Sunday, January 14, 2018

Gen, otak, kepribadian, dan perilaku politik


Mari kita mulai dengan ajakan John Alford dkk. Mereka menulis,

"para ilmuwan politik kami desak untuk memasukkan dan memperhitungkan pengaruh-pengaruh genetik, khususnya interaksi-interaksi antara warisan genetik dan lingkungan sosial, ke dalam model-model pembentukan perilaku politik."

Sebagai pakar genetika behavioris Universitas Rice, Houston, Texas, John Alford dkk di tahun 2005 telah melakukan analisis data yang dihimpun dari dua dekade kajian genetika perilaku, termasuk juga basisdata pendapat politik dari 30.000 orang kembar dari Virginia. Analisis Alford dkk ini diterbitkan di American Political Science Review, vol. 99, no. 2, May 2005./1/ 

Menurut Alford dkk, genetika memainkan suatu peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku politik dan ideologi, tapi berperan sedang-sedang saja dalam seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan suatu partai politik. Karena sikap dan perilaku politik kita, atau perilaku lain apapun, diproses dan muncul dari kerja otak kita, maka gen orientasi politik kita mengendalikan pilihan-pilihan politik kita di dalam otak.

Alford menyimpulkan bahwa

"pilihan politik kita berakar dalam dan terbangun di dalam otak kita. Jadi, usaha mempersuasi [membujuk dan meyakinkan] seseorang untuk tidak jadi liberal [atau sebaliknya: tidak jadi konservatif] ibaratnya sama dengan usaha mempersuasi seseorang yang bermata biru untuk tidak memiliki mata biru. Jadi kita harus memikirkan kembali usaha untuk mempersuasi orang."

Jadi, bagi Alford, sama seperti mata biru itu bentukan gen yang tidak bisa ditolak seseorang yang telah dilahirkan, begitu juga halnya dengan posisi dan perilaku politik seseorang. Bagi Alford, gen itu "takdir alam" yang tak bisa dihambat, cepat atau perlahan, untuk membentuk perilaku politik dan perilaku lain apapun, meskipun gen sendiri berinteraksi dengan konteks kehidupan.

Dalam suatu tanggapan John Alford dkk terhadap keberatan beberapa kalangan terhadap usaha mengaitkan gen dengan perilaku politik, Alford dkk menulis,

"Kajian-kajian terhadap orang kembar memastikan bahwa ada suatu komponen genetik yang signifikan bagi orientasi-orientasi politik. Dus, ada alasan kuat untuk melakukan kajian-kajian lebih jauh terhadap hakikat peran itu dengan menggunakan metodologi-metodologi lain, termasuk genetika molekuler."/2/

Pada sisi lain, kini sedang tumbuh sebuah disiplin ilmu pengetahuan baru yang terkait dengan ilmu politik atau "political science" yang sudah lama dikenal. Disiplin baru ini dinamakan "neuropolitics".

"Neuropolitics" atau neurosains politik memang relatif baru dalam kajian-kajian perilaku politik. Disiplin baru ini, sebagaimana dibentangkan oleh Ingrid J. Haas dari Universitas Nebraska, mengintegrasikan ilmu politik dengan biologi, psikologi dan neurosains. Haas menegaskan bahwa "perilaku politik dapat  dipahami lewat lensa psikologi manusia, biologi dan neurosains", dilengkapi dengan neurosains kognitif dan sosial, psikologi politik dan sosial, dan studi-studi konteks.

Dengan demikian, posisi dan perilaku politik seseorang kini dipandang berakar dalam kerja otaknya, bagian dari fungsi otaknya yang khas. Hard-wired!/3/

Dalam rangka neuropolitik, baik kita tengok sejenak Liya Yu, dosen di UVA's Woodrow Wilson, Department of Politics, yang kini sedang studi Ph.D. di Universitas Columbia.

Yu menyatakan bahwa otak kita memasok ke dalam kesadaran kita banyak bias atau prasangka, di antaranya prasangka yang membuat kita berpikir bahwa orang-orang yang berbeda dari kita, orang-orang luar, "out-group", harus kita perlakukan berbeda dari orang-orang kita sendiri, orang dalam, "in-group" kita. Akibatnya, perpecahan dalam masyarakat terjadi. Kerap sangat tajam.

Selain itu, pada waktu yang bersamaan dan secara spontan, otak kita juga mendehumanisasi "out-group" dan menghumanisasi "in-group" kita sendiri. Dehumanisasi yang muncul dalam kesadaran kita yang dibawa otak sering bocor, merembes ke dalam retorika politik. Masyarakat pun makin terpecahbelah. Ketika hal ini sedang terjadi, di saat orang luar mengatakan sesuatu, otak kita menerimanya sebagai suatu serangan terhadap kita.

Dalam sikon dunia yang terpecahbelah dan penuh dengan prasangka primordial SARA semacam itu, Liya Yu berpendapat bahwa neurosains akan bisa menolong. Katanya, "Neurosains memberi suatu middle ground atau kawasan tengah terbaik untuk menangani banyak prasangka dan perpecahan politik, dan pada waktu yang sama melindungi pikiran yang mandiri dan kebebasan memilih."

Liya Yu melihat bahwa lewat banyak studi neurosains dalam tiga dekade terakhir ini, kita makin mengerti bahwa materi abu-abu (gray matter) otak kita yang terlibat dalam menjalankan fungsi penyimpanan memori, kontrol diri dan pengambilan keputusan yang dikerjakan otak kita, bertambah besar volumenya jika seseorang menerima makin banyak pendidikan dan informasi baru yang masuk ke dalam memori otak.

Pendek kata, pendidikan yang mencerdaskan dan informasi yang membuat kita tambah pengetahuan baru, jika dijalankan dan diterima dengan sinambung, akan makin memperbesar volume materi abu-abu otak kita.

Jika kondisi di atas terjadi, kita akan makin mampu mengingat, makin mampu mengontrol diri, dan makin mampu mengambil keputusan dalam banyak bidang kehidupan dengan lebih baik. Jika hal ini berjalan, politik pun akan lebih baik, lebih humanis, dan jauh dari berbagai prasangka primordial yang merusak harmoni sosial dan mendehumanisasi manusia./4/

Penyusutan volume materi abu-abu dalam otak terpantau jika seseorang makin kurang menerima pendidikan, alias jika otaknya tidak dilatih dan tidak diasah untuk berpikir dan belajar dan tidak pernah menjalani berbagai pelatihan peningkatan kecerdasan. Lewat pembelajaran dan pendidikan, otak kita mengalami apa yang dinamakan "pemetaan kembali" atau "remapping" otak, dengan akibat volume materi abu-abu meningkat.

