalnya, menegaskan bahwa jika ras dipakai sebagai bagian dari identitas diri, dalam hal ini ras dipandang sebagai "suatu definisi sosial atas setiap ras yang diakui, dan bukan suatu upaya untuk mendefinisikan ras secara biologis, antropologis atau genetik."/4/

Jakarta, 13 Mei 2018
The day of my nativity

ioanes rakhmat

Sumber-sumber

/1/ Baca lebih lanjut Darren Curnoe, "Opinion: Classification of humans into races 'the biggest mistake in the history of science'", Phys.org, 20 Dec 2016, https://m.phys.org/news/2016-12-opinion-classification-humans-biggest-history.html. Semula, artikel ini terbit di https://theconversation.com/the-biggest-mistake-in-the-history-of-science-70575.

/2/ Lebih jauh, lihat David Freeman, "The Science of Race, Revisited", HuffPost Science, update mutakhir 6 Dec 2017, https://m.huffpost.com/us/entry/7699490.

/3/ Lebih lanjut, baca artikel riset Nicholas G. Crawford, Derek E. Kelly, Matthew E.B. Hansen,...., Sarah Tishkoff, "Loci associated with skin pigmentation identified in African Populations", Science, 12 Oct 2017: eaan8433, http://science.sciencemag.org/content/early/2017/10/11/science.aan8433.full.

Lihat juga artikel populernya yang ditulis oleh Peter Dockrill, "Gene Variants That Affect Skin Colour Suggest The Concept of Race Is Deeply Flawed", Science Alert, 16 October 2017, https://www.sciencealert.com/gene-variants-that-affect-skin-colour-suggest-the-concept-of-race-is-deeply-flawed.

/4/ Penjelasan tentang perbedaan antara etnisitas dan ras yang diajukan di atas memakai dua sumber. Lihat Neta Bomani, "Understanding the Difference between Race and Ethnicity", The Daily Dot, 30 Maret 2018, update mutakhir 8 Mei 2018, https://www.dailydot.com/irl/what-is-ethnicity/. Lihat juga Live Science Staff, "What is the Difference between Race and Ethnicity?", Live Science, 9 May 2012, https://www.livescience.com/33903-difference-race-ethnicity.html.


Sunday, April 22, 2018

Sang Sunyi

Puisiku:



My mystical poem


SANG SUNYI

Sang Sunyi
Melampaui bahasa insani
Tak dapat diungkap itu ini
Cuma bisa dimasuki
Diselami direnangi

Bak seekor ikan kecil lari-lari
Kiri kanan, kanan kiri 
Belok sana belok sini  
Laju ke depan berlari

Tak bisa sang ikan ini memahami
Tak pernah juga dia habis menyelami
Samudera luas tanpa tepi
Yang menyelubungi
Tanpa sisi tanpa pantai
Di dalamnya dia berenang kian kemari

Kedalamannya tanpa dasar
Luasnya tanpa pinggir
Geraknya abadi berpusar berputar
Keras kuat menggelegar
Lalu makin samar
Gaungnya terhantar
Abadi terlontar

Menutupi muka planet Bumi
Lautan besar tak terperi 
Bergelombang jauh lari
jauh jauh jauh lestari
Meninggalkan semua bahari
Masuk ke samudera abadi
Maha dalam maha misteri

Bergelombang menjauh meluas
Memenuhi kevakuman jagat raya
Lelautan jagat raya tanpa batas
Jauh jauh bergerak tak terkira
Memenuhi jagat-jagat raya maha luas

Tak terbatas tak terkata
Tak tertulis oleh tinta
Tak terjangkau semua indra
Ilmu pengetahuan tak setara
Agama hanya sehasta
Seberkas cahya semesta
Di hadapan jagat-jagat semesta
Mahabesar tak terkira
Namanya tak tertera 

Tak terbatas
Kreativitas
Progresivitas
Infinitas

Sang Sunyi ya sunyi saja
Misteri baka
Tanpa nama
Tanpa suara 
Tanpa kata
Tanpa angka
Tanpa bahasa
Senyap saja
Diam saja
Hening saja
Bisu saja

Tapi ramai tak terkira
Bersama trilyunan kartika
Tak terbilang oleh angka
Semua bermandi cahaya
Cahaya megabuana raya
Energi yang tak pernah sirna

Dalam selubungnya
Mulut tak bisa dibuka
Terkatup baka!
Sunyi tak terkata!
Senyap tak terutara!
Kosong tanpa udara!
Hanya ada:
AAA….!