Neuron-neuron dan materi abu-abu dalam organ otak bisa bertambah karena otak kita memiliki kemampuan neurogenesis (kelahiran neuron-neuron baru) dan neuroplastisitas yang menyebabkan penambahan atau penyusutan volume materi abu-abu.

Neurogenesis dan neuroplastisitas berlangsung di seluruh organ otak kita di sepanjang usia kita. Otak memiliki mekanisme neural yang rumit untuk bisa meremajakan diri sebelum sistem biologis kita roboh dan luruh seluruhnya karena entropi yang bekerja dalam semua sistem yang ada dalam jagat raya, baik yang biologis maupun yang nonbiologis.

Penyusutan materi abu-abu, yang berakibat penurunan tingkat kecerdasan dan kemampuan mengingat dan mengambil keputusan, dapat terjadi karena banyak hal lain. Beberapa di antaranya dapat disebut.

Dehidrasi dalam jaringan fisiologis serebral dan materi abu-abu membuat materi ini menyusut. Autisme juga ditandai oleh kurangnya materi abu-abu dalam otak. Ketika sudah lansia, materi abu-abu bahkan bagian-bagian lain tertentu dalam otak, mengalami pengerutan, dengan akibat dementia.

Selain itu, suatu studi klinis menemukan bahwa volume materi abu-abu juga menyusut akibat serangan penyakit kronis seperti osteoarthritis yang menimbulkan rasa sakit. Dalam kasus ini, penyusutan materi abu-abu terjadi di anterior cingulate cortex (ACC), right insular cortex and operculum (RICO), dorsolateral prefrontal cortex (DLPC), amygdala, dan batang otak (brain stem). Jika penyakit kronis ini ditangani dengan baik dan rasa sakit hilang, penyusutan volume materi abu-abu terhenti lalu berangsur kembali ke volume normal./5/

Kembali ke John Alford dkk yang melihat perilaku politik seseorang dibentuk oleh gen. Alhasil, menurut mereka, genetika molekuler perlu diintegrasikan ke dalam ilmu politik. Posisi Alford dkk ini banyak yang menentang.

Mari sekarang fokus kita arahkan ke psikolog Frank Sulloway, psikolog John Jost, dan dua genetikus behavioris Brad Verhulst dan Peter Hatemi. Mereka mencari variabel-variabel lain yang ikut menentukan pilihan-pilihan politik seseorang./6/

Frank Sulloway, psikolog dari Universitas California, Berkeley, menolak pendapat Alford. Dengan ringkas Sulloway menyatakan bahwa

"Tidak ada suatu gen dalam diri kita yang membuat kita benci kaum hippies."

Sulloway selanjutnya menegaskan bahwa poinnya bukanlah bahwa kita memiliki gen-gen politik, melainkan bahwa pilihan-pilihan politik kita dipengaruhi kepribadian kita.

Tentu ada bagian-bagian kepribadian kita yang diwariskan secara genetik, atau ikut dibentuk oleh faktor-faktor hormonal epigenetik yang terproduksi dalam rahim setiap bunda yang terkait dengan kondisi-kondisi mentalnya selama mengandung. Tetapi masih ada lebih banyak faktor lain yang ikut membentuk kepribadian kita.

Di tahun 2003, John Jost, psikolog Universitas New York, bersama kawan-kawannya, melakukan riset atas 88 studi yang mencakup lebih dari 20.000 orang di 12 negara.

Ada sejumlah temuan John Jost. Antara lain, ada beberapa sifat dan watak kepribadian yang terhubung dengan pilihan politik. Tetapi ada jauh lebih banyak faktor kepribadian yang berpengaruh terhadap pilihan politik seseorang, ketimbang yang selama ini diduga.

Misalnya, orang yang takut mati ternyata lebih banyak yang menjadi konservatif, selain juga karena sifat mereka yang kaku dan berpembawaan dogmatis. Pada sisi lain, orang yang suka dengan pengalaman-pengalaman baru condong menjadi liberal. Di samping itu, Jost juga menemukan bahwa kalangan konservatif lebih menyukai lukisan-lukisan, puisi-puisi dan nyanyian-nyanyian yang jelas, tidak abstrak, dan sederhana.

Berbeda dari Alford dkk, Jost tidak mencoba mengaitkan perilaku-perilaku personal tersebut dengan suatu gen spesifik seseorang. Dia menempatkan perilaku-perilaku tersebut dalam model-model kepribadian yang ada, misalnya model yang membagi kepribadian manusia dalam lima tipe, yakni:

1. Tipe hati-hati, cermat, penuh pertimbangan, peka pada suara hati (tipe "conscientiousness")
2. Tipe terbuka, mau maju, berubah dan berkembang (tipe "openness")
3. Tipe terarah keluar, mengarahkan tenaga, waktu, pikiran dan perhatian ke hal-hal lain di luar diri sendiri (tipe "extroversion")
4. Tipe peramah, mudah serasi, kooperatif, memahami orang lain, menyenangkan (tipe "agreeableness")
5. Tipe neurotisis, yakni orang yang serba takut, tak bisa bergaul, serba kaku, tak mampu beradaptasi, mudah stres, menyimpang dari norma-norma sosial yang umum (tipe "neuroticism")

Jost menemukan dari lima tipe kepribadian ini, tipe pertama hingga tipe ketiga memang berhubungan dengan perilaku politik. Tipe keempat dan tipe kelima kurang berdampak pada perilaku politik.

Tentu tipe-tipe kepribadian ini dapat diturunkan secara genetik. Dalam beberapa studi ditemukan ihwal sejauh mana seseorang dapat menjadi pribadi yang terbuka (tipe "openness") memang terkait dengan perbedaan-perbedaan genetik. Begitu juga, sifat mudah bergaul dan bersosialisasi dipengaruhi oleh hormon-hormon neurotransmitter dalam otak.

Berhubung hormon-hormon otak yang dialirkan ke seluruh tubuh ini terkait dan dikendalikan juga oleh gen-gen, maka tipe-tipe kepribadian, misalnya kepribadian yang terbuka, dus juga perilaku politik, dalam taraf-taraf tertentu dikendalikan oleh gen-gen. Tetapi ini belum menjelaskan semua persoalan.

Sebagaimana sudah diungkap di atas, ada faktor epigen juga yang bekerja saat seorang bunda mengandung. Jika di saat mengandung sang bunda ini mengalami banyak stres mental, hormon stres kortisol yang terproduksi dalam tubuh si bunda teralirkan ke dalam otak bayi yang sedang dikandungnya. 

Kortisol sangat mengurangi kemampuan placenta untuk menyaring nutrisi dan zat-zat lain yang lewat sang bunda masuk ke tubuh si janin atau si bayi. Dalam placenta, karena stres si bunda, jumlah enzim 11 beta-HSD2 yang berfungsi untuk menghancurkan kortisol jauh berkurang. Akibatnya, hormon stres masuk ke otak si janin atau si bayi yang selanjutnya menghambat perkembangan otak si janin.

Alhasil, sudah ada epigen stres yang diwariskan ke si bayi lewat hormon, dan sifat personal mudah stres atau neurotis atau bahkan kelambanan kerja otak akan menjadi bagian dari kepribadian si bayi sejak dilahirkan dan seterusnya. Tapi dengan pengasuhan yang baik, penuh kasih sayang, dan kehidupan yang berlangsung dalam lingkungan yang bersahabat dan menopang, epigen stres ini tidak akan berpengaruh besar pada si bayi ketika dia tumbuh makin besar dan menjadi dewasa.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa meski gen-gen berpengaruh dalam taraf-taraf tertentu pada kepribadian, atau bahwa setiap tipe kepribadian memiliki inti genetiknya, tapi faktor inti genetik ini bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan politik seseorang.

Kita semua tentu sepakat bahwa pilihan politik hanya dapat kita ambil setelah kita tumbuh dewasa, dalam arti setelah kita memahami politik. Faktor genetik dari kepribadian kita yang berkaitan dengan pilihan politik baru aktif dan bekerja setelah kita tumbuh dewasa.

Juga jangan dilupakan bahwa sementara kita tumbuh dewasa dan makin matang, dan pengetahuan-pengetahuan dan informasi-informasi kita peroleh lebih banyak lewat pendidikan dan pergaulan dan bacaan-bacaan, kemungkinan untuk kita berubah sangat besar. Materi abu-abu otak kita makin besar volumenya.

Brad Verhulst, genetikus behavioris dari Universitas Commonwealth, Virginia, Amerika, bertanya "apakah kepribadian dan politik berhubungan kausal? Yang satu menjadi penyebab yang lainnya?" Verhulst menjawab bahwa "Suatu hubungan antara kepribadian dan kecenderungan politis adalah suatu hal yang sepenuhnya masuk akal untuk diharapkan."

Tapi dalam studinya yang melibatkan sampel 28.877 orang dari Daftar Kembar Mid-Atlantic (daftar yang dikenal sebagai Virginia 30.000 yang sudah dirujuk di atas) dan lewat studi lainnya yang berupa kajian longitudinal yang terpisah (yang mengobservasi lebih dari dari 8.000 kembar dan orang-orang yang sesaudara selama 10 tahun), Brad Verhulst tidak menemukan bukti adanya hubungan kausal antara pilihan politik dan kepribadian.

Sebaliknya, Verhulst menemukan hubungan dan jejaring yang jauh lebih rumit terkait pilihan-pilihan politik seseorang.

Ditemukan, pilihan-pilihan politik dan sifat-sifat kepribadian ditentukan bukan hanya oleh faktor genetik, tetapi lebih kuat oleh faktor-faktor lain yang berasal dari lingkungan kehidupan seseorang (dinamakan faktor-faktor environmental) yang sudah bekerja jauh lebih awal sebelum seseorang mengambil posisi politiknya, bersamaan dengan peran gen yang potensial (dus, belum pasti efektif) berpengaruh tahap demi tahap.

Dengan kata lain, politik, gen dan kepribadian dapat berhubungan. Tapi fakta bahwa seseorang itu liberal tidak otomatis membuatnya lebih toleran, sama halnya sifat toleran tidak otomatis berarti orangnya liberal sejati dan konsisten. Lingkungan ikut berperan kuat. Gaya hidup juga. Kesehatan tubuh dan mental juga memberi andil.

Dalam kajian Virginia 30.000, Verhulst menemukan bahwa sementara ada hubungan yang sedang-sedang saja antara sifat seseorang dan pilihan politiknya (misalnya, antara pandangan ekonomi yang konservatif dan kadar neurotisisme), namun tidak ada bukti yang memperlihatkan ada hubungan kausal antara keduanya.

Studi-studi genetik memang tricky, mudah mengecoh, berhubung kita cenderung berpendapat bahwa gen kita serba berkuasa dalam menjadikan siapa dan bagaimana kita secara fisik dan mental. Padahal tidak begitu.

Karena itu, Verhulst dan Peter Hatemi mencoba melakukan suatu kajian longitudinal, yakni dengan mengikuti kehidupan sekelompok orang dari waktu ke waktu, memetakan kecenderungan-kecenderungan politik dan kepribadian mereka, dan memantau dan melihat apakah jika kepribadian tumbuh dan berubah, pilihan politik juga akan berubah, dan sebaliknya.

Dalam studi longitudinal ini, dua peneliti itu memakai dua kelompok sampel. Yang pertama terdiri atas 7.610 kembaran dewasa dan orang seayah seibu yang berusia antara 19 dan 28 tahun di tahun 1980. Sampel kedua mencakup remaja muda yang terdiri dari 1.061 kembaran dan orang sesaudara, yang berumur antara 16 dan 19 tahun, di tahun 1998. Masing-masing kelompok orang ini diuji dalam dua gelombang, satu sama lain terpisah jarak 10 tahun.

Pada dua kelompok ini para peneliti  memperhatikan perilaku dan sifat kepribadian mereka dan perilaku dan posisi politik mereka (seperti pandangan mereka tentang aborsi, perkawinan sejenis, dan tanggapan-tanggapan mereka terhadap pernyataan-pernyataan seperti "Aku percaya bahwa kita harus mencari dan mengikuti sepenuhnya pemuka-pemuka agama kita dalam mengambil keputusan-keputusan moral.").

Apa yang mereka temukan?

Ternyata kepribadian orang-orang yang sedang diteliti terus-menerus bergeser dan berubah seiring perjalanan waktu, tidak dalam tingkat yang besar dan sekejap, tetapi jelas teramati dengan baik.