Alpha Alpha Alpha
Tanpa omega
Tak terhingga 
Alpha Alpha Alpha

AAA ada yang datang!
Buat perahumu kosong!
Sekarang!
Jagat raya melolong!

Jakarta, 22 April 2018


Tuesday, April 3, 2018

CINTA kepada Tuhan itu akar kecerdasan

ILMU PENGETAHUAN,
JALAN AGUNG MENUJU TUHAN


AJAIB BIN HERAN. Orang yang beragama percaya betul bahwa Allah (mereka) mahatahu. Tapi selama ini mereka umumnya takut untuk mengetahui hal-hal yang disingkap oleh ilmu pengetahuan. Mereka jadi antisains.

Padahal, kalau Allah itu mahatahu, maka Allah sebagai sumber kemahatahuan, pasti juga menghendaki semua penyembah Allah ini makin tahu lebih banyak dari saat ke saat tanpa batas. Kuriositas mereka seharusnya menjadi tak terbendung.

Makin dekat ke Allah, makin dekat ke sumber kemahatahuan. Makin tahu lebih banyak. Lebih luas. Lebih dalam.

Makin tahu lebih banyak, lebih luas dan lebih dalam, makin dekat ke Tuhan sumber kemahatahuan

Nah, untuk makin tahu lebih luas, lebih dalam, dan lebih banyak hal dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan adalah jalannya, metodenya.

Jadi, ilmu pengetahuan adalah jalan agung dan mulia menuju Tuhan yang mahatahu. Jalan agung tanpa ujung.

Lurus. Juga berliku. Belok kiri atau belok kanan. Menanjak dan menurun. Kadang berkabut. Kerap cerah. Kadang sunyi dan hening. Kadang juga ramai dan gembira. Kadang di depan buram dan gelap. Kerap terang dan jelas.

Ditempuh jalan kaki, kerap juga berlari kencang. Kadang tersendat. Kadang macet beberapa waktu. Lalu lancar lagi. Tanpa titik ujung. Jalan panjang yang abadi. Cakrawala tak pernah habis terhampiri.

Mengasyikkan saat ditempuh. Banyak keajaiban dan wonder dijumpai, berpapasan tak disengaja, atau ditemukan di tengah pencarian. Menggairahkan. Membangun harapan.

Menolak ilmu pengetahuan berarti menutup jalan menuju Tuhan. Alhasil, siapapun tidak akan bisa tiba ke Tuhan jika ilmu pengetahuan ditampik, ditolak dan dibenci.

Berbahagialah mereka yang haus ilmu pengetahuan. Kepada orang yang seperti inilah Tuhan memberi minum dari mata air dan danau ilmu pengetahuan yang tak pernah kering dan tak pernah kotor.


Betapa dekatnya para ilmuwan besar ke pikiran Tuhan. Betapa jauhnya orang bodoh dari wajah Tuhan.

Sayangnya, kebanyakan orang yang beragama memilih orang jenis yang kedua. Maka sendulah hati Tuhan bak seorang bunda berduka ketika melihat anak-anaknya tidak mau sekolah, tapi hanya bertengkar dalam rumah atau tidur terus sepanjang hari.

Tuhan itu mahapecinta, mahapengasih dan mahapenyayang. God is love.

Tuhan yang mahapecinta ini juga mahatahu. Maka, niscaya, setiap orang yang hidup dalam cinta kepada Tuhan yang mencintainya, akan juga cinta ilmu pengetahuan.