Ditemukan bahwa lambat-laun orang dapat berubah, entah makin tambah atau makin kurang ekstrovert, makin mudah atau makin sulit berkompromi, atau makin lebih berhati-hati dan berhatinurani atau malah makin ceroboh dan kehilangan nurani. Dalam hal-hal lain, kondisi mental yang  berubah positif atau yang berubah negatif juga ditemukan.

Tapi dalam perilaku politik, terpantau relatif lebih stabil baik di kalangan dewasa maupun di kalangan remaja. Orang yang konservatif sejak usia lebih muda cenderung tetap konservatif ketika usia bertambah.

Poin terpenting yang mereka temukan adalah ini: perubahan kepribadian tidak memprediksi perubahan posisi dan perilaku politik. Dus, Verhulst dan Hatemi menyimpulkan bahwa "sifat-sifat kepribadian dan perilaku politik adalah hal-hal yang tidak saling bergantung, satu sama lain mandiri, dari struktur bangunan arsitektural psikologi seseorang."

Meski mereka tidak menutup kemungkinan adanya korelasi antara sifat-sifat kepribadian dan sejumlah kepercayaan ideologis, mereka bertanya apa makna korelasi ini. Soalnya, kepribadian seseorang berperan di semua aspek kehidupan yang dijalani meskipun bukan satu-satunya faktor penentu.

Lantas mereka menyimpulkan bahwa "kami tidak menemukan bukti bahwa ciri dan sifat kepribadian memainkan peran kausal dalam pembentukan perilaku politik. Kalaupun ada korelasi ini, korelasinya tidaklah kausal langsung. Ada banyak faktor lain yang berperan."

Kesimpulan yang saya dapat tarik adalah:

1. Tidak ada hubungan kausal linier antara gen dan epigen dan sikap, perilaku dan posisi politik seseorang.
2. Artinya, tidak ada gen yang langsung bertanggungjawab atas, atau membentuk, perilaku liberal atau perilaku konservatif, atau sikap antisains atau sikap pro-sains, atau perilaku humanis atau perilaku antihumanis.
3. Instruksi genetik tidak otomatis akan efektif mencetak keseluruhan kondisi fisik dan mental setiap orang. Pengondisian genetik selalu berlangsung dalam interaksi dengan pengondisian oleh berbagai faktor eksternal seperti pendidikan, pengasuhan, lingkungan hidup, ekologi dan gaya hidup
4. Aneka ragam sifat dan pembawaan kepribadian yang terus berubah seiring dengan perjalanan waktu jelas ikut berpengaruh, dengan kadar yang berbeda, dalam seseorang mengambil posisi politik dan perilaku politiknya.
5. Selain ilmu politik yang sudah dikenal selama ini yang juga dikembangkan secara interdisipliner, sudah saatnya kini neuropolitik juga diperhitungkan dengan sungguh-sungguh dalam setiap usaha memahami dan memprediksi sikap dan perilaku politik seseorang.
6. Sikap, perilaku, posisi dan orientasi politik seseorang ada yang relatif bersifat menetap kendati usia makin bertambah, dan ada juga yang berubah karena adaptasi, penambahan pengetahuan dan informasi dan kesehatan otak yang makin baik.
7. Perilaku dan orientasi politik seseorang muncul sebagai interaksi dari banyak faktor, yang dapat berlangsung linier dan terprediksi, tapi juga dapat multilinier dan tidak terprediksi.
8. Akhirnya, setiap individu harus mempertanggungjawabkan sendiri dengan dewasa setiap sikap dan perilaku serta orientasi politik mereka. Gen atau otak atau lingkungan kehidupan tidak bisa dijadikan kambing-kambing hitam atas setiap sikap dan perilaku politik seseorang, apalagi yang destruktif, meskipun sikap dan perilaku politik muncul akibat pengondisian banyak faktor internal dan eksternal. Tanpa pengondisian, kehidupan individual yang bebas untuk memilih tidak pernah ada.

Jakarta,
Minggu, 14 Januari 2018

Ioanes Rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Lihat John R. Alford, Carolyn L. Funk dan John R. Hibbing, "Are Political Orientations Genetically Transmitted", American Political Review vol. 99, no. 2, May 2005, pp. 153-167. Terpasang juga di https://www.cambridge.org/core/journals/american-political-science-review/article/are-political-orientations-genetically-transmitted/C6D3A60FBE6779C8E6E798600785A4C9.
John Alford dikutip juga dalam Jim Giles, "Are Political Leanings All in the Genes", New Scientists, 30 January 2008, https://www.newscientist.com/article/mg19726411-800-are-political-leanings-all-in-the-genes.

/2/ Lihat lebih lanjut John R. Alford, Carolyn L. Funk dan John R. Hibbing, "Twin Studies, Molecular Genetics, Politics, and Tolerance: A Response to Beckwith and Morris", Perspective on Politics, vol. 6, issue 04, Dec 2008, pp. 793-797.

/3/ Lihat Ingrid J. Haas, "Political Neuroscience", University of Nebraska, Lincoln, Political Science, 2016, https://digitalcommons.unl.edu/poliscifacpub/74/. Diterbitkan juga di Neuroimaging Personality, Social Cognition, and Character, edited by John R. Absher and Jasmine Cloutier (Academic/Elsevier, 2016), pp. 355-370.

/4/ Lebih lanjut lihat Katie McNally, "This Is Your Brain on Politics: The Neuroscience That Shapes Our Views", UVAToday, 2 March 2017, https://www.news.virginia.edu/content/your-brain-politics-neuroscience-shapes-our-views.

/5/ Lihat Rea Rodriguez-Raecke, Andreas Niemeier, Kristin Ihle, Wolfgang Reuther, Arne May, "Brain Gray Matter Decrease in Chronic Pain Is the Consequence and Not the Cause of Pain", The Journal of Neuroscience, 4 Nov 2009, vol. 29 (44), pp. 13746-13750.

/6/ Uraian selanjutnya disarikan dari Maria Konnikova, "Politics and Personality: Most of What You Read Is Malarkey", The New Yorker, 23 August 2016, https://www.newyorker.com/science/maria-konnikova/politics-and-personality-most-of-what-you-read-is-malarkey. Lihat juga Josh Hill, "Are You Conservative or Liberal? Your Political Preferences Might be Hard-Wired", The Daily Galaxy, 11 Feb 2008, http://www.dailygalaxy.com/my_weblog/2008/02/are-political-a.html.