Tidak ada benturan dan konflik antara cinta Tuhan dan cinta ilmu pengetahuan.

Orang yang membenturkan keduanya terus-menerus, hanya membuat Tuhan mereka jadi tidak mahatahu dan tidak mahapenyayang. Adakah Tuhan yang seperti ini, tak mahatahu dan tak mahapecinta?

Jika anda mencintai seseorang, maka sudah kodratnya anda akan berusaha serius untuk makin mengenal, memahami dan mengetahui kekasih anda itu.

Begitulah, makin besar sayang anda kepada Tuhan, makin besar juga keinginan anda untuk makin kenal, makin memahami, dan makin mengetahui Tuhan. Jalannya?

Ya lewat ilmu pengetahuan sebagai sarana dan wahana yang paling dapat diandalkan untuk tiba makin dekat dan makin dekat pada kebenaran, pada Tuhan yang tak terbatas, yang mahatahu, yang mahapenyayang.

Cintailah Tuhan dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Jika anda benar begitu, maka cinta anda kepada ilmu pengetahuan akan pasti makin dalam dan makin luas. Anda akan makin cerdas dan makin berwawasan.

Mencintai Tuhan YMTahu mustahil membuat anda jadi bodoh atau menutup dan membuang akal dan nalar anda.

Jika anda beragama, bertuhan, tapi anda jadi terlihat makin bodoh, makin picik, makin tertutup, terus-menerus menyangkal fakta-fakta yang dikuak berbagai ilmu pengetahuan, maka pasti, pasti dan pasti ada yang salah pada keberagamaan atau kebertuhanan anda.

Bukan saja Tuhan itu sang bunda yang telaten membimbing dan menyekolahkan anda, Tuhan juga sang guru atau sang dosen yang ingin anda dari waktu ke waktu bertambah ilmu, bertambah cerdas, bertambah visioner, dan bertambah penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Cinta kepada Tuhan itu akar dan sumber mata air kecerdasan, ilmu pengetahuan, dan wawasan luas tanpa batas.

Seperti seekor rusa rindu air yang memberi hidup, marilah kita juga rindu ilmu pengetahuan sebagai aliran yang membawa kita ke samudera luas mahadalam tanpa pantai, Tuhan yang mahatahu, tanpa batas.

3 April 2018
Ioanes Rakhmat

Saturday, March 24, 2018

Novel GHOST FLEET: Indonesia akan BUBAR 2030?


Update
26 Maret 2018
4 April 2018

NOVEL YANG KONON DISEBUT "KAJIAN ILMIAH" OLEH PAK PRABOWO SUBIANTO

Novel GHOST FLEET: A NOVEL OF THE NEXT WORLD WAR (tebal 416 hlm, terbit 30 Juni 2015, penerbit: Houghton Miffin Harcourt) bersahibulhikayat tentang MODERN CYBERWARS, SPACEWARS dan DRONES antara USA dan China yang didukung Rusia, dan keberhasilan China menguasai Hawaii.

Novel GHOST FLEET (artinya " ARMADA HANTU") ini sekian waktu lalu dipakai "seorang capres 2019 RI" sebagai (katanya) suatu "kajian ilmiah" untuk MENUBUATKAN NKRI akan BUBAR 2030. Supaya tidak bubar, maka, katanya, Indonesia memerlukan seorang yang kuat sebagai pemimpinnya.

Saya temukan satu review yang singkat namun informatif bagi yang belum atau tidak tergerak untuk membaca novel ARMADA HANTU ini.

Reviewer-nya (Michael Burnam-Fink, Juli 2015) skeptik banget atas prediksi novel ini yang ditulis dua orang yang dikenal sebagai "ahli strategi militer" USA, yaitu Peter Warren Singer dan August Cole.


Saya belum beli dan tentu belum baca sendiri novel ini. Mungkin juga tak perlu baca sama sekali. Lebih perlu bagi saya untuk mengikuti kajian-kajian berbagai iptek mutakhir, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan dan gangguan mental manusia.

Kita umumnya sudah tahu lewat berbagai sarana dan wahana tentang cyberwar, spacewar dan war drones. Tidak asing bagi kita. Anda tinggal menuangkan semua pengetahuan anda itu ke dalam novel-novel atau karya-karya fiksi lainnya untuk melayani kepentingan-kepentingan ideologis, politis, militer dan ekonomi anda. Tentukan saja kapan, di mana dan bagaimana perang-perang modern itu harus terjadi dan berlangsung, dan akibat-akibat global semuanya. Oh ya, tingkat kesehatan mental anda juga akan berpengaruh besar pada karya-karya fiktif ciptaan anda itu.

Nah, di paragraf pertama, si reviewer GHOST FLEET tersebut menulis demikian:

"Ghost Fleet is a kind of modern update to Red Storm Rising, where a couple of strategic types write up their vision of a future war. In this case, it's China and the US in the Pacific, with cyberwar, spacewar, and drones against good old fashioned American military professionalism. Unfortunately, it fails to live up to its vision, and the workman-like writing isn't enough to compensate."

"GHOST FLEET adalah semacam update modern atas [buku lama] Red Storm Rising. Dalam novel GF ini, dua orang 'pakar strategi militer' menuangkan visi mereka tentang suatu perang di masa depan antara China dan USA di Pasifik. Ini perang siber, perang di angkasa luar, dan drone-drone, yang digelar [China] terhadap profesionalisme militer USA yang sudah ketinggalan zaman. Celakanya, novel ini gagal menggenapkan visinya, dan kegagalan ini tak cukup dikompensasi oleh gaya penulisannya yang terlihat seperti ditulis oleh pakar yang kompeten."

Seorang penanggap tinjauan Michael Burnam-Fink atas novel tersebut menulis, "Salah satu segi yang paling mengecewakan dari buku ini adalah pendekatannya yang sangat simplistik terhadap geopolitik."

Kenapa novel ARMADA HANTU (jika frasa ini bukan kiasan, tentu ini bidang paranormal) dipakai jadi suatu "dasar ilmiah" untuk memproklamirkan NKRI BUBAR 2030, memang sebuah pertanyaan yang bikin kepala keleyengan juga. Bagi yang tidak ingin keleyengan, ya diskusi saja langsung dengan Pak PS. Semoga sesudah diskusi, keleyengan anda tidak bertambah berat.

Andaikata betul akan ada negara yang akan bubar menurut novel ini, ya negeri Uncle Sam, US, bukan negeri Raden Intan, RI. Mustinya gitu kan "logika" novelnya.

Jika perang modern yang mematikan itu betulan terjadi dengan menimbulkan dampak maut global, maka bukankah yang akan lenyap, bukan cuma bubar, bisa nyaris seluruh bangsa dan negara di muka Bumi ini, bukan hanya negara Raden Intan? Tak mungkin Raden Intan saja yang wafat.

Oh ya satu hal ini saya yakini: Indonesia lama yang serba kedodoran dan ketinggalan kereta peluru modernitas akan pasti berakhir, dalam tahun 2030 dst, karena akan diganti dengan Indonesia supermodern yang masuk 10 besar dunia, dengan very likely RRC menempati peringkat teratas.

Tentu hal itu akan pasti terjadi hanya jika Indonesia dipimpin oleh orang yang kuat, yakni kuat bukan ototnya tentu, tapi kinerjanya, visi dan misinya, kecerdasannya, strateginya, empatinya terhadap bangsa dan negaranya, belarasanya, integritasnya, keberaniannya, keteguhannya, dan kepribadiannya.

Begitu optimisme daku.

Baca selengkapnya reviews novel GF di sini
https://www.goodreads.com/review/show/1330492236.

Jika mau langsung dan cepat dapat gambaran umum isi novel ini, masuk saja ke Wiki https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ghost_Fleet_(novel).

Update 26 Maret 2018:

Seorang sahabat di FB, Ratih Dewi, telah membuat saya terdorong untuk memeriksa sejenak ebook Pdf novel GF, dan untuk mencari-cari, mendapatkan, lalu membaca cepat sebuah wawancara dengan salah seorang penulisnya. Baiklah. Berikut ini tambahan info dari saya.