Tuesday, January 9, 2018

Cari jodoh, nikah, lalu cerai. Urusan siapa?

ADA YANG TANYA SAYA:
Wujud cinta terbesar apa? 

JAWAB SAYA: 
mengampuni orang yang bersalah ke kita, meski dia belum minta maaf; merangkul dan memeluknya kembali ketika dia datang dan meminta maaf ke kita; lalu jalan bersama lagi dalam suatu kehidupan bersama yang lebih diperkuat.
☆ Ioanes Rakhmat


Pilih-pilih jodoh, lalu nikah, ya ini urusan dan  keputusan si pasangan manusia yang menikah itu sendiri. Masak urusan dan keputusan Tuhan? Yang mau nikah siapa? Kan anda.

Manusia itu, meskipun organisme cerdas, rentan berpikir salah, atau lupa, atau rentan menyangkal dan menolak pikirannya sendiri yang sebetulnya sudah benar. Akibatnya, kita semua rentan mengambil keputusan dan sikap yang salah. Dalam hal teman hidup, kita rentan salah dalam menjatuhkan pilihan. Atau si pria A dipaksa menikahi si wanita B karena si B ini sudah dihamili oleh si A meskipun cinta sejati si A ditujukan ke si D yang juga jadi ikut patah hati.

Atau anda diharuskan nikah oleh orangtua anda dengan pasangan yang anda tak cintai sedikitpun karena orangtua anda ingin meraih manfaat ekonomis atau manfaat politis dari perkawinan anda. Anda tak kuasa melawan. Pesta nikah anda besar-besaran. Pernikahan anda diberkati di gereja dalam suatu ibadah yang di dalamnya anda diwajibkan bersama pasangan anda mengucapkan janji setia seumur kehidupan anda. Dengan hambar saja anda ucapkan janji setia itu.

Tentu saja masih banyak kejadian lain yang tragis terkait pilihan pasangan hidup yang tidak sesuai dengan isi hati dan pikiran pasangan yang menikah.

Nah dalam kasus-kasus di atas, apakah Tuhan yang salah? Ya tidak. Apakah Tuhan yang mutlak menentukan jodoh anda, satu orang dan satu kali untuk selamanya? Ya tidak. Lantas siapa? Ya anda sendiri penentu jodoh anda, bisa mandiri jika anda kreatif, bisa juga lewat bantuan orang lain atau bantuan suatu biro jodoh jika anda tidak kreatif. Mencari dan menemukan jodoh, adalah suatu seni kreatif.


Rumah tangga bermasalah berat, tambal-sulam tak menolong, lalu berantakan. Pasangan memutuskan cerai. Ya cerai juga buatan si pasangan manusia. Masak harus  keputusan dan buatan Tuhan?

Kata orang saleh, apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia.

Kalau memang begitu, mustinya tidak ada satupun pernikahan orang saleh yang tidak berbahagia, yang berantakan, lalu karam, pecah berhamburan. Jika karam, artinya kan Tuhan tidak berdaya menjaga keutuhan dan kebahagiaan langgeng suatu pernikahan pasangan yang Tuhan sudah persatukan. Artinya, jika karam, bukan si pasangan manusia yang salah, tapi Tuhan yang salah. Masak begitu?

Atau, supaya tidak ada perceraian, semua pernikahan harus dibuat Tuhan serba sempurna! Ah anda ngelindur! Anda mulai ngatur-ngatur Tuhan.

Pernikahan anda sendiri, sorga atau neraka? Jawablah dengan jujur. Jika neraka, apakah anda tidak boleh keluar, meninggalkan neraka itu? Saya tak yakin, anda akan punya daya tahan untuk hidup abadi dalam panggangan api neraka rumah tangga anda. Atau, anda sosok Iron Man?

Lagipula, tak ada UU negara yang berhukum positif yang melarang perceraian jika sang hakim dll di pengadilan gagal mendamaikan dan merujukkan kembali pasangan yang mau bercerai lewat proses hukum.

Jika semua-muanya dikembalikan ke Tuhan, loh apa gunanya manusia diberi Tuhan kemampuan berpikir, menimbang-nimbang lalu mengambil keputusan?

Neokorteks pada lapisan terluar terbesar otak anda itu (juga ada pada Kera-kera Besar, gajah, dan lumba-lumba) bukan sebuah fosil purba. Neokorteks inilah yang membuat anda mampu berpikir rasional, bernalar, menimbang-nimbang lalu mengambil keputusan. Siapa pemberi neokorteks ini? Ya Tuhan, masak setan?

Ingatlah, sekalipun otak kita punya neokorteks, kita tetap rentan salah dalam banyak hal. Pikiran kita bukan pikiran Tuhan, tapi tetap pikiran kita sendiri. Jangan sekali-kali berpikir bahwa anda sudah menjadi Tuhan atau pikiran anda pikiran Tuhan yang tidak bisa salah. Tak ada sesuatu hal lain apapun yang mahatakterbatas dan mahatahu, kecuali Sang Mahatakterbatas dan Sang Mahatahu itu sendiri, yaitu Tuhan.

Karena kita bukan Tuhan yang tidak bisa salah, tak pelak lagi kita perlu selalu siap mengoreksi dan mengubah pendapat-pendapat, pandangan-pandangan, harapan-harapan, keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap serta keputusan-keputusan kita, jika fakta-fakta dan bukti-bukti dan kondisi-kondisi kehidupan kita mengharuskan.

Tetapi kesiapan mengubah dan berubah ini semua bisa tidak ada dalam diri anda jika anda sudah diikat kaku dan kuat oleh iman dan keyakinan keagamaan anda yang anda absolutkan.

Jika hidup beriman anda kaku dan kejang begitu semacam yang telah saya gambarkan di atas, pasti gak enak betul, karena anda hidup dalam penjara iman anda. Padahal, iman itu seharusnya membebaskan anda untuk hidup otentik, cerdas dan dewasa, bukan hidup penuh kemunafikan, tak berakal dan kekanak-kanakan.

Jodoh itu anda cari dan pilih di Bumi, bukan diturunkan dari langit.

Anda tidak mungkin mendadak kejatuhan dari sorga satu sosok malaikat yang luar biasa tampan atau super cantik dan maha sempurna ke dalam pelukan anda. Kalau ini terjadi, ya hanya dalam dongeng-dongeng kasmaran.

untuk mama dan papaku!