Pada santapan kecil pembuka novel GHOST FLEET, hlm. 19 ebook (Pdf), terdapat fiksi berikut: Indonesia disebut "bekas Republik Indonesia". Kenapa? Karena "sudah tenggelam dalam KEKACAUAN/ANARKHI yang timbul SETELAH PERANG TIMOR KEDUA".

Jelas, dua "pakar strategi militer" USA itu TIDAK TAHU (wuiihh!) bahwa Timor (Leste) sudah merdeka 16 tahun lalu (persisnya 20 Mei 2002, dengan pengakuan internasional) saat RI dipimpin Presiden Megawati. Ini sebuah petunjuk GHOST FLEET itu sebuah fiksi, bukan prediksi (ditulis pada hlm. 7), yang memakai data dan info tentang Indonesia yang amburadul, tidak up-to-date.

Dalam seluruh novel ini, hanya ada 7 kata "Indonesia". Jadi isu tentang Indonesia sangat sangat marjinal dalam novel ini--- dus mana mungkin novel reka-rekaan ini dijadikan "dasar ilmiah" untuk menubuatkan RI BUBAR 2030. Sudahlah!

Selain itu, dalam suatu wawancara, Peter W. Singer, salah satu penulis GF, saat menyebut tahun 2030, penyebutan ini sama sekali tak ada kaitannya dengan tahun Indonesia BUBAR, tapi sebagai tahun AL China menargetkan akan memiliki 415 kapal laut, mulai dari empat kapal pembawa pesawat tempur hingga 99 kapal selam. Baca selengkapnya di sini https://www.google.co.id/amp/s/www.popsci.com/amp/talking-ghost-fleet-qa-author-peter-w-singer.


Oh ya, saya perlu tambahkan sebuah info lagi. Dalam artikel Wiki tentang novel GF yang sudah saya cantumkan link-nya di atas, baru saja ditambahkan satu paragraf tentang novel GF ini yang dipakai PS sebagai "pemimpin oposisi" dalam suatu pidato kampanyenya. Salah seorang penulis novel ini, Singer, lewat akun Twitter-nya, menyebut hal itu sebagai "pemelintiran" ("twists and turns") novelnya.

Anda perlu terjemahan cuitan Singer di akun Twitter-nya itu? Baiklah. Ini saya usahakan:

"Pemimpin oposisi [di] Indonesia mengutip #GhostFleet dalam pidato-pidato kampanyenya yang berapi-api.... Selama ini telah terjadi banyak pemelintiran yang tak diharapkan terhadap buku ini. Tetapi yang satu ini [pemelintiran oleh pemimpin oposisi itu] bisa jadi yang paling buruk/bodoh."

Memprihatinkan memang. Sudahlah.

Update 4 April 2018:

MASIH ADAKAH DI ANTARA KITA YANG BELUM TAHU?

ATAU YANG TERUS SEBARKAN DUSTA KEBANGKRUTAN EKONOMI INDONESIA?

FAKTA: PDB Indonesia telah tembus 1 trilyun USD per tahun. Ini menempatkan Indonesia dalam grup negara-negara Trillion Dollar Club. Sekarang, Indonesia termasuk 15 negara dengan ekonomi terbesar dunia. Sekarang loh. Bagaimana ke depannya? Di tahun 2030?

Jika kinerja dan prestasi pemerintah sinambung dan makin meningkat terus, di 2030 RI akan bisa masuk 10 negara ekonomi terkuat dunia.

Baca selengkapnya di http://bisnis.liputan6.com/read/3326754/sudah-tembus-us-1-triliun-ekonomi-ri-jadi-raksasa-ke-15-dunia.

Oleh The Economist Intelligence Unit, di 2050 Indonesia diprediksi akan menempati peringkat ke-4 di bawah China, USA dan India, dari 10 besar negara dengan ekonomi termaju. Lihat tabel terlampir di bawah ini.