Menikah itu ibarat menempuh perjalanan panjang, meniti sebuah jembatan gantung yang selalu dihembus angin, yang menghubungkan dua puncak gunung yang berjauhan. Pasangan suami-isteri, bukan Tuhan, yang harus meniti jembatan gantung yang tinggi dan panjang ini. Caranya, ya terserah masing-masing pasangan bersama-sama.

Ingat, jika meniti bersama, bergandengan tangan, saling menjaga, diikat cinta kasih tanpa batas, sederap, barulah jembatan gantung yang panjang dan tinggi dan bergoyang itu akan dapat dilewati bersama dengan perjuangan berat. Ini pernikahan ideal. Tapi realitas tidak selalu begitu.

Jika ada banyak pasangan suami-isteri sampai akhirnya memutuskan cerai, itulah realitas. Cinta kasih tanpa batas, ada di mana? Saya tak tahu jawabnya. Tapi ada suatu ungkapan metaforis yang bagus: Tuhan itu cinta, God is love. Apakah cinta Tuhan yang tanpa batas ini real dialami semua orang? Ya anda sudah tahu jawabannya.

Dalam diri saya, tentu ada cinta, sebagai benih yang terus tumbuh, tumbuhnya perlahan dan tidak pernah selesai, selalu terbatas sekaligus selalu berkembang. Jatuh bangun, bangun jatuh, tapi bergerak ke depan, meniti jembatan gantung itu, baru seperempat jalan. Banyak juga pasangan yang sudah berhasil mencapai tiga perempat jalan.


Tapi banyak juga pasangan yang terjungkal begitu mulai atau tak lama setelah meniti jembatan gantung ini, jatuh melayang ke dalam lembah kelam jauh di bawah, tak kuasa melawan forsa gravitasi. JATUH CINTA itu elok, suatu awal yang, jika berbalas, dapat bermuara pada  suatu perkawinan. Tapi, CINTA JATUH itu tidak elok, karena pasti menghancurkan suatu ikatan perkawinan. Tapi, forsa gravitasi tidak ikut campur baik dalam hal jatuh cinta maupun dalam hal cinta jatuh.

Jadi, dalam soal mabuk kasmaran, atau dalam hal badai cinta jatuh lalu cerai, jangan salahkan gravitasi atau cari-cari kesalahan lewat dalil-dalil lain.

Tak perlulah anda stres dan geram lalu buat petisi segala untuk mencegah suatu rencana perceraian orang lain. Ingat loh, yang mau cerai itu orang lain, bukan bagian keluarga anda. Sekalipun kitab suci anda sama, anda bukan orang dalam. Anda orang luar.

Bukankah kata anda, kalau Tuhan sudah mempersatukan, tak ada yang dapat menceraikan? Jika anda konsisten, ya serahkan saja urusannya kepada Tuhan. Gak perlu bikin keramaian. Sunyi dan hening itu indah dan nikmat.

Jakarta, 9 Jan 2018
ioanes rakhmat


Monday, December 25, 2017

Natal, peristiwa Tuhan mencari manusia?


"Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri,..." (Yesaya 45:15)


Semalam mulai pk. 20:00 WIB, Minggu, 24 Desember 2017, saya bersama isteri dan puteri saya ikut kebaktian Natal di sebuah gereja di kawasan Jakarta Barat. Banyak warga yang ikut kebaktian. Saya senang dapat bertemu dan berbincang dengan banyak kawan lama. Melantunkan lagu-lagu gereja. Paduan suara gereja terdengar teduh dan riang. Lilin-lilin kecil pada saatnya dinyalakan. Indah berkelap-kelip. Nyanyian Holy Night dilantunkan bersama dengan syahdu. Sunyi. Kosong. Lengang. Senyap. Sendiri. Meski ramai dan penuh.

Dalam khotbah Natalnya, sang pendeta memberi penekanan utama pada ihwal Tuhan mencari manusia dengan dia turun ke dalam dunia, lahir sebagai sesosok bayi insani di sebuah kandang dan dibaringkan di sebuah palungan.

Seusai kebaktian, di luar pintu gerbang gereja, sang pendeta itu (DCN) bertemu lagi dengan saya, lalu kami terlibat percakapan pendek. Pada kesempatan itu, saya katakan kepadanya, bahwa ungkapan teologis "Allah mencari manusia" sebetulnya tidak tepat sebab berkontradiksi dengan sifat Tuhan sebagai YMTahu dan YMHadir.

Jika Tuhan MTahu, ya dia sudah tahu di mana setiap orang berada. Dia tak perlu mencari-cari. Jika Tuhan MHadir, maka di manapun kita berada, di saat apapun, Tuhan juga sudah tahu keberadaan kita masing-masing. Dia tak perlu mondar-mandir, ke sana sini, celingukan, turun lembah, naik gunung, mencari-cari kita hingga lelah. Juga tak perlu Tuhan keluar masuk berbagai mall, kebon, hutan, taman rekreasi atau universitas.

Lalu saya usulkan, pakailah metafora permainan petak umpet. Tuhan sengaja menyembunyikan dirinya dari kita. Nah, kitalah yang mencari-cari Tuhan yang tersembunyi, diam, sunyi, tak berbunyi, tak berisik, tak ada indikasi di mana dia sembunyi dan merunduk. Karena kita tidak mahatahu dan tidak mahahadir, kita betul-betul tidak tahu di mana Tuhan berada.

Dalam mencari Tuhan, dalam permainan petak umpet ini, kita suatu ketika dapat melihat Tuhan di suatu tempat persembunyiannya, punggungnya terlihat sekelebat. Lalu kita yang sedang mencari Tuhan, secepat angin berlari menuju tempat Tuhan yang bersembunyi, yang sedang kita cari-cari. Ingin kita sentuh dan belai punggungnya.

Eeh, sayangnya, begitu kita sudah di dekatnya dan mau meraih dan membelai dan menepuk punggung belakang Tuhan, segera saja Tuhan menjauh lagi, jauh, jauh, jauh, bersembunyi lagi di balik punggung gunung di seberang atau melompat ke dalam telaga tanpa tepi dan tanpa dasar, atau melompat tinggi jauh ke angkasa, ke balik awan. Tuhan hilang lagi. Tersembunyi lagi. The hidden God. Kita cari-cari lagi.