Tentu lewat akselerasi pembangunan ekonomi dan bidang-bidang lain yang menopang, di tahun 2030 Indonesia diharapkan akan sudah bisa masuk 10 besar.

In 2018, 2030, and 2050, WHERE IS INDONESIA? She is growing, going up, improving, progressing, advancing--- becoming better and better, stronger and stronger, wealthier and wealthier, and... hopefully happier and happier.

Silakan share jika ingin.
Tq.

24 Maret 2018

Salam, 
ioanes rakhmat


Tuesday, March 13, 2018

TKA Yang "Qualified" Makin Dibutuhkan Indonesia Sekarang Ini

 CRANE iptek yang makin tinggi Indonesia perlukan

Apakah judul tulisan ini membuat anda kaget? Mudah-mudahan tidak. Tapi jika anda terkejut, ya tidak apa-apa juga.

Hingga Maret 2018 ini TKA di Indonesia meningkat hingga total mencapai 126 ribu orang, atau naik 69,85 % dibandingkan di 2016. Data ini diungkap dalam berita di sini https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20180306201957-92-280945/jumlah-tenaga-kerja-asing-membludak-mayoritas-dari-china.

Sebagian besar TKA ini datang dari China, tentu, pikir saya, karena menyewa mereka diasumsikan jauh lebih murah dibandingkan jika menyewa experts dari Barat.

Dan jika ada kerjasama ekonomi antara pemerintah Indonesia dan pemerintah China yang menjadi koridor masuknya banyak TKA China, itu berarti China telah menanam investasi besar di Indonesia yang turut menggerakkan ke depan roda perekonomian Indonesia.

Selain itu, jangan dilupakan, China sekarang sudah sangat maju luar biasa di banyak sekali bidang iptek yang membuat USA ketar-ketir dan jerih juga. Mengapa ambil TKA ahli jauh-jauh dari USA atau UK dll, kalau di China sudah tersedia?

Banyak orang tanpa perenungan dulu, langsung marah atas isi berita tentang TKA itu, lalu mereka sebut banyak hal negatif dari sana-sini yang tidak didukung bukti data faktual objektif. Yang menonjol adalah kemarahan, bahkan kebencian, tanpa perenungan mendalam.

Kalau saya baca dan pahami dengan cermat, poin-poin penting berita itu banyak, antara lain TKA tidak bisa selonongan masuk dan kerja di negeri kita. Pengawasan dan kontrol sangat ketat. Izin tinggal terbatas.

Selain itu, yang dibutuhkan adalah TKA yang qualified, cakap, kompeten dan berilmu, di bidang-bidang strategis yang tidak bisa ditangani TKI sendiri karena orang kita sendiri tidak memiliki kecakapan, kompetensi dan ilmu yang mutlak diperlukan.

Dan jangan lupa fakta ini, jumlah penduduk Indonesia besar banget, sekitar 250 jutaan, seperempat milyar orang. Jumlah 126 ribu itu berapa persennya?

Penduduk NKRI berjibun, tapi kenapa kita kekurangan SDM yang cakap dan kompeten untuk mengerjakan proyek-proyek strategis?

Jika ada segelintir WNI jenius dan cakap, kompeten dan berilmu tinggi, umumnya mereka memilih kerja di Barat atau di negara-negara maju non-Barat.

Kenapa? Ya karena "scientific culture" (budaya keilmuan) dan "science literacy" (melek iptek) belum menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besaaaaar WNI.

Dus, mereka yang cerdas itu tak betah, lalu pilih hidup dan bekerja di negeri-negeri asing yang sudah melek iptek dan budaya keilmuan di sana sudah berakar dan menjadi etos hidup sehari-hari. Lagian, gaji di sana jauh lebih tinggi kendati biaya hidup juga tinggi.

Bukan cuma gaji yang memuaskan. Keterbukaan di sana juga begitu besar pada eksperimen-eksperimen dan temuan-temuan iptek terobosan. Untuk dapat berprestasi dan kreatif serta produktif, semua ilmuwan memerlukan kondisi ini.