Terlihat lagi, ujung jubahnya berkibar. Kita kejar dengan berlari. Eh hilang lagi. Sembunyi lagi. Terlihat lagi ujung rambutnya yang gemulai berkilau ditiup angin, lalu kita secepat kilat ngebut berlari ingin memegang dan mencium rambutnya yang semerbak. Sayangnya, Tuhan menghilang lagi, sembunyi lagi, jauh lagi.

Hilang
Ketemu
Hilang lagi
Terlihat
Tapi lenyap lagi
Sudah dekat
Dekat sekali
Eh jauh lagi
Di depan mata
Tahu-tahu sudah pindah lagi
ke seberang lautan tanpa pantai

Oh Tuhanku
Asyik bermain petak umpet denganmu
Tak pernah aku bisa menguasaimu
Dalam genggaman dan dekapanku

Selalu engkau berhembus berlalu
Sang Bayu yang semilir lalang-lalu
Tak pernah engkau masuk jaringku
Tak bisa engkau kukunci dalam saku

Bergairah aku karena rindu
Meski kita tak akan pernah menyatu
Walau dalam cinta kita satu
Kita terpisah dalam rantau 

Berlari-larian kita selalu
Sembunyi-sembunyian di balik batu
Sang waktu tak sempat berlalu
Meski lonceng berbunyi bertalu-talu

Bermain petak umpet dengan Tuhan, pasti bukan cuma pengalaman saya sendiri.

Ini adalah pengalaman setiap peziarah, setiap musafir, yang menghayati kebertuhanan sebagai sebuah play, sebuah rekreasi, sebuah perjalanan, suatu pelayaran, penuh kegembiraan sekaligus kesunyian dan perasaan kerendahhatian.

Menolak absolutisme. Menolak triumfalisme. Menjauhkan diri dari superiorisme. Tak membusungkan dada. Tapi tertunduk kagum dan gentar pada dia YMTakterbatas, YMTahu, YMHadir.

Sang Tuhan yang selalu mengelak, berkelit, lalu menjauh, lepas, terbang dan berlari ke arah lain, ketika dia mau kita tangkap, cengkeram, genggam dan kuasai. The elusive God.

Selamat hari Natal!
Kapan pun dan di manapun, saat engkau mencari pengetahuan, menabur cinta dan kebajikan, hidup aktif dan ceria, itulah Natal.

Jakarta, 25 Des 2017
ioanes rakhmat


Thursday, December 21, 2017

Melihat Punggung Tuhan

MELIHAT PUNGGUNG TUHAN

SEORANG PENDETA YANG JELITA, tadi pagi, seperti sudah 10 hari terakhir ini dia lakukan, mengirim lewat WA sebuah mem ucapan selamat pagi ke saya.


Gambar mem tersebut bagus. Tertulis pada mem itu kata-kata Inggris "Good Morning" dan sekian baris lain kata-kata indah.

Dalam bahasa Indonesia bunyinya begini:

TUHAN itu ada: 
di atasmu untuk memberkatimu
di bawahmu untuk menopangmu
di kiri kananmu untuk mengawalmu
di belakangmu untuk mendorongmu maju
di depanmu untuk memimpin

Lalu saya jawab:

Thank you. Tapi Tuhan dengan kita juga main petak umpet. Tak kelihatan di mana pun walau ada.

Dia menjawab:
Wah itu pengalaman sendiri ya?

Saya jawab lagi:

Kita semua, anda dan saya dan orang lain, sedang bermain petak umpet dengan Tuhan. Atau lebih tepat: Tuhan sedang bermain petak umpet dengan kita. Ini ketetapan jagat raya. Abadi. Tanpa akhir.

Bermain terus dengan ceria, lari-larian dengan bebas, sekaligus bisa melelahkan, bak kehabisan tenaga, keduanya.

Segera sang pendeta manis itu bertanya:

Kenapa tidak deal dengan Tuhan untuk bisa bertemu, saling tatap, saling genggam habis, dan saling merangkul?

Jawab saya pendek saja:
Dua pihak tidak seimbang.

Sang pendeta itu penasaran bertanya:
Duuh, kok gitu? Kesimpulannya apa dong?

Saya jawab lagi dengan kata-kata ini:

Dalam kehidupan beriman, kita tidak akan pernah bisa melihat Tuhan seluruhnya.

Kalaupun terlihat, yang terlihat hanya bagian punggung belakang Tuhan, sekelebat. Tuhan bergerak di depan kita menuju masa depan. Kita cuma bisa lihat bagian punggungnya.

Kita harus berlari maju, mengejar Tuhan, jika mau menyentuh Tuhan, seperti dalam permainan petak umpet. Kita yakin kita bisa mengejar dan memegang Tuhan. Untuk itu, tidak mungkin kita berlari mundur.

Tapi, begitu sudah dekat, dan kita mau sentuh dan pegang, Tuhan selalu mengelak.


Tuhan tahu-tahu cepat bersembunyi lagi di balik gunungan bebatuan yang jauh, atau di belakang kumpulan batang-batang pohon besar di dalam hutan tak bertuan, atau Tuhan melompat dan menyelam ke dalam danau tanpa dasar dan tanpa tepi.

Tuhan itu elusive. Selalu ngeles jika mau digenggam erat. Tuhan hanya bisa dilihat, tidak bisa dicengkeram, sebagian demi sebagian jika kita maju, berlari maju, ke depan, tidak bisa berlari mundur. Jika kita berlari mundur, kita akan pasti keserimpet lalu terjengkang jatuh. Kita terluka. Makin jauh dari punggung Tuhan.

LALU SANG PENDETA jelita yang suka berkomunikasi via WA ke saya itu menjawab saya dengan mengirim sebuah emotikon wajah kera yang menutup dua matanya dengan dua belah tangannya.

Entah kenapa dia kirim emotikon itu. Mungkin dia tidak mau baca jawaban terakhir saya itu yang dia sudah baca.

Selamat bermain petak umpet.

Salam, 
ioanes rakhmat

21 Des 2017

Silakan share jika ingin. Tq.


Saturday, December 16, 2017

Gempa Bumi dan Kesalehan Keagamaan

GEMPA KUAT 7,3 SR SEMALAM (JUMAT, 15 Des 2017, pukul 23:47:57) dan KESALEHAN KEAGAMAAN


Seorang nona pekerja di bidang finance yang kenal saya memberi pendapatnya ke saya tentang gempa bumi semalam. Gempa yang menimbulkan kehebohan di Jakarta ini semalam segera saja diumumkan BMKG berpotensi timbulkan tsunami di beberapa kawasan Siaga dan Waspada di Jawa Barat.