Tengok negeri kita sendiri, terlihat nyata, kita jauuuuuh ketinggalan dalam sangat banyak hal. Kita takut iptek. Kita takut temuan-temuan baru. Kita takut laboratorium iptek. Kita takut menjadi bangsa dan negara yang maju dan modern. Kita takut menjadi cerdas. Kita takut berpikir beda dan baru. Kita takut memasuki kawasan-kawasan yang belum dikenal untuk menyibak berbagai misteri jagat raya. Serba takut. Why?

Kita tampak melalaikan bidang riset dan pengembangan iptek modern dan pendidikan tinggi yang kompetitif dengan pendidikan tinggi di Barat dan negara-negara maju lain yang non-Barat seperti China yang kini sedang memepet USA di bidang iptek anekaragam dan ekonomi nasional dan global.

Kenapa kita lalai di bidang kemajuan iptek? Ya mungkin karena kita terlalu banyak habiskan (99 persen) waktu dan energi otak dan tubuh untuk soal-soal agama-agama melulu.

Saya usulkan jalan keluar sementara ini: pakailah 75 persen waktu kita, energi kita, dan otak kita untuk belajar iptek, untuk melakukan riset dan pengembangan iptek dan membangun keunggulan ekonomi. Ini utama, mendesak, terpenting dan tugas yang tak pernah selesai.

Meraih dan memajukan ilmu pengetahuan adalah jalan agung tanpa ujung menuju kemahatahuan Tuhan YMTahu yang diberi Tuhan tahap demi tahap, kumulatif, dinamis, dialektis dan progresif, kepada manusia lintas zaman dan lintas lokasi geografis.

Semakin anda panjang dan lebar dan dalam mencintai Tuhan anda YMTahu, maka semakin kuat anda terdorong untuk dekat pada ilmu pengetahuan, untuk terus-menerus bersama banyak orang lain membangun dan menyusun serta menguji iptek-iptek terobosan baru yang tak akan pernah habis dihasilkan.

Jika agama anda (apapun) membuat anda tak berakal lagi, tak mampu bernalar lagi, tak cerdas lagi, dan benci iptek, maka pastilah ada yang salah dalam ajaran agama yang anda telah terima.

Lalu, 25 persennya untuk urusan agama-agama. Tujuan utama dan terpenting dari kita beragama adalah untuk membuat kita berbudipekerti luhur, memiliki kebajikan, dan mampu menyayangi sesama manusia yang berasal dari anekaragam latarbelakang, dan mencintai semua bentuk kehidupan lain.

Jika itu tujuan utama kita beragama, maka planet Bumi dan kehidupan kita menjadi indah, tenteram, damai, sejuk, semarak, beranekawarna, terpelihara dan tertopang oleh kesalingbergantungan yang seimbang dan sehat antarsemua organisme.

Jika ada ajaran-ajaran agama anda (apa pun agama yang anda anut) yang membuat anda tidak bisa menyayangi sesama manusia yang berbeda latarbelakang, tidak bisa memaafkan dengan tulus orang-orang yang (anda nilai) telah berbuat salah pada anda, dan terus-menerus makin membenci mereka, tidak bisa merawat planet Bumi ini, dan tak mampu bersahabat dengan bentuk-bentuk kehidupan lain yang memiliki kesadaran, pastilah ada yang salah dalam ajaran-ajaran agama yang telah ditanamkan ke dalam hati dan pikiran anda.

Nah, jika perubahan alokasi waktu ini kita jalankan mulai sekarang, mulai di usia dini anak-anak Indonesia, tak lama lagi NKRI akan jadi salah satu dari sepuluh besar negara termaju dunia di bidang iptek dan ekonomi. Saya optimis tentang ini.

Jika setuju, tinggal action. Jika tak setuju, ya tak apa-apa. Berdoa saja.

Cukuplah segitu.

Ioanes Rakhmat

13 Maret 2018
pk. 1:00 AM