Terkait rasa ngeri yang timbul karena gempa itu, dan ingatan traumatik tsunami Aceh sekian tahun lalu, si nona bilang: Harus perbanyak ibadah! Harus!

Berikut ini jawaban saya yang sudah saya perluas.

Ya, itu betul. Tapi sikap saleh atau soleha perlu disertai juga oleh otak yang berisi dan aktif. Supaya kita bisa membangun dan mengembangkan iptek yang bisa menangkal atau mencegah gempa bumi yang, jika berlangsung bebas, bisa menelan sangat banyak korban, manusia dan harta.

Selain itu, kalau kesolehaan tidak ditopang oleh kecerdasan otak yang dihasilkan oleh sekolah yang tinggi dan proses pembelajaran yang terbuka dan makin maju, kita yang saleh dan soleha akan makin ketinggalan dari negara-negara lain yang sudah melesat maju di dunia iptek dalam banyak bidang kehidupan.

Negara-negara tersebut bisa sangat maju karena warga mereka bukan cuma mementingkan kesolehaan tapi juga kecerdasan otak dan prestasi tanpa batas di dunia iptek.

Jika kita tidak bisa mengejar ketertinggalan kita, sudah pasti kita akan terus-menerus menjadi bangsa pecundang yang serba emosional dan tak mampu berpikir cerdas dan bernalar.

Si nona kemudian mengirimkan sebuah emotikon satu jempol ke WA saya. Jempol lelaki tampaknya. Padahal lebih indah jempol perempuan karena ada catnya.

GODZILLA, dewa gempa dalam mitologi Jepang di era modern

Tadi pagi, seorang teman baik dari gereja mengirimkan via WA sebuah renungan harian yang masih anyar, yang juga membicarakan gempa bumi semalam.

Isinya serupa dengan pendapat si nona di atas, tapi tidak sama.

Si penulis renungan harian itu menekankan, saya parafrasiskan, hal berikut ini.

Di tengah banyak ancaman kehidupan dalam dunia yang terus berubah, dan ancaman bencana alam seperti gempa bumi semalam, orang Kristen harus makin kuat, kokoh dan teguh beriman dan nempel pada Yesus Kristus, sang "batu karang" yang kokoh sebagai fondasi iman dan ketaatan kita.

Jangan bangun rumah di atas fondasi pasir karena pasti akan runtuh jika diterjang hujan dan banjir. Tapi bangunlah rumah iman kita di atas batu karang Yesus Kristus, sehingga kita akan tetap aman dan bertahan jika banjir menerpa bangunan iman kita.

Nah, ke teman saya yang berbudi luhur itu, dan seorang ayah yang sabar, saya berikan respons saya yang mirip, tapi tak sama, dengan yang saya sudah berikan ke si nona di atas. Berikut ini.

Iman soleh dan sikap berserah ke Tuhan harus disertai otak yang berisi dan aktif. Kok? Ya, supaya orang yang soleh jadi mampu membangun dan mengembangkan iptek untuk mengendalikan dan memutar arah gempa dan tsunami atau bahkan membatalkan dan menangkal semua ancaman bencana alam.

Agama dan iman dan doa yang kuat dan kokoh saja tak bisa membelokkan arah sebuah meteor besar yang suatu saat bisa jadi akan bergerak cepat persis menuju Bumi lalu menghantam planet kita ini. Serupa dengan kejadian 66 juta tahun lalu yang menewaskan nyaris seluruh dinosaurus di muka Bumi.

Coba kalau para dino zaman itu sudah punya teknologi pengalih gerak meteor besar yang masih jauh yang sedang melesat ke arah Bumi atau punya teknologi laser untuk menggeser lintasan meteor itu atau teknologi nuklir untuk meledakkan luluh meteor itu jauh di angkasa luar, ya para dino itu masih hidup.

Itu pengandaian loh. Sebab otak reptilia besar dan dahsyat alias dinosaurus memang tidak atau belum memiliki neokorteks yang dimiliki oleh kita, organisme cerdas yang baru muncul di Afrika 300.000 tahun lalu. Neokorteks inilah yang memampukan kita membangun iptek tanpa pernah berakhir.

Jadi, iman kepada Yesus Kristus perlu menjadi dasar yang kokoh bagi bangunan kehidupan keagamaan setiap orang Kristen.

Tapi jika sebuah rumah dibangun hanya berdasar iman dan kesalehan keagamaan, tanpa berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan, ya rumah yang kuat iman itu akan roboh juga jika diterjang badai dan banjir besar, atau jika kulit Bumi menggeliat kuat atau mengulet saat baru bangun tidur.

Rumah yang dibangun di atas bebatuan yang terserak, tak tertata dan tak terintegrasi kuat, sama lemahnya dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Menata dan menyatukan bebatuan sebagai fondasi kokoh sebuah rumah memerlukan iptek, tidak bisa memakai iman.

Iman dan iptek memberi kita kehidupan. Tidak boleh dipisah jika kita mau hidup sehat, maju dan benar, sama halnya otak tidak bisa dilepas dan dibuang dari kepala jika kita mau hidup. Iman itu bisa ada karena kerja sel-sel otak kita, sel-sel neural yang juga membuat kita mampu bernalar dan berpikir cerdas.

Tetapi beriman dan bernalar berada dalam dua wilayah yang berbeda, meski keduanya produk aktivitas neurologis.

Beda keduanya dapat dijelaskan begini: beriman pada Tuhan memampukan kita hidup tabah dan tetap bersyukur meski sedang dalam penderitaan berat dan lama. Bernalar dan berpikir cerdas membuat kita mampu membangun peradaban yang kian maju di atas fondasi iptek modern. Dengan iptek modern juga kita kian mampu mengurangi dan mengalahkan berbagai bentuk penderitaan dan azab, seperti berbagai penyakit dan kelaparan dan kemiskinan dan bencana alam.

Asyik juga bisa berkomunikasi lewat WA dan merenungi gempa bumi semalam.

Bedanya dari si nona, saya belum terima sebuah emotikon jempol perempuan dari teman gereja saya itu.

Silakan share. Tq.

Salam,
ioanes rakhmat
Sabtu, 16 Des 2017